13 Januari 2011

Sayangnya, Kamu Suami orang

Reaksi: 
Aku megap-megap memarahi dia. Dia lebih dulu janji makan malam denganku, tapi dengan santainya dia mengatakan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun istrinya. Sebegitu pentingkah istrinya sampai dia harus membatalkan janji kita? Dia bilang, dia begitu mencintaiku. Dia katakan, akulah segalanya yang dia cari. Tapi, mengapa dia masih tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan istrinya? Lucky bitch! Aku frustasi.

***
"Ken, gimana makan malamnya?" Kiena mencolekku sembari berbisik. Hal ini biasa dia lakukan jika pertanyaan yang ia lontarkan terkesan hanya kita berdua saja yang tahu.
"You knowlah, gagal abis. Dia ngebatalin janjinya, mendadak dia bilang istrinya ulang tahun. Well, gue ngalah untuk yang keribu-ribu kalinya. Dia lebih milih istrinya dan ketiga curut-curutnya." Aku menjawab pertanyaannya sambil terus mengetik. Oh, aku mengahabiskan beberapa detik dalam hidupku hanya untuk menjawab hal tidak penting.
"Curut-curut?" Kiena bertanya dengan wajah keheranan.
"Anak-anaknya maksud gue. hehe."
"Oh, please. I'm not judging you, Kenaya. Semua orang punya alasan untuk sebuah pilihan, termasuk jadi simpanan suami orang.."
"So?" Aku menanggapi kata 'oh, please-nya' yang biasa ia keluarkan ketika kebingungan atau kewalahan menasehati seseorang.
"So apa?"
"Hello, please, Kiena. Firas! The right one who finally! Hmm.." Aku mencoba mencari kata yang tepat. "Sayangnya, dia punya istri."
"Ya... dan lo gak ada usaha buat ninggalin dia sama sekali? Muka lo mau ditaro dimana kalau jadi simpanan suami orang?"
"Na, cinta itu kadang ga pake logika."
"Iya, gak pake logika! Tapi, yang lo lakuin ini terlalu diluar logika! Lo gak waras!" Kiena memegang keningku dan menepuk-nepuknya. "Lagian juga, masih banyak duda-duda keren dan perjaka unyu-unyu diluar sana."
"Lho? Itu bukan masalah gue. Mereka dipelihara negara!" Aku menjawab nasehatnya dengan nyeleneh, kupingku panas!
"Bukan, tapi dipelihara tante-tante! Hahaha." Kiena tertawa kencang dan hampir saja aku memasukan kipas angin ke dalam mulutnya, berisik!
"Na, lo paling tau kan gimana perasaan gue? Kadang, gue pun ngerasa bersalah sama apa yang gue lakuin. Tapi percaya deh, gue ga bakal lama-lama bikin lo kuatir sama keadaan gue." Aku melempar senyum simpul dan meremas bahunya. Bahu yang sering aku pinjam saat aku menangis. Ditengah ketergesaan dan riuhnya kantor, hanya Kiena yang mau diam mendengar ceritaku.
***
Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini. Bangunan tua dalam wujud runtuhan benteng yang masih satu Benteng ini, runtuhan bangunan yang tidak terpakai ini. Mengingatkan aku pada seseorang. Seseorang yang pergi tanpa meninggalkan salam perpisahan.
"Nunggu matahari terbenam juga ya, Mbak?"
"Eh, iya, Mas." Aku menoleh ke sebelah kanan dan melihat seorang pria sedang duduk di sampingku.
"Wah, aku mengagetkanmu ya? Maaf, Mbak. Kamu sampe bengong gini."
"Enggak kok, biasa aja."
"Saya izin duduk disini ya?"
"Silahkan." Aku masih saja memperhatikan wajah pria ini dari samping, matanya terlihat indah dan bening.
Dia terdiam dan terlihat menikmati angin yang daritadi menggelitik manja tubuhnya. Suasana sepi dan tenang, hanya terdengar raungan sepeda motor yang berlomba-lomba agar segera sampai rumah sebelum adzan Maghrib menjelang.
"Dunia itu luas atau sempit ya, Mbak? 10 tahun saya di negeri kincir angin tapi kalau lagi kangen, ya kangennya selalu dengan kota ini, Jogjakarta. Apalagi matahari terbenam di Benteng Pulo Cemeti ini, riuhnya lalu-lalang kendaraan di sekitar Ngasem sama sekali tidak menyurutkan keindahan momentum terbenamnya..." Dia tertawa kecil dan melemparkan kerikil-kerikil kecil yang daritadi dimainkan dan digenggamnya. "Zaman SMA dulu, saya sering kesini bersama seorang hawa, hampir setiap hari. Tapi, sejak kemarin saya sampai disini, dia tidak kunjung menampaknya batang hidungnya."
Aku mulai tertarik dengan ceritanya yang sepertinya terdengar miris. "Bagaimana ciri-ciri mahluk hawa itu? Mungkin aku bisa membantu?"
"Huh? Oke. Dia wanita yang lebih suka dandan secara natural. Rambutnya bergelombang, matanya coklat, hidungnya mancung, pipinya berisi dan dia..." Suara pria itu terhenti sejenak saat memberi ciri-ciri wanita yang ia cari. "Dan dia.. Dan dia.. Seperti kamu, senang menatap wajah seseorang dari samping. Dia senang menatap mataku yang katanya bening."
Aku mengenal dengan baik wajah pria ini. Aku bertemu dia lagi. Alana Dewantara, pria yang hilang beberapa tahun ini. Matanya yang bening masih sama. Dia masih sama. Terlihat dengan jelas tidak ada cincin melingkar dijari manisnya.
Kami berbicara terlalu fokus. Tanpa disadari sebentar lagi senja yang menenangkan akan menyapa. Mentari sedikit menarik diri ke kaki langit, dia pun butuh isrtirahat karena lelah bekerja seharian menyinari seluruh langit ini, langit Jogjakarta dan dunia.
"Mbak, beritahu saya jika kau menemukan hawa yang saya sebutkan. Jika saya temukan tulang rusuk itu, saya akan menjadikan dia satu-satunya wanita yang saya lihat saat bangun pagi. Dia akan menjadi satu-satunya wanita yang menemani saya melihat matahari terbenam, disini, di tempat yang sama..." Dia kembali menatap mentari yang mulai kemerahan, menatapnya dengan dalam. Seakan-akan ikut berbicara dengan lemabayung. "Besok, saya akan kesini lagi. Siapa tahu dia datang dengan polosnya sambil membawa mimpi senja yang akan kami wujudkan bersama."
Matahari terbenam dan akan segera bertukar tugas dengan bulan. Sebentar lagi, bulan pun akan bekerja menyinari langit Jogjakarta. Aku mulai sadar, ada cinta sejati yang menungguku. Ada seseorang yang menungguku agar kita bisa saling mewujudkan mimpi bersama. Hal ini tidak pernah aku dapatkan dari hubungan gelapku bersama suami orang. Inilah cinta, dia mengobati bukan melukai.
***
Send to: Mas Firaz :)

Selamat malam, Mas. Maaf mengganggu mlm2. Aku ga mau berlarut-larut, to the point aja ya. Km pasti tau kesalahan apa yg kita lakukan. Melawan takdir dan garisan yg telah dibuat olehNYA. Mari kt jadikan semua yang salah menjadi benar, mari kt akhiri hubungan gelap yg tdk berujung ini. Kamu tentu senang melihat Tuhan senang, kamupun tentu senang melihat istri dan anak-anakmu senang. Mari sama2 saling membahagiakan dan mendoakan. Maaf jika saya merepotkan. Semua fasilitas yang kamu berikan. Mobil, atm, dan perhiasan-perhiasan itu akan saya kembalikan. Selamat malam.


message sent: Mas Firas :)


Setelah sms itu terkirim, Firas menelephoneku berkali-kali, tapi aku tidak menggubrisnya. Aku tak mau lagi tertipu dengan rayuannya. Hidupku akan tenang jika tidak ada yang aku sembunyikan. Aku menunggu esok hari, saat matahari terbenam dengan pesonanya di Benteng Pulo Cemeti dan aku akan menemui dia yang sempat hilang dan pergi tanpa pamit.
***
Aku datang agak lama daripada kemarin. Disana aku melihat sesosok pria yang duduk memperhatikan arah barat. Menatap langit yang kosong tapi dia terlihat serius menatapnya. Aku berlari kecil lalu duduk disampingnya.
"Eh, Mbak. Kok datengnya ga lebih awal kayak kemarin?" Dia mengawali pembicaraan.
"Iya, tadi di kantor lagi agak ribet."
"Oh iya, Mbak. Kita belum kenalan. Saya Alana Dewantara. Saya tinggal di hotel sekitar jalan Parangtritis, Jogja Selatan"
"Hmm.. nama yang bagus. Saya Kenaya Ferial. Saya tinggal dalam kenangan, mimpi, dan harapan yang saya reka-reka di dalam kamu. Saya lama menunggumu tapi baru saat-saat ini kamu muncul. Saya senang menatap matamu yang bening karena ingin melihat apa yang ada dipikiranmu. Seorang hawa atau rumus-rumus Kimia?" Aku tertawa kecil dan berkata santai, seolah hal ini bukanlah rasa yang harus dijadikan beban. Dia menatap mataku lama. Genggaman tangannya saat menyalamiku semakin kuat. Dia menarikku dalam peluknya yang hangat.
"Kenapa pergi gak pamit?" Aku menyambut peluknya dan berbisik ke telinganya.
"Hanya tidak ingin menyakitimu."
"Kenapa pergi terlalu lama?" Aku masih belum puas mengintrogasinya.
"Hanya ingin menjadi sesuatu yang berguna saat tiba disini dan saat kita bertemu. Setidaknya, aku tidak memalukan dengan gelar doktor yang sedang aku kejar."
"Masih pengen pergi lagi?"
"Ya, aku masih ingin menjelajahi dunia. Tapi, kemanapun aku berlari, aku pasti tersesat di dalammu. Saat aku berlari, aku juga membawamu berlari."
Mentari seperti tersenyum dan terlihat tidak ingin mengganggu kami berdua. Jadi, mentari memilih untuk terbenam lebih dulu tanpa kami menyempatkan waktu untuk curi pandang sebentar melihat lembayung yang ia cipratkan pada langit Jogja. Kini aku percaya. Sesuatu yang telah dipersatukan Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia.





5 Januari 2011

romantis itu, gak harus sunset !

Reaksi: 
“Tidak ada perasaan yang lebih bahagia selain keindahan mencintai seseorang dan menjadikan dia satu-satunya orang yang ada dipikiranmu setiap saat” :)

Aku tahu, aku bukan lagi ABG yang harus menjadikan jejaring sosial sebagai tempat galau. Aku tahu, aku bukanlah ABG labil yang menjadikan cinta sebagai penghasil depresi terbesar. Tapi, ternyata aku lemah. Daniel, pria yang 2 tahun terakhir ini selalu jadi alasan terbesarku saat menggalau di status facebook dan twitter. 2 tahun kami menjalani hubungan tak biasa, tanpa status. Kami sadar kalau kami saling menyayangi, ada usaha untuk saling memiliki, sayangnya semua itu sulit menjadi realita. Aku mencoba lebih mementingkan perasaanku daripada status kami. Kadang, status pun tidak membuktikan seberapa kuatnya perasaan seseorang. Bukankah banyak pasangan kekasih dan pasangan suami istri yang tidak terlalu bahagia dalam status yang terlihat begitu serius. Ya.. Status itu cukup aku dan dia saja yang merasakan.
Dia meninggalkan kota Yogya dan memutuskan untuk kuliah di Depok, aku sedikit frustasi. Dia selalu menghasilkan ketakutan-ketakutan baru setiap hari. Sayangnya, hal yang tidak pernah aku harapkan terjadi, dia berubah 180 derajat. Dia begitu cuek dan sering mengabaikan aku.
***
1 minggu ini dia tidak memberikan kabar, ini memang bukan hal baru karena beberapa minggu sebelumnya dia juga melakukan hal yang sama. Perasaan campur aduk, khawatir, dan kangen. Kata orang rindu itu indah, namun bagiku ini menyiksa. Bukan cuma nyiksa, tapi nyiksa banget!
***
Aku punya rencana entah rencana bodoh, idiot, atau bagus. Di usianya yang ke-21, aku harus memberi kejutan yang berhasil! Yaa.. karena 1 tahun yang lalu rencanaku gagal dan 2 tahun yang lalu rencanaku pun juga gagal. Kali ini harus sukses! Aku memikirkannya telah lama, karena dipikirkan dengan matang, aku harus merealisasikannya dengan baik! Aku membeli dua tiket kereta api. Taksaka malam, 19 September 2010 , 03.35, dari stasiun Tugu dan di Jakarta, dan aku akan membeli tiket Senja Utama Yogyakarta, 19 September 2010 , 21:40 yang berangkat dari stasiun Senen. Sesuai info online, semoga sesuai perkiraanku. Hari itu aku pergi, hari itupun aku juga harus pulang.
19 September 2010 , 02:00 WIB. Dengan mata setengah bangun setengah teler, aku memeriksa barang-barang bawaanku. Aku tahu ini gila dan agresif, tapi sungguh semua ini aku lakukan hanya untuk melihat senyum Daniel lagi. Aku memang buta jalan, tidak tahu kota Depok itu seperti apa, memang rencanaku tidak segampang yang aku perkirakan, tapi aku yakin, jika untuk hal yang baik, semua akan berjalan dengan baik. Ya! Keep moving forward! Terus bergerak ke depan!
***
17:00, setelah turun di stasiun senen, aku melanjutkan perjalanan ke stasiun Depok Baru. Aku bertanya lagi pada petugas stasiun, setelah dari sini aku harus menaiki apa untuk menuju jalan Margonda Raya. Di Yogya, aku terbiasa menaiki bis jadi kalau naik angkot, agak sedikit linglung. Aku mencari angkot 05 jurusan terminal Depok dan bertanya-tanya sedikit tentang toko kue sekitar Depok. Hebatnya, supir ini tahu! Tepat di sebrang terminal Depok, ada sebuah toko kue bernama Daniel Bakery. Ya, Tuhan, semoga nama yang sama juga membawa kebaikan yang sama.
***
19:00, aku sampai di kost Daniel di daerah beji, dekat lapangan bola. Catnya cukup bagus. Pagarnya di cat hitam dan kost itu sendiri di cat biru tua. Aku membuka pagarnya sambil membawa kue yang memang tidak memakan budget terlalu banyak, yang penting kan niat ngasihnya, bukan harganya hehehe. Aku mengirim sms padanya agar segera keluar tanpa memberitahu alasan kenapa dia harus keluar. Dalam jeda waktu itu, aku menyalakan lilin. Tidak berapa lama kemudian, aku melihat dia berada tidak jauh denganku. Aku gugup, dia terlihat berbeda. Rambutnya, matanya, hidungnya, aku merindukannya. Dia tersenyum dan berjalan ke arahku. Malam itu, pukul 19 lewat dikit, disinari cahaya lilin dan malamnya kota Depok, aku bahagia. Dia make a wish beberapa detik dan meniup lilinnya. Lalu, dia meletakkan kue itu di bangku, tidak jauh dari kami. Gelap. Aku merasa ada tangan yang merangkulku dan memelukku.
"Maaf. Makasih ya" Dia berbisik di telingaku. Aku merasa inilah dia yang dulu, yang tidak mengabaikanku. Tapi.. Woopss! Dia menarik tanganku dan menarikku hingga keluar dari pagar.
"Kamu pulang ya. Ibu kost disini galak banget! Ada mahluk hawa nginjek satu milimeter ke dalam pagar aja, dia udah teriak-teriak minta di timpuk pagar kabupaten. Pliss, jaga diri kamu baik-baik. Makasih sekali lagi." Dia mengatakan hal yang menurutnya sepele itu dengan terburu-buru. Aku kaget, marah, dan kesal.
"Danieeeeeeeeeel!!" Aku memanggilnya dengan suara lantang. Dia berlari terburu-buru ke arahku.
"Kenapa lagi?"
"Makan nih!" Sontak, dengan sukses aku membiarkan kue itu mencium wajah Daniel dengan agresif. Aku tahu itu sakit, tapi tidak sesakit perasaanku saat dia selalu mengabaikanku.
***
2 bulan berlalu, 8 Desember 2010 , hari itu usiaku menginjak 21 tahun. Ibu dan bapakku lagi dan lagi pergi ke Solo. Mereka hanya meninggalkan uang dan mengucapkan selamat ulang tahun via telephone. Aku mengisi ulang tahunku yang hambar dengan bermain game online seharian di daerah Jalan Laksda Adisucipto, sejak pukul 12 siang sampai pukul 9 malam.
***
Seusai bermain game online, aku berjalan dari EuroNet menuju Shelter De Britto. Aku keluarkan payungku karena hujan yang rintik-rintik itu cukup membasahi baju. Aku tahu, waktu telah menunjukan pukul 21:00, 30 menit lagi jam operasi Transjogja akan berakhir, aku harus segera menaiki bis sebelum pukul 21:30.
Sesampainya di shelter De Britto, shelter terlihat sangat sepi. Aku duduk di bangku shelter, sedangkan di bangku sebrang ada seorang pria yang mengenakan jaket hitam dan penutup kepalanya. Aku perhatikan, pria itu selalu mencuri pandang ke arahku. Tiba-tiba, dia berdiri dan berjalan ke arahku. Aku berdiri berusaha untuk meninggalkan shelter, tapi langkahnya ternyata lebih cepat daripada langkahku, dia menarik tanganku, aku mencoba untuk melepaskan, dan....
"Eh, ini gue!" Pria itu membuka tutup kepalanya, ternyata dia adalah Daniel. Aku tidak habis pikir, darimana dia tahu kalau aku disini.
"Lo tau darimana gue disini?"
"Dari status foursquare lo. Makanya jangan terlalu eksis! Hehe. Gue tau lo pasti ngegame disekitar sini."
"Tangan gue dilepas aja bisa kali!" Aku berkata sinis, padahal aku merasa senang karena bisa melihat senyumnya lagi.
"Happy birthday ya. Gue gak tau lo suka apa dan lo mau apa, jadi gue gak bawa apa-apa deh. Hehe"
"Tawa lo! Dateng mendadak, pergi mendadak, berubah mendadak!"
"Aduh, dinginyaaaaaa sikap lo!"
"Ngaca dulu siapa yang lebih dingin! lo kali!" Aku membuang muka tanpa menatap matanya.
"Sorry, gue gak mau mikir cinta-cintaan dulu deh."
"Emang gue suka sama lo? Ge-er dahsyat lo!"
"Oh, gue kirain datang setiap tahun berturut-turut cuma buat ngasih surprise ke ulang tahun gue itu adalah wujud perasaan suka, ternyata enggak ya?" Dia berkata dengan air muka polos, aku terdiam, lemas. Dia menyadari rencana-rencana mahamegatolol-ku.
"Bukan suka, Niel. Tapi sayang! Lo tau posisi gue sekarang? Gue terjepit diantara harapan kosong dan rindu yang lebih sering nyiksa." Dengan jujur aku mengatakannya. Unek-unek selama 2 tahun dan ketahuilah 2 tahun bukan waktu yang sedikit.
"Ada rasa saling mencintai namun bertahan untuk tidak saling memiliki. Lebih parah daripada patah hati. Cen sangar! Kalau 2 tahun kita bisa bertahan, tahun-tahun berikutnya harus lebih semangat dong!"
"Semangat palamu! Gue emang gak pernah mentingin status yang penting perasaan gue sama lo dan lo gak mengabaikannya!"
"Utuk-utuk, Mbak, mau tau sesuatu?"
"Apa?"
"Ketika bangun pagi hari, aku memikirkan dirimu. Ketika bersiap-siap tidur, aku memikirkanmu juga. Dan diantara rentan waktu itu, aku memikirkan kita. Kamu gak usah takut, status gak ngejamin kesetiaan seseorang kok." Dia memegang tanganku, menariknya dan memelukku.
"Jadi, mau hadiah apa?" Dia berbisik sambil memelukku.
"Kamu-lah! You're my something special. Tak peduli atas nama apa status dan ikatan kita, yang aku tau, aku sayang kamu walau tanpa status." Aku berbisik di telinganya diiringi suara bis yang meninggalkan shelter. Itu bis terakhir tepat pukul 21:30.
Ah.. romantis itu tidak harus sunset, gunung, dan bukit bintang. Bahkan, di shelter bis, tempat yang tidak terlalu indah, romantis bisa saja hadir tanpa dipaksa dan diminta.
Percayalah, Teman. Tidak ada perasaan yang lebih bahagia selain keindahan mencintai seseorang dan menjadikan dia satu-satunya orang yang ada dipikiranmu setiap saat :) keep moving forward!

2 Januari 2011

2 Januari, Begitulah Kita yang Berbeda

Reaksi: 
2 Januari 2011 , tepat satu tahun saya mengenal pria itu. Pria dengan wajah oriental, mata sipit, hidung mancung dan berkulit putih. Perkenalan kami sederhana, maya, dan tak sengaja. Aplikasi tak bersalah bernama Yahoo Messanger itu membuat 2 Januari 2010 tidak semonoton yang saya kira. Seharusnya tidak ada awal tahun baru yang buruk, tapi yang saya rasakan saat itu adalah kemonoton-an terbesar. Saya terkena cacar dari akhir Desember 2009 sampai awal Januari 2010 , menurut saya itu amat menyiksa, tapi karena kehadiran pria pecinta sepak bola itu, 2 Januari 2010 tidak terasa monoton meskipun saat itu saya sedang proses penyembuhan penyakit cacar.

Dia adalah pendengar yang baik, dia juga pencerita yang baik karena ceritanya selalu menyenangkan dan menyegarkan. Dia mengajak pikiran saya untuk melihat sepakbola dari sisi yang berbeda. Dia menjelaskan pada saya bagaimana politik bisa mempengaruhi sepakbola. Sungguh, saya mencintai isi otak pria ini. Pandangannya selalu berbeda, isi otaknya memukau dan saya mencintai jalan pikirannya.

Dia sosok pria yang mungkin telah diciptakan Tuhan sebagai pemberi perhatian dengan kualitas terbaik untuk setiap wanita yang dikenalnya. Pria mandiri yang bisa mencuci baju dan piring, bersih-bersih rumah, serta memberi makan anjingnya sendiri. Tapi, ada beberapa hal yang saya benci dari dia. Dia sering menyembunyikan rasa sakit dan rasa lelahnya, dia sering lupa makan, dia sering mandi terlalu malam dan tidak pernah ingat makanan apa yang telah masuk ke mulutnya. Tapi, dengan segala ke-abnormalan yang dia punya, saya senang jika smsnya sedikit mampir di inbox handphone saya, dulu.

Satu tahun berlalu, 2 januari 2010 hanya menjadi tanggal yang mengingatkan saya pada seorang goalkeeper yang dalam kesakitannya setelah berlaga tergopoh-gopoh mencari infus di Malioboro. 2 Januari 2010 , hanya menjadi tanggal menyenangkan yang mengingatkan saya pada seorang pria buta warna parsial yang dengan keterbatasannya mampu mendesain replika kaos latihan PSS Sleman yang dijual kepada umum demi membantu penambahan biaya kostum PSS Sleman pada saat itu. 2 Januari 2010 , hanya menjadi tanggal berkesan yang mengingatkan saya pada seorang pria yang begitu mencintai Stadion Maguwoharjo. 2 Januari 2010 , hanya menjadi tanggal menyesakan yang mengingatkan saya pada sosok pria yang tidak pernah saya ketahui wujud nyatanya.

Tapi sekarang semua berbeda. Saya tidak lagi mengetahui kabar pria itu. Pria yang dengan sederhana mengajarkan pada saya bahwa dunia maya tak sekejam yang saya kira :') Glad to know you.

Saya masih mengingat dia bukan berarti saya menyukai dia. Saya masih bercerita tentang dia bukan berarti saya masih mencintai dia. Saya menulis tentang dia karena cerita yang dia punya berbeda dan menarik dalam pikiran saya :)

selamat 2 Januari ! Semoga 2 Januari kalian menyenangkan :)