31 December 2014

Kisah yang Salah

Untuk 'Mas' yang selalu memanggilku dengan sebutan 'Dek'

Masih tersisa bayang-bayangmu di kamarku. Suara pendingin ruangan, ketikan jemariku di laptop, dan setiap inci ketika aku melempar pandang; entah mengapa wajahmu selalu hadir di sana. Aku tahu ini bukan lagi perasaan yang biasa, perasaan ini pun aku tak jelas ujungnya, perasaan yang membuatku bingung dan linglung. Aku pun semakin dibuat bingung kekasihmu, yang tidak pernah kau ceritakan itu memakiku dengan ucapan murahan, jalang, dan berbagai mahluk dari kebun binatang ikut serta dalam hujatan kekasihmu. Aku  baru menyelesaikan satu cerpenku untuk buku yang akan terbit dan makian dari kekasihmu itu benar-benar menghancurkan kelegaanku.

Kita bertengkar hebat, mengapa tidak dari awal kamu mengaku bahwa kamu telah berdua? Meskipun kita belum terikat dalam status dan kejelasan, kejadian ini cukup membuatku terpukul dan terluka. Adakah yang paling sakit ketika kau dibohongi oleh orang yang seratus persen kamu percayai? Dan, kamu merusak kepercayaan yang telah kubangun susah payah demimu. Aku tidak tahu harus menyesal, marah, berteriak, meninggalkanmu, atau secara egois tetap melanjutkan hubungan kita. Yang jelas, saat ini, aku tahu siapa pria yang selama ini kucintai dengan sangat tolol. Kamu cuma pembohong yang menghalalkan segala cara untuk menghapus kesepian dan kehausan dirimu akan perhatian.

Kalau kamu mau aku mengatakan semua dengan sangat jujur. Aku akan bercerita betapa sejak kita berkenalan, kamu telah memunculkan ledakan-ledakan ajaib di hatiku. Kamu adalah gambaran pria sempurna yang kucari selama ini. Berumur dua puluh lima, dewasa, berkulit sawo matang, bertempat tinggal di Jogjakarta, pengusaha peternakan kambing serta bebek, memahami seni, berbicara menggunakan bahasa Jawa halus. Kamu sempurna, Mas, sangat sempurna bagiku. Silaumu menggelapkan mataku, aku seakan pasrah berjalan menuju cahayamu. Aku terlena pada perakapan kita di ujung malam, pada tawamu yang menyegarkanku, pada selera humormu yang cukup tinggi, pada kata-kata cintamu, pada usahamu untuk menahanku pergi.

Aku telah memilihmu, bahkan ketika aku menemukan ada faktor yang entah dinamakan apa, yang membuatku tak ingin meninggalkan ponsel barang sedetik saja; agar tetap mengetahui kabarmu yang jauh di sudut kota sana. Dari makian kekasihmu, perempuan yang tak sepenuhnya aku kenali itu, sesungguhnya aku paham bahwa aku salah telah mengagumimu. Seharusnya, sebelum kita bergerak terlalu jauh, lebih dulu harus kutahu bagaimana status hubunganmu yang sesungguhnya. Aku tak tahu perasaan ini bernama apa, Mas, yang jelas setelah tahu kamu berbohong, aku hanya merasakan mataku panas dan ada yang basah di pipiku.

Sekarang, apa yang harus aku sesali? Kaudan dia sudah menjalin hubungan lama, aku yang baru kaukenali dalam hitungan hari ini hanya bisa berdoa bahwa Tuhan sesegera mungkin melepaskan perasaan ini, agar aku tak jadi pembunuh berdarah dingin yang haus akan rasa bahagia. Aku yang tak tahu salahku di mana, terpaksa meminta maaf pada kekasihmu, walaupun sebenarnya aku tak tahu di mana salahku. Setiap kutanya, kauhanya menutup mulut, berkata maaf, berkata kau mencintaiku, berkata kautak ingin kehilangan aku, berucap bahwa kauingin tetap kita dalam status berteman. Setelah kau hancurkan semua, setelah kau habisi semua harapanku, kaumasih ingin berharap aku tetap bersikap normal ketika luka di hatiku semakin berdarah?

Ah, ini bukan salahmu, juga bukan salah kekasihmu yang memakiku dengan ucapan kasar itu. Ini salahku, gadis yang terlalu cepat mengagumimu, gadis berumur belasan tahun yang merasa bahwa kamu bisa menjadi sandaran hatinya. Ini salahku, pasti salahku, selalu salahku, karena tak paham bahwa perkenalan ini ternyata bisa menjerumuskan aku pada perasaan yang harusnya tidak aku rasakan. Aku minta maaf untuk semua peristiwa yang terjadi tanpa keinginanmu, tanpa keinginan kekasihmu, tanpa keinginan kalian. Aku tidak pernah bermaksud untuk mengganggu kebahagiaamu karena sebenarnya dari awal kau mengaku tak punya seorang kekasih, jadi kurasa masih ada kesempatan untuk membuatmu tertawa dan bahagia lebih dari hari ini.

Aku tak pernah tahu perasaan ini disebut apa. Yang jelas ketika kubilang aku ingin meninggalkanmu, aku ingin mengakhiri semua, aku ingin kaupergi menjauh; aku merasa seperti membohongi diri sendiri. Aku tak tahu perasaan ini dinamakan apa, jika memang bukan cinta, jika memang hanya ketertarikan sesaat, mengapa sekarang aku masih menatap ponselku; berharap kamu menanyakan kabarku?


Dari Adikmu,
yang sukses kaubuat menangis.

Selanjutnya: Bukan Salahmu

27 December 2014

Terlalu Cepat

Untuk Batu Karangku, si kuat yang berhasil menghancurkan pertahananku.

Sehabis hujan sore ini, aku kembali membaca ulang percakapan kita, saat aku dan kamu masih menjadi dua manusia yang bisa dibilang punya kecocokan juga kesamaan. Aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teriris mengingat bahwa hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin lagi aku berharap bahwa kamu akan berubah jadi pria yang dulu begitu kukenal, yang kehadiran selalu sulit kuduga, dan yang diam-diam membuatkanku puisi cinta; puisi yang kubaca dengan wajah tersipu. Kenyataan yang harus kuterima, kamu bukan lagi pria yang dulu sangat kucinta, kamu berubah jadi orang asing bermata sipit, berkacamata, yang mungkin tak mau tahu lagi kenangan-kenangan kita dulu.

Rasanya aku masih mengingat kepulan asap rokokmu ketika pertama kali kita berjumpa. Aku masih mengingat wajah lonjongmu, mata sipitmu yang indah dibalut kacamata entah minus berapa, hidung yang cukup mancung, bibir tipis melengkung sempurna yang aku biarkan terus berkata meskipun kadang aku tak memahami pikiranmu yang terlalu bebas. Aku masih ingat betapa suara beratmu merasuk masuk ke telingaku, membisikan melodi cinta yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Aku masih menyimpan memori ketika kamu memakai kemeja biru, kulit putihmu yang berubah kemerahan ketika terkena sinaran matahari, dan banyak hal lain yang jika semakin kuingat, semakin membuat dadaku sakit. Aku tak sadar mengapa perkenalan yang tidak sengaja ini sukses membuatku berharap terlalu jauh pada sosok terlalu sempurna sepertimu.

Bagiku kesempurnaanmu adalah beban sangat berat untuk gadis seusiaku. Aku hanya perempuan biasa, kuliah di jurusan yang sangat sederhana, prestasiku tak seberapa, hobiku hanya menulis dan bermimpi, hanya itu yang bisa aku lakukan. Kamu? Dan, kamu? Kamu adalah pria luar biasa, yang diceritakan begitu sempurna dalam film dan rangkaian peristiwa drama, kamu menari, bergerak, berjalan dengan anggun; sementara aku hanya gadis lugu yang hanya berani menatapmu dari jauh dan berharap bahwa pertemuan pertama kita adalah mimpi yang akan terus berlanjut. Aku berharap tidak pernah bangun, berharap tak ada orang yang menyadarkanku bahwa mendekatimu adalah sebuah khayalan yang terlalu tinggi.

Dan, ternyata kamu memang tak sejauh matahari, kamu bukanlah sebuah ilusi. Aku semakin jatuh cinta padamu, pada suatu malam ketika kamu mencium keningku, di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya kala itu. Itu adalah pertemuan terakhir kita, dua kali kita bertemu, namun kamu menghadirkan kenangan yang tak akan pernah bisa kulupakan hanya dalam waktu singkat. Aku tak pernah paham apa yang membuatmu kini menjauh, aku tak tahu mengapa kaulebih percaya cerita mereka daripada pengakuanku. Aku tak tahu mengapa hubungan yang awalnya kukira hanya main-main ini ternyata menimbulkan luka yang luar biasa dalam bagiku. 

Terlalu cepat jika semua harus berakhir. Terlalu cepat jika aku harus kembali bersedih karena kehilangan kamu. Aku sedang di puncak sayang-sayangnya sama kamu, sementara kamu mendorongku dari atas sana, membiarkanku terjerambab, terjatuh sendirian, dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat, Batu Karangku. Perempuan yang selalu kamu sebut dengan Laut ini masih ingin memperjuangkan dan mengusahakanmu, tapi mengapa semalam kaubilang kamu telah bersama yang lain? Mungkin, ini tidak akan pernah adil untukku, namun apa yang bisa aku tuntut? Kita tak punya status apapun, menangispun rasanya tak akan membuat kita kembali seperti dulu.

Aku tidak membencimu. Aku cuma benci hari-hari tanpamu. Aku tidak akan pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku hanya menyesal mengapa dulu saat kau tawarkan perkenalan, aku terlalu cepat untuk mengulurkan tangan?

Dari Lautmu, yang tenang, diam,
tapi selalu mendoakanmu.

22 October 2014

Buku #KekasihTerbaik telah TERBIT


Judul Buku: Kekasih Terbaik
Penulis: Dwitasari
Tebal Halaman: 264 halaman
Penerbit: Loveable, Ufuk Publishing
Tahun Terbit: 2014
Harga: Rp49.500 


SINOPSIS

Biarkan waktu yang memilihkannya:
Bisa saja dia kekasih terbaikmu, dan kau kekasih terbaiknya, dan bisa pula kalian berdua adalah kekasih terbaik orang lain. Entahlah, percayakan semuanya pada cinta—dan waktu tentu saja.

Zera masih di ambang gamang. Ia tidak tahu ke mana cinta akan membawanya pergi:

Pada Yoga? Lelaki dingin yang dicintai secara diam-diam sejak kecil oleh Zera, dan lelaki yang tidak pernah mengatakan hal-hal yang lebih untuk dikatakan kepada seorang sahabat. Ya, mereka hanya sahabat kecil—walau terselip sesuatu yang lebih di dada Zera, entah di dada Yoga.


Atau Doni? Pelukis muda yang mengagumi Picasso. Sudah tentu Zera tidak harus menebak, sudah tentu ia tahu bahwa Doni mencintainya. Hanya saja, Zera tidak pernah yakin pada perasaannya sendiri, ia tidak tahu harus melabuhkan hatinya pada Doni yang begitu misterius atau pada Yoga yang telah memiliki Tasya.

Zera hanya tahu cinta pada akhirnya akan menyelamatkan dia dari lorong kegelapan. Zera masih ingin percaya bahwa cinta akan membawanya menuju cahaya terang. Tapi, siapakah yang akan menggenggam jemari Zera, secara lembut membisikan kalimat indah di telinga Zera, bahwa gadis pemurung itu masih berhak untuk bahagia?

TOKO BUKU

Buku ini telah terbit di toko buku kesayanganmu seperti Gramedia, Gunung Agung, TM Bookstore. :)
PESAN ONLINE DI @BUKUKITA

SMS-WHATSAPP-LINE: 081285000570 
PIN BB: 5153FF4D
Email: Order@bukukita.com
Website: http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Fiksi/129518-Kekasih-Terbaik.html

KEUNTUNGAN PESAN ONLINE
  1. Mendapatkan tanda tanganku
  2. Totebag #KekasihTerbaik
  3. Mp3 eksklusif berisi OST Buku #KekasihTerbaik
  4. Diskon langsung

Terima Kasih untuk Kebohonganmu

Seperti biasa, kamu menghilang dan tak ada kabar. Hari ini pun kamu tak mengizinkanku sedikit saja tahu keadaanmu, apakah pilekmu sudah hilang, apakah batukmu telah sembuh, apakah beberapa jerawat yang tumbuh di wajahmu telah kempes. Aku hanya ingin tahu jawaban sederhana itu dan kamu tak menyediakan sedikit saja waktumu untuk memberiku jawaban atas semua pertanyaan lugu itu. Dan, terima kasih, untuk lima hari yang penuh campur aduk, perkenalan ini membuat aku cepat mabuk juga cepat membasahi pelupuk mata.

Saat pertama kali kita bertemu, aku dan kamu sama-sama mengagumi ciptaan Tuhan yang disebut mata. Aku masih percaya Tuhan, kamu percaya tuhanmu adalah dirimu sendiri. Sepulang dari pertemuan itu, tanpa sepengetahuanku, kamu membuat puisi tentangku, yang kamu bacakan pada percakapan kita tengah malam itu. Dengan malu-malu, aku menyuguhkan dua puisi tolol yang entah bagaimana caranya puisi itu bisa membuatmu turut malu-malu. Aku merasa seperti anak SD yang dadanya berdebar kencang karena hal yang tidak kupahami sama sekali. Masa iya, ini cinta? Sementara tubuh putih, wajah oriental, dan pria berkacamata yang kutemui siang tadi; hanya beberapa menit mampir di pandangan mataku. Dan, kita sama-sama bertanya, ini cinta?

Dua hari yang lalu, kamu tiba-tiba muncul mengagetkanku, padahal paginya kamu menghilang tanpa jejak. Kejutanmu menyenangkan, tapi mengapa hal menyenangkan itu selalu diawali dengan hilangnya dirimu dalam jangka waktu yang lama? Tulisan ini akan sangat jelek dibaca, aku tidak ingin sastrawan sekelasmu membaca tulisan bodoh ini, sambil tertawa terbahak-bahak. Tidak jelas plotnya, tidak jelas alurnya, siapa tokohnya. Barisan paragraf ini kutulis hanya untuk menumpahkan kekesalanku pada kebohong-kebohongan bodohmu yang telak kupercayai dengan sangat berani.

Dua hari yang lalu, aku masih ingat rangkulanmu, aroma tubuhmu, saat pertama kali kamu mencium pipiku, saat kamu mengcup keningku, dan tanpa bisa mengemis; aku harus membiarkanmu pergi dengan cepat, menghilang bagai asap, dan duniaku kembali senyap. Kalau boleh jujur, gadis tolol ini telah mencintaimu, meskipun aku tahu betapa masa lalumu bukanlah hal yang mudah ditolerir oleh gadis seumurku. Aku percaya saja ketika kaubilang kautak lagi suka pada pria, aku menerima saja ketika kautak menceritakan apapun, dan saat kita bertemu; hanya aku yang selalu bercerita bagaimana aku memandang dunia. Mengapa kautak membiarkan aku tahu bagaimana isi dalam kepalamu? Memangnya aku ini masih gadis asing yang terlihat seperti pemberontak kelas kakap berusaha meringsek masuk ke dalam pagar duniamu?

Sejak mengenalmu, aku tak peduli bagaimana orang menilaimu, bagaimana caramu mencintai seseorang; cara-cara yang dibilang orang lain menyimpang. Aku tak pernah mengganggap bahwa aku berkenalan dengan seorang pelaku kriminal. Aku juga tak peduli pada hasil keingintahuanku bahwa ternyata kamu punya kekasih yang jenis kelaminnya sama denganmu. Itu bukan salahmu, salahku yang mencintaimu. Salahku. Salahku? Salahku!

Salahku yang mau melanjutkan perkenalan ini, padahal mungkin kautidak berselera pada gadis tolol yang masih dikekang orang tuanya, padahal mungkin kautak mau mengetahui sosokku lebih dalam. Salahku yang salah mengartikan semua, salah mengartikan sentuhanmu, salah mengartikan kecup lembutmu, salah memahami suara beratmu, salah menilai cara bicaramu, salah memaknai arti rangkulanmu, salah dalam banyak hal, salah mengapa aku, sekali lagi-- jatuh cinta padamu.

Salahkan aku jika tulisan ini juga salah, jika perasaan ini semakin ngawur, jika penilaianku yang kelewat absurd ini masuk kategori pikiran paling tolol versi On The Spot. Aku tak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri, menyesali yang selama ini kurasakan, tidak berpikir panjang mengenai apa yang seharusnya kulakukan jika menghadapi pria spesial sepertimu.

Aku tidak tahu, aku kalut pada rindu yang menggebu. Takut bahwa ternyata aku tak sebermakna itu di hatimu. Takut bahwa aku hanya kauanggap halte tempat kausinggah sebelum memutuskan pergi. Jika memang aku dilarang mencintaimu, mengapa kaumasih memberiku kesempatan untuk berharap?

dari lautmu
yang katamu
berhasil menghancurkan
batu karangmu.

08 October 2014

Beberapa hal yang tidak bisa aku lupakan darimu

Aku masuk ke sebuah toko parfum yang pernah kita kunjungi berdua. Toko parfum di bilangan Depok, tempat yang tidak terlalu asing bagiku dan bagimu. Di sinilah tempat kencan pertama kita terlewati. Aku melihat-lihat parfum yang aromanya seperti aroma tubuhmu. Barcelona, parfum yang hanya kaubeli biangnya saja, yang kaubilang murah itu, dan kusarankan padamu agar membeli yang asli; supaya saat terkenal kulit, tidak menimbulkan panas ataupun iritasi. Kamu menyetujui hal itu dan yang dipikiranku kali ini hanya satu, memiliki segera parfum Barcelona untuk mengganti aroma tubuhmu yang belum lama ini pergi.

Setelah dari sana, aku berjalan ke lapo, tempat makan khas Batak. Memesan makanan yang dulu kaupesan. arsik, seperti pepes ikan, makanan yang berusaha diterima oleh lidahku yang sangat Jawa sekali. Kamu tertawa ketika wajahku berubah merah karena tak tahan dengan pedasnya makanan kesukaanmu itu, kamu semakin tertawa geli ketika aku hampir menangis melihat sangsang, salah satu makanan kesukaanmu juga yang terbuat dari daging anjing. Kali ini, tanpa ditemani olehmu, aku memakan ariskku sendiri, membayangkan kamu yang dulu pernah mengambilkan daging ikan ini untukku dan mengelus lembut rambutku layaknya seorang abang yang menyuruh adiknya lekas makan dan tumbuh besar.

Dengan badan yang cukup lelah, aku mencoba menerjemahkan perasaanku. Aku kembali membuka laptop-ku dan melanjutkan novel yang harus sesegera mungkin kuselesaikan. Mataku sudah sangat mengantuk, ditambah lagi perasaan aneh yang menggeluti setiap malam-malamku. Aku tak lagi mendengar suaramu, suara beratmu yang selalu mengantarkan tidurku. Sekarang, aku harus menerima kenyataan bahwa kamu tak lagi menjadi bagian dalam hari-hariku.

Entah mengapa, mataku mulai panas, dan aku tak heran jika beberapa hari ini keyboard laptop-ku selalu tiba-tiba basah, sesegera mungkin aku segera meraih tisu, menghapus jejak-jejak air mata yang ada di laptopku dan di pelupuk mataku; tentunya dengan jemariku sendiri. Karena sekarang, jemarimu mungkin telah menghapus air mata wanita lain, air mata wanita yang mungkin disetujui ibumu.

Menyadari bahwa susunan dan logika kalimat yang kutulis mulai berantakan, aku mulai meninggalkan tulisanku sebentar, dan berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Kukira dengan begini, aku bisa melupakanmu, tapi dengan menatap langit-langit kamar ini, aku jadi ingat peristiwa ketika kamu tak ingin melepaskanku dari pelukmu, saat kamu terkena demam hebat kala itu. Aku yang kehujanan, membawakanmu obat, segelas air putih, dan bubur ayam kala itu hanya menjadi sosok pengganti kekasihmu yang tak bisa hadir menemanimu. Sejak berkenalan denganmu, sejak tahu kamu telah memiliki kekasih dan tahu bahwa kekasihmu satu etnis denganmu, sejak saat itu pun sebenarnya aku sudah merasakalah. Tapi, Abang, aku cuma perempuan Jawa yang tidak akan memaksakan kehendakmu jika kita tak bisa bersatu karena kita berbeda, aku tidak memperjuangkan siapa yang harus menang dan harus kalah, aku hanya tahu mencintaimu; dan entah mengapa aku belum punya alasan yang logis untuk melupakanmu.

Saat kamu sakit dan hujan yang turun di langit Depok kala itu, kamu hanya memelukku dengan sangat rapat, tidak berbicara apapun, yang kuingat kala itu kamu hanya memanggil nama kekasihmu berkali-kali dan mengira aku adalah kekasihmu, wanita yang tak pernah ada saat kamu butuh. Sebenarnya, aku sangat ingin menangis kala itu, tapi melihatmu dalam keadaan sakit begitu, aku tak pernah ingin menambah bebanmu lagi.

Sekarang, aku berusaha tidur lelap, esok hari aku akan membuang kerduas berisi kalung salib pemberianmu, beberapa tiket bioskop, bingkai foto, boneka, dan beberapa puisi yang kamu tuliskan untukku. Esok hari, aku akan membuat semua barang itu ke tempat sampah, dan setelah hari itu; aku akan sukses melupakanmu.

Aku beranjak tidur dan meraih parfum Barcelona, aku menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuhku. Dengan begini, aku akan tidur lebih pulas karena aku merasa sedang tertidur lelap dalam pelukanmu.


Pafrum itu masih penuh di botolnya, untuk beberapa hari ke depan aku masih punya cadangan untuk mengganti aroma tubuhmu yang telah pergi. Aku tak tahu, apakah dengan begini, aku bisa benar-benar melupakanmu?

29 September 2014

Selamat Ulang Tahun untuk yang selalu terasa jauh

Di tengah batuk dan pilek yang menyikasaku, gadis bodoh ini tak ingin mengungkapkan banyak hal, walaupun sebisa mungkin aku berusaha tidak menulis banyak hal tentangmu, tapi kuyakin tulisan ini akan terdiri dari beberapa paragraf. Yang isinya, tentu saja tak akan pernah terbaca olehmu.

Selamat ulang tahun, semoga tidak terlambat. Aku hanya ingin di umurmu yang semakin bertambah, kamu semakin tumbuh jadi pribadi yang menurut pada perkataan orangtua, mencintai adik perempuan,mu mengemban tanggung jawabmu sebagai seorang kakak, dan mampu menjaga hati perempuan yang sedang bersamamu saat ini.

Dua setengah tahun perkenalan kita, Tuan, dan selama itu pun aku tak pernah berani untuk mengungkapkan yang sebenarnya kurasakan selama ini. Ada rasa sesak yang selalu menghantui, rasa takut kehilangan yang tak pernah kupahami. Tuh, kan, setiap membicarakanmu pasti aku galau lagi.

Aku tidak tahu, Tuan, dua setengah tahun ini, kamu menjelma jadi apapun yang kutakutkan. Setiap melihatmu, ada bayang-bayang masa lalu yang selalu berusaha kulawan. Namun, semakin aku berlari menjauh, semakin sosokmu terasa dekat dan nyata. Mungkin, ini salahku yang jatuh cinta padamu, yang tak bisa menerima kenyataan bahwa kita memang tak bisa bersatu. 

Sejak bertemu denganmu, Tuan, aku tak meminta banyak hal selain bisa terus dekat denganmu, meskipun harus jadi bayangan ataupun angin yang menyentuh rambut tebalmu. Aku bukan perempuan yang pandai menceritakan perasaanku padamu karena saat bertemu denganmu, aku layaknya patung yang tidak bisa menggerakan seluruh organ tubuhku, entah mengapa; kamu selalu tampak memesona meskipun kaumungkin tidak menyadari bahwa gadis ini telah mencintaimu dengan sangat berani.

Sungguh, Tuan, aku hanyalah perempuan yang takut kegelapan. Sementara dirimu adalah cahaya di ujung terowongan, yang sulit kugapai karena merasa kamu terlalu jauh. Kita pernah begitu dekat, namun kedekatan yang kupikir akan berlanjut itu berakhir seperti asap rokokmu, yang mengepul di udara, menghilang tanpa jejak, bergegas pergi tanpa pamit. Sosokmu adalah asap rokokmu yang hanya sesaat terlihat, lalu pergi tak membekas. 

Selamat ulang tahun, Teman, pria yang sebenarnya ingin kuanggap lebih dari teman. Sudah dua setengah tahun, dan aku tak punya alasan yang masuk akal untuk melupakanmu. 

Sudah dua setengah tahun, dan aku masih sangat mencintaimu, sedalam dulu, ketika pertama kali; kausebut namamu.


untuk yang selalu berkata
hal yang tak mungkin
hanyalah memakan kepala sendiri.

25 September 2014

Buku "Jodoh Akan Bertemu"


Penulis: Dwitasari dan Lana Azim
Tahun Terbit: November, 2013
Penerbit: Loveable (Ufuk Publishing)
Harga: Rp49.900,-

“Meskipun melibatkan ragu saat menjemput rasa, tapi percayalah, ragu yang terjawab itu namanya cinta” 

Nia, istri siriku, fotomodel terkenal di Jepang. Engkau itu cantik, galak, aku cinta mati sama kamu. Ayumi, sahabat wanita Jepangku yang paling baik. Walaupun dia rela mengikhlaskan seluruh hati, pikiran, dan tubuhnya pada diriku, tapi aku yakin bahwa dia bukanlah tulang rusukku yang hilang itu. Dan Nurma, wanita berjilbab, hafal Qur`an, seorang dokter di kampung, adalah jodoh dari ayahku.


Sekarang, aku bingung, Nia. Harus bagaimana? Perlahan panasku mulai tinggi. Gema takbir pada malam penuh kemenangan ini samar-samar mulai tak terdengar lagi. “Nia, bismillah. Dengan ini aku nyatakan kamu aku cerai, talak satu. Maafkan aku. Maaf,” ucapku sekuat tenaga. Napasku masih tersengal berat mengucapkannya. 

Nia diam. Suaranya tak terdengar lagi kecuali air mata yang menderai membasahi tubuhku yang kurasa. Dia masih memelukku erat, menggoncang-goncang tubuhku. Kupejamkan mataku dan tidur lemas dipelukannya. Dia mencengkeram kuat tubuhku. 

Buku "Cerita Horor Kota"


Penulis: Dwitasari, dkk
Penerbit: Plotpoint (Bentang Pustaka)
Tahun Terbit: 2013
Harga: Rp47.500,-

Rasa takut tak harus membuat ciut. Cerita-cerita horor dalam buku ini justru merekatkan hubungan antarpenghuni sebuah kota. Simak bersama, nikmati di tengah kehangatan. Sebab, cerita horor, seperti halnya cerita cinta, adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi sebuah kota.

Simak sebelas cerita dari sembilan kota di Indonesia ini: penyamaran di sebuah museum, kehilangan teman-teman dalam sebuah pendakian, pembalasan dendam yang kebablasan, hujan panas yang memancing keluarnya makhluk bukan manusia, pembuatan vaksin yang berujung dengan pembunuhan berantai, pekerjaan kelompok hingga petang di sekolah, penyerangan terhadap seorang penjaga makam, kunjungan pewaris takhta perusahaan ke daerah pelosok, imbalan sebuah ilmu pesugihan, desa gaib di tengah hutan, dan kebun anggrek cantik, namun misterius, yang butuh perawatan.

Ini adalah kisah dari sepuluh penulis pemenang kompetisi #CeritaHororKota bersama penulis buku bestseller Raksasa dari Jogja Dwitasari. Peringatan: Sebaiknya kamu tidak membacanya sendirian.

***

10 Penulis buku Cerita Horor Kota adalah para pemenang kompetisi menulis cerita horror yang dilaksanakan PlotPoint pada bulan Mei dan juga Dwitasari penulis buku bestseller Raksasa dari Jogja.

Anastasye, Dwitasari, Faisal Oddang, Mardian Sagiant, MB Winata, Mitha SBU, Muhamad Rivai, Putra Zaman, Rexy, Rina Kartomisastro, Susi Retno Juwita.

Buku "Cerita Cinta Kota"


Penulis: Dwitasari, dkk
Penerbit: Plotpoint (Bentang Pustaka)
Tahun terbit: 2013
Harga: Rp44.000,-

Sebuah kota selalu menyimpan cerita cinta, entah suka atau duka, entah bahagia atau penuh air mata. Kamu menyimpan kisah dan kenanganmu pada setiap sudut kota yang pernah kamu lewati bersamanya, pada setiap meter jalan yang kau pijaki bersamanya, dan pada setiap tempat yang kamu kunjungi bersamanya.

Kisah ini mungkin tentangmu, tentang kau dan dia, tentang cerita orang lain, tentang apapun yang sebenarnya ingin kamu lupakan. Namun, tak ada salahnya mengingat yang pernah terjadi, walaupun kamu tak berharap semua terulang. Bacalah kisah dalam buku ini, temukan dirimu dalam setiap ceritanya.

07 September 2014

Saling Melukai

Aku duduk di sini tanpa persetujuanmu, tanpa izinmu tentunya, karena aku rindu kamu, dan ingin bertemu kamu; rasanya alasan itu sudah cukup untuk menjelaskan semua. Kamu melarangku datang, dengan alibi tak ingin materimu berantakan karena ada seseorang yang menyaksikanmu. Ah, kauini, bisa saja membuatku semakin bersemangat untuk melanjutkan hubungan ini dan menumbuhkan perasaanku padamu. Ya, karena hubungan kita terlalu naif jika disebut teman dan terlalu berlebihan disebut kekasih. Kita terjebak dalam hubungan yang entah dinamakan apa.

Atas nama hari kita lalui banyak hal dan peristiwa yang sebenarnya masih tak bisa kukira dan kucerna. Aku bisa dekat denganmu dan ini seperti mimpi wahai Pangeran Medok-ku. Beberapa bulan yang lalu, saat mengantarmu ke bandara siang itu, rasanya masih kurasakan getaran hebat yang tak bisa kupahami dengan akal sehatku. Saat barisan rapi gigimu yang terpasang behel itu, saat kulit hitam manismu menyentuh lenganku, saat asap rokokmu mengepul di udara, dan kita bercerita banyak mimpi yang segera kita wujudkan bersama di Jakarta. 

Aku tidak merangkul apalagi memelukmu, aku tak ingin seluruh mata tertuju pada kita apalagi kaubukan orang biasa. Di balik jaket kulit itu ada tubuh yang sebenarnya sangat ingin kurangkul, kupeluk sampai sulit bernapas, dan kudekap sampai aku lupa pada kesepian. Sayangnya, ah, kamu terlalu tinggi untukku, aku yang hanya penulis biasa, tidak mungkin selevel dengan artis serba bisa sepertimu. Aku hanya perempuan sederhana, yang hanya bisa berkhayal dan bermimpi. Tenang saja, aku selalu sadar diri, bahwa emas sepertimu tak pantas mencintai pasir kali sepertiku.

Aku menghela napas bahagia ketika mengingat hari itu. Si gadis biasa ini punya kesempatan untuk mengisi hari-hari sibukmu. Setelah hari itu pun, percakapan kita masih berlanjut. Tahukah kamu, saat kautak ada di sini, hanya video-video Youtube-mu yang jadi obat rinduku. Hanya alunan suara biolamu yang mengantarkan tidurku. Kita tak dapat bercengkrama lagi via suara karena di kota sana kauterlalu sibuk dan aku tak punya banyak ruang untuk mendengar suara beratmu yang selalu melahap habis ngantukku.

Pentas sudah dimulai dan kamu seperti biasa, dengan gaya sederhanamu, dengan biola ajaibmu, menghipnotis penonton. Berhasil membuat para wanita histeris dalam hati. Ya, kauselalu berhasil soal membuat siapapun merasa jatuh cinta padamu dan aku adalah salah satu orang yang terjebak dalam perasaan itu. Seusai gema tawa itu, kamu kembali ke belakang panggung. Aku penasaran apa yang kaulakukan di sana hingga aku berencana diam-diam menyusulmu.

Aku memperhatikan sosokmu di sana bersama seseorang yang tak kukenal. Kau merangkul mesra gadis seorang gadis yang kukenali. Gadis yang beberapa waktu lalu mengajak aku berkenalan dan menginterogasi semua mengenai hubungan kita. Gadis yang terpaksa kubohongi karena kau memberiku isyarat agar tak bercerita apapun tentang hubungan kita. Gadis yang entah mengapa terlihat sangat bahagia dan puas ketika aku berbohong bahwa aku dan kamu tak memiliki kedekatan apapun.

Gadis itu membasuh keringatmu. Saking mesranya, kautak tahu aku, yang selalu mendengar ucapan "I love you" dari bibirmu ini sedang melihat peristiwa yang tak pernah kuduga sebelumnya. Kalian tertawa dan di situ-- aku hening seketika. Ternyata ini alasanmu melarangku hadir dalam setiap penampilanmu? Kamu berhasil membuatku remuk. Kamu menang, Mas.

Mataku sudah mulai panas dan aku segera menelepon seorang pria yang juga kaukenali.

"Ada apa? Kamu di mana? Masih di sana?" sapa pria itu dengan lembut seperti biasa.

Aku mengatur napasku yang memburu, sebelum menjawab pertanyaan pria itu, "Di belakang panggung, kamu katanya mau...."

"Oh, iya, sebentar." suara itu langsung menggema di belakangku, pria yang tadi tersambung denganku lewat telepon itu sudah berada di sampingku. "Aku nggak nyangka kamu mau datang."

Aku mengangguk senang, sesenang mungkin agar dia tak membaca kesedihanku.

"Kamu suka penampilan aku kan? Mau datang untuk aku kan?"

Sekali lagi aku mengangguk.

"Oh, iya, aku janji mau ngenalin kamu ke Mas itu, ya?" dia menggenggam tanganku dan membawaku berjalan dengan langkah ringan menuju kamu dan gadis itu.

"Mas, tadi keren banget, lho. Materinya pecah!" ucap pria yang menggenggam erat jemariku.

Kamu tidak memperhatikan wajah pria itu, kamu malah memperhatikanku yang menundak dan tak memperhatikan matamu.

"Oh, ya, makasih. Kamu juga lucu, ketawa penonton lebih besar waktu act out-mu, kok." pandanganmu bergantian ke arahku lalu ke arah pria di sampingku.

"Beneran, Mas?" pria di sampingku tertawa geli, "Ini, lho, Mas, pacarku. Penulis, lho. Yang suka ngegalau di Twitter itu."

Aku berusaha mengangkat kepalaku dengan tegar, semakin tegar ketika kulihat jemarimu menggenggam erat jemari gadis itu. Dan, kautak melepaskannya barang sedetikpun. Aku memasang senyum paling bahagia meskipun matamu menatapku dengan tajam, setajam tatapanmu waktu pertama kali kita bertemu di bandara, "Halo, Mas. Tadi bagus banget. Saya pasti beruntung karena ini pertama kalinya saya lihat Mas tampil. Biasanya cuma lihat di Youtube."

Kamu berusaha tertawa dan kurasakan nada terpaksa dalam tawamu. Sikap dingin itu terasa membekukan hatiku. Aku hanya diam ketika kau berbincang dengan pria yang sejak tadi masih menggenggam jemariku. Lalu, kita berpisah dan aku meninggalkanmu. Kali ini, entah mengapa, aku merasa juga jadi pemenang.

Terima kasih, hari ini, kita telah; saling melukai.

13 August 2014

Dua Hari Ini

Ketika dua hari kau menghilang dan tidak ada kabar, aku menyimpan rinduku dalam-dalam dan menunggu kamu menghubungi lebih dulu. Nyatanya, kamu tak sepeka itu, kamu entah sibuk dengan apa dan siapa, hingga begitu mudah menggeser aku dari hari-harimu. Aku tahu aku bukan siapa-siapa, mungkin aku hanya temanmu, sahabat karibmu, kawan berceritamu. Dan, jika memang betul kautak menganggap aku serius, bisakah kauberhenti memelukku ketika kita bertemu? Bisakah kauberhenti merangkulku dan berbisik rindu di telingaku? Bisakah kamu tak lagi datang dan pergi seperti ini sehingga menambah luka baru dalam dadaku?

Dua hari ketika kamu tak di sini, diam-diam aku menyimpan air mata yang tak kauketahui. Dengan alasan kausedang sibuk dengan pekerjaanmu, aku menerima kekalahanku yang pasti tidak akan terlihat penting di matamu. Seperti biasa, aku berlanjut menunggumu, hingga aku lupa rasanya bosan. Karena semua luka dan perih seketika terhapus ketika kausapa aku dengan secuil "hai" dan sejumput "kangen". Tak lupa kauselipkan sedikit kecupan dalam tulisanmu untuk membiarkanku membayangkan bagaimana rasanya dicium saat sedang dilanda rindu, walaupun kecupan itu hanya berupa tulisan. Itulah hari-hari yang kita jalani selama ini. Hubungan yang sebenarnya tak sehat tapi masih tetap kuperjuangkan. Detik-detik yang kita lewati tanpa kepastian, seakan kautak tahu perempuan ini mengharapkanmu memberi sedikit ruang untuk bernapas agar aku tak kesesakan dalam hubungan serba tak pasti ini.

Dua hari selama kamu pergi, aku menyimpan rindu yang tak kaupahami. Entah mengapa, kaubegitu mudah mengabaikanku, sementara aku sangat sulit untuk tidak peduli padamu. Tetap kukirimkan kabar meskipun kutahu tak semua kabar itu akan berujung balas darimu. Tetap kuluapkan kalimat penyemangat, lewat video dengan suara yang kubuat semerdu mungkin, agar kautak mendengar sesenggukan tangisku dan tetap bisa melewati harimu tanpa memikirkan kesedihanku selama ini.

Dua hari ini kamu adalah sosok yang membuatku seringkali mengigil dan ketakutan. Aku menemukan fotomu dengan mantan kekasihmu, yang begitu mesra dan membuatku semakin iri. Mengapa aku tidak bisa memamerkanmu sedahsyat itu di dunia nyata? Apa aku dilarang untuk bangga karena dekat dengan seorang pria tampan, bermarga Situmorang? Apa kauyang memang belum siap memamerkan perempuan Jawa yang pendiam ini pada lingkup sosialisasimu? Apa karena aku bukan wanita Batak makanya aku tidak berhak atas semua hak yang begitu istimewa? Atau karena kita tak punya status apa-apa maka aku dilarang untuk memelukmu di depan umum, merangkulmu di semua tempat, dan tak berhak berbangga hati karena dekat denganmu. Aku ini.... tolol akut. Bisa-bisanya aku rela disembunyikan dalam status yang demikian rumit, yang bahkan tak membuatku kunjung memahami semua. Aku sadar, aku hanya kaujadikan tempat sampah, namun mengapa untuk berhenti selangkah saja, rasanya aku selalu takut tidak akan lagi menemukan pria yang seperti kamu?

Dua hari ini, pengabaianmu juara nomor satu. Dan kamu berhasil membuatku takut, membuatku gelisah, membuatku aku bertanya-tanya. Sebenarnya kauanggap aku ini siapa? Jika memang kau menjalani ini bukan karena cinta, lalu apa maksud dari semua kedekatan kita yang terjalin beberapa bulan ini? 

Jika memang ini bukan cinta, lalu apa arti genggaman tanganmu, yang tak ingin melepaskanku, ketika aku mengundurkan diri; untuk memperjuangkanmu.

dari Dwita-mu
yang mabuk
karena hadirmu.

05 August 2014

Selamat Ulang Tahun, Cinta Pertama (4)

Selamat datang di umur dua puluh, Sayang. Saat kamu harus melepas sikap kekanak-kanakanmu dan siap menyapa dunia baru, dunia orang dewasa, yang katanya tak ada lagi dongeng yang meninabobokan tangis semalaman. Tapi, di mataku, kamu tak pernah terlihat kanak-kanak.

Apa kabar kamu? Aku sudah lama tak mengikuti beritamu, tak lagi sibuk mencarimu, ataupun diam-diam mencuri kabarmu dari akun sosial media. Beberapa lama ini, aku sengaja tak memusingkan semua tentangmu, berusaha tak lagi candu akan kehadiranmu, dan tidak ingin tahu dengan siapa kamu menghabiskan sisa umurmu. Tapi, ya, seperti surat-suratku beberapa tahun yang lalu, kamu selalu berlabuh pada hati yang lain, yang tentu saja bukan aku sebagai dermaga pilihanmu.

Ini surat keempat dariku. Surat yang setiap tahun kubuat saat ulang tahunmu. Surat yang sebenarnya jika kutulis hanya menambah luka baru, rasa-rasa pahit yang entah mengapa sekarang telah bisa membuatku tersenyum setiap kali aku mengingatmu; mengingat kita. Surat ini kubuat di antara rasa lelahku ketika harus berjibaku dengan beberapa tokoh novel dalam tulisanku. Tulisan sederhana ini kuketik ketika mataku telah terantuk dan harusnya aku sudah meringkuk di atas kasurku. Tapi, demimu, aku rela melakukan apapun, meskipun tanpa sepengetahuanmu.

Mungkin surat ini tak akan kaubaca, tapi izinkan teman kecilmu ini kembali mengingat dirimu yang pernah begitu sempurna di kacamatanya. Beri aku sedikit ruang untuk bernapas setelah sekian lama dibikin sesak oleh kepergianmu. Malam ini, hanya bunyi laptop-ku dan ketikan jemari di keyboard-kulah yang menemaniku untuk mengingat ketololan dan kebodohan kita.

Aku mundur pada peristiwa dua belas tahun lalu. Kamu masuk di semester dua, anak baru yang tak tahu malu, dan selalu peringkat satu. Aku, gadis lugu yang belum lancar membaca dan menghitung di umur delapan tahun itu tak pernah mengerti mengapa saat melihatmu, semua pelajaran yang menurutku susah; terasa lebih indah jika dikerjakan. Aku mengingat semua detail itu, deretan peristiwa yang membuatku kebingungan. Aku tak tahu apa arti senyummu ketika kamu mengajariku metematika. Aku tak tahu apa arti rangkulanmu ketika kamu dengan tawa dan canda mengajariku Ilmu Pengetahuan Sosial. Aku tak mengerti apa arti tatapanmu saat kamu dengan sabar membimbingku memahami Ilmu Pengetahuan Alam. Aku tak paham apa maksud dari jemarimu yang membasuh keringatku seusai kita main kasti di lapangan belakang, tempat bus-bus besar parkir. Kamu membuatku bertanya-tanya, bertahun-tahun selalu bertanya-tanya, namun aku senang bisa terus menggali semua mimpi bersamamu. Aku senang melihat bening matamu, merasakan sentuhan jemarimu yang berisi dan gemuk. Menikmati setiap inci keringat yang bergelayut di rambut keritingmu. Bertahun-tahun aku masih bertanya-tanya, hingga pada saat kita naik kelas; aku semakin merasa gila karena pertanyaanku.

Di balik seragam putih birumu, tersimpan sosok tangguh yang entah mengapa membuatku selalu ingin berada di dekatmu. Saat kelas enam dan selama bertahun-tahun Tuhan mengizinkan kita sekelas lagi, semakin hari aku merasakan keganjilan yang luar biasa. Aku mulai senang menulis tentangmu, mendengarkan lagu-lagu cinta, dan lagu Peterpan yang membahana tahun itu benar-benar membantuku menyuarakan isi hati. Aku tak menyadari apa yang kurasakan selama ini, yang kutahu, aku merasa nyaman bersamamu ketika kita saling membagi makanan saat istiharat. Yang aku rasakan, aku merasa senang ketika saat Paskah tiba, kamu selalu berada di dekatku untuk membantuku menghias kelas bersama. Aku juga bahagia ketika saat Natal dan kita harus menyanyi paduan suara, matamu yang tajam itu seringkali mencuri pandang ke arahku. Dan, saat mata kita tiba-tiba bertemu, rasanya aku semakin sulit bernapas. 

Aku masih bertanya-tanya, selama bertahun-tahun, apa maksud dari semua ini? Ketika kau menggodaku dari belakang barisan, sehingga membuatku kagok menjadi dirigen pemimpin lagu Indonesia Raya. Kamu memuji suaraku yang katamu merdu, setiap selesai upacara, sambil melepas topi merahmu, sehingga menimbulkan butir-butir keringat di keningmu. Ah, aku suka itu, dan aku membalas dengan rasa canggung, duduk malu-malu di bangkuku, dan diam-diam kembali menulis puisi baru lagi untukmu. 

Aku masih bertanya-tanya, penasaran apa arti dari semua ini. Ketika kauceritakan mimpimu ingin menjadi seorang pilot dan aku membalas ceritamu dengan bercita-cita ingin jadi seorang insinyur seperti ayahku, aku mulai merasakan ada getaran lain yang menyelinap, sorot matamu yang teduh dan lembut itu, membuat aku semakin takut menghadapi saat-saat kelulusan. Mungkin kita akan berpisah, kauentah berada di sekolah menengah pertama di mana dan aku entah berada di sekolah mana. 

Namun, Tuhan masih berbaik hati, sekali lagi. Kita satu sekolah, sayangnya hal itu tak kunjung membuat kita sedekat dulu. Aku merasa kamu jauh dan kita hanya bertemu setiap perayaan Paskah dan Natal. Selama enam  tahun, aku masih bertanya-tanya, sayangnya jawabannya justru kutemukan di ujung perpisahan kita. Saat aku dengan sangat cantik mengenakan kebaya dan kamu dengan sangat tampan mengenakan jas hitam. Siang itu kamu terlihat sangat gagah, rasanya aku ingin memelukmu, dan mengatakan semua pertanyaan yang membuatku bertahan untuk membuat ratusan puisi untukmu. Kamu menjabat tanganku dan mengucapkan selamat. Aku, dengan sangat terpaksa, membalas senyummu dengan senyuman seakan baik-baik saja. Kamu membuka suara

"SMA di mana, Dwit?" matamu tak mau melepaskanku dan tatapanmu membuat mataku sedikit berair.

Sebelum menjawab, aku menghela napas untuk mengumpulkan kekuatan, "Mau coba di SMA 1, kalau nggak dapet, ya, di SMA negeri yang lain. Kamu di mana?"

"Di Jakarta. Depok sumpek." jawabmu enteng.

"Tapi, masih sering balik ke Depok kan?"

"Kalau harus, pasti balik." 

Itu kata-kata terakhirmu lalu kita saling bercengkrama seakan hari itu tak terjadi perpisahan apapun. Kamu kembali pada teman-temanmu, aku kembali pada teman-temanku. Setelah itu, kita tak bertemu lagi hingga saat ini. Aku tak tahu bagaimana rupamu saat ini. Apa hidungmu masih seperti tomat ketika sedang marah? Apa masih ada butir keringat yang menggelayut manja di helai rambutmu? Apa kamu masih tinggi? Masih berisi? Masih ingat aku?

Ah, seandainya dulu kukatakan saja perasaanku, pasti semua tak akan berakhir setolol ini. Lagipula, untuk apa diingat-ingat? Ini hari ulang tahunmu, senang-senang dululah! Ayo, sini duduk di sampingku, sedekat ketika kamu membagi makananmu untukku. Ceritakan apapun yang selama ini kulewati tentangmu, ceritakan saja semua, aku tak peduli entah itu tentang sakura di Jepang, atau tentang pertukaran pelajar yang sedang kaulaksanakan, ceritakan apa saja; pasti kudengar, Sayang.

Kalau kamu mau dengar ceritaku, kamu pasti tercengang. Aku tidak jadi insinyur, sekarang aku jadi penulis. Senjataku hanya imajinasi dan mimpi, selebihnya kepercayaanku pada cinta sejati yang menuntunku betah menulis hingga saat ini. Aku masih begini, masih suka menunggu yang tak pasti, meloncat dari satu hubungan ke hubungan lain. Entahlah, mungkin aku sedang mencari sosok sepertimu, seorang pria yang lebih tertarik pada kampus teknologi di Surabaya dan berubah menjadi pria Batak yang paham betul menggunakan kata "Cuk" dan "Asu". Semakin hari, kamu semakin humoris dan lucu.

Ngomong-ngomong selamat ulang tahun sekali lagi, maaf jika surat ini isinya hanya ingatan-ingatan bodoh yang mungkin telah kaulupakan. Aku cuma ingin kaupaham, gadis ini belum melupakanmu barang secuil pun. Kamu tetap yang pertama. Selalu yang pertama.

Selamat ulang tahun, pria yang pernah dan selalu ada. Aku masih bertanya-tanya, jika benar ini cinta, apakah kaujuga merasakan getaran yang sama?

dari Dwita-mu
yang diam-diam;
mencintaimu.

30 July 2014

Pre Order Buku #ApaIniCinta dan #MobilBokapGue

Halo, mau bacaan seru yang bisa kamu baca sambil menunggu status dan kejelasan dari orang yang selama ini cuma bisa datang dan pergi? :D Aku ada rekomendasi buku bagus yang bisa kamu baca untuk menemani kegalauan kamu selama ini.






Judul Buku: Apa Ini Cinta
Harga: Rp31.200
Sinopsis:
Mungkin bukan salahmu jika saat menatap matanya, ada getaran dalam dadamu, yang membuat bertanya-tanya; apakah maksud dari semua ini? Mungkin bukan salahmu jika saat berdekatan dengannya, dengup jantungmu memburu cepat dan kausemakin tak mampu menjawab arti dari semua kegilaan ini. Dan, bukan salahmu juga jika saat kauharus berpisah dengannya, hatimu terasa sepi, kosong, dan hampa. Lalu, kamu berusaha menjawab semua pertanyaan yang bermukim di hati dan otakmu. Apa arti semua rasa canggung, rasa deg-degan, keringat dingin, dan degup jantung yang memburu itu?

Buku ini, dengan ceritanya yang ajaib, dengan tutur kata yang sederhana, mampu membuatmu semakin semangat menjawab semua pertanyaan yang selama ini membuatmu gelisah. Apakah ini cinta atau hanya ketertarikan sesaat?

Judul Buku: Mobil, Bokap, Gue
Harga: Rp47.200
Sinopsis:
Untuk apa semua usaha itu kaulakukan? Untuk apa kamu mati-matian menjadi sosok yang terlihat baik-baik saja meskipun hatimu sangat terluka? Lalu, kamu menggunakan topeng, berbohong, melakukan banyak hal yang bukan keinginan hatimu demi mencuri perhatian banyak orang, demi mencuri perhatian orang yang mencintaimu. Apakah kautidak lelah dengan terus berpura-pura?

Ini tak hanya kisah tentang remaja putri bernama Dinar. Mungkin kaupun sedang membaca kisahmu yang sedih namun ternyata mampu membuat banyak orang tertawa. Kamu berusaha masuk gank populer paling cantik di sekolah, kamu berkenalan dengan pria menyebalkan, kamu menghadapi ayah yang kerjaanya marah terus? Namun, di balik itu semua kauhanya ingin mendapatkan sesuatu yaitu peasaan ingin dihargai, diperhatikan, dan dicintai. Sanggupkah Dinar, yang kisahnya merupakan kegelisahmu juga, menghadapi hari-harinya yang penuh dengan tantangan?

Cara pre order buku ini bisa ke berbagai tempat. Keunggulan pre order adalah: Dapat diskon, lebih mudah karena via online pesannya dan buku diantar sampai ke rumah kamu, bonus tanda tangan aku. :")

Cara pesan:
1. @PengenBuku
Email nama, alamat lengkap, nomor hp, judul buku, dan jumlah buku ke pesanpengenbuku@gmail.com

2.  @BukuKita
SMS nama, alamat lengkap, nomor hp, judul buku, dan jumlah buku ke 083870009010

3.  @BukaBuku
Email nama, alamat lengkap, nomor hp, judul buku, dan jumlah buku ke support@bukabuku.com

4. @MizanStore
Klik untuk #ApaIniCinta: http://www.mizanstore.com/detailproduct/22124-Apa-Ini-Cinta
Klik untuk #MobilBokapGue: http://www.mizanstore.com/detailproduct/22139-Mobil-Bokap-Gue#.U9ifqaP-2ho

5. Yes24
Klik untuk #ApaIniCinta: http://www.yes24.co.id/Display/ProductDetailBook.aspx?FCategoryNo=5261&ProductNo=1127965
Klik untuk #MobilBokapGue: http://www.yes24.co.id/Display/ProductDetailBook.aspx?FCategoryNo=5261&ProductNo=1127966

Selamat ikutan pre order, ya! Jumlah sangat terbatas. :*

22 July 2014

Untuk Pangeran Kotak-Kotakku

Ini surat entah yang keberapa, yang mungkin luput dari pandanganmu. Tertutupi oleh riuh pendukung dan media yang menyebutkan namamu. Sayangku, Pangeran Kotak-kotakku, aku bersyukur sejak pagi tadi bisa melihat senyummu walau hanya dari layar kaca. Ibuku tegas melarangku untuk meninggalkan kamar karena aku masih dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tapi, sungguh, kabar ini membuatku sedikit merasa sembuh. Selamat untuk kemenanganmu, Sayang. Izinkan doa gadis umur belasan ini memelukmu dari jauh. 

Bahkan, saat menulis ini pun, aku masih merasakan beratnya kepalaku, mual hebat yang kurasakan sejak pagi. Baru kutahu, gadis tangguh sepertiku bisa tumbang hanya karena penyakit ingusan seperti ini. Ada beberapa tulisan yang harus kuselesaikan, Sayang, dan aku tak memperhatikan kesehatanku karena teralu sibuk pada deretan abjad yang harus diakhiri dengan drama ajaib dari karakter novelku. Aku juga tak tahu harus menulis apa kali ini, selain aku semakin mencintai dan menggilaimu, Pangeran Kotak-kotakku.

Kamu mungkin bukan kegilaanku yang pertama. Aku pernah jadi Ungcliquers, pernah jadi JakAngel, dan dari semua kegilaanku itu; gila nomor satu yang kurasakan padamulah yang kurasa paling parah. Setelah pertemuan pertama kita di seminar SMESCO kala itu, rasanya wajahmu tak mau pergi dari kamarku. Jemariku yang kausentuh dalam hitungan detik itu seperti energi baru yang siap memanaskan diriku setiap kali aku berpikir harus berhenti sampai di sini.

Sayang, di antara demam yang meruntuhkan tubuhku, pusing kepala yang membuat pandanganku berkunang-kunang, pilek yang menaikan satu level lagi rasa pusing di kepalaku, mual yang kuderita sejak tadi pagi; rasanya aku cuma mau bilang satu hal bodoh yang mungkin akan membuat banyak orang tertawa. Aku kangen kamu.

Sudah setahun ini aku tak lagi melihatmu, merasakan sentuhan tanganmu, menatap erat matamu, dan aku semakin sinting karena rasa kangen itu hanya bisa kusalurkan dengan tulisan, kulahap habis dengan amarah yang tak kupahami, kuobati dengan melihat layar televisi. Jangan biarkan aku jadi tawananmu, Sayang, aku tahu perasaan ini tak ada hubungannya dengan persoalan politik, ini bisa kauanggap candaan dan kegilaan dari seorang gadis yang kerjaannya hanya bermimpi dan berimajinasi. Tapi, aku tahu mimpi dan imajinasi itu telah membawaku ke titik sekarang, saat semua mimpi dan imajinasiku dicetak dalam lembaran buku. Seandainya, kumpulan mimpi dan imajinasiku itu bisa kaubaca, Sayang. Oh, ya, bagaimana buku "Raksasa Dari Jogja" yang kuberikan padamu? Apa sudah kauselesaikan? Aku ada kabar gembira, tolong, bukan kulit manggis. Novel "Raksasa Dari Jogja" akan difilmkan tahun depan, mungkin jika kamu tak sempat membaca bukunya, Sayang, kamu bisa menyaksikan film itu.

Terima kasih, Pangeran Kotak-kotakku, kegilaanku padamu membawaku pada kedewasaan yang tidak pada tempatnya. Aku bersyukur bisa mengenalmu, mencintaimu, memimpikanmu, ataupun hanya sekadar membawa namamu dalam doa. Sekali lagi, tulisan ini pasti akan teredam oleh jutaan ucapan selamat dari banyak orang yang juga mencintaimu. Dan, atas keluguaan dan kebodohan yang dialami setiap orang yang sedang jatuh cinta, aku cuma mau bilang; aku mau ketemu kamu lagi.

Pertama kali bertemu denganmu di seminar SMESCO kala itu, setahun yang lalu, saat aku pada akhirnya bisa merasakan hangatnya jemarimu dan manisnya senyummu, aku tahu; kamulah orangnya.

dari pengagummu
yang pengecut.

18 July 2014

Setelah Sekian Lama Kita Berkenalan

Belum habis rinduku terobati, kamu buru-buru pamit pergi untuk meninggalkanku lagi. Rasanya sangat sulit menahanmu tetap di sini, mengingat kita belum berada dalam status apapun. Dan, aku hanya bisa melambaikan tangan, mengucapkan beberapa kalimat, sambil memberi sedikit kode agar kamu tak lupa pulang ke sini. Aku menatap punggungmu yang terus menjauh dan menyesali mengapa lagi dan lagi harus berakhir sesingkat ini? Aku belum bercerita bagaimana awan mendung di duniaku telah terhapus ketika bertemu denganmu, namun kausendiri yang menambahkan awan hitam dan petir ketika aku mulai ingin membagi cerita-cerita ajaib bersamamu. Bukan kauyang merusaknya, tapi harapanku yang terlalu tinggi padamu membuat semua berubah jadi berbeda. Hubungan ini tak lagi membuatku nyaman, justru aku ketakutan.

Setiap hari, aku menunggu kamu kembali. Dan, saat pertemuan itu tercipta, rasanya aku ingin waktu terhenti. Aku mau memelukmu sampai puas, bersandar di lenganmu yang beraroma parfum kegemaranku itu, parfum yang selalu kusemprotkan ke tubuhku agar aku bisa tetap mengingat aroma tubuhmu; setiap kali kamu harus kembali ke duniamu lagi dan meninggalkanku seorang diri. Aku tak tahu selama ini kamu menganggapku apa. Semua kata cinta dan sayang itu telah terlontar, tapi saat kita tak bertemu, saat semua percakaan hanya bisa terjalin lewat ponsel; di sana kurasakan dirimu yang berbeda. Kamu yang tanpa kata sayang dan cinta, kamu yang tidak memberi kecupan walaupun sebatas titik dua bintang, kamu yang membalas rasa rinduku dengan dingin, dan kamu yang tak langsung menggubris pesan singkatku; seakan kamu tak khawatir membuat aku menunggu.

Semakin kamu bersikap seperti itu, Sayang. Semakin aku mencintai dan menggilaimu. Aku tak ingin menjauhimu, meskipun luka mulai diam-diam tergores di hatiku. Setiap kali aku berusaha membencimu, rasa benci itu hilang seketika ketika kauembuskan lagi kata cinta lewat pertemuan kita yang jarang sekali terjalin itu. Setiap kali aku memilih pergi, tiba-tiba kamu datang dengan rangkulan sederhana dan memperlakukanku layaknya ratu sejagad, yang harus dibahagiakan walaupun hanya satu hari. Setiap kali aku ingin melupakanmu, saat itu juga kau mengingatkanku pada kenangan-kenangan manis kita, yang begitu sayang untuk dileburkan dari ingatan. Aku tak tahu, Sayang, perasaan ini namanya apa, yang jelas aku sangat ketakutan. Takut kamu akan melirik yang lain jika hingga saat ini aku tak menanyakan status dan kejelasan.

Dari dulu aku selalu tegas, bahwa aku tak ingin terjebak pada status yang menyakitiku hari ini juga esok hari. Tapi, kamu datang dengan membawa energi baru, sisa-sisa panas yang kaubawa dari bulan, menyentuh lembut dahiku yang sedingin besi; rasanya terlalu munafik jika aku menolak perhatian dan kebaikanmu. Namun, aku tak tahu bahwa segala sentuhan sederhana itu bisa menimbulkan perasaan lain, perasaan takut kehilangan, perasaan ingin memilikimu seutuhnya, perasaan ingin dijadikan satu-satunya olehmu.

Berkali-kali kutatap matamu, setiap kali kamu ucapkan cinta di telingaku, dan aku terbuai oleh nyanyian itu. Semua yang kaulakukan membuatku semakin berharap terlalu tinggi, aku takut jatuh sendirian dan kautak menungguku jatuh di bawah sana. Aku takut kamu sedang berusaha menerbangkanku dengan sayapmu, lalu kelak di atas langit sana, kaubiarkan aku mengepakkan sayapku sendiri yang masih kecil dan tak tahu caranya menggerakan udara di sekitar sayap-sayap kecilku. Aku takut semua hal sedih itu terjadi justru di saat aku sedang sangat tak ingin kehilanganmu, Sayang.

Ingin sekali aku mengetahui perasaanmu. Kamu boleh menyalahkan aku, untuk segala hubungan tak sehat, pertengkaran yang ajaib, rindu yang memberontak, kangen yang menjengkelkan, serta hal-hal magis lain yang selalu membuatmu berpikir aku ini perempuan yang berbeda. Katakan saja kalau aku ini gila nomor satu, karena selalu ingin tahu kabarmu, selalu ingin menemuimu, selalu ingin merindukanmu habis-habisan. Anggaplah aku ini pasien sakit jiwa yang menanti obat penenang, dan kaulah si obat penenang yang selalu hilang ketika aku membutuhkanmu.

Anggaplah aku ini halte, Sayang, dan kauadalah bus yang berlalu-lalang, datang dan pergi, singgah dan menetap; untuk mencari-cari keuntungan yang bisa kaudapatkan. Katakan saja aku ini payung, yang hanya kaubuka ketika cuaca terlihat mendung, yang rela membasahi tubuhnya demi membuat tubuhmu kering. Bayangkan saja aku ini gadis kecil yang tak tahu apa-apa, yang melihat pria sederhana dan humoris, pria yang setiap selesai bertemu selalu memunculkan harapan baru, pria yang peluknya selalu ia rindukan, pria yang aroma tubuhnya selalu menimbulkan perasaan kangen, pria yang entah bagaimana bisa membuat gadis itu takut pada rasa kehilangan.

Aku sedang ada di titik sangat mencintaimu dan aku tak ingin kisah-kisah lama yang terjadi padaku harus terulang lagi dalam kisah baru kita. Aku sedang dalam keadaan sangat menggilaimu dan aku ingin terus gila, ingin terus sakit jiwa, agar tanpa rasa terpaksa; kamu berjalan menghampiriku, dan bersedia menjadi-- obat penenangku.

dari gadis
yang selalu kauanggap adik.

17 July 2014

Kompetisi Menulis #JCDD2 :)

Halo, masih ingat kompetisi menulis bareng aku yang pernah aku adakan yaitu #CeritaCintaKota dan #CeritaHororKota, yang bukunya telah laris manis di pasaran? Aku mau mengulang kesuksesan itu bareng teman-teman followers-ku dan para pembaca setiaku yang ingin mewujudkan mimpinya bersamaku. Aku ingin memberi sebuah gambaran bahwa tulisan diterbitkan oleh penerbit besar bukanlah sebuah mimpi yang terlalu tinggi. Yuk, wujudkan mimpimu bersamaku! Gimana caranya?


1. Kompetisi menulis #JCDD2 terbuka untuk semua kalangan dan semua orang yang telah membaca buku #JatuhCintaDiamDiam :)

2. Kenapa harus baca? Setelah baca #JatuhCintaDiamDiam kamu bakalan ngerti cerita seperti apa yang kucari dan penerbitku cari #JCDD2

3. Belum punya buku #JatuhCintaDiamDiam tinggal miliki bukunya segera. Buku itu pedoman banget buat kamu nulis. #JCDD2

3. Bentuknya cerpen dengan tema jatuh cinta diam-diam. Boleh kisah nyata, boleh fiksi. (3000-4000 kata) font bebas. Perhatikan jumlah katanya, ya, bukan halamannya. Minimal 3000 kata. :) #JCDD2

4. Cerpen yang kamu tuliskan untuk kompetisi menulis #JCDD2 bisa kamu kirim lebih dari satu, lho~ :* #JCDD2

5. Cerpen tersebut HARUS dimuat di blog kamu sendiri. Gak punya blog? Ya, bikin blog. :D Belajar PUBLIKASIKAN tulisanmu! #JCDD2

6. Cerpen dimuat di blog-mu sendiri. Boleh dengan blogspot, wordpress, tumblr, dan sebagainya. Yang penting tulisanmu dipublikasikan #JCDD2

7. Di halaman blog kamu harus ada gambar logo @KlubCeritaDwita dan avatar Twitter kamu juga harus pakai gambar itu. #JCDD2


8. Setelah posting di blog, kirim tweet dengan format: (JUDUL NASKAH) – (NAMA) – #JCDD2 – link tulisan – @_PlotPoint @KlubCeritaDwita

9. Tweet berisi link posting-an blog harus disertai selfie bareng buku #JatuhCintaDiamDiam ya! Makanya kamu harus punya bukunya. #JCDD2


10. Contoh tweet:



11. Tweet ini harus disertai foto selfie, ya. :) Penting banget untuk memberitahukan bahwa kamu jadi peserta kompetisi menulis #JCDD2 beserta link tulisan kamu. :)

12. Naskah paling lambat diterima pada 06 Juli-06 Agustus 2014 pukul 00:00 (waktu jam kantor @_PlotPoint). Jangan lupa di-tweet, ya! #JCDD2

13. Naskah terbaik akan diumumkan pada 06 SEPTEMBER 2014 pukul 20.00 di akun Twitter-ku, @_PlotPoint, @KlubCeritaDwita dan blog. :) #JCDD2

14. Naskah terbaik juga akan DIBUKUKAN oleh @_Plotpoint :') Pemenang juga harus bersedia menjalani proses penyuntingan naskah. #JCDD2

15. Kompetisi menulis #JCDD2 berhadiah KARYAMU DITERBITKAN dan uang tunai Rp500.000 :’)

16. Kompetisi menulis #JCDD2 TIDAK DIPUNGUT BIAYA APAPUN, ya! :) Berimajinasilah lalu menulislah! :*

17. Akan dipilih 10 tulisan terbaik, ya, yuk tulis sekarang juga! :* #JCDD2

Udah tahu, kan, syarat kompetisi menulis #JCDD2 ini? Yuk, tulisankan perasaanmu melalui cerpen dan posting di blog sekarang! :*