Showing posts with label perbedaan agama (?). Show all posts
Showing posts with label perbedaan agama (?). Show all posts

15 November 2012

FILM #CintaTapiBeda


Produksi: Multivision Plus, 2012
Tayang: 27 DESEMBER 2012

Awalnya, saya juga tak percaya ketika kisah nyata #CintaTapiBeda mau difilmkan oleh sutradara ternama Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Saya masih sulit memercayai kalau proses syuting dan OST film #CintaTapiBeda ternyata telah selesai. Saya masih tidak percaya bahwa tulisan saya yang hanya berbentuk curhat itu dijadikan tema film yang akan tayang Desember ini. Saya masih sulit bernapas. Tapi, semua ini nyata.

Cinta tapi Beda sudah selesai difilmkan. Divisualisasikan dengan sangat manis oleh Hanung Bramantyo serta Hestu Saputra. Diberi OST yang menyentuh yang dinyanyikan oleh ciptaan Eross Candra. 

Itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya masih terharu dan masih dalam keadaan seperti petasan lebaran; penuh ledakan.

Silakan tunggu filmnya di bioskop kesayangnmu, tayang 27 DESEMBER 2012 :')

10 November 2012

Sebelum Adzan Magrib

                Stasiun UI masih terlihat begitu ramai, jam kepulangan kantor, wajar. Di setiap sudut peron masing-masing orang sibuk dengan kepentingannya sendiri. Asap rokok turut mengepul di udara, menyentuh hidung calon penumpang kereta. Ada yang mengibaskan tangannya, ada yang pasrah pada aroma tembakau yang menyengat bagi indra penciumannya.

                Aku berlari tergesa-gesa mendekati seorang pria yang duduk manis di bangku besi memanjang. Bangku berwarna kuning, tempat kita menyempatkan waktu untuk bertemu. Hanya di waktu-waktu seperti ini kami bisa saling bertatapan mata, berbicara, serta mengungkapkan rasa. Hanya di tempat ini, aku dan dia berani menjadi dua orang yang saling jatuh cinta; tanpa mendengar bisikan sinis dari banyak orang yang mencoba menghakimi kita.
                “Maaf, aku baru sampai di sini. Tadi mata kuliahnya sampai sore.”
                “Enggak apa-apa kok, yang penting aku bisa lihat kamu.”
                Senyum itu adalah senyum yang selalu mencairkan rasa ketakutanku. Di stasiun ini, meskipun di tempat umum, tetap saja kami bersembunyi dari pasang mata yang mengawasi.
                “Aku bawa air minum, kamu haus?”
                “Hari ini kan hari Kamis, aku puasa.”
                “Oh, maaf. Bagaimana hari ini, menyenangkan?”
                “Sangat menyenangkan, terutama jika aku bisa bertemu denganmu.”
                “Aku kangen.”
                “Aku juga.”
                Tatapan matanya menyentuh bola mataku yang membulat. Dia tidak menyentuhku tapi perkataan dan senyumnya sudah sangat menghangatkan aku.
                “Bagaimana harimu, menyenangkan?”
                Aku mengangguk pelan. “Tapi, karena telat, aku jadi tidak bisa lama-lama melihatmu.”
                “Besok masih ada waktu.”
                “Habis kamu sholat Jumat?”
                Dia tertawa misterius. “Habis aku salat Jumat bukankah kamu ada latihan paduan suara di gereja?”
                “Oh, iya, berarti besok kita bertemu seperti biasa saja, di sini.”
                Jarum jam bergerak sangat cepat saat aku menghabiskan waktu bersamanya. Ketika adzan Magrib menggema, kereta commuter line berjalan pelan mendekati stasiun.  Aku bersiap-siap menaiki gerbong kereta. Di sampingku, kudengar bibirnya lirih mengucap “Alhamdulillah.”
                Sudah jam buka puasa.  Dengan tatapan mohon pamit pulang, aku tergesa-gesa meninggalkan dia di peron sendirian.
                Aku sudah berada di dalam gerbong kereta, ia masih lurus-lurus menatap ke arah kalung salibku. Aku melambaikan tangan.
                Tak perlu sedih karena tak ada perpisahan. Besok kami bertemu lagi, sebelum adzan magrib.

22 October 2012

Perbedaan dan Air Mata






Matanya mengawasi saya sejak tadi, sejak saya mengetik dan menyeruput kopi. Dia terus bercerita, minta didengarkan, melihat sikap saya yang terus mengutak-atik laptop, Diana jadi kesal sendiri. Upss, saya mulai berani sebutkan namanya. Atas izin Diana, saya boleh menulis namanya. Wanita ini memang selalu di luar dugaan saya.  Wanita ini, dengan kerlingan matanya yang tajam sudah menyoroti saya. Dia juga tertawa terbahak-bahak ketika kisahnya tentang #CintaTapiBeda dilihat oleh puluhan ribu pasang mata. Aneh, mengapa dia begitu senang ketika kisah nyatanya saya tulis di blog pribadi saya? Saya kira dia akan marah, malu, kemudian membenci saya karena saya menulis posting-an blog berdasarkan kisah nyatanya.

Diana malah berterimakasih dengan mata berbinar, melihat komentar di bawah tulisan tersebut. Ia terharu karena kisahnya menginspirasi banyak orang agar menghargai dan menghormati perbedaan. Karena di luar sana, kadang kita tak tahu; bahwa perbedaan mampu menyakitkan bagi seseorang. Begitu juga bagi Diana, begitu juga bagi kekasihnya, Cahyo.

Mereka, seperti yang saya tuliskan kemarin, adalah pasangan beda agama. Diana, teman saya, seorang Khatolik sejati. Cahyo, kekasihnya, seorang Muslim. Berbeda dan berbenturan. Tapi, apakah karena perbedaan mereka dilarang jatuh cinta? Iya. Pasti. Tentu saja. Juga oleh kedua orangtua mereka.

Norma dan pandangan masyarakat tak mau tahu apa itu cinta, perasaan, juga pertemuan yang terjadi atas izin Tuhan. Diana dan Cahyo tak pernah bersungut-sungut pada Tuhan agar mereka dipertemukan lalu jatuh cinta. Tapi, mereka benar-benar bertemu, merasa nyaman, dan akhirnya bisa mendefinisikan arti cinta yang sesungguhnya; walaupun segalanya jadi tak mudah. Jujur, kisah mereka adalah kisah yang indah, bukan kisah-kisah manja, murahan, dan cinta-cintaan yang buang-buang waktu. Betapa indahnya pertemuan antara manusia dengan manusia, tanpa memikirkan segala atribut sosial yang mengekang kemanusiannya; agama.

Dalam kebahagiaan, kadang terselip tangisan. Dalam doa panjang untuk Tuhan, kadang terselip permintaan yang mungkin saja enggan Tuhan dengarkan. Tuhan yang mana yang sedang mendengarkan doamu? Tuhan yang menciptakan hujan? Tuhan yang menciptakan tulang rusuk untuk seorang pria? Tuhan yang menciptakan agama? Tuhan mencipta agama? Lucu.

Agama. Agama. Agama. Cinta. Cinta. Cinta. Tuhan. Hantu. Tuhan. Saya sedang sedikit emosional dan terbawa oleh ceritanya. Ketika semua orang, yang tahu kisah Diana dan Cahyo menganggap mereka pasangan “kutukan”. Begini, mereka hanya jatuh cinta, dan memperjuangkan yang bagi mereka harus diperjuangkan; apa salah mereka hingga banyak orang menilai mereka seperti sampah?

Apalagi, kedua orangtua. Memang, orangtua selalu inginkan yang terbaik bagi anaknya, bagi keturunannya, tapi terlalu menyakitkan bagi Diana dan Cahyo jika mereka harus berpisah hanya karena berbeda. Apakah tak ada jalan lain untuk menyatukan? Apakah orang-orang sekitar tak lagi peduli dengan perasaan dan perbedaan?

Memang, Diana dan Cahyo berbeda, tapi... APA SALAHNYA? Tidak dapat dipungkiri memang, orangtua juga ingin memiliki keluarga baru yang memiliki kesamaan dengan beliau-beliau. Manusia selalu takut dengan perbedaan, mereka selalu nyaman dengan hal yang terlihat sama di mata mereka. Padahal, berbeda belum tentu salah, dan punya kesamaan belum tentu benar. Seharusnya perbedaan ada bukan untuk disalahkan, dihakimi, lalu dianggap seakan-akan ada. Bukankah perbedaan harusnya jadi “sarana” untuk mengenal dan saling melengkapi?

Cinta milik Diana dan Cahyo memang terjadi begitu saja, tanpa sutradara, karena bukan drama. Diana mencintai Tuhan, begitu juga dengan Cahyo; walaupun mereka beribadah di tempat yang berbeda. Salahkah mereka?

Apakah perbedaan yang Tuhan ciptakan hanya akan jadi penghalang?

Dalam dingin yang menusuk-nusuk tulang
Saya tak lagi paham
Apakah cinta dan agama tak layak disatukan?

16 October 2012

Beda Cinta, Setipis Keyakinan

Saya mengingat lagi cerita teman saya. Baru beberapa hari saya temui dia di cafe, di bilangan Depok, Jawa Barat. Jujur, pikiran saya masih terbebani oleh cerita yang ia ungkapan. Tentang hubungannya, tentang kekasihnya, yang jauh dari kata normal. Iya, mereka berbeda, tidak sama seperti orang lainnya.

Ketika dia bercerita dengan menggunakan air mata, saya tahu bahwa beban yang ia pikul sangatlah berat. Air mata yang saya lihat hari Rabu kemarin adalah luapan emosinya yang sempat tertahan. Saya bisa rasakan sakit yang memukul-mukul perasaannya. Tapi, dalam duka, masih terselip kebahagiaan yang mampu ia ceritakan pada saya, walau dengan suara tertatih, walau dalam halaan napas lirih.

Jatuh cinta adalah dua kata yang sulit dijelaskan. Tidak terdefinisikan. Soal hati, kata-kata seakan tak ahli untuk memaparkan juga mendeskripsikan. Saya tidak akan berbicara tentang cinta, juga tentang mimpi omong kosong yang diciptakan saat hadirnya cinta. Ini semua soal kenyataan, soal dunia yang begitu klise. Agama.

Air mata memang sia-sia,  karena yang dibutuhkan di sini adalah kedewasaan. Semua berawal manis dan indah. Teman saya, awalnya memang bercerita dengan senyum sumringah. Ia berkenalan dengan seorang pria, secara tidak sengaja. Tentu saja, kita seringkali menganggap banyak hal terjadi karena kebetulan. Kebetulan mungkin adalah rencana Tuhan yang belum benar-benar kita pahami.

Tatapan mereka saling beradu, hanya senyum dan tawa yang tercipta kala itu. Teman saya, wanita beragama Khatolik tersebut, baru selesai pentas tari. Lalu, dunia berkonspirasi, mempertemukan dia dengan seorang pria, yang membuat hatinya merasa nyaman. Pria yang tiba-tiba merangsuk masuk dalam ingatan dan jengkal napasnya.

Indah memang, cinta mengubah segala yang hitam putih menjadi warna-warni. Tumpukan kebahagiaan semakin sempurna, ketika perkenalan teman saya dan pria itu berlangsung ke tahap yang lebih dalam, lebih dekat.

Segalanya terasa manis, walaupun juga terasa asing. Rasa nyaman itu kini berangsur berubah menjadi rasa takut kehilangan. Mereka berusaha untuk saling melindungi satu sama lain. Mungkin, ketika salib berada dalam genggaman tangan teman saya, dan ketika tasbih berada dalam genggaman pria itu; dengan air mata, mereka saling mendoakan.

Saya bisa rasakan kehangatan mereka. Sangat hangat. Sangat dekat. Saya iri, mengingat hubungan saya yang lebih dulu kandas termakan perpisahan. Saya dan pria di masa lalu tersebut tidak sekuat dan setegar teman saya. Oh, jadi curhat. Sungguh, saya benci membahas masa yang tak ingin saya ingat lagi. Teman saya dan kekasihnya masih terus mempertahankan walau mereka berbeda. Perbedaan keyakinan bukan alasan untuk tidak saling jatuh cinta.

Inilah yang membuat saya semakin terharu, teman saya menunggu kekasihnya salat di masjid. Ia menunggu dengan sangat sabar meskipun lirikan mata yang tajam tertuju padanya.

Dalam perbedaan, mereka saling menguatkan. Keindahan mereka sampai pada kelopak mata saya. Saya tak tahu harus berkomentar apa. Terharu? Prihatin? Sinis?

Hey, mereka berbeda dari pasangan yang lainnya. Mereka bukan pasangan bermanja-manja yang mabuk kepayang akan cinta, saling bergelayut mesra dalam pelukan. Sampah. Pacaran model cinta monyet. Teman saya dan kekasihnya sungguh berbeda, mereka punya kebahagiaan yang tak dimengerti banyak orang. Kebahagiaan yang belum tentu bisa dirasakan oleh banyak orang yang sibuk menghakimi hubungan mereka.

Apa yang membuat dua orang saling memperjuangkan jika bukan karena cinta?

10 October 2012

Salahkah jika Melipat Tangan dan Menengadahkan Tangan Bersatu?

Setiap bertemu dengan saya, dia banyak diam. Dia hanya bercerita tentang karier menarinya yang cukup mengagumkan. Hal yang selama ini ia perjuangkan terlihat mulai membuahkan hasil. Kelurga, waktu, usaha, dan tenaga telah ia korbankan untuk mimpinya; menari di atas panggung.

Ini pertemuan saya yang terjadi secara kebetulan, kami bertemu di Margocity, Depok, Jawa Barat. Dia tidak bersama kekasihnya, saya bertanya-tanya. Adakah sesuatu yang salah? Melihat kejanggalan tersebut, saya banyak diam. Namun, ia mengajak saya sekadar ngopi dan ngobrol, saya tak mampu menolak, kami sudah tidak saling bertukar kabar beberapa minggu ini.

Topik utama masih tentang kuliah saya sebagai mahasiswa baru dan ia bercerita tentang kariernya yang mulai bersinar. Saya ikut bangga punya teman yang memperjuangkan mimpinya dengan sangat berani dan nekat. Namun, air wajahnya berubah ketika ia bercerita tentang kekasihnya, yang memanggil nama Tuhan dengan sebutan berbeda. 

Mungkin, inilah definisi menyakitkan yang sesungguhnya. Saya sendiri tak mampu mendeskripsikan rasa sakit dalam rangkaian kata, karena perasaan itu benar-benar dirasakan oleh hati, sedangkan apa yang dirasakan hati begitu sulit disentuh oleh logika kata dan kalimat. Dan, kata menyakitkan itu berasal dari kesulitan untuk menyatukan dua orang yang beribadah di tempat yang berbeda. Menangkap maksud saya? Absurd, abnormal, sulit dipecahkan, inilah yang muncul dalam benak saya ketika ia kembali bercerita tentang hubungannya yang berbeda, yang penuh perjuangan dan peluh.

Saya paham, ketika dia harus berkali-kali menghela napas ketika bercerita tentang beban yang memberatkan langkahnya selama ini. Saya juga mengerti ketika matanya mulai berkaca-kaca setiap kali nama pria itu disebutkan olehnya. Saya juga memaklumi jika ia harus mengangkat wajahnya berkali-kali, menahan matanya yang berair agar tetap terlihat kuat dan tegar. Kedewasaannya sungguh diuji, ia berusaha terlihat sangat tegar dan sangat kuat di hadapan saya. Mungkin, dia sangat memercayai saya, karena saya pernah mengalami hal serupa, walaupun pada akhirnya saya juga terluka.

Dia terus bercerita, semakin banyak ia bercerita semakin saya memahami isi hatinya. Ada sesuatu yang ia perjuangkan di sini, agak ironis dan klise jika saya katakan, dan sangat munafik jika saya menyembunyikan apa yang saya tangkap. Iya, dia memperjuangkan; cinta.

Kamu tertawa, jelas. Cinta, di mata beberapa orang hanyalah omong kosong yang jauh dari kata nyata. Beberapa orang beranggapan bahwa cinta bukanlah hal yang harus benar-benar diperjuangkan. Makanya, cinta bisa terpisah karena perbedaan. Suku, ras, status sosial, dan lebih menyakitkan lagi jika berpisah karena agama. Hanya karena teman saya melipat tangan dan kekasihnya menengadahkan tangan, berarti mereka dilarang untuk saling jatuh cinta?

Hal ini sungguh menganggu pikiran saya. Mungkin, saya terlalu perasa, hingga saya tak pernah tahan melihat seseorang terluka bukan karena sakit yang ia buat sendiri. Iya, saya begitu yakin, sakit dan air mata yang ia rasakan bukanlah sakit yang ia buat sendiri. Saya percaya dia dan kekasihnya saling jatuh cinta, mereka saling menjaga dan tidak mungkin saling menyakiti. Tapi, keadaan, orang-orang sekitar, juga orang lain yang bahkan tak terlalu mengenal mereka telah menciptakan pandangan yang salah. Pandangan yang memojokan teman saya dan kekasihnya. Mereka memang berbeda, salib dan tasbih, tapi bisakah dunia berhenti menyakiti mereka? 

Ketika pembicaraan berakhir, saya tidak memberi solusi apa-apa. Apa yang bisa saya berikan? Saya hanya mampu menyediakan telinga, juga hanya mampu menepuk pundaknya berkali-kali, berkata "sabar" tanpa henti. Saya sendiri benci dengan tindakan saya selama ini, saya banyak diam dan membiarkan teman saya dalam kesedihannya sendiri. 

Tuhan, agama, dan norma, begitu klise dalam kacamata saya. Segalanya begitu kompleks, sampai-sampai saya tak paham lagi, apakah Tuhan yang begitu suci dan agung pantas diterka-terka isi hatiNya oleh manusia?

11 September 2012

Cintaku, Cintamu, Beda!


Saya hanya mampu menepuk bahunya berkali-kali dan hanya mampu mengucapkan kata “sabar”. Matanya sudah bengkak, wajahnya tak lagi bersinar seperti saat ia baru datang untuk menceritakan segalanya pada saya. Raut wajah itu menggambarkan luka yang tidak dapat lagi dibahasakan melalui frasa-frasa kata. Dan, melalui ceritanya; baru kali ini saya bisa merasakan, sakitnya mencintai hanya karena dibatasi oleh perbedaan.

Padahal, wanita ini punya alasan untuk selalu tersenyum dan bahagia. Wajahnya bagaikan pahatan sempurna jemari Tuhan, percampuran darah Jawa dan Padang. Zodiaknya Leo, saya percaya dia wanita yang tangguh. Boleh dibilang selain tangguh, dia juga nekad, begitu saja meninggalkan kota Padang demi mengejar cita-citanya untuk menjadi penari. Dia sangat jatuh cinta pada dunia tari. Tari layaknya napas yang mendenyutkan peredaran darahnya hingga saat ini. Ia berasal dari keluarga yang sangat menyayanginya, menjadi anak ketiga dari empat bersaudara adalah cara Tuhan mengajarinya banyak hal, salah satunya - CINTA!

Berbagai peristiwa membuka matanya, sampai pada akhirnya ia bertemu seorang pria; pria yang mengajarinya banyak hal dengan cara yang tak biasa. Mereka saling bertatapan ketika wanita ini sedang berusaha meredam rasa demam panggungnya sebelum pentas tari. Pertemuan mereka tidak terencana, seakan-akan dunia sengaja berkonspirasi untuk menjebak mereka dalam sebuah ilusi nyata, lalu terciptalah pertemuan absurd. Sulit dijelaskan, bagaimana pertemuan nyata bisa mengubah cara pandang seseorang. Dan, ternyata tanpa mereka minta, jemari hangat cinta telah meremas hati mereka yang beku. Cinta datang dengan tiba-tiba, senyata-nyatanya, seada-adanya... begitu saja.

Pria ini adalah seorang juru masak, dan wanita yang kudengarkan ceritanya tadi sangat jatuh cinta pada setiap masakan yang dihasilkan jemari sang pria. Cinta semakin mengambil alih, mereka sama-sama larut dalam kebahagiaan yang tak lagi terhitung. Hanya ada senyuman tulus yang mengalir dalam setiap detik kebersamaan mereka. Cinta telah membuat jiwa mereka seakan-akan berada di Taman Firdaus, tapi kenyataan hanya bisa membuat mereka seakan terusir dari keindahan dan kemegahan Taman Firdaus. Lagi dan lagi, karena perbedaan. Perbedaan macam apa yang bisa merenggut semua kebahagiaan seseorang?

Wanita ini sedang memanggil Tuhan, menyebut nama Tuhan seperti biasa, sambil melipat tangan dan salib Yesus yang melingkar di lehernya seakan turut meremas segala kecemasan yang bergumul dalam hatinya. Pria ini sedang bersujud, mengajak Tuhan berbicara dengan bahasa yang berbeda, terjadi percakapan sederhana dengan bulir air mata. Segalanya berbeda, tapi cinta membuatnya menyatu. Segalanya tak mungkin disatukan, tapi cinta membuat dua orang berjuang bahkan untuk hal yang mustahil sekalipun.

Awalnya, mereka memang masih berproses untuk menerima dan menormalkan segalanya agar tak terlihat seperti masalah besar. Perbedaan di antara mereka seringkali dijadikan bahan candaan, juga kadang dijadikan sebagai bahan perenungan.

“Menurut kamu, hubungan kita ini akan berakhir manis apa enggak?” tanya wanita ini, dengan wajah penasaran dan tatapan minta diberi penjelasan.

Lama sekali pria ini berpikir.  Ia tak mau terlihat rapuh di depan orang yang ia cintai. “Yakinlah berhasil. Karena pikiran kita akan menuntun pada keberhasilan itu,” ucap pria ini mantap.

“Tapi dalam sejarah, karena keyakinan kita berbeda membuat hubungan ini tidak mudah.” terdengar nada keraguan dari bibir sang wanita. “Pasti ada yang terluka. Padahal cinta harusnya membahagiakan.”

Bagi saya, mereka terlalu manis juga terlalu romantis. Di mata saya, mereka adalah sosok pasangan yang sangat kuat. Mereka berusaha membuktikan pada dunia bahwa mereka hanya jatuh cinta, bukan berzinah layaknya ungkapan orang-orang yang sok ahli dalam bidang agama. Perjuangan mereka menemukan banyak kerikil dan tikungan tajam, air mata dan tawa bergantian menggores bibir. Dan, cinta... membuat mereka percaya, tak ada yang sia-sia jika mereka masih ingin berusaha.
                                                                                                                   
Dalam canda, wanita ini sering menggoda sang pria. “Kamu harus bisa masakin keluargaku babi rica. Enak lho! Kamu harus mencoba”.

“Kalau kamu makan babi rica aku akan temani, tapi nggak akan aku memakan makanan itu”.
Seloroh pria itu dengan candaan yang tak kalah lucu. Dan, mereka tertawa lepas. Masih bisa tertawa bahkan dalam kekhawatiran mereka.

Semua masih bercerita tentang bahagia, bahagia, dan bahagia. Mereka masih bisa menertawakan perbedaan yang terjadi di antara mereka. Mereka tak ingin mengungkit luka yang sebenarnya perlahan-lahan sudah tergores; sejak mereka tahu perbedaan tak mudah untuk diperjuangkan.

Dan, apakah hanya untuk bahagia, mereka perlu meninggalkan Tuhan dan menutup telinga terhadap perkataan orang?

Untuk teman saya yang belum berani saya sebutkan namanya
Kuatlah, Teman...
Mereka yang di luar sana tak pernah tahu apa yang kaurasakan
Mereka mencibirmu, memakimu, dan menghakimimu
Karena mereka tak pernah tahu... siapa dirimu sebenarnya.
 
***
 
Lagi ngalamin CINTA SAMA SESEORANG TAPI NGGAK BISA UNGKAPIN? KARENA DIA NGGAK PEKA? PLIS JANGAN BACA INI. AKU NGGAK TANGGUNG JAWAB KALAU KAMU NANGIS. BERANI KLIK TULISAN INI? :'(

07 September 2012

Mereka yang berjuang walau kesakitan

Sesuatu yang dipersatukan Tuhan tak dapat dipisahkan manusia. Seringkali kita menyebutnya jodoh. Ketika berlari, selalu tertuju ke arah yang sama. Ketika mencoba untuk pergi, selalu kembali ke jalan yang sama. Semua berputar dan berotasi, konsep jodoh sendiri semakin tereksplorasi. Katanya, jodoh berarti miliki banyak kesamaan. Katanya, jodoh berkaitan dengan hilangnya perbedaan. Dan katanya lagi, jodoh adalah soal memiliki seutuhnya. Jika itulah yang berarti jodoh, lantas bagaimana mereka yang jelas-jelas berbeda?

Jatuh cinta menimbulkan banyak rasa juga tanya. Ada yang bertemu, begitu mudah jatuh cinta, lalu kemudian memiliki. Ada yang tak sengaja bertemu, menjalin persahabatan, lalu saling mencintai. Ada lagi yang tak pernah rencanakan apapun, tapi tiba-tiba jatuh cinta, namun terhalang untuk memiliki— karena perbedaan agama.

Pernahkan kita melirik sedikit pada jiwa-jiwa yang jatuh cinta walau berbeda? Seberapa besarkah perjuangan yang mereka lakukan hanya untuk merasakan jatuh cinta layaknya pasangan normal lainnya? Mereka kadang terpojokkan, oleh perbedaan yang katanya sulit disatukan; norma agama... sesuatu yang sudah menjadi patokan dan tak mampu lagi ditawar. Mereka berbeda tapi masih berjuang, mereka temukan banyak luka tapi berusaha tak terlihat kesakitan.

Ketika yang lain sibuk mencumbu tanpa pernah mengerti arti cinta yang sesungguhnya, mereka sibuk mengeja dan merapal doa yang sama; meskipun diucapkan dengan bahasa yang berbeda. Dalam setiap sujud, dalam setiap lipatan tangan, dalam setiap sentuhan Al-Quran, dan dalam setiap sentuhan Alkitab— mereka saling mendoakan, meskipun tahu segalanya tak memungkinkan.

Segalanya terlewati dengan cara yang berbeda, apakah salah mereka? Hingga dunia menatap mereka layaknya penjahat kecil yang pasti bersalah dan tak berhak untuk membela diri. Apa salah mereka, jika mereka sama-sama mengenal Tuhan walaupun memanggilNya dengan panggilan berbeda?

Jika Tuhan inginkan sebuah penyatuan, mengapa Dia ciptakan perbedaan? Apa gunanya cinta dan Bhinneka Tungga Ika jika semua hanya abadi dalam ucapan bibir semata?