14 March 2013

Tipuan


                “Jangan anggap ini tipuan ataupun permainan, ini sungguhan, Sayang!”
                Aku tersenyum geli, berusaha mencerna kata-katanya dengan baik dan benar. “Iya, Sayang, aku selalu percaya apa yang kamu katakan.”
                “Bim Salabim, hilanglah permen dari tanganku!” ia mengucapkan mantra, “Sayang, kamu tiup tangan aku sekarang. Lihat apa yang terjadi.”
                Napasku mengembuskan udara di tangan kanannya dan permen yang sejak tadi ia genggam tiba-tiba hilang begitu saja.
                “Sayang, kok permennya hilang?”
                “Namanya juga sulap.” Jerry mencubit hidungku, “Kamu suka permainan sulap aku?”
                “Suka... tapi, tadi tipuan kan? Kepalsuan?”
                “Nggak, Sayang. Itu beneran magic!”
                Anggukan kepalaku berusaha terlihat mantap di depan mata Jerry. Aku mencintainya dan tidak akan mungkin mengecewakannya.
                “Tadi bagaimana di kampusmu? Segalanya menyenangkan?”
                “Iya, Sayang. Kalau kampusmu, gimana?”
                “Sama menyenangkannya, seperti yang kamu rasakan.”
                Aku tersenyum, aku selalu senang jika orang yang kucintai bahagia dengan pilihannya.
                “Dia masih bersamamu?”
                Jerry terdiam.
                “Masih ya?”
                “Kamu tahu aku hanya punya perasaan lebih sama kamu.”
                “Kalau sama dia, apa perasaanmu tak lebih?”
                Sunyi meringkuk kebersamaan kami kala itu. Pertanyaan yang kulontarkan tak membuahkan jawab di bibir Jerry.
                “Bahkan untuk menjawab pertanyaan semudah itu saja; kamu tak bisa.”
                “Jika aku selalu meluangkan waktu untukmu agar bisa bertemu, masih haruskah banyak alasan kujelaskan?”
                “Kadang, seseorang seakan-akan terlihat mencintaimu, namun di sisi lain­­; ia sebenarnya mencintai orang lain.”
                “Aku bukan pria seperti itu.”
                “Siapa yang tahu segalanya? Aku tak selalu ada di sampingmu.”
                “Kamu tak selalu ada di sampingku, tapi bukankah aku selalu ada di sampingmu ketika kamu butuh?”
                “Hanya saat butuh.”
                Jerry menghela napas, “Kita tak bisa terus bertemu, jangan sia-siakan pertemuan kali ini!”
                Aku terpaksa mengalah. Ia melanjutkan lagi permainan sulapnya, yang selalu ia yakinkan padaku bahwa semuanya adalah magic bukan tipuan!
                Senyumku mengembang tak seikhlas awal permainan. Ada sesuatu mengganjal dalam hatiku. Entah mengapa, saat melihat matanya, aku seperti takut pada rasa kehilangan.
***
                Aku wanita yang baru saja mengenal cinta. Aku belum paham apakah cinta hanyalah ruang untuk dua orang atau bisa juga untuk tiga orang. Hati pada akhirnya melangkahkan harapanku pada Jerry. Pria yang semakin aku kenal, semakin tak kupahami juga jalan pikirannya.
                Dia kekasih sahabatku.
                Iya, aku tahu, ini kesalahanku yang tak bisa menahan diri agar tak jatuh cinta dengan orang lain. Tapi, apakah manusia bisa menduga dengan siapa dia akan jatuh cinta? Omong kosong jika orang ketiga adalah sumber masalah dari segala macam pertengkaran antara dua orang yang saling mencintai. Aku tak pernah memaksa Jerry untuk terus bersamaku, dia yang mendatangiku ketika aku membutuhkan kehadirannya. Terkadang, aku sedih dan sepi sendiri; aku berprinsip tak akan memperlihatkan air mataku di depannya. Aku cukup kuat menahan diri agar tak menangis di depannya.
                Aku tak ingin kehadiranku mengganggunya. Aku tak ingin hubunganku bersama Jerry menyebabkan air mata di pelupuk mata sahabatku sendiri. Kepercayaanku sepenuhnya untuk Jerry. Aku percaya bahwa pelukannya, kata-katanya, dan tindakan manisnya hanya ia berikan untukku satu-satunya. Aku percaya segalanya tentang Jerry. Aku tak mau tahu apa yang telah dilakukan Jerry bersama dengan sahabatku. Aku tak mau tahu, tapi sahabatku selalu bercerita padaku tentang yang ia lakukan bersama Jerry. Itu membuatku muak dan ingin menangis sekencang-kencangnya. Apa salahku hingga aku dibikin sakit begini?
                Mungkin, ini kesalahan yang aku buat sendiri. Mungkin....
                “Sayang!” Jerry menepuk bahuku. “Kenapa murung?”
                Ia duduk tepat di depanku, matanya meneliti wajahku yang terlipat cemberut.
                “Hari ini, kamu dua tahunan sama dia kan? Nggak kasih kejutan?”
                “Sehabis pulang dari sini, aku mau kasih kejutan sama dia. Kamu mau bantu?”
                Aku terdiam. Dengan membantu memberi kejutan mengenai hari jadi hubungan mereka, hal itu turut membantu menggoreskan luka baru bagiku.
                “Kaupergi sendiri sajalah. Tugasku banyak.”
                “Tugasmu banyak atau kamu takut cemburu?” dengan nada yang baginya lucu, ia menertawaiku.
                “Cara becandamu murahan.”
                “Kalau kamu wanita murahan.” Jerry tertawa lebih kencang kali ini.
                “Bukankah hanya pria paling murahan yang hanya tertarik wanita murahan? Kamu lebih murah.”
                Jerry berhenti tertawa.
***
                Aku melihat senyum bahagia mereka dari kejauhan. Suasana senja kala itu seperti adegan film paling romantis, tapi paling miris dalam pandanganku.
                Jerry mencium kening sahabatku dengan mesra, menyematkan cincin di jari manis sahabatku, kemudian memeluk sahabatku dengan pelukan paling mesra. Pelukan yang nampaknya tak kurasakan sehangat itu ketika bersama Jerry.
                Dari kaca mobil, aku bisa menangis tanpa terlihat oleh Jerry. Aku selalu menangis di belakangnya, karena dengan cara seperti itu; aku tak akan terlihat lemah dan terluka parah.
                Beberapa menit kemudian, kulihat Jerry mengambil jarak sebentar. Ia berjalan menjauhi sahabatku dan mengambil ponsel di celana jeans-nya. Aku tahu ia meneleponku, karena handphone-ku bergetar hebat kala itu.
                Bagiku, itu mengagetkan. Ia masih bersama sahabatku, namun ternyata ia masih memikirkan aku. Aku heran dan mencoba menepis prasangka-prasangka baik mengenai Jerry. Aku memilih melajukan mobilku, mematikan handphone-ku, memutar musik keras-keras, agar tangisku— tak terdengar memilukan.
                Aku tak perlu ada ditengah-tengah kebahagiaan dua orang.
    Harusnya kesadaranku tumbuh sejak awal, agar aku tak terlalu perih.
    Mungkinkah ini kesalahan?
    Mengapa orang ketiga selalu dipersalahkan? Apakah mereka  tahu yang sesungguhnya aku
rasakan? Dalam suasana seperti ini, sebenarnya aku lebih butuh kehadiran Jerry; bukan kehadiran isak tangis.  
                Semua tak lebih dari tipuan, sama seperti saat Jerry memperlihatkan keahlian sulapnya.
                Hanya tipuan. Begitu juga soal perasaan.

50 comments:

  1. bener bgt, semua hanya tipuan.. :')

    ReplyDelete
  2. jujur. aku pernah jadi orang ketiga.
    dan.itu.sakit.banget. banget.

    ReplyDelete
  3. wah bagus skali , mengharukan :'D

    ReplyDelete
  4. like... kenapa kisahnya selalu sama sepertiku.. menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan..

    ReplyDelete
  5. aku sebel. ini kayak dibuat buat aku. aah. sangat menyakitkan

    ReplyDelete
  6. selalu menyentuh kisahnya, padahal ini fiksi ya? tapi kaya seolah2 aku ikut ngerasain sakitnya jadi orang ke3 itu.

    ReplyDelete
  7. kok mirip sama kenyataanku ya? hahah aku juga orang ketiganya. dan aku baru diapelin tadi sama cowok yang sudah berstatus pacaran itu hahah :)

    ReplyDelete
  8. adaw _
    adaw _
    adaw _
    jero visan

    ReplyDelete
  9. sumpah ini cerita yg gue alamin di diri gue sendiri. bingung harus mundur atau..

    ReplyDelete
  10. ini cerita paling kurang ajar, suer! :)) tapi tetep keren, banget!

    ReplyDelete
  11. Begitu baca stiap postingan kakak, aku selalu punya semangat buat nerusin hoby nulis. :)

    ReplyDelete
  12. Kak dwita, ini ada lanjutannya lagi ngga? Duhh.. pengen baca lanjutannya kalo ada. Mohon dijawab yaa

    ReplyDelete
  13. Jadi orang ketiga itu nggak enak bgt sumpah! :''')

    ReplyDelete
  14. so menjengkelkan kak. kok ya bisa gitu..

    ReplyDelete
  15. kalau diposisi seperti itu ,gatau deh jadi apa selanjutnya ??

    ReplyDelete
  16. Luar biasa critanya.
    Namun klo bole mngambl plajran dr crita, soal prasaan mmg terkadang sdh spti hukum alam dmn org mrasa smakin dsakiti it smakin cinta dan scra g sdar mnikmtinya,knp bs bgitu? Krn dy tw skt,tp msi ga mw branjk dri kondsi it. Spt dlm crita d ataspun tdk ad kputusn utk ttp mnjlin hubngan atau pergi.

    ReplyDelete
  17. ceritanya bgus kak, tp ga buat ditiru untuk sukses jadi orang ketiga :D

    ReplyDelete
  18. ya semua itu hanya tipuan, sama seperti sulapnya.. :')

    ReplyDelete
  19. Nyess.. tratap.. kratak-kratak :'(

    ReplyDelete
  20. “Jika aku selalu meluangkan waktu untukmu agar bisa bertemu, masih haruskah banyak alasan kujelaskan?”

    mgkn kalimat itu perlu aku gunakan pda nya :(

    ReplyDelete
  21. karna pd dsar nya menurut gue , org ketiga itu gak selamanya buruk, mreka jg punya hati !! :) pd inti nya mereka jg ingin mencintai dan di cintai, sma spt yg lainnya.mereka tdk pernah tau kpd siapa mereka akan jatuh cinta,karna mereka tdk secerdas itu utk memikirkan nya .

    ReplyDelete
  22. So damn high. Itu menjengkelkan. Salah sendiri jd org ketiga

    ReplyDelete
  23. mba dwit, kok namanya jerry sih :''

    ReplyDelete
  24. jadi intinya itu hanya ada postif dan negatif untuk menjadi orang ketiga :)

    ReplyDelete