19 May 2015

Dua puluh empat hari setelah perpisahan kita

Reactions: 
#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Delapan belas hari tanpamu

Aku menonton anime sendirian di depan laptopku, di kamar kosku yang sepi, dan pengap. Seven Deadly Sins adalah anime kesukaanku, entah mengapa hari ini aku tak berselera menyaksikan episode terbaru. Setiap mendengar opening lagu dari Seven Deadly Sins, Nanatsu No Taizai, tiba-tiba aku merasakan pelukmu yang hangat. Aku ingat saat kamu bergelayut di bahuku dan menemaniku menonton Seven Deadly Sins. Dan, sekarang? Tak ada perempuan manapun yang bergelayut di bahuku, tidak ada seseorang yang bersenandung lirih lagu Taylor Swift, dengan kata lain; tidak ada sosokmu di sampingku.


Besok tanggal 20 Mei, itu artinya jika kita masih bersama, maka hubungan kita berusia empat bulan. Setiap aku mengulang cerita ini pada teman-temanku, mereka hanya mengumpatku dengan sedikit candaan, dilanjut dengan menyemburkan asap rokok ke wajahku. Aku tidak tahu, apa yang salah dari terlalu mencintai seseorang yang bahkan baru aku kenali hanya dalam hitungan bulan? Aku tak tahu mengapa di mata mereka aku seperti laki-laki hina yang mudah saja melupakan semua. Banyak temanku bilang, lebih baik tinggalkan dan lupakan saja, jalani hidup senormal mungkin, seperti semua tidak terjadi apa-apa. Bagaimana mungkin aku menganggap tak pernah terjadi apa-apa jika selama bersamamu aku merasakan kenangan dan kebahagiaan yang luar biasa?



Karena tak berselera dengan Seven Deadly Sins, aku menyalakan rokokku. Langkahku berjalan menuju balkon kosan. Hari ini aku telah menghabiskan satu bungkus rokok, tapi siapa yang akan marah jika aku menghabiskan rokok satu bungkus? Yang kutahu, satu-satunya hanya dirimu yang rela mengingatkanku berkali-kali agar tidak merokok. Pacar baruku? Tidak. Dia tidak peduli aku menghabiskan berapa bungkus rokok, rokok bukan masalah baginya, satu-satunya masalah bagi dia adalah ketika aku tidak memberi kabar seharian. Ah, sama sepertimu yang akan mengeluarkan jurus ngambek jika aku tidak mengabarimu seharian.



Rokok yang menempel di bibirku mulai memendek. Setiap kali aku mengembuskan asap dari mulutku, setiap itu juga aku merasakan kekosongan dan kesesakan di dadaku. Semakin sesak waktu aku melihatmu berjalan dengan seorang pria bermata sipit menuju Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia tadi siang. Kalian begitu bahagia dan aku ingin mengumpat diriku sendiri mengapa aku tidak bisa terlihat sebahagia dan setenang dirimu. Harusnya, siang tadi aku tidak perlu makan siang di tenda biru sekitaran Stasiun Pondok Cina. Harusnya, tadi aku di kampus saja, tidak perlu menunggumu lewat tiba-tiba di depan tenda biru.



Mungkin, ini rahasia yang tak pernah kamu tahu. Setelah aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan denganmu, aku juga memutuskan untuk diam-diam menunggumu. Selesai perkuliahan di kampusku usai, cepat-cepat aku berlari ke tenda biru, berharap gadis lugu itu lewat di depanku. Satu hari, enam hari, satu minggu, dua minggu, kamu tidak terlihat. Namun, siang ini, aku melihatmu dengan seseorang yang aku curigai adalah kekasih barumu. Terbukti sudah dugaanku, kegalauanmu hanyalah topeng agar seluruh dunia mengasihanimu. Lihatlah! Kamu sudah punya yang baru. Secepat dan semudah itu? Memang kamu gadis murahan! Termurah di seluruh Kota Depok!



Oh, iya, pertengkaranku dengan sahabatku belum reda. Sahabatku adalah orang yang pertama memelukmu ketika kamu menceritakan keretakan hubungan kita. Dia adalah satu-satunya tempat ceritamu, juga tempat ceritaku, tapi mengapa dia seenaknya memelukmu ketika aku tidak di sampingmu? Atau memang sudah dari sananya kamu dan sahabatku sama-sama murah, kalian bahkan bisa saling berpelukan tanpa memikirkan sesaknya dadaku. Sudah kuduga, dia sangat mencintaimu seperti aku mencintaimu. Tentu dalam hatinya, dia begitu bahagia ketika tahu hubungan kita telah berakhir.

Siang tadi, hatiku telah panas melihatmu dengan pria baru. Lalu, dengan entengnya sahabatku datang dengan kabar bahwa kamu telah melupakanku. Dia bilang, kekasihmu sekarang adalah pria dari Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia. Ya, pria impianmu tentu bukan pria Sistem Informasi dari Universitas Gunadarma sepertiku, bukan? Ah, perempuan berselera tinggi, aku sangat membencimu saat ini, tapi jauh di lubuk hatiku aku lebih mencintaimu daripada membencimu.



Esok hari, aku akan tetap mengingatmu, mengingat gagalnya hubungan kita, serta mengenang usia empat bulan yang tak bisa kita rayakan, atau tak akan pernah kita rayakan. Esok hari, di gagalnya empat bulan hubungan kita, aku akan tetap mengingatmu sebagai perempuan yang begitu aku cintai, namun terpaksa aku lepaskan karena aku tak ingin kamu terluka dan terlalu berharap pada hubungan kita. 



Ini rokokku yang terakhir dan dalam kesepian hatiku, aku kembali masuk ke kamar kosku, memutar lagu Taylor Swift dengan volume sekencang mungkin. Aku berharap kamu ada di sampingku, memelukku, bergelayut di bahuku, atau memukul tubuhku sambil menangis seperti saat kamu cemburu melihatku dengan perempuan lain. Dan aku tak percaya, suara Taylor Swift bisa membuat pipiku basah oleh air mata, atau karena aku terlalu sibuk mengingat kenangan kita?

13 May 2015

Delapan belas hari setelah perpisahan kita

Reactions: 
#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Tujuh belas hari tanpamu

Malam ini tidak ada bintang, pertanda langit Depok akan segera menurunkan hujan, tak lupa menyertakan udara dingin yang menusuk tulang. Semestinya aku tak perlu lagi memikirkanmu dan seharusnya kamu sudah tidak perlu lagi mampir dalam ingatanku, tapi entah mengapa; kamu berdiam di kepalaku. Kamu justru semakin mendominasi ketika aku sedang berusaha keras melupakanmu. 

Gerimis mulai turun satu-satu, disusul dengan deras hujan yang membasahi jalanan. Aku duduk di balkon lantai dua, menatap kosong, dan lurus ke depan. Jalanan di depan kosku sangat lengang dan sepi, aku sendirian di sini. Teman-temanku sebenarnya mengajakku untuk menghabiskan waktu bersama, tapi dengan perasaan tidak karuan seperti ini rasanya aku tak ingin mengotori kesenangan mereka. Cukup aku yang merasakan ini sendiri.

Aroma hujan bercampur dengan tanah dan aspal jalanan. Aku ingat aroma ini, kemudian ingatanku terbang menuju kencan pertama kita. Masih kuhapal bulat matamu yang menatapku dengan bingung, kamu tidak ingin menaiki sepeda motorku yang tingginya hampir satu meter di atas permukaan aspal. Namun, kamu tidak mampu menolak, hanya ini yang aku miliki untuk mengantarmu pulang ke rumah. Agar tidak membuatmu kesal, kita makan sate terlebih dahulu, dan apakah kamu sudah tahu bahwa rumah makan kecil tempat favorit kita itu terbakar beberapa minggu yang lalu? Mungkin, tidak penting bagimu untuk tahu, karena tentu sekarang telah ada laki-laki yang tidak akan mengajakmu makan di pinggir jalan.

Saat makan sate, kamu mengajakku Doa Bapa Kami. Aku terdiam beberapa saat, tak percaya dengan yang aku lihat. Ternyata kita berbeda. Aku berpikir sejenak, apakah kamu harus tahu bahwa ibadahku adalah lima waktu, bukan Doa Bapa Kami yang kausebut itu? Dan, ya, aku tidak perlu mengaku. Dengan modal mata sipit, alis tebal, serta kulit yang putih tentu aku bisa terus berdrama menjadi pria yang beribadah di gereja. Kamu percaya dan aku berdalih untuk menyuruhmu berdoa sendiri, aku mengikuti. Setelah kamu ucapkan amin, ada rasa bersalah yang menjalar di dadaku. Saat itu kencan pertama kita dan aku telah membohongimu. Aku takut harus selalu membohongimu di hari-hari berikutnya. Senyummu yang tidak menunjukan kecurigaan apapun selalu membuatku merasa bersalah. Memang, pria berdosa sepertiku harusnya tidak layak bersanding dengan gadis lugu sepertimu.

Saat ini, hujan makin deras. Tiga bulan yang lalu, aku sangat ingat pelukmu yang ketakutan karena pertama kali menaiki sepeda motorku yang tinggi dan berisik. Aku bisa merasakan cengkraman penuh cinta ketika kita melewati jalanan Depok yang licin. Sekarang, aku sangat rindu peluk itu, peluk yang membuatku merasa bahwa aku dibutuhkan sebagai lelaki. Aku rindu teriakan kecilmu ketika aku ngebut di jalanan, aku rindu semuanya tentangmu. Kamu, gadisku, mantan kekasihku, yang mungkin tak akan pernah lagi memelukku sehangat kemarin.

Aku benci harus terus mengingat semua, ketika aku seharusnya berfokus pada kuliahku, keluargaku, juga kekasih baruku. Memikirkanmu adalah siksa bagiku, telah banyak cara aku lakukan, seperti menghabiskan waktu bersama kekasih baruku terus-terusan. Tapi, bukan ini yang aku inginkan, kamu selalu ada, selalu hadir, membekas, dan aku tak tahu bagimana cara terampuh untuk mengusirmu pergi. Kekasihku terus menghubungiku, mengemis untuk bertemu, namun aku beralasan sedang banyak tugas. Kali ini, aku seakan tak berselera untuk mencintai siapa-siapa. Terasa tak adil untuk dirinya, lebih menyakitkan lagi untukku. Semua makin keos dan berantakan, kini aku tahu rasanya berjalan tanpa menggandeng tanganmu.

Sebenarnya, aku sangat ingin tahu bagimana hidupmu yang sekarang. Aku tak tahu harus bertanya ke siapa, harus pergi ke mana agar aku tahu apakah kini kamu telah bahagia atau sama tersiksa seperti yang aku alami. Mulailah aku membuka blog-mu dan aku kembali tersesat dalam duniamu. Kamu begitu pandai menceritakan semua, begitu lihai mengungkapkan perasaamu dalam tulisan, dan tentu saja itu bisa mengobatimu-- menyembuhkanmu dari patah hati.

Dari tulisanmu yang kubaca, sepertinya kamu tidak bahagia. Kamu menulis bahwa hampir setiap hari kamu menangis, berbeda denganku yang hanya menangis dalam hati. Kamu repot-repot ke Bali hanya untuk melupakan lukamu, memang tolol, namun ternyata kamu masih gadis lucu yang menggemaskan buatku. Kamu tersiksa dengan berakhirnya hubungan kita dan kalau kamu ingin tahu, aku pun sama tersiksanya, aku juga sama gilanya, dan rokokku tak mampu mengobati semua.

Sekarang, lagu Taylor Swift masih menggema. Dan aku tak tahu apakah di sana kamu merindukanku sedalam aku merindukanmu.

Dari pria yang pernah merasakan pelukmu;
di bawah hujan.