22 February 2016

Dwitasari Plagiat, Dwitasari Tukang Copy Paste, Bianca Dominique, dan Fitnahan lain yang tidak kamu pahami

Saya menulis surat terbuka ini dalam keadaan sadar dan ingin memberi keterangan yang sejujurnya mengenai masalah-masalah yang sedang ramai diperbincangkan di Twitter. Masalah saya dengan Pak Khrisna Pabichara sudah saya selesaikan dan saya klarifikasi dengan baik, sehingga yang bersangkutan telah mencerna penjelasan saya dengan baik pula. Untuk klarifikasi tersebut, bisa dilihat pada http://bit.ly/KlarifikasiDwitasari.

Sekarang, saya juga sekaligus ingin mengklarifikasi isu tindakan plagiat yang sebenarnya telah dilayangkan beberapa orang yang tidak saya kenali di Twitter pada saya sejak dua tahun yang lalu. Isu ini mungkin bisa dianggap telah basi, namun ada beberapa teman-teman yang masih ingin digubris luka hatinya dengan me-mention saya beberapa hari yang lalu. Semoga penjelasan dan klarifikasi saya di bawah ini mampu memuaskan setiap pertanyaan di benak para pengguna Twitter yang mengetahui saya sebagai Dwitasari yang suka ‘copy-paste’ karya orang lain atau yang mengenal Dwitasari sebagai gadis biasa yang senang menulis.

Pertama, menurut versi saya, yang sebenarnya terjadi adalah saya memang mempunyai kebiasaan yang aneh, saya akui hal itu aneh karena kebiasaan ini mungkin hanya dimiliki beberapa orang di dunia. Saya selalu menyimpan apa saja yang pernah saya tulis, serajin itulah saya mengumpulkan karya-karya saya sejak SD sampai karya saya hingga saat ini. Saya tidak peduli jika di mata orang lain, karya saya terlihat sampah. Saya menyimpan semua karya itu, mendokumentasikannya dengan baik. Hal itu juga yang saya lakukan pada tweet-tweet saya di Twitter. Saya menyimpan ribuan Tweet saya, menghapusnya, kemudian mem-posting tulisan itu kembali beberapa bulan kemudian. Mungkin, ini bisa dibilang menulis, menyimpan, memilah dan memilih mana yang terbaik, lalu mem-posting ulang yang terbaik bagi anggapan saya.

Jadi, menurut versi saya, yang sebenarnya terjadi adalah. Mari teman-teman simak baik-baik kronologi yang saya jelaskan. Kronologi ini akan saya lengkapi dengan ilutrasi nyata untuk memudahkan teman-teman memahami yang saya lakukan. Sila pahami penjelasan saya di bawah ini:

  1. Pada tanggal 8 Desember 2014, pukul 20.00, Dwitasari menulis tweet “Aku mencintaimu dengan sisa napasku, dengan kekuatan dan dayaku, dengan seluruh upayaku.”
  2. Pada tanggal 8 Desember 2014, pukul 21.00, seseorang yang sangat menyukai tweet Dwitasari (sebut saja X) menulis ulang kembali tweet tersebut dalam akun Twitter-nya. Persis dengan tweet yang sama “Aku mencintaimu dengan sisa napasku, dengan kekuatan dan dayaku, dengan seluruh upayaku.” tanpa memberitahu bahwa penulis asli adalah Dwitasari.
  3. Pada 9 Desember 2014, pukul 21.00, Dwitasari mendokumentasikan tweet-nya dan menghapus tweet tersebut, namun tweet dari akun Twitter X tidak dihapus karena X merasa tweet tersebut tak perlu dihapus.
  4. Pada 14 Februari 2015, pukul 17.00, Dwitasari kembali menulis ulang tweet “Aku mencintaimu dengan sisa napasku, dengan kekuatan dan dayaku, dengan seluruh upayaku.” karena merasa tweet tersebut layak untuk ditayangkan kembali di akun Twitter @DwitasariDwita
  5. Sosok X lupa bahwa tweet tersebut awalnya adalah tweet dari Dwitasari. X merasa Dwitasari telah memeriksa akun Twitter-nya dan mem-posting ulang tweet yang sama. Tak lupa, X turut melayangkan kata-kata kasar, memaki, menghujat, dan mengatakan bahwa semua karya Dwitasari adalah sampah berisi kutipan-kutipan plagiat yang diambil dari berbagai sumber dan buku. 
Melalui penjelasan di atas, saya tak perlu berpeluh terlalu banyak untuk membuat teman-teman memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tidak, saya tidak punya tugas untuk menghakimi siapa yang benar dan siapa yang salah, surat ini saya tulis untuk mengajak teman-teman yang selama ini masih berada dalam gua kegelapan agar perlahan-lahan berjalan bersama saya menuju cahaya terang matahari. 

Tujuan surat ini adalah untuk meluruskan semua yang sempat berbelok terlalu jauh, untuk membuka mata orang-orang yang sempat gelap mata, dan untuk memberi tantangan tersendiri bagi saya bahwa untuk ke depannya saya harus menjadi Dwitasari yang lebih dewasa lagi.

Kedua, sebenarnya saya juga agak heran dengan tuduhan plagiat yang disebutkan teman-teman. Apa yang membuat saya heran? Mari saya jelaskan keheranan saya, siapa tahu teman-teman juga ingin ikut tertawa.

Misalnya, dalam novel “Raksasa Dari Jogja” saya menulis witing tresno jalaran soko kulino. Cinta datang karena terbisa. Bisakah teman-teman menebak, kalimat manis yang menyentuh ini dimiliki oleh siapa? Bisakah teman-teman mencari tahu siapa pemilik hak cipta dan hak intelektual dari kata-kata ini? 

Kalimat yang tidak jelas siapa pemiliknya, atau bisa disebut anonim, saya letakan dalam buku saya. Anehnya, beberapa orang yang menuduh saya melakukan tindakan plagiat ini sangat cerdas untuk mengatakan bahwa saya plagiat, padahal kalau boleh saya bersuara, bagian mana yang diplagiatkan? Lalu, untuk menulis potongan kalimat di atas ini, saya harus lari menuju Direktorat Hak Kekayaan Intelektual atau ke mana?

Kalau boleh saya bertanya, mengapa penulis lain, yang juga menulis tulisan seperti ini, tidak dipermasalahkan? Sementara di luar sana mungkin ada banyak penulis lain yang melakukan tindakan yang sama, bahkan telah menjadikan tulisan ini sebagai lirik lagu atau bermetamorfosis menjadi karya lainnya. Kenapa hanya saya? Kenapa hanya Dwitasari, gadis biasa yang kerjaannya hanya bermimpi, berimajinasi, lalu menuliskan apa yang dia pikir bisa mendamaikan hatinya? 

Kenapa, sih, teman-teman tidak berkarya terus saja, tanpa mengusili karya orang lain? Bukankah jauh lebih indah jika dalam hidup kita terus menulis untuk pembaca kita tanpa perlu sibuk mencaci dan memaki penulis lain? Tidak malukah jika pembaca menilai kalian adalah sosok yang mencari drama di panggung orang lain-- karena tak mampu membuat drama yang lebih indah dalam kehidupan sendiri?

Saya juga turut melampirkan Surat Pencatatan Penciptaan dari Kemeterian Hukum dan Hak Asasi Manusia tentang perlindungan hak cipta. Keempat surat ini adalah hak cipta dari beberapa karya saya seperti Raksasa Dari Jogja, Jatuh Cinta Diam-diam, Kekasih Terbaik, dan Jodoh Akan Bertemu. Surat hak cipta ini diurus oleh saya dan pengacara saya, untuk mendapatkan surat ini tentu tidak mudah, ada banyak tahapan yang harus kami lewati. 

Tahapan tersebut juga melewati pengecekan apakah dalam buku ini terdapat tindakan melanggar hukum seperti tindakan plagiat dan copy-paste. Kalian boleh tidak percaya Dwitasari, tapi kalian boleh memilih; apakah kalian tetap ingin percaya orang yang tidak jelas juntrungannya berkata bahwa Dwitasari seorang plagiat atau lebih mempercayai lembaga yang jauh lebih berwenang yaitu Kemeterian Hukum dan Hak Asasi Manusia? Kalau saya adalah seorang plagiat, tentu saya tidak mungkin bisa mendapatkan surat ini. Surat tersebut bisa dilihat di bawah ini, untuk alamat asli saya sengaja saya blur atau hapus demi alasan keamanan.





Ketiga, untuk permasalahan Bianca Dominique. Masalah ini juga sudah selesai sejak saya lulus SMA. Sejak tiga tahun yang lalu, masalah yang anehnya dibesar-besarkan lagi, entah dengan tujuan dan maksud tertentu sekelompok orang yang mungkin ingin mencari ketenaran dengan cara yang salah. Memangnya tidak lelah?

Saya tidak perlu lagi menceritakan duduk perkaranya karena masalah ini sudah selesai dengan baik dan saya bukan ciri-ciri orang yang senang mengingat kesalahan orang lain. Karena bagi saya, orang yang selalu mengingat kesalahan orang lain di masa lalu adalah orang yang akan menyesal di masa depan karena tak pernah memaafkan masa lalu seseorang, termasuk masa lalunya sendiri. Persoalan Bianca Dominique, saya telah meminta maaf juga dengan orang yang bersangkutan. Orang yang bersangkutan saja tidak ramai dan bicara sana-sini, kok, orang yang tidak tahu apa-apa malah bertindak dan berbicara seakan orang paling suci nomor satu dan memahami segalanya?

Ayolah, saya ini cuma gadis biasa, di luar sana ada gadis yang lebih luar biasa yang punya prestasi jauh lebih tinggi, kalau pun masih ada yang ingin diusili dalam hidup saya, bisa usuli saja karya saya. Ditelaah dengan baik, dibaca dengan teliti, dikritik dengan memberi saran yang masuk akal. 

Dari seluruh klarifikasi saya, tujuan awal saya hanyalah untuk memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi. Saya tidak munafik jika saya ingin menyelamatkan pembaca saya agar mereka tidak terus percaya pada bualan dan tipuan orang-orang yang punya tujuan atau maksud tertentu. Saya sangat mencintai pembaca saya dan tidak akan membiarkan para sahabat pembaca saya tenggelam dalam anggapan dan spekulasi yang tidak berdasar apapun. Makanya, setelah ini, saya harap teman-teman harus selalu melihat dan membaca klarifikasi sebelum menuduh dan menilai seseorang.

Saya tidak membenci siapapun. Tuhan saya tidak mengajarkan saya untuk membenci dan saya bersyukur bisa tetap diam dan sabar ketika menghadapi masalah ini, bertahun-tahun, dan adakah gadis biasa yang punya ketegaran yang sama? Mengapa saya tidak membenci siapapun? Boleh saya sok agamis dengan menceritakan kisah yang pernah saya dapat di gereja?

Seorang guru datang dengan membawa dua puluh busur panah kecil dan papan panah besar. Guru itu memberi dua puluh panah untuk dua puluh muridnya. Sang guru memberi instruksi agar para murid memikirkan siapa sosok yang paling mereka benci. Pikirkan lukanya, pikirkan rasa sakitnya, pikirkan semua kesalahan, dan kerahkan semua rasa benci pada sosok itu. Lalu, sang guru mengajak para murid untuk melegakan perasaan mereka dengan menancapkan busur panah kecil itu ke papan panah. 

Dua puluh murid yang telah menancapkan panah merasa lega dan tertawa karena bisa menuangkan kekesalan mereka pada sosok yang mereka benci. Beberapa menit kemudian, sang guru melepas semua busur panah itu dari papannya, dan membuka apa yang ada di balik papan panah itu; foto Yesus yang telah bolong di sana-sini. Murid-murid hanya terdiam dan selanjutnya hanya ada isak tangis yang terdengar.

Kisah ini mungkin tidak menyentuh hati beberapa orang, tapi bagi saya; kisah ini sangat mendalam. Inilah jawaban yang sebenarnya ingin saya ungkapkan pada teman-teman dekat saya yang selalu bilang, “Kok, lo sabar banget, sih, digituin, Dwit?”, “Kok lo nggak marah dan benci?”, dan “Kok lo nggak ada sedih-sedihnya sama sekali?”

Jawaban yang sebenarnya ingin saya berikan adalah saya tidak ingin menyakiti Tuhan saya yang lebih dulu disakiti di kayu salib. Saya tidak ingin membenci siapapun karena Tuhan saya akan ikut terluka jika saya membenci siapapun. Dan, saya sangat bersyukur, saat menulis ini, saya tidak merasakan luka apapun. Saya menulis ini dalam keadaan damai, tidak dengan paksaan apapun, dengan semangat untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti saya. Saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan Tuhan untuk mengamalkan falsafah kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi seseorang yang menganiaya kamu.

Saya sangat bersyukur, di umur 21 ini, ternyata saya bisa melewati banyak hal yang sebenarnya belum tentu bisa dilewati oleh gadis seumuran saya. Saya bersyukur menjadi Dwitasari yang dikuatkan karena isu plagiat, Dwitasari yang didewasakan karena dituduh mencuri karya orang lain, dan Dwitasari yang diuji dengan begitu luar biasa oleh Tuhan sebelum menjadi Dwitasari yang siap menulis hingga tua nanti.

Tidak ada emas yang bisa dibentuk tanpa dipanaskan dengan suhu yang tinggi. Tuhan sedang dalam proses memanaskan karakter saya, memanaskan emosi saya, memanaskan perjalanan hidup saya; agar kelak saya bisa menjadi Dwitasari yang mudah “dibentuk”. Dwitasari yang tak hanya mampu membahagiakan orang tua serta keluarga tetapi juga membahagiakan pembacanya.

Setelah surat terbuka ini, saya tidak akan lagi menggubris siapapun yang ingin ikut dalam panggung drama kehidupan saya. Saya tak akan memberi ruang bagi siapapun yang ingin numpang menjadi aktor ataupun aktris dalam pementasan drama yang telah begitu sempurna Tuhan ciptakan untuk saya. Kalau pun masih ada orang yang berniat mencari ketenaran dengan cara yang salah, saya sarankan untuk patah hati saja, menulis saja, lalu kirim karya tersebut ke penerbit, siapa tahu bagus dan bisa dibukukan.

Saya percaya untuk selanjutnya saya akan hidup sebagai Dwitasari yang bahagia, Dwitasari yang menulis hanya untuk pembaca, dan Dwitasari yang ingin tumbuh bersama pembacanya. Saya berharap setelah klarifikasi ini, siapapun yang ingin memiliki karya saya adalah karena dia ingin tahu kisah di balik karya saya, bukan memiliki karya saya karena ingin membenci dan mencari kesalahan dalam karya tersebut.

Saya sangat senang jika teman-teman mau memberi resensi, komentar, dan kritik serta saran terhadap buku-buku yang saya tulis. Saya juga tidak berkeberatan jika teman-teman ingin menulis skripsi, tesis, atau disertasi mengenai karya saya. Saya akan membantu sebisa mungkin melalui wawancara atau bahkan membantu melalui survey online di beberapa sosial media miliki saya. Kritik dan saran bisa dikirim via surel di Dwitasari@live.com. Untuk wawancara dalam membantu skripsi, tesis, atau disertasi kamu, saya bisa ditemui di sekitaran Universitas Indonesia karena saya juga sedang menyelesaikan skripsi saya.

Saya Dwitasari, hanya perempuan biasa, saya mohon doa teman-teman agar doa teman-teman turut mengiringi saya menuju kedewasaan yang sesungguhnya. Terima kasih.

Oh, iya, karya-karya selanjutnya di tahun 2016 setelah buku #MemelukMasaLalu adalah Spy In Love (film dan buku akan tayang dan terbit juga di Malaysia), Jodoh Akan Bertemu The Movie, Jatuh Cinta Diam-diam Movie, Skenario film Pretty Asmara, Skenario Film Kartu Pos Dari Surga, dan #MenjemputMasaLalu (lanjutan dari buku #MemelukMasaLalu). Makin kesel, ya? Dwitasari, kok, makin dikata-katain makin banyak karyanya? KAN ZBL PLUS KZL. :P

05 February 2016

Dua ratus dua puluh tujuh hari setelah perpisahan kita

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Seratus Sembilan Puluh Satu Hari Tanpamu

Kita telah masuk bulan Februari. Bulan yang aku harap penuh cinta dan kehangatan. Kamu ingat apa yang terjadi di tahun 2014? Saat hari Valentine yang kita bayangkan tidak seunik yang kita harapkan. Sepeda motor Honda CBR-ku terpaksa masuk bengkel karena usia sepeda motormuku yang semakin menua. Ditambah lagi aku kesal setengah mati karena kamu tidak meminta izin padaku terlebih dahulu saat kamu pergi ke Bandung. Kamu tahu? Di kepalaku sudah bermunculan banyak hal, kamu selingkuh, kamu bertemu pria lain, kamu bersama yang lain, dan kamu tentu melupakanmu dalam segala aktivitasku. Aku tahu dulu aku begitu egois, tapi hanya itulah yang bisa pria bodoh ini lakukan agar kamu tidak pergi menghilang dan jauh. Genggaman tanganku yang terlalu erat itulah yang menyebabkanmu jera dalam pelukanku. Aku tidak sadar bahwa terlalu mencintaimu mengubah aku jadi pria paling pemarah ketika tahu semua ponselmu terdapat nama-nama lain yang tidak aku kenali.

Aku kesal sebenarnya jika harus mengingat semua lagi. Karena aku berusaha untuk melupakanmu, melupakan kita, melupakan bagaimana caramu menatapku, dan berharap bahwa semua kenangan kita bisa segera tergantikan dengan kenangan baru yang aku ciptakan bersama kekasih baruku. Itulah harapan yang hingga saat ini belum benar-benar menjadi kenyataan. Aku mengaku kalah karena tak ada kenangan yang membanggakan seperti kenangan kita dahulu. Gadis yang kini sedang menjalani hubungan denganku tidak bisa menumbahkan perasaan di dadaku bermekar tidak karuan seperti dulu aku bersamamu. Saat ini, hanya kehampaan yang bersarang di dadaku. Aku menyesal membiarkanmu pergi dan begitu gengsi untuk memintamu kembali.

Oh, ya, aku keburu menggerutu soal rindu hingga aku lupa menanyakan kabarmu. Apa kabarmu, Gadis penulis yang blog-nya selalu aku perhatikan setiap waktu? Aku berharap kamu terus menulis tentangku hingga tulisanmu cukup menjadi energi penyemangat yang membuat aku bertahan, hingga semua kata-kata darimu cukup membuat aku kembali merasa hidup, hingga semua kalimat lugu darimu membuat aku sedikit punya harapan dan melupakan gadis di sampingku yang sampai hari ini tidak mampu memberiku kebahagiaan. 

Mungkin, saat kamu membaca ini, hanya ada umpatan kesal yang terjulur dari bibirmu, atau hanya amarah sesaat yang bermunculan dalam benakku. Tapi, masih bolehkah aku berkata jujur bahwa hari-hari yang aku lewati tanpamu adalah hari-hari penuh tanda tanya, tanda tanya yang memiliki jawaban tidak berujung. Aku selalu berharap menemukan jawaban itu bersamamu, meskipun kamu tidak akan berbalik ke arahku walau sedikit saja. Karena kamu keburu tahu bahwa aku sempat berselingkuh dengan yang lain, akibat dari kebodohanku-- merasa tidak cukup layak untuk berdampingan dengan berlian sepertimu. Aku mengaku kalah. Aku mengaku masih begitu jatuh cinta padamu seperti pertama kali kita bertemu. Seperti pertama kali kulihat wajahmu dalam sebuah percakapan maya kala itu.

Malam ini, ditemani sebungkus rokok dan sebuah asbak, aku menulis hal-hal aneh yang bahkan tidak pernah berhasil aku pahami. Sudah ratusan hari aku lewati tanpamu, tapi setiap harinya bayanganmu justru semakin ada serta hidup. Kekasih baruku bahkan tidak mampu melawan itu semua, kamu begitu sulit untuk ditaklukan pesonanya oleh perempuan lain. Tidak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu. Sementara di sini, aku hanya bisa duduk diam, menatapmu dari kejauhan, mengitarimu dengan pelukan bayangan, dan berharap suatu hari nanti Tuhan kembali menciptakan sebuah pertemuan-- dan kita punya peluang untuk saling memaafkan.

Aku senang, meskipun aku sedikit gede rasa karena mengira kamu masih begitu jatuh cinta padaku. Tapi, makin hari, kamu makin jarang menulis tentangku. Apalagi, kamu begitu cepat menyelesaikan semua bukumu hingga buku kesepuluh tanpa kendala patah hati apapun. Kamu sekarang sudah semester delapan dan sedang mengurus skripsimu. Kamu tetap sukses besar tanpa memikirkan luka yang dulu pernah ada di masa lalu kita. Sedangkan aku masih diam di sini, dengan sebatang rokok yang kian memendek, bersama udara malam Depok yang kian dingin, diiringi suara kodok yang terus berbunyi. Aku masih menunggumu kembali, diam di tempat, tidak berjalan ke mana-mana, walaupun aku tahu semakin hari kamu justru semakin menjauhiku bukan mendekatiku.

Aku tidak tahu rasanya menangis itu seperti apa. Karena ayahku di Bengkulu selalu bilang bahwa menjadi pria berarti menjadi tidak punya hati. Aku tidak tahu kenapa aku dipaksa untuk tidak memiliki hati, karena aku terlanjur memberi seluruh hatiku padamu, meskipun pada akhirnya aku menyesal telah melepaskan kamu pergi. Aku tidak tahu kenapa seharian ini aku mengabaikan panggilan telepon dari kekasihku. Aku tidak tahu mengapa seharian ini aku tidak bersemangat melakukan apapun. Aku tidak tahu mengapa malam ini aku masih mendengarkan lagu Taylor Swift, berharap aku punya pintu ke mana saja milik Doraemon, dan bisa mengembalikanmu ke dalam pelukanku.

Aku tidak tahu mengapa pelupuk mataku begitu penuh, mengapa malam ini pipiku menghangat, tenggorokanku sesenggukan, hingga aku terpaksa harus menggigit filter rokokku agar aku masih cukup kuat untuk mengisap batang-batang rokok berikutnya. Aku tidak tahu mengapa keyboard laptopku basah. Kemudian telapak tanganku menutupi mulutku, agar tangis sialan ini mereda.

Masa, iya, sih, merindukanmu harus sesakit ini?

Dari pria Bengkulu,
yang masih mengharapkanmu.