22 December 2017

Dua Hari Setelah Kehilanganmu

Aku menatap ponselku, berharap ada chat darimu, walau hanya sekadar menyapa. Berharap kamu menanyakan kabarku. Atau berkata rindu. Atau mengucapkan kalimat ingin bertemu. Apa saja. Asal pesan itu darimu. Terlalu tinggikah harapan itu?

Aku menatap jam di ponselku, kesibukanmu selalu berakhir pukul tujuh malam, tapi hingga tengah malam, kamu belum menghubungiku. Salahkah jika aku sesetia ini menunggumu, meskipun mungkin di sana kamu sungguh tidak menungguku?

Detik yang terlewati tanpamu adalah kesunyian yang merangkak pelan. Sehari tanpa kabarmu, aku bertanya-tanya. Dua hari tanpa kabarmu, aku menerka-nerka. Apakah aku tidak lagi menenangkan untukmu? Apakah pelukku tidak lagi menghangatkan untukmu? Apakah kabarku tidak penting lagi bagimu?

Aku terus bertanya, semakin aku menggali, semakin aku tidak sadarkan diri. Mengapa kehilanganmu sungguh sesakit ini? Mengapa kepergianmu sungguh semenyiksa ini? Tidak adakah rasa kepedulianmu walau sedikit saja untukku?

Aku tahu, aku hanyalah semilir angin yang berdesir dalam malammu. Hanya berhasil menyentuhmu, namun selalu gagal merangkulmu. Hadirku dalam hidupmu hanyalah pelengkap, bukan untuk menetap. Dan, harusnya sejak dulu aku sadar; aku tidak akan pernah jadi tempatmu bersandar.

Maka, kamu tidak akan punya kewajiban untuk tahu kabarku, untuk bertanya mengenai keadaanku, atau memedulikan seluruh aktivitasku. Karena bagimu, aku hanyalah sekadar fans yang akan kamu perlakukan seperti kamu memperlakukan yang lainnya. Aku tidak pernah spesial.

Bodohnya, aku baru menyadari itu semua, justru di puncak aku sayang mencintaimu.

#TidakPernahAdaKita

No comments:

Post a Comment