01 October 2011

Ibu, Kapan Pulang?

"Kesepian itu datangnya dari hati dan perasaan, bukan dari suasana yang sebenarnya"



            Aku berjalan acuh tak acuh melewati koridor kelas. Langkahku terus maju, tak peduli adanya segerombolan anak-anak berstatus "gaul" sedang duduk santai di lantai. Mereka adalah sekelompok anak-anak (sok) populer yang meng-eksklusif-kan diri, seakan-akan merekalah yang paling terkenal dan paling penting di sekolah ini. Terdengar bisik-bisik nakal yang sampai hingga gendang telingaku,"Si autis tuh!" Bisik si anak dari ekstrakulikuler basket, lalu pendengarnya, si anak dance ikut menggumam,"Stress kali, biasa deh nasib anak broken home." Aku tak mempedulikan bisikkan itu, toh aku tak mengenal mereka, mereka juga tak benar-benar mengenalku. Yang tahu baik buruknya aku adalah diriku, bukan mereka yang asal menilaiku.
            Aku berjalan sambil memeluk erat buku-buku yang sejak tadi menempel dan menghangatkan dadaku. Langkahku terhenti di sebuah ruang dengan pintu coklat dengan genggaman pintu yang berwarna pucat pasi. Aku membuka pintu itu lalu memasukinya dengan langkah santai.
            "Bianca, lho kok enggak masuk kelas?" Sapa seorang wanita yang duduk di belakang meja tamu perpustakaan.
            Aku sibuk menulis di buku tamu perpustakaan. Seusai itu, aku menjawab pertanyaan beliau,"Iya, Bu. Saya enggak masuk kelas. Suntuk! Pelajaran Fisika."
            "Kalau dicari gurunya gimana?" Ucap Ibu penjaga perpustakaan sembari sibuk dengan laptop mungilnya.
            "Ya enggak apa-apa, setidaknya saya menghindari pelajaran tersebut bukan karena alasan ingin melarikan diri ke kantin, saya di perpustakaan dan saya ingin membaca." Jelasku panjang lebar.
            "Itu buku yang kemarin ya? Mau kamu balikin atau mau lanjut dibaca?"
            "Mau dibalikin, Bu. Saya sudah selesai membacanya. Bukunya bagus, teori filsafatnya cerdas, dogma dan ajarannya yang rumit dijelaskan secara sederhana."
            "Buku kayak gini cuma selesai sehari? Gimana bacanya?"
            "Ya dibaca terus-menerus, Bu."
            "Terus kamu enggak ngerjain PR ya?"
            "Enggak, Bu. Saya hanya ingin mengerjakan PR untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, Sejarah, dan seni. Pelajaran lainnya tidak saya kerjakan."
            "Kamu IPA kan?"
            "Yup, 12 IPA 5."
            "Udah kelas 12 kok enggak semangat?"
            "Sejak awal memang tidak, saya dipaksa masuk jurusan IPA oleh ayah saya. Kadang, sesuatu yang bersifat paksaan mampu menyenangkan hati seseorang, salah satunya orangtua.”
            Aku lalu menghilang diantara rak-rak buku, menyelami ratusan buku yang menggoda pandanganku, selang beberapa menit aku mendapatkan buku yang kelihatannya menarik, aku menarik buku itu setelah berdesak-desakan dengan buku-buku lain yang menjepitnya,"Sesak nafas ya dijerat terus-terusan oleh buku-buku lain? Sama seperti aku yang sesak dijerat orang-orang lain." Ucapku dalam hati sambil berjalan menuju meja baca.
            Inilah yang kusuka, sendirian di tempat yang sepi, bersama meja dan buku. Aku selalu pusing dikeramaian. Aliran darahku selalu tak mengalir dengan biasanya kala aku berada di keramaian. Setelah ibu meninggalkan rumah, aku lebih suka menyendiri, menghabiskan waktu dengan diriku sendiri, dan menghibur kesedihanku dengan usahaku sendiri. Beberapa hal juga mampu membuatku tersenyum dalam hati, seperti saat cerpenku dimuat di media cetak dan media online. Aku menumpahkan kekecewaanku pada tulisan, aku menumpahkan kesedihanku pada tulisan. Saat menulis, aku menemukan bagian diriku yang hilang.
            "Sendirian?" Ujar Ibu penjaga perpustakaaan, mengagetkanku.
            "Iya, Bu. Memangnya kapan saya tidak sendirian? Saya selalu sendirian, setiap saat, setiap waktu. Cuma buku-buku ini yang mengajak saya bicara dengan bahasanya yang berbeda tapi berusaha saya pahami."
            Ibu penjaga perpustakaan menatapku gamang, sinar matanya meredup perlahan, mungkin dalam hatinya ia berucap,"Aku tidak tahu derita apa yang dihadapi anak ini. Tapi, dia berusaha tetap bertahan meskipun lukanya semakin dalam."
***
            Supirku membawakan tasku, beliau bercakap macam-macam denganku tapi aku tak mempedulikannya, ucapannya berlalu dengan desahan angin, tatapanku menatap ke depan, kosong. Langkahku masih saja lurus, langkah bisu menderu melawan debu.
            "Setelah ditinggal ibunya, kerjaannya cuma bengong doang. Kasihan ya? Punya segalanya tapi gila sama imajinasinya." Tungkas seorang perempuan yang berdandan berlebihan untuk ukuran anak sekolahan. Aku bisa menebak kalau dia anak cheerleaders yang merasa (sok) populer dan selalu ingin meng-eksklusif-kan dirinya dari anak-anak kurang populer di sekolah.
            Aku mengehentikan langkahku, menatap tajam perempuan busuk itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, aku turut menatap empat temannya yang selalu mengekor kemanapun perempuan busuk itu pergi. Aku mendekati perempuan busuk itu,"Perek! Mau sekolah atau mau jual diri?" Bentakku dengan penuh amarah. Perempuan busuk itu berusaha menampar wajahku, tapi supirku menarik tangannya lalu memutar-mutar tubuhnya hingga perempuan busuk itu kelimpungan pusing. Aku memberi isyarat pada supirku agar segera menuju tempat ia memarkir mobil.
            "Non, lain kali kalau ada yang ngejek-ngejek kayak gitu diemin aja." Kata supirku dengan suara khasnya. Suara berat yang disebabkan oleh keseringan menghisap nikotin.
            "Untuk menyadarkan seseorang, kita juga butuh tindakan, bukan cuma perkataan." Pembelaanku singkat menutup pembicaraan tak direncanakan itu.
***
            Senja berganti menjadi awan-awan hitam yang berarak menuju malam. Suara azan magrib nyaring dan berbisik-bisik resah ditelingaku. Jalan komplek perumahan yang ramai oleh sepeda motor, kerincingan lonceng sepeda, dan derap langkah anak kecil yang berlari-larian sejak tadi mulai tak terdengar. Hanya ada kesunyian kala itu, hanya ada semilir angin yang berhempus ganas menusuk tulangku, hanya ada suara nyamuk-nyamuk yang berusaha memangsa hemoglobin dalam darahku.
            Suasana seperti ini terus berulang setiap saatnya, setiap jamnya, setiap harinya. Seperti dejavu yang terus-menerus menyiksaku. Aku duduk di teras rumah dari sore, senja, hingga menjelang malam. Aku menunggu ibu pulang. Aku berharap wajah beliau yang lelah mampu mengembalikan senyumku yang hilang. Sumarni namanya, beliau bekerja di salah satu Lembaga Sosial Masyarakat yang mengurusi persoalan anak jalanan dan anak-anak bayi yang ditelantarakan karena kelahirannya yang tak diharapkan. Ibuku mulia sekali, hanya seorang idiotlah yang berusaha menyakiti dan mematahkan hatinya, ayahku.
            Malam mulai menghampiri awan di atas rumahku, angin yang berhembus ganas semakin menggangguku, aku menatap pagar depan, kekecewaan yang selalu datang berulang, ibu tidak pulang.
***
            Aku benci kalau setiap pagi harus berpamitan dengan pria brengsek itu, ayahku. Pria yang memberiku fasilitas, harta benda, dan segalanya, tapi dua hal yang tak pernah dia berikan padaku, perhatian dan kasih sayang. Kuketuk pintu kamar ayahku, seorang wanita yang tak kukenal menjawab ketukan pintu itu,"Papamu masih tidur." Ucapnya dengan nada pelan.
            "Anda siapa?" Tanyaku penasaran.
            "Kania. Kekasihnya" Jawaban singkat disertai dengan bantingan halus pintu itu. Aku mematung, memberi isyarat supirku untuk beranjak dan segera mengantarku ke sekolah.
Wanita lain lagi ternyata, aku ingat setiap aku mengetuk pintu kamar ayah, selalu ada wajah dan nama wanita-wanita baru yang tak kukenal. Seminggu yang lalu bernama Nanda, lima hari yang lalu Abigael, tiga hari yang lalu Hana, dua hari yang lalu.... Ah! Aku hanya membebani otakku dengan hal-hal yang seharusnya tak kuingat.
***
            Hari ini semua pelajaran penyiksa seperti Biologi, Matematika, Kimia, dan Fisika bersekongkol untuk membunuhku perlahan-lahan. Aku sengaja tak masuk sekolah, toh tidak ada seorang pun yang peduli, paling hanya guru-guru yang rajin memeras dana dari ayahku saja yang membicarakanku.
            Aku meminta pada supirku untuk mengantarkanku ke LSM manapun, tapi jangan ke LSM yang pernah kukunjungi, aku ingin ke LSM yang baru, bertemu dengan wajah-wajah baru. Aku rindu mengunjungi anak jalanan dan bayi-bayi mungil yang ditinggal ibunya. Supirku kewalahan menuruti permintaanku, hampir setiap LSM sekitaran rumahku dan sekolahku telah ku kunjungi. Atas dasar kewalahan itu, maka supirku membanting stirnya ke arah yang cukup jauh dari rumahku.
            "Kemana ya, Non?" Ucap supirku sambil memasang pandangan kedepan.
            "Ke tempat yang ada anak jalanannya, ada anak bayinya juga." Jawabku seadanya.
            "Di tempat pembuangan akhir sampah aja gimana, Non? Coba liat aja, agak bau emang tapi pasti Non suka."
            "Yaudah kesana aja." Ucapku pasrah mengikuti saran supirku.
***
            Disana kulihat tumpukan sampah menggunung dimana-mana, banyak pemulung membungkuk-bungkuk mencari sampah yang bisa didaur ulang. Aku berjalan menuju LSM sekitar tempat sampah yang menggunung itu, sambil menggenggam plastik berisi beberapa coklat dan mainan kecil.
            Sesampainya disana, kulihat ada banyak anak kecil yang mendatangiku, respon mereka sangat baik walaupun mereka tak mengenalku. Beramai-ramai mereka mengerumuniku, salah satu diantaranya bertanya,"Darimana, Kak? Pemerintah atau swadaya?" Ucap anak menggemaskan yang segera mencium tanganku.
            Aku mulai sibuk tertawa dan tersenyum dengan mereka, aku mulai melempar pandangan mataku kebanyak arah. Saat kulihat seorang wanita di ujung sana, aku fokuskan mataku menatap wanita tersebut. Kulitnya putih, pipinya tirus, rambutnya diikat simple, penampilannya sederhana, aku menghampiri wanita itu. Dia sedang menggendong seorang anak bayi, bayi yang ditelantarkan orangtuanya sendiri. Wanita itu menatapku dengan senyum penuh kelegaan. Orang yang kutunggu ternyata pulang kesini, orang yang kurindukan ternyata melabuhkan hatinya disini, dan orang yang kucari-cari ternyata bersembunyi disini. Aku mendekati wanita itu.
            "Ibu, kapan pulang?" Ucapku lugu, menahan gerimis yang jatuh dari pelupuk mataku.

24 September 2011

Agama dan Cinta..

+       Jadi, bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu?
-            Si Khatolik? Semua baik.
+       Iya, Si Khatolik fanatik!
-            Dia tidak fanatik, dia religius.
+       Lalu, kau mencintainya? Kau ‘kan Protestan, santai dan rentan.
-            Saya mencintai dia. Sebaik dan seburuk apapun tingkah laku dan keadaannya.
+       Uh, mengharukan sekali! Coba berpikir kritis sedikit! Khatolik dan Protestan itu kembar tapi berbeda bukan?
-            Memang yang terlihat sama selalu tak benar-benar sama. Aku mencintainya, begitu saja, mengalir.
+       Kau serius dengannya?
-            Berusaha serius, walaupun dia begitu cuek, begitu sibuk, dan begitu menyebalkan. Pengabaiannya begitu menjengkelkan!
+       Kalau kalian ingin dipersatukan di altar suci, kau harus ikut agamanya?
-            Dia yang harus ikut agamaku.
+       Egois!
-            Aku berpegang teguh pada dogma agamaku, apa itu salah?
+       Entahlah.
-            Kau sendiri bagaimana? Dengan Si Arab itu?
+       Aku mencintainya, seperti kau mencintai Si Khatolik itu.
-            Cinta memang tak memandang agama, tapi kadang cinta gagal menyatukan agama walau mereka saling jatuh cinta.
+       Serumit itukah?
-            Memangnya kapan cinta pernah sederhana?
+       Terang tidak dapat bersatu dengan gelap, seperti air dan api, mereka tak dapat saling menggantikan dan melengkapi.
-            Padahal kau hanya jatuh cinta, memangnya agama salah apa?
+       Setahuku, dalam cinta tak ada yang salah, hanya soal waktu dan keadaan.
-            Kalau kau tak bisa mencintai Tuhan-nya maka kau tak bisa mencintai dia.
+       Tidak ada istilah Tuhan-ku dan Tuhan-nya. Tuhan ya Tuhan. Dia esa. Dia satu.
-            Tuhan memang satu, hanya manusia ciptaanNya saja yang berbeda.
+       Selama ini, kupikir dia yang terbaik.
-            Kau hanya berpikir, belum mengetahui bagaimana realitasnya.
+       Kau serius dengannya?
-            Sejauh ini, iya.
+       Untuk dipersatukan dalam ikatan suci dihadap Tuhan?
-            Entahlah.
+       Sebenarnya, apa yang salah dari mencintai seseorang yang tempat ibadahnya berbeda dengan kita?
-            Entahlah. Aku belum pernah berpikir sejauh itu.

Jangan Mengolok-olok Pacar Saya!

"Berusaha MENERIMA, berusaha MELENGKAPI. Itulah CINTA."
     
                Aku membiarkan tubuhku basah oleh hujan senja. Berlari-lari kecil sambil tertawa riang menuju rumahku. Dengan langkah santai aku memasuki rumah, kembali kubiarkan kepalaku menoleh ke belakang, pemandangan sederhana yang keindahnnya relatif dimata banyak orang. "Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendengar nyanyian rindu yang dimainkan begitu saja oleh hujan." Ucapku lirih dalam hati.
                Di ambang pintu kulihat si Mbok dengan wajahnya yang terlihat cemas. Rambutku yang basah kukibaskan dengan tanganku yang mulai berkerut kedinginan. Sambil berputar-putar layaknya bocah yang kegirangan saat bermain hujan, aku pun juga menengadahkan tangan, merasakan butir-butir lembut hujan menyentuh telapak tanganku dengan manjanya. Si Mbok berlari ke arahku sambil meneduhkanku dengan payung yang dibawanya, beliau menarik paksa tanganku agar segera memasuki rumah.
                Dengan gerak-geriknya yang tergesa-gesa, beliau membawakanku handuk, "Pulang sama siapa to, Cah Ayu?" Tanyanya sambil mengeringkan rambutku dengan handuk.
                "Sama mas Gian." Jawabku seadanya.
                "Naik motor lagi to?"
                "Iya, Mbok."
                "Halah-halah, Mas Rudi enggak jemput kamu yo, Nduk?"
                "Jemput tadi di kampus, tapi kusuruh pulang aja, kasihan istrinya lagi sakit."
                "Haduh, Nduk. Nanti Mbok dimarahin papa kalau kamu masih pulang naik motor sama mas Gian ituloh."
                "Haaaaa ora usah bilang-bilang papa lah, Mbok. Gitu aja kok repot to yo?"
                "Ya sudah, ya sudah. Kamu mandi terus minum teh hangat sama sup ya, mbok yang buatin."
                "Iya, Mbok. Makasih ya." Jawabku perlahan dibalut kedinginan
                Sambil memegangi handuk, aku masih sibuk mengeringkan rambutku. Kuperhatikan sekeliling rumah, konsep minimalis dengan cat berwarna putih lembut. Di depan tempatku duduk, ada TV plasma yang ramping beserta pemutar DVD yang sering kugunakan untuk menonton DVD, sendirian. Lalu, berdampingan dengan pemutar DVD, ada portable karaoke, biasa kugunakan untuk mengisi waktu senggang, menyanyi hingga bosan, sendirian. Aku mengangkat kepalaku sedikit, ada foto keluarga yang tertempel di dinding. Foto aku, mama, dan papa dengan senyum bahagia, dengan senyum yang terlihat sempurna. Dengan pikiran yang memecah ke berbagai masalah, aku menghela nafas, “Apa semua foto keluarga menyelipkan kebohongan diantara senyum bisu yang mereka perlihatkan? Kenyataannya, keluargaku tidak sebahagia foto keluarga yang menempel manis di dinding itu." Ucapku lirih dalam hati, meninggalkan ruang TV.
***
                “Maaf, aku enggak bisa nganterin kamu pakai mobil mewah seperti mobil yang biasa dikendarai supirmu itu.” Ujar Mas Gian dari ujung telephone, dengan nada penyesalan.
                “Enggak apa-apa, Mas. Lagian istrinya Mas Rudi lagi sakit, masa sih dia malah kerja? Kusuruh pulang aja, enggak usah kerja dulu hari ini.” Ucapku dengan nada menghibur, Mas Gian diam sejenak.
                “Kamu enggak malu naik motor sama aku?” Tanya Mas Gian.
                “Kenapa harus malu, Mas?” Tanyaku balik.
                “Malu dilihat temen-temenmu itu loh. Terus di jalan juga kena polusi, panas, kalau kehujanan ya kehujanan sekalian. Kamu suka ketidaknyamanan seperti itu?”
                “Aku enggak pernah malu karena memiliki kamu, maka aku juga enggak akan pernah malu untuk menghabiskan waktu bersama kamu. Sekalipun hujan-hujanan naik motor, sekalipun harus kena asap kendaraan motor, yang penting sama kamu, asal sama kamu.” Ceplosku mendiamkan Mas Gian beberapa detik.
                “Maaf untuk segala ketidaknormalan yang aku berikan sama kamu. Maaf untuk setiap keabnormalan yang terjadi selama ini. Aku sulit menjadi pria biasa pada umumnya.”
                “Makanya itu aku mencintaimu, karena kauberbeda. Menjadi luar biasa itu baik, Mas. Yang tidak menarik adalah menjadi biasa-biasa saja dan menjadi normal-normal saja.”
                “Aku menyesal. Kenapa toh aku tidak bisa mengimbangi kamu?”
                “Pacaran itu soal saling melengkapi, Mas. Bukan soal harus sama tinggi, sama rendah, atau sama seimbang dengan kekasihnya.”
                “Kamu tahu? Walaupun aku tidak pernah terlihat seimbang denganmu, walaupun di luar sana mereka menganggap kita seperti Beauty and The Beast, dan walaupun semua berjalan dengan abnormal, tetapi mengapa aku masih bertahan untuk mencintaimu?”
                “Kenapa, Mas?”
                “Karena kamu tetap terlihat luar biasa dengan jiwamu yang sederhana. Kalau istilah quote-quote di Twitter sih ya seperti ini: yang tajir itu banyak, tapi yang tajir tapi tetap bersikap sederhana ya jarang. Salah satu orang seperti itu ya kamu.”
                “Aku seperti itu karena memang aku tidak berhak untuk menyombongkan diri, Mas. Hasil keringat orangtua berupa materi sama sekali tidak pantas disombongkan oleh anaknya,” Ucapku mengalun merdu dengan nafasnya yang terdengar di telephone. “Aku suka setiap kamu mengisi kekosonganku ketika orangtuaku sibuk mengisi kekosongan mereka sendiri. Aku punya kamu, makanya aku enggak kesepian. Aku mau kita terus seperti ini, Mas.” Jelasku lirih.
                “Aku juga, Cah Ayu.” Responnya membuatku tersenyum sambil memeluk bantal. Aku mencintai dia. Dia yang secara status sosial, fisik, dan strata sosial berbeda jauh denganku.
***
                Aku berjalan dengan santai memasuki Fakultas Psikologi, melihat pohon-pohon rindang yang mulai meranggas pada musim kemarau, menikmati semilir angin yang nakal menggelitik kulitku. Tiba-tiba di ujung koridor, aku melihat kerumunan orang, aku mendekati kerumunan tersebut.             
                “Dira itu istimewa dan wanita sepertimu tidak pantas mengganggu hidupnya!” Cetus Mas Gian. Aku masih bingung dengan apa yang kulihat dan kudengar saat itu.
                Beberapa detik kemudian, Amora menyibukkan matanya untuk celingak-celinguk kanan kiri, entah siapa dan apa yang dia cari, sesaat setelah itu Amora menarik paksa tanganku. “Oh, cewek ini toh yang elo sebut istimewa? Kalau dia istimewa enggak mungkin papa mamanya ninggalin dia setiap hari cuma buat ngurus bisnis mereka. Kalau dia istimewa, dia enggak mungkin jadian sama cowo idiot kayak elo. Yang tingginya 196 sentimeter, elo orang atau tiang listrik? Yang matanya minus 10, dan yang cuma punya motor butut kayak elo! Dira tolol yang sok lugu ini cuma manfaatin lo, elo enggak tahu kan di luar sana pacarnya segudang? Gue yang istimewa, Gi. Gue yang pantes dapetin lo. Cuma gue yang sayang tulus sama lo, Gian. Tanpa melihat kekurangan lo! Cuma gue, Gi!” Bentak Amora tanpa merasa malu dilihat oleh banyak orang kala itu.
                Emosiku terbakar dalam hitungan detik, nafasku tak teratur, dan detak jantungku mulai beradu dengan otakku yang mulai panas. “Eh, Jalang! Kalau elo sayang sama Gian, elo enggak bakal ngata-ngatain dia idiot! Elo juga enggak bakal ngata-ngatain kendaraan yang dia punya! Elo enggak bakal menjelek-jelekan keabnormalan yang dia punya. Gue tahu dia berbeda dari pria-pria lainnya, tapi gue berusaha menerima, gue berusaha melengkapi dia. Itu yang namanya cinta. Tanpa elo pun, hidup gue udah berantakan! Orangtua gue yang enggak pernah perhatian sama gue, kekosongan gue ketika gue kangen sama mereka, dan kehidupan keluarga gue yang terlihat harmonis di luar tapi bobrok di dalam, puas lo, Jalang?! Tapi, setelah ada Gian, gue bisa kok mengisi kekosongan gue dengan kehadiran dia. Dan, kalau lo mau ngerebut dia dari gue, silet-silet dulu nih urat nadi gue! Dia mutlak punya gue! Jangan mengolok-olok pacar saya! Dia milik saya! Dia pilihan saya!” Panjang lebar mulutku hampir berbusa. Kuhempaskan tangan Amora, menarik tangan Mas Gian menuju kelas. Meninggalkan Amora yang mematung di ujung koridor.
                “Mas, kita seperti pemenang dalam perang.” Aku berusaha meredakan amarahku, menatap dalam-dalam bola mata Mas Gian. Dia tersenyum. Dia mengerlingkan matanya. Indah sekali.
***
                Rasanya, ingin sekali tertawa mengingat peristiwa 3 tahun lalu itu. Membela seseorang yang kaucintai memang adalah ciri-ciri orang  yang pemberani.               
                Sambil memegangi keyboard laptop, aku masih saja sibuk mengingat-ingat kejadian yang harus kutulis. Kuperhatikan sekeliling rumah, konsep minimalis dengan cat berwarna putih lembut. Di depan tempatku duduk, ada TV plasma yang ramping beserta pemutar DVD yang sering kugunakan untuk menonton DVD, bersama dengan orang-orang yang kucintai. Lalu, berdampingan dengan pemutar DVD, ada portable karaoke, biasa kugunakan untuk mengisi waktu senggang, menyanyi hingga bosan, bersama dengan orang-orang yang kucintai. Aku mengangkat kepalaku sedikit, ada foto keluarga yang tertempel di dinding. Foto aku, Mas Gian, mama, papa, dan anakku: Gani. Dengan senyum bahagia, dengan senyum yang terlihat sempurna. Dengan pikiran yang memecah ke berbagai masalah, aku menghela nafas, “Inilah foto keluarga yang benar-benar keluarga. Senyum yang benar-benar nyata, kebahagiaan yang benar-benar ada.” Ucapku lirih dalam hati.
                Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti bahagia berarti perasaan suka cita yang biasanya diiringi dengan senyuman. Tapi, bagiku bahagia adalah aku, Mas Gian, dan anakku Gani. Se-simple itu dan sesederhana itu.

19 September 2011

Kala itu. Dia Pemeran Utamanya


            Pada sepotong siang saat matahari mengerang berang, aku duduk diam menunggumu. Di bawah pohon beringin yang daunnya mulai berguguran karena musim kemarau, kau membuatku tegang membisu. Ditemani es kelapa yang setia menyejukkan tenggorokanku, kau masih saja menempuh perjalananmu. TransJogja berlari-lari kecil, berlalu-lalang melewati aku yang mematung disitu. Iseng, kembali kuintip jam tangan berwarna biru tua yang terlilit manis ditangan kiriku, pukul 14:30 dan kau belum juga menampakan batang hidungmu.
            Stadion Mandala Krida kala itu menjelma menjadi "kompor" tanpa gas, sejauh mataku memandang terlihat bayangan fatamorgana yang meliak-liuk menggoda mataku. Bayangkan! Yogyakarta kala itu panas sekali! Berkali-kali kuusap keringat yang menyerah diam setelah disekresikan kulitku yang terbius panas. Untuk kedua kalinya, aku menatap jam tanganku, pukul 14:31, lama sekali! Memang saat kita menunggu, satu menit pun terasa begitu lama.
            Beberapa menit kemudian, saat aku sedang sibuk berpangku tangan, sebuah sepeda motor Xirion yang masih kinclong menghampiri tempat dudukku. Sang pengendara sepeda motor membuka helmnya.
            "Hey!" Sapanya riang diikuti senyumnya yang cukup manis.
            "Eh, Mas..." Jawabku sambil terbangun dari tempatku mematung.
            Pria itu turun dari sepeda motornya, menghampiri aku yang tersenyum malu, "Aku Senja, Dek." Sambil mengulurkan tangan, dia mengerlingkan matanya, menatapku.
            "Aku Karin, Mas." Aku membalas uluran tangannya, lalu beberapa detik kami saling bertatapan, saling menyorot mata dalam-dalam. Aku tersadar dari momentum yang hampir membuat kami berdua terlamun, setelah bersalaman cukup lama, aku melepas tangannya.
            "Ini, Mas. Es kelapanya aku pesenin dua. Diminum ya!" Ucapku seadanya, perasaan grogi memelukku dengan sangat kuat. Sekali lagi, aku mematung.
            "Iya, Dek. Makasih ya. Kamu udah lama po nunggu aku tadi? Maaf yo." Nada penyesalan terdengar melalui ucapannya, dia tertunduk.
            "Oh, rapopo, Mas. Tidak ada pertemuan yang harus diselimuti dengan penyesalan. Haha teko tenang to." Aku menghiburnya melalui perkataanku, lalu dia tersenyum kecil dan menatapku.
            Senja mulai melepas jaket yang ia kenakan sejak mengendarai sepeda motor. Tangan kanannya disembunyikan dalam kantong yang berada dijaketnya. Entah apa yang dia lakukan. Aku sibuk menatap jalan raya di depan stadion Mandala Krida sambil menyeruput es kelapa yang sisa setengah gelas. "Buatmu!" Ucapannya mengagetkanku. Satu tangkai bunga mawar putih kala itu memenuhi seluruh pandangan mataku, bunga yang digenggam oleh seseorang yang bahkan baru pertama kali kutemui.
            "Loh? Beneran?" Tanyaku tersipu malu, aku benar-benar tak berani menatap wajahnya sedikitpun, pipiku memerah. Sial! Perasaan idiot semacam apalagi ini?
            "Beneran lah, Dek! Maaf yo gara-gara beli ini aku malah telat e janjiannya." Jawabnya sambil mengenggam mawar putih itu. Dia sangat berani menatap wajahku.
            "Iya, Mas enggak apa-apa kok. Makasih banyak ya." Ucapku terbata-bata sambil mengenggam mawar putih itu. Kadang, setangkai bunga pemberian dari seorang pria mampu membuat seorang wanita tersipu malu.
***
            Kami mulai memperbincangkan banyak hal. Dari soal hobi, keluarga, sekolahku, kuliahnya, tugas maketnya, tugas gambarnya, dan banyak hal menarik lainnya. Kala itu, Yogyakarta tak lagi terasa panas, semilir angin setia memainkan rambutku dan rambutnya. Suara daun yang bergesekan dengan jalan membuat semua mengalir apa adanya. Dia tersenyum, aku mengerlingkan mata. Dia menatapku, aku menyelami sinar lembut dimatanya.
            Jam tanganku menunjukan pukul 16:00, entah mengapa waktu berjalan begitu cepat.          Apa kali ini jarum jam membohongiku dengan berlari-lari kecil agar aku segera mengucapkan kata "Aku harus pulang." pada Mas Senja? Tuhan, aku masih ingin menikmati suara tawanya.
            "Mas, sudah sore. Aku harus pulang."
            "Kok cepet banget dek?"
            "Sudah 1 jam lebih 30 menit, Mas."
            "Kamu pulang sendirian?"
            "Saudaraku menjemputku kok."
            "Lha, sekarang saudaramu dimana, Dek?"
            "Yang parkir disana, Xtrail hitam, itu saudaraku."
            "Jadi, sejak tadi dia...."
            "Memerhatikan kita."
            "Hahahaha, lucu banget e kamu, Dek. Yasudah, aku antar kamu sampai mobil ya?"
            "Enggak usah, Mas. Udah sore, ibumu pasti sendirian di rumah. Pulanglah." Aku membujuknya agar segara pulang, ia manggut nurut. Lalu kami saling bersalaman, aku meninggalkannya, tapi beberapa detik kemudian dia memanggilku dengan lantang, "Dek!"
            Aku berbalik lalu menatapnya, "Iya, Mas?" Tanyaku singkat lalu Senja menghampiriku.
            "Kamu pulang ke Jakarta tanggal berapa?"
            "Sabtu, 3 September. Kenapa, Mas?"
            "Punya waktu jalan? Ke pantai mungkin? Makan burger? Atau sekedar keliling-keliling Yogya saja?"
            "Oh, ada kok, Mas. Bareng sama saudaraku ya, kan enak tuh."
            "Cukup kita berdua saja, Dek."
            "Naik motor, Mas?"
            "Iya, mosok naik gerobak angkringan to yo, Dek"
            "Hah? Kan panas, Mas!"
            "Lha kamu gimana mau rasain udara Yogya kalau cuma duduk kaku di mobil? Sekali-kali naik motor to yo!"
            "Enggak. Aku enggak mau kalau kita cuma jalan berdua. Itu asing buatku, aku enggak pernah jalan berdua sama lawan jenis. Mungkin, kamu bakal tertawa mendengar ini, tapi serius, aku enggak terlalu tertarik jalan cuma berdua." Penjelasanku panjang lebar sepertinya mulai menyudutkannya, "Datanglah ke rumah simbahku, Prawirotaman. Disana ada banyak keluargaku, kita enggak cuma berdua. Yang penting kan apa yang kita perbincangkan, Mas bukan dimana kita menciptakan perbincangan itu."
            "Baiklah! Text me! Hati-hati di jalan ya!" Ungkapan setuju keluar dari bibirnya, aku meninggalkanya, lalu melambaikan tangan.
***
            "Rumah simbahku di dekat pabrik batik Winotosastro, kalau kamu tidak tahu tempatnya, kamu cukup berhenti di depan pasar Prawirotaman, nanti aku menjemputmu disana, menunjukkan arah menuju rumah simbahku." Penjelasanku kala itu mengisi inbox handphonenya.
                "Oke, Dek. Sampai ketemu ya, aku enggak sabar dikenalkan dengan simbahmu, apalagi keluargamu!"
                "Jangan kepedean, aku belum tentu mengenalkanmu pada keluargaku. Slow down lah!"
                "Haha teko santai to, Dek. Cuma becanda to yo!"
                "Oke, selamat malam, segera tidur ya, jangan tidur terlalu larut!"
                "Kamu juga, Dek. Smoches!" Percakapan kecil yang tercipta melalui pesan singkat itu berakhir. Hanya tinggal menunggu tanggal "mainnya" saja.
***
                Mama mengajakku kesana kemari, membeli oleh-oleh, wisata kuliner, dan berpindah dari satu sudut ke sudut lainnya. Yogyakarta yang kala itu ramai dengan plat B benar-benar membuat isi kepalaku berontak. Macet dimana-mana menambah peningnya kepalaku. Aku masih saja sibuk melirik ke arah jam tangan dan jam digital di dekat ac mobil, mencocokkan jam mana yang paling benar dan paling tempat. Padahal, janjiku pada Mas Senja pukul 8 malam sedangkan waktu telah menunjukan pukul 8 lewat 12 menit. Aku hanya bisa menunggu, menunggu sesuatu yang belum pernah terjadi, menunggu sesuatu yang sulit untuk kuprediksi, mengenalkan seorang pria pada keluargaku.
***
                Aku berlari-lari kecil menuju pasar Prawirotaman. Kembali kulihat lagi jam tanganku, pukul 20:35. Kupercepat laju lariku, sesampainya disana sosok kemeja kotak-kotak mencuri pandanganku. Aku menghampiri Mas Senja.
                "Udah lama ya, Mas disini?" Dengan nafas terengah-engah, aku menyapanya terlebih dahulu.
                "Baru 10 menit kok, Dek. Rumah simbahmu dimana e, Dek?"
                "Di sana. Udah kamu ikut aku aja, aku jalan kaki, kamu naik motor."
                "Kamu enggak capek emang?"
                "Enggak, wong deket kok rumah simbahku."
                "Naik motorku aja dek, kubonceng."
                Aku menatap wajahnya yang kala itu disinari lampu redup jalan raya. Suara khasnya beradu merdu dengan lalu-lintas pinggiran kota. Rambutnya yang panjang se-pinggang disembunyikannya dibalik kemeja kotak-kotak itu. Beberapa detik kemudian aku menaiki sepeda motornya. Ini kali pertama aku dibonceng oleh seorang pria. Nafasku memburu satu-persatu, melaju dengan kecepatan maximum. Idiot! Dia pria pertama yang membuat jantungku ingin keluar dari posisi seharusnya, hanya karena aku menduduki jok sepeda motornya, walaupun hanya beberapa detik.
                "Dari sini nyebrang, lurus terus, pas ketemu pabrik batik Winotosastro langsung belok kanan. Beberapa meter dari situ sudah sampai rumah simbahku." Jelasku sayup-sayup ditimpa suara mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang disekitar pasar Prawirotaman.
***
                "Dek.. Nganu aku ini loh emhh gini jadi aku...." Ucap Mas Senja terbata-bata.
                "Kenapa, Mas?" Tanyaku singkat sambil memandangnya.
                "Aku grogi, aku cuma bawa martabak cokelat e. Piye iki?" Jawabnya dengan wajah yang memerah, rasanya aku ingin tertawa melihat tingkah lugunya kala itu.
                "Masuklah..." Aku menuntunnya memasuki rumah simbah. Mas Senja menguatkan langkahnya, menegakkan badannya, dan berjalan dengan sangat mantap. Di ruang TV ada keluargaku yang sejak tadi sibuk membicarakanku, dari raut wajah mereka yang menjijikan itu, aku bisa menebak bahwa dalam hati mereka berkata,"Dwita sudah besar, sudah berani memperkenalkan teman lawan jenisnya."
                Uh! Rasanya aku ingin sekali meninju wajah mereka yang menyebalkan itu, mendepak rasa keingintahuan mereka yang terlalu dalam. Padahal, Mas Senja ini kan temanku, ya dia memang lawan jenis tapi dia temanku.
                Di ruang tamu, kami kembali membicarakan banyak hal. Kuliah arsiteknya, universitasnya, gambar konstruksinya, pembuatan maket dan tugasnya, serta banyak hal-hal lain yang kembali membuat kami tak sadar akan desahan jam dinding malam itu.
                Kala itu, dia benar-benar menjadi pemeran utama. Menjadi seseorang yang membuat pandanganku tak mau lepas dari gerak-geriknya. Saat kami sedang bercanda, Mas Senja mengeluarkan rambut panjangnya yang sejak tadi dia sembunyikan dalam kemejanya. Rambut panjang sepinggang yang menjadi kebanggannya sejak SMA. Rambut yang menyebabkan ia mendapat julukan "Michael Jackson". Rambut yang menjadi kebanggaannya, sejak ia bersekolah di sekolah yang beralamat di Laksda Adi Sucipto 161 itu. Rambut yang selalu ia tunjukkan saat mengikuti misa rutin. Dia benar-benar membuatku mengerti arti detak jantung tak beraturan saat duduk berhadapan dengan seseorang yang begitu menyenangkan.
                Waktu berjalan dengan begitu cepat, rasanya baru beberapa menit aku duduk dan memandangnya, tapi kala itu waktu telah menunjukkan pukul 21:30. Dia pamit pulang pada keluargaku, aku mengantarnya hingga gang depan.
***
                "Jadi, kamu pulang besok, Dek?" Sambil menuntun sepeda motornya, ia memandangku dan mengajakku bicara.
                "Iya, Mas. Pagi, sekitar jam 9 pagi." Jawabku singkat.
                "Kapan kembali ke Yogya?"
                "Aku enggak tahu, Mas. Yang jelas aku sangat ingin kembali kesini lagi."
                Langkahnya terhenti, aku yang berjalan juga ikut menghentikan langkahku
                "Oh, iya! Aku mau kasih kamu sesuatu," Dia membuka resleting tasnya, aku menatapnya penasaran. "Nih! Gara-gara ini nih aku telat beberapa menit. Belinya di tempat yang kemarin, ternyata kalau malam toko bunganya masih buka."
                "Mas, makasih ya bunganya. Bagus." Dengan wajah tersipu malu, aku mencium bunga yang baru saja Mas Senja Berikan. Bunga kedua dan kedua kalinya aku tersipu malu karena benda sederhana ini.
                "Aku pasti akan sangat merindukanmu, Dek." Tungkas Mas Senja sambil melanjutkan langkahnya lagi.
                "Aku juga, Mas. Aku mulai tahu menyiksanya rindu sejak kamu mengagetkanku di Stadion Mandala Krida itu." Jawabku seadanya, aku yang sejak tadi menahan rasa gengsi akhirnya menyerah juga. Aku berkata rindu, isyarat perasaanku mulai tumbuh menjadi sesuatu yang tak kutahu.
                "Mau berjanji untuk segera kembali? Mau berjanji untuk tetap menghubungiku walau kita jauh?"
                "Secepat yang aku bisa, aku pasti kembali, Mas. Dan, saat aku kembali ke daerah istimewa ini, aku tak lagi sebagai siswi tapi sebagai mahasiswi. Doakan ya!"
                "Aku selalu membawa namamu dalam doa, Dek. Bahkan sebelum kita bertemu."
                Dadaku terasa begitu sesak, rasanya aku benar-benar tak ingin meninggalkan Yogyakarta secepat itu. Aku masih ingin tinggal, untuk beberapa bulan, untuk beberapa tahun, dan kalau bisa selamanya. Aku masih ingin menginjakkan kakiku di Yogya. Aku masih ingin melihat dan memerhatikan Mas Senja dengan senyum dan tawa khasnya.
***
                Sesampainya di ujung gang, dia mulai menyalakan sepeda motornya. Sekali lagi dia menatapku, mataku yang mulai memerah, suaraku yang mulai serak. Dia membelai rambutku pelan, "Kenapa, Dek?"
                Aku berusaha sekuat mungkin menatapnya, aku berusaha sekuat mungkin menahan air mataku, "Enggak apa-apa, Mas."
                "Wanita itu kalau bilang enggak apa-apa pasti sebenarnya ada apa-apa."
                "Aku...." Ucapku pelan, tatapan kami melekat erat.
                "Yasudah. Janji sama aku, enggak pakai air mata."
                "Iya, Mas."
                "Cepat kembali. Yogya itu bukan tempat kamu untuk singgah, tapi Yogya adalah tempat kamu untuk pulang."
                "Aku enggak akan singgah di Yogya, Mas. Aku akan pulang ke Yogya."
                "Sekarang aku yang harus pulang. Yang jelas kamu tahu kan perasaanku, Dek? Seorang pria yang memberi bunga pada seorang wanita dengan tatapan yang berbeda, bernama cinta."
                Aku melengkungkan senyum, ia membalas senyumku dengan tatapan yang sama. Aku melepaskan kalung salib yang melilit lembut di leherku dan memindahkan kalung salib itu di lehernya, melilit sempurna di lehernya.
                "Kamu tahu kan perasaanku, Mas? Seorang wanita yang memberikan kalung salib pada seorang pria dengan tatapan hangat, bernama cinta."
                Matanya menjatuhkan butir-butir halus dan hangat, pipinya basah oleh gerimis yang pelan-pelan jatuh dari pelupuk matanya. Aku meremas pundaknya,"Tanpa air mata, Mas."
                "Iya, Dek. Jalan dulu ya."
                "Iya, Mas. Hati-hati ya."
                Dia melaju dengan kecepatan standar. Aku memandang punggungnya dari kejauhan hingga punggungnya menghilang dari pandangan mata. Sambil memandang bunga pemberiannya, pipiku terasa hangat, basah tanpa desah, oleh air mata.