22 May 2017

Setelah Kita Putus



Pagi ini, aku terus menatap ponselku. Sambil bertanya-tanya dalam hati, mengapa tidak ada chat-mu pagi ini? Mengapa tidak ada suaramu yang menyapaku pagi ini? Mengapa tidak ada laporan paling awal mengenai kegiatanmu hari ini? Aku menunggu lama sekali, mencerna segala pertanyaan hingga pukul dua belas siang, hingga aku baru saja mengingat memori terakhir malam kemarin. Kamu memang tidak akan pernah menghubungiku lagi, karena semalam-- kita sudah putus.

Jam makan siang sebentar lagi, aku memeriksa kulkas dan melirik bahan makanan yang sudah aku beli beberapa hari yang lalu. Menatap potongan egg roll yang sebentar lagi akan aku goreng. Memandangi jamur kancing dan brokoli yang sudah kubeli di supermarket kemarin. Terpaku melihat potongan ayam yang sudah menghitam, karena semalam aku sudah merendam potongan ayam tersebut bersama bumbu teriyaki yang sudah aku buat. Aku memandangi semua bahan makanan yang seharusnya aku masak hari ini, siang ini, untuk aku antarkan ke tempat kerjamu. Tapi, kita sudah putus, dan tidak mungkin aku antarkan makan siang dengan mata sembab seperti ini. Memalukan.

Sebuah chat masuk di ponselku, pesan dari seorang pria bermata sipit, yang sama sepertiku; memiliki lesung pipit. Dia mengajakku untuk bertemu dan aku sudah yakin betul, sepertinya pertemuan kami akan diisi segala macam curahan hatiku yang hubungannya telah berakhir denganmu. Kuperiksa kulkas lagi, mengambil seluruh bahan makanan yang harusnya aku masak untukmu. Bahan makanan yang pada akhirnya tidak kumasak untukmu, tetapi untuk orang lain.

Saat memotong brokoli, saat mencuci brokoli dan memberi garam untuk mengusir pestisida di brokoli, saat memotong jamur kancing, saat menumis ayam teriyaki, saat menggoreng egg roll, saat itu juga aku masih terus berpikir; benarkah hubungan kita benar-benar berakhir? Aku masih berpikir, terus berpikir, hingga masakanku selesai dan siap untuk dimasukan ke dalam kotak makan.

Aku menatap ponselku lagi, sudah jam dua siang. Biasanya, sungguh biasanya, kamu mengabariku apa saja. Mengenai makanan yang tersedia di ruang makan dosen, atau bercerita tentang sarapanmu pagi ini, atau bercerita tentang kegiatanmu hari ini, atau betapa kamu sangat mencintaiku, atau betapa kamu sangat merindukanku, atau betapa kamu sangat menunggu hari sabtu. Sabtu, hari paling spesial karena di hari itulah kita paling sering bertemu.

Tapi, hingga pukul tiga siang. Memang tidak ada chat darimu. Dan, sekali lagi, aku baru menyadari, tidak perlu aku mengharap terlalu tinggi, kita memang sudah tidak bersama lagi. Tidak bersama lagi.

Aku memutuskan untuk bertemu pria bermata sipit, yang kadang menemuiku di hari libur kerjanya. Dia memakan masakan yang aku bawa untuknya dengan lahap. Berdecak kagum pada ayam teriyaki yang aku masak. Aku memandangi dia ketika begitu asik memakan masakanku, kemudian diam-diam berharap, seandainya di depanku, saat itu, aku sedang memandangimu. Seandainya, saat itu, kamulah yang memakan masakanku, bukan orang lain.

Sayangnya, kamu tidak di sini. Sayangnya, aku tidak bisa memandangimu lagi. Sayangnya, bukan kamu yang memuji masakankan kali ini. 

Dan, malam ini, aku masih memandangi ponselku. Masih terus bertanya-tanya dalam hati, benarkah hubungan kita telah berakhir? Rasanya baru kemarin aku mencium aroma tubuhmu yang hangat. Rasanya baru kemarin kita tertawa di depan kamera. Rasanya baru kemarin kita berpeluk tanpa beban apapun.

Lalu, mengapa kaurenggut kebahagiaanku secepat ini?

Baca lanjutannya di Dua Hari Setelah Segalanya Berakhir

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :")

6 comments:

  1. Karena rencana Tuhan begitu indah, membuat cerita menarik dan beranekaragam rasa kehidupan untuk setiap umatnya dalam masalah perasaan :) ingatlah ketika sakit, akan selalu ada "obatnya" . Waktu akan selalu menyembuhkan dengan sangat amat kemisteriusan caranya,entah bagaimana . Pasti . Akan . "Sembuh" :)

    ReplyDelete