Pages

March 29, 2015

Kamu tidak akan pernah tahu rasanya

Reactions: 
Harusnya aku memang tak perlu menghubungimu lagi, jika hanya untuk bertengkar dan memperdebatkan hal-hal tolol yang membuatku memutuskan pergi. Harusnya tak perlu aku membantumu lagi, jika hanya untuk kamu sakiti untuk yang kedua kali. Harusnya sudah sejak dulu kita berpisah, sehingga aku tak merasa terluka sedalam ini.

Kamu menawarkan banyak hal yang seharusnya aku tolak. Aku kira, aku sekuat baja, ternyata aku hanya Hawa yang tertipu dengan bisikan ular berbisa. Kamu hanya orang biasa, tidak punya apa-apa, tak ketemukan sisi menarik dari dirimu. Bodohnya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, perasaan itu pun masih sama meskipun aku berusaha sekuat mungkin untuk menghindarimu.

Sekarang, aku merasa menjadi gadis paling tolol yang tiba-tiba lemah karena tersakiti cinta. Kamu pergi justru di saat aku berharap semua mimpi kita bisa menjadi nyata. Aku kira kamu berbeda dan di otakku telah muncul banyak khayalan yang suatu saat bisa kita abadikan. Telah tergambar jelas bagaimana kelak kita bisa masuk gereja bersama, merapal doa yang sama, dan mengucapkan Doa Bapa Kami secara bersama. Aku telah membangun semua mimpi itu meskipun kamu tidak pernah tahu, tapi tiba-tiba kamu remukan semua, kamu hancurkan tanpa pikir panjang, dan kamu meninggalkanku seperti tak terjadi apapun.

Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Jadi orang yang sulit untuk bernapas karena tidak tahu  kabarmu. Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi perempuan yang diam-diam menangisimu ketika membaca seluruh pesan singkat kita dulu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi orang paling menderita karena merasa dibohongi sejauh ini. Kamu tidak akan pernah tahu dan otak bodohmu itu juga tak akan pernah paham. Perasaan dan hatimu yang telah mati tak akan mungkin mengerti.

Iya, aku yang bodoh, semua salahku, selalu salahku. Aku tidak bisa melupakan berisiknya suara sepeda motormu, kendaraan yang selalu mengantarku pulang hingga depan pagar rumah. Aku tidak bisa lupa caramu memandangku dari kaca spion, bagaimana matamu melirikku dengan ramah. Aku tidak bisa melupakan pelukmu, yang selalu kuanggap rumah untuk pulang. Aku tidak bisa melupakan leluconmu yang sebenarnya tak lucu, namun karena aku sangat mencintaimu, sebisa mungkin aku berusaha tertawa. Aku tidak bisa lupa bagaimana tawamu bisa benar-benar membuatku merasa lega dan tenang. Aku tidak bisa melupakan dialek anehmu saat berbicara, gaya bicaramu yang selalu membuatku rindu. Aku tidak bisa melupakan genggaman erat jemarimu yang entah bagaimana bisa seketika menenangkanku. Aku tidak bisa berhenti untuk menatap pagar rumah, berharap kamu tiba-tiba ada di situ, membawakanku selusin senyuman dan sepotong pelukan.

Aku ini gadis bodoh yang hobinya cuma menangis, bermimpi, menulis, lalu tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan jika hatiku sedang sangat remuk seperti ini. Aku tak tahu apa arti dari semua ini. Apa arti hubungan kita yang berjalan hanya sesaat ini. Apa arti kebohonganmu yang sebenarnya tak bisa dimaafkan tapi selalu berusaha aku maafkan. Aku tak mengerti mengapa sekarang kita masih berkabaran, namun status hubungan kita penuh ketidakjelasan

Aku tak mengerti mengapa pria bodoh sepertimu bisa membuatmu merasa gadis paling gila di dunia. Kamu membuat duniaku jungkir balik, pernapasanku selalu sesak karena lelah menangis, dan mataku selalu kabut karena penuh mendung. Kamu mengubah duniaku jadi berbeda. Aku sudah terbiasa denganmu. Terbiasa dengan pesan singkatmu, terbiasa dengan sapaanmu di ujung telepon, terbiasa dengan pelukmu, terbiasa dengan suara sepeda motormu, terbiasa dengan hadirmu, terbiasa dengan kita. Bagaimana mungkin kamu dan aku, yang sempat menjadi kita, harus kembali berpisah lagi menjadi aku dan kamu, sedangkan aku sangat nyaman menjadi kita?

Kamu tentu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Rasanya jadi gadis yang selalu menatap ponsel hanya karena menunggu kabar darimu. Kamu tak tahu rasanya jadi wanita yang tak tahu apa-apa, namun tiba-tiba dunianya jadi dibikin berbeda karena kehadiranmu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi aku-- yang selalu menunggumu pulang.

Ada banyak mimpi yang belum terwujud bersamamu. Salah satunya adalah aku ingin memelukmu semalaman, tak perlu ada percakapan, memelukmu sudah lebih dari cukup. Aku ingin mendengar degup jantungmu, merasakan degup cinta seperti apa yang ada di dadamu. Jika sudah mewujudkan mimpi yang satu itu, silakan kalau kamu mau pergi. Pergilah, kembali pada Tuhanmu, berhentilah berpura-pura seakan kamu mengenal Tuhanku.

March 27, 2015

PRE ORDER Jatuh Cinta Diam-diam #2

Reactions: 

Judul Buku: Jatuh Cinta Diam-diam 2
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Bentang Belia (Bentang Pustaka)
Tebal buku: 180 halaman
Harga Pre Order: Rp31.450,00
Bonus Pre Order: Tanda Tangan Asli Dwitasari dan Kipas Cantik
Batas Pre Order: 28 Maret-8 April 2015


Sinopsis

Kalau ditanya siapa yang paling mencintai dia, tentu diam-diam, hatimu yang terdalam; mengaku bahwa kaulah yang paling mencintai dia. Dia adalah segalamu, hadir dalam mimpimu, selalu ada dalam doamu, hidup dalam hatimu, dan terbayang-bayang dalam ingatanmu. Kamu mencintai dia, dan kamu berani bersumpah, demi apapun, kamu sangat mencintai dia. Tetapi, keadaan memaksamu untuk terus memendam perasaan itu, kenyataan menjadikanmu hanya bisa mencintai dia dalam diam.

Buku ini menceritakan kisah cintamu yang terdalam. Buku ini menyuguhkan berbagai kisah, kisah cintamu dengan dia, yang bahkan kautidak tahu bagaimana akhir kisah itu. Temukan kisahmu dalam buku ini; baca, resapi, dan pahami bagaimana perih dan bahagianya mengalami jatuh cinta diam-diam. Bagaimana manis dan getirnya mencintai seseorang tanpa berani mengungkapkannya.

PRE ORDER #JCDD2

Apa keutungan PRE ORDER? Dapat diskon, dapat tanda tangan, dan dapat kipas cantik supaya nggak kepanasan kalau lihat gebetan gandeng yang lain. :")

@BukuKita
PIN BB: 5352F931
WA/SMS: 0812-8500-0570
LINE: bukukita

March 7, 2015

Aku sangat membencimu

Reactions: 
Aku benci kamu
aku benci air mata yang terjatuh karenamu
Aku benci mata sembab
karena semalaman menangisimu
Aku benci pada caramu
yang begitu cerdas mengaduk-aduk emosiku

Aku benci padamu
sejak matamu menatap mataku dengan sejuk
lalu kau sebutkan nama,
lalu kita bercengkrama,
kemudian bertukar sapa,
dan aku lebih dulu;
dibuat sulit tidur
karena memikirkanmu

Aku benci harus melepasmu ke Surabaya
menerima kenyataan bahwa mungkin
kamu bisa saja pergi
karena di luar sana;
jumlah wanitamu tak bisa lagi dihitung dengan jari
Semua bisa saja terjadi
dan aku benci menyadari
kamu tidak seutuhnya aku miliki

Aku benci
ketika genggaman erat tanganmu di bandara siang itu
seakan memberi isyarat
bahwa gadis bodoh ini
terjebak dalam permainan busukmu.

Aku membencimu
tapi aku lebih-- mencintaimu.

Dinginnya rumah sakit, Bogor
07032015,  19:32

#SehariSatuPuisi