23 July 2016

Aku berharap Tuhan mengembalikanmu ke dalam pelukanku

Baca sebelumnya: Aku sudah cukup bahagia menatapmu dari sini.

Aku duduk di kafe tempat pertama kali kita bertemu. Sambil memandangi hujan di langit Cibinong malam ini, aku turut menyelesaikan deadline untuk novel keduabelas yang berjudul Promise. Pemilik kafe tadi, yang temanmu itu, selalu bertanya mengapa aku tidak datang ke sini tanpamu. Dan, seperti biasa, aku hanya menjawab dengan senyum, berkata kalau kamu sedang sibuk. Namun, sampai kapan aku harus berbohong pada siapapun yang bertanya tentangmu? Haruskah aku berkata jujur bahwa kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar, setelah kita bertemu beberapa hari yang lalu, di hari ketika Portugal memenangkan EURO 2016. Haruskah aku berkata pada mereka, yang menanyakan kamu, bahwa aku tidak lagi mengetahui kabarmu, dan kita kembali jadi orang asing yang tidak saling kenal?

Aku sudah tahu ini akan terjadi. Saat aku menyapamu kembali, menanyakan apa oleh-oleh yang kauinginkan sepulang aku dari Jogjakarta. Kamu terlonjak bahagia, itu yang aku baca dari deretan chat kita. Aku bisa membaca kebahagiaan itu dari caramu menulis semua kalimat. Pada akhirnya, kita kembali bertukar sapa, setelah berbulan-bulan kita berpisah dan tidak lagi saling tahu kabar masing-masing. Kamu mau tahu apa yang terjadi saat itu? Pagi itu, setelah aku lari pagi di dekat Alun-alun Selatan, Keraton Jogjakarta, aku langsung bersiap menuju Dagadu. Aku memilih apapun yang pas untukmu, dengan harapan bahwa saat kita bertemu nanti, aku bisa melihat senyummu selebar mungkin.

Sepulang dari Jogjakarta, aku menikmati perjalanan selama dua puluh jam, sementara kamu menikmati EURO sampai tidak tidur. Sepanjang perjalanan, kita hanya menceritakan bagaimana pertandingan akan dimulai dengan seru, lalu kamu bercerita soal kekagumanmu pada Prancis, lalu kamu berbicara soal kemungkinan Portugal untuk menang, lalu kita berdua tenggelam dalam pembicaraan menyenangkan yang sama-sama kita rindukan. Aku menyimpan perasaan itu dalam-dalam, berbulan-bulan, andai kamu tahu, andai kamu mengerti.

Pada akhirnya, kita bertemu, dalam keadaan kita tidak tidur semalaman. Aku bisa membaca betapa kelelahannya matamu. Kamupun tentu mampu membaca betapa sayunya mataku, mata yang selalu sulit menyembunyikan perasaan rindu padamu. Kamu memelukku dengan pelukan takut kehilangan, pelukan yang aku rindukan selama berbulan-bulan. Aku memelukmu dengan pelukan menyadari bahwa kamu tidak akan mungkin aku miliki.

Wahai kamu, pria bermata sipit yang senyumnya selalu kukagumi, aku senang bisa kembali menghabiskan hari bersamamu. Aku senang melihatmu lahap memakan Domino's Pizaa yang aku belikan untukmu, yang aku belikan dengan cara memutar di Pemda Cibinong, begitu riuh dan macetnya, hanya untuk membawakanmu delapan potong pizza. Biarlah. Aku terlampau jatuh cinta. Dan, semua kelelahan itu bukan berarti apa-apa selama aku bisa bersamamu.

Kita melewati hari dengan candaan dan makian khas aku dan kamu. Kamu merangkulku dengan berani dan dengan senang hati membuatkanku es cappucino. Aku meminum minuman buatanmu sambil menatap matamu yang terus mengawasiku. Aku menawari es itu agar kauminum juga, tapi kamu menolak. Aku ulurkan tanganku untuk menyentuh pipimu, menyentuh dahimu, menyentuh bibirmu, dan menyentuh rambutmu. Betapa aku rindu menatapmu sedekat ini, selama berbulan-bulan kita tidak bertemu, dan bisa menyentuhmu sehangat ini adalah kebahagiaan yang sangat aku syukuri.

Siang berganti menjadi malam, mengapa setiap aku bersamamu, waktu terasa bergerak begitu cepat? Hujan turun lagi di langit Cibinong. Lalu, kita menunggu hujan reda. Tidak ada yang banyak kita lakukan selain aku menertawai candaan Sule di televisi dan kita hanya menikmati berita malam yang membicarakan kemenangan Portugal. Kamu berkali-kali menyentuh rambutku, lalu percakapan kita bergerak menuju bisnismu, teman-temanmu, duniamu, dan hari-harimua yang begitu menyenangkan. Kamu turut menceritakan hari-harimu yang menggelap tanpa kehadiranku. Apa yang bisa aku lakukan? Aku bersandar di bahumu dan memegang setiap jemarimu. Aku tahu karena aku akan selalu kehilangan kamu, maka aku harus mensyukuri setiap detik yang kita miliki, sebelum aku kembali mengikhlaskan kamu pergi.

Malam itu, hujan kelihatan sudah berhenti. Kamu mengenggam jemariku untuk menaiki sepeda motormu. Baru beberapa menit aku memelukmu di atas sepeda motor, hujan kembali turun lagi. Bukan hujan yang aku takutkan sebenarnya, namun aku merasa dejavu. Aku pernah merasakan hujan bersamamu ketika kamu mengantarkanku pulang. Saat itu, aku seakan bisa menebak apa yang akan terjadi lagi di setelah ini.

Aku turun dari sepeda motormu. Dan, kamu menatapku dengan tatapan hangat. Bajumu sangat basah, sama basahnya dengan bajuku. Kamu memelukku sesaat dan kemudian kamu berlalu dengan cepat. Kutatap punggungmu dari belakang, hingga sepeda motormu menjauh. Ada kekosongan dan kehampaan yang aku rasakan. Belum berapa detik berlalu, namun aku sudah merindukan pelukmu.

Ini terjadi beberapa bulan yang lalu, saat hujan itu, kamu mengantarku pulang ke rumah. Aku tidak tahan dengan puluhan cercaan yang mengatakan bahwa aku murahan, lalu aku tidak kuat, kemudian melepaskanmu pergi. Padahal, mati-matian kamu meminta agar tidak aku lepaskan. Aku memintamu pergi, namun aku menyesal karena hari-hari tanpamu adalah kesedihan yang menyebalkan. Dan, apa yang aku katakan dejavu itu kembali terulang. Aku pernah kehilangan kamu dalam keadaan seperti itu dan kemarin aku harus kembali kehilangan kamu lagi, kali ini-- tanpa sebab dan alasan.

Malam itu, aku menatap punggungmu yang menghilang dari pandangan. Seakan kamu ingin memberitahu, bahwa aku harus siap kehilangan kamu kapanpun itu. Kita saling tahu, bahwa di antara kita tidak akan ada yang bisa saling memiliki. Kamu tidak akan mampu memilikiku dan aku tidak akan bisa memilikimu. Kita sudah sepakat untuk ini bahwa aku dan kamu harus saling menyembunyikan. Tapi, bisakah kaumenahan diri dari kutukan cinta? Kamu tidak bisa memilih harus jatuh cinta dengan siapa. Cinta tidak pernah salah, tapi dia bisa datang terlambat.

Kamu selalu bilang bahwa aku datang ke hidupmu sangat terlambat, meskipun kamu sangat mencintaiku, namun bukan berarti kita bisa punya akhir menyatu. Malam itu, aku menatap punggungmu menjauh. Hujan turun semakin deras. Dan, aku lepaskan kamu dari pelukanku. Aku ikhlaskan kamu menuju peluknya. Sambil berharap kamu tahu, aku tetap akan menunggumu, meskipun aku tahu kekasihmu tidak akan melepaskanmu.

Aku tetap akan menunggu kamu kembali ke dalam pelukanku. Karena aku yakin, kamu selalu tahu, ke mana kauharus pulang.

Koko, aku rindu kamu,
Bisakah kamu buatkan aku semangkuk mie ayam,
untuk perempuan yang hanya menjatuhkan air matanya--
untukmu?

Baca lanjutannya di:

******

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)

12 June 2016

Aku sudah cukup bahagia menatapmu dari sini

Baca Sebelumnya: Perasaan yang masih sama.

Aku benci mengingat bagaimana caramu tersenyum. Aku benci menyadari bahwa senyum itulah yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta dan terpana. Aku benci mengingat setiap lekuk wajahmu, bagaimana mata sipitmu, rahang bulatmu, dan bibirmu yang semakin menghitam karena rokok itu entah mengapa telah menjadi pemandangan favoritku. Aku benci menerima kenyataan bahwa hari ini, aku tidak lagi punya kesempatan untuk memandangimu.

Setelah aku memintamu pergi, tentu ada yang berbeda di sini. Kamu tidak tahu hari-hari penuh ketakutan yang aku lewati tanpa membaca pesan darimu. Kamu tidak mengerti hari-hari yang kurasa semakin sepi karena tidak lagi mendengar suaramu di ujung telepon. Kamu tidak paham betapa aku merindukan caramu memelukku, caramu merangkulku, caramu menenangkan bahwa dunia tidak akan meledak, dan aku percaya begitu saja pada kata-katamu seakan kamu telah membaca semua pertanda dalam hidupku.

Aku percaya begitu saja, saat kamu bilang cinta, dan mengajakku untuk menjadi yang kedua. Aku percaya begitu saja, ketika kamu membisikan cinta di telingaku, di hujan yang menderas sore itu, sambil memelukku dan meyakinkan diriku bahwa aku tidak akan pernah kehilangan kamu. Aku menerima begitu saja, ketika kamu mengutamakan kekasihmu, kemudian menomorduakan aku. Aku menurut begitu saja, ketika kamu menyembunyikan aku dari sorotan mata dunia, ketika kamu menyembunyikan aku dari sahabat-sahabatmu, pun saat pertemuan kita harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Aku percaya begitu saja, padamu, aku terlalu percaya padamu, terlalu jatuh cinta padamu-- dan di situlah masalahnya.

Aku percaya kamu akan membahagiakanku, dengan segala macam ketulusan, yang di mataku, pada awalnya adalah cinta. Aku percaya sepenuh hati, bahwa sebenarnya kamu hanya mencintaiku, namun kamu tidak mungkin meninggalkan kekasihmu karena hubungamu dengannya sudah lebih dulu adalah sebelum hubunganku denganmu. Aku percaya, semua rasa mengalah yang aku berikan, semua air mata yang terjatuh saat aku memelukmu dengan perasaan rindu itu, akan segera berganti menjadi kedamaian seutuhnya. Aku tidak tahu, mengapa aku percaya begitu saja, dalam dirimu, kulihat sosok yang sama dengan diriku, hanya saja kamu laki-laki dan aku perempuan. Aku jatuh cinta padamu karena aku merasa sedang mencintai diriku sendiri. Aku percaya padamu dan telah menjadikanmu separuh dari diriku, setelah memutuskan untuk meninggalkanmu, aku benar; memang pada akhirnya aku kehilangan setengah dari diriku. Aku kini menjalani hari, sebagai aku yang tidak utuh.

Sehari setelah memintamu pergi, masih kurasa ketidakyakinanku untuk meninggalkanmu. Hal itu pun masih terjadi, ketika seminggu kamu tidak lagi menghubungiku, ketika semua tentangmu telah kuhapus dari memori ponselku. Seringkali, terbesit dari pikiranku untuk memintamu kembali, tetapi aku pada akhirnya sadar diri, aku tidak bisa selalu berada di antara dua hati. Aku akan jadi pendosa paling bodoh jika menginginkan kamu mengakhiri hubunganmu dengan kekasihmu, demi memulai hidup baru bersamaku. Aku tidak sekuat itu dan aku tidak ingin sejahat itu.

Kamu ingat? Malam hari, pukul dua belas malam, ketika kita bertengkar hebat kala itu, kamu mengutarakan rasa kecewamu karena kamu merasa aku telah melanggar peraturan. Kamu merasa aku mulai berbahaya untukmu dan untuk hubunganmu dengan kekasihmu. Kamu bilang bahwa kamu tidak suka ketika kisah kita kutuangkan dalam semua tulisan di-blog-ku. Kamu marah ketika aku sepolos itu menceritakan rasa sakit hatiku dalam seluruh tulisan di sosial mediaku. Kamu memintaku menghentikan semua dan kita berjalan dengan alur serta peraturan yang kamu buat sendiri.

Kamu tahu, malam itu, aku membaca pesanmu dengan perasaan hancur. Hari itu, aku menyadari bahwa sebenarnya kamu tidak membutuhkanku lebih dari sekadar teman yang mengisi kekosonganmu. Malam itu, ketika kamu memintaku tidak lagi menulis tentangmu, aku menyadari bahwa cerita kita tidak akan tamat dengan akhir bahagia. Dan, kubalas pesanmu, dengan kejujuran yang aku simpan sendiri. Kujawab mengapa aku hanya berani menuangkan kesedihanku dalam semua tulisanku, karena aku tidak mungkin menceritakan sosokmu pada siapapun, karena aku tidak mungkin menceritakan betapa bahagianya mencintaimu pada sahabat-sahabatku. Mereka yang tahu, pasti menyuruhku untuk segera melepasmu pergi, sedangkan di titik itu, aku sedang dalam keadaan sangat mencintaimu.

Menulis tentangmu adalah caraku untuk menyembunyikanmu, sebenarnya. Hal itulah yang tidak kamu mengerti. Kamu terlalu takut kehilangan kekasihmu, hingga melarangku untuk melakukan segalanya yang kaurasa bisa membahayakan hubunganmu dengan kekasihmu. Kamu terlalu takut ditinggalkan kekasihmu, karena menurut pengamatanmu, kekasihmu telah mengendus apa saja yang telah terjadi dalam hubungan kita. Kamu terlalu percaya diri, bahwa anggapan aku mulai berbahaya buatmu adalah anggapan yang benar. Kamu terlalu takut kehilangan kekasihmu, tapi kamu tidak pernah terlalu takut untuk kehilangan aku.

Karena bagimu, untuk mendapatkan perempuan sepertiku, bisa kamu lakukan dengan jentikan jari. Karena bagimu, untuk mendapatkan teman senang-senang, yang bisa kaupeluk dan kaurangkul, bukanlah hal yang sulit dilakukan. Sayangnya, aku terlalu bodoh menyadari di awal. Aku tidak bisa sejahat untuk menganggapmu hanya sekadar teman senang-senang. Aku tidak bisa untuk tidak melibatkan perasaan dalam hubungan kita. Apalagi di dukung oleh caramu yang serius menatapku, caramu berkata cinta padaku, caramu memelukku dengan pelukan tidak ingin kehilangan.

Aku tidak bisa menjadi jahat ketika aku jatuh cinta padamu, meskipun dari awal kamu telah begitu jahat untuk menjadikanku, bahkan memintaku jadi yang kedua. Namun, sebenarnya, saat aku mengiyakan ingin dijadikan yang kedua, hari itu juga sebenarnya aku sudah menjadi setan jahat, yang cepat atau lambat akan menyakiti kekasihmu. Hari itu, aku berpikir, sah-sah saja menjadi yang kedua, karena kekasihmu tidak bisa menyediakan waktunya bahkan hanya untuk mengingatkanmu agar tidak telat makan.

Rasa takut untuk terus menjadi jahat telah membayang-bayangiku. Aku bahkan ingin sepenuhnya memilikimu, aku bahkan tidak ingin pelukmu kauberikan untuk wanita lain, aku bahkan ingin meraup habis seluruh waktumu agar aku bisa menjadi duniamu. Aku menyerah menjadi orang jahat, karena berjalan dalam ketakutan akan kehilanganmu setiap saat bukanlah hari-hari yang menyenangkan untuk dijalani.

Aku memilih mengakhiri, melepaskanmu pergi, dan hidup dengan rasa sakit hatiku sendiri. Malam hari, ketika aku memintamu pergi, kamu berkata bahwa tidak hanya aku yang terluka, tetapi kamupun merasakan luka yang sama. Aku yakin, itu hanyalah kalimat penghiburan semata, karena kamupun juga kaget ketika tahu ternyata aku punya kekuatan sebesar itu untuk meninggalkanmu. Kamu tentu begitu percaya diri bahwa aku tidak akan memintamu pergi dan bertahan menjadi yang kedua. Tapi, wahai Sayangku-yang-aku-cintai-karena-kelemahanmu-itu, aku ingin memberitahu padamu, rasa memiliki dirimu kian hari kian besar, rasa ingin menghancurkan hubunganmu dan kekasihmu semakin tergambar jelas di otakku, iblis dalam diriku kian menguat dan bertumbuh. Kita mengawali semua dengan buruk, dan inilah saatnya aku mengakhiri semua dengan baik.

Melepaskanmu pergi adalah keputusan yang kupilih. Kamu berkata tidak hanya aku yang terluka, tapi kamupun juga terluka. Namun, nyatanya, perkataanmu tidak terbukti sama sekali. Kamu tetap bahagia dengan kekasihmu dan bisa menganggap aku tidak pernah ada dalam hidupmu. Tapi, aku berjalan sendirian, meninggalkan kamu yang di belakang, dan kembali menata hatiku yang telah kauhancurkan. Jadi, aku tidak perlu berpanjang lebar, siapa yang sebenarnya paling sakit di sini.

Aku tidak ingin menjadi jahat lagi. Karena aku cukup bahagia menjadi aku yang sekarang. Aku sudah cukup bahagia, melihatmu tetap bahagia bersama kekasihmu, dan tidak lagi membutuhkan pelukku. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan menatapmu dari jauh. Aku sudah cukup bahagia merawat luka dengan tanganku sendiri.

Aku percaya, Tuhan akan menyembuhkanku. Aku percaya, waktu akan memperbaiki semua. Kamu tentu penasaran mengapa dulu aku bersedia dijadikan yang kedua. Alasan terkuat yang membuatku ingin menjadi kekasihmu adalah karena aku ingin mengenalkan betapa Tuhan menyediakan keajaiban lebih dari apa yang bisa kamu miliki hari ini. Aku terheran-heran saat kamu telah menjalani hubungan bertahun-tahun dengan kekasihmu dan dia tidak mengenalkan agama padamu. Aku terheran saat aku mengajakmu berdoa, saat itu kamu malah menyemburkan seluruh asap rokokmu ke wajahku, dan mengejekku ketika aku selesai berdoa.

Alasan terkuat untuk bersamamu adalah aku ingin mengajakmu pulang, tapi aku tidak bisa memaksa orang yang sudah terlalu jauh pergi untuk kembali ke ke rumah yang harusnya dia tempati. Jika bagimu kekasihmu adalah jalan pulang yang tepat, silakan lakukan dan jalani sebisamu, sebelum pada akhirnya kamu menyadari-- aku adalah jalan pulang yang harusnya sejak dulu kamu ikuti.

Nikmati rumahmu hari ini, sebelum pada akhirnya kamu menyesal dan menyadari, bahwa hanya aku rumahmu untuk kembali.

Dari perempuan,
yang mencintaimu,
dan selalu takut kehilangan kamu.

Baca lanjutannya:

******

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)

28 May 2016

Perasaan yang masih sama

Baca sebelumnya: Akhir yang aku harapkan dari kisah kita.

Aku memasuki gang rumahku sambil memandangi kendaranmu yang perlahan menjauh. Baru beberapa detik kamu pergi, namun rasa rindu di hatiku kembali membesar lagi. Sejak siang tadi, aku makin sadar bahwa ini perasaan cinta. Saat menatap matamu yang bisa dibilang hanya segaris itu, entah mengapa aku menemukan keteduhan di sana. Matamu selalu berhasil membuatku rindu. Matamu selalu berhasil membawaku pulang. Matamu selalu berhasil membuat aku tidak sabar untuk pertemuan kita berikutnya.

Di langit Cibinong siang itu, seusai menjalani kelas Yoga, kita berjanji bertemu di salah satu rumah makan di Cibinong City Mall. Aku menjumpaimu duduk di ujung jendela, menatap ke luar jalanan. Mungkin, kamu menatap ke gapura bertuliskan "Selamat Datang Di Kabupaten Bogor" yang menjadi pemandangan di luar restoran kita. Segera aku duduk di depanmu dan menatapmu dengan tatapan mendalam. Aku sangat merindukanmu setelah empat hari kita tidak bertemu. Ternyata, kita memang butuh jarak dan waktu, untuk menjaga dan mencari tahu, siapa yang paling tidak tahan untuk mengusahakan sebuah pertemuan. Dan, ya, kamu selalu kalah. Selalu kamu yang meminta sebuah pertemuan. Dengan begini, kamu akan tahu, perempuan adalah mahluk paling gengsi nomor satu. Perempuan adalah mahluk yang tidak ingin memulai segalanya lebih dulu. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya dia ingin menatapmu, memelukmu, mencubitmu, mengecupmu, dan turut membebaskan kekangan rindu di dadanya. Kamu selalu kalah untuk tidak mengajakku bertemu lebih dulu, sementara aku selalu kalah untuk tidak menunjukan betapa aku rindu kamu dan ingin menghabiskan sisa waktu kita sambil menatap dan merangkulmu.

Seusai menyatap makanan berdua, kamu menggenggam jemariku dan mengajakku ke Gramedia di lantai atas. Aku tidak mengerti maksud dan tujuanmu, jadi aku menurut saja ketika kamu membawa tas fitness-ku yang berat itu, dan mengikuti langkah kakimu. Saat itu, kamu memperlakukanku layaknya kekasih. Kamu cukup membuatku melayang dengan caramu merangkulku, mengenggam jemariku, dan berkali-kali berbisik betapa kamu mencintai aku. Aku menaiki eskalator sambil tertawa ke arahmu, tidak berani aku memberi respon berlebih, karena aku tahu betul kita bukan sepasang kekasih, dan aku cukup sadar diri jika aku berharap lebih maka hanya berujung pada rasa sakit hati. Aku sudah jatuh cinta padamu dan caramu memperlakukanku seperti siang tadi bisa saja membuatku semakin mencintaimu dan semakin takut kehilangan kamu.

Sesampainya di Gramedia, kamu masih memegang pinggulku, dan meliak-liuk di antara rak buku. Dengan cepat, kamu mencari-cari semua rak yang berisi bukuku. Kamu tertawa manis sambil menunjuk-nunjuk bukuku. Kamu makin tergelak ketika ada orang yang membeli bukuku, sementara orang itu tidak tahu penulisnya ada di depan rak buku tersebut. Aku segera menarik kamu pergi karena bisa saja kamu bisa lebih aneh daripada tadi. Sedikit sikap bodohmu itu cukup membuatku gemas. Andai aku bisa mencubit dan meraih pipimu kala itu, andai aku bisa mencuri waktu untuk sesekali mengecup pipimu, sayangnya-- aku bukan kekasihmu. Aku cukup bisa tertawa dalam hati, membayangkan segala mimpi yang sudah kubangun di kepalaku bisa segera aku wujudkan bersamamu.

Hari ini, tidak ada kesedihan yang berlebihan. Aku hanya ingin menikmati hari tanpa mengingat seberapa jauh kamu sudah menyakitiku. Bagiku, tetap berada di sisimu dan tetap bisa merasakan pelukmu sudah lebih dari cukup. Kamu sudah memenuhi ruang kosong di hatiku, sudah miliki seluruh rasa cintaku, sayangnya mungkin aku tidak punya ruang di hatimu dan rasa cintamu tidak hanya sepenuhnya untukmu. 

Di atas sepeda motormu, aku memelukmu seakan waktu berjam-jam yang telah kita lewati masih belum cukup untuk menuntaskan perasaan rinduku. Langit Cibinong malam ini seperti memberikan isyarat bahwa hujan segera turun. Tidak ada bintang dan hanya ada udara dingin yang menyeruak. Sambil memperhatikan atraksi kuda lumping di lampu merah, kamu terus menerus memanggil namaku, dan mengucapkan kata-kata cinta yang semakin membuat aku bertanya. Jika kita memang saling jatuh cinta, mengapa tidak kita akhiri saja semua dengan status yang jauh lebih jelas. Ingin rasanya aku berteriak itu di telingamu, tapi tidak mungkin karena aku tahu betul kekasihmu tidak akan melepaskanmu pergi begitu saja.

Aku tahu betul ini bodoh. Aku tahu betul memeluk dan merangkulmu adalah suatu kesalahan. Aku juga tahu mungkin hubungan kita tidak akan berakhir dalam kebahagiaan. Tapi, biarlah aku habiskan sisa-sisa waktuku bersamamu karena aku paham ini tidak akan berjalan lama. Semua orang akan mudah menyalahkan kita tanpa mereka tahu seberapa jauh kita telah berjuang. Aku dan kamu tidak bisa melawan pada cinta yang bisa saja datang tidak tepat waktu. Kita jatuh cinta di waktu yang salah, sementara aku dan kamu tidak tahu caranya untuk berhenti serta mengendalikan diri.

Aku tahu betul ini bodoh, tapi biarkan aku dan kamu habiskan sisa waktu kebersamaan kita, karena saat waktu itu tiba-- aku dan kamu akan kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling kenal. Biarkan aku menikmati sisa-sisa waktu kebahagiaan bersamamu, sebelum semua orang menyuruh kita mengakhiri ini semua, kemudian perpisahan dengan segera menjadikan kita kembali tak kenal. Biarkan aku menghabiskan sisa-sisa waktu yang kita miliki ini, dengan kebahagiaan, bukan dengan kesedihan. Kesedihan punya porsinya sendiri dan aku tahu semua kesedihan itu akan dimulai ketika aku pada akhirnya harus melepaskanmu pergi.

Sebelum kamu pergi, biarkan aku bisa meninggalkan kesan, setidaknya di ingatanmu. Bahwa ada seseorang yang menjaga perasaannya, yang tidak mengubah perasaannya, ketika dia tahu kamu tidak bisa dimiliki oleh dia satu-satunya. Sebelum ini semua berakhir, aku hanya ingin membuatmu paham, mungkin saja perasaan yang aku miliki masih sama, bahkan ketika kamu menjauh dan menganggapku tidak pernah jadi bagian dalam hidupmu.

Semua waktu-waktu sedih itu akan datang. Jadi, dalam sisa waktu kita yang sebentar, aku hanya ingin membuatmu mengerti, perempuan yang paling mencintaimu sebenarnya adalah perempuan yang tidak memaksakan kehendaknya untuk memilikimu. Justru, dia yang paling mencintaimu adalah dia yang membiarkanmu terbang mengejar impian yang kauanggap benar, sambil bersabar menunggumu pulang.

Aku akan tetap jadi perempuan yang menunggumu pulang. Dengan perasaan yang tentu saja masih sama di dadaku.


Harusnya kamu sudah tahu itu,
bahkan sejak pertama kali kulihat matamu,
bahkan sejak pertama kali kubilang;
bahwa saat ini aku hanya mencintaimu.

Baca lanjutannya:
Aku sudah cukup bahagia menatapmu dari sini

******

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)

Akhir yang aku harapkan dari kisah kita

Baca sebelumnya: Salahkah Jika Aku Berharap Kamu Kembali?

Aku memandangi wajahmu dengan rasa rindu yang mungkin hanya aku dan Tuhan pahami. Kamu yang sejak tadi kupandangi hanya tersenyum jahil berharap pandanganku tidak lagi mengarah padamu. Dalam hitungan jam, kita sudah berbincang banyak hal, namun mengapa aku masih belum bosan untuk mengalihkan padanganku kepada yang lain? Berhari-hari, aku tidak menatapmu, rasanya dua hari saja tidak memandangimu cukup membuat rasa rinduku menderas seperti hujan di langit Cibinong sore itu.

Aku tidak bisa berbohong bahwa aku semakin mencintaimu. Aku semakin jatuh cinta pada caramu memandangiku, caramu memelukku, caramu merangkul bahuku, caramu membisikan kata-kata manis di telingaku, caramu menggenggam jemariku, caramu memanggil namaku, dan cara-cara lain yang kaulakukan-- yang selalu berhasil membuatku bahagia. Aku tidak bisa berbohong bahwa hanya chat darimulah yang aku tunggu. Kamu adalah notifikasi favoritku. Kamu adalah suntikan keajaiban yang membuatku selalu bahagia menatap layar ponselku. Ketika namamu tertera di sana, cepat-cepat aku membalas, dan berharap balasan darimu juga segera masuk. Hingga hari ini, hanyalah kamu yang kunanti, tapi aku cukup sadar diri bahwa kebahagiaan ini mungkin saja segera berakhir.

Aku cukup sadar diri bahwa kamu tidak akan mungkin bisa aku miliki. Aku cukup tahu bahwa aku dan kamu bisa saja segera berakhir, tanpa alasan dan penjelasan, tanpa ucapan perpisahan. Aku cukup paham bahwa kamu bukan seutuhnya milikku karena keberasamaan kita memang hanyalah kebahagiaan sesaat yang akan segera hilang dengan pergantian musim atau bahkan bulan. Aku tahu ini semua akan segera berakhir bahkan sebelum kamu benar-benar mengerti seberapa dalam perasaanku. Aku juga tahu hubungan kita otomatis akan berakhir, bisa saja berakhir kapan pun, karena aku tahu di mana posisiku berdiri saat ini.

Semua tentang akhir. Mungkin, kebahagiaan tidak akan pernah jadi milik kita dalam jangka panjang. Maka, kubiarkan kamu memelukku dengan erat, sebelum kita benar-benar berpisah. Kubiarkan kamu tetap berbisik sambil memanggil namaku dengan lembut karena mungkin ini bisa saja pertemuan terakhir kita. Kamu juga tahu, hubungan kita penuh banyak kejutan, kita tidak akan pernah tahu kapan hadirnya perpisahan, yang aku dan kamu tahu adalah bahwa kita masih punya waktu untuk menikmati sisa-sisa waktu yang kita berdua miliki.

Seringkali, di tengah-tengah pelukmu, kamu menceritakan tentang kekasihmu. Saat itu, mungkin kamu tidak memikirkan betapa sesaknya dadaku, betapa sesaknya menerika kenyataan bahwa mungkin aku hanyalah pelarian untuk menghilangkan kebosanan. Ketika kamu menceritakan tentang kekasihmu, aku memilih mendengarkan dengan baik, sambil menatap matamu dalam-dalam, berusaha mencari kesungguhan dalam mata itu, berusaha menjawab pertanyaan; adakah aku dalam mata dan hatimu? Apa yang aku temukan? Aku juga menemukan diriku dalam matamu. Aku menemukan sosok bayanganmu dalam matamu. Tapi, bayangan itu menghilang, memudar, seakan sebuah isyarat bahwa kesalahan ini harus segera kita akhiri.

Kamu selalu begitu. Membawa amarah, api, dan tangismu, ke dalam bahuku. Kamu pasti begitu. Melarikan segara marah dan kesalmu, mengarahkan cerita sebalmu tentang kekasihmu, dan menumpahkan segalanya padaku. Lalu, ketika aku berhasil memandamkan apimu, kamu akan dengan setia berbalik arah. Setelah aku berhasil sembuhkan lukamu, kamu dengan cepat pergi meninggalkanku. Jelas, ini sangat tidak adil bagiku, bagi orang yang juga mencintaimu. Tidak bisakah kamu tinggal lebih lama lagi dan memelukku lebih hangat sekali lagi? Karena aku bosan menunggu di beranda rumah, berharap kamu pulang setelah lelah berperang, dan mengingat bahwa masih ada orang yang menunggumu datang masuk ke dalam peluknya.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Apakah aku harus lari atau aku cukup diam saja dan menganggap semua tidak pernah terjadi? Apakah aku harus bersikap biasa saja, tetap mencintaimu seperti kemarin-kemarin, dan menganggap pelukmu serta ucapan cintamu bukanlah bualan? Aku tahu ucapan cintamu tidak pernah berbohong. Aku tahu betul, matamu tidak akan berhasil membohongiku. Tapi, yang selalu menjadi pertanyaanku adalah jika kamu mencintaiku mengapa kamu tidak membiarkan dirimu hanya dimiliki oleh satu hati?

Aku tidak tahu siapa pemilik hatimu yang sesungguhnya. Yang aku tahu, kamu hanyalah pria biasa, yang tidak mencintai sisi malaikat dalam diriku, justru kamu mencintai iblis dalam diriku. Kamu mencintai keliaranku, kamu mencintai cara berpikirku yang berbeda dari yang lainnya, kamu mencintai caraku melanggar segala macam peraturan demi memperjuangkan yang aku anggap benar, kamu mencintai sisi gelapku, kamu mencintaiku dalam keremangan yang menghangatkan. Yang aku suka darimu, kamu tidak sedang memaksa aku untuk memiliki sikap yang sangat malaikat, kamu justru membisikan hal-hal menyejukan yang selalu berhasil mendiamkan iblis jahat dalam diriku.

Kita sama-sama hadir dari kegelapan. Kita sama-sama gelap. Dan, percayakah kamu bahwa semua gelap akan menemukan terang di ujung jalan?

Aku ingin ke ujung jalan. Bersamamu.

Untuk pria yang belum percaya,
bahwa jalan pulang terdekat,
selalu lebih baik,
daripada jalan pulang terjauh.

Baca lanjutannya di:
Perasaan yang masih sama

******

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)

24 May 2016

Salahkah Jika Aku Berharap Kamu Kembali?

"Kamu pergi ketika saya sudah sangat nyaman bersamamu. Kamu lari ketika saya sudah sangat mencintamu. Kamu menghilang tanpa bilang-bilang, sementara aku yang terlanjur mencintaimu hanya bisa berharap Tuhan membuatmu sadar. Bahwa di sini, ada aku, yang mendoakanmu tanpa henti." - @dwitasaridwita


Aku duduk di kafe tempat pertama kali kita bertemu. Kafe yang kautunjukan untukku sebagai tempat menulis yang menyenangkan di sekitar tempatku dan tempatmu. Di langit Cibinong yang sedang hujan deras, aku meneguk lychee tea yang dingin. Ada kehampaan di sini yang aku rasakan karena tidak ada kamu yang duduk di sampingku. Dan, suara Marcell, tidak menjadi penenang bagiku. Lagu Firasat mengalun di telinga, menjalar ke hatiku, kemudian membuat dadaku sesak.

Aku ingat saat pertama kali bertemu denganmu di sini, setelah puluhan kali kamu memintaku bertemu, dan aku terus menolaknya. Hari itu, kutemukan dirimu yang sedang merokok di dekat meja kasir. Aku menghampirimu dan menyalami tanganmu. Saat itu, mata kita bertemu, dan bolehkah aku mengaku, hari itu-- aku sudah jatuh cinta padamu. Kita berbicara seakan tidak akan pernah kehabisan bahan celotehan. Aku langsung jatuh cinta pada caramu tersenyum, pada suara tawamu, pada caramu memanggil namaku, pada asap rokokmu yang membumbung di udara, dan pada caramu menatapku.

Setelah hari itu, kamu menjelma menjadi pria yang pesannya selalu aku tunggu. Aku menunggu kesibukanmu usai agar malam hari kita bisa berkomunikasi, agar bisa kudengar suaramu dari ujung telepon, dan agar rasa rindu yang penuh di dadaku bisa sedikit mengecil atau mereda. Tapi, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merindukanmu. Rasa itu semakin membungkamku ketika aku harus mengisi workshop penulisan novel di Bangkalan, Madura. Kamu terus memantauku di tengah kesibukanmu. Kamu mengirimku sebuah nyanyian melalui voice note. Meskipun saat itu berada sangat jauh denganmu, namun kurasakan napas dan dirimu selalu mengikutiku.

Sepulang dari Bangkalan, Madura, kita memutuskan untuk kembali bertemu pada pertemuan kedua. Aku membawa rasa rindu yang menggebu di dadaku, tetapi kamu ternyata membawa kabar buruk untukku. Di tengah rangkul pelukmu yang hangat, kamu akhirnya mengaku bahwa kamu sangat mencintaiku. Dengan anggukan bahagia, aku menatapmu terharu, kamu mengecup keningku. Kebahagiaanku merangkak naik menuju level tertinggi. Beberapa detik kemudian, kamu mulai menceritakan kisah hidupmu, hingga pada kisah bahwa sebenarnya kamu telah memiliki kekasih terlebih dahulu sebelum mengenalku. Tahukah kamu apa yang kurasakan saat itu? Rasanya aku ingin meledak, melepas pelukmu, dan aku merasa marah pada diriku sendiri.

Selama kedekatan kita, kamu memang tidak memberi status hubungan apapun. Aku pun tidak memaksakan agar kita segera memiliki status, tapi mengapa aku marah ketika tahu kamu sudah bersama yang lain? Aku menatap matamu dengan mataku yang berair. Kamu menangkap kesedihan itu dan segera memelukku dengan erat. Namun, mengapa aku tidak bisa melepaskan pelukmu yang erat itu? Peluk yang bukan hakku, peluk yang bukan milikku. Dalam pelukmu, aku menangis sejadi-jadinya. Rasanya sangat tidak adil, aku sedang berada di puncak sangat mencintaimu, dan kenyataan yang kaubicarakan itu benar-benar telah menghancurkan mimpi-mimpi megah yang telah aku bangun.

Aku sudah membayangkan suatu hari akan mengenalkanmu pada ibuku. Aku sudah berharap bisa membawamu serta ke dalam workshop-workshop menulis novel di sekitar Jakarta. Aku sudah membayangkan bahagianya bisa berada dalam status hubungan yang spesial bersamamu. Aku membayangkan setiap hari berpeluk denganmu di tengah kesibukan kita berdua. Kamu sudah membuatku terbiasa dengan pelukmu, dengan hangatnya kecupmu, dengan rasa humoris yang selalu kautunjukan padaku, dengan keliaran menyenangkan yang hanya kita ketahui berdua, dengan segala hal bodoh yang membuat aku bisa menjadi diriku sendiri ketika bersamamu, namun mengapa kaujustru pergi ketika kamu telah membuatku sangat terbiasa pada kebahagiaan akan hadirmu?

Hingga hari ini, aku masih merasa semua tidak adil. Kamu bilang kamu sangat mencintaiku, tapi semalam kamu menginginkan hubungan kita segera berakhir. Dengan alasan kamu tidak ingin membohongiku dan menyakitiku terlalu jauh. Tapi, sebagai yang bukan siapa-siapa, memang aku tidak berhak melarang apa-apa. Bagaimana mungkin aku begitu mudah terjebak pada segala perlakuan manismu, ketika aku pada akhirnya tahu-- kamu sudah lebih dulu memiliki kekasih yang lain. 

Andai kautahu, aku masih mencintaimu sedalam ketika kita pertama kali bertemu. Aku masih mencintaimu, sekuat ketika pertama kali kamu mengecup keningku. Aku masih mencintaimu, semagis ketika pertama kali kausebutkan namamu. Aku masih mencintaimu, seperti pertama kali pelukmu benar-benar menghangatkanku. Aku masih mencintaimu, bahkan ketika kamu memilih pergi dari hidupku dengan alasan yang tidak aku pahami sama sekali, dengan alasan klise yang sulit kuterima dengan logika.

Aku merasa sangat kehilangan, meskipun mungkin kamu tidak merasakan apa-apa. Aku merasa takut kehilangan, meskipun kamu bukan milikku. Aku merasa kehilangan, kehilangan harapan yang telah susah payah kubangun untukmu. 

Kembalilah padaku ketika kamu bosan dengan kekasihmu. Aku akan tetap sebodoh itu, mencintaimu tanpa mengemis status dan kejelasan hubungan kita. Kembalilah padaku, jika dia tidak bisa memberikan kebahagiaan dan peluk yang cukup hangat untukmu. Aku akan tetap jadi gadis yang bodoh, yang merindukanmu dalam diam dan kesunyian. Kembalilah padaku, jika kekasihmu tidak bisa menjaga perasaanmu. Karena aku akan tetap di sini, tetap menunggumu di belakang sini, tetap menjadi Dwita yang tolol-- yang menunggu kamu pulang.


Untukmu,
yang tidak akan pernah tahu,
dan tidak akan mau tahu,
siapa yang paling tersiksa,
dalam hubungan ini.

Baca lanjutannya di:
Akhir yang aku harapkan dari kisah kita


******

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)