17 July 2014

Kompetisi Menulis #JCDD2 :)

Halo, masih ingat kompetisi menulis bareng aku yang pernah aku adakan yaitu #CeritaCintaKota dan #CeritaHororKota, yang bukunya telah laris manis di pasaran? Aku mau mengulang kesuksesan itu bareng teman-teman followers-ku dan para pembaca setiaku yang ingin mewujudkan mimpinya bersamaku. Aku ingin memberi sebuah gambaran bahwa tulisan diterbitkan oleh penerbit besar bukanlah sebuah mimpi yang terlalu tinggi. Yuk, wujudkan mimpimu bersamaku! Gimana caranya?


1. Kompetisi menulis #JCDD2 terbuka untuk semua kalangan dan semua orang yang telah membaca buku #JatuhCintaDiamDiam :)

2. Kenapa harus baca? Setelah baca #JatuhCintaDiamDiam kamu bakalan ngerti cerita seperti apa yang kucari dan penerbitku cari #JCDD2

3. Belum punya buku #JatuhCintaDiamDiam tinggal miliki bukunya segera. Buku itu pedoman banget buat kamu nulis. #JCDD2

3. Bentuknya cerpen dengan tema jatuh cinta diam-diam. Boleh kisah nyata, boleh fiksi. (3000-4000 kata) font bebas. Perhatikan jumlah katanya, ya, bukan halamannya. Minimal 3000 kata. :) #JCDD2

4. Cerpen yang kamu tuliskan untuk kompetisi menulis #JCDD2 bisa kamu kirim lebih dari satu, lho~ :* #JCDD2

5. Cerpen tersebut HARUS dimuat di blog kamu sendiri. Gak punya blog? Ya, bikin blog. :D Belajar PUBLIKASIKAN tulisanmu! #JCDD2

6. Cerpen dimuat di blog-mu sendiri. Boleh dengan blogspot, wordpress, tumblr, dan sebagainya. Yang penting tulisanmu dipublikasikan #JCDD2

7. Di halaman blog kamu harus ada gambar logo @KlubCeritaDwita dan avatar Twitter kamu juga harus pakai gambar itu. #JCDD2


8. Setelah posting di blog, kirim tweet dengan format: (JUDUL NASKAH) – (NAMA) – #JCDD2 – link tulisan – @_PlotPoint @KlubCeritaDwita

9. Tweet berisi link posting-an blog harus disertai selfie bareng buku #JatuhCintaDiamDiam ya! Makanya kamu harus punya bukunya. #JCDD2


10. Contoh tweet:



11. Tweet ini harus disertai foto selfie, ya. :) Penting banget untuk memberitahukan bahwa kamu jadi peserta kompetisi menulis #JCDD2 beserta link tulisan kamu. :)

12. Naskah paling lambat diterima pada 06 Juli-06 Agustus 2014 pukul 00:00 (waktu jam kantor @_PlotPoint). Jangan lupa di-tweet, ya! #JCDD2

13. Naskah terbaik akan diumumkan pada 06 SEPTEMBER 2014 pukul 20.00 di akun Twitter-ku, @_PlotPoint, @KlubCeritaDwita dan blog. :) #JCDD2

14. Naskah terbaik juga akan DIBUKUKAN oleh @_Plotpoint :') Pemenang juga harus bersedia menjalani proses penyuntingan naskah. #JCDD2

15. Kompetisi menulis #JCDD2 berhadiah KARYAMU DITERBITKAN dan uang tunai Rp500.000 :’)

16. Kompetisi menulis #JCDD2 TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN, ya! :) Berimajinasilah lalu menulislah! :*

17. Akan dipilih 10 tulisan terbaik, ya, yuk tulis sekarang juga! :* #JCDD2

Udah tahu, kan, syarat kompetisi menulis #JCDD2 ini? Yuk, tulisankan perasaanmu melalui cerpen dan posting di blog sekarang! :*

16 July 2014

Ketakutan Terbesarku

Aku menulis ini ketika air mataku telah mengering. Kita baru selesai bercerita panjang lebar, kemudian kamu memilih untuk berhenti membuka semua duniamu karena ingin melanjutkan pekerjaanmu. Aku tidak tahu bahwa pria setangguh dan sehumoris kamu pernah disakiti seluar biasa itu dan rasanya aku ingin marah besar, memukul, menangis, meradang, ketika tahu seorang wanita yang pernah menyakitimu, meminta kembali untuk menemuimu. Emosiku makin memuncak ketika mengetahui wanita itu mengucap sayang dan rindu hingga berembel-embel tak bisa melupakanmu. Saat itu, aku marah besar. Rasanya ingin kukeluarkan semua tenagaku untuk memaki wanita itu, tapi mengingat status kita yang hanya teman biasa, aku kembali bungkam untuk yang kesekian kalinya.

Akhir-akhir ini, meskipun pekerjaanku sangat banyak, ternyata aku masih punya waktu untuk memikirkanmu. Di sela-sela ketika aku menulis tentang karakter tokoh dalam novelku dan tokoh itu kurasa setampan kamu, aku langsung mengingatmu dan meraih ponsel untuk menghubungimu; walaupun sekali lagi pesan-pesanku selalu kaubalas dalam hitungan jam.

Kamu datang membawa energi-energi baru dalam redupnya duniaku. Aku, si penulis lugu yang senang menangis dalam tulisannya ini sedang sibuk meraih dan memilih luka mana yang harus diabadikan dalam tulisan. Lalu, kauhadir dengan membawa kebahagiaan yang sulit kupahami, kamu mengabaikanku dengan sangat gilanya tapi hal itu membuatku semakin ingin berada bersamamu.

Perkenalan kita biasa saja, itu semua karena kenakalanmu yang menggodaku dalam aplikasi chat yang digunakan para pencari jodoh di dunia maya. Aplikasi chat berisi orang-orang kesepian, yang mencari kehangatan dalam balutan tulisan dan candaan percakapan. Kita terjebak dalam ruang itu dan aku tak bisa melawan bahwa ada kenyamanan yang kaubawa dalam hari-hari sepiku. Kamu bercerita tentang dunia yang belum pernah kusinggahi, kamu bercerita mengenai pekerjaanmu, kisah cintamu yang pilu, keluargamu, dan segala hal yang membuatku merasa dihargai. Aku merasa punya hak tersendiri bisa mendengar ceritamu, darimu yang mengalami langsung.

Aku tak pernah berpikir bahwa kenyamanan ini akan berlanjut pada rasa takut kehilangan. Sementara kita, sedang dalam proses sama-sama mengobati luka lama, sama-sama trauma dalam cinta, dan sama-sama ingin fokus pada dunia kerja. Aku tak tahu apakah kenyamanan tumbuh karena kebosananku pada rutinitasku selama ini atau memang sosokmu yang spesial itu sengaja dikirimkan Tuhan untukku?

Dan kamu memeluk tubuhku seperti seorang kakak, mencium keningku seperti seorang ayah, mencium pipiku seperti seorang kekasih, berbisik di telingaku seperti seorang sahabat, menemaniku layaknya saudara; aku semakin terbiasa pada semua tindakanmu. Aku tak ingin berharap terlalu jauh, tapi kedekatan kita tak bisa melarangku untuk tidak memiliki perasaan apapun padamu. Rasanya bohong satu juta persen kalau aku tidak mencintaimu dan tidak takut kehilangan kamu. Aku tahu kaupun tak akan mungkin percaya ada cinta di mata seorang perempuan, yang kaukenal bisa mudah jatuh cinta dengan banyak orang. Ingin kujelaskan semua bahwa penilaianmu itu salah, kamulah satu-satunya jawaban dari doa panjangku. Aku ingin membawamu berjalan lebih jauh lagi, tapi aku pun belum berhasil mengobati perih lukamu, sisa-sisa masa lalumu. 

Aku terus ingin memelukmu, agar tidak pernah kehilangan kamu dan tak akan lagi mencicipi luka ditinggal saat sedang cinta-cintanya. Aku selalu ingin menahanmu pergi, ketika kauharus kembali bergelut dengan dunia kerja, di saat-saat itu juga kamu menghilang dan tanpa kabar. Aku selalu ingin agar waktu berhenti ketika kita bertemu, sehingga aku bisa lebih lama memandangimu, memelukmu, mengajakmu membicarakan mimpi-mimpi kita. 

Harapanku begitu besar padamu dan aku yakin ini semua salahku karena berharap terlalu tinggi. Tapi, apakah berharap menjadi milikmu adalah keinginan yang terlalu tinggi? Kita sudah terlalu dekat, namun ada sekat tak terlihat yang memisahkan hati kita masing-masing, sekat yang bertuliskan "Jangan lanjutkan atau kamu terluka sendirian." Trauma-trauma masa lalu yang masih aku dan kamu usahakan agar segera sembuh. Aku pernah menunjukkan air mata di depanmu dan kamu kebingungan mengapa wanita yang terlihat baik-baik saja seperti aku bisa menunjukkan air mata di depanmu?

Sebenarnya, sederhana saja. Air mata itu terjatuh bukan karena inginku, tapi keinginan hatiku yang tak ingin kamu pergi, tak ingin kita berakhir tanpa alasan yang jelas, tak ingin kita berhenti berjalan ketika di ujung jalan sana; kita telah melihat cahaya terang. Aku takut pada semua hal itu, pada kemungkinan-kemungkinan lain yang tak akan membuatku bahagia. Aku sudah menemukanmu dan tak ingin melepaskanmu, apalagi membiarkan wanita yang hidup di masa lalumu untuk kembali menyakitimu lagi. 

Sekarang, aku sedang ketakutan. Takut kamu berubah ketika aku sedang sangat merasa nyaman padamu. Aku takut kamu pergi ketika aku mulai meletakkanmu di sudut hatiku paling dalam. Ketakutan terbesarku adalah selama ini kamu hanya menganggapku temanmu dan ketika ada teman lain yang lebih baik; kamu akan pergi tanpa perasaan, seakan tak meninggalkan seseorang yang telah lama memperjuangaknmu.

dari adikmu
yang pengecut.

30 June 2014

Selamat Ulang Tahun, Ksatriaku

Sebelum hari ini berubah jadi kemarin, aku hanya ingin mengucapkan rasa syukurku karena bisa mengenalmu sejauh ini, walaupun pada akhirnya kita tak saling berkenalan sejauh yang kuharapkan. Kepergianmu yang tanpa isyarat itu benar-benar membuatku seakan kehilangan udara. Aku yang sibuk mencari oksigen kebahagiaan seakan kausemburkan asap rokok penuh racun agar semakin merusak paru-paruku. Anehnya, meskipun kamu menyakitiku, aku tak pernah memilih untuk menjauhimu. Bodohkah aku? Ah, kamu tentu tahu, Ksatriaku, wanita bodoh, yang sedang jatuh cinta, tak pernah memikirkan kebodohannya, ia hanya tahu yang ia sebut pengorbanan. Pengorbanan yang mungkin terbungkus secara gaib, pengorbanan yang mengatasnamakan; cinta.

Kamu semakin dewasa dan kuharap beberapa sikapmu bisa berubah. Meskipun mustahil bisa dekat denganmu lagi, meskipun hanya mimpi bisa kembali menggenggam jemarimu, aku hanya ingin berharap suatu hari nanti kaubisa berdiri sendiri, dengan kekuatanmu sendiri, dan aku di sini hanya bisa menatapmu dari jauh, menangis diam-diam, dan menyebut namamu dalam setiap doa panjangku. Tak ada yang lebih masuk akal saat ini, aku hanya bisa mendoakanmu dan berharap Tuhan masih ingin mengasihaniku hingga menarik tubuhmu yang begitu jauh agar segera mendekat ke arahku. Aku ini telah kaubuat begitu gila, hingga aku tak tahu apakah sosokmu memang pantas diperjuangkan atau ditinggalkan saja seperti kamu dengan mudah meninggalkanku. Sayangnya, menjadi perempuan yang tega dengan orang yang sangat ia cintai bukanlah hal yang mudah. Dan, meninggalkanmu walau sesat bukanlah hal gampang yang bisa kulakukan. 

Perasaan ini, Sayang, seperti letupan keras yang bersuara tapi tak bergema. Aku pernah ada, namun untuk selanjutnya aku tak jadi siapa-siapa untukmu. Aku lenyap dalam jutaan pujian dari sekian banyak  orang yang menggilaimu. Sekarang, aku kembali jadi perempuan kesepian, yang menunggu ksatrianya pulang dari perang. Pernah aku ikhlas melepaskanmu dan hal itu membuatku menyesal sepanjang waktu, mengapa dulu tak kutahan saja kaupergi, agar aku tak kausakiti begini?

Sayang, bukan aku ingin mengemis, sungguh kautentu tahu. Aku perempuan yang takut untuk bicara, aku hanya bisa menumpahkan semua kekesalanku, kesakitanku, dan rasa bersalahku dalam tulisan. Aku tak tahu siapa yang salah dan aku tak ingin tahu apalagi menyalahkan siapa yang sesungguhnya harus bertanggung jawab atas semua perih yang kuterima. Tapi, aku mencoba tegar menghadapi ini semua, karena aku yang memilih untuk memperjuanganmu, aku yang memilih mencintaimu, aku yang memilih berdarah-darah untukmu.

Tak akan kusalahkan siapapun. Tak akan kusalahkan kamu, mereka, apalagi dia. Sebagai wanita yang tak bisa apa-apa, izinkan aku memberi lambaian tangan terakhir untuk mengikhlaskanmu pergi, sekarang atau selamanya. Biarkan aku jadi wanita yang sabar menanti, meskipun kutahu ksatriaku tak akan pulang ke rumah. Biarkan aku sibuk menunggu di beranda, meskipun kutahu kautak akan membuka pintu pagar dan memelukku sembari mengucapkan rindu dengan suara yang pelan serta sedikit kaku. Biarkan aku jadi perindu, yang sabar menunggu, meskipun kutahu, ksatriaku tidak pernah meminta untuk ditunggu

Selamat ulang tahun, pria pembawa tawa. Terima kasih telah singgah. Terima kasih pernah hadir. Terima kasih untuk banyak hal yang tidak cukup hanya sekadar dihargai dengan kata terima kasih.

Kalau mau pulang, pulanglah. Berhentilah bertempur, Sayang, kamu butuh pelukan.

31 May 2014

Aku yang Kamu Sembunyikan

Pertemuan kita bukan suatu kebetulan. Aku selalu percaya itu dan entah dengan keajaiban apa, Tuhan menyebabkan kita saling berkenalan. Perkenalan itu tak menimbulkan kesan apapun pada awalnya. Aku menganggapmu pria biasa, yang ingin berkenalan, berbagi cerita, berbagi apapun yang bisa dibagi. Kamu tak pernah benar-benar tahu tentangku, seperti aku tak benar-benar tahu tentangmu. Kamu tak tahu aku penulis, yang kamu tahu aku hanyalah gadis lugu yang berkuliah di salah satu universitas ternama di Depok, yang kautahu aku hanya gadis belasan tahun yang punya banyak mimpi, dan yang kautahu aku hanyalah perempuan biasa yang tak banyak berdandan dan bersolek di depan cermin.

Kamu mengungkapkan kekagumanmu, aku pun juga mengungkapkan kekagumanku. Setelah banyak cerita, akhirnya kita memutuskan untuk bertemu. Langit Depok yang cerah kala itu menjadi saksi bahwa dua orang anak manusia dipertemukan semesta untuk jatuh cinta. Aku tak tahu hal ini dinamakan apa, kita berkenalan memang belum terlalu lama, namun rasanya aku selalu ingin berada di dekatmu juga berada di sampingmu. Kamu tak menuntutku untuk menjadi wanita yang seutuhnya bisa kauatur, kamu memperlakukanku semanis mungkin, menggenggam jemariku seakan tak mau kehilangan. Tahukah kamu, dari semua perlakuanmu padaku itu membuat aku semakin takut kebersamaan kita tiba-tiba terbelah karena komunikasi kita yang berantakan.

Aku tak tahu arti tatapan matamu setiap kali kamu membicarakan cinta padaku. Fakta-fakta yang tak bisa kupungkiri adalah dunia hanya sebesar daun kelor. Kita ternyata pernah satu sekolah dasar, sangat Depok sekali, sama-sama senang menertawakan diri sendiri. Aku tak mengerti arti genggaman tanganmu setiap kali kaubilang kaumulai mencintaiku dan tak ingin aku hilang dari pandanganmu. Aku tak tahu arti rangkulanmu di tengah hujan di kota Depok kala itu. Aku tak tahu arti janjimu untuk mengajakku ke gereja, ingin memperkenalkan aku pada ibumu, ingin ke rumahku bertemu dengan orangtuaku. Aku tak tahu, Hasianku, dan kenyataan yang harus kuterima adalah nampaknya aku mulai mencintai pria Batak yang selalu datang dan pergi ini. Nampaknya, aku mulai mencintai kamu.

Aku berjalan mengarungi hari bersamamu, menghadapi datang dan pergimu, bergelut dengan rindu yang mungkin tidak kaumengerti. Kamu terlalu gaib untukku, Hasian, kamu terlalu jauh untuk kugapai, dan aku yang sedang dalam keadaan sangat berharap ini sedang ketakutan jika kautiba-tiba pergi seakan tak pernah terjadi apapun di antara kita. Malam ini, aku sedang dalam keadaan mempertanyakan semua, mempertanyakan perasaanmu padaku, mempertanyakan apa tujuan hubungan yang kita jalani selama ini, mempertanyakan semua arti pelukan, candaan, bisikkan cintamu yang selalu berhasil memabukkanku.

Dalam keadaan sering kehilangan kamu, aku selalu mempertanyakan apa yang Tuhan mau. Aku melihat dirimu sebagai sosok pria yang tangguh, seiman, menyenangkan, humoris, dan pendengar yang baik. Kamulah pria yang selama ini kehadirannya selalu kutunggu. Pria sepertimulah yang langka bagiku, yang sangat jarang masuk ke dalam hidupku. Ketika menemukanmu, aku seperti menemukan oase menyegarkan yang menghilangkan dahagaku. Dahaga karena terlalu sering berlari dan mencari hal yang tak pasti, haus yang dihasilkan karena aku terlalu sibuk melompat dari satu hubungan ke hubungan lain, hingga aku lupa sebenarnya apa yang kucari selama ini.

Aku menatap matamu dan menyadari betapa semua ini bisa saja berakhir jika kaubosan. Aku ingin bilang padamu bahwa aku menginginkan status dan kejelasan, karena selama ini kausudah tunjukkan dunia yang membahagiakan untukku. Tapi, setiap kali melihat matamu, setiap kali mengingat perkenalan kita yang nampaknya tak lebih dari persinggahan buatmu, rasanya aku semakin merasa kecut. Aku ingin menangis dan air mata ini belum tentu kaupahami. 

Rasanya aku ingin memberhentikan pencarianku padamu. Rasanya aku ingin kaujadi akhir dari pelarianku. Rasanya aku ingin hubungan kita bisa lebih lama dari yang pernah kubayangkan dan kutakutkan. Rasanya aku ingin bertanya, apakah kaumulai mencintai sosok wanita yang tak pernah mengakui bahwa di luar dia adalah wanita hebat sementara bersamamu dia merendahkan hatinya, mengecilkan egoisnya, melumat habis gengsinya; karena dia sangat mencintai kamu. Rasanya aku ingin berkata padamu, bahwa aku menunggu kamu tak lagi menjadikanku pelarian, aku menunggumu tak lagi menjadikanku persinggahan. Aku menunggumu menjadikanku tujuan, menjadi tempat kauselalu pulang, menjadi peluk tempat kamu meletakkan tangis.

Jika kautahu wanita ini sudah tersakiti bergitu parah, sudah pernah dilukai habis-habisan oleh pria lainnya, masa, sih, kamu tak ingin bahagiakan dia dengan memberikan dia kejelasan status? Walau selalu terlihat tertawa dan jenaka, sebenarnya di dalam hati ini ada perasaan yang masih kusembunyikan; aku mencintaimu dan sedang dalam keadaan sangat takut kehilangan kamu.

Hasianku, maukah kau memperkenalkanku pada ibumu? Maukah kamu kuperkenalkan pada ibuku? Maukah kau berhenti menyembunyikanku dari sorotan mata dunia?

Sayang, aku butuh pengakuan.

dari perempuan
yang selalu mendengar bisikan ini darimu:
"kamu terlalu baik, Sayang."

27 May 2014

Setelah Satu Minggu

Untuk Pria bertatapan mata sendu, berbehel abu-abu, bersuara merdu.

Terima kasih untuk satu minggu yang penuh warna-warni, penuh hujan dan pelangi, penuh tanya dan misteri. Terima kasih untuk percakapan manis dalam setiap pesan singkat kita, dalam setiap sambungan telepon, dalam setiap tawa meskipun baru satu kali aku menatap matamu. Terima kasih untuk kisah-kisah baru yang membuat aku lengkap sebagai perempuan. Terima kasih kamu masih di sini, membiarkan aku membangun mimpi-mimpi baru, meskipun hingga saat ini kamu tak sadar; kamulah jawaban dari semua mimpiku.

20 Mei 2014, godaan yang tak kuharapkan mendapat balasan itu, ternyata kaugubris dengan hangat dan syahdu. Beberapa kata yang berujung pada percakapan intens melalui pesan pribadi di Twitter. Aku menyapamu dengan satu kata, "hey" yang kaubalas dengan tiga balasan, dengan satu emoticon senyuman. Saat membaca itu semua, kembang api lebaran segera melesat di dadaku, jentikkan jemariku di laptop semakin bersemangat ketika membalas pesanmu. Kita saling membuat janji, berkolaborasi dalam sunyi, mengawali yang belum pernah terjadi, mewujudkan semua yang hanya jadi mimpi-mimpi. Aku semakin dibuai dan terlena oleh kehadiranmu, rasanya aku tak ingin perkenalan ini dibatasi oleh ruang dan waktu. Rasanya aku ingin semua tak berjalan instan, atau kalau boleh aku sedikit berharap, aku ingin kauabadi dalam jengkal napasku.

Aku tahu kita berbeda dalam banyak hal, kamu pendiam, aku meledak-ledak. Kamu tak ingin bercerita banyak hal, sementara aku pun juga begitu, diam namun jahil dalam tulisan. Aku tahu, Sayang, media kita saling mengungkapkan cinta itu berbeda. Kaudengan candaan khasmu, aku dengan tulisanku, dan kita lengkap walaupun berbeda. Kehadiranmu sejujurnya berbeda dari pria-pria lainnya, yang membisikkan mimpi dan membiarkanku terlelap dalam tidur panjang. Kamu tidak begitu, Sayang, kamu pelan-pelan mengetuk pintu hatiku dan menyodorkan bunga mawar merah yang tak kusadari indah namun penuh duri.

Berkenalan denganmu ternyata bukan hal yang mudah. Aku merasa kamu terlalu sempurna untukku, aku terlalu lemah dan terlalu rendah untukmu. Sebagai wanita yang bukan siapa-siapa, aku hanya bisa melamunkan betapa suatu hari nanti kita bisa lebih dari sekadar teman bercanda. Lamunan itu seketika buyar ketika kutahu aku mungkin tak pernah terlihat lebih di matamu, mungkin kaupikir aku hanya akan jadi tempat singgah yang asik, sementara aku mengharapkanmu tetap tinggal dan tidak akan pernah pergi.

Iya, ini yang kubilang berharap terlalu tinggi. Salahku yang menginginkan semua lebih dari ini, salahku yang berharap kita bisa berjalan lebih jauh dari ini. Sayangnya, Sayang, ada jarak yang memisahkan kita, aku tak tahu jarak itu berbentuk apa, tapi aku merasa kita sangat jauh meskipun rasanya kauselalu ada di sini menemaniku meskipun hanya lewat pesan singkat dan telepon. Entah bagaimana caranya, kamu berhasil merenggut perhatianku tanpa sisa, kamu sudah jadi satu-satunya meskipun kamu memperlakukanku sebagai salah satunya. Sayang, luka karena aku mulai mencintaimu ini awalnya tak terasa perih, namun semakin aku mengenalmu, semakin aku merasa jauh darimu.

Setelah satu minggu perkenalan kita, rasanya aku perlu mendeklarasikan ini, membuat sebuah peringatan kecil bahwa kamu pernah hadir dan singgah, meskipun hingga sekarang kauhanya datang dan pergi. Setidaknya kamu pernah ada, membawa sesuatu yang kupikir cinta, memberi sesuatu yang ternyata berujung luka. Aku masih ingin menunggu kamu yang ramah dan hangat itu kembali, bukan kamu yang dingin, kamu yang memberi jarak, kamu yang tak sadar betapa aku sangat mencintai dan menggilaimu.

Atas semua perasaan aneh yang sebenarnya juga tak kupahami ini, aku ingin bilang sesuatu. Aku kangen kamu. Iya, kamu, malah noleh!

dari pengagummu
yang sedang ketakutan
takut perjuangannya diabaikan
takut cintanya dipermainkan.