Laman

29 Desember 2010

6 Bulan, Terakhir ...

Reaksi: 
“Saya bukan "robot", saya tahu rasa sakit itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa”

Ini tentang perasaan saya kepada seseorang. Dia (mungkin) mengira saya adalah "robot" yang tidak memiliki perasaan dan tidak dapat merasakan sakit, sehingga dia bisa mengabaikan saya sesering yang dia suka. Saya selalu memberi perhatian terbaik yang bisa saya berikan, sesering mungkin saya mengingatkan dia agar tidak telat makan, dan sesabar mungkin saya mendengar semua cerita dan permasalahannya. Sayangnya, usaha terbaik saya lebih sering mendapat pengabaian, kadang dia merespon tapi respon itu tidak dia berikan dengan sungguh-sungguh. Respon itu malah terlihat seperti penghiburaan untuk seorang "robot" yang telah kelelahan dan kebingungan.

6 bulan terakhir ini, saya tidak mengerti, apakah semua yang saya lakukan untuk dia adalah hal yang sia-sia atau tidak? Saya tidak mengerti, apakah benih baik yang saya tabur telah siap menuai kebaikan yang saya harapkan atau tidak menghasilkan sama sekali.

Memang saya labil dan tidak cerdas secara emosi. Saya pernah mencoba berkali-kali untuk melupakan dia, sayangnya hal itu tidak dapat dilakukan secara instan. Status ini menyesakan, saya berada dalam posisi yang lebih sering diabaikan. Dia memanggil saya dengan sebutan "Dek", panggilan itu semakin membuat saya sesak dan lelah untuk berharap. Apakah yang saya lakukan selama ini adalah rencana pembahagiaan atau sesuatu yang berpeluang membuat saya kesakitan? Dia berkata sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia selalu menggantungkan perasaan saya hingga saya merasa lelah. Dia berkata sayang dan kangen, tapi kenyataannya dia tidak pernah membuktikan sayang dan kangen itu melalui tindakannya yang cenderung sangat amat cuek. Dia berkata maaf, tapi kenyataannya dia mengulang kesalahan yang sama, lagi dan lagi. Bahkan, saat saya menunjukan sikap lelah untuk berharap, dia belum tentu peduli dan memikirkan perasaan saya. Komunikasi yang tercipta satu arah, selalu inisiatif dari saya. Dia tak kunjung memberi kejelasan. Saya benci diabaikan.

Kalau benci diabaikan, lalu kenapa saya tetap bertahan saat saya perhatian tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan saat saya merasa kangen tapi dia tidak? Kenapa saya bertahan dianggap “robot”? Kenapa saya bertahan diabaikan? Bahkan semua wanita normal pun tidak ingin mengalami hal seperti ini, tapi kenapa saya bertahan?

Saya memang tidak menuntut status, karena menurut saya perasaan yang kuat tidak dilambangkan dari status. Saya memang tidak pernah menuntut perhatian lebih, karena menurut saya, dia adalah orang yang memiliki segudang kesibukan yang (mungkin) tidak punya waktu untuk memikirkan orang lain. Saya tidak pernah menuntut dia untuk memanggil saya dengan sebutan "sayang", "beb", "dear", or many more, karena menurut saya, panggilan belum tentu melambangkan perasaan seseorang.

Kamu memang pernah membajak otak saya. Disetiap selnya berisi KAMU. Saya sering menulis tentang kamu, memikirkan kamu dan merindukan kamu. Tapi, saya pun juga harus memikirkan, apakah saya merasa bahagia saat menyayangi dan memberi perhatian kepada kamu dengan tulus? Saya percaya, cinta itu harusnya mengobati bukan melukai. Saya lelah, kebingungan. Kamu tidak kunjung memberikan tanda. Saya bukan "robot", saya tahu rasa sakit itu seperti apa, saya juga tahu rasanya diabaikan itu seperti apa.

6 bulan terakhir, kamu yang terbaik. 6 bulan terakhir, cuma kamu yang dapat menyakiti saya dan cuma kamu yang bisa jadi obatnya. 6 bulan, terakhir ...

37 komentar:

  1. How about now? Still loving him, sist? :)

    BalasHapus
  2. sama kaya aku, aku sering di cuekin pacarku. Tapi aku tetep sayang dia. Gamau lepasin dia. Kadang sakit, tapi...ya gitu. susah ya kalo udah sayang pake banget -_-

    BalasHapus
  3. hmm, artikel nya menarik semuaa..
    salam kenal ya ^_____^

    BalasHapus
  4. Tulisan2nya dalam banget sist. :)

    BalasHapus
  5. cerita ini sama persis dengan yg sy alami 6 bulan terakhir..
    jdi sya tau betul bagaimana rasanya..

    BalasHapus
  6. sama kayak kisah aku:( aku juga 6 bulan terakhir kemarin di diemin sama mantan aku :'(

    BalasHapus
  7. ini persis 6 bulan terakhir aku deket sama seseorang tanpa status, dan sama dg kak dwita, aku tak menuntut status. tapi saat ditengah perjalanan aku mencoba meyakinkan dia, dia memintaku berhenti, aku pun berhenti :')

    BalasHapus
  8. Ini sama persis dengan apa yang gue rasakan

    BalasHapus
  9. ini sama dengan yang aku alami :(

    BalasHapus
  10. oke, nangis peluk bantal sekarang.
    btw,ku juga diabaikan dan hanya di panggil "dek" ^^

    BalasHapus
  11. Kalo saya, mungkin saya akan berakhir jadi seperti si cowok.
    Dan kadang, seberapapun saya ingin menanggapinya, saya berakhir dengan mengabaikannya.
    Karena sudah sewajarnya, hati itu ga bisa dipaksa :')

    BalasHapus
  12. memendam persaan ke orang lain emang nggak enak banget yah dan sekarang untuk pertama kalinya gue mengalami itu !

    BalasHapus
  13. ya nih cerita bikin inget :')

    BalasHapus
  14. Kenapa ceritanyaa sama dengan saya ?

    BalasHapus
  15. Bahkan '6bulan' dan panggilan 'dek'nya pun sama. Ah dwi, sial :"

    BalasHapus
  16. paragraph 4 :???????? ;'(

    BalasHapus
  17. waduh ini sama persis yg aku alami sekarang :'D

    BalasHapus
  18. yang ini sumpah, baru aja gua alamin...
    persis. parahnya, orangnya ada dikehidupan gua SETIAP HARI, bisa dibayangin kan gimana susahnya move on.?

    BalasHapus
  19. kak bagus banget critanya........

    BalasHapus
  20. ka dwitaaaa :") bkin nyess aja ya :")

    BalasHapus
  21. Sama persis dengan yg ku rasain ke suami ku sndrii :'((

    BalasHapus
  22. ceritanya kena banget di hati :'(

    BalasHapus
  23. Cinta memang gak bisa dipaksa. Sebesar apapun upaya untuk membuat dia jatuh hati padaku nyatannya tanpa hasil. Dia tetap dengan kekasihnya :')

    BalasHapus
  24. Bikin nangis .. Dalem banget

    BalasHapus
  25. saya setuju.. panggilan terkadang tidak mewakili perasaan. :(

    BalasHapus
  26. Ini gue banget. Dan lagi gue alamin sekarang

    BalasHapus
  27. bikin sedih banget bacanyaa takut ngalamin hal kaya gini :'(

    BalasHapus