19 September 2011

Kala itu. Dia Pemeran Utamanya


            Pada sepotong siang saat matahari mengerang berang, aku duduk diam menunggumu. Di bawah pohon beringin yang daunnya mulai berguguran karena musim kemarau, kau membuatku tegang membisu. Ditemani es kelapa yang setia menyejukkan tenggorokanku, kau masih saja menempuh perjalananmu. TransJogja berlari-lari kecil, berlalu-lalang melewati aku yang mematung disitu. Iseng, kembali kuintip jam tangan berwarna biru tua yang terlilit manis ditangan kiriku, pukul 14:30 dan kau belum juga menampakan batang hidungmu.
            Stadion Mandala Krida kala itu menjelma menjadi "kompor" tanpa gas, sejauh mataku memandang terlihat bayangan fatamorgana yang meliak-liuk menggoda mataku. Bayangkan! Yogyakarta kala itu panas sekali! Berkali-kali kuusap keringat yang menyerah diam setelah disekresikan kulitku yang terbius panas. Untuk kedua kalinya, aku menatap jam tanganku, pukul 14:31, lama sekali! Memang saat kita menunggu, satu menit pun terasa begitu lama.
            Beberapa menit kemudian, saat aku sedang sibuk berpangku tangan, sebuah sepeda motor Xirion yang masih kinclong menghampiri tempat dudukku. Sang pengendara sepeda motor membuka helmnya.
            "Hey!" Sapanya riang diikuti senyumnya yang cukup manis.
            "Eh, Mas..." Jawabku sambil terbangun dari tempatku mematung.
            Pria itu turun dari sepeda motornya, menghampiri aku yang tersenyum malu, "Aku Senja, Dek." Sambil mengulurkan tangan, dia mengerlingkan matanya, menatapku.
            "Aku Karin, Mas." Aku membalas uluran tangannya, lalu beberapa detik kami saling bertatapan, saling menyorot mata dalam-dalam. Aku tersadar dari momentum yang hampir membuat kami berdua terlamun, setelah bersalaman cukup lama, aku melepas tangannya.
            "Ini, Mas. Es kelapanya aku pesenin dua. Diminum ya!" Ucapku seadanya, perasaan grogi memelukku dengan sangat kuat. Sekali lagi, aku mematung.
            "Iya, Dek. Makasih ya. Kamu udah lama po nunggu aku tadi? Maaf yo." Nada penyesalan terdengar melalui ucapannya, dia tertunduk.
            "Oh, rapopo, Mas. Tidak ada pertemuan yang harus diselimuti dengan penyesalan. Haha teko tenang to." Aku menghiburnya melalui perkataanku, lalu dia tersenyum kecil dan menatapku.
            Senja mulai melepas jaket yang ia kenakan sejak mengendarai sepeda motor. Tangan kanannya disembunyikan dalam kantong yang berada dijaketnya. Entah apa yang dia lakukan. Aku sibuk menatap jalan raya di depan stadion Mandala Krida sambil menyeruput es kelapa yang sisa setengah gelas. "Buatmu!" Ucapannya mengagetkanku. Satu tangkai bunga mawar putih kala itu memenuhi seluruh pandangan mataku, bunga yang digenggam oleh seseorang yang bahkan baru pertama kali kutemui.
            "Loh? Beneran?" Tanyaku tersipu malu, aku benar-benar tak berani menatap wajahnya sedikitpun, pipiku memerah. Sial! Perasaan idiot semacam apalagi ini?
            "Beneran lah, Dek! Maaf yo gara-gara beli ini aku malah telat e janjiannya." Jawabnya sambil mengenggam mawar putih itu. Dia sangat berani menatap wajahku.
            "Iya, Mas enggak apa-apa kok. Makasih banyak ya." Ucapku terbata-bata sambil mengenggam mawar putih itu. Kadang, setangkai bunga pemberian dari seorang pria mampu membuat seorang wanita tersipu malu.
***
            Kami mulai memperbincangkan banyak hal. Dari soal hobi, keluarga, sekolahku, kuliahnya, tugas maketnya, tugas gambarnya, dan banyak hal menarik lainnya. Kala itu, Yogyakarta tak lagi terasa panas, semilir angin setia memainkan rambutku dan rambutnya. Suara daun yang bergesekan dengan jalan membuat semua mengalir apa adanya. Dia tersenyum, aku mengerlingkan mata. Dia menatapku, aku menyelami sinar lembut dimatanya.
            Jam tanganku menunjukan pukul 16:00, entah mengapa waktu berjalan begitu cepat.          Apa kali ini jarum jam membohongiku dengan berlari-lari kecil agar aku segera mengucapkan kata "Aku harus pulang." pada Mas Senja? Tuhan, aku masih ingin menikmati suara tawanya.
            "Mas, sudah sore. Aku harus pulang."
            "Kok cepet banget dek?"
            "Sudah 1 jam lebih 30 menit, Mas."
            "Kamu pulang sendirian?"
            "Saudaraku menjemputku kok."
            "Lha, sekarang saudaramu dimana, Dek?"
            "Yang parkir disana, Xtrail hitam, itu saudaraku."
            "Jadi, sejak tadi dia...."
            "Memerhatikan kita."
            "Hahahaha, lucu banget e kamu, Dek. Yasudah, aku antar kamu sampai mobil ya?"
            "Enggak usah, Mas. Udah sore, ibumu pasti sendirian di rumah. Pulanglah." Aku membujuknya agar segara pulang, ia manggut nurut. Lalu kami saling bersalaman, aku meninggalkannya, tapi beberapa detik kemudian dia memanggilku dengan lantang, "Dek!"
            Aku berbalik lalu menatapnya, "Iya, Mas?" Tanyaku singkat lalu Senja menghampiriku.
            "Kamu pulang ke Jakarta tanggal berapa?"
            "Sabtu, 3 September. Kenapa, Mas?"
            "Punya waktu jalan? Ke pantai mungkin? Makan burger? Atau sekedar keliling-keliling Yogya saja?"
            "Oh, ada kok, Mas. Bareng sama saudaraku ya, kan enak tuh."
            "Cukup kita berdua saja, Dek."
            "Naik motor, Mas?"
            "Iya, mosok naik gerobak angkringan to yo, Dek"
            "Hah? Kan panas, Mas!"
            "Lha kamu gimana mau rasain udara Yogya kalau cuma duduk kaku di mobil? Sekali-kali naik motor to yo!"
            "Enggak. Aku enggak mau kalau kita cuma jalan berdua. Itu asing buatku, aku enggak pernah jalan berdua sama lawan jenis. Mungkin, kamu bakal tertawa mendengar ini, tapi serius, aku enggak terlalu tertarik jalan cuma berdua." Penjelasanku panjang lebar sepertinya mulai menyudutkannya, "Datanglah ke rumah simbahku, Prawirotaman. Disana ada banyak keluargaku, kita enggak cuma berdua. Yang penting kan apa yang kita perbincangkan, Mas bukan dimana kita menciptakan perbincangan itu."
            "Baiklah! Text me! Hati-hati di jalan ya!" Ungkapan setuju keluar dari bibirnya, aku meninggalkanya, lalu melambaikan tangan.
***
            "Rumah simbahku di dekat pabrik batik Winotosastro, kalau kamu tidak tahu tempatnya, kamu cukup berhenti di depan pasar Prawirotaman, nanti aku menjemputmu disana, menunjukkan arah menuju rumah simbahku." Penjelasanku kala itu mengisi inbox handphonenya.
                "Oke, Dek. Sampai ketemu ya, aku enggak sabar dikenalkan dengan simbahmu, apalagi keluargamu!"
                "Jangan kepedean, aku belum tentu mengenalkanmu pada keluargaku. Slow down lah!"
                "Haha teko santai to, Dek. Cuma becanda to yo!"
                "Oke, selamat malam, segera tidur ya, jangan tidur terlalu larut!"
                "Kamu juga, Dek. Smoches!" Percakapan kecil yang tercipta melalui pesan singkat itu berakhir. Hanya tinggal menunggu tanggal "mainnya" saja.
***
                Mama mengajakku kesana kemari, membeli oleh-oleh, wisata kuliner, dan berpindah dari satu sudut ke sudut lainnya. Yogyakarta yang kala itu ramai dengan plat B benar-benar membuat isi kepalaku berontak. Macet dimana-mana menambah peningnya kepalaku. Aku masih saja sibuk melirik ke arah jam tangan dan jam digital di dekat ac mobil, mencocokkan jam mana yang paling benar dan paling tempat. Padahal, janjiku pada Mas Senja pukul 8 malam sedangkan waktu telah menunjukan pukul 8 lewat 12 menit. Aku hanya bisa menunggu, menunggu sesuatu yang belum pernah terjadi, menunggu sesuatu yang sulit untuk kuprediksi, mengenalkan seorang pria pada keluargaku.
***
                Aku berlari-lari kecil menuju pasar Prawirotaman. Kembali kulihat lagi jam tanganku, pukul 20:35. Kupercepat laju lariku, sesampainya disana sosok kemeja kotak-kotak mencuri pandanganku. Aku menghampiri Mas Senja.
                "Udah lama ya, Mas disini?" Dengan nafas terengah-engah, aku menyapanya terlebih dahulu.
                "Baru 10 menit kok, Dek. Rumah simbahmu dimana e, Dek?"
                "Di sana. Udah kamu ikut aku aja, aku jalan kaki, kamu naik motor."
                "Kamu enggak capek emang?"
                "Enggak, wong deket kok rumah simbahku."
                "Naik motorku aja dek, kubonceng."
                Aku menatap wajahnya yang kala itu disinari lampu redup jalan raya. Suara khasnya beradu merdu dengan lalu-lintas pinggiran kota. Rambutnya yang panjang se-pinggang disembunyikannya dibalik kemeja kotak-kotak itu. Beberapa detik kemudian aku menaiki sepeda motornya. Ini kali pertama aku dibonceng oleh seorang pria. Nafasku memburu satu-persatu, melaju dengan kecepatan maximum. Idiot! Dia pria pertama yang membuat jantungku ingin keluar dari posisi seharusnya, hanya karena aku menduduki jok sepeda motornya, walaupun hanya beberapa detik.
                "Dari sini nyebrang, lurus terus, pas ketemu pabrik batik Winotosastro langsung belok kanan. Beberapa meter dari situ sudah sampai rumah simbahku." Jelasku sayup-sayup ditimpa suara mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang disekitar pasar Prawirotaman.
***
                "Dek.. Nganu aku ini loh emhh gini jadi aku...." Ucap Mas Senja terbata-bata.
                "Kenapa, Mas?" Tanyaku singkat sambil memandangnya.
                "Aku grogi, aku cuma bawa martabak cokelat e. Piye iki?" Jawabnya dengan wajah yang memerah, rasanya aku ingin tertawa melihat tingkah lugunya kala itu.
                "Masuklah..." Aku menuntunnya memasuki rumah simbah. Mas Senja menguatkan langkahnya, menegakkan badannya, dan berjalan dengan sangat mantap. Di ruang TV ada keluargaku yang sejak tadi sibuk membicarakanku, dari raut wajah mereka yang menjijikan itu, aku bisa menebak bahwa dalam hati mereka berkata,"Dwita sudah besar, sudah berani memperkenalkan teman lawan jenisnya."
                Uh! Rasanya aku ingin sekali meninju wajah mereka yang menyebalkan itu, mendepak rasa keingintahuan mereka yang terlalu dalam. Padahal, Mas Senja ini kan temanku, ya dia memang lawan jenis tapi dia temanku.
                Di ruang tamu, kami kembali membicarakan banyak hal. Kuliah arsiteknya, universitasnya, gambar konstruksinya, pembuatan maket dan tugasnya, serta banyak hal-hal lain yang kembali membuat kami tak sadar akan desahan jam dinding malam itu.
                Kala itu, dia benar-benar menjadi pemeran utama. Menjadi seseorang yang membuat pandanganku tak mau lepas dari gerak-geriknya. Saat kami sedang bercanda, Mas Senja mengeluarkan rambut panjangnya yang sejak tadi dia sembunyikan dalam kemejanya. Rambut panjang sepinggang yang menjadi kebanggannya sejak SMA. Rambut yang menyebabkan ia mendapat julukan "Michael Jackson". Rambut yang menjadi kebanggaannya, sejak ia bersekolah di sekolah yang beralamat di Laksda Adi Sucipto 161 itu. Rambut yang selalu ia tunjukkan saat mengikuti misa rutin. Dia benar-benar membuatku mengerti arti detak jantung tak beraturan saat duduk berhadapan dengan seseorang yang begitu menyenangkan.
                Waktu berjalan dengan begitu cepat, rasanya baru beberapa menit aku duduk dan memandangnya, tapi kala itu waktu telah menunjukkan pukul 21:30. Dia pamit pulang pada keluargaku, aku mengantarnya hingga gang depan.
***
                "Jadi, kamu pulang besok, Dek?" Sambil menuntun sepeda motornya, ia memandangku dan mengajakku bicara.
                "Iya, Mas. Pagi, sekitar jam 9 pagi." Jawabku singkat.
                "Kapan kembali ke Yogya?"
                "Aku enggak tahu, Mas. Yang jelas aku sangat ingin kembali kesini lagi."
                Langkahnya terhenti, aku yang berjalan juga ikut menghentikan langkahku
                "Oh, iya! Aku mau kasih kamu sesuatu," Dia membuka resleting tasnya, aku menatapnya penasaran. "Nih! Gara-gara ini nih aku telat beberapa menit. Belinya di tempat yang kemarin, ternyata kalau malam toko bunganya masih buka."
                "Mas, makasih ya bunganya. Bagus." Dengan wajah tersipu malu, aku mencium bunga yang baru saja Mas Senja Berikan. Bunga kedua dan kedua kalinya aku tersipu malu karena benda sederhana ini.
                "Aku pasti akan sangat merindukanmu, Dek." Tungkas Mas Senja sambil melanjutkan langkahnya lagi.
                "Aku juga, Mas. Aku mulai tahu menyiksanya rindu sejak kamu mengagetkanku di Stadion Mandala Krida itu." Jawabku seadanya, aku yang sejak tadi menahan rasa gengsi akhirnya menyerah juga. Aku berkata rindu, isyarat perasaanku mulai tumbuh menjadi sesuatu yang tak kutahu.
                "Mau berjanji untuk segera kembali? Mau berjanji untuk tetap menghubungiku walau kita jauh?"
                "Secepat yang aku bisa, aku pasti kembali, Mas. Dan, saat aku kembali ke daerah istimewa ini, aku tak lagi sebagai siswi tapi sebagai mahasiswi. Doakan ya!"
                "Aku selalu membawa namamu dalam doa, Dek. Bahkan sebelum kita bertemu."
                Dadaku terasa begitu sesak, rasanya aku benar-benar tak ingin meninggalkan Yogyakarta secepat itu. Aku masih ingin tinggal, untuk beberapa bulan, untuk beberapa tahun, dan kalau bisa selamanya. Aku masih ingin menginjakkan kakiku di Yogya. Aku masih ingin melihat dan memerhatikan Mas Senja dengan senyum dan tawa khasnya.
***
                Sesampainya di ujung gang, dia mulai menyalakan sepeda motornya. Sekali lagi dia menatapku, mataku yang mulai memerah, suaraku yang mulai serak. Dia membelai rambutku pelan, "Kenapa, Dek?"
                Aku berusaha sekuat mungkin menatapnya, aku berusaha sekuat mungkin menahan air mataku, "Enggak apa-apa, Mas."
                "Wanita itu kalau bilang enggak apa-apa pasti sebenarnya ada apa-apa."
                "Aku...." Ucapku pelan, tatapan kami melekat erat.
                "Yasudah. Janji sama aku, enggak pakai air mata."
                "Iya, Mas."
                "Cepat kembali. Yogya itu bukan tempat kamu untuk singgah, tapi Yogya adalah tempat kamu untuk pulang."
                "Aku enggak akan singgah di Yogya, Mas. Aku akan pulang ke Yogya."
                "Sekarang aku yang harus pulang. Yang jelas kamu tahu kan perasaanku, Dek? Seorang pria yang memberi bunga pada seorang wanita dengan tatapan yang berbeda, bernama cinta."
                Aku melengkungkan senyum, ia membalas senyumku dengan tatapan yang sama. Aku melepaskan kalung salib yang melilit lembut di leherku dan memindahkan kalung salib itu di lehernya, melilit sempurna di lehernya.
                "Kamu tahu kan perasaanku, Mas? Seorang wanita yang memberikan kalung salib pada seorang pria dengan tatapan hangat, bernama cinta."
                Matanya menjatuhkan butir-butir halus dan hangat, pipinya basah oleh gerimis yang pelan-pelan jatuh dari pelupuk matanya. Aku meremas pundaknya,"Tanpa air mata, Mas."
                "Iya, Dek. Jalan dulu ya."
                "Iya, Mas. Hati-hati ya."
                Dia melaju dengan kecepatan standar. Aku memandang punggungnya dari kejauhan hingga punggungnya menghilang dari pandangan mata. Sambil memandang bunga pemberiannya, pipiku terasa hangat, basah tanpa desah, oleh air mata.

04 September 2011

Cinta Dalam Rumitnya Dunia Maya

"Apakah cinta selalu membutuhkan PERJUMPAAN NYATA? Bisakah cinta hadir tanpa adanya PERJUMPAAN NYATA?"

Pernahkan kaliah jatuh cinta pada seseorang yang bahkan baru kalian kenal? Seseorang yang bahkan belum kalian ketahui wujud aslinya? Seseorang yang hanya bisa kalian nikmati senyumnya melalui benda dua dimensi bernama foto? Seseorang yang hanya kalian ketahui melalui tempat absurd yang bahkan selalu dianggap sebagai tempat berkumpulnya orang yang tak punya kerjaan... Jejaring sosial.

Jejaring sosial saat-saat ini berubah menjadi "dunia" yang bahkan terkesan sangat nyata. Seseorang bisa saling bertukar pendapat, bertukar pikiran, dan bersahabat, alasan tiga hal itu bisa dilakukan adalah karena mereka cocok, walaupun kecocokan itu hanya tercipta melalui dunia maya. Kecocokan dan perhatian kecil itulah yang bisa membuat seseorang jatuh cinta dengan teman dunia mayanya, jatuh cinta pada seseorang yang bahkan belum pernah mereka temui.

Siapa yang sangka? Siapa yang bisa menerka? Ketika cinta diam-diam merasuki perasaan seseorang, dengan cara yang berbeda-beda, dengan cara-cara aneh yang bahkan tak bisa dilogiskan oleh akal sehat. Memang, kadang cinta itu bersifat abnormal, menjauhi garis normal, dan mendekati garis yang tak logis. Tapi, ketidaknormalan itulah yang membuat cinta menjadi indah, kebodohan itulah yang membuat cinta terasa mengesankan.

Hanya karena status beberapa baris di facebook, hanya karena beberapa karakter tweet di twitter, dan hanya karena mahluk cerdas bernama handphone itu, seseorang bisa jatuh cinta? JELAS! Cinta bisa datang dengan cara yang unik, bahkan hanya melalui tulisan sekalipun, bahkan hanya melalui foto sekalipun. Jatuh cinta memang selalu indah bukan? Walaupun cinta dalam konteks ini adalah cinta yang tercipta melalui tekhnologi, cinta yang terbentuk melalui tulisan-tulisan lugu yang menghasilkan rindu.

Cinta tak selalu datang melalui tatapan mata, cinta tak selalu datang bahkan ketika kita mengetahui wujud asli seseorang. Cinta punya cara tersendiri untuk menyatukan seseorang, dengan cara yang logis atau bakan tak logis sekalipun, dengan dunia nyata atau bahkan dunia maya serumit apapun. Dengan adanya teknologi, dengan semakin cerdasnya seseorang mengungkapkan perasaannya melalui tulisan, maka cinta bisa mudah datang.

Dan, inilah satu pertanyaan simple bagi mereka yang jatuh cinta karena jejaring sosial: apakah mereka membutuhkan perjumpaan nyata?

20 August 2011

Cinta. Agamamu. Agamaku

"Apakah seseorang yang kaucintai harus memeluk agama yang sama denganmu?"

Aku duduk terdiam di depan tempat ibadah itu. Tempat ibadah yang mungkin tidak akan pernah kumasuki seumur hidupku. Tempat ibadah yang selamanya tak akan kubiarkan kakiku menginjak dan merasakan lantai dingin yang mungkin sedikit memberi kesejukan itu, masjid. Aku menunggunya dengan sabar, menunggu kekasihku selesai beribadah. Terlintas pikiran nakal kala itu, "Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang yang tempat ibadahnya tak sama denganku?" Tiga menit kemudian, beberapa orang telah meninggalkan tempat ibadah itu. Aku menyibukan kepalaku dengan menggerak-gerakannya, celingak-celinguk kanan kiri mencari sosoknya. Lalu, beberapa detik kemudian seorang pria berlari-lari kecil ke arahku, kekasihku, Idlan.

"Sayang, nunggunya lama ya?" Dengan nafas terengah-engah Idlan menyapaku.

"Enggak kok, tenang aja. Dimuka kamu masih ada air wudhu tuh, aku ada tissue, mau dilap dulu enggak?" Ungkapku sambil memeriksa isi tasku.

"Boleh deh." Jawabnya singkat sambil memerhatikan wajahku dengan seksama, aku terheran.

"Kenapa ngeliatin aku terus sih?" Tanyaku sinis memelototi matanya.

"Kamu cantik, kenapa enggak pake jilbab aja?" Gurau Idlan dengan tawa khasnya.

"Emangnya kalau aku pakai jilbab malah tambah cantik ya?" Tanyaku balik sambil mengacak-acak rambutnya.

"For sure, yes!"

"Cantik itu dari hati kok, bukan dari jilbab." Ujarku pelan sembari menarik tangannya agar melanjutkan perjalanan kita dengan berjalan kaki.

"Iya, Sayang. Tapi..."

"Lagian juga, yang harus dijilbabkan bukan cuma fisik, tapi juga hati." Timpalku memotong pernyataannya.

"Kok jadi dibawa serius sih?" Idlan menahan langkahnya, menarik tanganku agar memberhentikan langkahku.

"Siapa yang bawa serius? Aku cuma enggak suka aja, kalau kamu enggak bisa terima aku yang enggak pakai jilbab ini yasudah. Kalau kamu enggak bisa terima agamaku, maka kamu enggak bisa mencintai aku kan?" Pembicaraan menjadi panas, aku berjalan meninggalkannya. Seperti biasa, dia tak pernah mengejarku, dia tak pernah menahanku untuk tetap tinggal.
***
Ibu menunggu di depan rumah. Wajahnya temaram kelam layaknya menunggu seseorang. Aku menghampiri beliau dengan langkah terburu-buru.

"Mama, kok di luar?" Aku menghampiri mama sambil mengajak beliau memasuki rumah.

"Pulang sama siapa?" Tanya mamaku singkat.

"Sama, Idlan, Ma." Jawabku, juga dengan pernyataan yang singkat.

"Kamu masih sama dia, Nak?"

"Iya, Ma."

"Enggak inget nasehat, Mama?"

"Inget, Ma."

"Yang pertama?"

"Gelap tak mungkin bersatu dengan terang."

"Yang kedua?"

Aku terdiam sejenak, menatap ibuku yang memegang bahuku. Dengan paksa aku melepaskan tangannya, sambil bangkit berdiri aku berkata, "Semua agama itu sama, Ma. Hanya cara menyembahNYA saja yang berbeda!" Bentakku ketus. Mama terdiam.

Dengan kesal aku membanting penting kamar. Aku benci dijejeri pertanyaan sampah seperti itu. Apa salahnya jika aku menjalin hubungan lebih dari teman dengan seseorang yang tidak seagama denganku? Inilah Indonesia, perbedaan harus dianggap sebagai sesuatu yang tak akan pernah bisa disatukan.
***
Seusai ibadah, aku iseng melihat ke celah-celah pintu gereja, ada seorang pria yang sepertinya tengah menunggu seseorang, ia duduk di atas sepeda motornya. Setiap beberapa detik ia selalu melihat ke arah gereja, seakan-akan matanya menyusuri setiap celah-celah kecil gereja itu. Aku seperti mengenal raut wajah pria itu, "Seperti Idlan." Ucapku dalam hati, lirih.

Sekitar pukul 14:00 siang, dengan langkah santai aku meninggalkan tempat ibadahku, gereja. Ternyata benar dugaanku, pria yang sejak tadi bertengger di depan gereja adalah Idlan. Aku mempercepat langkahku, tapi Idlan tetap menghampiriku.

"Zuriel, maaf ya kemarin." Dengan wajah tersipu malu, Idlan menghampiriku.

"Aku selalu memaafkanmu, bahkan sebelum kau meminta maaf." Aku menghentikan langkahku, menatap matanya dan tersenyum sendu saat melihat wajahnya. "Tapi, hubungan kita cukup sampai disini."


Seakan-akan ribuan pedang menghujam Idlan, matanya berair, dia menatapku dengan serius, "Kamu beneran?"

"Ya." Jawabku singkat, sambil mengarahkan pandanganku ke arah lain. Matanya berair, aku tak pernah suka pemandangan itu. Cowok kok sukanya nangis?

"Sesingkat ini?"

"Sesingkat? Hubungan kita sudah satu tahun! Dan, mau tahu hal yang selalu kutahan? Kamu selalu memperlakukanku seperti temanmu bukan kekasihmu. Kamu tidak pernah berusaha menjaga perasaanku. Kamu tak pernah berusaha mentolerir agamaku, maka kamu tidak akan pernah menerima cintaku." Jelasku panjang lebar, membiarkan hatinya teriris.

"Maaf, Riel."
 
***
 
Buat yang ngalamin cinta beda agama, jangan lanjut baca tulisan yang ini, nanti nangis. Berani baca TULISAN INI? :( 

Dan kamu yang pernah TERSAKITI HABIS-HABISAN, BERDARAH TAK KARUAN, PLIS JANGAN KLIK TULISAN INI :( AKU NGGAK TANGGUNG JAWAB KALAU KAMU NANGIS!

13 August 2011

Kalau Aku HAMIL di Luar Nikah, Apakah Kau Tetap Mencintaiku, Bu?

"Jika seorang anak melakukan kesalahan, seseorang yang bukan siapa-siapa selalu marah diawal, sedangkan seorang ibu selalu marah diakhir, karena dia tahu sebab anaknya melakukan kesalahan"

Nafasku tercekat, jantungku berdetak dengan cepat, pembuluh darahku seakan-akan ngebut di dalam jalur peredarannya. Walau aku sangat penasaran, aku tak ingin menatap test pack itu. Meskipun aku sangat tertarik mengetahui hasilnya, tapi aku tak ingin tahu apa yang terjadi dengan test pack itu. Positif atau negatifkah?
***
"Tenang, Sayang. Kita hanya mencoba-coba saja, kalau kau kenapa-napa, aku pasti tanggung jawab kok." Ucapnya sambil memaksa.

"Janji?" Tanyaku singkat menatap matanya.

"Apa aku pernah berbohong?" Dia tak menjawab, hanya bertanya balik.

Itulah, kekuatan dari kelenjar testosteron, menggoda seorang anak muda tanpa tahu apa yang terjadi kedepannya. Seperti aku dan dia, begitu gila. Malam itu, aku seperti tersentuh setan, aku berlaku seperti binatang yang tak bermoral dan beragama. Jelas-jelas dalam kitabNya Tuhan berkata: "JANGAN BERZINAH!" Bukankah peringatan keras itu tidak diucapkan secara lirih oleh Sang Pencipta? Kenapa aku yang bukan siapa-siapa ini begitu lancang melanggar perintahNYA dan malah menyentuh laranganNYA. Tuhan, tapi apa KAU tahu yang kulakukan kala itu? Apa KAU marah? Apa KAU menangis? Tuhan, plisss jangan marah! Hanya detik itu saja aku melupakanMU. Setelahnya, aku hanya menangis, menyesal atas segala kemahatololan yang kubuat sendiri. Menyesal atas kesalahan yang merusak apapun yang telah kubangun dengan susah payah. Pria yang mudah bicara cinta, ternyata lebih banyak menyimpan DUSTA. Memang Tuhan, aturanMU selalu BERALASAN. PerintahMU selalu memiliki tujuan. Tuhan, bisakah KAUmaafkan aku untuk ke miliyaran kalinya?
***
POSITIF! Rasanya aku ingin menggoreskan kaca dilembutnya kulit yang membalut urat nadiku. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan pada ibuku? Apa yang terjadi akan membuatku malu? Apa yang harus kulakukan pada bayiku? Bagaimana dengan lingkungan sosialku? Apakah mereka akan mencomooh dan menghinaku? Bagaimana dengan mimpi-mimpiku? Bagaimana jika anak ini bertanya tentang ayahnya? Bagaimana cara menghidupi bayi ini? Apa aku siap untuk menjadi ibu? Kala itu, banyak pertanyaan mencuat liar dari otakku, mengacaukan akal sehatku, dan merusak laju kerja jaringan otakku. Tuhan, aku sangat ikhlas jika KAU cabut nyawaku kali ini. "IKHLAS!" Teriakku lantang menggema, bunyi yang memantul dari dinding kamar mandi.

Terpikir jalan pintas. Cerdas! Bagaimana kalau aku makan buah nanas dengan jumlah yang banyak? Bagaimana kalau aku terus-terusan meloncat hingga aku keguguran? Bagaimana kalau aku meminum alkohol dengan konsentrasi larutan 60%? Bagaimana kalau aku melakukan aborsi? Ah, sepertinya tidak terlalu sulit untuk menghadapi masalah "sekecil" ini. Kuabaikan kuliahku, kuseriusi "karya" mendadak yang satu ini. Menggugurkan bayi, dosa yang berdasar pada keinginan untuk tidak merasa malu dikemudian hari.
***
This is it! Bidan ********** Ah, sebut saja Bunga atau Mawar. Bidan ini dikenal sebagai wanita "cerdas" dan "baik hati", siap membantu wanita yang dengan "senang hati" ingin menggugurkan bayinya dengan biaya yang relatif terjangkau. Setelah aku mengambil nomor antrian, aku duduk di bangku ruang tunggu bagian belakang. Awalnya, tempat ini memang tak semenyeramkan apa kata orang. Di bagian depan, aku melihat sepasang kekasih yang masih berumur muda, mungkin sekitar 22 tahun. Sang pria memegang lembut perut kekasihnya, perut yang berisi calon bayinya, sayangnya bayi itu sebentar lagi akan digugurkan. Tapi, tak berapa lama kemudian aku mendengar suara teriakan dari ruang praktek, suara kesakitan. Suster yang berjaga di dekat loket langsung menghampiri ruang praktek dengan raut wajah panik. Suara teriakan itu memang sangat mengagetkan.

Aku menatap sepasang kekasih yang duduk dibangku depan. Sang wanita memasang wajah takut, sang pria hanya menatap lemas kekasihnya. Mereka terlihat saling mencintai, saling melindungi. Tapi, karena umur yang sangat muda, karena pengalaman mereka yang sangat minim, tanggung jawab menjadi orangtua terkesan sangat berat. Makanya, mereka menolak anugerah Tuhan yang disebut dengan anak. Sesakit itukah cara untuk menghindari rasa malu? Dengan menyiksa diri sendiri, dengan merusak sesuatu yang tak pantas untuk dirusak. 

Aku mengasihani diriku sendiri, menatap banyak tapak jalan yang telah kulalui hingga detik ini. Aku memegang perutku yang mulai membesar, mengelusnya lembut sambil menyimpulkan senyum, "Yang ada diperutku ini adalah calon bayiku." Ucapku lirih dalam hati. Dia tidak berdosa, tapi aku yang berdosa. Dia hanya terbentuk dari hasil dosaku, tapi sekali lagi bukan dia yang berdosa. Jadi, kenapa aku harus mematikannya? Jadi, kenapa aku harus merusak jiwa kecintaan Tuhan ini? Bukankah Tuhan telah mempercayai bayi ini untukku? Tanpa disadari, air mata santai menuruni lekukan pipiku. Aku merobek nomor antrian, meninggalkan tempat aborsi laknat itu, lalu menghampiri mobilku di tempat parkir. Tuhan, apa kali ini aku melakukan tindakan yang benar?
***
Aku mengendap-endap masuk ke kamar ibuku, beliau tidur sendirian, dengan wajah lelahnya, dia asik memeluk guling berwarna biru itu. Aku memperbaiki posisi selimutnya, menatap wajah beliau dengan sangat dalam. Sebagai seorang single parent, beliau menjelma menjadi ibu dengan sejuta keistimewaan, mampu menjadi ayah dan ibu dalam waktu bersamaan. Apa aku akan mengikuti jejaknya? Sejak melihat sosok ayah yang begitu buruk dimataku, aku tak lagi memandang laki-laki sebagai mahluk yang harus dicintai.

Aku berbaring disamping ibuku. Merebahkan kepalaku disamping kepalanya, mataku menatap lembut wajahnya. Tanganku bergerak menuju pundaknya, aku menggenggam pundak ibu dengan lembut, pundak seorang ibu adalah tempat seluruh penderitaan melebur menjadi kekuatan. Aku menangis, tenggorakanku sakit, nafasku tersendat, ibu tersadar dari tidurnya lalu menatapku.

"Kenapa, Sayang? Maaf kalau ibu pulang terlalu malam ya. Sebenarnya tadi pas sampai di bandara, ibu pengennya sih langsung pulang, tapi ada sesuatu yang harus ibu kerjakan di kantor dulu. Kamu kesepian ya beberapa hari ini? Pasti kamu marah sama ibu?" Ucap ibu lirih, sambil mengelus rambutku.

"Ibu, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi janji jangan marah yah?" Dengan malu-malu, ku-ucapkan kalimat itu pada ibu.

"Apa ibu pernah memarahimu?"

"Kalau aku hamil di luar nikah, apa kau tetap mencintaiku, Bu?"

Raut wajah ibu tersirat dengan jelas, beliau sangat kaget dengan pertanyaanku. Dia menghela nafas panjang, menarik tubuhku ke dalam peluknya, dengan suara terisak dia menjawab, "Tentu saja, Anakku."

"Sungguh?" Semakin erat, kusambut peluknya, menangis di pundak ibu adalah hal terindah bagi setiap anak yang mencintai ibunya.

"Sayang, dengarkan ibu ya. Ibu membesarkanmu dengan usaha keras walau tanpa ayah, ibu berusaha menjadi dua tubuh dalam satu badan. Menjadi seorang ayah yang bijaksana dan menjadi seorang ibu yang baik, dan yang sedang kau alami kali ini, adalah cobaan yang harus kita hadapi sama-sama. Anugerah Tuhan itu ada untuk dijaga dan dirawat, bukan dirusak." Pernyataan ibu benar-benar menenangkanku. 

"Ketika orang lain mengetahui aku hamil di luar nikah, pasti mereka mencemooh aku. Tapi, inilah yang kutahu, Bu, jika seorang anak melakukan kesalahan, seseorang yang bukan siapa-siapa selalu marah diawal, sedangkan seorang ibu selalu marah diakhir, karena dia tahu sebab anaknya melakukan kesalahan." Senyumku mengembang, pelukku semakin erat.

Inilah ibuku! Wanita kuat dengan wajah sendu. Dipundaknya tersimpan banyak penderitaan, dihatinya tersimpan emosi yang tak bisa ia ungkapkan, tapi dia berusaha tetap terlihat tegar dan kuat. Kali ini, aku sangat tidak sabar menunggu kelahiran bayiku. Aku tidak lagi berpikiran untuk menggugurkan bayiku. Kali ini, aku adalah seorang wanita yang bernafas untuk dua nyawa, untuk diriku dan untuk bayiku.

08 August 2011

Terbiasa Kau Sakiti?

"Entah mengapa, perlakuan kasarmu masih terlihat lemah lembut di mataku."

Aku selalu kehilangan kamu, lalu kembali menemukanmu. Maksudku, apakah kamu tak bisa benar-benar tetap tinggal? Sehingga saat aku membutuhkanmu maka aku tak perlu lagi mencarimu, maka aku tak perlu lagi repot-repot menunggumu untuk meninggalkan kesibukanmu.

Aku selalu bersabar dengan sikap dan tindakanmu, ketika kamu bahkan tak pernah ada disaat seseorang bertanya siapa seseorang yang menjadi sandaran hatiku saat ini. Aku selalu menunggumu ketika kamu bahkan tak akan kembali hari itu. Sebegitu tak berhargakah aku di matamu? Sebegitu tak bernilaikah aku di hidupmu?

Aku tidak pernah berkata BOSAN dan MALAS dengan sikapmu. Aku tak pernah berkata LELAH dengan semua perlakuanmu. Tapi, mengapa kauselalu berkata BOSAN, MALAS, dan LELAH dengan sikapku? Apakah dari semua kesabaran dan keikhlasanku ada hal tersembunyi yang membuatmu resah dan risih? Yang membuatmu tak ingin ditunggu dan tak ingin diharapkan lagi. Aku hanya ingin meminta sedikit saja pengertianmu, sedikit saja perhatianmu agar kautetap menganggapku ada, seperti aku yang selalu menganggapmu ada.

Aku tahu, mungkin kesibukanmu telah mengubah cara berpikirmu, yang juga ikut mengubah perasaanmu. Mungkin, kamu tidak lagi mengharapkanku seperti dulu. Mungkin, aku bukan siapa-siapa lagi di hatimu. Dan, kemungkinan yang tidak pernah ingin kuketahui bahwa kamu tak ingin lagi diingatkan agar tidak telat makan olehku, bahwa kamu tak ingin lagi diperhatikan kesehatannya serta pola makannya olehku, bahwa kamu tak ingin lagi membagi semua kesedihan dan kebahagiaanmu untukku satu-satunya.

Ternyata, kata BOSAN itu sangat berpengaruh dalam suatu hubungan, seiring berjalannya waktu, seiring dengan datangnya orang-orang baru di lingkunganmu sehingga sedikit demi sedikit mereka telah menggantikan tugas wajibku untuk memerhatikan dan mencoba mengerti keinginanmu. Kamu yang sekarang, kamu yang telah berubah, kamu yang tak lagi aku kenal.

Tahukah kamu bahwa aku masih saja meminta Tuhan agar terus menjagamu? Tahukah kamu bahwa aku berkali-kali mengucap namamu dalam setiap doaku?  Meskipun berkali-kali Tuhan memperingatkan bahwa "kasih itu lemah lembut" tapi entah mengapa semua perlakuan kasarmu menjadi sesuatu yang masih terlihat lemah lembut dimataku. Entah karena hatiku yang mulai buta, atau karena aku yang terlalu terbiasa kausakiti.