02 February 2012

Agamamu. Agamaku. Satukan Kita?

Kelas Biologi, 2 Februari 2012

Semalam suaramu mengalir begitu lembut melalui sambungan telephone. Entah sudah berapa minggu kita tak bertemu. Entah sudah berapa hari aku dan kamu (terpaksa) tak saling memandang dan menatap. Karena takdir sedang mainkan perannya, karena nasib teguhkan langkah kakinya. Aku dan kamu tak bisa apa-apa, terutama saat semua orang menganggap kita salah. Terutama saat aku dan kamu dianggap sebagai pelanggar norma agama, saat kita layaknya tahanan cinta yang menyerah pada hukum agama. Terang tak dapat bersatu dengan gelap.

Kauingin tahu satu hal tentangku? Aku sangat merindukan kamu. Aku rindu saat kamu menungguku di depan gereja seusai misa pagi. Aku rindu saat kita makan mie ayam kesukaan kita. Aku rindu saat menunggumu selesai salat Jumat. Kamu semakin terlihat tampan ketika air wudhu membasuh lembut wajahmu, aku sangat suka senyummu yang tersimpul malu di balik bibirmu. Sungguh, aku sangat rindu pertemuan kita, aku rindu menghabiskan waktu bersamamu. Dan... Entah mengapa kebahagiaan itu menjadi tampak semakin pudar akibat orang-orang yang bahkan tak mengenal dan mengerti kondisi kita. Maukah kaukatakan pada mereka yang membenci kita? Bahwa sebenarnya kita bukanlah seorang pendosa. Maukah kauyakinkan mereka? Bahwa aku dan kamu tak sehina yang mereka pikirkan. Haruskah kita mengakhiri semua ketika nyatanya bahagia selalu menghiasi kebersamaan kita? Haruskah kita menyerah pada persepsi yang mengatakan bahwa kita bersalah? Haruskah kita berpisah karena berbeda agama? Apa salahku dan salahmu?

Aku mengenalmu sebagai sosok yang sangat gigih. Kamu juga mengenalku sebagai sosok yang tegar. Selama kita bersama, tidak pernah terlihat air mata kita jatuh setitikpun. Tapi... Ternyata pada akhirnya kita menyerah, menyerah pada takdir yang awalnya mempertemukan kita juga yang memisahkan kita. Apakah hatimu patah? Apakah sayap-sayapmu yang dulu sempat memelukku juga patah? Apakah ada tangis yang luruh dari matamu yang indah? Aku tak tahu mengapa norma agama harus membedakan kita, sehingga aku dan kamu memiliki sekat dan jarak, membuat kita terlihat tak lagi sama, membuat kita (terpaksa) berpisah. Sebenarnya, apa salahku dan salahmu? Kita tidak pamer kemesraan seperti pasangan-pasangan tolol lainnya, kita juga tak membuat video mesum sebagai sebab terjadinya zinah, kita tak melanggar norma asusila, tapi mengapa di mata semua orang kita terlihat seperti sampah?

Sayang, sungguh aku tak ingin terus tersiksa seperti ini, sungguh aku tak ingin perpisahan kita menjadi sebab tangismu dan tangisku. Aku ingin semua kembali seperti dulu. Aku ingin tawa renyahmu dan senyum manismu menghiasi mozaik hari-hariku. Kebahagiaan kita terenggut oleh sesuatu yang kita sebut norma, sesuatu yang seharusnya mengatur tapi malah menyakiti kita. Sebenarnya, mereka yang menyalahkan kita adalah mereka yang tak benar-benar mengenal kita. Tugas cinta adalah menyatukan, lalu salahkah cinta jika dia menyatukan kita yang berbeda? Bukankah kita hanya saling jatuh cinta? Bukankah kita hanya mahluk kecintaan Tuhan yang belajar untuk menyentuh cinta? Apa yang salah, Sayang?! Katakan apa yang salah!

Aku menulis surat ini sesaat sebelum pengakuan dosa. Pastor sudah berada di dalam ruangan, aku masih di luar, sedang menormalkan frekuensi detak jantungku yang kian menit kian tak berirama. Dengan menulis ini, mungkin aku bisa merasa sedikit tenang. Aku mungkin akan bercerita banyak pada pastor, air mataku mungkin akan kembali menetes, dan berkali-kali mungkin aku akan mengulang cerita yang sama, cerita tentangmu. Di dalam ruang pengakuan dosa, aku pasti mengakui banyak dosa yang telah kulakukan. Dan... Mungkin dosa yang kuakui pertama kali adalah mencintaimu. Mencintaimu... Dosa termanis bagiku.

Dari masa lalumu
Rumah untuk tawa dan tangismu

01 February 2012

Jalan Pulang Untuk Rindu

Langit Kelabu di sinar mataku, 1 Februari 2012

Untukmu, yang mungkin telah melupakan aku

Surat ini khusus kualamatkan ke rumah hatimu, tempat yang pernah kukunjungi tapi tak pernah kutahu alamat detail dan daerah spesifiknya. Entah mengapa, saat menulis ini, aku ingat kali pertama pertemuan itu terjadi. Aku ingat betul detail kalimat yang kauucapkan sehangat desah angin di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Aku tak melupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara kita. Dan... Aku selalu ingat bagaimana caramu dan caraku untuk menikmati detik yang berganti menjadi menit. Bagaimana usahaku dan usahamu untuk menghargai menit yang berganti menjadi jam. Nyatanya, aku belum benar-benar membuang semua tentangmu dari otakku.

Kepada kamu, pria berambut panjang... sepanjang pinggang

Es kelapa muda yang kausesap perlahan tak memunculkan tanda-tanda adanya percakapan. Tatapanmu mengarah ke depan, tatapanku mengarah jauh menelusuri Stadion Mandala Krida. Hanya bisik angin yang memainkan dedaunan kering, menerbangkan daun-daun itu menuju tempat ternyaman bagi mereka. Deru bus TransJogja mengisi kesepian gendang telingamu dan gendang telingaku. Kita sama-sama terdiam tanpa ungkapan yang mengalir melalui pita suara, tapi sebenarnya ada banyak kecamuk dalam diriku, untuk mengajakmu setidaknya bicara dan menyapa. Entah mengapa bibirmu dan bibirku kelu, bisu! Seakan-akan kita hanya butuh tatapan mata dan membiarkan angin menyampaikan pesan hati kita. Beberapa menit berlalu, waktu kembali berlari pada lintasannya, di ujung terik bagaskara yang menusuk kulit, kauucapakan kata-kata rindu, tumpah begitu saja dari bibirmu. Lalu... Sepi itu berubah menjadi tawa. Deru TransJogja berubah menjadi kebisingan yang menyenangkan. Sesuatu yang kita sebut jarak telah menyatukan kita pada satu titik, di mana aku dan kamu saling mengunci tatapan mata, keajaiban kecil yang kita sebut pertemuan.

Tertulis dengan sederhana untukmu, calon arsitek yang masih semester 4

Kamu adalah yang pertama. Pertama kali mengajariku rasanya duduk di sepada motor bersama dengan seorang pria, dan aku mematung kala itu. Kamu adalah yang pertama. Pria yang pertama kali menjadi sebab rasa grogi dan canggungku, saat mata kita saling bertatapan di Mister Burger kala itu. Kamu adalah yang pertama. Seorang Adam yang menyebabkan pipiku memerah karena tersipu malu menerima tangkai bunga darimu. Kamu adalah yang pertama. Pria bermata indah yang mengenalkan aku pada kekasih hati pertamanya, ibumu. Kamu adalah yang pertama. Seseorang yang pertama kali mengajarkanku untuk mengepakan sayap, juga seseorang yang mematahkan sayap-sayapku.

Untukmu, pria yang saat ini terpisah ratusan kilometer denganku

Kamu ingat sekarang tanggal berapa? 1 Februari 2012, apakah tanggal 1 masih menjadi tanggal yang begitu spesial untuk kita? Setelah tangan perpisahan menyebabkan kita saling menjauh. Setelah kata putus menjadi kesepakatan terbaik untuk kita berdua. Benarkah semua yang kita sepakati adalah yang terbaik? Apakah kaumerasakan bahwa hidupmu jauh lebih baik ketika perpisahan kita terjadi? Apakah hari-harimu masih berjalan normal? Ketika aku tak lagi mengisi hari-harimu? Aku tak menuntutmu untuk manjawab jika pertanyaanku malah membuatmu seakan-akan terlempar ke masa lalu. Seperti perkataanku dulu, bahwa aku tak akan menyakitimu dengan tanganku, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kamu, walaupun perpisahan tetap saja jadi pilihanku dan pilihanmu.

Beberapa minggu ini, aku memang tak tahu kabarmu, bagaimana keseharianmu dan kuliahmu. Tapi, pentingkah hal itu kulakukan? Aku sudah melindungimu dalam kenangan, cukupkah? Aku selalu merindukanmu dalam pikiran, pantaskah? Aku selalu mengaliri hari-harimu dengan doa, masih bolehkah?

Aku kangen kamu begitu juga dengan ibu. Aku rindu bertemu dengan gecko peliharaanmu, ikan kecintaanmu, landak kesukaanmu, dan ayam kesenanganmu. Aku rindu rumahmu dan sepeda motormu. Aku rindu saat di mana kita bicara dan duduk di ruang tamu. Aku menyisir rambutmu sambil tertawa lepas, lalu kita menghitung jumlah rambutmu yang rontok. Kamu pria dan berambut panjang, aku wanita dan berambut pendek. Dulu, kita memang pasangan yang langka dan aneh. Hal-hal yang kita lakukan selalu berbeda dengan pasangan-pasangan lainnya. Tapi, kalau boleh jujur, justru keanehan itulah yang membuatku percaya bahwa rindu selalu punya jalan pulang. Jalan itu ada di hatimu, meletup dalam napasmu, merasuk masuk melalui nadimu. Jujurku menenggelamkan kemunafikanku. Nyatanya, aku (masih) merindukanmu.

Ada banyak hal yang membuatku tak bisa melupakan Yogyakarta. Ada banyak hal yang dimiliki Yogyakarta tapi tak dimiliki kota-kota lainnya. Ada beberapa hal yang selalu kurindukan dari kotaku, salah satunya adalah... senyummu.

Dari mantan kekasihmu
Yang sedang menyelamatkan mimpi-mimpinya
Yang masih mencium aroma tubuhmu di tubuhnya
Kalau kita masih bersama
tepat hari ini hubungan kita berusia lima bulan

30 January 2012

Dari: pengagummu yang pengecut

Kelas Pendidikan Kewarganegaraan, 30 Januari 2012

Untukmu, pria yang namanya salah dituliskan oleh kedutaan besar Belanda

Mungkin, surat ini tidak akan kaubaca. Mungkin saja surat ini juga akan termakan rayap. Kemungkinan yang lain bahwa surat ini akan hilang oleh banyaknya perhatian yang tertuju untukmu. Siapa lagi kalau bukan dari fans-fansmu? Siapa lagi kalau bukan dari pengagum film-filmmu?

Aku memang tak berharap lebih bahwa kauakan membalasnya, karena sudah sangat cukup bagiku jika kaumau membacanya, dan begitu bahagianya aku jika saat membaca ini ada senyum sederhana yang terlukis sempurna di sudut bibirmu. Hal itu jauh lebih baik daripada pengabaian dan tidak dibaca sama sekali. Lupakan siapa yang telah menulis surat ini dengan begitu lancang! Lupakan siapa sosok di balik surat yang mungkin saja menggelitik hatimu! Aku hanyalah sebagian kecil dari banyaknya orang yang mengagumi karya-karyamu. Pemuja rahasia yang diam-diam menghembuskan rasa kagumnya padamu.

Untukmu, pria yang pernah memperbaiki persepsiku tentang lagu "Glory Glory Man United!"

Awalnya, aku memang tak tahu siapa kamu. Siapa sosokmu dan apa saja karya-karyamu. Tapi, setelah dengan sangat rajin aku sering mencari tahu. Ternyata, kamu juga penulis buku dan setelah sekilas melihat cuplikan tulisanmu, aku jadi ingin terus memerhatikanmu. Tiba-tiba saja kau renggut perhatianku habis hingga ke akar-akarnya. Siapa dirimu wahai pecinta Manchester United? Apakah sosokmu begitu memukau seperti Manchester United? Aku tak ingin kehilangan jejakmu, sedikit pun. Kumaknai setiap jengkal hadirmu.

13 November 2011, itulah saat takdir menyudutkan kita dalam jengkal tatap yang biasa kita sebut kebetulan. Kebetulan saja kamu me-retweet tulisanku yang kurang dari 140 karakter itu. Iseng saja aku menjadikan tweet-mu sebagai favorite. Lalu, kita sempat berbalas tweet beberapa kali, setelah itu tak ada komunikasi. Hal yang kita sebut kebetulan dan iseng ternyata telah membawaku hingga sejauh ini. Hari berganti minggu, siapa yang sangka bahwa bayangmu mampu menyebabkan rasa penasaranku? Sepotong peristiwa bernama kebetulan itu membawaku pada keberanian untuk mengetahui lebih dalam tentangmu. Mereka sebut percakapan, aku dan kamu menyebutnya chat bbm.

Untukmu, pagi yang selalu pagi, pagi yang selalu menjanjikan matahari

Mungkin, kau akan tertawa membaca ini, aku sangat terkejut ketika kamu tiba-tiba "PING!" bbm-ku. Aku sangat berharap bahwa kau bertanya tentang kabarku dan bagaimana keseharianku. Tapi, ternyata harapanku terbang terlalu jauh, aku terjatuh, ternyata kau tak bertanya tentang hal-hal yang telah kuprediksikan. Kamu malah bercerita tentang orang utan, tapi aku tak tersulut kecewa kala itu. Bagiku, berbicara denganmu tetaplah hal yang kuinginkan, meskipun kadang pikiranku tak sampai menyentuh kecerdasanmu.

Nyatanya, aku tak pernah tahu siapa sosokmu dan di mana keberadaanmu saat ini. Realitanya, aku begitu sulit mengetahui semua hal tentangmu, sekeras dan sekuat apapun usahaku. Meskipun bisa saja aku menerobos dengan gilanya menuju hatimu untuk mengenalmu lebih jauh. Sayangnya, aku terlalu lemah untuk itu. Bagiku, perhatian yang sederhana jauh lebih baik daripada perhatian yang begitu ditunjukkan tapi tak dengan tulus diberikan.

Meskipun aku mengetahui pin bb-mu, tapi entah mengapa hal itu tak terlalu membantuku untuk lebih mengenalmu. Aku tetaplah aku, yang hanya berani memerhatikanmu diam-diam, tanpa pengungkapan sedikitpun. Aku hanyalah aku, yang harus berpikir berkali-kali untuk lebih dulu mengucapkan "hey" pada sosokmu. Salahkah aku kalau berkali-kali menggunakan tombol zoom in dan zoom out untuk membayangkan detail wajahmu? Salahkah aku kalau diam-diam memerhatikan tulisanmu sambil tersenyum tanpa sebab? Salahkah....

Maafkan aku, karena terus menjadi pengecut yang mengikuti bayang-bayangmu. Maafkan aku, karena mencintai tulisanmu dari balik dunia maya yang tak tersentuh. Maafkan aku, karena dengan lancang menulis ini untukmu.

Dari seseorang yang mungkin tak kaukenal
seseorang yang ingin terus berjalan ke arah bayangmu
selalu.

28 January 2012

Sesuatu yang Kita Sebut PELARIAN

Hatimu, tempat ternyaman bagiku, 28 Januari 2012

Untukmu, pemilik senyum manis, tempatku selalu mendinginkan mata

Mungkin, aku tak perlu basa-basi untuk menanyakan kabarmu dan bertanya tentang kondisi terakhirmu, karena bahkan saat musim penghujan berganti kemarau, dan musim kemarau berganti menjadi penghujan lagi, kita tetap saling memberi kabar, walau tak sesering dulu, walau tak seintesif saat kamu memberitahukan kabarmu pada kekasihmu.

Mengapa kita tetap bertahan dalam kondisi seperti ini? Mengapa kita tetap saling berkasihsayang walaupun kau telah bersama dengan wanita pilihanmu dan aku telah bersama pria pilihanku? Mungkinkah yang kita jalani selama ini hanyalah ilusi yang meredam rasa frustasi? Apakah hubungan kita adalah semacam hubungan pelarian ketika kamu penat dengan ocehan kekasihmu dan aku muak dengan omelan kekasihku? Apakah kita melakukan kesalahan yang besar saat kita saling jatuh cinta diwaktu yang tidak tepat? Sudahlah, kau tak perlu menjawab pertanyaanku dengan runtut, jawab saja dalam hatimu, karena hatimu takkan membawamu pada jawaban yang salah. Seharusnya, aku memang tak perlu bertanya, karena sejak awal kitapun juga tak membuat komitmen. Setidaknya, kau dan aku merasa bahagia saat kita bisa menghabiskan waktu bersama, walau harus bersembunyi-sembunyi, walau cukup aku dan kamu yang mengetahui.

Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu? Apakah dia masih saja menjadi seorang wanita yang bertingkah seperti bocah bodoh yang kurang perhatian? Apakah dia masih saja menjadi seorang wanita yang melarangmu ini itu layaknya ibumu? Apakah dia masih saja menjadi wanita cengeng yang selalu mengandalkan air matanya agar kamu memberikan rasa belas kasihanmu padanya? Ah... ingatlah saranku, wanita senang diberi perhatian, mereka akan lakukan apapun agar pria yang dicintainya mau memperhatikan sosoknya. Tapi, ternyata kamu tak mau mendengar saranku, kau selalu beranggapan bahwa aku berbeda dengan wanita-wanita lainnya, bahwa aku bukanlah si manja yang mengandalkan air matanya layaknya kekasihmu saat ini. Kamu tahu? Aku sangat terharu saat kau berkata, "Kamu jauh lebih baik daripada kekasihku. Sayangnya, kita bertemu diwaktu yang tak tepat. Mungkin kebahagiaan untuk kita masih disimpan rapat-rapat oleh Tuhan. Sekarang bukanlah masa milik kita, mungkin esok hari? Mungkin lusa nanti? Lima atau sepuluh tahun lagi? Who knows?"

Rasanya, aku seperti ditikam sangat dalam oleh pengakuanmu saat itu. Kalau dia memang bukan yang terbaik untukmu, mengapa kau tidak meninggalkan dia saja? Bukankah kau sama sekali tak merasa bahagia dengannya? Bukankah perasaanmu padanya hanyalah rasa belas kasihan yang tak berdasar pada cinta? Tapi, memang kata "putus" tak bisa terlontar dengan begitu saja, kamu terlalu perasa untuk ukuran seorang pria dengan badan macho seperti itu. Kamu paling tidak tega melihat air mata seorang wanita, dan kamu bertahan pada hubunganmu saat ini karena air mata wanita itu bukan karena hatimu yang benar-benar ingin mencintai dia. Bukankah saat bersamaku kau selalu menejelek-jelekan kekasihmu? Tapi, mengapa saat bersamanya kau menjadi lumpuh dan lemah? Saat bersama wanita itu, kamu kehilangan dirimu sendiri, kamu seakan-akan bisu. Ah... Ternyata air mata seorang wanita mampu memenangkan segalanya, termasuk memenangkan hati seorang pria.

Ingatkah kamu saat kamu bercerita tentang kekasihmu yang sering mengancam itu? Kekasihmu mengancammu dengan ancaman bahwa ia akan menjadi biarawati jika kamu putus hubungan dengannya. Astaga! Lucu sekali dia, mengancammu dengan ancaman tolol seperti itu. Jadi, dia ingin menjadi biarawati bukan karena panggilan jiwa? Tapi, karena putus hubungan denganmu? Seberapa tololkah kekasihmu? Saat bercerita tentang dia, kita tertawa terbahak-bahak bersama, aku masih saja tak mengerti bagaimana isi otak kekasihmu itu. Entah mengapa, aku suka mendengar tawamu saat bersama denganku, daripada harus mendengar suara galaumu karena kekasihmu yang senang mengancam itu.

Kita seperti nostalgia saja, mengingat-ingat tentang kekasihmu yang jelas berbeda jauh denganku, juga mengingat-ingat masa pertemuan awal kita. Kau ingin tahu bagaimana kabarku dengan kekasihku? Sederhana saja, semakin hari dia semakin baik, aku selalu bilang kan kalau kekasihku jauh lebih baik daripada kamu? Tapi, pernyataan itu tak membuatmu kecil hati. Kau malah mengajakku bercanda dengan mengikuti suara kekasihku, tawa kita pecah, memecah kesedihan hati yang disebabkan oleh kekasih kita masing-masing. Disaat-saat seperti itu, aku merasa bahwa sebagian diriku ada di dalam dirimu. Entah mengapa rasa itu semakin bertambah padamu, entah mengapa rasa rindu itu justru mengarah pada sosokmu, bukan pada kekasihku.

Diwaktu lalu, kita pernah sampai di titik itu, saat aku dan kamu sama-sama muak dan bosan dengan sikap kekasih kita masing-masing. Kita sempat memutuskan untuk bersama dalam status yang jelas, tapi setelah dipikirkan lebih jauh, ternyata saat itu bukanlah waktu yang tepat. Kita tak mungkin memperjuangkan cinta yang kita mulai dengan salah, walaupun tahu tapi aku dan kamu tetaplah manusia angkuh yang senang memberontak, sampailah kita pada hari ini, dan kita masih saja seperti dulu, saling mencintai walau sembunyi-sembunyi.

Entah apa yang harus kita lakukan dalam hubungan yang rumit seperti ini, karena segala sesuatu pasti akan rumit ketika cinta dan hati ikut bermain di dalamnya. Aku dan kamu memang tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, yang kita tahu, kita cukup menjalani apa yang disediakan oleh Tuhan. Pernahkah kamu bertanya dalam hatimu, apakah kisah kita juga termasuk cerita yang dipersiapkan oleh Tuhan? Apakah aku dan kamu sengaja dipertemukan takdir untuk menemukan cerita akhir? Aku ingin terus merasa penasaran, aku ingin mencari jawabannya bersamamu, aku ingin (setidaknya) kita bisa saling mengerti satu sama lain, tanpa harus menjadikan kata pelarian sebagai dasar dari hubungan kita.

Aku hanya ingin menjadikanmu satu-satunya, tapi nyatanya aku takut untuk memilih. Aku takut kehilangan kamu, aku juga takut kehilangan kekasihku. Kamu takut kehilangan aku, tapi kamu juga tak bisa melepaskan kekasihmu. Semoga Tuhan tidak sedang menghukum kita. 

Dari wanita yang bukan pilihamu
pelarian dari rasa frustasimu

27 January 2012

Kekasih 18 Jam

Kelas Fisika, 27 Januari 2012

Untuk, pemilik mata bening di balik kacamata itu

Aku bingung harus mengalamatkan surat ini kemana, ke rumahmu atau cukup ke hatimu? Aku juga takut kalau saat membaca surat ini kamu malah menaikkan alismu dan berkali-kali membenarkan kacamatamu. Ah, aku tak pernah lupa gerakan reflek yang kauciptakan saat sedang memperbaiki kacamatamu. Aku tak pernah lupa bentuk wajahmu saat seringkali mencuri pandang ke arahmu, kamu yang tepat berada di samping kananku, kamu yang tergesa-gesa mencuri hatiku.

27 Desember 2011, itulah tanggal pertemuan awal kita, apakah kamu heran mengapa aku begitu mengingat setiap detail pertemuan kita? Aku ingat saat tubuhmu basah oleh hujan senja dan rambutmu menjadi lepek karena rintik-rintiknya. Hujan memamerkan pesonanya, aku terpukau menatap butir-butir air hujan yang luruh membasahi kaca jendela bus. Kamu menduduki bangku di sebelahku, bangku bernomor 32. Kaumenghela nafas sembari menata kembali rambutmu, diam-diam aku memerhatikanmu, diam-diam aku mencuri pandang pada sudut senyummu. Tahukah kamu, sejak saat itu aku selalu memerhatikan setiap inci pergerakanmu? Tahukah kamu, sejak saat itu mataku hanya ingin menatapmu?

Kepada kamu, yang meminjakan bahunya untukku

Sejak sore hingga malam hari, kita memang tak saling bicara, tak ada kontak mata, hanya sikut kita yang sesekali bersentuhan. Malam pun tiba, penumpang tertidur pulas termasuk aku dan kamu. Kita tak tahu apa yang terjadi kala itu, sampai pada saat aku terbangun dan tahu-tahu kepalaku sudah berada di bahumu. Aku yang belum tersadar dari kantuk tak langsung menyadari kesalahan yang kulakukan. Aku malah menggerakan tanganku agar bisa melihat jam tanganku, pukul 02.00 pagi. Aku lalu menatap kamu yang berada di sampingku, aku tersentak! Ternyata sejak tadi kamu telah bangun dari rasa kantukmu dan kamu sangat sadar; sejak tadi aku tak sengaja menyandarkan kepalamu di bahuku, tapi entah mengapa kautak menyingkirkan kepalaku dari bahumu.

Sungguh, rasanya aku ingin membawa lari wajahku ke negeri antah berantah yang tidak kauketahui sama sekali, aku sangat ingin memindahkan wajahku yang malu ke wajah orang lain yang tak kaukenal. Melihat wajahku yang sedikit asam, kaumalah menyimpulkan senyum saat berkali-kali aku meminta maaf. Entah mengapa, aku suka sekali pada peristiwa yang terjadi tanpa kesengajaan itu. Aku merasa takdir benar-benar harus disalahkan karena peristiwa yang mengejutkan ini.

Aku menyandarkan kepalaku di jendela, menatap suasana kota dan lampu-lampu remang yang menghiasi jalan. Ada bisikan lembut yang menggelitik gendang telingaku, "Siapa namamu?"

Tak kuberitahukan namaku, aku menjawab dengan senyum singkat.... menahan diri.

"It's okay, kalau kamu merasa aku orang asing," ucapmu sambil menghelas napas, "Aku, Mikrobiologi Pertanian UGM 2005/2006, kamu bisa cari wajah seperti aku di sana. Tak perlu nama bukan?"

Iya. Tak perlu nama. Dan, malam itu berlalu seperti mimpi.

Perkenalan itu terjadi begitu sederhana. Perkenalan itulah yang hingga saat ini masih menggelitik malam-malamku, masa di mana aku sering mereka-reka kembali wajahmu. Kita saling bicara dan bercerita, tatapan mata kita saling mengikat lekat, sikut kita saling bersentuhan. Aku tak bisa lupa pada raut wajahmu yang menatapku kala itu. Kacamatamu memantulkan cahaya lampu-lampu jalan, mata sipitmu mengayun penuh rahasia dalam benakku, sungguh aku sangat ingin mengenalmu lebih dari itu. Seakan-akan hanya suaraku dan suaramu yang saling mengalun merdu, layaknya gravitasi tak mau tahu pada rasa yang tiba-tiba saja menarikku. Dinginnya AC dan suara mengorok para penumpang tak menjadi pengganggu, bisikan-bisikan kecil dari pita suaramu benar-benar mencairkan suasana yang tadinya sempat beku. Sungguh, aku ingin malam tetaplah menjadi malam, agar peristiwa itu terjadi berulang-ulang, tanpa akhir dan tanpa gangguan takdir.

Bersamamu, matahari ada di sudut bibirmu, di setiap lekukan senyummu

Ingatkah kamu apa yang terjadi saat pukul setengah enam pagi di daerah Magelang? Kamu sesekali mengintip melalui gordyn yang menyelimuti jendela, senyummu mengalir penuh arti dari bibirmu. "Tutup matamu!" bisikmu lirih tanpa gaduh, sepertinya kamu tak ingin penumpang lain memerhatikan kita.

"Kenapa?" tanyaku lugu, aku mengikuti perintahmu.

"Kalau aku suruh buka baru dibuka ya matanya." jelasmu singkat, terdengar suara gordyn jendela dibuka perlahan. "Buka!"

Aku membuka mata dan tersenyum malu-malu melihat pemandangan yang kausediakan untukku. "Suka?" tanyamu singkat.

"Sangat! Makasih ya, Tuan."

Ah, saat itu kita seperti sepasang kekasih yang rela terbakar oleh hangatnya cinta. Sadarkah kamu bahwa caramu menunjukkan kejutan itu begitu romantis? Walau kita hanya mampu menikmatinya lewat kaca jendela, walau saat itu suasana tak terlalu lirih dan tak ada semilir angin yang menggelitik manja tubuh kita. Bagiku, romantis sebenarnya tak diciptakan dan direncanakan, romantis yang sebenarnya adalah saat semua terjadi begitu saja, tanpa topeng dan penuh kejujuran, seperti yang kaulakukan untukku.

Terminal bayangan Jombor sudah semakin dekat, kamu bergegas menyiapkan barang-barangmu. Rasanya begitu cepat kalau semuanya harus berakhir karena kita berbeda arah tujuan. Hanya dengan lambaian tangan, ucapan selamat tinggal terlontar begitu berat dari bibirmu. Aku tak bisa apa-apa saat melihat punggungmu mulai bergerak menjauhiku. Aku sadar bahwa aku bukanlah siapa-siapa dimatamu. Aku hanya teman 18 jam yang tak mungkin bisa menunda kepergianmu, aku memang bukan siapa-siapa buatmu. Mungkin, aku hanyalah wanita yang kautemui di persimpangan, lalu kautinggalkan saat kauingin lanjutkan perjalanan. Kita hanya dua orang bodoh yang tergoda oleh manisnya jebakan situasi.

Walau begitu aneh, entah mengapa peristiwa itu masih melekat di otakku. Pertemuan kita memang tak sederhana, sehingga otakku pun tak ingin melupakan setiap peristiwa indah saat bersamamu. Kamu... kekasih 18 jam yang kutemui tanpa rencana lalu berpisah tanpa praduga.

Hari ini tanggal 27 Januari 2012, sudah satu bulan peristiwa itu terlampau. Semua memang telah berlalu, hanya kenangan yang membisu di sudut ragu. Setiap mengenangmu, aku merasa berada kembali di masa itu. Masa pertemuan awal kita. Absurd dan aku terkejut.

Untukmu, kekasih 18 jam yang sekarang entah berada di mana, titip salam untuk wanita yang ada di wallpaper handphone-mu. Maaf karena dalam 18 jam aku telah meminjam kekasihnya untuk menjadi kekasihku. Maaf karena telah meletakkan hatiku belasan jam pada bening matamu.

Dari wanita yang belum berhasil menemukan sosokmu
Diam-diam dia menunggu pertemuan baru denganmu
Diam-diam dia mencari sosokmu