29 Maret 2012

Merindukanmu dalam Sepi

Reaksi: 
Hujan menari-nari perlahan
menggelitik gemas pepohonan
Dan angin mendesah
Tubuhku menggigil
Langit semakin cemas
Ia terus-menerus menangis

Sementara langkahmu semakin menjauh
Saat tubuhku yang kedinginan sempat kauhangatkan dengan jemarimu
Demikian sosokmu terasa lenyap
Ketika labirin kosong di hatiku
mulai terisi olehmu

Janji yang terucap
Seakan-akan menguap
Cinta yang dulu mengendap
Berembus menjadi uap

Kini...
Aku hanya bisa
diam-diam merindukanmu dalam sepi

Aku sangat kenal bahasa rindu
Namun kamu selalu saja tak tahu
Dulu penyebab tawa
Kini jadi terdakwa!

Dan...
Kaupergi ketika semua sudah tertata rapi
Ketika peran mimpi dan nyata mulai berganti

25 Maret 2012

Menjemput Angel

Reaksi: 
Aku sudah terbangun dari tidurku. Aku tak ingat sejak kapan lampu ruangan ini dimatikan. Ruangan ini terlihat agak gelap, hanya cahaya dari jendela yang menelusup masuk menerangi beberapa sudut ruangan. Namun, masih terlihat remang-remang, tak ada terang. 
Tetesan infus luruh setitik demi setitik. Alat pengukur detak jantung memamah kesunyian yang terantuk. Pada sudut sofa, mamaku tidur dengan posisi terduduk. Beliau menyilangkan tangan di dada. Sofa empuk menjadi tumpuan untuk menyandarkan badannya yang kelelahan. Rambut beliau tak lagi tertata rapi. Ada goresan berbeda di wajahnya, pencampuran antara mata sembab karena menangis dan wajah lelah karena menungguiku selama puluhan jam. 
Aku menatap langit-langit ruangan ini. Hanya langit-langit, bukan langit! Hanya ada cicak-cicak berkejaran, bukan bintang-bintang bertaburan. Sudah lama sekali aku tidak menatap langit, sudah lama sekali aku tidak mencecap suasana malam yang bermandikan cahaya bulan serta bintang. Sudah lama sekali! Sampai-sampai aku tak ingat kapan hari terakhir aku puas memandangi kerlap-kerlip bintang. 
Rasa sakitku ini membuatku lupa pada hal-hal indah yang dulu pernah kurasakan. Dulu... pancaindraku terkendali dengan begitu penuh, ia berjalan beriringan dengan saraf motorik dan sensorik di tubuhku. Tapi... itu dulu. Sebelum aku sakit! 
Aku menghela nafas sambil berusaha mengerak-gerakkan jemariku. Itulah salah satu “kemahiran” yang bisa kulakukan beberapa bulan terakhir, karena sepanjang hari aku hanya berbaring dan berbaring. Selalu begitu, semua berjalan datar dan biasa saja, seakan-akan aku bisa menebak apa yang mampu kulakukan untuk hari-hari berikutnya. 
Langit-langit ruangan ini terlihat sangat membosankan, pandanganku mulai menyapu ke arah jendela. Entah sudah berapa lama hujan menari-nari di luar sana, hingga titik-titik airnya masih membekas pada kaca jendela. Tatapanku kosong, dalam kehampaan itu aku melihat secercah sinar yang berbinar di jendela bagian luar. Sinar itu tiba-tiba meredup lalu menghilang. 
Hal itu terlihat janggal, apakah cahaya tadi berasal dari kunang-kunang? Tapi... jika iya, cahaya itu terlalu terang dan sinarannya terlalu kuat. Aku masih tercengang pada peristiwa yang baru terlewat beberapa detik tadi. Belum terhapus rasa cengangku, ada sesuatu lagi yang membuat mataku tak bisa mengedip. 
Pandanganku menyorot pada sosok yang tidak kukenal, ia sedang duduk santai di tepian jendela, kakinya berayun-ayun seakan-akan menyentuh dinding, tapi tak ada bunyi apapun yang dihasilkan sosok itu. Sosok itu melempar senyum padaku. Tubuhnya bersinar lembut sehingga ruangan ini tampak cukup terang. Bibir atasku seakan-akan tak mengenal bibir bawah, sulit untuk dikatupkan! Bibirku menganga! 
Sosok itu tiba-tiba mendekat. Ia turun dari tepian jendela dan berjalan mendekati tempat tidurku. Aku sedikit ketakutan. Aku menarik selimut hingga menutupi bahuku, hanya kepalaku yang terjulur dan pandanganku masih mengarah padanya. Seharusnya aku tak perlu takut, karena sosok itu terlihat jauh lebih pendek daripada yang kubayangkan. Tingginya seperti anak 5 tahun. Saat berjalan, langkahnya begitu ringan, seakan-akan ia tak menyentuh lantai, seakan-akan ia berjalan diantara awan-awan. 
Semakin dekat! Semakin dekat! Sosok itu kini hanya beberapa inci dari tubuhku. Ia berdiri sangat dekat dengan tempat tidurku. 
“Nyenyakkah tidurmu?” sapa sosok asing yang tak kukenal itu. 
Mataku semakin terbelalak. Suaranya begitu lembut, aku seperti mendengar nyanyian surga yang menggelitik gendang telingaku. Aku mencubit lenganku. Terasa sakit! Aku mengucek-ngucek mataku. Sosok itu masih berada di sampingku! Ini bukan mimpi! 
“Nyenyakkah tidurmu?” ulang sosok asing yang sedang berdiri di hadapanku. Ia tampak sangat ingin mendengar jawabanku. 
“Nye... nye.. nyenyak!” jawabku terbata-bata. “Si... si... siapa kamu?” 
Ia tersenyum, ada kehangatan luar biasa ketika senyumnya tersimpul sederhana di bibirnya. Wajahnya bersinar. Matanya berbinar seperti benda yang sering terlihat di malam hari, bening matanya seperti kerlap-kerlip bintang yang bermandikan cahaya bulan. 
“Hey, Jangan takut.” 
“Aku hanya heran ada sosok asing yang mendekatiku. Aku tak terbiasa dengan hal itu. Jadi, siapa namamu?” 
“Aku tidak punya nama.” ucapnya perlahan. “Tapi... kau bisa panggil aku malaikat.” 
Aku tertawa kecil, tatapanku terlihat sinis. “Lihatlah! Kau melucu!” 
“Kauboleh percaya ataupun tidak, tapi malaikat tidak pernah berbohong.” 
Perkataan itu memaksa otakku untuk bekerja lebih maksimal. Aku masih mencerna pertanyaan sosok asing itu. “Tapi, aku tidak mengenal sosokmu.” 
“Kamu memang tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu.” 
“Mengenalku?” 
“Tentu saja, Angel. Nama kita sama! Aku malaikat dan kamu Angel.” 
“Dari mana kautahu namaku?” 
“Aku sudah bilang padamu, aku tahu semua hal tentangmu. Aku sudah di sisimu sejak belasan tahun yang lalu.” 
“Belasan tahun yang lalu?” ujarku mengulang ungkapan yang ia lontarkan. 
Sosok itu mengangguk. “Dan... baru hari ini kita sempat bertemu.” 
“Tolong jangan mengumbar omong kosong. Sebenarnya... aku tidak percaya malaikat itu ada!” 
Matanya yang bersinar mengisyaratkan sesuatu. “Kenapa?” 
***
“Aku dan keluargaku lebih memercayai apa yang terlihat oleh mata, tercium oleh hidung, terdengar dengan telinga, tercecap dengan lidah, dan teraba oleh kulit. Kami lebih percaya apapun yang secara nyata kami rasakan.” jelasku panjang lebar. “Jelas saja, aku tidak percaya kamu, karena kamu pasti tidak nyata, karena aku pasti sedang bermimpi. Ya! Kamu hanyalah khayalanku! Aku hanya butuh suntikkan untuk menenangkan isi otakku!” 
Ia tertawa kecil, penjelaskanku sepertinya tidak membuat dirinya putus asa. “Itulah salah kalian... para manusia yang terlalu angkuh.” 
“Jadi... kamu menyalahkan kami? Kamu Tuhan?” 
“Aku bukan Tuhan.” jawabnya santai sambil mendudukkan tubuhnya dekat dengan tempat tidurku. “Tapi, aku sangat mudah bertemu dengan Dia.” 
“Lalu, kamu dan Tuhan sebenarnya ada?” 
“Siapa yang menciptakan Bimasakti dan seluruh mahluk hidup yang ada di dalamnya?” ia menyorot mataku, tapi tatapan itu tak mengintimidasi. 
“Ada teori yang menjelaskan itu. Teori itu cukup adil dan cukup nyata buatku.” selorohku singkat, aku balas menatapnya. 
“Apapun yang dipikirkan manusia bisa saja salah.” ia menyentuh selimutku. “Kalian hanya mengandalkan pancaindra dan otak. Semua yang dimiliki manusia selalu terbatas. Manusia diciptakan terbatas agar benar-benar menjadi mahluk sosial yang saling melengkapi kekurangan mereka masing-masing.” 
Pembicaraan menjadi cukup menarik. Aku mulai mencoba bangun dan menegakkan tubuhku. Ia membantuku dengan menarik jemariku. Tangannya dingin, tubuhnya seakan-akan tembus pandang. Siapa dia? Aku semakin heran saja! 
“Manusia itu sempurna dan punya otak yang luar biasa. Kamu tak punya hak untuk merendahkan kami!” bentakku dengan suara setengah keras. Aku tak ingin ibuku bangun. 
“Aku tidak merendahkanmu. Hanya ingin memberitahu, pemahaman manusia selalu sebagian-sebagian saja. Kalian hanya menatap dari cermin, samar-samar. Kalian hanya berfokus pada tubuh kalian, bukan pada seluruh sisi yang terlihat oleh cermin.” 
“Jadi, kau menilai manusia itu bodoh?” aku mendongkak, menatap matanya dengan tajam. 
Ia seperti berpikir. “Sebenarnya... aku tak benar-benar tahu apakah manusia itu bodoh dan benar-benar sempurna seperti yang kamu bilang. Aku tak pernah tahu rasanya jadi darah dan daging. Aku tak pernah tahu rasanya jadi manusia.” 
“Lihatlah! Kamu melucu lagi!” tawa kecil tergores di bibirku. “Kalau kau tak tahu rasanya jadi manusia, maka jangan menilai kami!” 
Sosok dengan mata indah itu terdiam. “Malaikat tahu apa yang manusia lakukan. Aku mengawasimu, Angel.” 
“Sekarang kamu bukan lagi terlihat seperti malaikat! Kamu mata-mata!” 
“Bisa dibilang begitu juga. Kami mata-mata Tuhan.” lembut suara itu mengaliri gendang telingaku. “Aku juga tahu kalau dalam sakitmu, kamu dan keluargamu tak meminta pemuka agama untuk mendoakanmu. Tak ada ustad, pendeta, pastor, ataupun biksu yang mendoakanmu.” 
Aku terdiam dan tertunduk. Pernyataan itu seperti panah yang menusuk-nusuk hatiku secara sadis. “Aku sudah bilang kalau aku tidak percaya padamu begitu juga dengan retorika ketuhanan yang kamu ceritakan padaku.” 
“Mengapa?” tanya singkat sosok itu. Sosok yang belum kupercayai sebagai malaikat. 
“Aku lebih percaya sesuatu yang pasti. Ilmu pengetahuan! Semuanya mutakhir dan sudah dibuktikan!” aku mulai menjelaskan alasanku. “Dokter bisa lebih dipercayai daripada pemuka agama manapun.” 
“Dokter adalah manusia. Akan sangat amat bodoh kalau kamu lebih memercayai dia daripada Penciptamu.” 
Jawaban itu benar-benar menyudutkanku. Hatiku tiba-tiba menangis tapi tak ada gerimis luruh di pipiku. Tak ada air mata di pelupuk mataku. “Kalau Tuhan ada, lantas mengapa dia tidak menyembuhkan penyakit leukimia-ku?” 
Sosok dengan tubuh dingin itu terdiam. “Dia hanya merindukan suaramu menyebut namaNya.” 
“Dia tega menghukumku?” tuduhku sinis. 
“Dia tidak pernah menghukum, Dia hanya ingin memberitahu. Kamu terlalu sinis padaNya. Seandainya kamu tahu bahwa Dia sangat mencintaimu.” 
“Jadi, Dia begitu mencintaiku? Dia yang mengubah pagiku menjadi siang dan malamku menjadi pagi kembali?” tanyaku penasaran. “Jadi, Dia itu benar-benar ada?” 
Malaikat itu mengangguk kecil. Aku mulai berani menyebutnya malaikat. Dia memang memenuhi kriteria bagi seorang malaikat. Selalu mengangetkan dan selalu berkata “Jangan takut.” 
“Bayangkan jika tak ada yang mengatur jagat raya ini. Bayangkan jika tak ada yang mengendalikan seluruh isi dunia ini.” 
“Ada manusia yang menjaga dan mengaturnya. Semua manusia punya tugasnya masing-masing.” 
“Manusia menciptakan gravitasi? Siapa yang merekatkan matahari dengan planet-planet lainnya? Adakah manusia yang punya tugas khusus untuk menarik planet-planet itu? Manusia sekuat apa?” 
Aku terdiam dan berpikir cukup dalam. Pertanyaan malaikat itu kubiarkan menggantung di udara. 
“Ada ilmu pengetahuan yang menjelaskkan tentang asal-usul gravitasi.” sahutku menyanggah pertanyaannya. “Tolong jangan paksa aku berpikir terlalu jauh! Aku sedang sakit!” 
“Sudah kubilang manusia pasti memiliki keterbatasan dan kelemahan. Kamu sakit! Bukti bahwa kamu memiliki kelemahan.” 
“Sakitku pasti sembuh. Ada ilmu pengetahuan yang telah menemukan obat untuk sakitku.” ucapku perlahan. Sebenarnya aku tak terlalu yakin pada ucapanku. 
“Bicara tentang naif, ternyata manusia sangat mudah melakukan tindakan naif.” 
Kepalaku yang tertunduk kembali menyorot mata indahnya. “Bisakah kamu sedikit saja menahan ucapan bibirmu? Banyak ucapanmu yang menyakiti perasaanku.” 
“Apa rasanya sakit? Malaikat bukan daging dan darah. Malaikat bukan manusia. Aku memang melihatmu, tapi aku tak tahu rasanya menjadi kamu.” 
Aku menghela nafas. “Bagaimana rasanya sakit? Rasanya seperti perasaanmu dicabik-cabik, mengeluarkan darah, lalu diberi tetesan air jeruk nipis. Perih!” 
Malaikat itu menimbang-nimbang perkataanku. Ia terlihat sangat kebingungan. “Kalau begitu... menjadi manusia itu membingungkan juga ya.” 
“Wajahmu terlihat lucu!” emosiku mulai cukup tenang, aku kembali berkata-kata dengan santai. “Kita sudah mengawali semua dengan baik, Malaikat.” 
Senyumnya mengembang, malaikat itu tampak bersinar dengan lembut. “Kamu tentu bosan terus-menerus tidur di tempat ini.” 
“Tidak juga. Aku senang membaca national geograpic dan beberapa buku yang bercerita tentang ilmu pengetahuan di belahan bumi ini. Dengan membaca buku seperti itu, aku seperti menjelajahi seluruh isi dunia dari tempatku berbaring.” 
“Kenapa tidak coba membaca buku yang bercerita tentang Tuhan dan penciptaanNya? Kalau tidak salah, namaku juga sering disebut dibeberapa buku itu.” 
“Aku sudah bilang padamu, aku lebih percaya semua hal yang nyata.” tuturku lebih menegaskan. “Semua yang nyata jauh lebih menarik daripada yang tak terlihat oleh mata.” 
Malaikat itu menatapku dengan kilatan lembut di matanya. “Kamu terlalu memercayai matamu. Mengapa kautidak memercayai mata batinmu?”
***
“Mata batin hanya soal perasaan. Sedangkan mata benar-benar membuktikan kenyataan. Perasaan hanya mampu menimbang-nimbang tanpa hasil yang tidak jelas. Sedangkan mata mampu menimbang dengan hasil yang akurat.” jelasku bersemangat, suasana mulai menghangat. 
“Aku rasa mata batin atau yang biasa kita sebut hati harus difungsikan bersamaan dengan matamu.” suara lembutnya seperti nyanyian ninabobo yang menyejukkan. “Hati dan mata harus difungsikan secara bersamaan, supaya mereka bisa saling mengimbangi.” 
“Ternyata kamu tahu banyak juga ya. Omong-omong, mana sayapmu? Aku tidak melihatnya.” 
Malaikat tertawa kecil, suara lembutnya nyaris termakan tawa renyahnya. “Itulah kesalahan dongeng yang menceritakan tentang sosokku. Aku tak butuh sayap atau apapun yang membuatku terbang. Aku bukan mahluk hidup. Aku bukan burung. Ilmu pengetahuan mengubahmu menjadi sok tahu ya.” 
“Dengan sikap sok tahulah makanya ilmu pengetahuan bisa dikembangkan. Jika tak ada rasa ingin tahu maka tak ada yang ingin tahu. Kamu tak tahu kalau manusia berjuang keras untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.” 
“Aku menatap kalian semua dari surga. Aku tahu itu, Angel. Kalian bekerja dalam banyak hal. Tuhan tersenyum gembira melihat kalian yang berusaha keras untuk mengungkap ciptaanNya.” 
“Tuhan senang tersenyum? Sepertinya Ia sosok yang sangat hangat ya?” 
“Tentu saja.” 
“Kami selalu menganggap dunia ini penuh misteri, makanya ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan untuk mengungkap misteri itu.” 
“Tapi, pasti misteri bagi manusia bukanlah misteri bagi Tuhan. Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Dia tahu apapun yang Ia ciptakan.” 
“Sepertinya menyenangkan bisa berbincang banyak hal dengan Tuhan. Lanjutkan lagi ceritamu tentang Tuhan!” 
Malaikat itu kembali tersenyum setelah mendengar perkataanku. “Kamu akan tahu setelah kamu bertemu denganNya.” 
“Sepertinya kamu tak terlalu yakin pada ilmu pengetahuan yang diperjuangkan manusia. Apakah kamu pernah memperbincangkan hal ini pada Tuhan?” 
“Kalian selalu jadi topik utama. Kalianlah yang mencuri perhatian Tuhan secara penuh.” cerita malaikat itu membawa pikiranku terbang melayang. “Tapi bagiku, ilmu pengetahuan yang tak diimbangi dengan rasa percaya pada Tuhan yang menciptakan segalanya sama saja nihil dan kosong! Kecerdasan manusia berasal dari Tuhan, dengan kecerdasan itu harusnya manusia tak menyangkal keberadaan Tuhan.” 
Aku mencerna perkataan itu dengan sangat hati-hati. Aku dan malaikat terdiam beberapa menit. Aku kehabisan bahan pertanyaan, mungkin malaikat itu juga kebingungan mencari bahan pembicaraan. 
Tiba-tiba, ia memecah keheningan. “Kamu mau terbang bersamaku?” 
“Bagaimana caranya? Aku sedang sakit.” ucapku khawatir. “Lagipula seluruh ruangan ini terkunci. Aku tak mungkin keluar.” 
“Semua yang terkunci bukan berarti menghalangimu terbang kemanapun. Kamu tadi berkata bahwa kamu bisa menjelajah dunia melalui tempat tidurmu kan?” 
“Tentu saja. Tapi... kali ini berbeda.” aku menatap mamaku yang tertidur di sofa. “Lagipula, bagaimana kalau mamaku bangun?” 
“Kita akan kembali. Tentu saja kita akan kembali.” 
“Bagaimana caranya?” 
“Begini.” 
Malaikat itu mengangkat tubuhku. Ia tak mendenguskan nafasnya, seakan-akan tubuhku bukanlah beban baginya. Sungguh! Ia mengangkat tubuhku, aku sudah tidak lagi di tempat tidur, aku tidak menginjak lantai. Aku benar-benar terbang! 
Ia membawaku terbang dan menembus jendela. Saat aku menatap ke belakang, jendela itu tetap utuh dan tidak pecah. Aku tertawa! 
“Kita terbang!” teriakku lantang. Sakitku seakan-akan hilang! 
“Ya... kita terbang!” 
Malaikat itu terlihat sangat menarik dan memesona. Matanya berkilat-kilat seperti berlian di toko perhiasaan. Wajahnya bersinar lambut. Saat aku menatap ke bawah, semua terlihat kecil, aku mengeratkan pelukku pada batang lehernya. 
“Tak usah memeluk seerat itu. Selama bersamaku, kau tak akan jatuh.” ia meyakinkanku dan meremas ketakutanku. 
Kami juga terbang menyentuh awan. Pakaian rumah sakit yang kugunakan menjadi agak basah. Ada titik-titik air dalam bajuku. Aku tertawa seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Belum pernah aku sebahagia ini. 
“Kali ini, kita mau kemana?” 
“Boleh ke rumah sahabatku? Amri.” 
“Tentu saja!” 
Malaikat mempercepat laju geraknya, beberapa detik kemudian aku melihat rumah Amri dan kita dengan mudahnya menembus dinding kamarnya. Amri terlihat tertidur sangat pulas. Wajahnya sangat manis ketika tertidur. Aku tak pernah melihat wajah Amri sehangat dan sebahagia itu. Aku mengenggam tangan Amri dengan begitu hangat. Melihat pemandangan manis ini, entah mengapa mataku mengalirkan bulir-bulir airnya. 
“Kamu menangis?” tanya malaikat sambil menatapku dengan heran.
***
“Iya. Aku merasakan sesuatu, sesuatu yang kurasakan seperti di rumah Amri.”
“Merasa akan ada perpisahan?”
“Iya. Rasanya berat.”
Malaikat melirik jam dinding yang berdetak. Sudah pukul 5 pagi rupanya. “Ayo bergegas kembali! Tidak lucu kalau kamu terbangun saat ibu telah bangun! Nanti ibu khawatir!”

Aku melirik ke arah malaikat. Beberapa detik berikutnya, aku mencium kening ayahku, kakakku, dan adikku. Aku memeluk mereka dengan erat dan hangat. Tapi, entah mengapa mereka tak terbangun. Mereka seperti tak merasakan sentuhanku.
Detik itu segera bergulir, malaikat kembali membawa aku terbang ke rumah sakit. Saat jendela kembali kami tembusi, aku kaget ketika tahu lampu ruanganku telah dinyalakan. Ruanganku begitu ramai. Ada tiga orang dokter dan beberapa suster. Wajah mereka pucat pasi, aku melirik ke arah ibuku, matanya terlihat sangat sembab.
Infus telah dilepas dari pergelangan tanganku. Alat pengukur detak jantung tak lagi berbunyi. Aku tak merasa aneh ketika menatap tubuhku yang berbaring di tempat tidur.
“Ternyata, aku sangat cantik kalau sedang tidur. Lihatlah! Senyumku mengembang lebar!” ucapku bangga menyentuh tangan malaikat.
Ia menatapku dengan sangat hangat. “Kamu memang sangat cantik, apalagi ketika tidur.”
“Kali ini aku akan terbangun dan menyambut mamaku. Infus telah dilepas. Aku telah sembuh!”
Malaikat menatapku dengan tatapan kosong. “Kamu memang telah sembuh, Angel. Ayo, terbang bersamaku lagi!”
Aku menatap malaikat dengan tatapan heran. “Kemana? Aku ingin memberitahukan pada mama kalau aku sudah sembuh.”
“Kamu bilang, kamu ingin bertemu dengan Tuhan?” tanya malaikat menyorot mataku. Ia seperti mencari jawaban dari sinar mataku.
“Bukankah terlalu cepat?”
“Tuhan sangat merindukanmu, Angel.”
“Sungguh? Kalau begitu, aku ingin bertemu dengan Dia.”
“Tentu saja, dengan senang hati aku akan mengantarmu.”
Tanpa bantuan malaikat, aku bisa terbang dengan sendirinya!
Sungguh ajaib!
Aku terbang tanpa sayap dan tanpa digendong oleh malaikat!
Aku terbang!
Dunia terlihat sangat kecil dari mataku.
Aku tidak sabar untuk segera bertemu Tuhan.

Untuk "Mainan Lama" yang Telah Menemukan "Pemilik Baru"

Reaksi: 

Kudengar kautelah bahagia bersama pilihanmu. Bahagia bersama pilihanmu? Apakah kamu tidak mendapat kebahagiaan bersamaku? Dan... katanya lagi, kamu telah menemukan dirimu dan duniamu bersama dalam diri kekasih barumu. Betulahkah? Memangnya kalau bersamaku kautidak mendapatkan kedua hal itu?

Aku masih ingat bagaimana kita berusaha untuk saling mengucap kata pisah dan berusaha saling melupakan. Aku tak butuh waktu lama untuk menghempaskan dan membunuh penjahat bodoh seperti kamu. Tapi... kamu? Aku sangat yakin bahwa kamu harus jungkir-balik dan berusaha dengan keras untuk mengendalikan amukan perasaanmu. Aku sangat tahu bahwa kamu belum benar-benar melupakanku, kamu belum benar-benar menghapus aku dalam sistem kerja otakmu. Sebenarnya... aku masih menjadi duniamu, dan kamu adalah gravitasi yang terus-menerus menahanku, hingga aku bosan dan jera pada perlakuan bodohmu.

Jangan berpikir bahwa aku terluka. Jangan sengaja mempersepsikan bahwa aku tak bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik darimu. Aku tidak sebodoh kamu. Karena seorang "dalang" harus lebih pintar dari "wayangnya". Karena seorang "pemilik" harus lebih pandai daripada "bonekanya". Menyenangkan bukan? Kita bermain di panggung yang sama, berganti-ganti peran sesukanya, berganti-ganti topeng semaunya.

Kamu adalah "boneka" yang mudah kuatur dan kuhempaskan. Kamu adalah "mainan" yang bisa kumanfaatkan sesuka dan semauku. Kalau kaupikir kaulah yang telah mempermainkanku, maka kau kembali menafsirkan hal yang salah. Kamu adalah salah satu "boneka" terbodoh yang pernah aku miliki. Salah satu? Ya... salah satu! Aku punya banyak "mainan" seperti kamu, namun diantara mereka tak ada yang sebodoh dan sebanyak gaya kamu.

Kamu sudah punya "pemilik baru" ya? Tentu saja "pemilik barumu" sama bodohnya seperti kamu. Kamu tahu pernyataan tentang orang yang memiliki harus memberi pada yang tak memiliki? Begitu juga aku, aku harus memberi "mainan lama" untuk "pemilik baru", kalian sama, sama bodohnya!

Rasanya sangat aneh kalau kaumerasa jauh lebih pintar daripada aku. Rasanya sangat menjijikan kalau kaumerasa lebih dewasa daripada aku. Kamu tak punya hak untuk mengatur dan menata hidupku! Kamu hanyalah "boneka" yang kucari ketika aku bosan dengan kebisingan dunia. Karena... sebenarnya... aku tidak berbohong jika aku berkata bahwa dalam dirimu aku menemukan ketenangan tersendiri. Dalam sepaket tawa renyahmu, aku temukan air mata yang selalu berubah menjadi tawa. Dalam aliran hening suaramu, ada bahagia yang tiba-tiba berdecak dalam getaran waktu. Dan... di dalammu, aku merasakan semua itu.

Memang aku sedikit menyesal ketika kita memutuskan untuk saling pisah dan saling mencari kebahagiaan masing-masing. Aku sedikit khawatir, apakah kamu-yang-selalu-berkata-mencintaiku akan menemukan kebahagiaan baru melebihi kebahagiaan yang kuberikan padamu? Aku takut jika dinginnya dunia membuatmu menggigil. Aku takut jika kerasnya dunia menyiksa batinmu yang terlalu sering disakiti itu.

Tapi... Ya sudahlah! Semua telah berlalu. Aku telah melepas rantai yang sempat membuat kakimu terjerat. Aku telah menghancurkan tembok yang menjadikan duniamu memiliki banyak sekat. Aku telah melepasmu agar kamu mampu mencari kebahagiaanmu sendiri, dan berhenti menjadi "mainan" yang selalu membahagiakanku meskipun luka tersayat pelan-pelan di hatimu.

Sekarang, kamu sudah bersama "pemilik baru", walaupun aku tahu dia mungkin tak sebaik aku, tapi berusahalah kuat dengan apapun yang terlihat baru di matamu, yang baru dan berbeda tak selamanya berarti keburukan. Kini... kaubisa bebas melakukan apapun tanpa batasan yang kuberikan untukmu. Kini... kaubisa miliki duniamu seutuhnya. Kulepaskan tali penggerak tubuhmu dan nikmatilah kebebasanmu.

Untuk "mainan lama" yang telah memiliki "pemilik baru", semoga hanya aku yang mengerti cara menggerakkan tubuhmu. Semoga hanya aku yang mampu membaca kebohongan di matamu.

18 Maret 2012

Untuk Kekasih Baru dari Mantan Kekasihku

Reaksi: 
Ah... Sebenarnya aku tidak mengenalmu
Siapa kamu
Dan berapa umurmu
Tapi...
Aku tak terlalu memedulikan itu

Kudengar
Kamu sudah menjadi pilihan terakhir mantan kekasihku
Astaga!
Mengapa mulutmu menganga?
Jadi...
Kamu terperanjat ketika tahu dia pernah menjadi kekasihku?
Sudahlah...
Tutup saja mulutmu dengan telapak tanganmu
Lalu...
Dengarkan ceritaku

Tentu saja
Aku lebih dulu mengenal dia daripada kamu mengenalnya
Sudah pasti
Aku lebih tahu luar dalam tubuh dan ruhnya

Mungkin
Dia pernah bercerita tentangku padamu
Aku bisa menebak bagaimana wajahnya yang manis itu tiba-tiba merah padam
Aku mampu membayangkan matanya yang indah tiba-tiba terbelalak
Aku mampu mereka-reka hidung mancungnya tiba-tiba kembang-kempis dan naPasnya mendengus tajam
Aku bisa merasakan amarahnya dari sini
Aku masih sanggup merasakan debar jantungnya yang mulai berdegup

Sebenarnya...
Dia pria yang baik
Dia manis dan cukup romantis
Tapi...
Entah mengapa ada hal asing dalam dirinya yang sulit kuterima dan kumengerti
Mungkin...
Kaubisa lebih mengerti
Mungkin...
Kaubisa menerjemahkan keasingan itu menjadi suatu kelaziman

Bagaimana kabarnya sekarang?
Apa kacamatanya masih bulat seperti kakek-kakek yang senang membaca koran di pagi hari?
Apakah napasnya masih terngah-engah ketika ia sangat berantusias?
Masihkah jemarinya hangat ketika menggenggam tanganmu?
Masihkah bahunya kuat ketika tubuhmu bersandar di situ?
Aku tahu kalian pasti sangat bahagia
Walaupun mungkin saja tebakanku salah

Sinar matanya pasti semakin hangat
Ingatanku masih belum mampu melupakan kilatan halus di matanya
Otakku belum mampu menghapus rasa hangatnya ketika ia mengenggam tanganku dulu
Suaranya masih terus menderu
Halus dan lembut saat ia memanggil namaku dulu
Tolong jangan cemberut atau menangis!
Semua terjadi di masa lalu
Dan lihatlah pada dirimu!
Sekarang kamu memiliki dia
Sekarang aku kehilangan dia
Kamu masa depannya
Aku masa lalunya

Aku yakin
Dia pasti sangat mencintaimu
Karena ibunya juga mencintaimu secara penuh
Kamu dipilih langsung oleh ibunya
Untuk menjadi kekasihnya
Aku dipilih langsung oleh ibunya
Untuk mengakhiri semua yang telah terbentuk
Mimpi yang kurancang dengannya hampir sempurna
Istana yang kubuat bersamanya hampir selesai
Tapi...
Semua terpaksa hancur
Semua harus lebur
Aku tidak menyalahkan kamu
Telah terjadi bukan berarti akan berlanjut dan memiliki akhir yang indah
Seharusnya aku tahu dari awal
Rencana yang aku dan dia buat tak akan berakhir indah
Semua memang hanya mimpi
Kenyataannya...
Kamulah yang menjadi takdirnya
Kamulah yang miliki hatinya

Kautak perlu tahu bagaimana hubunganku dan hubungannya berakhir
Yang jelas semua sulit diterima akal sehat
Hanya karena mataku tak sipit!
Hanya karena aku tidak bisa melafalkan bahasa mandarin!

Semua berakhir dalam keterpaksaan
Mungkin ada keterpaksaan juga saat ia memelukmu dengan erat
Mungkin ada keterpaksaan juga saat ia berbicara cinta padamu

Kaubisa miliki raga dan tubuhnya
Tapi...
Kau tidak bisa milikki jalan hidupnya

Semoga hanya aku yang tahu cacat dalam dirinya
Semoga hanya aku yang mengerti keindahan dalam tuturnya

Kali ini...
Kamu pasti menangis
Kamu pasti menyesal
Wanita cerdas tak pernah menyesal!
Seperti aku yang tak pernah menyesal mencintai dia!
Seperti aku yang tak pernah menyesal membangun mimpi bersamanya!

11 Maret 2012

Aku Memang Tidak Seperti Mantanmu

Reaksi: 
Bianca menatap jam tangannya berkali-kali. Detak dari jam yang melingkar manis dipergelangan tangannya sejak tadi terus menemani kesediriannya. Wajahnya cemas, bibirnya terkunci rapat, jemari tangan kirinya mengisi celah-celah kecil jemari tangan kanannya. Sesekali ia menyilangkan tangan di dadanya, ia merasa kedinginan. Bianca kembali menatap jarum jam,  setelah itu ia memerhatikan awan yang semakin gelap dan rintik hujan yang semakin deras, wajahnya cemasnya semakin terlihat jelas.

“Kevin belum juga pulang.” ucapnya perlahan dalam hati.

Disentuhnya plastik berisi dua bungkus nasi goreng yang ia beli di sebuah kedai makan mungil di ujung jalan, makanan itu sudah dingin, tak lagi hangat seperti awal ia datang ke tempat kost Kevin. Dua jam sudah ia menunggu, sementara Kevin tak kunjung pulang. Kevin juga tak membalas pesan singkat yang dikirim Bianca untuknya. Hujan semakin deras, Bianca semakin cemas. Bianca tetap saja melihat handphone-nya, meskipun tak ada satu pesan pun dari Kevin, meskipun Kevin tak kunjung memberi kabar.

Terdengar derap suara mobil dari luar pagar, seseorang keluar dari mobil itu. Pria itu berlari-lari kecil lalu membuka pagar, kini pria itu berdiri tepat di depan Bianca. Bianca tersenyum lega.

“Kamu baru pulang? Sama siapa? Kehujanan ya?” tanya Bianca, masih dibalut wajah cemasnya.

“Kamu ngapain di sini sih?!” ujar Kevin setengah membentak.

“Aku mau bawain kamu nasi goreng. Kemarin, kamu sms ke aku katanya lagi pengen nasi goreng yang di ujung jalan itu, jadi aku beliin aja. Dimakan ya?” jelas Bianca dengan simpul senyum kecil bibirnya.

Kevin mengalihkan pandangannya, ia tak mau menatap Bianca, “Cewe bego! Pulang lo! Udah malem! Hujan juga kan!” bentaknya dengan nada tinggi.

Bianca hanya menatap sosok Kevin dengan wajah bingung, bentakan keras Kevin membuatnya mundur satu langkah dari posisi ia berdiri diawal.

“Tadi kamu pulang sama siapa?” tanya Bianca menahan rasa sedihnya.

“Sama mantanku, kenapa? Eh, aku heran deh sama kamu, seneng banget nungguin aku, kayak mantanku dong, orangnya enggak suka nunggu, kecuali kalau diminta!” jawab Kevin enteng, dengan wajah seakan-akan ia tak menyakiti hati Bianca.

“Oh…” ungkap Bianca menahan amarah. “Syukurlah kalau kamu bisa pulang sama dia, kamu juga enggak terlalu kehujanan. Ini nasi gorengnya, kamu makan ya. Aku mau pulang dulu.”

“Bawa aja nasi gorengnya, aku tadi udah makan kok sama dia.” tungkas Kevin dengan nada enteng.

“Enggak usah, kamu bawa aja. Aku pulang ya. Nanti langsung mandi dan keramas habis itu minum teh hangat supaya kamu enggak kedinginan.”  tegas Bianca sambil menatap wajah Kevin dengan penuh perhatian.

Kevin tetap membuang muka, sesekali Kevin menatap Bianca. Pandangannya mencuri-curi celah untuk menatap Bianca. Tapi, tetap saja dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Kevin tak peduli dengan Bianca. Kevin tak peduli dan tak mau tahu rasa khawatir yang Bianca simpan dalam-dalam. Padahal, rasa khawatir adalah wujud dari rasa cinta dan perhatian. Perhatian yang diabaikan layaknya rasa sakit yang diam-diam menghujam. Itulah yang dirasakan Bianca. Ia pulang dengan rasa hampa. Ia pulang dengan gerimis kecil dimatanya, gerimis itu bernama air mata.

***

Suara mahasiswa yang berdengung membuat Bianca pusing tujuh keliling. Bianca adalah wanita plegmatis yang kadang membenci keramaian. Ia hanya duduk sendirian, merasakan angin genit yang bermain dengan rambut hitamnya. Kevin berjalan di depannya namun Kevin peduli, tak mau menatap sosok Bianca yang menunggunya sejak tadi.

Bianca terbangun dari bangkunya, ia berlari-lari kecil mengejar sosok Kevin, “Kamu kenapa akhir-akhir ini cuek banget?”

Kevin mengarahkan pandangannya pada Bianca, “Emang kenapa? Kamu kan cuma pacarku bukan istriku, salahku kalau nyuekin kamu?”

Bianca mengehentikan langkahnya, ia tertunduk seusai mendengar ucapan yang terlontar begitu saja dari bibir Kevin, “Kapan kamu menghargai aku sebagai sosok yang penting dalam hidupmu?”

“Kapan? Kenapa bertanya? Bukankah aku selalu menghargai kamu?” tanya Kevin dengan nada keheranan.

“Padahal, apa yang tidak kuketahui tentangmu? Semua hal tentangmu tak pernah kecil dimataku. Aku selalu menghargai kamu, menghormati posisimu, dan masih memperlakukanmu dengan baik meskipun kadang kautak menghargai aku.” jelas Bianca dengan matanya yang mulai berair.

“Wanita bodoh! Jangan jadikan air matamu sebagai senjata pamungkasmu! Kamu cengeng, kamu berbeda dengan mantanku. Dia jauh lebih kuat daripada kamu!” tungkas Kevin dengan nada tinggi.

“Ya… aku memang tidak seperti mantanmu. Aku memang tidak secantik dan setegar dia. Aku memang tidak secerdas dan semandiri dia. Aku jelas-jelas tak luar biasa seperti dia. Tapi, dia hanya masa lalumu, sedangkan aku adalah masa kini yang mungkin akan kaubawa ke masa depanmu!” Bianca menatap Kevin dengan tatapan serius. Tak pernah Kevin melihat Bianca sekeras dan seberani itu.

“Kamu memang tidak seperti mantanku.” ucap Kevin singkat.

“Aku memang tidak seperti mantanmu. Aku adalah aku, yang akan luar biasa dengan jalan dan pilihanku sendiri. Kenyataannya kamu memang tidak bisa melupakan mantanmu dan masa lalumu.” ujar Bianca memicingkan mata, tatapannya tajam menatap Kevin.

“Bukan urusanmu!”

“Dan, aku sangat kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku sulit membuatmu lupa pada masa lalumu.”

“Masa lalu bukan untuk dilupakan, masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran.”

Mata Bianca memerah, cahayanya yang bening tak lagi bersinar dari bola matanya, “Aku juga kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku sulit membuatmu jatuh cinta kepadaku lalu melupakan mantanmu?”

Kevin tak tega menatap Bianca, naluri lelakinya keluar, selalu tak tega menatap wanita yang sedang menangis, “Sudahlah…” ucap Kevin perlahan. “Jangan menangis.”

“Kita akhiri saja semua kalau memang kamu masih memikirkan masa lalumu. Kita akhiri saja semua kalau memang kaulebih merindukan masa lalumu. Kita cukupkan sampai di sini, kalau masa lalumu lebih mampu untuk membahagiakanmu.”

“Maksudku bukan seperti itu, Sayang.” dengan nada sok manja, Kevin menarik lengan Bianca. “Maaf ya?”

“Percuma ada kata maaf jika kau tak mau berubah. Percuma ada kata maaf jika kauterus mengulang kesalahan yang sama. Kembalilah pada masa lalumu, aku juga tak membutuhkan orang sepertimu dimasa depanku.” Cetus Bianca, meghempaskan lengan kevin dari lengannya.

Kevin tak menyangka bahwa wanita yang beberapa bulan ini disiksanya juga mampu menyiksanya dengan cara yang menyakitkan. Hukum karma ternyata berlaku, jika seseorang menyakiti hati orang, maka akan ada saatnya hatinya juga akan tersakiti. Kevin hanya mematung menatap Bianca, menatap punggungnya hilang dari pandangannya.

***

Jam waker melakukan tugasnya dengan baik, celotehnya yang berisik membangunkan Kevin yang masih saja terantuk di ujung kantuk. Dimatikannya jam waker itu, ditariknya lagi selimut yang sejak tadi malam menghangatkan tubuhnya. Matanya menatap jam dinding, sudah pukul tujuh pagi. Gerakan reflek, ia menatap handphone, tak ada pesan singkat dari Bianca. Tak ada suara ketukan pintu dari luar. Tak ada lagi wanita yang menyiapkan bubur ayam sebagai sarapan kesukannya. Tak ada sosok wanita yang meletakkan teh hangat di dekat tempat tidurnya. Tak ada lagi Bianca yang memerhatikan sosoknya. Ia merasa kesepian. Rasa membutuhkan dan perasaan akan kehilangan baru ia rasakan ketika ia telah kehilangan.

Kevin menghela napas. Ia menarik selimut untuk menghangatkan dadanya. Tubuhnya masih menggigil, demamnya tak juga turun. Entah sudah berapa lama hujan menari-nari tadi malam, hingga dinginnya masih saja menusuk tulang. Sosok Bianca yang ia harapkan tergopoh-gopoh membawa obat dan segelas air putih, tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Hanya detak jam dinding yang mendesah perlahan kala itu.

Tak ada Bianca.

Kevin kembali menghela napas. Ia menarik selimut menutupi wajahnya. Ada gerimis kecil di matanya, gerimis itu bernama air mata.