05 August 2013

Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertama (3)



Sudah satu tahun berlalu sejak tulisan bertema sama telah kutulis. Aku menulis tentangmu yang bertambah satu umur lagi. Saat itu, aku tak tahu kauberada di mana, sedang bersama siapa, dan sedang menempuh pendidikan di mana. Saat ini pun, semua rasanya tak lagi berbeda, aku masih tak tahu apakah kamu masih mengingatku ataukah kamu punya perasaan yang sama terhadapku? Entahlah, memang perasaan itu sudah lama sekali, bahkan sudah menghilang. Tetapi, bukankah manusia adalah mahluk paling sulit untuk melupakan? Perasaan bisa hilang, tapi ingatan tidak.

Seperti tulisanku yang kutulis setahun lalu, nampaknya tulisan kali ini pun juga tak akan pernah kaubaca. Tulisan ini akan teredam oleh banyaknya perhatian yang tertuju padamu. Cerita ini tak akan membekas jadi apa-apa, segera terhapus dengan kehadiran orang-orang baru dalam hidupmu yang sekarang. Aku ingin cerita sedikit tentang pertemuan pertama kita. Kamu, si Anak Baru, masuk di kelasku yang cukup bringas. Kehadiranmu seperti angin segar bagiku, kamu begitu berbeda dari yang lainnya.

Aku masih ingat betapa rambutmu yang keriting, matamu yang tajam, dan hidungmu yang mancung begitu saja menghipnotisku. Dan, aku, yang saat itu masih kelas 3 SD, memang tak melakukan banyak hal selain diam-diam menatapmu dari kejauhan. Aku sungguh tak bisa bilang bahwa perasaan itu adalah cinta. Mungkin, aku hanya suka keterbiasaan kita. Aku hanya terlalu nyaman dengan kehadiranmu di sampingku. Dengan inisiatif yang tak dibuat-buat, kamu menghampiriku yang kesusahan menghitung volume balok. Dengan gaya pemimpinmu, kamu menjelaskan cara menghitung jarak tempuh, waktu tempuh, dan jarak sebenarnya. Sungguh, matematika adalah mata pelajaran yang paling kubenci sedunia, makanya saat ini aku ambil kuliah sastra. Namun, sepertinya justru matematika-lah yang menjembatani pertemuan kita.

Sejak kelas 3 SD sampai 6 SD, kita selalu sekelas. Berlanjut di Sekolah Menengah Pertama, kita pun juga satu sekolah. Sebagai penganut pepatah witing tresno jalaran soko kulino, aku tidak lagi heran jika perkenalan kita selama tujuh tahun itu pasti menghasilkan perasaan yang bisa saja disebut cinta. Iya, aku tak yakin ini cinta, tapi apa namanya perasaan takut kehilangan meskipun tak memiliki?

Kalau kamu membaca ini, mungkin kamu tertawa kencang, tapi, ya, mana mungkin kamu akan membacanya? Aku saja tak pernah jadi yang penting di matamu. Aku terlalu aneh untuk sosok sempurna seperti kamu. Aku selalu merasa kecil di matamu, mungkin itulah sebab aku tak pernah ingin bilang bahwa aku punya perasaan. Dan, itulah yang bisa kulakukan dalam rentan tujuh tahun. Aku hanya bisa melirikmu, diam-diam mencari tahu tentangmu, dan bersembunyi dalam banyak tulisanku. Oh, iya, aku sudah mulai menulis puisi norak tentangmu sejak kelas 6 SD. Saat aku percaya, kamu sudah jadi yang pertama.

Ingat ketika waktu Natal dan Paskah tiba? Di sekolah kita, selalu ada perlombaan menghias kelas setiap menjelang waktu Natal dan Paskah. Aku selalu suka saat-saat itu, saat aku bisa melihatmu tertawa lepas, berlari-larian dengan baju berantakan dan tanpa sepatu sekolah. Saat itu, aku hanya bisa menggunting kertas lipat dan karton, sambil sesekali menatapmu. Betapa dulu aku begitu pendiam dan begitu takut untuk mendekatimu. 

Waktu kelas 3 SD, selalu ada paduan suara ketika menjelang Paskah dan Natal. Aku masih ingat nama guru wanita yang berkacamata itu, guru bersuara merdu yang mengajari kita not-not angka sebagai sarana untuk menyajikan pujian terbaik untuk Tuhan. Saat itu, aku senang menatap alismu yang hampir tersambung, keseriusanmu dalam menyanyikan lagu pujian membuat aku percaya, kamu pun senang menjalin kedekatan bersama Tuhan.

Nampaknya, sudah cukup mengenang peristiwa itu. Aku pun ikut tersipu jika mengingat hal-hal bodoh yang kulakukan. Bahkan aku masih diam, ketika perpisahan SMP selesai. Bodoh, ya, cuma buat bilang “Aku suka kamu.” itu rasanya seperti memasukan diri ke dalam neraka. Sulit setengah mati. Lalu, sampai seterusnya, sampai sekarang, aku hanya berani menulis tentangmu. Mengingat betapa dulu aku dan kamu pernah begitu manis, begitu lucu, dan begitu lugu.

Umurmu sudah bertambah satu, apa yang kaudoakan pada Tuhan? Kalau aku, aku ingin Tuhan terus menjagamu dalam pelukanNya. Semoga kaumakin bersinar dengan caramu yang sederhana tapi memesona. Selamat ulang tahun untukmu, cinta pertama, tetaplah jadi yang terbaik; meskipun kamu hanya hidup dalam masa laluku.

Temui takdirmu. Temui aku? :D

01 August 2013

Dua Belas Minggu setelah Kepergian Kamu

Ini surat yang entah keberapa. Tulisan bodoh dari gadis tolol yang tak pernah kaugubris sama sekali. Tulisan di sini tentu saja tak pernah kaubaca, kaulihat, apalagi kaupahami. Di sini, ada seseorang yang setia menulis tentangmu setiap minggu, setiap hari Kamis, meskipun setiap mengingatmu hatinya selalu teriris.

Kali ini, aku ingin bercerita tentang seorang wanita yang sedang sangat sibuk untuk melakukan banyak hal. Berusaha mencari kesibukan baru agar dia tak lagi punya celah untuk mengingatmu. Wanita ini, tentu saja kaupernah mengenalnya. Dia pernah jadi bagian dalam hari-harimu meskipun hanya satu minggu. Lucu, ya, betapa pertemuan satu minggu bahkan bisa melekat selama dua belas minggu. Wanita ini adalah tempat kausempat berbagi tawa dan canda, sebelum akhirnya kaumembuat dia terluka.
Ini masih awal cerita, sekarang dia sudah jadi wanita yang berbeda. Dua belas minggu setelah kepergian kamu, dia berusaha untuk melepaskan kamu dari hati dan ingatannya. Wanita ini berjuang sangat keras. Dia mencari teman curhat, mencari orang-orang yang senasib dengannya, dan berkenalan dengan sosok-sosok baru. Hingga pada akhirnya dia tahu, bahagimana dirimu yang sebenarnya.
Iya, dia tahu bagaimana dirimu, Sayang. Wanita itu tahu topeng yang selalu kaugunakan. Dia mencari orang-orang yang dulu sempat kausakiti. Teka-teki itu terjawab, penyakitmu memang sama; seringkali meninggalkan wanita saat wanita itu sedang berada dalam posisi sangat tidak ingin kehilangan kamu.

Tapi, kembali ke bagian awal. Dia wanita bodoh, perempuan tolol yang mau-maunya kaujadikan pelarian, bukan tujuan. Bahkan, ketika dia tahu semua kebohonganmu, dia sama sekali tak ingin membencimu. Dalam rasa sakitnya, dia seringkali bertemu Tuhan. Bercerita dengan bulir air mata di pipinya. Mengadu dengan bibir membeku; dia menyesali segala kebodohannya. Mengapa dia menerima kamu begitu mudah namun melepaskanmu begitu susah?
Sayang, wanita itu tahu sekarang kamu sudah lebih bahagia. Dari dunia seratusempatpuluh karakter, dia bisa menduga; bahwa kamu sudah jadi pria yang berbeda. Kamu bukan lagi matahari yang menghangatkan mendungnya. Kamu bukan lagi lembayung yang mewarnai sisi gelapnya. Kamu sekarang jadi awan hitam, Sayang. Kamu jadi biru paling kelabu, sebab air matanya tak pernah surut– selalu mengalir untukmu.
Kali ini, ceritanya masih sama. Wanita ini begitu tahu kamu suka kue keju. Dia mengajakmu bercakap-cakap malam itu. Ada rasa rindu di dadanya, ada rasa hampa karena kekosongan yang selama ini dia lewati tanpamu. Kadang, kamu tak tahu perasaan seseorang yang begitu bahagia bisa berbicara denganmu, meskipun kamu mengartikan pembicaraan itu hanyalah pembicaraan biasa. Tapi, Sayang, wanita ini berbeda. Segala hal tentangmu, tak pernah kecil di matanya.

Cahaya Penunjukku. Waktu menulis ini, wanita yang kuceritakan tadi sudah tak lagi bisa menulis banyak tentangmu. Tepat dua belas minggu setelah kepergian kamu, ternyata dia sadar bahwa ada yang perlu diperjuangkan, selain rasa rindunya terhadapmu. Kamu yang begitu berbeda telah begitu menyakiti hatinya. Mengapa kamu tak tahu, Sayang? Bahwa orang yang paling tersakiti oleh perubahanmu adalah orang yang paling mencintaimu, meskipun kamu selalu menganggap dia abu-abu.

Malam ini, sepertinya masih sama. Wanita itu ingat betapa setiap malam, selama satu minggu itu, kamu selalu menyapa dia dengan sapaan paling manis. Suaramu lembut terdengar dari ujung telepon. Dia bahkan tak tahu mengapa dia harus mencintai pria berantakan seperti kamu. Cintanya meledak begitu saja, ketika kaubuat dia nyaman, ketika kaubuat dia begitu mencintaimu, mengapa kaumalah membiarkan dia mengigil karena kepergianmu?

Dengan bekas lukanya yang belum benar-benar sembuh. Dia masih berusaha terus melupakanmu, dia berusaha melangkah dengan kekuatan sendiri. Kamu tak tahu, Sayang, dia begitu kuat, lebih kuat daripada yang kaubayangkan. Memang, dia belum seratus persen melupakanmu. Tapi, dia percaya waktu itu akan datang, saat dia bebas menertawakan lukanya dan kamu justru yang berbalik menangisinya.

Oke, sudah hampir dua belas peragraf. Wanita ini cuma mau bilang padamu, Cahaya Penujukku, bahwa sebenarnya dia belum bisa melupakanmu. Sebenarnya juga, masih ada cinta dalam hatinya. Tapi, dia berusaha tak lagi menggubris perasaannya sendiri, karena dia tahu; kamu yang seperti dulu tak akan pernah kembali.

Oh, iya, kamu mau tahu, ya, siapa wanita itu? Baiklah. Aku menyerah. Wanita itu adalah....

29 July 2013

Ingin dan Butuh

Sebagai manusia normal pada umumnya, kita tentu memiliki keinginan yang selalu dijadikan sebagai tujuan. Seringkali kita berjuang untuk tujuan tersebut tanpa tahu apakah yang kita kejar selama ini adalah hal baik untuk kehidupan kita? Tujuan saya menulis ini sebenarnya sederhana. Saya resah melihat banyak orang yang mengeluh karena tidak masuk unversitas impiannya, tidak diterima di sekolah yang dia idam-idamkan, atau tak masuk dalam jurusan kuliah yang dia pilih. Ini sekadar berbagi; bahwa sekecil apapun hal yang terjadi dalam hidup kita, tetap ada yang mampu dan harus kita syukuri.

Sewaktu masuk SMA, saya sangat ingin masuk di salah satu sekolah unggulan di bilangan Depok, Jawa Barat. Untuk masuk sekolah itu, saya harus menghadapi tes tertulis. Ketika nilai UN sudah diketahui oleh saya dan orangtua saya, saya masih harus belajar agar bisa diterima di SMA unggulan tersebut. Waktu saya habis untuk belajar dan belajar. Namun, pada akhirnya, saya tidak diterima di SMA tersebut. Kecewa? Pasti. Apa yang dirasakan manusia ketika usahanya tak berbuah sama sekali? Kekecewaan itu membawa saya pada sebuah SMA yang terletak di Jalan Raden Saleh, Depok. Tahukah kamu apa yang saya temukan di sana? Saya menemukan sahabat-sahabat yang baik dan bisa memahami saya. Saya mengenal seorang guru bahasa Indonesia terbaik yang pernah saya ketahui. Inilah yang saya butuhkan, yang berbanding terbalik dengan yang saya inginkan. Tuhan memberi hal yang saya butuhkan dan membuka mata saya bahwa hal yang saya inginkan mungkin saja tak sebaik hal yang saya butuhkan.

Kemudian, setelah lulus dari SMA, saya sangat ingin kuliah di Jogja. Jujur, entah mengapa, saya sangat "obsesif kompulsif" dengan banyak hal berbau Jogja. Saya mengikuti SNMPTN 2012, tanggal 6 Juli 2012, pengumuman SNMPTN sudah bisa diketahui hasilnya. Saya diterima di FIB UGM. Rasanya saat itu saya tidak mampu lagi bernapas. Beberapa hari kemudian, saya langsung pergi ke Jogja dan berusaha mengenali UGM. Dari rumah saya di Jogja, yang terletak di daerah Prawirotaman, saya cukup menaiki bus jalur 2. Saya sudah berusaha mengenali jalan menuju UGM. Sebelum waktu daftar ulang tanggal 17 Juli 2012, saya berusaha mengenali komplek UGM. 18 Juli 2012, saya mengikuti tes TOEFL di Balairung UGM bersama ribuan mahasiswa baru angkatan 2012. Selangkah lagi menuju UGM. Kebahagiaan masih merasuki perasaan saya, kebahagiaan itu cukup membuat saya lupa tentang hasil akhir SIMAK UI yang juga saya ikuti.

Sehari setelah mengikuti TOEFL untuk mahasiswa baru UGM, tanggal 19 Juli 2012, pagi-pagi sekali ayah saya menghubungi saya agar membeli koran Kompas dan melihat pengumuman SIMAK UI. Saya bahkan tidak ingat kalau pengumuman SIMAK UI sudah bisa dilihat tanggal 19 Juli, kebahagiaan diterima di UGM masih menyilaukan perasaan saya. Pagi itu, saya segera membeli koran dan mengecek nomor ujian saya. Saya diterima di FIB UI. Entah mengapa, perasaan saya langsung campur aduk. Ayah saya memberikan saya pilihan.Akhirnya, dengan banyak pemikiran, saya memilih UI dan mencoba mengikhlaskan UGM. Saat itu, saya agak was-was dengan pilihan saya. Saya sudah terlanjur mengenal kemudian jatuh cinta dengan hal-hal manis dan menyenangkan di UGM, apakah saya harus memulai lagi mengenal UI lalu mencoba mencintai universitas tersebut?

Saya butuh beberapa bulan untuk membuka mata bahwa yang saya inginkan ternyata berlawanan dengan yang saya butuhkan. Tuhan kembali membantu saya mengenali hal yang sesungguhnya lebih saya butuhkan. Di jurusan kuliah saya sekarang, saya menemukan banyak orang yang memahami saya dan mengerti jalan pikiran saja. Saya juga bersyukur bisa diajari dosen yang kocak, humoris, namun tetap serius. Iya, apa yang kita inginkan seringkali bukanlah yang kita butuhkan. Tuhan pasti membuka jalan dan memberi kita waktu untuk memahami rencanaNya.

Jadi, bagi siapapun yang masih merasa menyesal masuk ke sebuah universitas yang tak diharapkan, masih meratapi nasib tidak diterima di jurusan yang diinginkan, dan masuk ke sebuah sekolah yang tak dijadikan tujuan; percayalah, sebenarnya Tuhan sedang bekerja dalam rencanaNya yang kadang tak benar-benar kaupahami. Apa yang kauinginkan tak selalu pas dengan yang kaubutuhkan.

Tuhan pasti memberitahu, hanya butuh waktu.

27 July 2013

Memilih Pergi dan Berhenti

Aku menghampirimu dengan beberapa buku di genggaman jemariku. Buku-buku mengenai keajaiban-keajaiban yang dilakukan Yesus, mengenai khotbah sehari-hari, dan santapan rohani untuk saat teduh setiap pagi. Kamu tersenyum ke arahku, ketika kutunjukkan buku-buku yang sudah menjadi pilihanku. Sambil berbincang beberapa kalimat, kamu meminta pendapatku mengenai buku yang kamu pilih. Buku mengenai keajaiban saat berpuasa dan terapi salat tahajud. Aku mengangguk setuju, itu buku yang sama menariknya bagiku. 

Lalu, kamu menyodorkan sebuah buku yang lebih dulu kupunya; buku iqro. Kamu berkata dengan suara santai bahwa buku itu bisa membantuku melewati mata kuliah ikhtisar bahasa arab di jurusan kuliahku. Aku menggeleng lemah karena buku itu sudah lebih dulu kubeli ketika awal semester satu. Aku sudah menamatkannya sampai iqro lima. Memangnya kamu lupa? Waktu aku bisa menuliskan namamu dengan tulisan Arab dan seusai itu kamu tertawa setengah mati. Tulisan Arab yang belum sepenuhnya sempurna, dengan harakat tasydid yang belum terlalu rapi. Aku ikut tertawa ketika melihat kamu tertawa. Iya, kita pernah dalam keadaan bahagia dan baik-baik saja.

Sepulang dari toko buku di bilangan Depok itu, kita berjalan menuju parkiran sepeda motor. Seperti biasa, kamu menawarkan diri untuk membawa plastik berisi buku-buku yang kita beli. Kita sampai di depan honda beat merah milikmu, sepada motor yang sering kamu gunakan untuk membelah jalanan menuju cempaka putih, menuju kampus tempat kamu melahirkan kreativitas dan ide cemerlang. Tanpa kuminta, kamu membelai rambutku dengan sentuhan lembut, lantas memakaikan helm di kepalaku. Kamu juga mengenakan helm dan merapatkan jaket jeans birumu. Jaket yang selalu kusarankan untuk dicuci sekali dalam dua hari.

Dalam perjalanan menuju rumah temanku, kita bercerita banyak hal. Kamu berulang kali bercerita tentang telur balado dan ayam goreng. Masakan yang paling kaucintai, namun paling berbahaya bagimu. Aku ingat, Sayang. Kamu sakit maag dan perutmu tak mungkin bersahabat dengan sambal serta makanan berminyak. Lagipula, saat itu kamu juga sedang tidak makan dan tidak minum sampai merdu suara azan magrib menggema. Peristiwa selanjutnya, seperti peristiwa dalam film komedi romantis. Ketika kita berhenti sejenak di lampu merah dekat Jalan Juanda, kamu memutar kaca spion agar bisa menatap wajahku yang ada di belakangmu. Kamu menggenggam erat jemariku sambil melayangkan pandangan matamu ke arah kaca spion. Aku merasakan kedamaian yang sulit dijelaskan. Aku percaya, Sayang, suatu saat nanti kita bisa bahagia dengan atau tanpa perjuangan yang berlebihan.

Aku selalu bahagia ketika bersamamu, entah dalam pertemuan atau dalam percakapan kita lewat telepon. Kamu selalu bilang bahwa yang kaurasakan bersamaku adalah kenyamanan yang tak kaurasakan pada mantan kekasihmu. Aku tersenyum dan merasa hatiku begitu hangat disentuh dengan ucapan seperti itu. Kamu juga selalu minta ditemani, walaupun hanya lewat pesan singkat, ketika mengerjakan tugas kuliahmu atau tugas membuat spanduk untuk karang taruna. Kita sudah begitu dekat, tapi salahku, sekali lagi, yang tak meminta status dan kejelasan padamu.

Sesampainya di depan rumah temanku, aku bermaksud mengenalkan sosokmu pada mereka. Kamu menjawab dengan gelengan mantap, katamu dengan tatapan meyakinkan; bahwa kamu masih harus kembali ke jalan Margonda untuk mengambil stempel. Aku membalas dengan senyuman yang sebenarnya dibalut dalam rasa kecewa. Aku turun dari sepeda motormu dan kamu membuka helm yang kukenakan. Sebelum kamu pamit pergi, kamu yang masih di atas sepeda motor, kembali memegang kepalaku dan membelai helai rambutku. Kamu menarikku dalam pelukan, pelukan yang tidak kubalas sepenuhnya. Aku langsung melepaskan pelukanmu dan mengingatkan padamu agar puasa yang kaujalani tidak makruh. Dengan tawamu yang kurasa tak begitu lepas, kamu akhirnya menerima nasihatku. Kamu melambaikan tangan dan pergi.

Dan, nyatanya, kamu memang benar-benar pergi. Setelah peristiwa itu, kabarmu tak lagi mampir di telingaku, di tatapku, juga di handphone-ku. Kamu menghilang seakan kita dulu tak pernah tahu dan bertemu. Aku bertanya-tanya tentang rasa kehilangan yang sebenarnya tak lagi asing bagiku. Tapi, tidak munafik jika setiap kehilangan pasti menghasilkan perasaan tersendiri; penyesalan, marah, dan rasa takut. 

Kita belum saling memperjuangkan juga saling membahagiakan, namun mengapa kamu sudah memilih pergi dan berhenti?

25 July 2013

Sebelas Minggu setelah Kepergian Kamu

Aku menghela napas, aku merasa bebas. Ternyata, aku bisa hidup tanpamu selama sebelas minggu. Aku masih (terlihat) baik-baik saja meskipun kamu tak lagi sering memberitahu kabarmu. Tapi, tidak munafik jika dalam rentan waktu tanpamu, aku masih sering merindukanmu.

Kamu masih menjadi yang penting di kepalaku. Kamu masih menggenggam hatiku. Dan, betapa aku masih sangat berusaha untuk memungkiri kenyataan itu. Aku sedang berupaya lepas darimu. Sudah sebelas minggu, ketika kamu melambaikan tangan dengan tatapan hangat di dekat perpustakaan universitas kita, tempat aku dan kamu menimba ilmu. Sudah hampir tiga bulan berlalu, ketika genggaman jemarimu terasa masih begitu hangat di jemariku. Sekali lagi, aku menghela napas, berharap kenangan kita tak lagi membuatku merasa perih, yang masih belum bisa kuterima; mengapa kaupergi saat aku sedang cinta-cintanya?

Aku sudah bercerita padamu tentang posisi favoritku di perpustakaan bukan? Tempat aku dan kamu sempat menjadi yang paling bahagia karena sama-sama tahu kita sedang jatuh cinta. Sekarang, ketika duduk di tempat itu sendirian, aku punya kebiasaan yang aneh. Mataku nanar menatap bangku yang kosong di sampingku. Kamu ingat? Sebelas minggu yang lalu, kamu masih duduk di situ; tepat di sampingku. Sambil membelai rambutku yang diikat satu, jemarimu yang lain membaca materi presentasi di tab-mu.

Kita tertawa terbahak-bahak saat itu, Sayang. Tawa yang kurasakan begitu manis dan menghangatkan hatiku. Tawa yang kukira akan selalu kita rasakan dan kita lewati bersama. Sambil menuntun kepalaku agar bersandar di bahumu, kamu mulai mengeluh saat itu. Mencibir betapa sulitnya presentasi esok hari, aku hanya menjawab keluhanmu dengan rangkulan seadanya. Presentasi mengenai siklus haid wanita cukup membuat kepalamu berputar.

Saat itu, aku memang tak bisa membantu dalam banyak hal. Sebagai perempuan yang pernah mengenyam pendidikan SMA di ranah anak IPA, aku sedikit tahu mengenai bahasan presentasimu. Lalu, dengan gaya sok tahu, aku menjelaskan semua yang kutahu, kamu menatapku dan menyimak setiap perkataanku. Ah, Sayang, setiap mengingat peristiwa itu, rasanya aku ingin semua terulang. Rasanya aku ingin kamu kembali hadir di depan mataku. Rasanya, aku ingin kamu kembali nyata dalam duniaku, tak hanya hadir dalam bisikan doaku.

Mengenai percakapan singkat yang tercipta dua hari yang lalu, cukup mampu mengobati rindu. Kita bercakap-cakap dengan sederhana, dengan luka yang begitu cerdas kusembunyikan. Dengan panggilan yang tak lagi "Aku" dan "Kamu", aku merasakan jurang yang selama ini telah menjauhkan kita. Aku sadar betapa selama sebelas minggu ini kita sudah terlalu berjarak.

Seperti biasa, kamu selalu terlihat bahagia dan baik-baik saja. Seperti biasa, aku (berusaha keras) terlihat bahagia juga baik-baik saja. Aku tak tahu apakah selama ini kamu juga merasakan yang kurasakan. Aku juga tak tahu apakah kamu merasakan rindu sedalam yang kurasakan. Kita saling tak tahu, seperti aku yang tak pernah tahu bagaimana sesungguhnya perasaanmu.

Dulu, aku sempat melihat cinta di matamu, Sayang. Aku melihat dunia yang sungguh belum pernah kusinggahi, aku terjebak dalam bayang-bayangmu; dan aku tak mampu lagi menghindar pergi. Aku berhenti pada sosokmu, sementara ketika aku mulai ingin membangun segalanya bersamamu, kamu malah memilih pergi. Kamu sudah bawa aku berjalan terlalu jauh, aku percaya bahwa kamu akan menemaniku sampai perjalanan kita selesai, tapi ternyata kamu tidak menemaniku.

Cahaya Penunjukku, kamu ingin jujur mengenai perasaanmu? Kamu ingin beritahu aku tentang apa yang kaurasakan selama masih bersamaku? Sayang, ini memang salahku, selama kita bersama, aku tak meminta dan mengemis status. Aku hanya menjalani yang kuyakini, aku merasa baik-baik saja meskipun segalanya kita arungi tanpa kejelasan. Lantas, aku menyesali semua, ketika kamu pergi— aku tak dapat menahanmu tetap di sini.

Sayang, sebelas minggu setelah kepergianmu, nyatanya memang tak banyak berubah. Aku masih mencari-cari kabarmu, masih berharap kita bisa kembali seperti dulu, dan masih berharap bahwa Tuhan mengizinkan waktu kembali diputar ulang. Seandainya kamu tahu seberapa dalam lukaku, seandainya kamu paham seberapa besar rinduku, dan seandainya kamu mencintaiku sedalam aku mencintaimu; pasti tak akan ada rasa trauma seperti ini.

Untuk Cahaya Penunjukku yang telah pergi, bisakah kuminta kamu segera kembali?