Laman

22 Juli 2014

Untuk Pangeran Kotak-Kotakku

Reaksi: 
Ini surat entah yang keberapa, yang mungkin luput dari pandanganmu. Tertutupi oleh riuh pendukung dan media yang menyebutkan namamu. Sayangku, Pangeran Kotak-kotakku, aku bersyukur sejak pagi tadi bisa melihat senyummu walau hanya dari layar kaca. Ibuku tegas melarangku untuk meninggalkan kamar karena aku masih dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tapi, sungguh, kabar ini membuatku sedikit merasa sembuh. Selamat untuk kemenanganmu, Sayang. Izinkan doa gadis umur belasan ini memelukmu dari jauh. 

Bahkan, saat menulis ini pun, aku masih merasakan beratnya kepalaku, mual hebat yang kurasakan sejak pagi. Baru kutahu, gadis tangguh sepertiku bisa tumbang hanya karena penyakit ingusan seperti ini. Ada beberapa tulisan yang harus kuselesaikan, Sayang, dan aku tak memperhatikan kesehatanku karena teralu sibuk pada deretan abjad yang harus diakhiri dengan drama ajaib dari karakter novelku. Aku juga tak tahu harus menulis apa kali ini, selain aku semakin mencintai dan menggilaimu, Pangeran Kotak-kotakku.

Kamu mungkin bukan kegilaanku yang pertama. Aku pernah jadi Ungcliquers, pernah jadi JakAngel, dan dari semua kegilaanku itu; gila nomor satu yang kurasakan padamulah yang kurasa paling parah. Setelah pertemuan pertama kita di seminar SMESCO kala itu, rasanya wajahmu tak mau pergi dari kamarku. Jemariku yang kausentuh dalam hitungan detik itu seperti energi baru yang siap memanaskan diriku setiap kali aku berpikir harus berhenti sampai di sini.

Sayang, di antara demam yang meruntuhkan tubuhku, pusing kepala yang membuat pandanganku berkunang-kunang, pilek yang menaikan satu level lagi rasa pusing di kepalaku, mual yang kuderita sejak tadi pagi; rasanya aku cuma mau bilang satu hal bodoh yang mungkin akan membuat banyak orang tertawa. Aku kangen kamu.

Sudah setahun ini aku tak lagi melihatmu, merasakan sentuhan tanganmu, menatap erat matamu, dan aku semakin sinting karena rasa kangen itu hanya bisa kusalurkan dengan tulisan, kulahap habis dengan amarah yang tak kupahami, kuobati dengan melihat layar televisi. Jangan biarkan aku jadi tawananmu, Sayang, aku tahu perasaan ini tak ada hubungannya dengan persoalan politik, ini bisa kauanggap candaan dan kegilaan dari seorang gadis yang kerjaannya hanya bermimpi dan berimajinasi. Tapi, aku tahu mimpi dan imajinasi itu telah membawaku ke titik sekarang, saat semua mimpi dan imajinasiku dicetak dalam lembaran buku. Seandainya, kumpulan mimpi dan imajinasiku itu bisa kaubaca, Sayang. Oh, ya, bagaimana buku "Raksasa Dari Jogja" yang kuberikan padamu? Apa sudah kauselesaikan? Aku ada kabar gembira, tolong, bukan kulit manggis. Novel "Raksasa Dari Jogja" akan difilmkan tahun depan, mungkin jika kamu tak sempat membaca bukunya, Sayang, kamu bisa menyaksikan film itu.

Terima kasih, Pangeran Kotak-kotakku, kegilaanku padamu membawaku pada kedewasaan yang tidak pada tempatnya. Aku bersyukur bisa mengenalmu, mencintaimu, memimpikanmu, ataupun hanya sekadar membawa namamu dalam doa. Sekali lagi, tulisan ini pasti akan teredam oleh jutaan ucapan selamat dari banyak orang yang juga mencintaimu. Dan, atas keluguaan dan kebodohan yang dialami setiap orang yang sedang jatuh cinta, aku cuma mau bilang; aku mau ketemu kamu lagi.

Pertama kali bertemu denganmu di seminar SMESCO kala itu, setahun yang lalu, saat aku pada akhirnya bisa merasakan hangatnya jemarimu dan manisnya senyummu, aku tahu; kamulah orangnya.

dari pengagummu
yang pengecut.

18 Juli 2014

Setelah Sekian Lama Kita Berkenalan

Reaksi: 
Belum habis rinduku terobati, kamu buru-buru pamit pergi untuk meninggalkanku lagi. Rasanya sangat sulit menahanmu tetap di sini, mengingat kita belum berada dalam status apapun. Dan, aku hanya bisa melambaikan tangan, mengucapkan beberapa kalimat, sambil memberi sedikit kode agar kamu tak lupa pulang ke sini. Aku menatap punggungmu yang terus menjauh dan menyesali mengapa lagi dan lagi harus berakhir sesingkat ini? Aku belum bercerita bagaimana awan mendung di duniaku telah terhapus ketika bertemu denganmu, namun kausendiri yang menambahkan awan hitam dan petir ketika aku mulai ingin membagi cerita-cerita ajaib bersamamu. Bukan kauyang merusaknya, tapi harapanku yang terlalu tinggi padamu membuat semua berubah jadi berbeda. Hubungan ini tak lagi membuatku nyaman, justru aku ketakutan.

Setiap hari, aku menunggu kamu kembali. Dan, saat pertemuan itu tercipta, rasanya aku ingin waktu terhenti. Aku mau memelukmu sampai puas, bersandar di lenganmu yang beraroma parfum kegemaranku itu, parfum yang selalu kusemprotkan ke tubuhku agar aku bisa tetap mengingat aroma tubuhmu; setiap kali kamu harus kembali ke duniamu lagi dan meninggalkanku seorang diri. Aku tak tahu selama ini kamu menganggapku apa. Semua kata cinta dan sayang itu telah terlontar, tapi saat kita tak bertemu, saat semua percakaan hanya bisa terjalin lewat ponsel; di sana kurasakan dirimu yang berbeda. Kamu yang tanpa kata sayang dan cinta, kamu yang tidak memberi kecupan walaupun sebatas titik dua bintang, kamu yang membalas rasa rinduku dengan dingin, dan kamu yang tak langsung menggubris pesan singkatku; seakan kamu tak khawatir membuat aku menunggu.

Semakin kamu bersikap seperti itu, Sayang. Semakin aku mencintai dan menggilaimu. Aku tak ingin menjauhimu, meskipun luka mulai diam-diam tergores di hatiku. Setiap kali aku berusaha membencimu, rasa benci itu hilang seketika ketika kauembuskan lagi kata cinta lewat pertemuan kita yang jarang sekali terjalin itu. Setiap kali aku memilih pergi, tiba-tiba kamu datang dengan rangkulan sederhana dan memperlakukanku layaknya ratu sejagad, yang harus dibahagiakan walaupun hanya satu hari. Setiap kali aku ingin melupakanmu, saat itu juga kau mengingatkanku pada kenangan-kenangan manis kita, yang begitu sayang untuk dileburkan dari ingatan. Aku tak tahu, Sayang, perasaan ini namanya apa, yang jelas aku sangat ketakutan. Takut kamu akan melirik yang lain jika hingga saat ini aku tak menanyakan status dan kejelasan.

Dari dulu aku selalu tegas, bahwa aku tak ingin terjebak pada status yang menyakitiku hari ini juga esok hari. Tapi, kamu datang dengan membawa energi baru, sisa-sisa panas yang kaubawa dari bulan, menyentuh lembut dahiku yang sedingin besi; rasanya terlalu munafik jika aku menolak perhatian dan kebaikanmu. Namun, aku tak tahu bahwa segala sentuhan sederhana itu bisa menimbulkan perasaan lain, perasaan takut kehilangan, perasaan ingin memilikimu seutuhnya, perasaan ingin dijadikan satu-satunya olehmu.

Berkali-kali kutatap matamu, setiap kali kamu ucapkan cinta di telingaku, dan aku terbuai oleh nyanyian itu. Semua yang kaulakukan membuatku semakin berharap terlalu tinggi, aku takut jatuh sendirian dan kautak menungguku jatuh di bawah sana. Aku takut kamu sedang berusaha menerbangkanku dengan sayapmu, lalu kelak di atas langit sana, kaubiarkan aku mengepakkan sayapku sendiri yang masih kecil dan tak tahu caranya menggerakan udara di sekitar sayap-sayap kecilku. Aku takut semua hal sedih itu terjadi justru di saat aku sedang sangat tak ingin kehilanganmu, Sayang.

Ingin sekali aku mengetahui perasaanmu. Kamu boleh menyalahkan aku, untuk segala hubungan tak sehat, pertengkaran yang ajaib, rindu yang memberontak, kangen yang menjengkelkan, serta hal-hal magis lain yang selalu membuatmu berpikir aku ini perempuan yang berbeda. Katakan saja kalau aku ini gila nomor satu, karena selalu ingin tahu kabarmu, selalu ingin menemuimu, selalu ingin merindukanmu habis-habisan. Anggaplah aku ini pasien sakit jiwa yang menanti obat penenang, dan kaulah si obat penenang yang selalu hilang ketika aku membutuhkanmu.

Anggaplah aku ini halte, Sayang, dan kauadalah bus yang berlalu-lalang, datang dan pergi, singgah dan menetap; untuk mencari-cari keuntungan yang bisa kaudapatkan. Katakan saja aku ini payung, yang hanya kaubuka ketika cuaca terlihat mendung, yang rela membasahi tubuhnya demi membuat tubuhmu kering. Bayangkan saja aku ini gadis kecil yang tak tahu apa-apa, yang melihat pria sederhana dan humoris, pria yang setiap selesai bertemu selalu memunculkan harapan baru, pria yang peluknya selalu ia rindukan, pria yang aroma tubuhnya selalu menimbulkan perasaan kangen, pria yang entah bagaimana bisa membuat gadis itu takut pada rasa kehilangan.

Aku sedang ada di titik sangat mencintaimu dan aku tak ingin kisah-kisah lama yang terjadi padaku harus terulang lagi dalam kisah baru kita. Aku sedang dalam keadaan sangat menggilaimu dan aku ingin terus gila, ingin terus sakit jiwa, agar tanpa rasa terpaksa; kamu berjalan menghampiriku, dan bersedia menjadi-- obat penenangku.

dari gadis
yang selalu kauanggap adik.

17 Juli 2014

Kompetisi Menulis #JCDD2 :)

Reaksi: 
Halo, masih ingat kompetisi menulis bareng aku yang pernah aku adakan yaitu #CeritaCintaKota dan #CeritaHororKota, yang bukunya telah laris manis di pasaran? Aku mau mengulang kesuksesan itu bareng teman-teman followers-ku dan para pembaca setiaku yang ingin mewujudkan mimpinya bersamaku. Aku ingin memberi sebuah gambaran bahwa tulisan diterbitkan oleh penerbit besar bukanlah sebuah mimpi yang terlalu tinggi. Yuk, wujudkan mimpimu bersamaku! Gimana caranya?


1. Kompetisi menulis #JCDD2 terbuka untuk semua kalangan dan semua orang yang telah membaca buku #JatuhCintaDiamDiam :)

2. Kenapa harus baca? Setelah baca #JatuhCintaDiamDiam kamu bakalan ngerti cerita seperti apa yang kucari dan penerbitku cari #JCDD2

3. Belum punya buku #JatuhCintaDiamDiam tinggal miliki bukunya segera. Buku itu pedoman banget buat kamu nulis. #JCDD2

3. Bentuknya cerpen dengan tema jatuh cinta diam-diam. Boleh kisah nyata, boleh fiksi. (3000-4000 kata) font bebas. Perhatikan jumlah katanya, ya, bukan halamannya. Minimal 3000 kata. :) #JCDD2

4. Cerpen yang kamu tuliskan untuk kompetisi menulis #JCDD2 bisa kamu kirim lebih dari satu, lho~ :* #JCDD2

5. Cerpen tersebut HARUS dimuat di blog kamu sendiri. Gak punya blog? Ya, bikin blog. :D Belajar PUBLIKASIKAN tulisanmu! #JCDD2

6. Cerpen dimuat di blog-mu sendiri. Boleh dengan blogspot, wordpress, tumblr, dan sebagainya. Yang penting tulisanmu dipublikasikan #JCDD2

7. Di halaman blog kamu harus ada gambar logo @KlubCeritaDwita dan avatar Twitter kamu juga harus pakai gambar itu. #JCDD2


8. Setelah posting di blog, kirim tweet dengan format: (JUDUL NASKAH) – (NAMA) – #JCDD2 – link tulisan – @_PlotPoint @KlubCeritaDwita

9. Tweet berisi link posting-an blog harus disertai selfie bareng buku #JatuhCintaDiamDiam ya! Makanya kamu harus punya bukunya. #JCDD2


10. Contoh tweet:



11. Tweet ini harus disertai foto selfie, ya. :) Penting banget untuk memberitahukan bahwa kamu jadi peserta kompetisi menulis #JCDD2 beserta link tulisan kamu. :)

12. Naskah paling lambat diterima pada 06 Juli-06 Agustus 2014 pukul 00:00 (waktu jam kantor @_PlotPoint). Jangan lupa di-tweet, ya! #JCDD2

13. Naskah terbaik akan diumumkan pada 06 SEPTEMBER 2014 pukul 20.00 di akun Twitter-ku, @_PlotPoint, @KlubCeritaDwita dan blog. :) #JCDD2

14. Naskah terbaik juga akan DIBUKUKAN oleh @_Plotpoint :') Pemenang juga harus bersedia menjalani proses penyuntingan naskah. #JCDD2

15. Kompetisi menulis #JCDD2 berhadiah KARYAMU DITERBITKAN dan uang tunai Rp500.000 :’)

16. Kompetisi menulis #JCDD2 TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN, ya! :) Berimajinasilah lalu menulislah! :*

17. Akan dipilih 10 tulisan terbaik, ya, yuk tulis sekarang juga! :* #JCDD2

Udah tahu, kan, syarat kompetisi menulis #JCDD2 ini? Yuk, tulisankan perasaanmu melalui cerpen dan posting di blog sekarang! :*