25 May 2017

Empat Hari Setelah Segalanya Berakhir



Kemarin, adalah hari ketiga setelah segalanya berakhir. Semalam, entah mengapa, aku benci dengan kekosongan dan kehampaan yang aku rasakan. Mataku sembab entah oleh apa. Pipiku menghangat, ada butiran air yang tiba-tiba jatuh menderas dari mata, yang pada akhirnya aku sadari; aku menangisimu.

Tidak ada lagi yang tersisa darimu. Selain kenangan kita, foto-foto kita, sisa-sisa pelukmu yang masih tertinggal di sini, juga chat yang tidak pernah aku hapus. Saat merindukanmu, aku hanya mampu membaca pesan singkatmu, menyadari betapa dulu kita pernah semanis ini, sebelum pada akhirnya kamu memutuskan pergi.

Sungguh, aku sangat ingin memelukmu saat-saat ini. Bercerita seperti dulu lagi, mendengar suaramu seperti kemarin-kemarin, menggenggam jemarimu seerat beberapa minggu yang lalu. Tidak bisakah hal-hal itu terulang lagi? Tidak bisakah aku memelukmu sedekat kemarin? Segalanya memang tidak bisa dan tidak mungkin. Karena status kita tidak lagi seperti kemarin. Kita kini kembali jadi dua orang asing yang saling memunggungi, kamu sudah ingin tahu apa-apa lagi.

Kamu tidak tahu, betapa berat menjalani hari setelah kamu memutuskan pergi. Betapa berat untuk tidak mengingat saat-saat terbaik yang pernah aku lewati bersamamu. Betapa sulit menerima kenyataan bahwa kita sudah tidak lagi terikat status apapun. Betapa rumit menghadapi fakta bahwa kita tidak sejalan. Betapa sedih mengetahui bahwa kamu tidak membutuhkan aku di sisimu lagi. Kamu tidak akan pernah tahu semua, karena selalu saja begitu, selalu rasa peduliku yang besar padamu, sementara rasa pedulimu tidak pernah sebesar itu.

Aku baru mengerti, betapa sepi hari-hari  yang aku jalani-- jika itu tanpamu. Karena aku terbiasa membaca chat-mu, mendengar suaramu, dan kita berbincang sampai larut. Ketika segala rutinitas itu menghilang, aku baru benar-benar menyadari, kamu sudah merenggut separuh diri, separuh yang kaucuri, hingga saat kamu pergi; aku merasa bukan diriku lagi. 

Sayangnya, kamu tidak akan pernah mengerti, siapa yang paling terluka dan paling menjadi korban di sini. Sayangnya, dari sikapmu sejauh ini, dari sikapmu yang tidak ingin tahu lagi, dari tindakanmu yang tidak menghubungiku lagi, cukup membuatku sadar diri; aku tidak sepenting itu lagi.

Orang bilang, putus cinta itu rasanya seperti sulit bernapas, sulit memejamkan mata, sulit melakukan segala, awalnya aku tidak percaya. Hingga empat hari yang lalu, kamu berkata, "Mending kita putus saja."

Kamu tahu? Saat itu, aku jadi sulit bernapas.

Baca lanjutannya di Enam Hari Setelah Segalanya Berakhir

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :")

No comments:

Post a Comment