05 October 2011

Gelang Bali

"Kenangan mampu mengalahkan perasaan seseorang."



                 Aku berlari-lari kecil ke arahnya, dengan wajah berseri-seri aku berusaha meraih posisi dimana ia berdiri. Saat dia tersenyum ke arahku, aku segera meraih tangannya dengan lembut. Sekali lagi, dia hanya memperdengarkan gelak tawanya yang menggemaskan.
                "Ada apa? Kamu kok narik-narik tanganku sih?" Ucapnya lugu sambil memainkan rambut sebahunya.
                "Kemarin pas liburan aku ke Bali, aku beliin kamu ini." Jawabku seadanya, kuletakkan benda itu di atas telapak tangannya.
                "Wah, gelang ya? Makasih ya, Dicto." Sambil melengkungkan senyumnya yang manis, dia menyibukkan dirinya dengan memasangkan gelang itu pada pergelangan tangannya.
                "Susah ya masangnya?" Tanyaku sambil memperhatikan ketidak-mampuannya untuk memasangkan gelang itu.
                "Iya, To. Gimana masangnya ya?"
                "Sini aku yang pasangin. Cuma aku yang bisa memasangkan gelang ini dipergelangan tanganmu." Ucapku tersipu malu sambil memasangkan gelang itu. Dia tersenyum ke arahku, aku menunduk dengan perasaan berkecamuk.
                Taman kanak-kanak kala itu sudah terlihat sepi. Aku menunggu ibuku yang selalu terlambat menjemputku, dia menunggu ayahnya yang punya rasa ketidak-peduliaan tinggi. Kembali aku menatap senyumnya, merasakan sejuk tatapannya, lalu melirik iseng ke gelang sederhana itu. Sejak saat itu, gelang pemberianku selalu nyaman terpasang di pergelangan tangannya. Entah sampai kapan, ia akan memasangnya.
***
                Aku terbangun dari mimpiku, sialan! Mimpi itu lagi! Teman masa kecil lagi! Sesuatu yang tak bisa kulupakan sampai saat ini! Kulihat jam dinding yang berdetak angkuh, pukul 02:22 dinihari. Di sampingku, istriku masih sibuk dengan alur mimpinya, aku berusaha untuk kembali memejamkan mata, memeluk dan mendekap istriku dengan begitu dekat, tapi selalu tak pernah aku merasa hangat.
***
                Pernikahan kami sudah berjalan 6 tahun, dikaruniai 2 anak sehat dengan kepribadian yang memikat. 6 tahun? Kalian pasti berpikir bahwa pernikahanku terlihat begitu bahagia, ya memang, aku bahagia, hanya terlihat bahagia, bukan benar-benar bahagia.
                Aku tidak benar-benar mencintai istriku, dia kunikahi karena ibuku mau aku menikahi dia. Itu permintaan terakhir almarhumah ibuku sebelum dia mendiami pusaranya. Apakah membahagiakan orangtua berarti mengikuti pilihannya? Meskipun anaknya tersiksa dengan pilihan itu?
                Pertemuan pertama kami tak dihiasi dengan senyum tersipu malu, dengan tatapan lugu, dan dengan percakapan merayu. Pertemuan pertama kami diisi dengan penentuan tanggal pernikahan! Tanpa basa-basi, tanpa memikirkan perasaan kami masing-masing.
                Setahun pernikahan kami, aku masih sangat bisa mentolerir semua keegoisannya, aku mengira bahwa setahun adalah masa perkenalan dan adaptasi. Dua hingga enam tahun, semua masih tetap sama. Aku selalu berusaha mencintai istriku, dengan segala kekurangannya, tapi kenyataan yang tidak kusuka adalah ternyata cinta tak bisa datang karena paksaan.
                Intinya, yang kujalani selama 6 tahun bukanlah karena aku mencintai, tapi karena kewajibanku untuk berusaha mencintai seseorang yang sulit untuk kucintai. Cinta tidak selalu datang karena terbiasa, cinta itu soal perasaan, bukan teori.
***
                Sebenarnya aku sudah tidak ingin menghabiskan waktuku dengan wanita yang sulit untuk kucintai, tapi bagaimanapun juga, ia adalah ibu dari anak-anakku. Ditambah lagi kota ini, kota Bali. Kota yang terlalu menyesakkan bagiku, entah bagi keluargaku. Aku sangat ingin pulang ke Jakarta. Dimana kenangan-kenanganku menempel lembut disana.
***
                Semenjak aku menikah dan semenjak hidupku terlihat bahagia, aku tak lagi bertemu dengan teman masa kecilku itu. Bisa juga dibilang, cinta pertamaku, Theodora Immaculata.
                Mungkin sekarang dia telah hidup bahagia dengan suami dan anak-anaknya. Menetap dalam suatu kota yang menyimpan kebahagiannya. Aku merindukan kotaku, aku memutuskan untuk pulang. Aku kangen ibu, aku ingin mengunjungi beliau dan mencium lembut nisannya.
***
                Inilah kota tempatku seharusnya pulang, aku tidak akan menyebut kota ini sebagai kota persinggahan, karena kota ini sesungguhnya adalah Rumahku. Rumah adalah tempat seseorang untuk pulang, bukan untuk sekedar singgah.
                Di rumah orangtuaku, aku menemukan kebahagiaan yang tidak kutemukan di Bali. Bali memang indah, tapi tak selalu yang terlihat indah akan membawa kebahagiaan. Kutatap haru kamarku dulu, penuh dengan coretan dinding semasa aku ada di taman kanak-kanak sampai masa kuliah. Mataku terpaku pada tulisan yang berantakan dan hampir pudar, ada nama Theodora Immaculata yang terususun dalam huruf-huruf bisunya. Aku hanya mengembangkan senyum. Aku ingin ke tempat yang menyimpan banyak kenangan itu, taman kanak-kanak.
***
                Aku melenggangkan mobilku hingga ke depan bangunan tua yang masih terlihat sama seperti dulu, seperti 30 tahun lalu. Di samping taman kanak-kanak itu, masih berdiri bangunan untuk Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Melihat bangunan-bangunan tua itu, aku hanya menggigit bibir. Bahkan, benda mati pun mampu mengingatkan seseorang pada masa lalunya.
                Kakiku melangkah seiring kemauanku. Memasuki taman kanak-kanak yang memaksaku untuk mengunjunginya sesaat saja. Ternyata masih sama, beberapa permainan berwarna-warni masih mematung di halaman yang besar itu. Hanya warna catnya saja yang diganti.
                Angin yang baru saja memainkan rambutku dan menggelitik kulitku mengingatkanku pada ayunan yang biasa kutunggangi bersama dengan dia, wanita itu, yang kuceritakan sejak tadi itu.
Saat langkahku masih berjalan, pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang duduk diayunan itu. Aku duduk di ayunan samping, sambil iseng menghampiri wanita tersebut.
                Aku menatapnya, memperhatikan wajahnya dan sesuatu yang dikenakannya, gelang dari Bali itu, gelang yang pernah kupasang dipergelangan tangan seorang wanita.
                "Ima?" Sapaku dengan nada bertanya.
                Dia memalingkan wajahnya ke arahku, wanita itu mulai mengembangkan senyumnya,"Dicto!" Ujarnya dengan nada tinggi.
                Buru-buru dia bangkit dari dudukan ayunan itu, berdiri di depanku, lalu membungkuk, memelukku. Nafasku memburu kala itu, aku mendengar helaan nafasnya dan suara kecil isak tangisnya. Lalu, dia melepaskan pelukan itu, kembali duduk dalam ayunan. Tangannya sibuk menghapus air matanya. Hingga tiba pada momen gelangnya terlepas.
                "Tanganmu ternyata kecil sekali ya?"
                "Aku kurus ya?"
                "Sedang saja, tanganmu kecil sekali, aku kaget."
                "Ah! Iya, mungkin." Jawabnya pendek sambil sibuk memasangkan gelang itu pada pergelangan tangannya. Kulihat ada cincin yang terpasang pada jari manisnya. Aku menghela nafas, "Sudah punya orang lain ternyata." Ucapku lirih dalam hati.
                Aku tersenyum menatap peristiwa itu, segera saja kugenggam tangannya. "Kalau ini terlepas, cuma aku yang bisa memasangkan kembali gelang ini dipergelangan tanganmu." Ucapku sambil memasang gelang itu pada pergelangan tangannya. Ah, sama seperti 30 tahun yang lalu. Dia hanya tertawa, tawa yang menghilangkan mata sembabnya. Selalu saja, kenangan mampu mengalahkan perasaan seseorang.

04 October 2011

Sepotong Sore dan Hujan

"Bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu?"



Hujan selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, hujan bisa juga menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba dia mengguyur saja sesukanya, seenak hatinya. Seringkali hujan disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangannya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Hujan buatku adalah penenang dalam kerinduan, pembawa air mata, dan pengingat rasa kehilangan. Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru jauh tersimpan begitu dalam, kenangan.

***
Seorang pria, sederhana saja. Senyumnya menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya mengganggu laju kerja otak, dan gerak-geriknya memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindahannya.

Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan dia, mengalir, begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.

Dia mengajariku banyak hal. Cara menari dalam hujan, cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan.

Seringkali aku menatapnya dalam-dalam, menyelami sejuk matanya, tercebur dalam hatinya, lalu terpeleset dalam aliran darahnya. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungnya, aku ingin ikut berhembus saat helaan nafasnya. Tapi, apa semua ingin dan harapku akan menyentuh kenyataan? Inilah yang disebut mimpi, selalu terlalu tinggi.

Tahu-tahu, sosoknya menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, sejam, seharian, hanya dia saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau dia tak punya kerjaan lain selain mengganggu pikiran dan imajinasiku.

Ah, kala itu, cinta tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, berangsur-angsur tingkatannya berbeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata, luar biasa. Perasaan itu tak lagi sekadar teman biasa, tapi dia berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.
***

Aha! Hujan ternyata masih jadi peran antagonis, dia kembali mengingatkanku padamu! Kamu yang dua tahun ini meninggalkanku tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa isyarat dan pengungkapan.

Ah... berdosakah aku kalau masih saja memikirkanku? Dua tahun lalu, hanya kau saja yang mengajariku menghargai rintik hujan, menghargai deras rindunya, menghargai butir-butir kenangan halusnya.

Hujan kali ini, di sepotong sore yang dingin, benar-benar mengingatkanku pada rasa kehilangan, tentu saja rasa yang begitu dalam. Hilang? Saat aku berniat untuk mencari, pasti aku akan menemukan. Tapi, bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu? Di mana aku bisa menemukan seseorang yang mau berjanji untuk tidak meninggalkanku?

Sayang. Ah! Sayang? Panggilan yang tak pernah terucap sekalipun dari bibirmu. Hujan kali ini memang deras sekali, aku tak membayangkan kamu yang terbaring lemah disana, apa kau kedinginan? Oh ya, sudah sebulan aku tidak mengunjungimu ya? Apa kamu merindukanku sedalam aku merindukanmu? Tidak usah dijawab! Aku tidak ingin mendengar jawaban dingin itu! Begini saja, besok aku akan mengunjungimu, membersihkan rumput-rumput liar yang mencoba menjamah nisanmu. Jangan menolak! Aku punya alasan sederhana untuk menjelaskan pemaksaanku. Aku hanya rindu. Itu saja. Sederhana. Rindu memang selalu sederhana kan?

01 October 2011

Ibu, Kapan Pulang?

"Kesepian itu datangnya dari hati dan perasaan, bukan dari suasana yang sebenarnya"



            Aku berjalan acuh tak acuh melewati koridor kelas. Langkahku terus maju, tak peduli adanya segerombolan anak-anak berstatus "gaul" sedang duduk santai di lantai. Mereka adalah sekelompok anak-anak (sok) populer yang meng-eksklusif-kan diri, seakan-akan merekalah yang paling terkenal dan paling penting di sekolah ini. Terdengar bisik-bisik nakal yang sampai hingga gendang telingaku,"Si autis tuh!" Bisik si anak dari ekstrakulikuler basket, lalu pendengarnya, si anak dance ikut menggumam,"Stress kali, biasa deh nasib anak broken home." Aku tak mempedulikan bisikkan itu, toh aku tak mengenal mereka, mereka juga tak benar-benar mengenalku. Yang tahu baik buruknya aku adalah diriku, bukan mereka yang asal menilaiku.
            Aku berjalan sambil memeluk erat buku-buku yang sejak tadi menempel dan menghangatkan dadaku. Langkahku terhenti di sebuah ruang dengan pintu coklat dengan genggaman pintu yang berwarna pucat pasi. Aku membuka pintu itu lalu memasukinya dengan langkah santai.
            "Bianca, lho kok enggak masuk kelas?" Sapa seorang wanita yang duduk di belakang meja tamu perpustakaan.
            Aku sibuk menulis di buku tamu perpustakaan. Seusai itu, aku menjawab pertanyaan beliau,"Iya, Bu. Saya enggak masuk kelas. Suntuk! Pelajaran Fisika."
            "Kalau dicari gurunya gimana?" Ucap Ibu penjaga perpustakaan sembari sibuk dengan laptop mungilnya.
            "Ya enggak apa-apa, setidaknya saya menghindari pelajaran tersebut bukan karena alasan ingin melarikan diri ke kantin, saya di perpustakaan dan saya ingin membaca." Jelasku panjang lebar.
            "Itu buku yang kemarin ya? Mau kamu balikin atau mau lanjut dibaca?"
            "Mau dibalikin, Bu. Saya sudah selesai membacanya. Bukunya bagus, teori filsafatnya cerdas, dogma dan ajarannya yang rumit dijelaskan secara sederhana."
            "Buku kayak gini cuma selesai sehari? Gimana bacanya?"
            "Ya dibaca terus-menerus, Bu."
            "Terus kamu enggak ngerjain PR ya?"
            "Enggak, Bu. Saya hanya ingin mengerjakan PR untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, Sejarah, dan seni. Pelajaran lainnya tidak saya kerjakan."
            "Kamu IPA kan?"
            "Yup, 12 IPA 5."
            "Udah kelas 12 kok enggak semangat?"
            "Sejak awal memang tidak, saya dipaksa masuk jurusan IPA oleh ayah saya. Kadang, sesuatu yang bersifat paksaan mampu menyenangkan hati seseorang, salah satunya orangtua.”
            Aku lalu menghilang diantara rak-rak buku, menyelami ratusan buku yang menggoda pandanganku, selang beberapa menit aku mendapatkan buku yang kelihatannya menarik, aku menarik buku itu setelah berdesak-desakan dengan buku-buku lain yang menjepitnya,"Sesak nafas ya dijerat terus-terusan oleh buku-buku lain? Sama seperti aku yang sesak dijerat orang-orang lain." Ucapku dalam hati sambil berjalan menuju meja baca.
            Inilah yang kusuka, sendirian di tempat yang sepi, bersama meja dan buku. Aku selalu pusing dikeramaian. Aliran darahku selalu tak mengalir dengan biasanya kala aku berada di keramaian. Setelah ibu meninggalkan rumah, aku lebih suka menyendiri, menghabiskan waktu dengan diriku sendiri, dan menghibur kesedihanku dengan usahaku sendiri. Beberapa hal juga mampu membuatku tersenyum dalam hati, seperti saat cerpenku dimuat di media cetak dan media online. Aku menumpahkan kekecewaanku pada tulisan, aku menumpahkan kesedihanku pada tulisan. Saat menulis, aku menemukan bagian diriku yang hilang.
            "Sendirian?" Ujar Ibu penjaga perpustakaaan, mengagetkanku.
            "Iya, Bu. Memangnya kapan saya tidak sendirian? Saya selalu sendirian, setiap saat, setiap waktu. Cuma buku-buku ini yang mengajak saya bicara dengan bahasanya yang berbeda tapi berusaha saya pahami."
            Ibu penjaga perpustakaan menatapku gamang, sinar matanya meredup perlahan, mungkin dalam hatinya ia berucap,"Aku tidak tahu derita apa yang dihadapi anak ini. Tapi, dia berusaha tetap bertahan meskipun lukanya semakin dalam."
***
            Supirku membawakan tasku, beliau bercakap macam-macam denganku tapi aku tak mempedulikannya, ucapannya berlalu dengan desahan angin, tatapanku menatap ke depan, kosong. Langkahku masih saja lurus, langkah bisu menderu melawan debu.
            "Setelah ditinggal ibunya, kerjaannya cuma bengong doang. Kasihan ya? Punya segalanya tapi gila sama imajinasinya." Tungkas seorang perempuan yang berdandan berlebihan untuk ukuran anak sekolahan. Aku bisa menebak kalau dia anak cheerleaders yang merasa (sok) populer dan selalu ingin meng-eksklusif-kan dirinya dari anak-anak kurang populer di sekolah.
            Aku mengehentikan langkahku, menatap tajam perempuan busuk itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, aku turut menatap empat temannya yang selalu mengekor kemanapun perempuan busuk itu pergi. Aku mendekati perempuan busuk itu,"Perek! Mau sekolah atau mau jual diri?" Bentakku dengan penuh amarah. Perempuan busuk itu berusaha menampar wajahku, tapi supirku menarik tangannya lalu memutar-mutar tubuhnya hingga perempuan busuk itu kelimpungan pusing. Aku memberi isyarat pada supirku agar segera menuju tempat ia memarkir mobil.
            "Non, lain kali kalau ada yang ngejek-ngejek kayak gitu diemin aja." Kata supirku dengan suara khasnya. Suara berat yang disebabkan oleh keseringan menghisap nikotin.
            "Untuk menyadarkan seseorang, kita juga butuh tindakan, bukan cuma perkataan." Pembelaanku singkat menutup pembicaraan tak direncanakan itu.
***
            Senja berganti menjadi awan-awan hitam yang berarak menuju malam. Suara azan magrib nyaring dan berbisik-bisik resah ditelingaku. Jalan komplek perumahan yang ramai oleh sepeda motor, kerincingan lonceng sepeda, dan derap langkah anak kecil yang berlari-larian sejak tadi mulai tak terdengar. Hanya ada kesunyian kala itu, hanya ada semilir angin yang berhempus ganas menusuk tulangku, hanya ada suara nyamuk-nyamuk yang berusaha memangsa hemoglobin dalam darahku.
            Suasana seperti ini terus berulang setiap saatnya, setiap jamnya, setiap harinya. Seperti dejavu yang terus-menerus menyiksaku. Aku duduk di teras rumah dari sore, senja, hingga menjelang malam. Aku menunggu ibu pulang. Aku berharap wajah beliau yang lelah mampu mengembalikan senyumku yang hilang. Sumarni namanya, beliau bekerja di salah satu Lembaga Sosial Masyarakat yang mengurusi persoalan anak jalanan dan anak-anak bayi yang ditelantarakan karena kelahirannya yang tak diharapkan. Ibuku mulia sekali, hanya seorang idiotlah yang berusaha menyakiti dan mematahkan hatinya, ayahku.
            Malam mulai menghampiri awan di atas rumahku, angin yang berhembus ganas semakin menggangguku, aku menatap pagar depan, kekecewaan yang selalu datang berulang, ibu tidak pulang.
***
            Aku benci kalau setiap pagi harus berpamitan dengan pria brengsek itu, ayahku. Pria yang memberiku fasilitas, harta benda, dan segalanya, tapi dua hal yang tak pernah dia berikan padaku, perhatian dan kasih sayang. Kuketuk pintu kamar ayahku, seorang wanita yang tak kukenal menjawab ketukan pintu itu,"Papamu masih tidur." Ucapnya dengan nada pelan.
            "Anda siapa?" Tanyaku penasaran.
            "Kania. Kekasihnya" Jawaban singkat disertai dengan bantingan halus pintu itu. Aku mematung, memberi isyarat supirku untuk beranjak dan segera mengantarku ke sekolah.
Wanita lain lagi ternyata, aku ingat setiap aku mengetuk pintu kamar ayah, selalu ada wajah dan nama wanita-wanita baru yang tak kukenal. Seminggu yang lalu bernama Nanda, lima hari yang lalu Abigael, tiga hari yang lalu Hana, dua hari yang lalu.... Ah! Aku hanya membebani otakku dengan hal-hal yang seharusnya tak kuingat.
***
            Hari ini semua pelajaran penyiksa seperti Biologi, Matematika, Kimia, dan Fisika bersekongkol untuk membunuhku perlahan-lahan. Aku sengaja tak masuk sekolah, toh tidak ada seorang pun yang peduli, paling hanya guru-guru yang rajin memeras dana dari ayahku saja yang membicarakanku.
            Aku meminta pada supirku untuk mengantarkanku ke LSM manapun, tapi jangan ke LSM yang pernah kukunjungi, aku ingin ke LSM yang baru, bertemu dengan wajah-wajah baru. Aku rindu mengunjungi anak jalanan dan bayi-bayi mungil yang ditinggal ibunya. Supirku kewalahan menuruti permintaanku, hampir setiap LSM sekitaran rumahku dan sekolahku telah ku kunjungi. Atas dasar kewalahan itu, maka supirku membanting stirnya ke arah yang cukup jauh dari rumahku.
            "Kemana ya, Non?" Ucap supirku sambil memasang pandangan kedepan.
            "Ke tempat yang ada anak jalanannya, ada anak bayinya juga." Jawabku seadanya.
            "Di tempat pembuangan akhir sampah aja gimana, Non? Coba liat aja, agak bau emang tapi pasti Non suka."
            "Yaudah kesana aja." Ucapku pasrah mengikuti saran supirku.
***
            Disana kulihat tumpukan sampah menggunung dimana-mana, banyak pemulung membungkuk-bungkuk mencari sampah yang bisa didaur ulang. Aku berjalan menuju LSM sekitar tempat sampah yang menggunung itu, sambil menggenggam plastik berisi beberapa coklat dan mainan kecil.
            Sesampainya disana, kulihat ada banyak anak kecil yang mendatangiku, respon mereka sangat baik walaupun mereka tak mengenalku. Beramai-ramai mereka mengerumuniku, salah satu diantaranya bertanya,"Darimana, Kak? Pemerintah atau swadaya?" Ucap anak menggemaskan yang segera mencium tanganku.
            Aku mulai sibuk tertawa dan tersenyum dengan mereka, aku mulai melempar pandangan mataku kebanyak arah. Saat kulihat seorang wanita di ujung sana, aku fokuskan mataku menatap wanita tersebut. Kulitnya putih, pipinya tirus, rambutnya diikat simple, penampilannya sederhana, aku menghampiri wanita itu. Dia sedang menggendong seorang anak bayi, bayi yang ditelantarkan orangtuanya sendiri. Wanita itu menatapku dengan senyum penuh kelegaan. Orang yang kutunggu ternyata pulang kesini, orang yang kurindukan ternyata melabuhkan hatinya disini, dan orang yang kucari-cari ternyata bersembunyi disini. Aku mendekati wanita itu.
            "Ibu, kapan pulang?" Ucapku lugu, menahan gerimis yang jatuh dari pelupuk mataku.

24 September 2011

Agama dan Cinta..

+       Jadi, bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu?
-            Si Khatolik? Semua baik.
+       Iya, Si Khatolik fanatik!
-            Dia tidak fanatik, dia religius.
+       Lalu, kau mencintainya? Kau ‘kan Protestan, santai dan rentan.
-            Saya mencintai dia. Sebaik dan seburuk apapun tingkah laku dan keadaannya.
+       Uh, mengharukan sekali! Coba berpikir kritis sedikit! Khatolik dan Protestan itu kembar tapi berbeda bukan?
-            Memang yang terlihat sama selalu tak benar-benar sama. Aku mencintainya, begitu saja, mengalir.
+       Kau serius dengannya?
-            Berusaha serius, walaupun dia begitu cuek, begitu sibuk, dan begitu menyebalkan. Pengabaiannya begitu menjengkelkan!
+       Kalau kalian ingin dipersatukan di altar suci, kau harus ikut agamanya?
-            Dia yang harus ikut agamaku.
+       Egois!
-            Aku berpegang teguh pada dogma agamaku, apa itu salah?
+       Entahlah.
-            Kau sendiri bagaimana? Dengan Si Arab itu?
+       Aku mencintainya, seperti kau mencintai Si Khatolik itu.
-            Cinta memang tak memandang agama, tapi kadang cinta gagal menyatukan agama walau mereka saling jatuh cinta.
+       Serumit itukah?
-            Memangnya kapan cinta pernah sederhana?
+       Terang tidak dapat bersatu dengan gelap, seperti air dan api, mereka tak dapat saling menggantikan dan melengkapi.
-            Padahal kau hanya jatuh cinta, memangnya agama salah apa?
+       Setahuku, dalam cinta tak ada yang salah, hanya soal waktu dan keadaan.
-            Kalau kau tak bisa mencintai Tuhan-nya maka kau tak bisa mencintai dia.
+       Tidak ada istilah Tuhan-ku dan Tuhan-nya. Tuhan ya Tuhan. Dia esa. Dia satu.
-            Tuhan memang satu, hanya manusia ciptaanNya saja yang berbeda.
+       Selama ini, kupikir dia yang terbaik.
-            Kau hanya berpikir, belum mengetahui bagaimana realitasnya.
+       Kau serius dengannya?
-            Sejauh ini, iya.
+       Untuk dipersatukan dalam ikatan suci dihadap Tuhan?
-            Entahlah.
+       Sebenarnya, apa yang salah dari mencintai seseorang yang tempat ibadahnya berbeda dengan kita?
-            Entahlah. Aku belum pernah berpikir sejauh itu.

Jangan Mengolok-olok Pacar Saya!

"Berusaha MENERIMA, berusaha MELENGKAPI. Itulah CINTA."
     
                Aku membiarkan tubuhku basah oleh hujan senja. Berlari-lari kecil sambil tertawa riang menuju rumahku. Dengan langkah santai aku memasuki rumah, kembali kubiarkan kepalaku menoleh ke belakang, pemandangan sederhana yang keindahnnya relatif dimata banyak orang. "Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendengar nyanyian rindu yang dimainkan begitu saja oleh hujan." Ucapku lirih dalam hati.
                Di ambang pintu kulihat si Mbok dengan wajahnya yang terlihat cemas. Rambutku yang basah kukibaskan dengan tanganku yang mulai berkerut kedinginan. Sambil berputar-putar layaknya bocah yang kegirangan saat bermain hujan, aku pun juga menengadahkan tangan, merasakan butir-butir lembut hujan menyentuh telapak tanganku dengan manjanya. Si Mbok berlari ke arahku sambil meneduhkanku dengan payung yang dibawanya, beliau menarik paksa tanganku agar segera memasuki rumah.
                Dengan gerak-geriknya yang tergesa-gesa, beliau membawakanku handuk, "Pulang sama siapa to, Cah Ayu?" Tanyanya sambil mengeringkan rambutku dengan handuk.
                "Sama mas Gian." Jawabku seadanya.
                "Naik motor lagi to?"
                "Iya, Mbok."
                "Halah-halah, Mas Rudi enggak jemput kamu yo, Nduk?"
                "Jemput tadi di kampus, tapi kusuruh pulang aja, kasihan istrinya lagi sakit."
                "Haduh, Nduk. Nanti Mbok dimarahin papa kalau kamu masih pulang naik motor sama mas Gian ituloh."
                "Haaaaa ora usah bilang-bilang papa lah, Mbok. Gitu aja kok repot to yo?"
                "Ya sudah, ya sudah. Kamu mandi terus minum teh hangat sama sup ya, mbok yang buatin."
                "Iya, Mbok. Makasih ya." Jawabku perlahan dibalut kedinginan
                Sambil memegangi handuk, aku masih sibuk mengeringkan rambutku. Kuperhatikan sekeliling rumah, konsep minimalis dengan cat berwarna putih lembut. Di depan tempatku duduk, ada TV plasma yang ramping beserta pemutar DVD yang sering kugunakan untuk menonton DVD, sendirian. Lalu, berdampingan dengan pemutar DVD, ada portable karaoke, biasa kugunakan untuk mengisi waktu senggang, menyanyi hingga bosan, sendirian. Aku mengangkat kepalaku sedikit, ada foto keluarga yang tertempel di dinding. Foto aku, mama, dan papa dengan senyum bahagia, dengan senyum yang terlihat sempurna. Dengan pikiran yang memecah ke berbagai masalah, aku menghela nafas, “Apa semua foto keluarga menyelipkan kebohongan diantara senyum bisu yang mereka perlihatkan? Kenyataannya, keluargaku tidak sebahagia foto keluarga yang menempel manis di dinding itu." Ucapku lirih dalam hati, meninggalkan ruang TV.
***
                “Maaf, aku enggak bisa nganterin kamu pakai mobil mewah seperti mobil yang biasa dikendarai supirmu itu.” Ujar Mas Gian dari ujung telephone, dengan nada penyesalan.
                “Enggak apa-apa, Mas. Lagian istrinya Mas Rudi lagi sakit, masa sih dia malah kerja? Kusuruh pulang aja, enggak usah kerja dulu hari ini.” Ucapku dengan nada menghibur, Mas Gian diam sejenak.
                “Kamu enggak malu naik motor sama aku?” Tanya Mas Gian.
                “Kenapa harus malu, Mas?” Tanyaku balik.
                “Malu dilihat temen-temenmu itu loh. Terus di jalan juga kena polusi, panas, kalau kehujanan ya kehujanan sekalian. Kamu suka ketidaknyamanan seperti itu?”
                “Aku enggak pernah malu karena memiliki kamu, maka aku juga enggak akan pernah malu untuk menghabiskan waktu bersama kamu. Sekalipun hujan-hujanan naik motor, sekalipun harus kena asap kendaraan motor, yang penting sama kamu, asal sama kamu.” Ceplosku mendiamkan Mas Gian beberapa detik.
                “Maaf untuk segala ketidaknormalan yang aku berikan sama kamu. Maaf untuk setiap keabnormalan yang terjadi selama ini. Aku sulit menjadi pria biasa pada umumnya.”
                “Makanya itu aku mencintaimu, karena kauberbeda. Menjadi luar biasa itu baik, Mas. Yang tidak menarik adalah menjadi biasa-biasa saja dan menjadi normal-normal saja.”
                “Aku menyesal. Kenapa toh aku tidak bisa mengimbangi kamu?”
                “Pacaran itu soal saling melengkapi, Mas. Bukan soal harus sama tinggi, sama rendah, atau sama seimbang dengan kekasihnya.”
                “Kamu tahu? Walaupun aku tidak pernah terlihat seimbang denganmu, walaupun di luar sana mereka menganggap kita seperti Beauty and The Beast, dan walaupun semua berjalan dengan abnormal, tetapi mengapa aku masih bertahan untuk mencintaimu?”
                “Kenapa, Mas?”
                “Karena kamu tetap terlihat luar biasa dengan jiwamu yang sederhana. Kalau istilah quote-quote di Twitter sih ya seperti ini: yang tajir itu banyak, tapi yang tajir tapi tetap bersikap sederhana ya jarang. Salah satu orang seperti itu ya kamu.”
                “Aku seperti itu karena memang aku tidak berhak untuk menyombongkan diri, Mas. Hasil keringat orangtua berupa materi sama sekali tidak pantas disombongkan oleh anaknya,” Ucapku mengalun merdu dengan nafasnya yang terdengar di telephone. “Aku suka setiap kamu mengisi kekosonganku ketika orangtuaku sibuk mengisi kekosongan mereka sendiri. Aku punya kamu, makanya aku enggak kesepian. Aku mau kita terus seperti ini, Mas.” Jelasku lirih.
                “Aku juga, Cah Ayu.” Responnya membuatku tersenyum sambil memeluk bantal. Aku mencintai dia. Dia yang secara status sosial, fisik, dan strata sosial berbeda jauh denganku.
***
                Aku berjalan dengan santai memasuki Fakultas Psikologi, melihat pohon-pohon rindang yang mulai meranggas pada musim kemarau, menikmati semilir angin yang nakal menggelitik kulitku. Tiba-tiba di ujung koridor, aku melihat kerumunan orang, aku mendekati kerumunan tersebut.             
                “Dira itu istimewa dan wanita sepertimu tidak pantas mengganggu hidupnya!” Cetus Mas Gian. Aku masih bingung dengan apa yang kulihat dan kudengar saat itu.
                Beberapa detik kemudian, Amora menyibukkan matanya untuk celingak-celinguk kanan kiri, entah siapa dan apa yang dia cari, sesaat setelah itu Amora menarik paksa tanganku. “Oh, cewek ini toh yang elo sebut istimewa? Kalau dia istimewa enggak mungkin papa mamanya ninggalin dia setiap hari cuma buat ngurus bisnis mereka. Kalau dia istimewa, dia enggak mungkin jadian sama cowo idiot kayak elo. Yang tingginya 196 sentimeter, elo orang atau tiang listrik? Yang matanya minus 10, dan yang cuma punya motor butut kayak elo! Dira tolol yang sok lugu ini cuma manfaatin lo, elo enggak tahu kan di luar sana pacarnya segudang? Gue yang istimewa, Gi. Gue yang pantes dapetin lo. Cuma gue yang sayang tulus sama lo, Gian. Tanpa melihat kekurangan lo! Cuma gue, Gi!” Bentak Amora tanpa merasa malu dilihat oleh banyak orang kala itu.
                Emosiku terbakar dalam hitungan detik, nafasku tak teratur, dan detak jantungku mulai beradu dengan otakku yang mulai panas. “Eh, Jalang! Kalau elo sayang sama Gian, elo enggak bakal ngata-ngatain dia idiot! Elo juga enggak bakal ngata-ngatain kendaraan yang dia punya! Elo enggak bakal menjelek-jelekan keabnormalan yang dia punya. Gue tahu dia berbeda dari pria-pria lainnya, tapi gue berusaha menerima, gue berusaha melengkapi dia. Itu yang namanya cinta. Tanpa elo pun, hidup gue udah berantakan! Orangtua gue yang enggak pernah perhatian sama gue, kekosongan gue ketika gue kangen sama mereka, dan kehidupan keluarga gue yang terlihat harmonis di luar tapi bobrok di dalam, puas lo, Jalang?! Tapi, setelah ada Gian, gue bisa kok mengisi kekosongan gue dengan kehadiran dia. Dan, kalau lo mau ngerebut dia dari gue, silet-silet dulu nih urat nadi gue! Dia mutlak punya gue! Jangan mengolok-olok pacar saya! Dia milik saya! Dia pilihan saya!” Panjang lebar mulutku hampir berbusa. Kuhempaskan tangan Amora, menarik tangan Mas Gian menuju kelas. Meninggalkan Amora yang mematung di ujung koridor.
                “Mas, kita seperti pemenang dalam perang.” Aku berusaha meredakan amarahku, menatap dalam-dalam bola mata Mas Gian. Dia tersenyum. Dia mengerlingkan matanya. Indah sekali.
***
                Rasanya, ingin sekali tertawa mengingat peristiwa 3 tahun lalu itu. Membela seseorang yang kaucintai memang adalah ciri-ciri orang  yang pemberani.               
                Sambil memegangi keyboard laptop, aku masih saja sibuk mengingat-ingat kejadian yang harus kutulis. Kuperhatikan sekeliling rumah, konsep minimalis dengan cat berwarna putih lembut. Di depan tempatku duduk, ada TV plasma yang ramping beserta pemutar DVD yang sering kugunakan untuk menonton DVD, bersama dengan orang-orang yang kucintai. Lalu, berdampingan dengan pemutar DVD, ada portable karaoke, biasa kugunakan untuk mengisi waktu senggang, menyanyi hingga bosan, bersama dengan orang-orang yang kucintai. Aku mengangkat kepalaku sedikit, ada foto keluarga yang tertempel di dinding. Foto aku, Mas Gian, mama, papa, dan anakku: Gani. Dengan senyum bahagia, dengan senyum yang terlihat sempurna. Dengan pikiran yang memecah ke berbagai masalah, aku menghela nafas, “Inilah foto keluarga yang benar-benar keluarga. Senyum yang benar-benar nyata, kebahagiaan yang benar-benar ada.” Ucapku lirih dalam hati.
                Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti bahagia berarti perasaan suka cita yang biasanya diiringi dengan senyuman. Tapi, bagiku bahagia adalah aku, Mas Gian, dan anakku Gani. Se-simple itu dan sesederhana itu.