Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

24 June 2013

Cinta Butuh Waktu*



 "Cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan." - Vierratale

           Senyumnya adalah bagian yang paling kuhapal. Setiap hari kunikmati senyum itu sebagai salah satu pasokan energiku. Kali ini pun tetap sama, ketika kupandangi ia yang sedang menulis sesuatu di kertasnya. Matanya sesekali mengarah padaku, ia menyimpulkan senyum itu lagi.
            Aku yang sedang menggambar sketsa wajahnya, memerhatikan setiap lekuk pahatan tangan Tuhan. Detail wajahnya tak kulewati seinci pun. Hidungnya yang tak terlalu mancung, pipi dan rahang yang tegas, dan bentuk bibirnya yang mencuri perhatian siapapun saat menatap lengkungan senyum itu. Aku penggemarnya, seseorang yang mencintainya tanpa banyak ucap, namun dengan tindakan yang nyata.
            Secara terang-terangan, aku tak pernah bilang cinta, namun selalu kutunjukkan rasa. Entah lewat sentuhan, perhatian, dan caraku membangun percakapan. Aku mencintainya. Terlalu mencintainya. Sampai-sampai aku tak sadar bahwa kedekatan kita semakin tak terkendalikan, meskipun semua singkat, tapi rasanya cinta begitu terburu-buru mengetuk pintu hatiku.
            Di sebuah taman, tempat kami biasa bertemu, tempat kami biasa melakukan hal sederhana yang begitu kami cintai. Ia menulis tentangku. Aku menggambar sosoknya. Setelah karya kami sama-sama selesai, kami saling menukar hasil jemari kami.
            Tulisannya yang indah dan gambarku yang sederhana sama-sama menyumbangkan senyum di bibirku dan bibirnya. Betapa kami sangat bahagia cukup dengan seperti. Betapa cara sederhana bisa membuat aku dan dia merasa tak butuh apa-apa lagi, selain kebersamaan dan takut akan rasa kehilangan.
            “Kamu pernah takut dengan rasa kehilangan?” ucapnya lirih di sela-sela gerakan jemarinya yang masih menulis sesuatu di kertas.
            “Pernah dan aku tak akan mau lagi merasakan perasaan itu.” jawabku secepat mungkin, jemariku masih memperbaiki gambarku yang hampir selesai. Kuperhatikan lagi bentuk wajahnya, rahang dan jambang rambutnya yang begitu kusukai. Seandainya aku punya keberanian untuk menyentuh wajah itu, selancang ketika aku menyentuh batang pensil saatku menggambar.
            “Kalau kausudah berusaha begitu kuat, namun kautetap bertemu pada rasa kehilangan, apa yang akan kaulakukan?”
            Kubiarkan pertanyaannya menggantung di udara sesaat. Kuberi jeda waktu agar ia masih bertanya-tanya pada rasa penasaran dalam hatinya. Semilir angin dan goresan pensilku di kertas lebih terdengar jelas dalam keheningan kami berdua.
            “Apa yang akan aku lakukan?” aku mengulang pertanyaan darinya, semakin membangun rasa penasarannya yang membesar.
            Kening pria itu mengkerut ketika pertanyaannya kuulang, “Iya, apa yang akan kaulakukan jika rasa kehilangan tiba-tiba menyergapmu meskipun kamu sudah berusaha keras untuk menggenggam?”
            Helaan napasku terdengar santai, “Aku akan selalu bertanya pada diriku sendiri, mengapa aku harus merasakan kehilangan. Setelah aku tahu jawabannya, demi apapun, aku tak akan mengulang kesalahanku lagi. Dan, aku akan semakin memaknai pertemuan sebagai hal yang tak boleh disia-siakan.”
            Jawabanku membuat ia semakin tajam menatap wajahku, aku yang menunduk dan masih menggambar, jadi salah tingkah ditatap dengan tatapan seperti itu. Ia arahkan jemarinya ke atas kepalaku dan membelai rambutku. Aku tak tahu maksud dari sentuhan itu, entah mengapa seketika tubuhku tak bisa memberi banyak tanggapan atas sentuhannya. Aku belum bisa merasakan adanya cinta dalam setiap sentuhannya.
            Ia kembali menulis, kuintip sedikit ternyata kertas tempat ia menulis sudah hampir penuh. Dengan matanya yang indah, ia kembali meminta perhatianku, “Aku merindukan dia.”
            “Wanita itu lagi?” tanggapku dengan cepat.
            Ada sesuatu yang bergerak dalam dadaku ketika ia mengucap kalimat singkat itu. Terdengar singkat memang, tapi entah mengapa rasanya aku harus butuh waktu lama agar tak merasa sakit dengan pernyataan yang seperti itu. Kali ini, aku merasa dianggap tak ada.
            “Aku selalu bilang padamu, setiap hari, berkali-kali, tak perlu lagi kamu merindukan seseorang yang bahkan tak pernah menghargai perasaanmu!”
            Senyumnya terlihat getir ketika aku berbicara dengan nada tinggi.
            “Apakah bagimu, ada kehilangan yang tak menyakitkan?”
            “Semua kehilangan pasti menyakitkan, kita sebagai manusia hanya bisa mengobati setiap luka, sendirian atau bersama seseorang yang baru. Itu semua pilihan yang kita tentukan sendiri.”
            Tanpa menatap wajahku, ia kembali mengajakku bicara, “Apakah obat pengering dari luka basah bernama kehilangan?”
            Aku berhenti menggambar. Kuketuk-ketukkan pensilku di atas kertas dan berpikir dengan serius, “Luka pasti kering, tapi bekasnya akan selalu ada. Keikhlasan dan kepasrahanlah yang membuat bekas luka tak lagi perih.”
            “Lantas, apa lagi?”
            “Membuka hati untuk seseorang yang baru!” seruku dengan nada bersemangat, dengan senyum singkat.
            “Ah, tapi bukankah semua butuh waktu? Termasuk juga soal cinta.”
            “Cinta butuh waktu untuk bisa kita rasakan?” aku mengangguk setuju, “Tapi, sampai kapan kaubutuh waktu? Sampai orang yang mencintaimu pada akhirnya memilih pergi, karena tak terlalu kuat diabaikan berkali-kali?”
            Aku tertawa dalam hati; menertawai diri sendiri.
            “Lihatlah, kamu melucu!” ia ikut tertawa sambil terus melanjutkan tulisannya, “Cinta memang butuh waktu dan waktu yang dibutuhkan cinta adalah teka-teki yang sulit diprediksi.”
            “Ah, kamu ini, semua hanya soal kesiapan hati.” bibirku meringis, mencoba menutupi hatiku yang mulai nyeri, “Jangan pernah takut dengan orang baru yang datang ke dalam hatimu, karena ia tak ingin banyak hal, selain membahagiakanmu.”
            “Aku juga berpikir begitu, tapi aku takut jika luka yang masih kubawa, akan menjadi luka baru di hati orang yang mencoba masuk ke dalam hatiku.”
            “Bagi orang yang ingin membahagiakanmu, tak akan pernah ada luka, meskipun cinta yang ia tunjukkan begitu lambat kaurasakan.”
            “Tak akan pernah ada luka?” tanyanya dengan wajah tak percaya, ia menatapku sekali lagi, dengan tatapan sangat serius, kali ini.
            “Ketika tulus mencintai seseorang, ia melakukan banyak hal karena ia mencintaimu, bukan karena ia memikirkan apa yang akan ia dapatkan ketika ia mencintaimu.”
            “Begitu manisnya cinta....”
            “Lebih manis lagi jika tak hanya satu orang yang berjuang untuk membahagiakan, harus saling membahagiakan.”
            Kalimatku membuat ia tersenyum lebar. Ia membubuhi tanda tangan untuk mengakhiri karya tulisnya di kertas. Aku menulis namaku dan tanggal pembuatan gambar ketika aku selesai menggoreskan goresan terakhir.
            Setelah karya tulisnya selesai dan karya gambarku selesai. Kebiasaan itu terulang, kami saling menutup mata sebelum dia melihat gambarku dan aku membaca tulisannya. Ketika karyanya ada di tanganku dan karyaku ada di tangannya, kami pada akhirnya membuka mata.
            Ia menikmati gambarku dengan senyum memesona, senyum yang paling kucintai dan kukagumi. Gambarku adalah sosoknya yang kujadikan sketsa di kertas A4. Aku tak melewatkan detail wajahnya yang indah. Hidungnya kugambar semirip mungkin, rahangnya yang tegas juga jambangnya yang menggemaskan, juga kugambar dengan goresan yang tegas. Ia mengucap terima kasih. Aku bisa menebak wajahnya yang terharu ketika karya itu kuberi judul Masa Depan.
            Giliran aku yang membaca karya tulisnya. Awalnya, kukira ia menulis tentangku, tapi ternyata aku salah. Ia menulis tentang seseorang yang bukan aku, seseorang yang hidup dalam masa lalu dan kenangannya. Hatiku teriris membaca setiap paragraf dalam tulisannya; tak ada aku di sana. Aku hanya membaca tentang sosok lain, sosok yang dulu ia ceritakan dengan wajah sedih, sosok yang begitu kubenci karena menyia-nyiakan pria yang kucintai saat ini. Karya tulis itu ia beri judul Masa Lalu.
            Aku mengulum bibirku. Usahaku masih terlalu dangkal baginya. Cinta yang kutunjukkan ternyata belum cukup menyentuh hatinya. Ia masih terpaut pada masa lalu ketika aku sudah menganggap sosoknya sebagai masa depan. Ia masih belum melupakan masa lalunya, ketika aku secara perlahan-lahan berusaha menyembuhkan lukanya yang perih.
            Aku belum berhasil seutuhnya.
            Ah, mungkin aku masih harus terus berjalan dan berjuang lebih dalam. Aku akan terus berjuang, sampai ia juga menganggapku masa depan, seperti aku selalu menganggap dia sebagai bagian masa depanku.
            Cinta butuh waktu. Butuh waktu untuk membuat ia segera melupakan masa lalunya kemudian mencintaiku. Butuh waktu untuk membuat ia memahami, ada cinta yang lebih masuk akal untuk ia percayai.
            Cinta memang butuh waktu.

*lagu Vierratale diciptakan oleh Kevin Aprilio

19 April 2013

Belajar Melepaskan


Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis; walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat— BBM. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicara manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa.
Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh. Ada yang hilang jika sehari saja kamu tak menyapaku melalui dentingan chat BBM. Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh; cinta.
Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kaurasakan. Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang wanita. Sebenarnya, aku sudah memberi perhatian itu tanpa kauketahui. Mungkinkah perhatianku yang sering kuberikan tak benar-benar terasa olehmu? Aku mendengar ceritamu lagi. Hatiku bertanya-tanya, seorang pria hanya menceritakan perasaannya pada wanita yang dianggap dekat.
Aku bergejolak dan menaruh harap. Apakah kausudah menganggap aku sebagai wanita spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Senyumku mengembang dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja, tanpa kusadari bahwa cinta mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak kuinginkan.
Saat bertemu, kita tak pernah bicara banyak. Hanya sesekali menatap dan tersenyum penuh arti. Ketika berbicara di BBM, kita begitu bersemangat, aku bisa merasakan semangat itu melalui tulisanmu. Sungguh, aku masih tak percaya segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha memercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang lebih.
Aku tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian. Tapi, nyatanya....
Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendalikan. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan? Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya wanita yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.
Salahku memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah bukan jika berharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama? Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku, aku percaya kautak mungkin membuatku sedih dan kamu tak akan jadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu, sangat! Dan, itulah kebodohan yang harus kusesali.
Ternyata, ketakutanku terjawab sudah, kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas. Kamu pergi tanpa ucapan pisah dan pamit. Aku terpukul dengan keputusan yang tak kausampaikan padaku, tapi pantaskah aku marah? Aku tak pernah jadi siapa-siapa bagimu, mungkin aku hanya persinggahan; bukan tujuan. Kalau kauingin tahu, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang ingin kuwujudkan bersamamu. Mungkin, suatu saat nanti, jika Tuhan izinkan, aku percaya kita pasti bisa saling membahagiakan.
Aku tak punya hak untuk memintamu kembali, juga tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang. Masih adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik, aku merasa kehilangan. Dulu, aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan gelapnya malam.
Sesungguhnya, ini juga salahku, yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat. Ini bukan salahmu, juga bukan kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk tahu bahwa aku mencintaimu.
Aku harus belajar tak peduli. Aku harus belajar memaafkan, juga merelakan.

20 March 2013

Susu Kaleng

                “Muka kamu kok layu banget? Kamu belum sarapan?”
                “Belum, sih, maklum anak kosan. Sarapan dan makan siang digabung jadi satu.”
                Dian merogoh tasnya dan segera menggenggam susu kaleng, “Ini buat kamu. Diminum, ya, supaya muka kamu nggak layu kalau di kelas.”
                “Terima kasih, Dian.”
                “Tapi, maaf, ya, kalau rasa stroberi. Kamu lebih suka rasa coklat kan?”
                “Wah, kalau begitu mulai sekarang aku suka yang rasa stroberi saja.” ucap Reksa sambil menatap bola mata Dian.
                Tatapan mereka sering bertemu, walaupun terasa menggetarkan hati, tapi Dian dan Reksa mencoba melawan perasaan itu. Mereka sangat yakin bahwa segalanya hanya berdasarkan pertemanan. Mereka terus melawan dan memercayai anggapan bahwa tak pernah ada cinta di antara mereka. Memendam. Itulah hal yang selalu Dian dan Reksa lakukan selama ini. Pengetahuan mereka sebatas status berteman tanpa melanjutkan ke status yang lebih serius.
                “Ada puisi baru?”
                “Ada, tapi masih bingung ingin diberi judul apa.”
                “Puisinya tentang apa?”
                “Tentang kerinduan.”
                Dian mendekatkan posisi duduknya, “Kerinduan? Tema yang manis dan hangat, berapa menit kamu bikinnya? Lima belas menit?”
                “Lima belas menit hanya cukup untuk membuat mie instan, Dian.”
                “Segalanya selalu mungkin, Reksa. Kamu pernah bilang ke aku, hal yang tak mungkin hanya memakan kepala sendiri kan?”
                “Aku pernah bilang seperti itu?” kening Reksa mengkerut, otaknya kembali memutar memori masa lalu.
                Aku tak pernah melupakan setiap perkataanmu. Bisik Dian dalam hati. Bisikan yang tak pernah Reksa ketahui, suara hati yang sengaja disembunyikan rapat-rapat.
                “Coba kamu baca dulu puisiku, setelah itu kamu beri judul yang menarik.” Reksa memberikan secarik kertas untuk Dian, berisi puisi yang Reksa buat. Tangan Reksa erat menggenggam susu kaleng, ia meneguk susu kaleng pemberian Dian dengan perasaan yang masih ia sembunyikan. Cintakah?
                Wanita yang masih sibuk menyembunyikan perasaan harunya terus membaca puisi Reksa dalam hati, “Tumben, puisimu yang kali ini maknanya sangat mendalam.”
                “Jadi, sudah kaudapatkan judulnya?”
                “Rindu tak pernah cukup. Beri saja judul itu.”
                “Kenapa judulnya sedih begitu?”
                “Itu tidak sedih. Rindu sama seperti cinta— tak berkesudahan.”
                Reksa mengangguk setuju. Ia terus menggenggam susu kaleng yang Dian berikan untuknya. Bola mata mereka kembali bertemu. Sangat lama.
                Dua orang yang hatinya mulai berdekatan ini tak tahu harus berbuat apa. Mereka cuma tahu; beberapa hal hanya perlu dijalani dan dirasakan, tanpa perlu diungkapkan.
***
                Hal itu sudah menjadi kebiasaan. Dian sengaja datang lebih pagi agar bertemu Reksa, begitu juga dengan Reksa yang sengaja melajukan sepeda motornya lebih cepat agar segera menemui Dian. Segalanya terjadi begitu saja, tak ada dorongan apapun selain kenyamanan dan keinginan untuk terus bersama.
                Dian sudah menunggu selama lima menit, kelas masih begitu sepi tanpa kehadiran Reksa. Jemari Dian menggenggam susu kaleng. Ketika terdengar suara pintu terbuka, Dian langsung menoleh. Reksa menghela napas lega ketika menatap Dian yang menunggu dengan wajah masam.
                “Maaf, tadi aku mengantar temanku sebentar.”
                Senyum Dian dipaksakan mengembang, “Untuk apa minta maaf, kita tak pernah berjanji kan?”
                “Aku tetap merasa tidak enak kalau membuat seseorang menunggu.”
                “Bukan seberapa lama aku menunggu, yang penting kaudatang dan aku bisa memberikan susu kaleng ini untukmu.”
    “Lain kali aku tidak akan datang telat.”
    “Jangan berjanji, aku takut kautak bisa menepati janjimu sendiri.” ungkap Dian dengan nada
menyedihkan. Ia seakan tahu yang akan terjadi selanjutnya. “Memangnya, kamu tadi mengantar siapa?”
                “Aku mengantar Sora.”
                Reksa berbohong. Ia sudah bangun sejak subuh, pagi ini ia ingin menyatakan perasaannya pada Dian. Reksa ingin menjadikan Dian seseorang yang memiliki posisi lebih dari teman di dalam hatinya. Sejak subuh tadi, ia memikirkan cara terbaik untuk mengungkapkan perasaan. Matanya yang berat dan kantuk mata yang tebal adalah bukti bahwa ia hanya tidur sesaat.
                Mendengar kebohongan Reksa yang kebenarannya tak diketahui Dian, ia langsung terdiam. Ia cemburu.
                “Nampaknya, Sora begitu penting buatmu, ya?”
                Tak sempat Reksa menjelaskan segalanya, ponsel Dian berbunyi.
                “Halo.”
                “Halo, Dian. Kamu sudah di kampus, ya?”
                “Iya, ada apa, Jude?”
                “Aku tadi ingin mengantarmu ke kampus, tapi ternyata kamu sudah berangkat duluan. Bagaimana kalau seusai pulang kampus, aku menjemputmu?”
                Mendengar ajakan yang memuakan— Dian langsung memutuskan pembicaraan.
                “Kok, ditutup?” seloroh Reksa dengan tatapan menyelidik, “Siapa? Jude?”
                Anggukan kepala Dian melemah.
                “Kenapa tidak mau dijemput dan diantar oleh pria bermobil mewah itu, Dian?”
                “Aku datang lebih pagi agar bisa memberi susu kaleng ini untukmu, aku tahu kamu pasti tak sarapan. Aku tak ingin melihatmu lesu saat pelajaran.”
                “Hanya untuk memberikan susu kaleng ini untukku?”
                Sebenarnya lebih dari itu! Ungkap Dian dalam hati, tapi ia tak boleh mengatakan perasaann sesungguhnya, “Iya, hanya untuk mengantarkan susu kaleng ini, tak lebih.”
                Dian berbohong, ia mendustai hatinya sendiri.
                Gantian Reksa yang terdiam sangat lama. Puisi yang sudah ia kantongi di sakunya tak jadi ia berikan untuk Dian. Ia menatap Dian dengan tatapan seakan tak memercayai perkataan Dian.
                Wajah Reksa merah padam, kemarahan memuncak. Kenapa ia harus marah? Sungguh, Reksa bahkan tak mampu memahami perasaannya sendiri.
                Ia menyambar susu kaleng pemberian Dian dan meninggalkan Dian sendirian.
                Dian membuat hujan di pelupuk matanya sendiri.
***
                Sambil menggenggam susu kaleng, ia menunggu Reksa datang. Dian terus menunggu, bahkan sampai kelas ramai. Reksa baru hadir ketika kelas hampir dimulai. Kejadian itu terus berulang setiap hari. Dian ingin mengajak Reksa berbicara, tapi Reksa selalu menghindar. Melihat perubahan Reksa, Dian berusaha mencari kabar.
                Dia harus menghela napas panjang. Reksa telah menjadi kekasih Sora. Hal itu terjadi tanpa sepengetahuan Dian. Segalanya tertahan tanpa pernah diungkapkan. Hal-hal manis yang pernah terjadi seakan menguap bak asap rokok— hilang tak berbekas.
                Dian tak pernah ingin hal ini terjadi. Segalanya berakhir tanpa ucap kata pisah.
                Perlakuannya masih sama, ia masih sering menunggu Reksa dari pagi hingga kelas kuliah dimulai. Dian tak pernah lelah menunggu, tapi Reksa tak pernah lagi datang.
                Reksa tahu Dian menunggu, tapi Reksa tak ingin lagi tahu. Ia hanya tahu bahwa Dian melakukan segalanya, menunggu sosoknya datang, hanya untuk memberikan susu kaleng berukuran kecil. Tak lebih!
                Mereka berubah; tak lagi sama.
                Ada sesuatu yang masih membuat Dian terharu, Reksa memang selalu datang beberapa menit sebelum perkuliahan dimulai. Dalam ketergesa-gesaan saat memasuki kelas, Reksa selalu menggenggam susu kaleng rasa stoberi di jemarinya. Dian memerhatikan itu, tapi ia tak bisa lagi bertindak lebih selain memerhatikan diam-diam.
                Kali ini, Reksa meneguk susu kaleng stroberi tanpa ditemani oleh pembicaraan manis bersama Dian. Seakan Reksa sudah bisa hidup tanpa Dian.
                Mereka masih diam, terus diam, sampai-sampai tak pernah tahu perasaan masing-masing.

14 March 2013

Tipuan


                “Jangan anggap ini tipuan ataupun permainan, ini sungguhan, Sayang!”
                Aku tersenyum geli, berusaha mencerna kata-katanya dengan baik dan benar. “Iya, Sayang, aku selalu percaya apa yang kamu katakan.”
                “Bim Salabim, hilanglah permen dari tanganku!” ia mengucapkan mantra, “Sayang, kamu tiup tangan aku sekarang. Lihat apa yang terjadi.”
                Napasku mengembuskan udara di tangan kanannya dan permen yang sejak tadi ia genggam tiba-tiba hilang begitu saja.
                “Sayang, kok permennya hilang?”
                “Namanya juga sulap.” Jerry mencubit hidungku, “Kamu suka permainan sulap aku?”
                “Suka... tapi, tadi tipuan kan? Kepalsuan?”
                “Nggak, Sayang. Itu beneran magic!”
                Anggukan kepalaku berusaha terlihat mantap di depan mata Jerry. Aku mencintainya dan tidak akan mungkin mengecewakannya.
                “Tadi bagaimana di kampusmu? Segalanya menyenangkan?”
                “Iya, Sayang. Kalau kampusmu, gimana?”
                “Sama menyenangkannya, seperti yang kamu rasakan.”
                Aku tersenyum, aku selalu senang jika orang yang kucintai bahagia dengan pilihannya.
                “Dia masih bersamamu?”
                Jerry terdiam.
                “Masih ya?”
                “Kamu tahu aku hanya punya perasaan lebih sama kamu.”
                “Kalau sama dia, apa perasaanmu tak lebih?”
                Sunyi meringkuk kebersamaan kami kala itu. Pertanyaan yang kulontarkan tak membuahkan jawab di bibir Jerry.
                “Bahkan untuk menjawab pertanyaan semudah itu saja; kamu tak bisa.”
                “Jika aku selalu meluangkan waktu untukmu agar bisa bertemu, masih haruskah banyak alasan kujelaskan?”
                “Kadang, seseorang seakan-akan terlihat mencintaimu, namun di sisi lain­­; ia sebenarnya mencintai orang lain.”
                “Aku bukan pria seperti itu.”
                “Siapa yang tahu segalanya? Aku tak selalu ada di sampingmu.”
                “Kamu tak selalu ada di sampingku, tapi bukankah aku selalu ada di sampingmu ketika kamu butuh?”
                “Hanya saat butuh.”
                Jerry menghela napas, “Kita tak bisa terus bertemu, jangan sia-siakan pertemuan kali ini!”
                Aku terpaksa mengalah. Ia melanjutkan lagi permainan sulapnya, yang selalu ia yakinkan padaku bahwa semuanya adalah magic bukan tipuan!
                Senyumku mengembang tak seikhlas awal permainan. Ada sesuatu mengganjal dalam hatiku. Entah mengapa, saat melihat matanya, aku seperti takut pada rasa kehilangan.
***
                Aku wanita yang baru saja mengenal cinta. Aku belum paham apakah cinta hanyalah ruang untuk dua orang atau bisa juga untuk tiga orang. Hati pada akhirnya melangkahkan harapanku pada Jerry. Pria yang semakin aku kenal, semakin tak kupahami juga jalan pikirannya.
                Dia kekasih sahabatku.
                Iya, aku tahu, ini kesalahanku yang tak bisa menahan diri agar tak jatuh cinta dengan orang lain. Tapi, apakah manusia bisa menduga dengan siapa dia akan jatuh cinta? Omong kosong jika orang ketiga adalah sumber masalah dari segala macam pertengkaran antara dua orang yang saling mencintai. Aku tak pernah memaksa Jerry untuk terus bersamaku, dia yang mendatangiku ketika aku membutuhkan kehadirannya. Terkadang, aku sedih dan sepi sendiri; aku berprinsip tak akan memperlihatkan air mataku di depannya. Aku cukup kuat menahan diri agar tak menangis di depannya.
                Aku tak ingin kehadiranku mengganggunya. Aku tak ingin hubunganku bersama Jerry menyebabkan air mata di pelupuk mata sahabatku sendiri. Kepercayaanku sepenuhnya untuk Jerry. Aku percaya bahwa pelukannya, kata-katanya, dan tindakan manisnya hanya ia berikan untukku satu-satunya. Aku percaya segalanya tentang Jerry. Aku tak mau tahu apa yang telah dilakukan Jerry bersama dengan sahabatku. Aku tak mau tahu, tapi sahabatku selalu bercerita padaku tentang yang ia lakukan bersama Jerry. Itu membuatku muak dan ingin menangis sekencang-kencangnya. Apa salahku hingga aku dibikin sakit begini?
                Mungkin, ini kesalahan yang aku buat sendiri. Mungkin....
                “Sayang!” Jerry menepuk bahuku. “Kenapa murung?”
                Ia duduk tepat di depanku, matanya meneliti wajahku yang terlipat cemberut.
                “Hari ini, kamu dua tahunan sama dia kan? Nggak kasih kejutan?”
                “Sehabis pulang dari sini, aku mau kasih kejutan sama dia. Kamu mau bantu?”
                Aku terdiam. Dengan membantu memberi kejutan mengenai hari jadi hubungan mereka, hal itu turut membantu menggoreskan luka baru bagiku.
                “Kaupergi sendiri sajalah. Tugasku banyak.”
                “Tugasmu banyak atau kamu takut cemburu?” dengan nada yang baginya lucu, ia menertawaiku.
                “Cara becandamu murahan.”
                “Kalau kamu wanita murahan.” Jerry tertawa lebih kencang kali ini.
                “Bukankah hanya pria paling murahan yang hanya tertarik wanita murahan? Kamu lebih murah.”
                Jerry berhenti tertawa.
***
                Aku melihat senyum bahagia mereka dari kejauhan. Suasana senja kala itu seperti adegan film paling romantis, tapi paling miris dalam pandanganku.
                Jerry mencium kening sahabatku dengan mesra, menyematkan cincin di jari manis sahabatku, kemudian memeluk sahabatku dengan pelukan paling mesra. Pelukan yang nampaknya tak kurasakan sehangat itu ketika bersama Jerry.
                Dari kaca mobil, aku bisa menangis tanpa terlihat oleh Jerry. Aku selalu menangis di belakangnya, karena dengan cara seperti itu; aku tak akan terlihat lemah dan terluka parah.
                Beberapa menit kemudian, kulihat Jerry mengambil jarak sebentar. Ia berjalan menjauhi sahabatku dan mengambil ponsel di celana jeans-nya. Aku tahu ia meneleponku, karena handphone-ku bergetar hebat kala itu.
                Bagiku, itu mengagetkan. Ia masih bersama sahabatku, namun ternyata ia masih memikirkan aku. Aku heran dan mencoba menepis prasangka-prasangka baik mengenai Jerry. Aku memilih melajukan mobilku, mematikan handphone-ku, memutar musik keras-keras, agar tangisku— tak terdengar memilukan.
                Aku tak perlu ada ditengah-tengah kebahagiaan dua orang.
    Harusnya kesadaranku tumbuh sejak awal, agar aku tak terlalu perih.
    Mungkinkah ini kesalahan?
    Mengapa orang ketiga selalu dipersalahkan? Apakah mereka  tahu yang sesungguhnya aku
rasakan? Dalam suasana seperti ini, sebenarnya aku lebih butuh kehadiran Jerry; bukan kehadiran isak tangis.  
                Semua tak lebih dari tipuan, sama seperti saat Jerry memperlihatkan keahlian sulapnya.
                Hanya tipuan. Begitu juga soal perasaan.

05 March 2013

Makan di sampingmu

            Aku berjalan dengan langkah bingung. Asap rokok dan dengung suara pengunjung kantin seperti bergantian mengganggu indra penciuman dan indra pendengaranku. Mataku sibuk mencari dia, pria yang selalu ingin kutemui setiap usai kelas.
"Shena!" seseorang yang kuhapal garis wajahnya mengangkat tangan; memanggil namaku dengan suara nyaring.
Aku berjalan menghampirinya dengan senyum yang kuhias dengan lengkungan paling manis, barisan gigiku yang rapi kuperlihatkan seutuhnya. Senyum itu hanya untuknya.
"Udah makan?" Ia menepuk pundakku, bertanya dengan tatapannya yang teduh dan hangat.
Aku tak langsung menjawab, terpaku beberapa saat menemukan bola matanya benar-benar menyorot tajam mataku. "Gue belum makan, kenapa?"
"Beli ayam kremes deh, nanti gue bagi sama elo aja."
"Oke," tanpa menolak, aku segera meraih dompet di tasku, "Elo suka yang pakai sambal kan?"
Ia mengangguk setuju. Aku segera tahu kemauannya. Sambal adalah kecintaannya, tapi kebencian bagiku. Saat makan ayam kremes, sesampainya di rumah perutku langsung sakit luar biasa, seperti ada jutaan tangan yang mengoyak-ngoyak perutku. Sungguh, aku tak suka sambal, tapi demi bisa makan bersamanya; aku akan melakukan apapun, meskipun segalanya siksa bagiku. Bodohkah aku? Mungkin.
Aku mengantre cukup lama, karena ayam kremes adalah makanan paling laris di kantin. Setelah sepiring nasi bersama ayam dan sambal sudah ada dalam tanganku, aku segera berjalan ke arah mejanya. Ia sibuk berbincang-bincang dengan teman-teman yang lain. Mereka menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap rokok ke udara. Aku benci asap rokok, tapi demi bisa menatap wajahnya lebih lama; aku harus sering menghirup asap rokok. Salahkah aku? Mungkin.
Aku duduk di sampingnya, ia memasang senyum paling manis untukku, yang kurasa hanya untukku.
"Nasinya gue minta banyak, karena gue tahu elo pasti ikutan makan."
Pria itu tertawa geli. Pria yang selalu ingin kujaga tawanya, yang selalu ingin kuabadikan senyumnya. Kami makan bersama, dia mencolek nasi beserta ayam kremes ke sambal yang telah kusediakan khusus untuknya. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Aku perhatikan cara ia mengunyah makanan, cara ia mencibirkan bibirnya ketika sambal menyentuh lidahnya; aku tersenyum dalam hati.
Aku selalu suka saat bisa makan ayam kremes bersamanya. Saat lengan kita bertemu karena aku duduk tepat di sampingnya. Itulah waktu yang paling tak ingin kusia-siakan. Hanya saat makan ayam kremes, aku bisa merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku, semakin menguat ketika kudengar dia bercerita dengan mulutnya yang masih penuh dengan nasi.
Saat makanan kita habis, ingin rasanya aku membeli ayam kremes, dan mengulang lagi waktu yang berlalu tadi. Aku ingin terus makan ayam kremes bersamanya. Saat bersamanya, hal bodoh lainnya segera kulupakan. Aku jadi suka menantang lidahku dengan sambal dan aku jadi senang makan ayam; kesukaanku sebenarnya ikan. Iya, aku melakukan banyak hal, mengubah kesukaanku, mengubah tata sikapku saat di depannya. Aku tak ingin terlihat cacat di mata pria yang sangat kucintai.
Dia mengubah rasa ayam kremes di lidahku menjadi nikmat dan tak terlupakan. Sebenarnya, bukan persoalan ayam kremesnya. Aku hanya tak ingin melewatkan saat-saat bisa berdekatan dengannya, saat kami makan ayam kremes.
"Thanks, ya, udah nemenin makan." ucap pria itu sambil meraih air putih yang juga kebelikan untuknya.
Aku mengangguk lemah. Karena tak begitu tahan pada asap rokok, aku meninggalkan dia bersama teman-temanku yang lain. Aku pamit, dengan senyum yang kubikin seakan tak terjadi apa-apa. Hanya satu hal yang begitu kukejar saat berada di kantin, makan ayam kremes bersamanya.
Aku meninggalkan meja dan bangku yang kududuki di kantin, berjalan dengan langkah yang kuat; menunggu pertemuan esok hari. Aku akan makan ayam kremes bersama dengannya lagi. Seperti biasa.
Dia akan selalu kupandangi seperti itu, dari sampingku ketika aku diam-diam mencuri pandang ke wajahnya. Dia akan selalu seperti itu, diam-diam kucintai.
***
Entah sudah berapa ayam kremes yang kuhabiskan bersama dengannya. Entah sudah berapa es teh yang kami minum bersama. Tak ada ikatan apa-apa, juga hubungan apa-apa. Tak ada pesan singkat yang kubaca setiap malam darinya atau sekadar sapaan ringan pada pagi hari. Aku mengharapkan itu semua, sungguh. Sudah berbulan-bulan aku memendam perasaan, tak mungkin dia tak tahu bagaimana perasaanku. Sudah banyak ayam kremes dan es teh yang kami habiskan bersama, tak mungkin dia tak menyadari segalanya.
Aku berlaku seperti biasanya, seusai kelas langsung berjalan menuju kantin. Harapku begitu besar terhadapnya, ada sesuatu yang harus kukatakan. Apa gunanya merasakan jika tertahan dan tidak diungkapkan? Apa untungnya mencintai tanpa perjuangan sama sekali?
Iya, aku berjalan ke arahnya. Mata kami sempat bertemu, tapi tak kulihat lambaiannya tangannya mengarah kepadaku. Dia hanya tersenyum tipis, seakan tak mengundang aku ke mejanya.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Mendengar jawabannya yang singkat, aku terdiam. Dia tidak menungguku.
“Tadi makan apa?”
“Ayam kremes.”
“Beli sendiri?”
“Iya. Sendiri.”
Sesingkat itulah jawabannya. Ada sesuatu yang berbeda. Aku mencoba membuka percakapan, mencoba mencari kesalahanku sehingga sikapnya tak seramah kemarin.
Ketika kehabisan bahan percakapan, aku kelaparan; sangat lapar. Aku sengaja tak sarapan sejak pagi agar bisa makan bersamanya. Aku tak bisa terlalu kenyang. Itulah yang kulakukan hampir setiap hari, tidak sarapan agar saat makan siang aku bisa menyantap ayam kremes bersamanya. Aku selalu ingin duduk di sampingnya. Sembari menghilangkan rasa lapar, aku pamit membeli ayam kremes di tempat biasa. Ia mengangguk lemah.
Sepiring ayam kremes dan segelas es teh sudah ada di tanganku. Aku berjalan pelan-pelan mendekati meja. Ia seakan tak ingin menatapku. Aku segera duduk di sampingnya, memakan ayam kremes sendirian. Baru kali itu, aku makan tanpa menyentuh lengannya. Dulu, setiap makan ayam kremes, lengan kami bisa bersentuhan.
Ada celah yang memisahkan tempat duduk kami.
Kami berjarak.
Aku sedang sibuk-sibuknya mengarahkan sendok dan garpu di piringku, sampai pada akhirnya seseorang dengan wangi parfum menyengat duduk di sampingku, juga di dekat pria yang kucintai sejak dulu.
Mataku tajam tertuju pada wanita itu. Aku mengamatinya dari ujung kaki sampai tempurung kepalanya. Wanita itu menyentuh lembut rambut pria yang kucintai. Sungguh hebat! Bahkan aku tak pernah bisa menyentuh rambutnya. Aku hanya bisa melakukan hal yang menurutku manis; makan ayam kremes bersamanya.
“Sayang, udah lama ya nunggunya?” wanita itu mulai membuka suara, belaiannya kini menyentuh bahu pria yang kucintai.
Menatap pemandangan itu, aku tak bisa berbuat banyak. Aku sudah mulai menebak-nebak.
“Eh, Shena, ini pacar gue.” dengan senyum bangga, ia mengenalnya pacarnya padaku.
Aku mengulurkan tangan, mencoba memasang senyum paling manis meskipun kala itu hatiku sebenarnya teriris. Wanita itu menatapku dengan tatapan yang menyebalkan, rasanya aku ingin menepis fakta yang sesungguhnya sudah ada di depan mata.
Selama ini, aku hanya sekadar teman makannya, bukan teman hidupnya. Aku yang tolol, terlalu banyak berharap.
Mereka sibuk berbicara berdua. Aku sendirian memakan ayam kremesku. Ayam kremes yang dulu terasa menyenangkan di lidahku sekarang terasa sangat hambar. Pria itu mengubah rasa ayam kremes di lidahku seperti makanan tanpa garam yang sungguh tidak mengundang selera.
Dan, akhirnya perasaanku memang ditakdirkan untuk tertahan, tanpa diungkapkan.
Aku bersumpah tidak akan lagi makan ayam kremes setelah ini.
Tidak.

22 February 2013

Setiap Hujan


                Hujan rintik-rintik kala itu. Tangis gerimis dari awan yang menaungi kota Depok jatuh satu-satu. Nino buru-buru berlari menuju tempat berteduh. Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan, ia menengadahkan kepala agar bisa menatap hujan dan awan mendung. Tempat berteduh tak begitu ramai, hanya ada seorang pria berambut ikal yang membiarkan rambutnya agak basah karena terkena hujan. Nino dan pria itu berdiri sejajar. Mereka sama-sama sibuk menatap hujan dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
                Jalanan di dekat jembatan Margocity-Detos mengalirkan air yang deras karena hujan. Nino masih berteduh di sana, sesekali ia mencuri pandang ke arah pria itu, pria yang sejak tadi juga berteduh dan juga memeluk kedinginan tubuhnya sendiri. Ia terlalu serius sampai-sampai ia lupa telah membawa payung kecil yang diletakkan di tasnya. Nino menertawakan dirinya sendiri, dengan senyum tipis yang hanya dimengerti olehnya sendiri. Ia membuka payung, memegang payung dengan erat dan siap-siap berjalan.
                Wajah pria itu disaring oleh ingatannya. Wajah itu bukan wajah yang asing. Terlalu asik memikirkan masa lalu. Menyadari pria itu bukanlah pria yang asing, Nino seakan tak perlu terlalu gugup. Ia juga tak ingin mengingatkan pria itu pada masa-masa yang dulu pernah mereka lewati.
                “Kamu mau masuk ke Margocity juga?” ucap Nino dengan suara tipis.
    Pria itu tak segera menjawab. Mungkin suara Nino teredam oleh derasnya suara hujan.
                Merasa diabaikan, Nino kembali mengulang ucapannya, “Mau bareng? Aku ke Margocity juga.”
                Mata pria berambut ikal itu membulat. Ia menoleh dan mulai membuka suara, “Boleh.”
                Dan, mereka berjalan lambat-lambat. Rapat-rapat.
                “Tadi bukannya kita berteduh bareng? Kenapa payungnya nggak segera kamu buka?”
                “Aku juga lupa kalau ternyata aku bawa payung.”
                Mereka tersenyum bersama, tak ada tawa yang begitu meledak. Alas kaki mereka sama-sama basah. Baju mereka juga agak basah. Pria itu masih memeluk tubuhnya sendiri, menghangatkan dadanya dengan melipat tangan di depan dada. Itulah gerakan yang paling Nino ingat. Gerakan yang selalu pria itu lakukan beberapa tahun yang lalu. Nino tidak akan pernah lupa. Tidak akan.
                Selama berbicara, sungguh Nino tak pernah berani menatap mata itu. Mata yang bertahun-tahun membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Ia tak ingin tahu warna mata itu, mata yang sinaran dan tatapannya berusaha Nino hindari sebisa mungkin.
                Langkah mereka santai memasuki lobby Marocity, sambil melipat payung, pria itu pamit meninggalkan Nino. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih.
                Percakapan terhenti, tak ada yang ingin memulai pembicaraan lagi. Hening mengitari mereka. Rasanya hujan kali ini tak sedingin hujan seperti kemarin. Menderasnya hujan tak membekukan hati Nino, kali ini ia malah merasakan ada yang bergerak pelan-pelan di hatinya, perasaan hangat yang dulu sekian lama ia diamkan dan ia abaikan.
                Nino menatap bahu itu. Mulai menjauh. Ia membiarkan sosok itu pergi, tanpa berbicara lebih jauh dan lebih dalam.
Sekarang, penyesalan membuncah dengan liar. Penyesalan yang juga dulu ia rasakan. Ingin mengejar, tapi seperti ada rantai yang menahan langkahnya.
Sungguh, ia tak ingin penyesalan itu terulang lagi.
Ia tidak ingin kesedihan yang sama terjadi lagi. Tidak!

***

 Nino tak heran jika pemandangan yang ia lihat beberapa hari ini selalu sama. Setiap pulang kuliah, ia selalu pergi ke tempat itu. Tempat ia bertemu dengan pria berambut ikal yang mulai sering masuk ke dalam pikirannya. Nino selalu membawa payung. Untuk berjaga-jaga, kalau-kalau pria itu muncul dan melahirkan kejutan baru saat hujan datang. Tapi... pria itu tak pernah datang, Nino juga tak lagi melihat sosok itu.
 Seminggu terlewati, pria itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Dalam kesabarannya, ia masih terus berharap. Ia ingin suasana seperti kemarin terulang lagi, saat hujan datang dan Nino bisa merasakan lengan pria itu menempel di lengannya.
“Kembalilah, jangan buat aku menunggu untuk yang kedua kalinya.” bisik Nino perlahan.
Apakah Tuhan mendengar bisikannya? Apakah pria itu mengetahui isi hatinya?
 Hujan turun tiba-tiba, deras sekali. Kali ini, baru kali ini, Nino lupa membawa payung. Ia menatap hujan sambil memeluk dirinya sendiri. Ia hanya berteduh sendirian. Dalam lirihnya, cipratan air secara sontak mengenai bajunya. Semakin kesal Nino kali ini.
  Ia jadi menyesal, mengapa ia harus menunggu seseorang yang belum tentu datang? Nino memaki dirinya sendiri.
 “Sendirian?”
  Suara yang tak asing itu terdengar mengagetkan bagi Nino. Nino menoleh cepat.
 “Ngagetin ya? Kamu nggak bawa payung?”
 “Ketinggalan.”
 “Aku bawa payung, kamu mau masuk ke Margocity juga?”
 Nino mengangguk malu-malu. Pria itu, pria yang ia temui seminggu yang lalu kini berada di depannya. Menawarkan diri untuk memayunginya.
 Mereka berjalan rapat-rapat, walaupun hujan semakin deras, dan angin semakin kencang; rasanya segala halangan itu tak memupus harapan Nino untuk membangun percakapan.
Kali ini ia yang harus memulai, tak ingin lagi ia menunggu. Tak ingin lagi ia kehilangan seseorang untuk yang kedua kalinya. Tidak!
 “Bagaimana di sana? Menyenangkan?”
 “Di sana mana?”
 “Di Boston. Sudah dapat gelar? Kok sudah pulang?”
 Pria manis bergidik, seakan ia buronan yang tertangkap basah, “Aku pulang karena ingin menemui seseorang.”
 Tatapan Nino menyelidik, “Siapa?”
 “Kamu.”
 Nino terdiam, ia tak melanjutkan langkahnya. Pandangannya lurus, mulai berani menatap mata pria itu. Hitam kecoklatan, itulah warna bola mata yang akhirnya Nino ketahui setelah bertahun-tahun ia tak pernah berani menatap mata itu. Hidungnya, bibirnya, matanya, dan lekuk pipinya tak begitu berubah. Dia tetap jadi seseorang yang cukup Nino kenal, dan paling sering ia rindukan, walaupun Nino tak berani melakukan banyak hal selain menatap dari kejauhan dan mencoba menyusun percakapan basa-basi. Itu dulu, ketika mereka masih bersama, ketika perpisahan belum jadi pemeran antagonis yang memisahkan mereka.
 Sontak, Nino memeluk rapat tubuh pria itu. Pria yang menghilang selama bertahun-tahun tanpa ucap pisah. Pria yang dari sikapnya seakan tak menganggap Nino wanita yang spesial. Tidak akan ia lepaskan lagi. Tidak akan ia sia-siakan lagi.
 “Sudah jangan pergi lagi.”
 “Ini baru pulang, masa mau pergi lagi?”
 Hujan semakin deras, dan rengkuh peluk mereka seakan tak terlepas.