11 May 2015

Enam belas hari setelah perpisahan kita

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Delapan Hari Tanpamu

Aku terbangun karena teriakan teman kosku, dia berteriak dari ventilasi kamar, dan berkata bahwa terjadi kebakaran di kamar kos bawah. Aku terbangun kelimpungan dan ternyata aku dikerjai habis-habisan. Aku hanya mengumpat dia beberapa kali, kemudian berbaring lagi. Kutatap langit-langit kamar yang putih dan perasaan hampa itu datang lagi. Aku tak tahu perasaan ini namanya apa, aku juga tak ambil pusing harus sibuk menamai perasaan aneh ini, tapi rasanya yang aku jalani semakin berbeda, dan diam-diam aku namakan perasaan ini adalah perasaan kehilangan kamu.

Aku meraih ponselku yang kini tidak lagi menggunakan backround picture foto kita berdua. Hanya ada beberapa pesan dari grup jurusan kuliahku, tentu saja tidak ada pesan darimu. Ini adalah pagi keenam belas, setiap pagi sebenarnya adalah hal tersulit bagiku; karena aku harus meyakinkan diri bahwa kamu tidak akan lagi meneleponku pagi-pagi sekali. Aku sempat berpikir bahwa melepasmu pergi bukanlah masalah besar bagiku, aku akan menjalani pagiku seperti biasa, nyatanya itupun tak semudah yang aku pikirkan. Aku yang dulu berusaha untuk melepaskanmu, namun mengapa sekarang malah aku merasa paling kehilangan kamu?

Seusai mandi dan membersihkan diri, aku mengunci kamar kosku. Aku memakai sepatu dan duduk di depan balkon lantai dua. Belasan hari yang lalu, aku ingat betul, gadis berambut gelombang dengan dua lesung pipi itu selalu menghadiahkanku pelukan hangat, dan dia sudah membawa dua porsi sarapan. Namun, gadis itu tidak ada lagi di sana, kamu tidak lagi ada di sana. Saat memakai sepatu, aku merenung sebentar. Aku jadi ingat bagaimana leluconmu menceritakan banyolan standup comedy yang baru kamu tonton, kamu beranggapan bahwa candaan comic itu sangat lucu, tapi entah mengapa saat itu aku merasa candaan yang kamu ceritakan sama sekali tidak lucu. Berkali-kali aku menyemburmu dengan ucapan bahwa selera humormu rendah, kamu hanya memasang wajah cemberut, dan untuk menghapus sedih di wajahmu-- aku menghadiahkan pelukan, giliran aku yang memelukmu. 

Jika diingat-ingat, ternyata kita manis juga, atau kamu yang mengubah pria dingin sepertiku berubah jadi romantis dan manis? Aku merelakan diri untuk mengubah diriku, demi membahagiakanmu. Aku tidak tahu apa arti bodoh dan tolol, yang jelas melihat senyummu adalah kedamaian tersendiri bagiku, meskipun mungkin senyum itu juga kamu berikan untuk pria lain. Setelah kita putus pun, aku masih tak yakin bahwa aku adalah satu-satunya yang memiliki dirimu. Kamu itu bintang yang gemerlap, bulan pun akan silau melihat sosokmu, tidak mungkin laki-laki tidak ingin memilikimu. Aku selalu merasa, pria sederhana seperti aku hanyalah mainan yang segera kamu tinggalkan saat kamu di puncak kebosanan. Dan, aku masih tak paham apakah hubungan kita benar-benar hubungan yang kamu perjuangkan?

Aku bersiap berangkat ke kampus, sepeda motorku dengan knalpot berisik itu siap menyapu jalanan dengan bunyinya yang tak karuan. Setiap menaiki sepeda motor ini, aku merasa seperti raja jalanan, terutama jika sedang memboncengmu di belakang. Aku benar-benar jadi raja yang sangat bahagia memiliki ratu serba bisa sepertimu, ratu yang pada akhirnya harus aku lepaskan karena aku merasa menjadi raja untuk ratu yang sempurna sungguhlah sangat melelahkan. 

Sepeda motorku melaju pelan di bilangan Margonda, Depok. Jalan-jalan yang kita lewati berdua, aku sengaja melewati jalan yang sering kita lewati saat mengantarmu ke kampus. Aku masih ingat bagaimana eratnya pelukmu dan lembutnya suaramu ketika kamu mengajakku bicara di atas sepeda motor. Aku masih hapal dengan jelas lirik lagu Taylor Swift yang selalu kamu lantunkan. Sebenarnya, aku sangat benci lirik-lirik cengeng yang dinyanyikan penyanyi perempuan kesukaanmu itu, tapi entah mengapa; jika kau yang bernyanyi, rasanya aku tak ingin kamu berhenti. Enam belas hari ini, aku tidak mendengar suaramu, dan aku menyesal kenapa aku tidak meneleponmu untuk yang terakhir kalinya sewaktu aku memutuskan ingin mengakhiri semua. 

Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan kampusmu. Melepas helmku dan menatap mahasiswi yang terburu-buru memasuki gedung perkuliahan. Aku berharap kamu ada dalam puluhan mahasiswi yang berlalu-lalang di depanku. Dan, kamu tidak ada di sana. Aku berharap kejadian itu bisa terulang lagi, saat kamu turun dari sepeda motorku, memberikan satu kecupan kecil di pipiku, lalu melambaikan tangan sebelum memulai perkuliahan. Hari ini, itu tidak terjadi, dan sekali lagi aku harus membiasakan diri untuk kehilangan rutinitas-rutinitas yang dulu sempat aku lakukan bersamamu.

Mengingat jam makin dekat dengan waktu dimulai perkuliahan di kampusku, aku segera mengendarai sepeda motorku menuju kampus. Aku berusaha menyibukan diri, dengan banyak aktivitas yang membuat aku semakin cepat melupakanmu. Aku lebih banyak bicara dengan teman-temanku tentang anime terbaru yang segera rilis di situs kesukaanku. Dengan segala kesibukan itu, aku berharap bisa dengan cepat melupakanmu. Aku juga mempelajari banyak metode baru untuk mengutak-atik komputer serta jaringan sambil diam-diam berharap agar semua yang aku lakukan bisa membuatku sedikit saja lupa soal kenangan kita.

Hari telah berganti malam, aku telah sampai di kamar kosku. Tempat ini semakin sepi saja. Aku semakin benci kalau harus sendiri lagi, karena kesendirian membuat aku seringkali mengingatmu. Setenang mungkin, aku berusaha menerima keadaan dan kesepian ini. Kuseruput kopiku dan aku telah menghabiskan dua batang rokok. Laptopku berkali-kali memutar suara gadis itu, gadis yang dulu kubenci setengah mati karena kegalauannya yang luar biasa. Aku sendiri juga heran, rutinitasku yang dulu bermain game online setiap malam, kini berubah jadi mendengarkan lagu Taylor Swift.

Dengan begini, aku merasa tenang. Dengan cara seperti ini, setidaknya aku merasa, kamu seakan ada di sampingku.


Dari  pria biasa
yang tidak banyak mengerti cinta.



2 comments: