31 March 2016

Dear, Gabriel.


Hari ini, semua orang pada akhirnya mengetahui sosokmu. Sosok yang ada dalam usiaku sejak umur enam belas tahun, sosok yang membahagiakanku dengan puisi-puisi dan kata magis, dan sosok yang tahu betul cara membuatku tersenyum. Hari ini, semua orang telah tahu bahwa kehadiranmu membawa banyak perubahan dalam hidupku, meskipun pada akhirnya kamu tidak memilih aku sebagai perhentianmu.

Kamu tentu ingat, saat kita pertama kali berjabat tangan di Halte TransJogja, Jalan Solo, depan De Britto, di terik siang kala itu. Kamu tahu apa yang ada di benak anak enam belas tahun yang menaiki TransJogja demi bertemu "Malaikat Pembawa Kabar Baik" untuknya? Aku hampir meledak, terutama ketika aku harus mendongkak melihatmu. Tinggimu yang 196 sentimeter dan tinggiku yang tidak seberapa ini menyebabkanku merasa bahwa aku bukan sosok yang pas untukmu. Tapi, kamu meyakinkanku, meyakinkan aku saat kita pertama kali menghabiskan waktu di Ambarukmo XXI, Jogja, untuk menyaksikan sebuah film. Tidak ada rangkulan atau gandengan tangan. Hanya tatapan matamu yang teduh kala itu, yang kuingat, yang kuramu, yang kurasa bisa menyelamatkanmu dari luka hati sebelumnya. Kala itu, di bioskop, semua mata tertuju pada kita berdua, namun kamu tetap berjalan santai di sampingku, di samping perempuan yang tinggi badannya jauh 30 sentimeter darimu.

Terima kasih, untuk segalanya, Mas Gabriel. Untuk perpisahan yang kamu tawarkan di Taman Sari kala itu. Terima kasih, untuk pengakuanmu mengenai kecintaamu yang jauh lebih besar pada Tuhan ketimbang cintamu padaku. Terima kasih, untuk keteguhan hatimu karena kamu memilih untuk menjadi pelayan Tuhan daripada menghabiskan sisa umurmu bersamaku. Terima kasih, untuk meninggalkanku secara baik-baik, dan memilih untuk mengejar mimpimu menjadi seorang pastor. 

Karena, bagaimanapun caramu meninggalkanmu, semua orang yang menyaksikan film #RaksasaDariJogja hari ini sangat terbantu untuk menemukan "Malaikat Pembawa Kabar Baik" versi mereka sendiri, dalam kehidupan mereka. Bagiku tidak masalah jika harus berpisah denganmu, karena sudah aku rasakan hari bahagia, meskipun bahagia tidak selamanya abadi.

Kamu selalu bilang, bahwa arti nama Gabriel adalah malaikat pembawa kabar baik. Percayalah, kamu adalah "Si Kabar Baik" yang membawaku menulis novel #RaksasaDariJogja, yang menarik banyak orang untuk ke bioskop agar lebih mengenalmu, yang aku percaya bisa menjadi "Si Pembawa Kabar Baik" bagi orang lain.

Percayalah, meskipun aku tidak tahu sekarang kamu di mana, meskipun nomormu tidak lagi aktif, meskipun akun Facebook-mu telah menghilang-- percayalah, aku tidak pernah berhenti mencintaimu.

Kamu tahu, setiap orang yang bertanya apakah sosok Gabriel nyata? Aku selalu menjawab jujur bahwa sesungguhnya kamu ada. Meskipun tentu isi novel, film, dan kisah nyata berbeda, tapi mungkin kamu tidak mengerti, semua kejujuran itu berarti bahwa aku sangat menghargai kehadiranmu, meskipun aku juga tidak mengerti apakah sampai sekarang aku masih berharga dalam hidupmu?

08 March 2016

Harusnya, tidak perlu ada cinta di antara kita

Aku tidak bisa tidur meskipun aku berusaha untuk memejamkan mataku. Kamu ada di langit-langit kamarku, semakin membesar di dadaku, berlalu-lalang di otakku. Aroma tubuhmu selalu menyeruak setiap kali aku berusaha mengusir sosokmu dari sini. Aku merasa semua tidak lagi adil ketika aku merindukanmu. Tidak adil karena aku tidak bisa segera memelukmu. Tidak adil karena aku tidak bisa langsung menatap wajahmu. Tidak adil karena aku tidak mampu memastikan bahwa di sana kamu baik-baik saja.

Aku duduk di depan laptopku, sambil mendengarkan lagu Michael Buble, Always On My Mind, lagu kesukaanmu. Aku merasa kamu sungguh ada di sampingku, sedang memperhatikanku dengan mata bulatmu, seperti saat beberapa hari yang lalu aku membuat materi untuk mengisi workshop di Semarang. Seandainya, di sampingku sungguhlah dirimu, aku tidak akan berpikir dua kali untuk memelukmu. Seandainya, kamu benar ada di sini, aku ingin mengajakmu bertengkar soal pembicaraan kita mengenai akhir yang bagus untuk kisah cinta kita, untuk kisah cinta yang kubilang ingin aku jadikan novelku selanjutnya, dan kamu membalas semuanya hanya dengan tawa.

Aku rindu menatapmu tertawa dengan sangat lapang, sehingga membuatku cukup bahagia karena beberapa saat kaulupakan sedihmu. Aku rindu dekapan di bahumu, dihangatnya dadamu, ketika aku meminta mengartikan suatu kalimat bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Aku rindu melihat alis tebalmu yang hampir bertemu, ketika kamu sedang memikirkan semua jawaban atas semua pertanyaanku. Aku rindu caramu berpakaian, topimu, jaketmu, tas punggungmu, sepatu olahragamu. Aku rindu semua yang ada dalam dirimu dan seandainya jarak kita tidak tiga ratus kilometer, tentu kita berdua tidak perlu menunggu dan menanti lagi sebuah pertemuan langka berikutnya. Pertemuan belasan jam yang direncanakan selama tiga bulan. Betapa tidak adilnya hidup ini. Betapa tidak adilnya dunia pada kita.

Seandainya kamu sedang di sampingku, maukah kau bercerita tentang enaknya lumpia Semarang yang begitu kaubanggakan itu? Seandainya kamu berada dalam pelukku, maukah kau bercerita tentang Markobar, martabak anak Pak Presiden yang mulai terkenal di kotamu itu? Seandainya kamu ada di sini, maukah kamu menyuapiku beberapa sendok tahu gimbal, dan menemaniku menuntaskan rindu yang makin parah ini? Seandainya kamu ada di sampingku, maukah kaudengan sabar menjelaskan rute-rute perjalanan dari Pandanaran menuju Tembalang? Seandainya kamu ada di sampingku, maukah kaumemelukku dengan sangat rapat, kemudian berjanji tidak akan pergi lagi?

Katakan padaku, bahwa semua hal indah yang kita lewati beberapa hari yang lalu hanyalah sebuah mimpi anak ingusan pada pria dewasa-- yang mustahil untuk menjadi miliknya. Katakan padaku, bahwa caramu membuatku tertawa itu hanyalah rasa belas kasihan karena kamu tahu bahwa sebagai perempuan; aku terlalu banyak disakiti cinta. Katakan padaku, bahwa caramu membuatku bahagia itu hanyalah bualan untuk membuatku merasa tetap optimis pada hidup yang selalu terlihat jahat di mataku. Katakan padaku bahwa kamu tidak mencintaiku. Buatlah aku membencimu, sehingga aku tidak perlu merasakan rindu sesakit ini. 

Aku berharap, pagi ini, aku sedang berada di kotamu. Dan kita bisa menikmati udara pagi Semarang sambil tetap berpelukan. Seandainya, kamu memang hanya satu-satunya milikku, demi apapun-- tidak akan aku melepaskanmu. Pertemuan ini terlalu singkat, kamu tahu kita telah berbulan-bulan merencanakan semua, dan aku... dan aku... aku tiba-tiba tidak ingin kehilangan kamu. Aku tidak tahu ini namanya apa, saat kautunjukan foto kedua anakmu, dan memberikannya untukku. Aku  tidak tahu ini namanya apa, saat kaubercerita mengenai istrimu, dan entah bagaimana aku merasa butuh menghiburmu. Aku tidak tahu, mengapa diusiamu yang kedua-puluh-delapan, aku merasa cukup percaya diri bahwa kelak kauakan dapatkan yang lebih baik nanti. Aku tidak tahu, mengapa sebisa mungkin aku berusaha nampak ingin berpikiran dewasa jika sedang berada di sampingmu.

Jika kehadiranmu dalam hidupku untuk membuatku jatuh cinta, kamu sudah berhasil melakukan misimu. Aku dilarang untuk jatuh cinta padamu dan harusnya memang tidak perlu ada cinta di antara kita. Tetapi, caramu menatapku itu sungguh luar biasa, dan aku tidak bisa menolakmu masuk ke dalam hatiku. Karena tiba-tiba kamu bertahta, sekuat dan sehebat itu, hingga aku tidak tahu cara mengantisipasi rasa sakit kalau suatu saat aku terpisah darimu. 

Aku tidak tahu apa maksudnya, maksud dari pelukmu yang erat, maksud dari kecupmu yang lekat, sebelum workshop di Semarang dimulai. Aku tidak tahu apa maksudmu ketika kamu melarang aku menemui sahabat priaku yang berkuliah di UNDIP sore itu. Aku tidak tahu apa maksudmu, saat kamu memintaku tinggal beberapa hari lagi, agar kita bisa memperpanjang hari-hari yang kita lewati bersama. Aku tidak tahu apa maksud dari ucapanmu, ketika kamu berharap nonton bareng film Raksasa Dari Jogja bisa diadakan di kotamu. Aku tidak tahu apa maksud dari rangkul hangatmu, ketika kamu berkata bahwa kamu akan sangat merindukanku.

Aku duduk diam di depan laptopku, sementara Michael Buble masih mengalun dengan damai. Izinkan aku memutar ulang waktu, agar tidak pernah terjadi pertemuan antara kita, agar aku tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta padamu, agar aku tidak merindukan hangat pelukmu. 

Masalahnya, aku sangat benci kata terlambat. Aku terlambat masuk ke dalam hidupmu. Kamu terlambat masuk ke dalam hidupku. Dan, saat ini, kita bertemu di persimpangan jalan, bertanya-tanya apakah ingin melanjutkan perjalanan ke depan bersama-sama, sementara aku tahu betul-- Tuhan pun benci jika kita tetap bersama.

Beranikah kau melawan Dia?

05 February 2016

Dua ratus dua puluh tujuh hari setelah perpisahan kita

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Seratus Sembilan Puluh Satu Hari Tanpamu

Kita telah masuk bulan Februari. Bulan yang aku harap penuh cinta dan kehangatan. Kamu ingat apa yang terjadi di tahun 2014? Saat hari Valentine yang kita bayangkan tidak seunik yang kita harapkan. Sepeda motor Honda CBR-ku terpaksa masuk bengkel karena usia sepeda motormuku yang semakin menua. Ditambah lagi aku kesal setengah mati karena kamu tidak meminta izin padaku terlebih dahulu saat kamu pergi ke Bandung. Kamu tahu? Di kepalaku sudah bermunculan banyak hal, kamu selingkuh, kamu bertemu pria lain, kamu bersama yang lain, dan kamu tentu melupakanmu dalam segala aktivitasku. Aku tahu dulu aku begitu egois, tapi hanya itulah yang bisa pria bodoh ini lakukan agar kamu tidak pergi menghilang dan jauh. Genggaman tanganku yang terlalu erat itulah yang menyebabkanmu jera dalam pelukanku. Aku tidak sadar bahwa terlalu mencintaimu mengubah aku jadi pria paling pemarah ketika tahu semua ponselmu terdapat nama-nama lain yang tidak aku kenali.

Aku kesal sebenarnya jika harus mengingat semua lagi. Karena aku berusaha untuk melupakanmu, melupakan kita, melupakan bagaimana caramu menatapku, dan berharap bahwa semua kenangan kita bisa segera tergantikan dengan kenangan baru yang aku ciptakan bersama kekasih baruku. Itulah harapan yang hingga saat ini belum benar-benar menjadi kenyataan. Aku mengaku kalah karena tak ada kenangan yang membanggakan seperti kenangan kita dahulu. Gadis yang kini sedang menjalani hubungan denganku tidak bisa menumbahkan perasaan di dadaku bermekar tidak karuan seperti dulu aku bersamamu. Saat ini, hanya kehampaan yang bersarang di dadaku. Aku menyesal membiarkanmu pergi dan begitu gengsi untuk memintamu kembali.

Oh, ya, aku keburu menggerutu soal rindu hingga aku lupa menanyakan kabarmu. Apa kabarmu, Gadis penulis yang blog-nya selalu aku perhatikan setiap waktu? Aku berharap kamu terus menulis tentangku hingga tulisanmu cukup menjadi energi penyemangat yang membuat aku bertahan, hingga semua kata-kata darimu cukup membuat aku kembali merasa hidup, hingga semua kalimat lugu darimu membuat aku sedikit punya harapan dan melupakan gadis di sampingku yang sampai hari ini tidak mampu memberiku kebahagiaan. 

Mungkin, saat kamu membaca ini, hanya ada umpatan kesal yang terjulur dari bibirmu, atau hanya amarah sesaat yang bermunculan dalam benakku. Tapi, masih bolehkah aku berkata jujur bahwa hari-hari yang aku lewati tanpamu adalah hari-hari penuh tanda tanya, tanda tanya yang memiliki jawaban tidak berujung. Aku selalu berharap menemukan jawaban itu bersamamu, meskipun kamu tidak akan berbalik ke arahku walau sedikit saja. Karena kamu keburu tahu bahwa aku sempat berselingkuh dengan yang lain, akibat dari kebodohanku-- merasa tidak cukup layak untuk berdampingan dengan berlian sepertimu. Aku mengaku kalah. Aku mengaku masih begitu jatuh cinta padamu seperti pertama kali kita bertemu. Seperti pertama kali kulihat wajahmu dalam sebuah percakapan maya kala itu.

Malam ini, ditemani sebungkus rokok dan sebuah asbak, aku menulis hal-hal aneh yang bahkan tidak pernah berhasil aku pahami. Sudah ratusan hari aku lewati tanpamu, tapi setiap harinya bayanganmu justru semakin ada serta hidup. Kekasih baruku bahkan tidak mampu melawan itu semua, kamu begitu sulit untuk ditaklukan pesonanya oleh perempuan lain. Tidak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu. Sementara di sini, aku hanya bisa duduk diam, menatapmu dari kejauhan, mengitarimu dengan pelukan bayangan, dan berharap suatu hari nanti Tuhan kembali menciptakan sebuah pertemuan-- dan kita punya peluang untuk saling memaafkan.

Aku senang, meskipun aku sedikit gede rasa karena mengira kamu masih begitu jatuh cinta padaku. Tapi, makin hari, kamu makin jarang menulis tentangku. Apalagi, kamu begitu cepat menyelesaikan semua bukumu hingga buku kesepuluh tanpa kendala patah hati apapun. Kamu sekarang sudah semester delapan dan sedang mengurus skripsimu. Kamu tetap sukses besar tanpa memikirkan luka yang dulu pernah ada di masa lalu kita. Sedangkan aku masih diam di sini, dengan sebatang rokok yang kian memendek, bersama udara malam Depok yang kian dingin, diiringi suara kodok yang terus berbunyi. Aku masih menunggumu kembali, diam di tempat, tidak berjalan ke mana-mana, walaupun aku tahu semakin hari kamu justru semakin menjauhiku bukan mendekatiku.

Aku tidak tahu rasanya menangis itu seperti apa. Karena ayahku di Bengkulu selalu bilang bahwa menjadi pria berarti menjadi tidak punya hati. Aku tidak tahu kenapa aku dipaksa untuk tidak memiliki hati, karena aku terlanjur memberi seluruh hatiku padamu, meskipun pada akhirnya aku menyesal telah melepaskan kamu pergi. Aku tidak tahu kenapa seharian ini aku mengabaikan panggilan telepon dari kekasihku. Aku tidak tahu mengapa seharian ini aku tidak bersemangat melakukan apapun. Aku tidak tahu mengapa malam ini aku masih mendengarkan lagu Taylor Swift, berharap aku punya pintu ke mana saja milik Doraemon, dan bisa mengembalikanmu ke dalam pelukanku.

Aku tidak tahu mengapa pelupuk mataku begitu penuh, mengapa malam ini pipiku menghangat, tenggorokanku sesenggukan, hingga aku terpaksa harus menggigit filter rokokku agar aku masih cukup kuat untuk mengisap batang-batang rokok berikutnya. Aku tidak tahu mengapa keyboard laptopku basah. Kemudian telapak tanganku menutupi mulutku, agar tangis sialan ini mereda.

Masa, iya, sih, merindukanmu harus sesakit ini?

Dari pria Bengkulu,
yang masih mengharapkanmu.

13 January 2016

Buku Memeluk Masa Lalu :)


TANGGAL TERBIT
14 Februari 2016

Harga 
Rp34.000

TEMUKAN BUKU INI DI TOKO BUKU
Gramedia, Togamas, Gunung Agung, dan TM Bookstore

Sinopsis:

Apa jadinya jika Cleo kembali bertemu dengan Raditya? Cowok yang tiga tahun lalu Cleo temui dalam sebuah perjalanan bus Cibinong - Jogjakarta. Pria berkacamata dan berwajah oriental itu benar-benar mencuri perhatian Cleo hingga dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia jatuh cinta. Tapi, kini semua telah berbeda, karena Raditya tidak lagi sendiri. Masih bolehkah Cleo jatuh hati?

Teaser Buku:

Jika ada seseorang yang memenuhi seluruh masa mudamu, apakah kamu yakin dia akan jadi sosok yang menemanimu dalam masa kini dan masa tuamu?
Memeluk Masa Lalu – Dwitasari

Cleo

Aku tidak percaya. Semakin aku menatap matanya, semakin aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku sulit menerima kenyataan bahwa hari ini kami sungguh kencan. Dia adalah pria yang menghilang selama tiga tahun dari hidupku, kini cowok itu berdiri hanya beberapa sentimeter dari lenganku.

Dia bukan lagi pria berumur dua puluh dua tahun yang dulu aku lihat. Dan, aku bukan lagi gadis berusia tujuh belas tahun yang beberapa tahun lalu dia lihat. Dia, di mataku, malam ini, adalah cowok berusia dua puluh lima tahun, berdiri tegap, mapan, bermata sipit, berwajah oriental, serta memesona. Senyum di bibirnya tidak sekonyol dulu. Kini, barisan giginya yang rapi seringkali disembunyikan seakan dia sedang mengalahkan emosi yang bergejolak dalam dirinya. Dia hanya sesekali menatapku, kemudian tersenyum. Tidak ada tawa bahagia yang dia tunjukan seperti tiga tahun lalu.

Aku bisa menebak, tidak ada kebahagiaan apapun yang bergejolak dalam dirinya. Kencan kami kali ini tentu hanyalah permintaan maaf. Setelah kencan ini, tentu dia akan pergi seenaknya, semudah ketika dia melambaikan tangan tanpa mengucapkan kalimat perpisahan—seperti tiga tahun lalu. Aku masih berusaha menebak, otakku terus berharap agar Tuhan memberiku kemampuan untuk mengetahui isi otaknya juga. Tapi, hatiku sungguh menolak. Hatiku hanya ingin mempercayai apa yang ingin hatiku percaya. Hatiku hanya ingin percaya bahwa pria itu mencintaiku, meskipun otakku berkata sungguh ini ide yang sangat gila.

Terlalu banyak hal yang berubah, dalam dirinya, juga dalam diriku. Namun, mengapa yang satu ini tidak bisa diubah? Mengapa perasaanku padanya masih sama? Sialnya lagi, aku masih jatuh cinta, cintaku masih begitu kuat seperti pertama kali kami bertemu; pada sebuah perjalanan delapan belas jam menggunakan bus eksekutif menuju Jogjakarta.

Aku menatap matanya sekali lagi. Mencoba mengelak. Mencoba menyadarkan diriku dan berharap ini hanya potongan adegan film yang aku tonton secara maraton. Malam ini, tentu aku sedang bermimpi. Namun, dia memelukku, dan bisa aku rasakan detak jantungnya. Bisa aku simpulkan dengan jelas bagaimana helaan napasnya.

Demi Tuhan. Ini kenyataan.

***


Raditya


Dia tidak suka rokok. Makanya, saat aku menjemput perempuan itu—aku tidak menyentuh rokokku sama sekali. Jadi, dengan debaran jantung yang iramanya berantakan, aku menunggu gadis yang pernah terpisah selama tiga tahun denganku di depan rumahnya. Aku hanya bermodal parfum yang sering aku gunakan dan rambut yang aku rapikan lebih rapi dari biasanya. Mobilku juga aku bersihkan sebersih mungkin. Tidak ada jersey futsal, tidak ada sepatu futsal, tidak berserakan handuk keringat habis futsal. Intinya, aku rasa, semua sempurna.

Aku sangat rapi. Mungkin, itu yang membuatnya terus menatapku dengan wajah keheranan. Aku tidak mengerti mengapa dia terus menatapku sedalam itu. Dia masih terus menatapku bahkan hingga kami sampai di gedung bioskop. Tatapan itu terus berlanjut hingga kami masuk ke dalam teater bioskop. Dia terus menatapku hingga film diputar.

Apa mungkin dia sedang mengintrogasi senyumku yang setengah-setengah ini? Andai aku bisa jujur bahwa malam ini sungguh aku gerogi setengah mati. Ada banyak kata-kata yang bersarang di kepalaku. Tapi, mulutku tidak bisa diajak kerja sama. Padahal, aku hanya ingin mengucapkan satu kalimat saja. Hari ini aku sungguh bahagia.

Aku tidak mengerti mengapa hari ini dia begitu cantik. Secantik ketika aku pertama kali bertemu dengannya dalam sebuah perjalanan aneh yang aku namakan—keajaiban. Dia adalah keajaibanku. Aku tidak peduli jika dia menganggap kencan ini adalah kutukan. Tapi, bagiku, ini adalah sebuah keajaiban. Seandainya Tuhan mengizinkan, aku hanya ingin pertemuan kami tidak sebatas kencan. Mengapa? Aku tidak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kalinya.

Entah bagimana perasaan dia. Aku juga tidak berani bertanya, karena aku yakin jawaban perempuan hanya akan membuatku semakin bertanya-tanya. Jadi, yang bisa aku temukan dari dalam dirinya, dia tetap gadis yang sama seperti tiga tahun lalu. Manis, menggemaskan, serta memesona. Ah, aku jatuh cinta. 

Aku tidak mengerti mengapa aku sangat ingin membawa dia ke dalam pelukanku. Aku tidak mengerti mengapa setiap detik yang kami lewati malam ini terasa begitu menyenangkan. Aku tidak mengerti mengapa aku melakukan ini semua. Padahal, aku sungguh tahu, mencintai gadis itu adalah hal yang sangat dibenci siapapun. Dibenci ibuku. Dibenci Tuhan.

Demi Tuhan. Ini menyakitkan.

01 January 2016

Seratus sembilan puluh satu hari tanpamu

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Seratus enam puluh delapan hari setelah perpisahan kita

Selamat tahun baru untukmu. Dan, aku telah jarang menulis tentangmu karena aku sedang menyelesaikan buku kesepuluhku yang berjudul Memeluk Masa Lalu. Satu-satunya sarana untuk membuatku lupa padamu.

Dua ribu lima belas milikku yang dulu sepenuhnya hanya dirimu, kini sudah tertinggal jauh di belakang. Dua ribu belas milikmu tentu tidak sesedih aku. Kudengar dari sahabatmu, kamu dan kekasih barumu semakin dekat. Eh, kekasih baru, maksudku selingkuhanmu yang menyebabkan hubungan kita berakhir. Aku tidak perlu memastikan kebenaran kabar itu karena dengan sendirinya aku tahu; kamu memang sudah bahagia tanpaku.

Tentu kamu tidak membayangkan, betapa sisa-sisa dua ribu lima belas yang aku lewati tanpa kehadiranmu adalah hari-hari menyedihkan yang perihnya aku tahan sendiri. Tidak ada orang yang mengerti betapa kehilanganmu adalah ketakutan terbesarku. Dan, kepergianmu yang tiba-tiba bahkan masih menimbulkan tanya di dadaku. Diam-diam, aku berkata dalam hati, "Apakah memang aku tidak sepenting itu bagimu?"

Aku berusaha meyakinkan diriku untuk membencimu di sisa-sisa dua ribu belas milikku yang aku lewati setelah perpisahan kita. Aku berusaha mencari semua kesalahanmu untuk menghipnotis diriku sendiri bahwa kamu adalah pria super jahat yang senang mendepak perempuan yang tidak bersalah dalam banyak hal. Aku berusaha menyadari bahwa kamu akan mendapatkan karma yang setimpal seperti yang telah kamu lakukan padaku. Namun, saat malam menjelang, dan wajahmu ada dalam ingatanku saat itu-- nyatanya bagiku kamu tidak sejahat itu. 

Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan jahat pada pria yang dengan sepeda motor Honda CBR-nya itu tetap mau mengantarku hingga depan rumah. Aku begitu tahu, betapa kakimu pegal karenaku. Betapa rumahku yang jauh tentu sangat menyiksamu. Betapa hari-hari yang kaulewati bersamaku adalah bencana besar bagimu. Tapi, di depanku, kamu tetap tersenyum dan dengan senang hati langsung menyerahkan satu helm lain yang kamu bawa khusus untukku. Hanya sesederhana mengantar sampai depan rumah, menunggu di depan kampus meskipun kehujanan, tapi namamu sampai sekarang membekas dalam ingatan. Kamu yang harusnya sejak dulu kulupakan malah jadi sosok yang paling sulit untuk aku hilangkan.

Ah, iya, selamat ulang tahun juga untukmu, dan untuk kesopananmu yang tidak membalas pesan singkatku. Oh, aku sungguh tahu betapa hidupmu sungguh bahagia bersama kekasihmu. Betapa ulang tahunmu sangat megah bersama kekasih barumu. Betapa hidupmu lebih sempurna sekarang. Dan, kenyataan yang harus aku terima adalah aku tidak akan pernah melewati ulang tahunmu atau ulang tahunku atau ulang tahun kita secara bersama. Padahal, semua mimpi itu adalah mimpi kecil yang kita bangun berdua, namun kamu menghancurkannya tanpa rasa bersalah. Selamat untuk kebahagiaanmu dan selamat merayakan kesedihanku karenamu. Oh, iya, saat delapan Desember kemarin, kamu juga tidak mengucapkan apapun. Tentu kamu sudah lupa, ketika aku berusaha keras mengingatkanmu bahwa ulang tahunku sama seperti tanggal saat Jepang menyerang Pangkalan Laut Amerika Serikat, tetapi tahun 1941 diganti menjadi tahun 1994. Dan, kamu lupa. Tidak apa. Dwitasari-mu sudah terbiasa dengan hal-hal perih yang disebabkan olehmu.

Tahukah kamu, Yo, di sisa-sisa dua ribu lima belas yang aku lewati tanpamu, adalah masa-masa sulit bagiku untuk menerima bahwa kita tidak lagi bersama. Bahwa tak akan ada lagi pesan singkatmu. Bahwa tidak akan ada lagi suaramu. Tidak ada pelukmu. Tidak ada tawamu. Tidak ada hari-hari bersamamu. Aku berjalan sendirian serta tertatih kesepian, berusaha meraba-raba hari demi hari. Berjalan dari satu ketakutan ke dalam ketakutan lain. Mengingat betapa masa-masa tanpamu adalah hal sulit yang belum bisa aku lewati. Bahkan hingga detik ini. Aku masih jadi perempuan yang ingin kamu cepat pulang.

Kamu tidak tahu hari-hari yang aku lewati dengan menatap ponsel setiap menit, berharap ada pesanmu. Kamu tidak pernah tahu, setiap ada pemberitahuan masuk, aku berharap itu kamu. Kamu tidak tahu, setiap ada panggilan berdering, aku berharap kamulah yang ada di ujung telepon. Kamu tidak tahu, aku tidak membalas semua pesan pria yang lebih baik darimu hanya karena aku ketakutan menjalani hubungan yang nantinya akan berakhir seperti hubungan kita. Kamu tidak tahu, berapa pria yang berusaha masuk ke dalam hatiku, tapi sekuat hati aku menutup diri karena dalam bayanganku masih kamulah yang cocok bertempat di sini-- di hatiku yang hanya pantas kauhuni. Kamu tidak tahu sudah berapa air mata yang kujatuhkan dalam doaku, memohon Tuhan menghapus segala ingatanku tentangmu, meminta aku terkena Alzheimer, atau amnesia, asal aku lupa waktu-waktu indah bersamamu dan yang aku ingat hanyalah kebahagiaan-kebahagiaan bersama sahabat dan keluargaku. Kamu tidak tahu betapa sampai sekarang aku masih takut jatuh cinta jika cinta berarti harus jatuh dan kehilangan lagi untuk yang kedua kali.

Kamu tidak tahu betapa aku masih mengitung hari. Sehari, tujuh hari, dua puluh hari, lima puluh hari, seratus hari, seratus sembilan puluh satu hari, untuk menunggumu pulang. Aku tahu kamu tidak akan pulang. Kamu pasti tidak akan menapaki lagi jalan pulang menuju aku. Karena jalan pulangmu tidak lagi mengarah kepadaku. Sejak wanita itu hadir di antara kita berdua, entah mengapa aku tidak bisa menyalahkan wanita itu, aku malah menyiksa dan menyalahkan diriku sendiri. Apa salahku hingga kamu meninggalkanku kemudian memilih dia?

Apa karena keegoisanmu yang ingin ditemani Shalat lima waktu, sehingga kamu bisa jadi imam untuk seorang gadis? Apa karena keegoisanku yang ingin ditemani ibadah hari Minggu, sehingga ada seorang pria yang duduk di sampingku saat aku sedang memuji Tuhan di gereja? Atau ini semua karena keegoisan kita berdua, yang tidak mengakhiri semua di awal saja, yang memilih mengakhiri justru di saat semua terlalu indah untuk diakhiri. Kamu, dan akupun, bahkan tidak tahu. 

Yang aku tahu, sekarang Taylor Swift sedang membisikan lagu Wildest Dream di ruang kamarku. Taylor Swift sedang berteriak mengucapkan "Just Pretend!" dalam lagunya. Ah, mungkin memang, cintamu yang begitu terlihat indah di mataku sebenarnya hanyalah kepura-puraan yang terlambat aku sadari.

Tapi, biarlah aku tetap bodoh, asal bisa bersamamu.

Dari perempuan,
yang tetap membawa namamu;