05 July 2012

Kita di Angkot ya?


            Pria itu melirik ke arahku, semakin nakal dan semakin menggemaskan. Aku bisa menangkap bening matanya walau dalam keremangan. Ia sedang merangkul seorang wanita dengan sangat rapat, namun ia juga menatapku. Sesekali mengulum bibirnya, seperti ada kata-kata yang ingin meloncat dari mulutnya.
            Aku juga menatapnya, tapi tatapanku tak seliar pria itu. Aku berusaha lebih lembut, lebih menyentuh, walaupun aku juga ingin lebih dari sekedar saling menatap. Menyentuh mungkin, atau saling mengeluarkan suara, mengucapkan sepatah kata. Apapun! Asal tak hanya saling menggeliatkan bola mata. Aku mencoba melempar pandang ke arah jendela, menatap lalu-lalang sepeda motor dan mobil yang berlari-larian hampir bringas. Menerobos lampu merah seenaknya, menyalip sesukanya, membunyikan klakson seinginnya. Aku merasa tak nyaman, ditambah lagi tatapan pria itu semakin membabi buta.
            Wanita yang ia rangkul bersandar manja di bahunya, tangannya juga merangkul lembut wanita yang di sampingnya. Namun, semua terasa kosong. Pria itu seperti tak berfokus dengan wanita di sampingnya. Ini sudah hampir tiga minggu, jam yang sama dan tempat yang sama. Pria bermata nakal itu selalu duduk dengan wanita itu, dan aku selalu dapat tempat duduk yang berhadapan dengan mereka. Aku menghela napas pelan. Apakah semua adalah kebetulan?
            Hari berikutnya, ia duduk di tempat yang sama. Tapi, kali ini kekasihnya membuka mata dan tak bersandar manja di bahunya. Mereka bercanda dan tertawa, berbicara mesra, namun aku berusaha keras tak mendengar percakapan mereka, karena mendengar percakapan orang yang sedang berpacaran itu menyebalkan, apalagi ketika aku sendirian. Musibah apalagi ini? Sial!
            Aku sibuk memainkan jemariku, tapi seperti ada mata yang diam-diam melirik dan memerhatikanku, ada tatapan yang menyergap rasa penasaranku. Aku yang tertunduk mulai menegakan kepala. Aku mendapatkan mata yang sama, sedang menatapku dengan sendu. Kali ini tatapannya berbeda lagi, seperti tatapan minta pertolongan. Tatapan itu semakin meghipnotisku, aku terhanyut lama. Dan, tiba-tiba wanita di samping pria itu bersandar lagi di bahu kekasihnya. Begitu dalam. Begitu lekat. Sampai-sampai aku juga ingin membenamkan tubuhku dekat dengan pria itu.
            Dia menatapku, kali ini dengan tatapan yang hangat. Aku jadi begitu mudah mengenalnya, kami tak berbicara juga tak mengeluarkan rentetan abjad dan kalimat. Tapi, aku seperti berkomunikasi dengannya. Ada bahasa lain yang tidak dilisankan tapi kami rasakan. 
            Aku merasakan ada hal yang aneh, kami selalu bertemu, di waktu yang sama. Setelah Maghrib dan ia selalu bersama wanita itu. Bukankah ini aneh? Jika dia sedang bersama kekasihnya, mengapa dia tetap fokus menatapku, juga memerhatikanku? Aku merasa diperlakukan istimewa walaupun hanya dengan tatapan yang tak biasa. Ia mulai bergelayut di dalam hari-hariku, rasa-rasanya aku harus pulang kantor lebih awal agar bisa menyamakan waktu dengan pria itu. Aku tak peduli, tak mau lagi peduli. Dia milik siapa atau suami siapa, aku tak peduli. Aku hanya suka ditatap dengan cara dia menatapku, dan dia satu-satunya pria yang bisa menggonjang-ganjingkan duniaku hanya dengan tatapannya.
            Hanya remang-remang, dan selalu remang. Lampu angkot yang terang seadanya itu tak terlalu membantuku untuk mengenal lebih jauh lekuk indah wajah pria yang selama ini merenggut habis perhatianku. Aku hanya hapal matanya, aku hanya tahu bahwa lengannya cukup kokoh dan kuat untuk memeluk siapapun. Aku bahkan tak tahu suaranya, tak tahu namanya.
            Suatu ketika, aku tertegun lama. Tak ada pria itu juga kekasihnya duduk di hadapanku. Entahlah, aku gelisah setengah mati, napasku tercekat berat. Aku mual, aku rindu pria itu, aku ingin ditatap seliar itu. Aku merindukannya. Sungguh! Tapi, aku bisa apa? Meneleponnya? Memanggil namanya?
            Tidak. Tidak bisa. Aku cuma bisa terdiam dan sesekali duduk dengan wajah merenggut. Tempat dudukku biasanya adalah di bangku ujung angkot. Aku senang duduk di situ, di belakang ada jendela yang besar, aku bisa menatap jalanan dari situ, dan membayangkan rasanya bersandar di bahu pria itu. Merasakan hangat desah napasnya, merasakan kokoh lengannya. Ah... aku mendesah pelan. Sungguh, mengapa saat aku benar-benar merindukannya, dia malah tak muncul dan menampakan dirinya?
            Angkot terlihat sepi, hanya ada aku dan seorang ibu yang memangku anaknya. Aku berpikir keras, saking tak ada kerjaannya, mengapa anak itu tak didudukan saja di bangku? Bukankah banyak bangku kosong? Apakah sang ibu berusaha keras melindungi anaknya? Aku tak tahu, dan tak perlu tahu. Di saat-saat bingung seperti ini, aku sering banyak bertanya, namun jawabannya tak penting lagi bagiku. Karena aku hanya ingin tahu, aku ingin tahu di mana pria itu, dan mengapa ia tak ada di hadapanku sekarang, dan mengapa ia tak menatapku sehangat dan seliar kemarin malam.
            Kaca jendela menghembuskan angin panjang, dingin. Aku merapatkan jaketku, dan membayangkan lagi pria itu. Seandainya saja, dia memelukku. Memelukku. Aku pasti tak kedinginan. Aku mau, sekali-kali, walau sekali saja, diperlakukan dengan lembut seperti ia memperlakukan kekasihnya. Atau mungkin lebih mesra, ia meraih tubuhku dengan banyak variasi. Seperti mengigit bibirku mungkin, atau membisikan kata-kata manis di telingaku. Atau apapun! Aku hanya ingin semuanya jadi nyata, bukan khayalan yang berputar-putar di otakku saja.
            Aku menatap ke jendela belakang, jendela yang cukup besar. Aku menatap lampu-lampu jalanan, tapi tetap saja tak ada terang, hatiku meremang. Jalan Margonda begitu saja terlewati. Lalu, Stasiun Depok Baru, Stasiun Depok Lama, daerah-daerah itu terlewati dengan cepat. Aku melamun, tak memerhatikan hal-hal yang terjadi di sekelilingku, yang kutahu angkot begitu sepi. Hanya aku, supir dan bunyi roda yang bergeser santai di jalanan. Ibu dan anaknya sudah turun, entah kapan.
            Bruk.
            Angkot rem mendadak, aku terjedut dan kembali terpelanting ke dunia nyata. Aku megap-megap dan setengah kesal dengan supir angkot. Tak tahu sebabnya dia harus rem mendadak. Tapi, aku tak terlalu memedulikan kejadian mencengangkan itu. Aku masih menatap jalanan, tak peduli dengan bangku-bangku angkot yang kosong.
            Srek.
            Ada pergeseran, seperti ada seseorang di sampingku. Seketika itu aku terdiam, kurasa tak ada orang tadi, mengapa sekarang seperti ada pergerakan?
            Aku menoleh, ada seseorang, yang wajahnya tak begitu asing. Dagunya jenjang dengan lehernya, bahunya kokoh, aku seperti pernah melihat sosok itu.
            Ia mendekat.
            Semakin dekat.
            Seakan tak berjarak.
            Ada sentuhan lain yang kurasakan, dia menggenggam erat jemariku. Aku terkejut, namun tak menghindar. Kali ini, aku mendengar suaranya, lembut sekali, seperti bisikan malaikat. Pria itu, yang selalu ingin kusentuh tubuhnya, kudengar suaranya, kini ada di sampingku.
            “Abel.” bisiknya lembut ditelingaku, seperti menggelitik, aku merinding.
            “Bagaimana kaubisa tahu namaku?”
            “Aku tahu, bahkan sebelum hari ini terjadi.”
            Dia membelai rambutku, mengarahkan kepalaku bersandar di bahunya.
            “Kenapa kamu berlaku seperti ini?”
            Dia tertawa kecil.
            “Aku melucu? Aku bahkan tidak tahu namamu, tidak adil.”
            Pria itu menatapku, sangat dalam, aku tersengat ketajaman matanya.
            “Di mana kekasihmu?”
            “Di rumah kekasihnya.”
            “Maksudmu?”
            “Dia sedang bersama kekasihnya.”
            “Kekasih yang mana? Kamu kekasihnya kan?”
            Ia mendengus pelan, bernapas di dekat telingaku. Aku seperti mendengar detak jantungnya yang memburu.
            “Kamu tidak menjawab.”
            “Tak ada yang perlu dijawab, kamu sudah tahu jawabannya.”
            “Aku tahu jawabannya?”
            Aku terdiam. Dia juga terdiam. Angkot melaju tanpa memedulikan aku dan pria itu.
            “Iya, Abel. Kamu tahu semuanya.”
            “Jadi, dia bukan kekasihmu?”
            “Bukan.”
            “Lantas?”
            “Adikku.”
            Kali ini, ia kembali menatapku. Membangunkan aku yang bersandar di bahunya. Ia menempelkan bibirnya di bibirku, beberapa detik. Aku juga bingung, kenapa aku diam ketika ia berlaku lancang seperti ini. Aku tak mengerti, juga tak perlu mengerti. Dia datang begitu saja, tanpa rencana, dan aku tak paham arti kehadiran dia sepenuhnya.
            Dia memelukku erat, entahlah. Dia memang penuh kejutan. Bahuku seperti basah, entah oleh apa. Sepertinya air mata, aku merasakannya.
            “Adikku meninggal kemarin.”
            Mataku terbelalak, terlalu mengejutkan. Ini kesempatan pertama kita saling berkenalan, dan sudah ada saja peristiwa yang mencengangkan.
            Aku turut memeluknya, menegarkannya, menguatkannya, dan menepuk-nepuk bahunya. Aku tak mengerti, kenapa harus menenangkan dia, pria yang kukenal, yang baru saja kukenal.
            Dia terdiam. Aku juga. Cukup lama.
            Kemudian dia menatapku, lebih lama, dengan mata sembab.
            Aku tak banyak bicara, ketika dia menciumku lagi. Bahkan lebih lama. Seperti kita sedang tidak di angkot saja.
            Oh, iya. Kita di angkot ya?
            Hah?!

03 July 2012

Tatap atau Ucap (part II)

Silakan baca cerita awal di sini :)

            "Halo, gue Bianca. Kedokteran UI, semester empat. Gue suka sama elo udah lumayan lama sih."
            Aku sibuk menatap cermin, mereka-reka setiap kosakata di otakku dan berlatih berbicara. Aku berusaha menggombal, membuat kata-kata penuh metafora dan berharap pria itu melekatkan sedikit perhatiannya padaku.
            "Aku sayang sama kamu udah lama banget, sampai-sampai aku lupa mencintai diriku sendiri."
            Memang tak pandai merangkai kata, aku hanya jago menghapal anatomi tubuh mahluk hidup dan menganalisis ilmu kedokteran. Tapi... saat dihadapkan dengan masalah perasaan, mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku seperti bayi yang tak tahu apa-apa?
            “Kita bertemu pertama kali di Stasiun Tanjang Barat. Tiga tahun yang lalu, waktu itu aku masih pakai putih abu-abu.”
            Ingatanku menjamah peristiwa yang tak pernah kulupa, selalu ingat, selalu menempel di otak. Keningku berkerut, aku bahkan tak percaya pada banyak hal yang telah kulakukan. Aku mengingat setiap detail yang terjadi bersama dengan pria itu. Aku seperti robot yang memiliki memori tetap, yang otaknya hanya bekerja untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi.
            “Tidak ada tabrakan seperti di sinetron memang, aku cuma senang memerhatikan sosokmu yang berbeda. Buku-bukumu juga berselera tinggi. Seno Gumira Ajidarma, Pramoedya Ananta Toer, dan Arswendo Atmowiloto.” aku mengingat pertemuan awal kita dulu, rasanya manis dan aku terhipnotis. “Sesekali kamu memperbaiki kacamatamu dan meminum air mineral yang kamu bawa. Kemudian, kamu terdiam dan berkonsentrasi lagi pada bukumu. Kamu yang diam saja bisa begitu buatku terpesona, apalagi kamu yang mengajakku bicara?”
            Lengkungan senyum tergores sempurna di bibirku. Aku masih terus berlatih, semakin keras.
            “Kita tak pernah saling berbicara, tapi pernah satu kali bertatapan mata. Jumat, 9 Juli 2009. Waktu itu aku pura-pura jatuh di depanmu dan kauhanya menatapku. Kamu tak bereaksi banyak. Terlalu cuek. Aku jadi terlihat bodoh.”
            Aku menunduk dan memerhatikan tatapanku sendiri di depan cermin. Kosong.
            “Kamu tahu namaku? Kamu mengenalku? Siapa aku di matamu?”  
            Kulihat diriku yang kini semakin berbeda. Raut wajah, lekuk tubuh, tatapan mata... semuanya telah berbeda. Tak ada yang sama.
            "Bagaimana mungkin, aku yang buta cinta sama sekali bisa begitu mencintaimu, Gas?"
            Bagas. Iya, pria itu namanya Bagas. Namanya gagah bukan? Matahari, itulah arti dari Bagaskara. Dia seperti matahari dalam hidupku, dia berpijar menerangi hari-hariku. Tapi, karena ia terlalu terang, karena ia terlalu sempurna, ia jadi tak menyadari kehadiran aku dalam kesempurnaannya.
            Aku menghela napas perlahan, apakah aku benar-benar harus mengajaknya bicara? Ataukah cukup mencintainya seperti dulu saja? Diam-diam. Hanya menatap, tanpa mengucap. Salahkah jika aku nyaman pada hal-hal lama yang pernah kulakukan? Tapi, bukankah hidup bergerak maju? Bukankah dunia selalu berputar dan berganti-ganti, begitu juga manusia yang ada di dalamnya. Masa, aku yang semakin menua ini, tak semakin dewasa dan berani?
            "Bagas, kamu lihat usahaku? Kamu lihat perjuanganku? Kamu mengenalku?"
            Tidak. Bagas tidak mengenalku, bahkan aku luput dari tatapannya. Aku hanya bersembunyi dan berlari, tanpa pernah tahu apa yang kutakuti dan kuhindari. Letisha benar, aku pengecut. Pantaskah seseorang yang kerdil seperti aku mengajak Bagas berkenalan? Berbicara sepatah katapun tak layak, apalagi jika harus melanjutkan kata "hey" yang singkat menjadi percakapan manis yang berkesan. Aku takut. Aku bukan siapa-siapa.
            Langkahku gontai mendekati bibir tempat tidur. Aku merebahkan tubuhku dan menarik selimut untuk mengurangi rasa dingin yang mulai merasuk tulang. Bantal guling yang ada di sampingku segera kudekap di dada. Pelukanku semakin kuat, seakan-akan mencari kekuatan di sana. Aku menangis tanpa sadar, air mataku mengalir mendekati bantal tempatku menyandarkan kepala. Aku tak mengerti alasan air mata ini terjatuh, karena bahkan air mata pun tak butuh alasan. Tapi, aku tahu, ini air mata untuk Bagas. Seseorang yang terlalu sempurna bagiku, seseorang yang terlalu hebat di mataku, dan aku tak pernah mampu mengimbanginya.
            Mataku yang sembab sengaja berpindah tatap ke langit-langit kamar. Lagi dan lagi wajah Bagas berayun di situ, aku benci setengah mati, aku bisa semalaman seperti ini. Tertegun lama dan tak mengerti pada jalan pikiranku sendiri. Aku tolol, iya tolol! Memikirkan seseorang yang tak memikirkanku, menangisi seseorang yang tak menangisiku, juga merindukan seseorang yang tidak merindukanku. Tapi, rasa sakit itu seakan-akan melengkapi perasaanku. Aku bahagia walaupun ada luka, aku bahagia mencintai Bagas. Dia seperti harta yang seharusnya kujaga.
            Bagas. Iya, nama itu memenuhi isi otakku. Sampai-sampai tak ada lagi ruang untuk lelaki lain. Pria itu telah mengunci seluruh rasa perhatianku, ia seperti punya kekuatan magis yang membuat aku terus memusatkan ia sebagai yang pertama dan utama. Aku tersenyum, bahkan dalam tangisku pun, aku masih berusaha untuk terlihat bahagia. Bukankah, memang tak ada manusia yang benar-benar tegar? Mereka hanya berusaha untuk terlihat tegar, soal kepura-puraan atau kenyataan, itu urusan belakangan.
            "Kamu enggak tahu seberapa dalam aku sayang sama kamu, Gas. Seberapa sering aku diam-diam membuang-buang waktuku hanya untuk melihat kamu dari kejauhan. Aku emang pengecut, Gas. Aku..."
            Air mata. Lagi.

02 July 2012

Tatap atau Ucap?

            “Itu orangnya?” bisik Letisha menggebu.
            Aku mengangguk pelan.
            “Udah suka berapa lama?”
            “Tiga tahun.”
            “Dari elo SMA?!” mata Letisha membulat, ia seperti tak percaya dengan dua kata yang baru kuucapkan.
            “Dari gue SMA, sampai gue kuliah semester empat.”
            “Elo emang gila banget, Bian!”
            Kepalaku tertunduk, aku benci dikasihani.
            “Kata orang, naksir itu sebenarnya cuma empat bulan, lebih dari itu, tandanya elo sayang sama dia.”
            “Sayang?” sergahku singkat. Apa yang kutahu tentang perasaan sayang? Aku tak mengerti banyak hal tentang cinta.
            “Dia punya pacar?”
            “Punya. Sudah berganti lima kali dalam tiga tahun”
            “Makanan favorite-nya?”
            “Bakso gerobak di dekat Sarinah.”
            “Kerjaannya?”
            “Sutradara.”
            “Film yang ia hasilkan?”
            “Ada beberapa, dan gue punya semua.”
            “Kok gue enggak kenal?”
            “Cuma gue yang kenal dia lebih dalam.”
            “Mobilnya?”
            “Banyak, kadang ganti-ganti. Lebih seringnya pakai Honda dan Toyota.”
            “Rumahnya?”
            “Daerah Kalibata.”
            “Pendidikan terakhir?”
            “Strata satu, Mikrobiologi UGM.”
            “Kok jadi sutradara?”
            “Mengikuti suara hati. Mungkin.”
            “Elo belum pernah ngajak dia ngobrol?”
            “Belum pernah sekalipun.”
            “Hanya berani menatap?”
            Aku mengangguk. “Hanya berani menatap dan tak pernah berani mengucap.”
            Letisha menutup mulutnya. Ia geleng-geleng kepala. “Kenapa sekarang masih di sini?”
            “Takut.”
            “Apa rasa takut memberikan elo jawaban?”
            Tatapanku lurus-lurus ke arah Letisha. Pertanyaan itu seperti panah yang sengaja dilesatkan menuju otakku, hingga aku tak mampu dengan cepat menjawabnya. Aku berpikir keras, semakin keras, namun tak menemukan jawaban yang pas.
            “Udahlah, Sha. Gini aja gue udah bahagia kok.” ucapku santai sambil terus memerhatikan sosok pria itu bersama kekasihnya. Tetap ada rasa sakit yang berdesir di dadaku. Entah disebut apa. Tapi, aku ingin menangis, melihat seseorang yang kucintai merangkul seseorang, yang bukan sosokku.
            “Bahagia?” Letisha menilik mataku, ia masih mencari-cari jawaban lewat tatapanku. “Apa arti bahagia yang sesungguhnya, Bian?”
            Kendaraan melintas lalu-lalang, namun suara Letisha tetap kudengar jelas. Sementara pria itu masih bersama kekasihnya, tersenyum manja tanpa menyadari ada sosokku dan sosok Letisha yang diam-diam memerhatikannya. Aku melempar pandang ke arah jalan, tak ada jawaban yang kutemukan. Sementara Letisha, ia semakin tak sabar mendengar penjelasanku. Ia malah asyik mengintrogasi perasaanku. Apa salahku?
            “Bahagia itu sederhana, Sha.” bibirku mendekat ke telinga Letisha. “Asal gue bisa terus melihat dia tersenyum, walaupun gue tahu senyum itu belum tentu disebabkan oleh kehadiran gue.”
            “Kehadiran elo? Dia tahu elo aja enggak!” sergap Letisha dengan tatapan mengintimidasi, aku benci ditatap seperti itu.
            “Elo berhak menilai apa yang gue rasa?”
            “Enggak. Tapi, gue ngerasa kehilangan diri lo yang dulu.”
            “Diri gue yang dulu?”
            “Elo yang mau usaha! Bukan cuma melihat! Bukan cuma menunggu! Bukan cuma diam dan menatap.”
            “STOP!” aku menutup kedua telingaku, tak ingin perkataan Letisha selanjutnya semakin menyakiti perasaanku.
            “Elo takut kalau menemukan diri lo yang udah berubah? Elo takut kalau tahu ternyata elo pengecut?”
            Tatapanku tajam meraih sosok Letisha. “Apa yang salah dari mencintai seseorang diam-diam?”
            “Percuma! Kalau dia enggak tahu apa yang elo rasain!”
            “Gue enggak salah kan, Sha?”
            “Enggak salah, tapi gue enggak suka temenan sama orang pengecut.”
            “Gue pengecut?”
            “Lihat darah aja berani! Bedah ini itu berani! Masa buat ngajak kenalan cowok enggak berani?”
            Bibirku tersenyum tipis. Letisha sialan! Mengapa dia harus mengait-ngaitkan praktik di kampusku dengan perasaanku? “Enggak ada hubungannya, Sha!”
            “Ada.”
            “Enggak!”
            Kali ini, Letisha kesal sendiri. “Diam membuat elo bahagia?”
            Aku tak langsung menjawab pertanyaan Letisha, entah harus mengangguk atau menggeleng. Tak ada jawaban yang tepat kala itu. Cinta teralu absurd bagiku, banyak hal yang tak pasti di sana dan di sini. Tapi, entah mengapa semua hal bodoh itu bisa membuatku tersenyum. Bisa membuatku tertawa. Kadang, juga menangis. Apa aku salah, jika aku bahagia dengan yang kulakukan selama tiga tahun ini?
            “Sudah sepuluh detik, dan elo enggak menjawab pertanyaan gue, Bianca!”
            “Oke! Oke!”
            “Oke, apa? Oke elo mau ngajak dia ngobrol?”
            “Enggak seekstrem itu kali, Sha!”
            “Emangnya ngajak cowok kenalan itu ekstrem?”
            “Buat gue iya.”
            “Nah, berarti elo enggak menghargai usaha Kartini!”
            “Kok, elo ngelantur ke mana-mana sih?”
            “Bukan ngelantur, kalau ngajak kenalan aja dibilang ekstrem, apa kabar kalau ngajak orgasme bareng?”
            “Bego lo!”
            “Tuh kan, berarti elo ngerti. Ngajak cowok kenalan itu enggak ekstrem, kecuali kalau ngajak dia orgasme bareng elo.”
            Aku seperti terperdaya pada perkataan Letisha. Seperti ada bius yang menghipnotisku dan menghasutku untuk mengenal sosok itu lebih dalam. Tapi, masih ada yang mengganjal di hatiku, haruskah aku berkenalan dengan seseorang yang sudah punya kekasih?
            “Tapi, pacarnya dia gimana, Sha?”
            “Gimana apanya? Elo kan cuma minta kenalan, bukan minta dinikahin!”
            “Gue enggak enak, Sha. Tandanya, gue jahat dong? Cinta kan enggak merusak.”
            “Yaelah, orang udah nikah aja bisa cerai. Apalagi yang masih pacaran?”
            Aku menoyor kepala Letisha. Entah apa yang ada di otaknya hingga ia lancang berbicara seperti itu. “Kalau udah disatukan Tuhan sih, enggak bakal ada tangan manusia yang mampu pisahkan, Sha.”
            “Bagus, gue kirain elo cuma hapal bagian anatomi manusia.”
            Tawa tak mampu kutahan. Aku mengenggam lengan Letisha dengan kuat. “Jadi, gue harus gimana?”
            “Kenalan.”
            “Secepatnya?”
            “Lebih cepat daripada pergerakan sinar gamma.”
            Aku tersenyum puas lalu menatap pria yang kucintai selama tiga tahun itu dari kejauhan. Ternyata waktu bergerak semakin cepat, tiga tahun memang tidak sebentar. Banyak yang berubah, aku dan pria itu juga berubah. Namun, entah mengapa perasaanku tak pernah berubah. Aku tetap jatuh cinta berkali-kali padanya.

30 June 2012

Mungkin, aku terlalu berharap banyak

Rasanya semua terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.

Aku menjadi takut kehilangan kamu. Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara. Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika kamu selalu kunomorsatukan?

Tapi... entah mengapa sikapmu tidak seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu tak merasakan yang juga aku rasakan?

Kamu mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu, dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur, apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah?

Janjimu terlalu banyak, hingga aku lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti, tapi kumaafkan lagi berkali-kali. Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah persimpangan jalan yang selalu kau abaikan – juga kautinggalkan?

Apakah aku tak berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika kauterus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.

Sadarkah jemarimu selalu lukai hatiku? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.

Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?

Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Tenanglah, tak perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang berkata sayang dengan gampangnya.

dari seseorang yang kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya

Suka tulisan aku? Tidak akan ada yang mengalahkan romantisnya langsung memegang buku dan membalik setiap halamannya langsung dengan jemarimu. Miliki segera buku aku. Klik BUKU DWITASARI untuk memiliki buku aku langsung di jemarimu :)
 
SUDAH BERJUANG HABIS HABISAN TAPI  HARUS BEGINI AKHIRNYA? PLIS JANGAN KLIK TULISAN INI KALAU NGGAK SIAP PATAH HATI BERKALI KALI :(

22 June 2012

Satu-Satunya

            “Aku hanya memiliki dia.” ucap Pengkhianat santai. “Dia satu-satunya yang kupunya.”
            Cinta terdiam dan sesekali menghela napas. “Perempuan jalang!”
            “Apa salahku?” keluh Pengkhianat dengan wajah tak berdosa.
            “Kamu menyakitinya tolol!” Cinta membentak dengan kasar, ia tak mampu lagi menahan emosinya.
            “Aku menyakitinya?” ulang Pengkhianat dengan wajah seakan-akan tak melakukan kesalahan. “Dia masih milikku kan?”
            “Hatinya memang milikmu, tapi bukan berarti kaubebas mematahkannya!”
            Pengkhianat menatap dengan tatapan tajam, semakin tajam seperti menusuk Cinta dengan ribuan pedang. “Memangnya kamu siapa? Pahlawannya?”
            Ucapan itu terasa sangat menghujam, Cinta menutup mulutnya rapat-rapat. Ia berpikir keras tentang jati dirinya yang belum juga terjawab. Cinta itu siapa? Mengapa dia begitu tak tega jika Jujur disakiti oleh Pengkhianat. Cinta berpikir keras, semakin keras hingga keringatnya mengucur deras.
            “Aku bukan siapa-siapa.” desah Cinta lembut, seperti ada tangis yang terdengar menyayat dalam ucapannya.
            “Sudah tahu bukan siapa-siapa kenapa masih bersikap sok pahlawan?” Pengkhianat bertolak pinggang, ia menaikkan alisnya. “Aku wanita jalang, tapi kamu wanita bodoh!”
            Cinta tak berani menatap wajah Pengkhianat, ia seakan-akan mati rasa dan tak tahu lagi harus mengeluarkan kata-kata apalagi. Kosakata di kepalanya seakan-akan terhapus dan terbawa lari ke dunia antah berantah yang tak mampu Cinta capai. Cinta masih bergumul dengan perasaannya dan berharap rasa  keterpurukan itu tak semakin menghantuinya.
            “Kamu memang pernah menjadi segalanya bagi Jujur, tapi kamu tak berhak menyakiti dia lebih lama lagi!”
            “Aku menyakitinya?” suara Pengkhianat terdengar licik disertai dengan tawa sinis. “Aku hanya ingin merasakan pelukan hangat beberapa pria dan merasakan bibir manis pria-pria lainnya. Apa aku salah?”
            “Jangan jadikan dia korban! Dia sangat mencintaimu!”
            “Berarti aku hebat?”
            Tangan Cinta mengepal kuat, rasanya ia ingin melayangkan tinju bertubi-tubi ke wajah yang membuat dirinya naik pitam. Ia masih berusaha menahan emosinya, dan sesekali melirik ke arah Jujur. Pria itu terlihat lemah dan tak berdaya, wajahnya yang pucat mengintip sesekali dari balik jendela. Cinta begitu berjarak dengan Jujur, namun ia masih bisa merasakan apa yang dirasakan oleh jujur. Wanita ini, Cinta, tahu kalau Jujur sedang kebingungan setengah mati.
            “Kamu selalu hebat wanita jalang!” seru Cinta dengan desis yang lirih namun menghujam. “Tapi, kali ini kamu tidak akan kubiarkan menang!”
            “Tidak akan menang?!”
            Cinta menangguk pelan.
            “Kamu hanya dibodohi pria itu! Jujur tak pernah mencintaimu!”
            “Tidak masalah buatku.”
            “Tidak masalah?”
            “Asal dia bahagia. Cukup.”
            “Omong kosong!”
            “Aku tidak pernah bohong, Jujur memang selalu mencintaimu dan ia sangat sulit melupakanmu.”
            Pengkhianat tertawa pelan. “Sekali lagi... aku menang!”
            “Kamu belum tentu menang.” Cinta mengujar dengan pasti. “Waktu bisa mengubah banyak hal yang tak kautahu!”
            “Aku masih segalanya bagi Jujur! Kamu hanyalah persinggahan baginya! Pelarian! Haha!”
            “Kamu boleh tertawa di awal, tapi jangan salahkan aku kalau air matamu terjatuh di akhir!”
            Setiap frasa yang terucap dari bibir Cinta terdengar menohok. Kalimat itu membuat Pengkhianat terdiam, ia mencerna setiap kata yang Cinta ucapkan.
            “Tidak perlu kausumpahi, Cinta.” tanggap Pengkhianat terdengar enteng. “Aku memang akan selalu tertawa!”
            “Aku tahu sebenarnya kautidak bahagia. Kamu tertawa di atas tangis orang lain, kebahagiaan semu!”
            Tawa Pengkhianat berubah menjadi wajah yang masam. “Kamu tidak akan bahagia bersamanya, Cinta. Percayalah. Jujur hanya mencintai aku. Akulah yang selalu ada di pikiran Jujur.”
            “Untuk saat ini kaumemegang kendali hatinya, tapi untuk saat-saat berikutnya ia akan sadar dan membuka matanya, kaubukan siapa-siapa lagi, wanita jalang!”
            “Kamu benar-benar mencintainya?”
            Nada tanya yang tiba-tiba menyambar cinta itu langsung mendiamkan pita suara Cinta. Ia bergumam dalam-dalam di hatinya.
            “Aku benar-benar mencintainya.”
            “Jika dia tak mencintaimu?”
            Tanpa pikir panjang, cinta bergumam. “Untuk alasan apapun, aku tetap mencintainya.”
            “Jika dia tak akan pernah mencintamu?”
            “Bagiku, melihat senyumnya sudah cukup.”
            “Cukupkah?’
            Cinta mengangguk, ia kembali menatap Jujur dengan tatapan penuh arti. Jujur menangkap sinar mata Cinta, dan tatapan itu membuka mata Jujur semakin lebar. Sudah beberapa menit Cinta berdebat dengan Pengkhianat, ia ingin semuanya sampai pada klimaks. Botol minum yang ada di jemari kirinya masih ia remas gemas, ia menatap mata Pengkhianat dengan tatapan sinis dan menyiramkan semua isi botol itu di tubuh Pengkhianat.
            “BUATMU!” tangan Cinta melibas wajah Pengkhianat dengan botol minum juga sedikit tinju yang lumayan. Cinta mengelak kencang.
            Langkah Cinta terasa ringan, ia menghampiri Jujur dengan wajah berseri-seri. Tangannya mengetuk pintu dan Jujur segera berlari menghampiri Cinta.
            Jujur segera memeluk Cinta lekat dan rapat. Ia mencium lembut kening Cinta.
            “Jadilah masa depanku.”