24 September 2017

Siapa Dwitasari?


Menjadi seorang penulis novel dan skenario film adalah mimpi gadis ini sejak duduk di bangku SMP. Bersama Plotpoint, dia menggali ilmu penulisan novel dengan mengikuti Kelas Penulisan Novel Dasar dimentori penulis Clara Ng pada tahun 2011. Berselang dua tahun, Dwitasari menempuh pendidikan bersama penulis skenario film Salman Aristo dalam Kelas Penulisan Skenario Film Dasar.

Selama 5 tahun karir penulisannya, Dwitasari telah menulis sebanyak 14 buku. Sejumlah 4 novelnya juga sudah diadaptasi ke dalam bentuk film yaitu Cinta Tapi Beda (Multivision), Raksasa Dari Jogja (Starvision), Promise (Screenplay), dan Spy In Love. Segera menyusul buku Jatuh Cinta Diam-diam yang difilmkan oleh Visinema. Untuk memahami setiap karya Dwitasari, silakan klik DI SINI

Dwitasari kini menetap di Cibinong, Kabupaten Bogor, dan menempuh pendidikan sarjananya di Depok, Universitas Indonesia. Perempuan berzodiak Sagittarius ini sedang menyelesaikan skripsinya di jurusan Sastra Indonesia. Selain menulis novel dan menyelesaikan skripsi, Dwitasari juga mengisi kesibukan harinya dengan menyaksikan laga pertandingan sepak bola Persija Jakarta.

Karena lebih ingin dikenal lewat karyanya, Dwitasari tidak mem-posting foto dirinya di setiap sosial media. Baginya, foto dalam sosial media tidak akan menggantikan hangatnya perjumpaan nyata. Maka, Dwitasari memilih untuk menemui pembacanya lewat workshop penulisan novel atau meet and greet. Kesibukan Dwitasari lainnya adalah memberi pelatihan menulis novel untuk siswa, mahasiswa, instansi pemerintahan, dan khalayak umum. 

Rasakan sisi lain dan kehangatan Dwitasari lewat percakapan yang menenangkan. 

Pengundangan workshop penulisan novel atau meet and greet:
0822-6102-2388 (Tyas)

Official Line Dwitasari:
Untuk ADD, silakan klik DI SINI

29 May 2017

Delapan Hari Setelah Segalanya Berakhir

Baca Sebelumnya Enam Hari Setelah Segalanya Berakhir


Tidak akan pernah ada orang yang siap menghadapi perpisahan, termasuk aku yang tidak pernah siap untuk kehilangan. Kamu masuk ke dalam hidupku, memberi banyak arti, melukis banyak warna, menyisakan banyak peluk, menyimpan banyak genggaman tangan. Betapa mudah kamu masuk ke dalam hidupku, semudah itu juga kamu meninggalkanku.

Kamu tentu tidak paham, kekuatan cinta selalu berhasil membahagiakan siapapun, juga selalu berhasil menyakiti kapanpun. Aku terbuai pada cinta yang kaubisikan di telingaku, pada rindu yang kaudengungkan dalam setiap percakapan kita, sayangnya itu tak bertahan lama-- sekejap saja kamu ubah semua, dari nyata jadi semu semata. 

Kamu mengaburkan pandanganku tentang cinta. Kamu mengubah duniaku yang telah berwarna kembali abu-abu lagi. Kamu membirukan segalanya, mengubah setiap candu jadi luka baru. Hatiku lebam-lebam, sementara kamu tidak peduli pada kondisiku yang kesakitan.

Tidak bisakah waktu diputar ulang kembali, saat aku dan kamu masih saling mencintai? Tidak bolehkah aku mengharapmu sekali lagi, memelukmu seerat dulu lagi? Aku masih tidak percaya, secepat ini kamu mengakhiri semua, seakan aku bukanlah sosok penting yang patut diperjuangkan. Aku bahkan seakan tidak berhak untuk dibahagiakan. Kepergianmu tentu saja menghancurkan, meremukan, dan meniadakan kenyataan.

Aku terlambat menyadari, mungkin saja ini drama belaka. Mungkin saja, sesungguhnya kamu tidak benar-benar cinta. Mungkin saja, kata cintamu palsu semata. Aku terlampau melibatkan perasaan, memberi segalanya yang bisa kuberikan, berkorban apapun yang bisa aku lakukan, sayangnya segalanya tidak pernah cukup. Segalanya tidak akan pernah cukup. Setiap tuntutanmu yang justru aku jalani dengan baik, segala keinginanmu yang justru telah aku wujudkan, justru membuatmu pergi tanpa alasan dan penjelasan.

Kamu meninggalkanku dengan alasan sungguh klasik. Takut aku tidak bahagia denganmu. Takut kamu selalu membuatku menunggu. Takut kamu tidak mampu mencapai ekspetasiku. Takut kamu tidak bisa mencintaiku secara utuh. Ketakutan-ketakutan yang nampaknya hanya kamu ucapkan agar aku segera percaya dan memutuskan untuk menjauh darimu.

Delapan hari setelah kamu pergi, segalanya masih sama dan begitu hampa. Menyadari bahwa kamu tak ikut terluka, membuat aku terus bertanya-tanya. Jika dari awal segalanya tak didasari cinta, mengapa kaubegitu berani untuk berkata cinta? Jika dari awal memang dalam hatimu tidak pernah ada perasaan sayang, mengapa kamu memanggilku dengan panggilan sayang? Jika selama ini aku hanyalah pemain pendukung dalam drama kehidupanmu, mengapa seakan kaulibatkan aku begitu jauh dalam dramamu?

Kamu tahu, Sayang? Tidak ada yang lebih menyakitkan, daripada berjalan terlalu jauh, lalu kautinggalkanku di tengah jalan, sebelum kita berdua sampai di tujuan. Kautinggalkanku begitu saja. Begitu saja. Seakan kita tidak pernah memulai segalanya. Seakan aku bukan siapa-siapa. Seakan aku hanya mainanmu saja.

Jika kauanggap hubungan kita hanyalah permainan yang segera berakhir, mengapa justru aku yang jadi korban dalam setiap permainanmu? Bukan kamu.

Jika kauanggap hubungan kita hanyalah permainan, salahkah aku yang terlalu serius, terlalu melibatkan perasaan, dalam permainan ini?

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :')