01 November 2011

Terima kasih, Cina.

"Terkadang, suatu hubungan bisa saja tiba-tiba putus walau tanpa kata putus."

"Anak kita nanti bernama Bagas, Lintang, Langit, dan Laut." Ucapnya lugu seraya menarik-narik ingus yang membuat suaranya terdengar lucu. Aku hanya membalas perkataannya dengan tawa kecil yang tidak memekikan telinga.
"Matahari, Bintang, Langit, dan Laut. Sepertinya nama-nama anak kita nanti menyejukkan sekali ya. Mereka pasti jadi anak yang baik, tumpuan segala harapan kebaikan." Aku menanggapi pendapatnya, nampaknya dia sangat suka dengan ucapan yang kulontarkan tadi. Lalu, kami saling tertawa bersama. Mengganti topik nama anak menjadi topik agama dan ras.
Ya, pembicaraanku dengannya selalu saja berat, selalu saja tidak seperti pembicaraan orang yang sedang berpacaran. Seringkali kami berdiskusi banyak hal, persoalan yang awalnya buta dan gelap menjadi hal yang terlihat dan terang. Itulah masa yang tidak pernah aku temukan lagi saat ini, karena selalu saja masa lalu yang kita inginkan kembali, tidak akan pernah kembali.
Dia seorang mahasiswa berkacamata dengan tinggi badan sekitar 180 sentimeter. Bermata sipit, berhidung cukup pesek, berkulit putih, dan wajahnya memang tercipta sangat oriental dan sangat cina. Dia kuliah di fakultas teknik pertambangan, di salah satu universitas di daerah Yogyakarta. Seringkali dia menjelek-jelekan universitas tersebut karena tujuan awalnya adalah masuk Institut Teknologi Bandung atau lebih familiar disebut ITB. Dia sangat suka fotografi, tapi tak suka memotret manusia, "Aku lebih suka motret pemandangan daripada manusia. Motret manusia malah bikin grogi." Ungkapnya santai dengan tawa renyahnya. Pikirannya sangat idealis, dia punya konsep tersendiri tentang Tuhan dan agama. Dia punya konsep tersendiri tentang Yesus, Allah, Roh Kudus, dan Bunda Maria. Ya, dia selalu mengikuti jalan pikirannya, dia selalu tahu bagaimana cara melangkah mengikuti alur pikirannya.
Semua berjalan begitu absurd, tapi tak dapat dipungkiri bahwa segala hal yang kita lewati memang mengalir begitu indah. Dia mengatakan bahwa dia tak pernah seperhatian itu pada wanita, kecuali pada saya. Ya, awalnya dia memang sangat dingin, seringkali menghilang, seringkali berbicara seenak jidatnya, tapi semua bisa terlampaui begitu sukses, dia berubah, dia menjadi begitu indah. Itulah yang kami sebut cinta, mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang lebih baik.
Saya adalah ciri-ciri wanita yang agak sedikit penuntut. Ya, maksud saya menuntut seorang pria yang saya cintai menjadi lebih baik, saya menuntut pria tersebut melakukan perubahan dalam hidupnya, selama dia menghabiskan waktunya dengan saya, maka saya harus mengubahnya, maka dia harus berubah untuk saya dan untuk hubungan kita. Maka, kami harus berubah, menjadi dua orang yang saling jatuh cinta atas dasar kasih bukan atas dasar nafsu dan ketertarikan fisik. Seringkali cinta menciptakan penuntutan, penuntutan untuk mengubah pribadi menjadi lebih baik. Jujur, saya seringkali jatuh cinta pada pria penurut yang mudah diatur. Saya sangat menghargai seorang pria yang mau berubah untuk hal yang baik.
Dia pernah jadi seseorang yang penting dalam hidup saya. Dia pernah menjadi penenang amarah saya, dia pernah menjadi penyebab dari senyum saya, tapi itu dulu, masa dimana masih ada dia, masa dimana hanya ada tawa dan senyum malu-malu yang menghiasi perjalanan kita. Dia mengenalkan saya pada budayanya, dia mengenalkan saya pada dunianya, dia menjelaskan konsep Tuhan yang ia tahu pada saya. Ya, dia mengajari dan mengayomi saya, dia tahu persis bagaimana memperlakukan perasaan saya.
Jelas, kami pernah bertengkar hebat. Hingga beberapa hari kami tak saling berhubungan, tapi cinta tetaplah cinta, rindu tetaplah rindu, sulit untuk disembunyikan dan dilupakan. Hingga pada suatu ketika dia menulis di note facebooknya, bercerita tentang hubungan kami yang berjudul "Untitled 16". Saya terharu membacanya, saya menyangka bahwa pria sedingin dan secuek dia tidak mungkin bisa menulis sedalam itu. Saya tahu ini yang namanya cinta, selalu punya alasan untuk memaafkan.
Pertengkaran kecil kami yang detailnya tidak pernah saya lupakan, seringkali menggelitik rindu setiap mengingatnya.
"Matamu!" Ucapku kasar mengetuk keras gendang telinganya.
"Sipit, Cuk!" Timpalnya dilanjut dengan tawa lepasnya.
"Cino nyebahi!" Aku tak mau kalah, masih saja aku menggoda perasaannya.
"Jowo marai emosi!" Dia juga tak mau kalah, semonyong-monyongnya bibirnya dia lakukan hanya untuk menghujani saya dengan pertengkaran kecil yang disertai canda itu.
Cino dan Jowo, seringkali menjadi perpaduan yang baik jika berada di tempat yang seharusnya. Tapi, bisa jadi malapetaka jika tak bersatu pada tempat yang seharusnya.
Ah, tapi yah, sekali lagi saya katakan semua hanya kenangan, semua hanya pecahan puing-puing retak yang terpecah dari asalnya. Dia menjalani hidupnya sendiri, sayapun harus menjalani hidup saya sendiri. Memang tak pernah terpikirkan kita akan berpisah, karena semua mengalir dengan begitu indah. Tapi, ya memang semua harus berakhir, walau tanpa kata pisah dan kata putus, walau tanpa kalimat perpisahan dan kalimat mengakhiri. Terkadang, suatu hubungan bisa saja tiba-tiba putus walau tanpa kata putus.
Sekarang, dia mungkin sedang berbahagia dengan pilihannya. Dan, sekarang saya bahagia dengan pilihan saya. Saya tak perlu tahu apakah dia bahagia dengan pilihannya, yang saya tahu cerita kita pernah ada, walaupun memang sudah berakhir.
Terima kasih telah mengenalkan saya pada Seno Gumira Ajidarma dan karya-karyanya. Terima kasih pernah mengharapkan saya sebagai ibu dari anak-anakmu. 

17 October 2011

Beri Aku Waktu, Tuhan

"Aku lelah menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri. Aku lelah menjadi seseorang yang bahkan tak kukenali sama sekali."

Aku hanya bisa mematung seusai mendengar vonis dokter yang saat ini masih tak kupercayai realitanya. Aku hanya bisa mematung dan berpikir, aku mencoba menyelami labirin-labiran dalam otakku yang semakin rumit dan tak kumengerti. Aku mencoba mengungatkan langkahku dan menegakan ketegaran hatiku. Tapi, aku muak untuk terlihat menjadi kuat! Aku muak berpura-pura menjadi seseorang yang terlihat kuat! Aku lelah harus terus terlihat seakan-akan aku percaya bahwa aku segera sembuh, bahwa aku dituntut agar tidak terlihat lemah karena penyakit yang masih saja menggerogoti tubuhku. Aku lelah berpura-pura dalam kesakitanku. Aku lelah dalam kepalsuan. Aku ingin menangis tapi nyatanya aku hanya bisa menyembunyikan air mataku.

Aku iri dengan mereka yang bisa tersenyum bahagia tanpa kepalsuan. Aku iri dengan mereka yang bisa berlari dan bergerak bebas dalam sandiwara yang skenarionya telah dipersiapkan Tuhan. Aku ingin seperti mereka yang menghabiskan waktunya tanpa khawatir akan hadirnya kematian yang bisa saja menghampiri mereka tiba-tiba. Aku ingin seperti mereka! Aku ingin menjadi pelakon dalam sandiwaraku sendiri, aku ingin menjadi pemeran utama dalam sandiwara yang Tuhan izinkan terjadi itu. Tapi, nyatanya, aku hanya menjadi seorang penonton! Aku hanya bisa duduk diam! Aku hanya bisa menunggu datangnya kematian!

Kalau manusia diizinkan untuk marah dengan takdir yang Tuhan rancang, mungkin aku akan terus menjadi pemarah yang tidak henti-hentinya merapal kata-kata kekesalanku pada Tuhan. Kalau manusia berhak untuk merancang takdirnya sendiri, aku pasti mampu merancang kebahagiaanku sendiri, dengan kekuatanku sendiri, dengan kemampuanku sendiri. Tapi, inilah aku dalam keterbatasanku. Aku hanya bisa diam! Aku hanya bisa duduk memperhatikan! Aku hanya bisa melakukan kepalsuan! Aku hanya bisa bahagia walau dalam kepura-puraan.

Aku hanya ingin sembuh, Tuhan. Aku hanya ingin helaan nafasku tidak berhenti secepat ini. Aku lelah menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri. Aku lelah menjadi seseorang yang bahkan tak kukenali sama sekali. Aku lelah menahan sakit. Tuhan, bisakah sekali lagi kita bercakap dalam doa? Aku masih belum siap bercakap denganMu secara langsung, akan kujelaskan padaMu bahwa aku masih butuh waktu. Aku belum siap Kau jemput. Beri aku waktu, Tuhan.

15 October 2011

Monolog: Cinta dan Agama


Aku tak mengerti mengapa perbedaan masih saja dianggap sebagai sesuatu yang asing. Aku tak mengerti bagaimana pola pikir seseorang yang menganggap perbedaan adalah sampah. Dimana perbedaan tak dapat dihargai, dimana perbedaan tak mendapat tempat se-inchi pun dalam kehidupan sosial masyarakat. Indonesia, negara yang katanya menghargai perbedaan, tapi menyentuh perbedaan pun rasanya amat menjijikan. Jadi, untuk apakah Sang Garuda mencengkram tulisan "Bhineka Tunggal Ika" jika perbedaan masih saja menjadi sesuatu yang tabu?

Agama. Sesuatu yang kadang terkesan maya tapi ada. Sesuatu yang kadang tak diketahui tetapi berusaha untuk dipahami. Sesuatu yang diluar otak manusia tapi berusaha untuk dicapai oleh otak manusia. Agama dan perintah Tuhan, apakah selalu mengekang? Seringkali agama menjadi jurang yang tak mampu dijembatani oleh cinta. Agama dan cinta, sesuatu yang Tuhan ciptakan tapi secara brutal dirusak oleh manusia!

Aku tahu, diluar sana ada ribuaan atau bahkan jutaan pasangan yang saling jatuh cinta walau dalam perbedaan. Bukankah kehidupan pasti butuh perbedaan? Kalau semua hal sama, bukankah membosankan? Pasangan yang berbeda dalam banyak hal, terutama yang paling kontras adalah perbedaan agama. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk menunjukan bahwa mereka bukanlah sampah yang harus dikucilkan karena pola pikir masyarakat. Mereka bertahan walau dalam kesakitan, mereka berteriak walau dalam kebisuan, nurani mereka terpasung oleh sesuatu yang (katanya) disebut DOGMA AGAMA. Sesulit itukah mempertahankan cinta, ketika mereka tahu bahwa mereka bukanlah pasangan yang direstui oleh DOGMA AGAMA? Mereka mencoba menutup telinga dari cemooh masyarakat yang tak mengerti apa itu CINTA dan apa itu AGAMA. Mereka bertahan untuk sesuatu yang tak tahu dimana ujung dan akhirnya. Itulah cinta, yang mampu membuat dua orang yang terikat menjadi begitu kuat untuk menghadapi cobaan terhebat.

Cerita lainnya, pasangan dengan dua agama, pasangan berbeda yang telah diikat oleh tali pernikahan. Di depan altar suci mereka berikrar janji. Bertahun-tahun mereka bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani. Setiap minggu pagi, sang wanita pergi ke gereja, mengucap Pengakuan Iman Rasuli dan mengujar Doa Bapa Kami. Pagi-pagi sekali, sang suami menghadap Tuhan, bersujud haru dibawah telapak kaki Tuhan, sambil membaca surat-surat dengan bahasa arab. Salahkah kalau dalam perbedaan mereka tetap berbahagia? Salahkan jika ada dua Tuhan dalam satu rumah tangga? Salahkan jika ada dua Allah dalam satu cinta? Bukankah dengan begitu cinta bisa mempertegas tugas utamanya? Menyatukan dua orang yang penuh perbedaan tanpa peduli apa kata orang!

Hey, kalian! Kenapa kalian tercengang mendengar ceritaku? Kenapa kalian membisu ragu mendengar dentuman gelisahku? Jadi, kalian baru sadar kalau disekitar kalian ada orang yang tersiksa karena DOGMA AGAMA? Jadi, kalian baru sadar ada pasangan yang begitu sulit untuk saling jatuh cinta karena AGAMA? Yak, kamu yang berjilbab! Pernahkah kamu berpikir bahwa dari jutaan wanita berjilbab ada beberapa orang diantara mereka yang jatuh cinta pada seseorang yang beribadah di gereja? Yak, kamu yang berkalung salib! Pernahkah kamu berpikir bahwa dari jutaan orang yang berkalung salib ada beberapa diantara mereka yang jatuh cinta pada seseorang yang beribadah di masjid? Jadi, apakah salahnya CINTA jika dia hanya menjalankan tugasnya untuk menyatukan perbedaan? Pantaskah AGAMA untuk ikut campur?

Inilah Indonesia! Pikirannya yang masih (sok) ketimuran! Menganggap perbedaan adalah pemerkosa kesatuan! Menganggap perbedaan layaknya pekerja seks komersial yang harus diarak dan dilempari batu hingga mati! Inikah Indonesiaku yang (katanya) punya slogan Bhineka Tunggal Ika itu? Hanya slogan ya? Tidak dilakukan melalui tindakan? Memalukan! Tapi, sebenarnya, kita pun tak pernah berhak untuk menyalahkan DOGMA AGAMA. DOGMA AGAMA bilang mencintai seseorang yang berbeda agama sama saja seperti mencintai gelap. Terang tak mungkin dapat bersatu dengan gelap. DOGMA AGAMA bilang seperti ini, DOGMA AGAMA bilang seperti itu, DOGMA AGAMA bilang........ Ah! Aku benci ketika manusia malah menjadikan DOGMA AGAMA sebagai Tuhan, bukan malah menjadikan TUHAN sebagai TUHAN!

Agama mengajarkan cinta dan kasih, agama mengajarkan bagaimana mencintai dan mengasihi seseorang yang berbeda. Cinta mengajarkan manusia menjadi manusia, cinta menjadikan manusia menjadi mahluk sosial. Cinta dan agama, sulit dimengerti, sulit untuk disatukan, tapi ada dan nyata.

Mengapa Tuhan menciptakan perbedaan jika DIA hanya ingin disembah dengan satu cara? Pertanyaan yang sulit kujawab dengan logiku yang sungguh terbatas, tapi jawaban akhir yang bisa kusimpulkan adalah cinta sejati berasal dari Tuhan, makanya itu Tuhan menciptakan cinta agar yang berbeda bisa saling menyatu.

06 October 2011

Aku Tidak Ingin Makan Telur Dadar kalau Bukan Buatan Ibuku

"Apa gunanya menginginkan kembali masa lalu ketika sebenarnya masa itu tak akan pernah terulang?"



Aku hanya memainkan nasi dan telur dadar dengan sendok dan garpuku. Menatap kosong ke arah sarapan yang memang tidak membuat dirinya agar berselera sehingga aku ingin melahapnya. Kulempar pandanganku ke jendela ruang makan, sinar matahari mulai mengintip malu-malu dari balik kaca kaku bertralis besi tersebut. Aku sangat benci suasana seperti ini, suasana sepi seakan-akan rumah ini tak berpenghuni. Aku duduk sendirian di meja makan sambil berpangku tangan. Dengan mata setengah mengantuk, kembali kutatap sarapanku lagi, nasi dan telur dadar, sederhana. Aku masih tak berselera untuk melahapnya, karena telur dadar ini bukan buatan ibuku. Aku tidak ingin makan telur dadar kalau bukan buatan ibuku. Aku semakin benci suasana ini, karena pagi ini adalah pagi yang sama, lagi dan lagi tidak ada ibuku yang menemaniku sarapan. Pemandangan pagi ini juga sama, di ruang tamu terlihat ayahku sedang bergelayut manja dipundak ibu baruku. Sebenarnya, aku sangat tidak sudi memanggil dia dengan sebutan “Ibu”, karena seseorang yang pantas kupanggil ibu adalah ibuku sendiri, tidak ada seorang pun yang berhak menyandang panggilan itu dari bibirku kecuali untuk ibuku.
***
Ibuku memang seorang wanita yang terlihat lemah, tapi di balik kelemahan seorang wanita yang terlihat oleh mata, ada kekuatan sangat besar yang tak terlihat mata. Didukung oleh wajah jawanya yang halus, dihiasi dengan mata redupnya yang bening, beliau selalu menjadi aktris utama yang kujadikan idola dalam drama kehidupanku. Ibuku memang jarang berbicara, dia lebih suka bertindak lalu melakukan, dalam pada membuang-membuang waktu untuk sekedar berdebat. Ibuku lebih suka memeluk daripada mengungkapkan, karena lewat sepasang lengannya ada desir kehangatan tersendiri yang menjawab banyak pertanyaan. Ibuku adalah wanita paling baik yang pernah kukenal, hanya seorang bodohlah yang mampu menyakiti ibu dengan perlakuan dan perkataannya, ayahku.
***
Tiga bulan yang lalu, ibu masih sibuk bangun pagi-pagi hanya untuk memasak telur dadar kesukaanku, telur dadar untuk aku, ayahku, dan ibuku. Kami bertiga duduk dalam satu meja, tanpa ungkapan dan ucapan, karena bahkan hanya lewat tatapan ada “pembicaraan” bisu yang “terdengar” oleh hati. Sesaat sebelum kamu berangkat, aku pamit lalu ibu mencium pipiku serta memelukku, begitu juga perlakuan yang sama diberikan untuk ayahku, tapi ayahku hanya meresponnya dengan tatapan dingin. Memang, kala itu ada hal yang sangat kutakutkan, ketika aku mencoba membuat persepsi bahwa cinta ayahku pada ibuku memudar. Padahal ibuku itu nyaris sempurna, memangnya ayahku butuh seseorang yang seperti apalagi? Ah... tapi kembali kuingat nasehat ibuku saat aku mulai nakal dan membuat persepsiku sendiri. “Pindahkan otakmu dan matamu ke hatimu, mereka tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.” Ucap beliau sambil memelukku lebih erat dan hangat.
***
Ah ya! Belakangan kutahu bahwa ibu baruku (yang tetap tak sudi kupanggil ibu) adalah “selingan tak berguna” yang sempat mengganggu hubungan ayahku dan ibuku saat mereka masih berpacaran dulu. Lalu, untuk apa si jalang itu kembali? Satu hal yang kutahu, wanita jalang memang selalu datang tidak dalam waktu yang tepat. Aku benci ibu baruku, tepatnya aku benci dengan wanita jalang yang tiba-tiba datanng ke dalam hidupku. Aku hanya menginginkan ibu. Itu saja. Tapi, sekali lagi aku berpikir, apa gunanya menginginkan kembali masa lalu ketika sebenarnya masa itu tak akan pernah terulang?
***
Kali ini, pandanganku kosong menatap ibu. Berkali-kali aku mengusap-usapnya dengan sentuhan lembut sambil berusaha untuk tersenyum. Aku bercerita banyak hal, soal prestasiku, soal tulisanku, soal perkembanganku, dan soal ketertarikanku pada seseorang yang kini mengisi kekosongan hatiku. Aku sama sekali tak bercerita tentang ibu baruku (baca: wanita jalang), aku tak ingin ibu bersedih karena ayahku memilih seseorang yang salah. Tapi, tak bisa kututupi perasaan khawatirku tentang ayah dan ibu baruku itu, karena ibuku selalu tahu walapun aku berusaha menyembunyikan perasaanku. Aku membersihkan rumput-rumput yang tumbuh liar di atas tanah basah itu, kutaburi bunga-bunga beraroma lembut yang sesekali menyengat hidungku ketika angin menyebarkan aromanya. Untuk kesekian kalinya, aku mencium nisan ibuku. Aku tahu kalau beliau sangat suka dengan kecupan hangatku. Beberapa detik terbesit di dalam pikiranku tentang ayah yang tak berjumpa dengan ibu beberapa bulan ini. Entah beliau telah merencanakan untuk berjumpa tapi lupa atau beliau terlalu sibuk dengan pekerjaannya? Ah... memang beberapa laki-laki selalu mudah melupakan kenangannya.

Untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini

Aku bosan ketika bangun pagi hari hingga tidur malamku selalu diisi pertengkaran kecil dan bahkan pertengkaran yang cukup besar. Di mana dia selalu ingin menjadi pemenang, di mana dia selalu ingin menjadi aktor utama. Sementara aku, hanya pemain figuran yang tidak berhak melawan, posisiku hanya seseorang yang pasif yang mencoba mengerti semua perlakuannya walaupun ada banyak gejolak untuk melawan.

Ada saja hal-hal kecil yang dia jadikan sebagai acuan untuk berdebat panjang. Masalah komunikasi, masalah perhatian, masalah waktu, dan masalah-masalah lainnya yang selalu terlihat besar saat ia melebih-lebihkannya. Memangnya aku ini tempat sampah, "tempat" dimana ia menumpahkan segala kekesalan dan amarahnya saat ia merasa lelah dengan dunianya? Apa dia tak pernah berpikir bahwa aku sama seperti dia, yang juga punya perasaan? Apa dia tahu, bahwa menjadi aku bukanlah hal yang mudah?

Seringkali aku merasa risih dengan semua hal yang ia lakukan padaku. Rasanya sehari seperti sebulan lamanya. Seringkali aku terdiam melihat semua mengalir tanpa persetujuan dan keinginanku. Seringkali aku ingin lepas, tapi aku merasa jeratan itu masih terlalu kuat. Aku lelah menjalani hubungan yang hanya berjalan di tempat, di mana hanya ada satu orang yang berkorban demi satu orang lainnya. Di mana hanya ada aku yang berlelah sendirian hanya untuk menjaga yang seharusnya kulepaskan.

Dan, untuk kamu, ya kamu! Pria yang dulu pernah kucintai dan kukagumi sebelum aku bertemu dengannya. Jujur, aku merindukanmu. Merindukan sosok dewasa yang dulu pernah menopang dan menegakkan langkahku. Aku merindukan suaramu yang dulu menelusup lembut ke dalam telingaku. Aku merindukan sosok sederhanamu dengan tinggimu yang 196 sentimeter itu. Sekarang, aku tahu bagaimana rasanya bila tidak ada kamu yang mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tahu rasanya jika saat bangun pagi tak ada sapamu di inbox handphoneku. Aku benar-benar kehilangan sosokmu. Aku benar-benar takut kehilangan sebagian dari diriku saat aku juga kehilangan kamu.

Ingin rasanya kembali ke masa lalu, ketika masih ada kamu, ketika aku masih bisa tersenyum saat bangun pagi hingga tidur malamku. Saat kamu masih menganggapku lebih dari teman, saat ungkapan rindumu masih sering kudengar dari bibir tipismu, saat kehadiranmu bagai aktor utama drama yang kutunggu-tunggu kemunculannya. Aku masih saja sering memerhatikan nomor handphonemu, menimbang-nimbang apakah aku harus mengirim pesan terlebih dahulu atau aku saja yang menunggumu? Ah... tapi kamu terlalu sibuk, bahkan hanya untuk sekadar sms apalagi menanyakan kabarku.

Setelah kuputar ulang lagi rekaman otakku yang berisi tentangmu, aku mencoba untuk kembali mengingat perlakuan lembutmu dan perlakuan kasarnya. Aku mencoba  mengingat kesabaranmu saat menghadapiku, aku mencoba mereka-reka kembali ucapanmu saat menenangkan amarahku, aku mencoba mengintip kembali usaha-usaha yang kaulakukan agar hubungan kita tidak berjalan di tempat. Bayanganmu berputar-putar di otakku, suaramu terdengar menusuk-nusuk telingaku. Aku benar-benar kecanduan kamu, aku benar-benar kecanduan masa lalu. Aku semakin sadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa membuatku merasa berarti dan luar biasa selain kamu. Aku semakin yakin bahwa kamu adalah seseorang yang berusaha memperbaiki kesalahanku agar aku menjadi seseorang yang baru. Kamu menerimaku lalu menjaga perasaanku, dia menerimaku tapi berusaha merusak perasaanku.

Kali ini, aku tak merasakan kantuk sama sekali, rasa kantuk itu tak benar-benar berarti sampai aku bisa menuliskan ini, sampai aku bisa menikmati hadirmu lewat tulisanku. Aku menyesal kenapa semua hal-hal yang indah seringkali tak bisa terulang? Aku frustasi. Aku kebingungan. Aku butuh hadirmu. Aku butuh kata rindumu. Di mana kamu? Kautahu? Sejak kemarin aku mencarimu! Hubunganku dengannya diujung tanduk saat ini! Selamatkan aku, bukan selamatkan hubunganku!

Untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini
06102011 01:37
aku merindukan suara beratmu.