25 May 2013

Apakah Ketakutanku juga bagian dari Ketakutanmu?

Aku menunggu di bawah pohon rindang, sambil menjaga alas kaki yang kautitipkan padaku. Masih banyak pria-pria tampan berlalu-lalang di depanku. Beberapa dari mereka mengenakan sarung dan baju koko, tak lupa juga peci tersemat di kepala. Wajah mereka terlihat bersih karena sudah dibasuh air wudu dari rumah. Kendaraan bermotor tak lagi terlihat banyak. Tuhan memanggil dan ratusan orang datang menemuiNya.

Sambil membaca buku, kudengar suara khotbah diantar pengeras suara masjid. Di dalam sana, pasti kausedang mendengar sabda Tuhan dengan wajah serius dan mata yang tajam. Bersama dengan banyak pria lainnya, kamu pasti sedang duduk rapi. Wajahmu tentu setampan banyak pria yang beberapa saat lalu kulihat memasuki masjid. Basuhan air wudu memperhalus garis-garis wajahmu yang selalu terlihat menarik di mataku.

Menunggumu selesai salat Jumat bukanlah hal yang pertama bagiku. Ini sudah kulakukan berulang kali, berkali-kali. Seperti biasa, ditemani dengan buku fiksi dan gadget, aku menunggumu selesai menemui Tuhan. Sudah kubayangkan, setelah salat Jumat, kamu pasti bercerita tentang khotbah yang kaudengar di dalam masjid. Kotbah yang juga kudengar di luar masjid, di dekat pohon rindang, tempat aku selalu menunggumu.

Sembari menunggumu, kulayangkan ingatanku pada hari-hari yang telah kita lewati. Pada pertemuan pertama kita yang memunculkan ledakan baru di dadaku. Pada kebersamaan kita yang mengalir tanpa banyak pertanyaan. Pada hari-hari baru yang seringkali menggoreskan senyum di bibirku. Kita selalu bahagia bukan? Aku percaya, jawabanmu pasti adalah "ya", karena kamu selalu tersenyum setiap kali aku bercerita tentang banyak mimpi yang belum pernah kita lewati.

Aku tak tahu apakah perjalanan kita butuh ujung dan akhir. Langkah kita begitu lurus dan maju, tak banyak lika-liku, tapi entah mengapa pikiranku seringkali mengharu biru. Aku mencoba mencari sebab dari ketakutanku, kusentuh kalung salib yang menggantung di leherku. Kujamah tubuh Yesus yang sedang kesakitan oleh paku di tangan dan kakiNya, oleh mahkota duri yang tersemat di kepalaNya. Dia sudah begitu mengasihiku, apakah aku harus menyakiti Dia dengan hubungan kita yang jauh dari kata biasa?

Terlintas sebuah ayat yang pernah kubaca, Terang tak dapat bersatu dengan gelap. Aku tak tahu siapakah yang bisa disebut "Terang" dan siapakah yang bisa disebut "Gelap"? Aku bertanya-tanya dan terus bertanya. Tiba-tiba aku ketakutan, seperti dikejar-kejar sesuatu yang memaksaku untuk menjauhimu. Mungkinkah aku harus pergi? Sementara kita sudah mulai nyaman dengan yang kita jalani.

Sayang, aku duduk di sini sendiri, dengan rasa takut yang mungkin juga kurasakan sendiri. Aku takut jika perpisahan pada akhirnya menjadi pilihan kita. Ketakutanku semakin lengkap mengetahui kamu beribadah di tempat yang berbeda denganku. Apakah kita melakukan sebuah kesalahan dan dosa terindah?

Aku takut pada cerita akhir kita yang penuh teka-teki. Aku bahkan tak berani membayangkan jika pada akhirnya semua (terpaksa) berakhir tanpa keinginanku dan keinginanmu. Kita berbeda, apa yang aku dan kamu harapkan dari ketidakmungkinan seperti ini?

Ah, itu, dia! Kamu baru selesai salat Jumat dan segera menghampiriku. Tersenyum dengan wajah senang karena aku masih berada di sini untuk menunggumu. Seperti biasa, kaubercerita tentang khotbah yang kaudengar di dalam masjid. Sambil mengenakan alas kakimu, kautetap menatapku dengan tatapan hangat. Kauajak aku berjalan, menggenggam tanganku erat, dan membelai lembut rambutku. 

Ketakutanku selalu berulang setiap kali kutemani kamu melaksanakan ibadah. Aku memasang senyum sebahagia mungkin, agar kautak tahu; aku begitu mengkhawatirkan kita.

20 May 2013

Senyuman di belakang Panggung

Aku kira, aku sudah berhasil melupakan segala macam tentangmu. Kupikir aku siap membuka hatiku untuk seseorang yang baru. Aku yakin bahwa aku siap membuka mata dan hatiku pada orang baru yang akan membahagiakanku. Usahaku begitu keras untuk mematikan perasaan ini. Segalanya memang tak mudah karena perjuangan yang kulakukan terus berlanjut. Tak mudah mematikan perasaan pada seseorang yang bisa kita temui setiap hari. Kamu sudah jadi bagian dari hari-hariku, hampir setiap hari aku melihatmu. Perubahan yang begitu berbeda membuatku sulit menerima bahwa kita tak lagi sama. Aku melihatmu setiap hari dan untuk menganggap bahwa kita tak pernah punya perasaan yang spesial sungguh bukanlah hal yang mudah.

Apa saja yang kita lakukan selama rentetan bulan kebersamaan kita. Aku juga tak tahu apakah aku dan kamu bisa disebut punya hubungan atau tidak, karena semua berjalan dalam ketidakjelasan. Penyatuan kita juga tak menemukan titik temu. Mungkinkah dulu hanya aku yang berjuang sendirian? Mungkinkah dulu hanya aku yang inginkan kejelasan?

Kamu berbeda dari yang lainnya. Kamu sederhana, apa adanya, misterius, dan begitu sulit untuk ditebak. Wajahmu bukan pahatan seniman kelas dunia ataupun bikin pabrik yang jelas-jelas sempurna. Aku tak memikirkan bagaimana penampilanmu dan bagaimana caramu menata rambutmu. Aku mencintaimu karena begitulah kamu. Kamu yang sulit kutebak tapi begitu manis dalam beberapa peristiwa. Kamu yang menggemaskan dalam keadaan yang bahkan sulit kujelaskan. Aku sangat mencintaimu dan sekarang pun masih begitu. Sadarkah kamu?

Hari-hari kulewati dengan banyak pertanyaan. Apakah perasaanmu sedalam yang kuharapkan? Aku sedikit menangkap isyarat itu. Kamu mengajakku bicara dalam percakapan manis kita di pesan singkat. Kamu menghangatkanku di tengah dinginnya malam dengan candaan kecilmu. Bagaimana mungkin aku bisa begitu mudah melupakan hal-hal spesial yang sempat kulewati bersamamu? 

Kamu bisa dengan mudah melupakan segalanya. Kebersamaanmu dengannya sudah cukup menjawab semuanya. Aku bukanlah sosok yang kauinginkan. Aku bukan sosok yang kauharapkan. Menyakitkan bukan jika keberadaanku tak pernah kauanggap meskipun aku selalu hadir dalam tatapanmu? Aku berusaha semampuku untuk membahagiakanmu, namun nampaknya usahaku tak begitu terlihat di matamu.

Dulu, kita yang banyak berbincang, kini jadi banyak diam. Setiap hari aku berusaha menerima kenyataan dan perubahan itu. Setiap hari aku mencoba meyakinkan diriku bahwa suatu saat pasti aku bisa melupakanmu. Ketika melihatmu dengannya, ada luka yang tergores lagi. Kamu belum benar-benar kumiliki, tapi mengapa aku bisa sakit begini?

Pertemuan kita tadi seperti semangat yang kembali menemukanku di sudut yang dingin dan gelap. Aku selesai menyanyikan lagu sakit hati yang kuharap bisa sampai ke telingamu. Aku turun panggung dan menemukan sosokmu sedang duduk termenung. Kulambaikan tanganku dan mata kita bertemu.

Kamu tersenyum. Sederhana sekali. Ternyata, dari banyaknya pengabaian dan rasa sakit yang kauberikan; aku masih bisa mencintaimu.

Suka tulisan aku? Tidak akan ada yang mengalahkan romantisnya langsung memegang buku dan membalik setiap halamannya langsung dengan jemarimu. Miliki segera buku aku. Klik BUKU DWITASARI untuk memiliki buku aku langsung di jemarimu :)

17 May 2013

Sampai Kamu Datang


Satu minggu ditambah satu hari. Begitu singkat perkenalan kita, tapi ternyata semua telah melekat, termasuk cinta? Kamu tak percaya? Tentu saja. Kamu selalu tak percaya pada perasaanku. Kamu lebih memercayai persepsimu sendiri. Kamu menjunjung tinggi pengetahuanmu. Padahal, kalau boleh jujur, aku tak pernah berbohong jika berkata rindu yang bukan semu itu.

Tiga hari setelah perpisahan kita. Semua begitu berbeda. Entah mengapa meskipun aku belum benar-benar mengenalmu, sudah lahir saja rindu yang sulit kuatasi. Aku mencari-cari kamu dengan menggunakan apapun. Aku mengharapkan beritamu mampir walaupun sekadar cerita atau mitos semata. Kudengar, kamu sakit, ya? Cepat sembuh, ya. Maaf jika aku tak berperan aktif untuk menyembuhkan sakitmu, karena kamu telah memutuskan kebersamaan kita dan tak lagi ingin melihat aku dalam tatapan matamu. Aku bertanya-tanya, apa salahku?

Untuk Cahaya Penunjukku, aku kebingungan melawan resah dan kangen. Aku berusaha tak memikirkan kamu dan kenangan-kenangan kita dulu, tapi semakin kulawan; semakin kauhadir dan melekat. Perpisahan harusnya tak terlalu menghasilkan sakit karena perkenalan kita belum terjalin begitu lama. Aku hanya menyesal, mengapa semua yang kupikir akan berakhir bahagia malah berakhir secepat itu? Satu helaan napasku memburu, kucuri kamu dalam otakku. Kamu tetaplah bayang-bayang, menghamburkan harapan, kemudian menghempaskan.

Aku melirik ke belakang, melihat dan mengingat apa saja yang pernah kita lakukan. Aku ingat ketika kamu memerhatikanku dengan baik dan peduli. Aku merekam segala rasa cemasmu ketika aku bercerita tentang pria lain. Aku mengenang rangkulan dan gandengan tanganmu yang kurasakan pertama kali. Rasanya, aku tak cukup kuat untuk mengembalikan segalanya kembali seperti awal perkenalan kita.

Aku menunggu saat kita bisa bertemu lagi, saling menumbuhkan rasa percaya juga cinta. Aku menunggu kamu datang, membawa pelukan juga rindu yang kaupendam. Mungkinkah kaupunya rindu sedalam dan seluas yang kusimpan? Mungkinkah kaupunya cinta dan sayang sekuat dan seindah yang kupunya? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kamu begitu sulit kutebak, tapi aku mencintai segala teka-tekimu. Kamu hadir di saat yang tepat, saat aku membutuhkan perkenalan tanpa keribetan, saat aku menginginkan pria humoris di sampingku. Aku menemukan sosok pria idaman dalam dirimu, tapi sepertinya aku bukanlah sosok yang kauinginkan. Aku terlalu buruk untukmu. Aku tak ingin wajah tampanmu bersanding dengan wanita serendah aku. Kamu terlalu sempurna untuk kugapai dan aku hanyalah si buruk rupa yang merindukan takdir indah.

Sayang, aku menunggu kamu pulang. Kepulanganmu adalah kebahagiaan bagiku. Aku menunggu kamu berbalik arah dan kembali berjalan ke arahku. Aku mulai mencintaimu dan kurasa kamu juga begitu. Kamu selalu berkata cinta, mengucap rindu, dan tersenyum ke arahku dengan wajah manis. Cukupkah segala alasan itu menjadi dasar penilaiku, bahwa kaujuga mencintaiku? Memang terlalu tergesa-gesa menyebutnya cinta, tapi izinkan aku bilang bahwa cinta pun bisa datang bahkan tanpa aku meminta.

Ketika berkenalan denganmu, aku tak minta banyak hal selain pertemanan. Tapi, kaumembuka mataku dan mengecup manis anganku, hingga aku merasa nyaman jika berada di dekatmu. Jika perasaan itu makin tumbuh, salahkah aku? Maaf, jika aku terlalu berharap banyak. Maaf, jika aku tak bersikap sadar diri ataupun memilih pergi.

Aku menunggumu sampai datang. Pulanglah, Sayang. Jangan pergi lagi. Aku menunggumu sampai waktu tak izinkan kita bersatu.

16 May 2013

Seminggu Setelah Perkenalan Kita



Aku duduk di tempat kita pertama kali bertemu. Tempat yang harusnya menjadi kenangan kita berdua. Bilik kecil yang terdiri dari satu meja dan dua bangku, tempat untuk membaca buku perpustakaan. Sebelum mengenalmu, ini adalah tempat favoritku. Aku suka pemandangan di sini. Di depanku ada pemandangan gedung-gedung tinggi, pohon-pohon hijau yang rindang, dan danau yang airnya tak lagi biru jernih. Aku selalu datang ke sini. Kenangan yang tercipta di sini pun berbeda-beda. Tapi, bagian yang paling penting adalah ketika pada akhirnya aku bisa merasakan sorot matamu.

Perkenalan kita sangat instan. Kepolosanmu membuat aku percaya, bahwa kamu adalah pria paling tepat. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, dua hal itu memang tak cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu terburu-buru jika aku mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan sesaat? Aku tak tahu, Sayang. Aku tak mau tahu fakta-fakta itu. Jika benar ini hanya ketertarikan sesaat, mengapa aku begitu sedih ketika kamu memutuskan untuk pisah dan mengakhiri segalanya?

Seminggu yang lalu, kamu begitu manis dan mengejutkan. Letupan-letupan kecil perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta seperti tersetrum oleh energi magis. Kamu mulai ungkapkan rasa, bercerita tentang rasa kagummu terhadapku. Diam-diam, aku sebenarnya juga mengagumimu, tapi aku tak ingin bilang. Aku terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu dan mulai nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku. 

Dua hari yang lalu, kamu masih merangkul dan menggenggam erat jemariku. Kukira aku sudah menjadi sosok yang spesial bagimu, ternyata perkiraanku pun bisa salah. Aku belum jadi pemilik hatimu. Aku hanya persinggahan yang tak akan kaujadikan tujuan.

Kalau boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin dari mahluk yang bisa membuat bodoh dan pintar dalam waktu yang bersamaan—handphone. Perhatian dan kecupan kecil yang kauselipkan dalam setiap percakapan lewat tulisan itu membuat aku banyak berharap. Kupikir, kamu memang punya perasaan yang serius. Iya, aku salah, harapanku terlalu tinggi. Entah mengapa aku tak bisa berpikir jernih bahwa pria seberlian kamu tak mungkin menaruh hati pada tanah liat seperti aku.

Tapi, terus saja kautunjukkan jalan terang. Jalan terang yang kupikir adalah tujuan menuju kenyataan. Aku mencoba mengikuti jalan itu, berjalan bersamamu atas nama hari, dan kita tak tahu teka-teki di balik perbedaan yang ada di dalam kita. Satu-satunya perbedaan yang tak bisa dibatasi adalah agama, meskipun cinta berperan besar, tapi agama pun punya peran yang lebih besar. Ini bukan alasan yang cukup logis untuk mengakhiri segalanya. Aku mulai mencintaimu, sederhana. Tapi, mengapa hal yang kaubilang bisa “dibikin simple” ini malah merumitkan segalanya?

Kamu memilih pergi tanpa alasan yang benar-benar kupahami. Kamu memilih pergi, ketika aku mulai menyayangimu dan terus ingin memperjuangkan kamu. Bayangkan, semua hanya terjadi satu minggu! Begitu singkat! Kamu pergi ketika aku mulai mengerti bahwa ini adalah cinta. Kamu pergi ketika aku mulai berharap bahwa kebersamaan kita akan segera memiliki status.

Kini, aku melewati hari yang berbeda. Tidak ada lagi kamu dan perhatianmu. Tidak ada lagi kita dan segala canda yang dulu pernah ada. Rasa sakit ini masih begitu sama. Kamu menghilang tanpa kabar. Menuduhku sebagai dalang yang menghancurkan segalanya. Menindasku dengan anggapan bahwa aku masih mencintai mantan kekasihku. Aku tak tahu, sungguh aku tak tahu mengapa anggapan itu bisa tumbuh subur dalam otakmu. Sedangkan di hari-hari kemarin, sebelum kita pisah, aku sudah menyakinkan diriku untuk selalu berjalan ke arahmu.

Kamu tentu tahu, melupakan sesuatu yang sudah mulai melekat bukanlah hal yang mudah. Aku tak bisa membayangkan bangun pagi dan tidur malam tanpa ucapan-ucapan manis darimu. Aku tak ingin tahu rasanya terlelap sebelum mendengar suaramu di ujung telepon. Aku tak ingin perpisahan, tapi Tuhan berkata lain—kita berpisah.

Kamu pergi tanpa berkata pamit. Kamu menghilang tanpa mengizinkan aku jujur mengenai perasaanku. Kita pernah saling berkata sayang, tapi semua akan terasa kosong jika tak benar-benar dikatakan tanpa bertatapan mata. Aku ingin tahu alasanmu pergi, karena sungguh alasanmu untuk pergi tak logis bagiku. Apa aku terlalu rendah untuk mengaharapkan pria setinggi kamu? Apa aku terlalu busuk untuk mendambakan sosok sempurna seperti kamu.

Aku memejamkan mata. Pipiku basah entah oleh apa. Jangan suruh aku mengaku bahwa ini adalah air mata, karena kamu tak akan mengerti rasa sakitku. Kepergianmu sudah cukup membuatku paham bahwa aku tak perlu lagi berharap terlalu tinggi.

Masih saja aku duduk di sini, di tempat favoritku, dan tak ada kamu di sampingku. Kita belum saling membahagikan, tapi mengapa kauinginkan perpisahan?

Sudah dua jam aku menunggu. Kamu tak datang. Apakah pertemuan pertama kita juga adalah pertemuan terakhir kita?

Namamu begitu indah kudengar di telingaku.

Aku mencintaimu, Cahaya Penunjukku.

selamat satu minggu seusai perkenalan kita

semoga kita segera saling merelakan dan mengikhlaskan
inikah sakitnya perpisahan?

Suka tulisan aku? Tidak akan ada yang mengalahkan romantisnya langsung memegang buku dan membalik setiap halamannya langsung dengan jemarimu. Miliki segera buku aku. Klik BUKU DWITASARI untuk memiliki buku aku langsung di jemarimu :)

10 May 2013

Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku?

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.

Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu.

Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Bukankah kata teman-temanmu, kamu adalah perenung yang seringkali menangis ketika memikirkan sesuatu yang begitu dalam? Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kausudah tahu bahwa aku mencintaimu?

Tuan, tak mungkin kautak tahu ada perasaan aneh di dadaku. Kekasihku yang belum sempat kumiliki, tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu. Sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna—kautak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagimu.

Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.

Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.

Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya; aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?

Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata malah memilih pergi bersama yang lain. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi cinta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?

Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah—memilihku sebagai tujuan. Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.

Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, ketika kulihat kamu bersama kekasih barumu. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari harus melihatmu dengannya? 

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.

Suka tulisan aku? Tidak akan ada yang mengalahkan romantisnya langsung memegang buku dan membalik setiap halamannya langsung dengan jemarimu. Miliki segera buku aku. Klik BUKU DWITASARI untuk memiliki buku aku langsung di jemarimu :)

08 May 2013

Jika dari Awal Aku Tak Mengenalmu

Akhirnya, aku sampai di tahap ini. Posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. Kukira langkahku sudah benar. Kupikir anggapanku adalah segalanya. Aku salah, menyerah adalah jawaban yang kupilih; meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu.

Aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah menjadi tugas barunya. Hari-hariku yang tiba-tiba kosong dan berbeda ternyata cukup membawa rasa tertekan. Mungkin, ini berlebihan. Tentu saja kaupikir ini sangat berlebihan karena kamu tak ada dalam posisiku, kamu tak merasakan sesaknya jadi aku.

Jika aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak saling kenal. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis? Aku pernah merasakan fase itu. Aku juga manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari. Aku berhak merasa bahagia karena membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku. Aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan ketika kamu memberi sedikit kecupan meskipun hanya berbentuk tulisan.

Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kautak memilihku adalah hal paling sulit yang bisa kumengerti. Aku masih belum mengerti. Mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi di mana perasaanmu? Tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan aku dilarang menuntut ini itu. Aku hanya temanmu. Hanya temanmu. Temanmu! 

Jika kauingin tahu, aku kesesakan dalam status yang menyedihkan itu. Aku terkatung-katung sendirian. Meminum asam dan garam, membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang kulakukan, mengapa matamu masih belum terbuka dan hatimu masih tertutup ragu?

Sejak dulu, harusnya tak perlu kuperhatikan kamu sedetail itu. Sejak pertama bertemu, harusnya tak perlu kucari kontakmu dan kuhubungi kamu dengan begitu lugu. Sejak tahu kehadiranmu, harusnya aku tak menggubris. Aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya meluruhkan air mata di pipi.

Iya. Aku bodoh. Puas?

Semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir. Ini bukan akhir yang kupilih. Seandainya aku bisa memilih cerita akhir, aku hanya ingin mendekapmu, sehingga kautahu; di sini aku selalu bergetar ketika mendoakanmu.