Pages

May 16, 2013

Seminggu Setelah Perkenalan Kita

Reactions: 


Aku duduk di tempat kita pertama kali bertemu. Tempat yang harusnya menjadi kenangan kita berdua. Bilik kecil yang terdiri dari satu meja dan dua bangku, tempat untuk membaca buku perpustakaan. Sebelum mengenalmu, ini adalah tempat favoritku. Aku suka pemandangan di sini. Di depanku ada pemandangan gedung-gedung tinggi, pohon-pohon hijau yang rindang, dan danau yang airnya tak lagi biru jernih. Aku selalu datang ke sini. Kenangan yang tercipta di sini pun berbeda-beda. Tapi, bagian yang paling penting adalah ketika pada akhirnya aku bisa merasakan sorot matamu.

Perkenalan kita sangat instan. Kepolosanmu membuat aku percaya, bahwa kamu adalah pria paling tepat. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, dua hal itu memang tak cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu terburu-buru jika aku mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan sesaat? Aku tak tahu, Sayang. Aku tak mau tahu fakta-fakta itu. Jika benar ini hanya ketertarikan sesaat, mengapa aku begitu sedih ketika kamu memutuskan untuk pisah dan mengakhiri segalanya?

Seminggu yang lalu, kamu begitu manis dan mengejutkan. Letupan-letupan kecil perhatianmu membuat aku yang lama tak merasakan cinta seperti tersetrum oleh energi magis. Kamu mulai ungkapkan rasa, bercerita tentang rasa kagummu terhadapku. Diam-diam, aku sebenarnya juga mengagumimu, tapi aku tak ingin bilang. Aku terlalu gengsi untuk mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu dan mulai nyaman dengan keberadaanmu di hari-hariku. 

Dua hari yang lalu, kamu masih merangkul dan menggenggam erat jemariku. Kukira aku sudah menjadi sosok yang spesial bagimu, ternyata perkiraanku pun bisa salah. Aku belum jadi pemilik hatimu. Aku hanya persinggahan yang tak akan kaujadikan tujuan.

Kalau boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin dari mahluk yang bisa membuat bodoh dan pintar dalam waktu yang bersamaan—handphone. Perhatian dan kecupan kecil yang kauselipkan dalam setiap percakapan lewat tulisan itu membuat aku banyak berharap. Kupikir, kamu memang punya perasaan yang serius. Iya, aku salah, harapanku terlalu tinggi. Entah mengapa aku tak bisa berpikir jernih bahwa pria seberlian kamu tak mungkin menaruh hati pada tanah liat seperti aku.

Tapi, terus saja kautunjukkan jalan terang. Jalan terang yang kupikir adalah tujuan menuju kenyataan. Aku mencoba mengikuti jalan itu, berjalan bersamamu atas nama hari, dan kita tak tahu teka-teki di balik perbedaan yang ada di dalam kita. Satu-satunya perbedaan yang tak bisa dibatasi adalah agama, meskipun cinta berperan besar, tapi agama pun punya peran yang lebih besar. Ini bukan alasan yang cukup logis untuk mengakhiri segalanya. Aku mulai mencintaimu, sederhana. Tapi, mengapa hal yang kaubilang bisa “dibikin simple” ini malah merumitkan segalanya?

Kamu memilih pergi tanpa alasan yang benar-benar kupahami. Kamu memilih pergi, ketika aku mulai menyayangimu dan terus ingin memperjuangkan kamu. Bayangkan, semua hanya terjadi satu minggu! Begitu singkat! Kamu pergi ketika aku mulai mengerti bahwa ini adalah cinta. Kamu pergi ketika aku mulai berharap bahwa kebersamaan kita akan segera memiliki status.

Kini, aku melewati hari yang berbeda. Tidak ada lagi kamu dan perhatianmu. Tidak ada lagi kita dan segala canda yang dulu pernah ada. Rasa sakit ini masih begitu sama. Kamu menghilang tanpa kabar. Menuduhku sebagai dalang yang menghancurkan segalanya. Menindasku dengan anggapan bahwa aku masih mencintai mantan kekasihku. Aku tak tahu, sungguh aku tak tahu mengapa anggapan itu bisa tumbuh subur dalam otakmu. Sedangkan di hari-hari kemarin, sebelum kita pisah, aku sudah menyakinkan diriku untuk selalu berjalan ke arahmu.

Kamu tentu tahu, melupakan sesuatu yang sudah mulai melekat bukanlah hal yang mudah. Aku tak bisa membayangkan bangun pagi dan tidur malam tanpa ucapan-ucapan manis darimu. Aku tak ingin tahu rasanya terlelap sebelum mendengar suaramu di ujung telepon. Aku tak ingin perpisahan, tapi Tuhan berkata lain—kita berpisah.

Kamu pergi tanpa berkata pamit. Kamu menghilang tanpa mengizinkan aku jujur mengenai perasaanku. Kita pernah saling berkata sayang, tapi semua akan terasa kosong jika tak benar-benar dikatakan tanpa bertatapan mata. Aku ingin tahu alasanmu pergi, karena sungguh alasanmu untuk pergi tak logis bagiku. Apa aku terlalu rendah untuk mengaharapkan pria setinggi kamu? Apa aku terlalu busuk untuk mendambakan sosok sempurna seperti kamu.

Aku memejamkan mata. Pipiku basah entah oleh apa. Jangan suruh aku mengaku bahwa ini adalah air mata, karena kamu tak akan mengerti rasa sakitku. Kepergianmu sudah cukup membuatku paham bahwa aku tak perlu lagi berharap terlalu tinggi.

Masih saja aku duduk di sini, di tempat favoritku, dan tak ada kamu di sampingku. Kita belum saling membahagikan, tapi mengapa kauinginkan perpisahan?

Sudah dua jam aku menunggu. Kamu tak datang. Apakah pertemuan pertama kita juga adalah pertemuan terakhir kita?

Namamu begitu indah kudengar di telingaku.

Aku mencintaimu, Cahaya Penunjukku.

selamat satu minggu seusai perkenalan kita

semoga kita segera saling merelakan dan mengikhlaskan
inikah sakitnya perpisahan?

92 comments:

  1. inikah sakitnya perpisahan???
    dan akankah kamu mau menjelaskan???
    *mungkin hanya sekedar harapan*

    ReplyDelete
  2. nah ! tepat banget sama yg aku alami saat ini :') entahlah harus berbuat apa ?! terus menunggu dan berharap hal yang tak pasti atau apaaa
    tapi yang pasti postingannya kereeeen banget kak

    ReplyDelete
  3. Meweek, dan K̶̲̥̅̊ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥я̲̣̥я̲̣̣̥ε̲̣̣̣̥ε̲̣̣̣̥п̥̥̲̣̥п̥̥̲̣̣̣̥

    ReplyDelete
  4. Ada sdikit perbedaan dg kisah saya,masallah wktunya saja..tanpa pamit,tanpa alasan pergi bgitu saja,,yaaah...menyakitkan...top postinganyah...tanks..

    ReplyDelete
  5. Saya Juga Pernah Mengalaminya....

    ReplyDelete
  6. Ini yang aku rasain sekarang.. :')

    ReplyDelete
  7. Panggilan suara hati dari dasar jiwa yang terdalam...
    :-(

    ReplyDelete
  8. kenapa dalam pertemuan harus ada perpisahan? aku benci kata perpisahan.

    ReplyDelete
  9. mengapa harus ada pertemuan kalo akhir nya harus ada perpisahan ? jika dia bukan lah seseorang yang tepat mengapa dia harus datang kehidup kita dan akhir nya dia pergi lagi dan hanya meninggalkan luka dan kenangan

    ReplyDelete
  10. Critanya bikin galau :'( hampir sama kya apa yg aku alamin :'(
    Bagus bngt ka :)

    ReplyDelete
  11. ngena.. ada beda agamanya.. ngalamin:')

    ReplyDelete
  12. perpisahan itu mendewasakan* saya percaya itu :)

    ReplyDelete
  13. JLEB banget. itu juga yang pernah aku alamin. keren kak dwitasari :)

    ReplyDelete
  14. saya percaya___ perpisahan itu mendewasakan*

    ReplyDelete
  15. Persis bgt sama kisah aku kak, bedanya kami satu agama. Apalagi sosok humorisnya yg selalu kebayang :(

    ReplyDelete
  16. Knp yah, setiap sy ngebaca TL atau blognya mbak dwita, selalu mewakili apa yg sy rasakan skrng???
    Pokoknya smua cerita2nya mbak itu ngena n' KERENNN bgt !!! (´⌣`ʃƪ)

    ReplyDelete
  17. NYATA BANGET SAMA SEKARANG GUA :'(

    ReplyDelete
  18. NYATA BANGET SAMA SEKARANG KISAH GUA

    ReplyDelete
  19. Mirip2 ceritaku.. Bedanya kalo aku cuma 2 minggu :')

    ReplyDelete
  20. Kisahnya lagi aku alamin. Dan itu semua bikin kangen:')

    ReplyDelete
  21. perpisahan? sakitt banget, berbanding terbalik dg pertemuan awalnya :(

    ReplyDelete
  22. Hem sedih bangeett ya tuhaan :'(

    ReplyDelete
  23. Bagus mba kata2nya mudah di serap, dan ini memang sering terjadi sama kaum wanita :')

    ReplyDelete
  24. Ironis, dramatis, picis, buta, gelap, the end.

    ReplyDelete
  25. Galohh ;')@yudiiipratama .. I like all your book

    ReplyDelete
  26. tulisannya mewakili perasaan" perempuan yang pernah ngalamin kayak gini.. #SoSilly ..

    ReplyDelete
  27. aku mengenalnya dalam waktu singkat hingga akhirnya kami dipersatukan dlm satu hubungan yg indah. Namun, ketertarikan itu jg sesingkat sama persis seperti proses pengenalan kami. Ironis

    ReplyDelete
  28. Ikut sedih ketika membaca sajak dalam ceritamu, kakak. :')

    ReplyDelete
  29. rasanya nyeesss... sampai ke hati :")

    ReplyDelete
  30. kerasa banget :") seminggunya ituloh :(

    ReplyDelete
  31. kerasa banget...seminggunya ituloh :"(

    ReplyDelete
  32. Plis nyentuh banget. Katakatanya euhhhhhh

    ReplyDelete
  33. tepat seminggu, dan 'dia'ku pun hilang ;/

    ReplyDelete
  34. smua yg ditulis kak dwita itu mengena banget sama aku.. Sumpah ngga bisa rangkai kata sehebat kakak.

    ReplyDelete
  35. ini nih yang buat aku harus bilang "WAOW"
    kereen...

    ReplyDelete
  36. sama yg kaya ku rasain nih kak, keren banget daah :D
    izin share yaa

    ReplyDelete
  37. Simple.
    tapi aku ga berharap akan ending seperti itu :)

    ReplyDelete
  38. Semoga Cinta berikutnya adalah sebenar2nya Cinta yg datang dr Tuhan, aamiin..
    Semangat Mba !

    ReplyDelete
  39. aku mencoba mengikuti jalanmu atas nama hari :")

    ReplyDelete
  40. Terharu...
    saran buat gadis yang sudah mendongeng di atas, coba cari dia, dan coba tanyakan apa maskud dia pergi tanpa pamit. (dari pada ada penyesalan gadis...) Semangat...

    ReplyDelete
  41. kak ijin copas yaaa :') ngena bangettt

    ReplyDelete
  42. jodoh ga kemana kok, tetap berdoa dan berusaha
    semua bakal indah pada waktunya :D

    ReplyDelete
  43. bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian itu benar
    tetaplah berusaha semua itu ada waktunya :D

    ReplyDelete
  44. Mencintai melalui doa... mungkin cara terbaik untuk merelakan kepergian.

    ReplyDelete
  45. Mirip dengan kisahku yang baru ku alami.

    ReplyDelete
  46. Sedih memang orang yang kita harapkan, sekaligus kita syg pergi tanpa ada alasan yg jelas :')

    ReplyDelete
  47. wawwwwwwwww,,
    keren bnget, Menyentuh Hati,,,,
    sedih bacanya jadi ingat Jg. :'(

    ReplyDelete
  48. emang singkat tpi dalem bangeeeeeeeet :')

    ReplyDelete
  49. Ketika saya harus beranggapan,Semua laki-laki sama aja.yang beda dan tetep mengerti kita cumalah papa.

    ReplyDelete
  50. Awalnya mirip, endingnya jangan.

    ReplyDelete