14 March 2013

Tipuan


                “Jangan anggap ini tipuan ataupun permainan, ini sungguhan, Sayang!”
                Aku tersenyum geli, berusaha mencerna kata-katanya dengan baik dan benar. “Iya, Sayang, aku selalu percaya apa yang kamu katakan.”
                “Bim Salabim, hilanglah permen dari tanganku!” ia mengucapkan mantra, “Sayang, kamu tiup tangan aku sekarang. Lihat apa yang terjadi.”
                Napasku mengembuskan udara di tangan kanannya dan permen yang sejak tadi ia genggam tiba-tiba hilang begitu saja.
                “Sayang, kok permennya hilang?”
                “Namanya juga sulap.” Jerry mencubit hidungku, “Kamu suka permainan sulap aku?”
                “Suka... tapi, tadi tipuan kan? Kepalsuan?”
                “Nggak, Sayang. Itu beneran magic!”
                Anggukan kepalaku berusaha terlihat mantap di depan mata Jerry. Aku mencintainya dan tidak akan mungkin mengecewakannya.
                “Tadi bagaimana di kampusmu? Segalanya menyenangkan?”
                “Iya, Sayang. Kalau kampusmu, gimana?”
                “Sama menyenangkannya, seperti yang kamu rasakan.”
                Aku tersenyum, aku selalu senang jika orang yang kucintai bahagia dengan pilihannya.
                “Dia masih bersamamu?”
                Jerry terdiam.
                “Masih ya?”
                “Kamu tahu aku hanya punya perasaan lebih sama kamu.”
                “Kalau sama dia, apa perasaanmu tak lebih?”
                Sunyi meringkuk kebersamaan kami kala itu. Pertanyaan yang kulontarkan tak membuahkan jawab di bibir Jerry.
                “Bahkan untuk menjawab pertanyaan semudah itu saja; kamu tak bisa.”
                “Jika aku selalu meluangkan waktu untukmu agar bisa bertemu, masih haruskah banyak alasan kujelaskan?”
                “Kadang, seseorang seakan-akan terlihat mencintaimu, namun di sisi lain­­; ia sebenarnya mencintai orang lain.”
                “Aku bukan pria seperti itu.”
                “Siapa yang tahu segalanya? Aku tak selalu ada di sampingmu.”
                “Kamu tak selalu ada di sampingku, tapi bukankah aku selalu ada di sampingmu ketika kamu butuh?”
                “Hanya saat butuh.”
                Jerry menghela napas, “Kita tak bisa terus bertemu, jangan sia-siakan pertemuan kali ini!”
                Aku terpaksa mengalah. Ia melanjutkan lagi permainan sulapnya, yang selalu ia yakinkan padaku bahwa semuanya adalah magic bukan tipuan!
                Senyumku mengembang tak seikhlas awal permainan. Ada sesuatu mengganjal dalam hatiku. Entah mengapa, saat melihat matanya, aku seperti takut pada rasa kehilangan.
***
                Aku wanita yang baru saja mengenal cinta. Aku belum paham apakah cinta hanyalah ruang untuk dua orang atau bisa juga untuk tiga orang. Hati pada akhirnya melangkahkan harapanku pada Jerry. Pria yang semakin aku kenal, semakin tak kupahami juga jalan pikirannya.
                Dia kekasih sahabatku.
                Iya, aku tahu, ini kesalahanku yang tak bisa menahan diri agar tak jatuh cinta dengan orang lain. Tapi, apakah manusia bisa menduga dengan siapa dia akan jatuh cinta? Omong kosong jika orang ketiga adalah sumber masalah dari segala macam pertengkaran antara dua orang yang saling mencintai. Aku tak pernah memaksa Jerry untuk terus bersamaku, dia yang mendatangiku ketika aku membutuhkan kehadirannya. Terkadang, aku sedih dan sepi sendiri; aku berprinsip tak akan memperlihatkan air mataku di depannya. Aku cukup kuat menahan diri agar tak menangis di depannya.
                Aku tak ingin kehadiranku mengganggunya. Aku tak ingin hubunganku bersama Jerry menyebabkan air mata di pelupuk mata sahabatku sendiri. Kepercayaanku sepenuhnya untuk Jerry. Aku percaya bahwa pelukannya, kata-katanya, dan tindakan manisnya hanya ia berikan untukku satu-satunya. Aku percaya segalanya tentang Jerry. Aku tak mau tahu apa yang telah dilakukan Jerry bersama dengan sahabatku. Aku tak mau tahu, tapi sahabatku selalu bercerita padaku tentang yang ia lakukan bersama Jerry. Itu membuatku muak dan ingin menangis sekencang-kencangnya. Apa salahku hingga aku dibikin sakit begini?
                Mungkin, ini kesalahan yang aku buat sendiri. Mungkin....
                “Sayang!” Jerry menepuk bahuku. “Kenapa murung?”
                Ia duduk tepat di depanku, matanya meneliti wajahku yang terlipat cemberut.
                “Hari ini, kamu dua tahunan sama dia kan? Nggak kasih kejutan?”
                “Sehabis pulang dari sini, aku mau kasih kejutan sama dia. Kamu mau bantu?”
                Aku terdiam. Dengan membantu memberi kejutan mengenai hari jadi hubungan mereka, hal itu turut membantu menggoreskan luka baru bagiku.
                “Kaupergi sendiri sajalah. Tugasku banyak.”
                “Tugasmu banyak atau kamu takut cemburu?” dengan nada yang baginya lucu, ia menertawaiku.
                “Cara becandamu murahan.”
                “Kalau kamu wanita murahan.” Jerry tertawa lebih kencang kali ini.
                “Bukankah hanya pria paling murahan yang hanya tertarik wanita murahan? Kamu lebih murah.”
                Jerry berhenti tertawa.
***
                Aku melihat senyum bahagia mereka dari kejauhan. Suasana senja kala itu seperti adegan film paling romantis, tapi paling miris dalam pandanganku.
                Jerry mencium kening sahabatku dengan mesra, menyematkan cincin di jari manis sahabatku, kemudian memeluk sahabatku dengan pelukan paling mesra. Pelukan yang nampaknya tak kurasakan sehangat itu ketika bersama Jerry.
                Dari kaca mobil, aku bisa menangis tanpa terlihat oleh Jerry. Aku selalu menangis di belakangnya, karena dengan cara seperti itu; aku tak akan terlihat lemah dan terluka parah.
                Beberapa menit kemudian, kulihat Jerry mengambil jarak sebentar. Ia berjalan menjauhi sahabatku dan mengambil ponsel di celana jeans-nya. Aku tahu ia meneleponku, karena handphone-ku bergetar hebat kala itu.
                Bagiku, itu mengagetkan. Ia masih bersama sahabatku, namun ternyata ia masih memikirkan aku. Aku heran dan mencoba menepis prasangka-prasangka baik mengenai Jerry. Aku memilih melajukan mobilku, mematikan handphone-ku, memutar musik keras-keras, agar tangisku— tak terdengar memilukan.
                Aku tak perlu ada ditengah-tengah kebahagiaan dua orang.
    Harusnya kesadaranku tumbuh sejak awal, agar aku tak terlalu perih.
    Mungkinkah ini kesalahan?
    Mengapa orang ketiga selalu dipersalahkan? Apakah mereka  tahu yang sesungguhnya aku
rasakan? Dalam suasana seperti ini, sebenarnya aku lebih butuh kehadiran Jerry; bukan kehadiran isak tangis.  
                Semua tak lebih dari tipuan, sama seperti saat Jerry memperlihatkan keahlian sulapnya.
                Hanya tipuan. Begitu juga soal perasaan.

09 March 2013

Ketika Aku Mulai Memahamimu

Awalnya, ini hanya perasaan kagum yang tak begitu kupedulikan, tapi ternyata aku salah; perasaan ini berkembang menjadi rasa takut kehilangan yang sulit kuhindari. Aku mulai menyayangimu tanpa sepengetahuanmu. Semua berjalan seperti biasa dan aku semakin menikmati kedekatan kita yang entah harus diberi nama dengan status apa.

Aku tak pernah takut saat mencintaimu. Layaknya air laut yang mengikuti lekuk gelombang, seperti itulah aku membiarkan rasa cintaku terus mengalir tanpa kendali. Percakapan setiap malam yang kauselipkan lewat pesan singkat mampu menyeretku ke perasaan yang dulu sangat ingin kuhindari; cinta. Kamu membuka mataku dengan tindakanmu yang ajaib, sampai-sampai aku tak lagi paham alasan yang harus kujelaskan; mengapa aku bisa begitu menggilaimu.

Cinta ini sangat tulus. Sungguh. Tak ada penuntutan yang kulakukan, aku juga tak mengganggumu, dan aku juga tak meminta status serta kejelasan. Aku tidak seberani itu kan? Kamu mengetahuiku juga mengenalku, tak mungkin jika kautak menyadari ada perasaan berbeda dalam hatiku. Aku bisa menebak matamu, ketika kamu bercerita tentang dunia yang ingin kausinggahi, saat kaumembawaku ke dalam dunia ceritamu yang sudah mulai kupahami. Aku berusaha memahami kemisteriusanmu.

Aku merasa sudah mulai memahami. Aku merasa punya kesempatan untuk sedikit mencicipi hidup menyenangkan bersamamu. Aku sanggup mengisi hari-harimu dengan kebahagiaan baru. Tapi, ternyata kita tak sejalan. Perhatian yang kusediakan khusus untukmu seakan menguap tak berbekas. Rasa cinta yang kuperjuangan dengan sangat demimu seolah-olah tak pernah mampir sedikit dalam benakmu. Kaubiarkan aku  mengejar bayangan, sementara kenyataan yang sesungguhnya entah kausembunyikan di mana. Batas kebahagiaan yang dulu kaujelaskan secara utuh padaku; kini buram dan hitam.

Tidak mungkin kautidak tahu bahwa aku mencintaimu. Tidak mungkin kautak memahami perhatian dan tindakanku. Tidak mungkin hatimu begitu buta untuk mengartikan segalanya yang kurasakan terhadapmu adalah cinta! Apa hatimu sengaja kaukunci rapat untukku? Apa matamu sengaja kaubutakan agar tak membiarkan bayanganmu menyentuh retinamu?

Langkahku terus mencoba menggapaimu, jemariku merasa menggenggam tanganmu; namun, ternyata semua kosong. Kukira, percakapan kita adalah hal yang spesial bagimu. Kusangka, semua perlakuanmu terhadapku adalah bukti bahwa kaumenganggapku istimewa. Nyatanya, aku salah menafsirkan. Bagimu, aku bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa.

Aku tak bisa menahanmu pergi. Bahkan, ketika kaumemilih habiskan kebahagiaanmu bersama yang lain, kemudian membiarkan aku sendirian. Tanpa mengucapkan pisah dan tanpa kautahu sudah ada yang tumbuh diam-diam di hatiku; cinta.

Ternyata, aku belum benar-benar memahamimu. Ternyata, aku belum benar-benar mengenalmu. Ternyata, kamu yang kuperjuangkan dengan sangat mendalam; tak sehebat yang kubayangkan.

05 March 2013

Makan di sampingmu

            Aku berjalan dengan langkah bingung. Asap rokok dan dengung suara pengunjung kantin seperti bergantian mengganggu indra penciuman dan indra pendengaranku. Mataku sibuk mencari dia, pria yang selalu ingin kutemui setiap usai kelas.
"Shena!" seseorang yang kuhapal garis wajahnya mengangkat tangan; memanggil namaku dengan suara nyaring.
Aku berjalan menghampirinya dengan senyum yang kuhias dengan lengkungan paling manis, barisan gigiku yang rapi kuperlihatkan seutuhnya. Senyum itu hanya untuknya.
"Udah makan?" Ia menepuk pundakku, bertanya dengan tatapannya yang teduh dan hangat.
Aku tak langsung menjawab, terpaku beberapa saat menemukan bola matanya benar-benar menyorot tajam mataku. "Gue belum makan, kenapa?"
"Beli ayam kremes deh, nanti gue bagi sama elo aja."
"Oke," tanpa menolak, aku segera meraih dompet di tasku, "Elo suka yang pakai sambal kan?"
Ia mengangguk setuju. Aku segera tahu kemauannya. Sambal adalah kecintaannya, tapi kebencian bagiku. Saat makan ayam kremes, sesampainya di rumah perutku langsung sakit luar biasa, seperti ada jutaan tangan yang mengoyak-ngoyak perutku. Sungguh, aku tak suka sambal, tapi demi bisa makan bersamanya; aku akan melakukan apapun, meskipun segalanya siksa bagiku. Bodohkah aku? Mungkin.
Aku mengantre cukup lama, karena ayam kremes adalah makanan paling laris di kantin. Setelah sepiring nasi bersama ayam dan sambal sudah ada dalam tanganku, aku segera berjalan ke arah mejanya. Ia sibuk berbincang-bincang dengan teman-teman yang lain. Mereka menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap rokok ke udara. Aku benci asap rokok, tapi demi bisa menatap wajahnya lebih lama; aku harus sering menghirup asap rokok. Salahkah aku? Mungkin.
Aku duduk di sampingnya, ia memasang senyum paling manis untukku, yang kurasa hanya untukku.
"Nasinya gue minta banyak, karena gue tahu elo pasti ikutan makan."
Pria itu tertawa geli. Pria yang selalu ingin kujaga tawanya, yang selalu ingin kuabadikan senyumnya. Kami makan bersama, dia mencolek nasi beserta ayam kremes ke sambal yang telah kusediakan khusus untuknya. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Aku perhatikan cara ia mengunyah makanan, cara ia mencibirkan bibirnya ketika sambal menyentuh lidahnya; aku tersenyum dalam hati.
Aku selalu suka saat bisa makan ayam kremes bersamanya. Saat lengan kita bertemu karena aku duduk tepat di sampingnya. Itulah waktu yang paling tak ingin kusia-siakan. Hanya saat makan ayam kremes, aku bisa merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku, semakin menguat ketika kudengar dia bercerita dengan mulutnya yang masih penuh dengan nasi.
Saat makanan kita habis, ingin rasanya aku membeli ayam kremes, dan mengulang lagi waktu yang berlalu tadi. Aku ingin terus makan ayam kremes bersamanya. Saat bersamanya, hal bodoh lainnya segera kulupakan. Aku jadi suka menantang lidahku dengan sambal dan aku jadi senang makan ayam; kesukaanku sebenarnya ikan. Iya, aku melakukan banyak hal, mengubah kesukaanku, mengubah tata sikapku saat di depannya. Aku tak ingin terlihat cacat di mata pria yang sangat kucintai.
Dia mengubah rasa ayam kremes di lidahku menjadi nikmat dan tak terlupakan. Sebenarnya, bukan persoalan ayam kremesnya. Aku hanya tak ingin melewatkan saat-saat bisa berdekatan dengannya, saat kami makan ayam kremes.
"Thanks, ya, udah nemenin makan." ucap pria itu sambil meraih air putih yang juga kebelikan untuknya.
Aku mengangguk lemah. Karena tak begitu tahan pada asap rokok, aku meninggalkan dia bersama teman-temanku yang lain. Aku pamit, dengan senyum yang kubikin seakan tak terjadi apa-apa. Hanya satu hal yang begitu kukejar saat berada di kantin, makan ayam kremes bersamanya.
Aku meninggalkan meja dan bangku yang kududuki di kantin, berjalan dengan langkah yang kuat; menunggu pertemuan esok hari. Aku akan makan ayam kremes bersama dengannya lagi. Seperti biasa.
Dia akan selalu kupandangi seperti itu, dari sampingku ketika aku diam-diam mencuri pandang ke wajahnya. Dia akan selalu seperti itu, diam-diam kucintai.
***
Entah sudah berapa ayam kremes yang kuhabiskan bersama dengannya. Entah sudah berapa es teh yang kami minum bersama. Tak ada ikatan apa-apa, juga hubungan apa-apa. Tak ada pesan singkat yang kubaca setiap malam darinya atau sekadar sapaan ringan pada pagi hari. Aku mengharapkan itu semua, sungguh. Sudah berbulan-bulan aku memendam perasaan, tak mungkin dia tak tahu bagaimana perasaanku. Sudah banyak ayam kremes dan es teh yang kami habiskan bersama, tak mungkin dia tak menyadari segalanya.
Aku berlaku seperti biasanya, seusai kelas langsung berjalan menuju kantin. Harapku begitu besar terhadapnya, ada sesuatu yang harus kukatakan. Apa gunanya merasakan jika tertahan dan tidak diungkapkan? Apa untungnya mencintai tanpa perjuangan sama sekali?
Iya, aku berjalan ke arahnya. Mata kami sempat bertemu, tapi tak kulihat lambaiannya tangannya mengarah kepadaku. Dia hanya tersenyum tipis, seakan tak mengundang aku ke mejanya.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Mendengar jawabannya yang singkat, aku terdiam. Dia tidak menungguku.
“Tadi makan apa?”
“Ayam kremes.”
“Beli sendiri?”
“Iya. Sendiri.”
Sesingkat itulah jawabannya. Ada sesuatu yang berbeda. Aku mencoba membuka percakapan, mencoba mencari kesalahanku sehingga sikapnya tak seramah kemarin.
Ketika kehabisan bahan percakapan, aku kelaparan; sangat lapar. Aku sengaja tak sarapan sejak pagi agar bisa makan bersamanya. Aku tak bisa terlalu kenyang. Itulah yang kulakukan hampir setiap hari, tidak sarapan agar saat makan siang aku bisa menyantap ayam kremes bersamanya. Aku selalu ingin duduk di sampingnya. Sembari menghilangkan rasa lapar, aku pamit membeli ayam kremes di tempat biasa. Ia mengangguk lemah.
Sepiring ayam kremes dan segelas es teh sudah ada di tanganku. Aku berjalan pelan-pelan mendekati meja. Ia seakan tak ingin menatapku. Aku segera duduk di sampingnya, memakan ayam kremes sendirian. Baru kali itu, aku makan tanpa menyentuh lengannya. Dulu, setiap makan ayam kremes, lengan kami bisa bersentuhan.
Ada celah yang memisahkan tempat duduk kami.
Kami berjarak.
Aku sedang sibuk-sibuknya mengarahkan sendok dan garpu di piringku, sampai pada akhirnya seseorang dengan wangi parfum menyengat duduk di sampingku, juga di dekat pria yang kucintai sejak dulu.
Mataku tajam tertuju pada wanita itu. Aku mengamatinya dari ujung kaki sampai tempurung kepalanya. Wanita itu menyentuh lembut rambut pria yang kucintai. Sungguh hebat! Bahkan aku tak pernah bisa menyentuh rambutnya. Aku hanya bisa melakukan hal yang menurutku manis; makan ayam kremes bersamanya.
“Sayang, udah lama ya nunggunya?” wanita itu mulai membuka suara, belaiannya kini menyentuh bahu pria yang kucintai.
Menatap pemandangan itu, aku tak bisa berbuat banyak. Aku sudah mulai menebak-nebak.
“Eh, Shena, ini pacar gue.” dengan senyum bangga, ia mengenalnya pacarnya padaku.
Aku mengulurkan tangan, mencoba memasang senyum paling manis meskipun kala itu hatiku sebenarnya teriris. Wanita itu menatapku dengan tatapan yang menyebalkan, rasanya aku ingin menepis fakta yang sesungguhnya sudah ada di depan mata.
Selama ini, aku hanya sekadar teman makannya, bukan teman hidupnya. Aku yang tolol, terlalu banyak berharap.
Mereka sibuk berbicara berdua. Aku sendirian memakan ayam kremesku. Ayam kremes yang dulu terasa menyenangkan di lidahku sekarang terasa sangat hambar. Pria itu mengubah rasa ayam kremes di lidahku seperti makanan tanpa garam yang sungguh tidak mengundang selera.
Dan, akhirnya perasaanku memang ditakdirkan untuk tertahan, tanpa diungkapkan.
Aku bersumpah tidak akan lagi makan ayam kremes setelah ini.
Tidak.

03 March 2013

Jangan bilang rindu!


Aku menulis ini bersama rasa sakit yang tidak benar-benar kamu pahami. Aku menatap laptopku dengan wajah masam, berujung pada perasaan yang tidak berhasil kautebak. Mengertikah kamu, perjuanganku juga butuh kepedulianmu?

Entah karena kauterlalu bodoh untuk menilai atau terlalu egois untuk memaklumi. Aku mencoba sabar, mencoba sabar menghadapimu. Aku berusaha bertahan, berusaha mempertahankan yang harusnya aku lepaskan. Aku sudah menunggu sangat lama, mengharap pengertianmu menderas ke arahku. Tapi, hal itu tak kunjung kutemui. Kamu masih begitu, dengan omonganmu, dengan tingkahmu yang tak berubah.

Apakah kesabaran dan perjuangan yang kulakukan benar-benar tak terlihat di matamu? Kaumengetahui segalanya kan? Mengapa hanya diam dan bisumu yang selalu kudapati di hari-hari kebersamaan kita?

Aku ketakutan dan kedinginan sendirian. Kamu tak pernah ada di sini saat aku butuhkan. Aku juga tak paham lagi, pantaskah kebersamaan kita terus aku perjuangkan? Pantaskah sosokmu selalu kupertahankan? Jika yang kudapatkan hanya pengabaian, ketidakpedulian dan kebohongan; bagian manakah yang bisa memberi kebahagiaan?

Kamu jauh di sana, tak banyak yang kaulakukan selain mengirim pesan singkat atau menyapaku dari ujung telepon. Tak banyak yang bisa kita lakukan selain saling merindukan. Rasa perih itu semakin membesar, membentuk luka yang mungkin sulit sembuh. Semakin sering aku tak melihatmu, ketakutanku di sini semakin menebal.

Perlukah aku membandingkan kamu dengan pria-pria lain yang lebih pandai meluangkan waktunya untukku, daripada sedikit waktu yang kauluangkan untukku? Kamu tak pernah peduli pada sakitku, perihku, dan sedihku. Kaubiarkan aku menyelesaikan segalanya sendirian. Inikah wujud kepedulian yang selalu kauributkan denganku? Mana kepedulianmu? Mana kehadiranmu? Kosong!

Jangan bilang rindu, jika kautak bisa ke sini untuk buktikan perasaanmu.

22 February 2013

Setiap Hujan


                Hujan rintik-rintik kala itu. Tangis gerimis dari awan yang menaungi kota Depok jatuh satu-satu. Nino buru-buru berlari menuju tempat berteduh. Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan, ia menengadahkan kepala agar bisa menatap hujan dan awan mendung. Tempat berteduh tak begitu ramai, hanya ada seorang pria berambut ikal yang membiarkan rambutnya agak basah karena terkena hujan. Nino dan pria itu berdiri sejajar. Mereka sama-sama sibuk menatap hujan dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
                Jalanan di dekat jembatan Margocity-Detos mengalirkan air yang deras karena hujan. Nino masih berteduh di sana, sesekali ia mencuri pandang ke arah pria itu, pria yang sejak tadi juga berteduh dan juga memeluk kedinginan tubuhnya sendiri. Ia terlalu serius sampai-sampai ia lupa telah membawa payung kecil yang diletakkan di tasnya. Nino menertawakan dirinya sendiri, dengan senyum tipis yang hanya dimengerti olehnya sendiri. Ia membuka payung, memegang payung dengan erat dan siap-siap berjalan.
                Wajah pria itu disaring oleh ingatannya. Wajah itu bukan wajah yang asing. Terlalu asik memikirkan masa lalu. Menyadari pria itu bukanlah pria yang asing, Nino seakan tak perlu terlalu gugup. Ia juga tak ingin mengingatkan pria itu pada masa-masa yang dulu pernah mereka lewati.
                “Kamu mau masuk ke Margocity juga?” ucap Nino dengan suara tipis.
    Pria itu tak segera menjawab. Mungkin suara Nino teredam oleh derasnya suara hujan.
                Merasa diabaikan, Nino kembali mengulang ucapannya, “Mau bareng? Aku ke Margocity juga.”
                Mata pria berambut ikal itu membulat. Ia menoleh dan mulai membuka suara, “Boleh.”
                Dan, mereka berjalan lambat-lambat. Rapat-rapat.
                “Tadi bukannya kita berteduh bareng? Kenapa payungnya nggak segera kamu buka?”
                “Aku juga lupa kalau ternyata aku bawa payung.”
                Mereka tersenyum bersama, tak ada tawa yang begitu meledak. Alas kaki mereka sama-sama basah. Baju mereka juga agak basah. Pria itu masih memeluk tubuhnya sendiri, menghangatkan dadanya dengan melipat tangan di depan dada. Itulah gerakan yang paling Nino ingat. Gerakan yang selalu pria itu lakukan beberapa tahun yang lalu. Nino tidak akan pernah lupa. Tidak akan.
                Selama berbicara, sungguh Nino tak pernah berani menatap mata itu. Mata yang bertahun-tahun membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Ia tak ingin tahu warna mata itu, mata yang sinaran dan tatapannya berusaha Nino hindari sebisa mungkin.
                Langkah mereka santai memasuki lobby Marocity, sambil melipat payung, pria itu pamit meninggalkan Nino. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih.
                Percakapan terhenti, tak ada yang ingin memulai pembicaraan lagi. Hening mengitari mereka. Rasanya hujan kali ini tak sedingin hujan seperti kemarin. Menderasnya hujan tak membekukan hati Nino, kali ini ia malah merasakan ada yang bergerak pelan-pelan di hatinya, perasaan hangat yang dulu sekian lama ia diamkan dan ia abaikan.
                Nino menatap bahu itu. Mulai menjauh. Ia membiarkan sosok itu pergi, tanpa berbicara lebih jauh dan lebih dalam.
Sekarang, penyesalan membuncah dengan liar. Penyesalan yang juga dulu ia rasakan. Ingin mengejar, tapi seperti ada rantai yang menahan langkahnya.
Sungguh, ia tak ingin penyesalan itu terulang lagi.
Ia tidak ingin kesedihan yang sama terjadi lagi. Tidak!

***

 Nino tak heran jika pemandangan yang ia lihat beberapa hari ini selalu sama. Setiap pulang kuliah, ia selalu pergi ke tempat itu. Tempat ia bertemu dengan pria berambut ikal yang mulai sering masuk ke dalam pikirannya. Nino selalu membawa payung. Untuk berjaga-jaga, kalau-kalau pria itu muncul dan melahirkan kejutan baru saat hujan datang. Tapi... pria itu tak pernah datang, Nino juga tak lagi melihat sosok itu.
 Seminggu terlewati, pria itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Dalam kesabarannya, ia masih terus berharap. Ia ingin suasana seperti kemarin terulang lagi, saat hujan datang dan Nino bisa merasakan lengan pria itu menempel di lengannya.
“Kembalilah, jangan buat aku menunggu untuk yang kedua kalinya.” bisik Nino perlahan.
Apakah Tuhan mendengar bisikannya? Apakah pria itu mengetahui isi hatinya?
 Hujan turun tiba-tiba, deras sekali. Kali ini, baru kali ini, Nino lupa membawa payung. Ia menatap hujan sambil memeluk dirinya sendiri. Ia hanya berteduh sendirian. Dalam lirihnya, cipratan air secara sontak mengenai bajunya. Semakin kesal Nino kali ini.
  Ia jadi menyesal, mengapa ia harus menunggu seseorang yang belum tentu datang? Nino memaki dirinya sendiri.
 “Sendirian?”
  Suara yang tak asing itu terdengar mengagetkan bagi Nino. Nino menoleh cepat.
 “Ngagetin ya? Kamu nggak bawa payung?”
 “Ketinggalan.”
 “Aku bawa payung, kamu mau masuk ke Margocity juga?”
 Nino mengangguk malu-malu. Pria itu, pria yang ia temui seminggu yang lalu kini berada di depannya. Menawarkan diri untuk memayunginya.
 Mereka berjalan rapat-rapat, walaupun hujan semakin deras, dan angin semakin kencang; rasanya segala halangan itu tak memupus harapan Nino untuk membangun percakapan.
Kali ini ia yang harus memulai, tak ingin lagi ia menunggu. Tak ingin lagi ia kehilangan seseorang untuk yang kedua kalinya. Tidak!
 “Bagaimana di sana? Menyenangkan?”
 “Di sana mana?”
 “Di Boston. Sudah dapat gelar? Kok sudah pulang?”
 Pria manis bergidik, seakan ia buronan yang tertangkap basah, “Aku pulang karena ingin menemui seseorang.”
 Tatapan Nino menyelidik, “Siapa?”
 “Kamu.”
 Nino terdiam, ia tak melanjutkan langkahnya. Pandangannya lurus, mulai berani menatap mata pria itu. Hitam kecoklatan, itulah warna bola mata yang akhirnya Nino ketahui setelah bertahun-tahun ia tak pernah berani menatap mata itu. Hidungnya, bibirnya, matanya, dan lekuk pipinya tak begitu berubah. Dia tetap jadi seseorang yang cukup Nino kenal, dan paling sering ia rindukan, walaupun Nino tak berani melakukan banyak hal selain menatap dari kejauhan dan mencoba menyusun percakapan basa-basi. Itu dulu, ketika mereka masih bersama, ketika perpisahan belum jadi pemeran antagonis yang memisahkan mereka.
 Sontak, Nino memeluk rapat tubuh pria itu. Pria yang menghilang selama bertahun-tahun tanpa ucap pisah. Pria yang dari sikapnya seakan tak menganggap Nino wanita yang spesial. Tidak akan ia lepaskan lagi. Tidak akan ia sia-siakan lagi.
 “Sudah jangan pergi lagi.”
 “Ini baru pulang, masa mau pergi lagi?”
 Hujan semakin deras, dan rengkuh peluk mereka seakan tak terlepas.