12 June 2013

Jangan Pergi



            Aku sedang asik memandangi setiap aksara yang tertulis di depan layar laptop-ku. Kubaca setiap kata-kata magis di sana. Perempuan yang satu ini terlalu kesepian, kurasa. Ia banyak menangis, mengeluh, dan mengasihani dirinya sendiri. Sesekali, aku dibuat tertawa dan meringis karena membaca setiap kalimat yang tertulis di akun Twitter-nya.
            Memerhatikan akun Twitter-nya bukanlah suatu kebiasaan bagiku. Kegalauan dan tulisan sampahnya hanya kujadikan bahan tertawaan yang bagiku sangat lucu. Sebuah penghiburan melihat tulisan-tulisan yang begitu ekspresif dan kekanak-kanakan. Tulisan busuknya hanya kujadikan candaan, mengundang kelucuan tersendiri bagiku.
            Tak heran, jika saat tak ada kerjaan seperti ini, aku kembali membaca setiap kegalauan yang tertulis di akun Twitter-nya. Kutertawakan sekali lagi, tawa yang entah mengapa begitu lepas. Sungguh, aku benci wanita sialan ini. Ia memposisikan dirinya di sudut paling bawah, seakan pria adalah satu-satunya mahluk Tuhan yang paling berhasil menyakitinya. Ditambah lagi, mention-nya yang menjijikan. Ia menyapa setiap pria layaknya kekasih yang kesepian dan haus perhatian. Mengapa Tuhan menciptakan makluk mahalucu seperti wanita ini?
            Demi Tuhan! Aku tak akan jatuh cinta dengan wanita yang meletakkan hatinya pada banyak pria, bermesra-mesraan layaknya cumbuan adalah hal murah yang bisa diobral.
            Suasana kantin kali ini tak begitu ramai. Malam-malam dengan hujan deras seperti ini memang tak mengundang banyak orang datang. Beberapa jam yang lalu, langit sudah memberi pertanda bahwa ia akan menangis, mendung sudah begitu tebal. Melihat cuaca yang buruk, banyak mahasiswa yang mengurungkan niat untuk berbincang lama di kantin.
            “Ngapain lo?” Joni menepuk bahuku dengan kasar, “Serius banget, liatin apa?”
            Aku tertawa geli dan menyodorkan layar laptopku agar juga dilirik olehnya. Joni, yang tak tahu-menahu langsung menyediakan pandangan ke laptop-ku, membaca setiap tulisan yang ada di sana. Beberapa menit, Joni sibuk membaca dan aku menunggu reaksinya, “Lucu, ya? Temen jurusan kita, nih.”
            “Apanya yang lucu?” Dahi Joni berkerut, “Dia memaparkan fakta yang terjadi sekarang, perasaan wanita zaman sekarang, masa lucu?”
            “Lucu, aja. Berlebihan, sih, kalau menurut gue.”
            “Berlebihan gimana? Lo emang dasarnya nggak punya perasaan!” tanggap Joni dengan tawa yang lepas, seakan ia mengenalku dengan sangat dalam.
            “Nggak punya perasaan gimana maksud lo?”
            “Ya, pokoknya, lo nggak punya perasaan. Itu cewek mau ngasih tahu gimana perasaan dia lewat tulisannya dia, masa hal kayak gitu lo ketawain? Masa rasa sakit hatinya lo ketawain? Nggak punya perasaan lo!”
            “Bukan cuma itu yang gue ketawain, ini cewe juga sering mention-an dengan nada-nada mesra pada banyak orang. Menjijikan!”
            “Hidupnya dia, sih. Kalau lo nggak suka, ya, tinggalin aja. Lo nggak dipaksa buat suka sama tindakan dia kan?”
            “Dih, Jon, otak lo sekarang udah kayak otak cewe! Bawaannya galau mulu! Ngeluh mulu!”
            “Bro, harusnya sebelum lo ngomong gitu, lo kudu kenal dulu tuh cewe, apa lo tahu gimana kehidupan dia yang sesungguhnya?”
            Aku menggeleng, tapi dalam hati aku menyetujui kalimat yang ia utarakan.
            “Biarin ajalah dia mau berbuat apa, selama dia nggak bikin hidup lo ribet, ya, nggak perlu diurusin juga!”
            Tiba-tiba, aku tertawa lepas. Menertawakan diriku sendiri.
            Aku memutuskan meninggalkan sikap wanita penggalau itu, kututup layar laptop-ku, lalu aku berbincang dengan Joni. Memperbincangkan banyak hal dari soal tugas kuliah sampai soal politik. Ketika kulihat hujan berubah jadi gerimis dan cukup bersahabat untuk pulang menggunakan sepeda motor, aku pamit diri meninggalkan Joni. Langkahku ringan menuju tempat parkir sepeda motor dan kulajukan sepeda motorku di tengah gerimis yang tiba-tiba menderas dan berubah jadi hujan lebat. Aku mengarahkan sepeda motorku untuk menepi.
            Hanya ada aku dan seseorang di depan toko tua yang sudah lama tutup. Mungkin, karena di sini terlalu gelap, tak banyak sepeda motor yang memilih menepi. Toko yang terasnya terlalu sempit itu menyebabkan aku dan orang di sampingku tak berjarak terlalu jauh. Aku tak menengok sedikit pun ke arah sosok itu. Aku terlalu sibuk mengutuk hujan dan meminta pada Tuhan agar hujan berhenti turun. Ini sudah terlalu malam.
            Entah atas daya apa, sebuah sentuhan kecil terasa di lenganku, aku sontak menoleh. Dan, sosok itu, dengan siluet wajahnya yang begitu tegas di bagian rahang dan dagu, gelap dan temaram, seakan tersenyum ke arahku. Tatapan matanya tipis-tipis terlihat karena masih ada sisa-sisa cahaya yang menampaknya bola matanya.
            “Eh, baru sadar, kita sejurusan di fakultas kan?” bisik wanita itu, yang baru kali ini suaranya kudengar dengan jelas. Ternyata, suaranya menenangkan dan cukup meneduhkan.
            “Iya, sejurusan.” Jawabku singkat, tak ingin terlibat percakapan terlalu jauh.
            “Kamu, kok, berteduh di sini? Kosan kamu juga di daerah sini?”
            Sialan! Wanita itu.... aku berusaha menjauhi segala percakapan dengannya, dia malah mengajakku terus bicara. Tidak tahukah dia bahwa aku begitu jijik mengenal dan berbicara dengan wanita penggalau yang sok laku seperti dia?
            Sebisa mungkin, aku menjawab dengan singkat, agar tak ada celah untuk ia kembali bertanya, “Iya, di dekat sini. Gue nggak ngekos, gue ngontrak rumah, lebih murah daripada kosan.”
            “Oh, lebih murah, ya? Rumah kontrakan di sana masih ada yang kosong nggak?”
            “Kayaknya ada.”
            “Mungkin, aku bisa pindah ke sana. Kebetulan kosan yang aku tinggali saat ini mau naik lagi harganya.”
            Aku membelalakan mata, sepertinya aku salah bicara. Ingin rasanya aku meninggalkan wanita sialan itu sendirian dan segera melajukan sepada motorku dengan cepat. Aku berharap tak akan lagi bertemu dengannya. Ah, tapi aku tertawa dalam hati, aku baru tahu, ternyata wanita yang selalu kutertawai karena sikap galaunya; punya suara yang manis dan menenangkan.
            Aku tak menanggapi pernyataannya yang terakhir. Ketika kulihat hujan tiba-tiba gerimis lagi, dan mereda lagi, aku bersiap-siap kembali melajukan sepeda motor. Tubuhku sudah ada di atas sepada motor dan wanita itu hanya memandangku dengan tatapan entah—aku tak bisa mengartikan tatapan itu. Suatu kekuatan seperti mendorong bibirku, kata-kata yang sebenarnya tak ingin kukatakan malah meluncur dengan mudah, “Mau gue anterin pulang ke kosan lo?”
            Tanpa pikir panjang, dengan suaranya yang teduh dan penuh bumbu manja, ia menjawab cepat. Ia segera menaiki sepeda motorku dan kami membelah jalanan malam dalam keadaan gerimis tipis. Kurasakan dalam keheningan kami berdua, jemarinya menyentuh pinggangku. Dan, kini, seluruh lengannya melingkar di dekat perutku.
            Ada kehangatan yang berdesir. Aku seperti merindukan masa lalu. Setahun yang lalu, saat mantan kekasihku memelukku sehangat ini.
            Wanita ini.... sialan! Dia sangat lancang.
            Namun, mengapa aku tak melawan dan berusaha untuk melepaskan?
***

            Ketukan pintu pada pagi hari selalu mengagetkanku. Dengan senyumnya yang entah mengapa terlihat ajaib, ia membawakan sepotong roti dan segelas coklat panas. Sekarang, senyumnya kusantap bagai sarapan. Minggu-minggu ini, ada sesuatu yang baru, hal sederhana yang menyentil aktivitas sehari-hariku.
            “Akhir-akhir ini kamu terlihat tampak lebih segar.” Nina tersenyum sambil menepuk bahuku.
            Nina? Hey, aku belum mengenalkan nama wanita ini padamu. Nina itu si wanita penggalau yang selalu kutertawai isi tweet-nya, si wanita yang selalu bermesraan dengan banyak pria di media sosial. Wanita yang begitu jijik kusebut namanya, kudekati sosoknya, dan kudengar suaranya.
            Disapa seperti itu, aku hanya membalas dengan senyum dingin, “Hanya perkiraan kamu aja kali.”
            “Kita kelas jam berapa, ya? Siang, ya? Jam dua kan?”
            Aku mengangguk singkat.
 Sikapku sengaja kubikin kaku dan dingin karena aku begitu tahu bagaimana gelagat wanita ini. Selain wanita penggalau, ia tentu saja membagi hatinya untuk banyak pria. Caranya bermesraan dengan banyak pria di dunia maya layaknya ia adalah wanita paling terlatih untuk mencumbu dan menyembulkan rindu. Aku sungguh tahu, wanita seperti dia adalah penggoda yang akan pergi ketika tahu pria yang sempat ia sukai tak sehebat yang ia ketahui.
“Dua minggu di rumah kontrakan ini, rasanya aku mulai akrab pada banyak orang. Termasuk sama kamu.”
Aku terbatuk di sela-sela saat aku meminum coklat panas buatannya.
“Kenapa? Nggak enak? Nggak biasanya kamu batuk.” Ia tertawa sebentar, kemudian dahinya berkerut, ia menepuk bahuku dan membasuh bibirku dengan tissue miliknya.
Ada apa, sih, dengan wanita ini? Mengapa ia begitu baik meskipun sikapku sudah begitu kaku dan dingin padanya? Aku bertanya-tanya dalam hati, bahkan aku tak bisa melawan ketika ia menyentuh tubuhku dengan jemarinya yang hangat dan berbeda. Aku juga salah tingkah, ketika ia tertawa karena ulahku.
Mengapa wanita ini tak sesialan yang kukira?
Aku sudah cerita soal ini? Sekarang, aku juga tak tahu mengapa perbincanganku dengan Nina seringkali menggunakan panggilan ‘aku’ dan ‘kamu’. Panggilan yang harusnya ditunjukan hanya untuk dua orang yang punya kedekatan. Mengetahui kenyataan ini, aku juga jijik. Ditambah lagi panggilan itu kutunjukkan untuk Nina, wanita penggalau yang mudah bermesraan dengan banyak pria di dunia maya.
Setelah tinggal di samping rumah kontrakan yang kutinggali, Nina mengubah  banyak hal. Ia mewarnai waktu sarapanku setiap hari dan mengubah waktu malamku dengan percakapan-percakapan singkat ditemani teh serta angin malam.
Nina mengubah banyak hal. Aku tak tahu, Nina yang satu ini apakah adalah sosok yang sama, sosok yang dulu begitu jijik untuk kudekati dan kuketahui jalan hidupnya.
Nina kini menjelma jadi apapun di kepalaku. Jadi lugu. Jadi malu. Jadi candu. Jadi rindu.
***
Rumah kontrakan kami mati lampu. Sambil membawa lilin, Nina mengetuk pintu kontrakanku dan meminta untuk ditemani. Hujan turun deras sekali dan aku tak tahu sejak kapan Nina bersandar di bahuku dan ia merancau tanpa pernah aku meminta ia bicara banyak.
“Kadang, aku berpikir, mengapa hujan sederas ini, dengan petir semenyeramkan ini, jadi tak menakutkan ketika kita berada di samping seseorang?”
“Yang kamu takutkan bukan hujan dan petir, tapi kesepian yang kamu rasakan ketika terjadi hujan dan petir.”
Nina menatapku dengan matanya yang teduh. Ia tersenyum singkat dan kembali meletakkan kepalanya di bahuku. Cahaya lilin yang bergoyang sesekali menambah kesan menyenangkan di dadaku. Tetiba dadaku jadi begitu hangat dan banyak petasan yang meledak-ledak. Sikapku yang kaku entah mengapa begitu sulit kutunjukkan di depan Nina. Aku bahkan mulai berani menyentuh rambutnya.
“Tapi, sekarang aku udah nggak takut lagi, kok.” Dengan nada manja yang hampir kuhapal, Nina mencoba untuk kembali memberi tanggapan.
“Kenapa nggak takut lagi?” nada penasaran tak mampu lagi disembunyikan dari caraku berucap.
“Sudah ada kamu.”
Aku tertawa geli. Nina yang mendengar suara tawaku malah memukul lenganku. “Apa yang lucu?”
“Terlalu cepat menganggap kehadiranku akan menghapus ketakutan kamu Nina.” Aku terbatuk-batuk dalam tawaku yang menderas, “Lagipula, aku nggak akan sudi dengan wanita penggalau yang mudah bermesraan dengan banyak pria di dunia maya.”
 Mendengar pernyataanku yang bahkan aku tak tahu pernyataan itu bisa melukai perasaannya, Nina terbangun dan tak lagi rebah di bahuku.
“Kamu berpikiran seperti itu?”
Aku mengangguk ragu.
“Kenapa?”
“Aku sudah kenal betul wanita seperti kamu. Yang akan meninggalkan orang yang mencintainya dengan begitu mudah, lalu kemudian mendapatkan pengganti dengan begitu cepat. Aku tahu orang sepertimu, Nina! Semua tingkahmu tercermin dalam setiap tulisanmu di dunia maya.”
Nina terdiam dan pipinya menjatuhkan bulir-bulir halus. Air matanya mengalir. Menderas bagai hujan di luar.
“Nggak semua yang kamu lihat di dunia maya sama seperti di dunia nyata. Aku bukan sibuk bermesraan dengan banyak pria, aku hanya mencari sosok yang bagiku cocok untukku.”
“Oh, ya? Tapi, harusnya kautak perlu memanggil banyak pria dengan panggilan ‘sayang’ kan?”
Tangis Nina tiba-tiba diwarnai tawa yang meledak, ia mendekatkan wajahnya, “Jadi, selama ini kamu memerhatikanku?”
Aku menggeleng dengan keras. Berusaha agar aku tak tertangkap basah.
“Aku cuma kesepian dan mencari pelarian. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku juga ingin punya seseorang. Aku lelah meloncat dari satu hubungan ke hubungan lain.”
“Kalau begitu, mulai sekarang, berhentilah meloncat dari satu hubungan ke hubungan lain.”
“Lantas, aku harus berbuat apa?”
Sebelum menjawab pertanyaannya, aku mengundang dia kembali rebah di bahuku, “Meloncatlah sekali lagi, tapi berjanjilah, loncatan kali ini adalah perpindahanmu yang terakhir.”
“Lalu, harus kuarahkan ke mana loncatanku yang terakhir ini?”
“Kamu itu bego beneran atau pura-pura bego?”
Nina mengedipkan matanya, bingung dengan pertanyaanku yang terdengar sarkastik.
“Arahmu sekarang cukup mengarah padaku. Habis ini, kautak perlu membuat dirimu lelah dengan berjalan ke arah yang lain. Bisa?”
Tanpa banyak jawaban. Nina hanya mengecup keningku. Itu sudah cukup jadi jawaban bagiku. Dan, akhirnya, kupatahkan janji yang telah kuucapkan pada Tuhan. Dulu, aku bersumpah tidak akan pernah mencintai Nina. Tapi ternyata....
“Aku mencintaimu. Aku sudah terbiasa sama kamu. Jadi, jangan pergi.”

06 June 2013

Cinta Tak Butuh Pengorbanan

Saya masih mengurusi luka yang tergores beberapa minggu yang lalu. Luka yang saya obati sendiri, dengan jemari saya sendiri, dengan perjuangan sendiri. Di hidup ini, harus ada yang datang dan pergi, agar saya paham arti singgah dan menetap. Di hidup ini, harus ada yang tinggal dan menghilang, agar saya tahu yang terbaik pastilah yang tetap tinggal dan tidak akan menghilang; kecuali jika Tuhan mengizinkan "kehilangan".

Saya tak tahu bahwa kebodohan saya bisa begitu berlipat ganda. Saya tak yakin jika ini semua saya lakukan karena saya mencintai dia. Rasanya sangat sulit melupakan sosok yang saya harapkan tetap tinggal tapi ternyata dia pergi. Sungguh sangat berat menghilangkan seseorang yang saya kira akan menetap tapi pada akhirnya dia pergi. Saya, sebagai manusia biasa, hanya bisa berharap pada setiap pertemuan, dan berdoa agar perpisahan tak cepat-cepat merenggut dia dari genggaman saya. Sebagai manusia yang serba terbatas, saya hanya mampu menjaga, saya tak tahu kapan ia akan pergi, kapan dia akan meninggalkan saya.

Perkenalan yang saya pikir akan berujung bahagia ternyata berakhir dengan siksa. Sekarang, saya tak lagi menangisi kehilangan, saya hanya bingung mengapa pertemuan yang begitu singkat bisa memunculkan kesan yang mendalam. Kadang, saya tak sadar, bahwa ketika bibir seseorang mengucap "Hai" sebenarnya saat itu juga saya harus siap pada banyak risiko; risiko kehilangan. Dunia ini penuh teka-teki, sebagai manusia yang mencoba menjawab dengan perasaan dan otak yang terbatas, kadang saya hanya bisa menangkap isyarat-isyarat kecil saja.

Dengan membawa sisa hati yang remuk, saya disadarkan oleh kicauan Sudjiwo Tedjo, salah satu sosok yang saya kagumi. Jemarinya yang ajaib menulis "Cinta tak perlu pengorbanan. Saat kamu mulai berasa berkorban, saat itu juga cintamu mulai pudar." Ah, betapa kalimat ini begitu menyentak saya. Memang, seringkali ketika berbuat untuk seseorang, manusia menyebut hal itu adalah pengorbanan. Begitu juga ketika saya mencintai dia. Saya tak tahu pasti apakah saya memang berkorban untuk dia atau sakit hati saya terlalu besar, hingga pada akhirnya, setelah saya dan dia tak lagi bersama, saya menyatakan diri bahwa saya telah berkorban banyak untuknya. Apakah cinta saya pudar? Oh, betapa manusia berbeda dengan Tuhan, yang tak pernah ungkit-ungkit pengorbananNya di kayu salib, yang tak pernah bilang betapa sakitnya lambung yang ditusuk dengan tombak, dan betapa perihnya mahkota duri yang tersemat di kepala.

Saya sedang merapikan hati saya yang patah. Mencoba menyambungkan mozaik-mozaik yang terlepas karena kebodohan saya sendiri. Lalu, saya berpikir sekali lagi, apakah benar cinta saya padanya telah pudar? Iya, sekarang sudah pudar, karena pada akhirnya saya merasa berkorban untuknya. Pada akhirnya, saya, yang sedang berusaha menghilangkan cinta, mengingat banyak perbuatan, yang (tiba-tiba) saya sebut pengorbanan. Apakah cinta saya tak tulus?

Pengorbanan biasanya dilakukan meskipun kamu kesakitan. Tapi, ketika jatuh cinta; ketika kaumasih terbangun tengah malam hanya untuk mendengar suaranya, saat kaumenunggunya menyelesaikan tugas, manakala pesan singkatnya kaunanti— kautak pernah merasa disakiti. Semua dilakukan atas dasar cinta, kaumencintainya maka kaubersedia menunggunya. Kaumencintainya, maka kauizinkan dirimu terus menanti, meskipun pada akhirnya dia tak menjadikanmu tujuan. Bukankah air matamu untuknya tetap kaupandang sebagai keindahan, kaumenangis karena mencintainya, bukan karena kaumerasa berkorban.

Lucu, ya, betapa kata pengorbanan yang sering kita anggap sepele ternyata bisa begitu magis ketika digali. Saya sudah sering disakiti begini. Sudah tahu rasanya dicintai, namun pada akhirnya dia memilih pergi bersama teman saya sendiri. Sudah tahu rasanya diterbangkan tinggi, namun tiba-tiba dihempaskan begitu saja. Lantas, walaupun kita seringkali merasa disakiti, mengapa rasa sakit itu tak pernah membuat kita kapok untuk jatuh cinta lagi?

Betapa kekuatan cinta bisa membebaskan kita dalam banyak hal, melupakan "rasa sakit" yang seringkali diucapkan orang-orang sekitar kita, ketika mereka menasehati; bahwa segalanya harus diakhiri. Ya, cinta soal keikhlasan, tak pernah merasa berkorban. Cinta tak butuh alasan, karena ketika pada akhirnya kautemukan alasan untuk mencintainya, maka cintamu pudar. 

Cinta tak butuh pengorbanan. Apapun yang kaulakukan untuknya adalah dasar karena kauinginkan dia bahagia. Termasuk ketika kauikhlaskan dia untuk sahabatmu. Termasuk ketika kaubiarkan ia pergi, namun wirid dan ucap doamu masih mengiringinya. Pun, ketika kauantarkan dia ke masjid untuk salat jumat, meskipun ibadah wajibmu kaulakukan pada hari Minggu.

04 June 2013

Empat Minggu Setelah Kepergian Kamu

Aku menulis ini ketika aku sadar tak akan ada yang bisa dikembalikan seperti dulu lagi. Aku menulis ini ketika aku berpikir bahwa di sana kamu pasti telah menemukan seseorang yang baru. Seseorang yang bisa mencintaimu, memahamimu, dan mengerti keinginanmu lebih baik daripada aku. Rendahnya kepekaanku dan tingginya keegoisanku membuat kamu pergi dan menjauh. Seandainya, bisa kuputar kembali waktu, aku tidak akan membiarkanmu pergi dan akan menahanmu sampai Tuhan bosan melihat usahaku.

Aku mulai mencintaimu, mulai membiasakan diri akan kehadiranmu, dan mulai percaya yang kaurasakan juga adalah cinta. Setiap kausapa aku, setiap kaurangkul tubuhku, setiap tatap matamu menyentuh hangat tatap mataku, dan setiap genggaman jemarimu mengisi celah-celah kecil jemariku; aku percaya ini cinta. Dulu, aku tak takut mengartikan kata-katamu dan segala kalimat-kalimat manis itu adalah salah satu respon bahwa kaujuga punya perasaan yang sama. Beberapa minggu yang lalu, aku begitu percaya diri dan begitu memercayai bahwa kamu hanya memiliki aku; aku satu-satunya di hatimu. Namun, ternyata, aku pun bisa salah. Salah mengartikan isyarat yang kauberikan. Harusnya aku menyadari bahwa terlalu tinggi jika mengharapkan kamu berada di sisiku, terlalu mimpi jika menginginkan kamu menjadikanku pertama dalam hatimu, dan terlalu tolol menganggap perhatianmu yang ternyata tak hanya diberikan untukku.

Pada akhirnya aku sadar, aku hanyalah pelarian tempat kamu meletakkan kecemasan. Aku hanyalah persinggahan, ketika kamu lelah untuk berjalan. Aku cuma sosok yang kaudatangi, ketika kaupikir kekasihmu tak mampu memahami keinginanmu. Betapa bodohnya aku bisa begitu mencintai seseorang yang bahkan meletakkan hatinya pada banyak orang— hati yang katanya hanya kamu berikan untukku. 

Dulu, aku tak ingin mendengar semua perkataan teman-temanku. Aku mencoba menutup telinga pada setiap bisikkan yang mengatakan kamu selalu melompat dari satu hubungan ke hubungan lain, berpindah dari satu pelukan ke pelukan lain, dan memberi hati pada banyak orang yang kaupikir bisa kaujadikan boneka kecintaanmu. Dulu, aku tak ingin percaya itu, dan kebodohanku semakin lengkap, ketika ternyata kamu memang seperti yang mereka bilang. Pengkhianat. Aktor paling cerdas berakting. Main hati.

Aku tak menyangka jika orang yang begitu halus membisikkan cinta, begitu manis mengucapkan rindu, dan begitu mudah berkata sayang adalah orang yang harusnya dari awal tidak kupercayai gerak-geriknya. Kamu tak tahu betapa aku begitu tergoda akan kehadiranmu. Kamu tak sadar betapa aku inginkan sebuah penyatuan, meskipun kita berbeda. Kamu tak paham betapa cinta mulai mengetuk pintu hatiku dan aku mulai mengizinkan kamu berdiam di sana.

Sungguh bodoh. Mengapa begitu mudah menjatuhkan air mata untuk kamu yang tak pernah menangisiku? Mengapa rindu begitu sialan karena menjadikanmu sosok yang paling sering kusebut dalam doa? Mengapa cinta begitu tak masuk akal ketika perkenalan singkat kita ternyata berujung pada hal yang tak kuduga? Kautak tahu betapa sulitnya melupakan perasaan yang sudah melekat, betapa tidak mudahnya menghilangkan kamu dari hati dan otakku. Cinta ini datang begitu mudah dan entah mengapa membenci begitu susah.

Kalau kauingin tahu seberapa dalam perasaanku, cinta ini seperti air laut yang enggan surut. Aku telah tenggelam, sementara kamu yang berada di pesisir pantai hanya bisa melambaikan tangan dan menertawakan kesesakanku. Apa yang bisa kauanggap lucu dari perasaan ini? Mengapa kaubegitu mudah menjadikan perasaanku sebagai candaan yang kaupikir bisa membuatku tertawa?

Sinaran pesonamu, membutakan segalaku. Begitu mudah aku terjebak bayang-bayang yang kupikir nyata. Begitu gampangnya aku terjerumus pada kesemuan yang tak pernah jadi kenyataan. Harus kularikan ke mana cinta yang makin dalam ini? Harus kubuang ke mana rindu yang tiba-tiba sering berujung air mata ini? Haruskah aku bilang padamu, dengan mata yang sembab, dengan rambut yang berantakan, dengan wajah yang begitu lelah; hanya untuk memintamu kembali?

Pertanyaan tentang perasaanku telah terjawab, walau tak kaujawab secara langsung. Kautak punya perasaan sedalam yang kuberikan, kautak merindukanku sedalam yang sering kulakukan, dan kautak ingin menjadikanku yang pertama. Ah, pernahkah kaurasakan menjadi sosok yang selalu diletakkan di nomor sekian? Yang tetap mencintai walau disakiti? Yang tetap mengabdi walau dilukai?

Seandainya semua bisa kembali seperti dulu lagi. Seandainya rangkul pelukmu masih sehangat yang kurasakan. Mungkin aku tak akan sesedih ini, tak akan seberantakan ini, dan tak akan segila ini.

Kalau kauingin pergi, maka pergilah. Tapi, berjanjilah padaku; aku adalah perempuan yang terakhir kausakiti. Setelah ini, pergilah pada ibumu dan cintai beliau dengan ketulusan, sehingga kaubisa belajar mencintai perempuan lain dengan ketulusan yang sama. Katakan padaku, kauakan menganggap kata sayang adalah kata yang sakral, sehingga tak akan kamu ucapkan hanya untuk menyakiti perasaan seorang perempuan. Berjanjilah padaku, setelah ini, kauakan benar-benar pergi, mencari perempuan baru untuk kauberi kebahagiaan; bukan tangisan. Katakan padaku, jika kautak mampu melakukan semua hal itu, aku bisa bantu kamu; tapi, kamu kembali dan mau kuajak saling memahami.

Suatu saat nanti, kita akan bertemu dengan kebahagiaan masing-masing. Kaumerangkul kekasih barumu dan memperkenalkannya padaku. Aku menggenggam erat jemari kekasihku yang berhasil menghapus mendung di hari-hariku. Lalu, kita menertawakan masa lalu, betapa dulu aku dan kamu pernah begitu lucu.

Kemudian, lukaku bisa kaujadikan materi stand up comedy-mu; tertawakan aku sepuasmu. Setelah itu, kumasukkan kaudalam sebuah tulisan; kusiksa kamu sampai jera, kubiarkan kaujadi tokoh yang tertawa lebih dulu tapi menangis sekencang-kencangnya di akhir cerita.

Terima kasih untuk tawa yang kautitipan pada setiap candaanmu di ujung malam. Sekarang, aku sadar, betapa sosok yang pernah membuatku tertawa paling kencang juga adalah pria yang bisa membuatku menangis paling kencang.

25 May 2013

Apakah Ketakutanku juga bagian dari Ketakutanmu?

Aku menunggu di bawah pohon rindang, sambil menjaga alas kaki yang kautitipkan padaku. Masih banyak pria-pria tampan berlalu-lalang di depanku. Beberapa dari mereka mengenakan sarung dan baju koko, tak lupa juga peci tersemat di kepala. Wajah mereka terlihat bersih karena sudah dibasuh air wudu dari rumah. Kendaraan bermotor tak lagi terlihat banyak. Tuhan memanggil dan ratusan orang datang menemuiNya.

Sambil membaca buku, kudengar suara khotbah diantar pengeras suara masjid. Di dalam sana, pasti kausedang mendengar sabda Tuhan dengan wajah serius dan mata yang tajam. Bersama dengan banyak pria lainnya, kamu pasti sedang duduk rapi. Wajahmu tentu setampan banyak pria yang beberapa saat lalu kulihat memasuki masjid. Basuhan air wudu memperhalus garis-garis wajahmu yang selalu terlihat menarik di mataku.

Menunggumu selesai salat Jumat bukanlah hal yang pertama bagiku. Ini sudah kulakukan berulang kali, berkali-kali. Seperti biasa, ditemani dengan buku fiksi dan gadget, aku menunggumu selesai menemui Tuhan. Sudah kubayangkan, setelah salat Jumat, kamu pasti bercerita tentang khotbah yang kaudengar di dalam masjid. Kotbah yang juga kudengar di luar masjid, di dekat pohon rindang, tempat aku selalu menunggumu.

Sembari menunggumu, kulayangkan ingatanku pada hari-hari yang telah kita lewati. Pada pertemuan pertama kita yang memunculkan ledakan baru di dadaku. Pada kebersamaan kita yang mengalir tanpa banyak pertanyaan. Pada hari-hari baru yang seringkali menggoreskan senyum di bibirku. Kita selalu bahagia bukan? Aku percaya, jawabanmu pasti adalah "ya", karena kamu selalu tersenyum setiap kali aku bercerita tentang banyak mimpi yang belum pernah kita lewati.

Aku tak tahu apakah perjalanan kita butuh ujung dan akhir. Langkah kita begitu lurus dan maju, tak banyak lika-liku, tapi entah mengapa pikiranku seringkali mengharu biru. Aku mencoba mencari sebab dari ketakutanku, kusentuh kalung salib yang menggantung di leherku. Kujamah tubuh Yesus yang sedang kesakitan oleh paku di tangan dan kakiNya, oleh mahkota duri yang tersemat di kepalaNya. Dia sudah begitu mengasihiku, apakah aku harus menyakiti Dia dengan hubungan kita yang jauh dari kata biasa?

Terlintas sebuah ayat yang pernah kubaca, Terang tak dapat bersatu dengan gelap. Aku tak tahu siapakah yang bisa disebut "Terang" dan siapakah yang bisa disebut "Gelap"? Aku bertanya-tanya dan terus bertanya. Tiba-tiba aku ketakutan, seperti dikejar-kejar sesuatu yang memaksaku untuk menjauhimu. Mungkinkah aku harus pergi? Sementara kita sudah mulai nyaman dengan yang kita jalani.

Sayang, aku duduk di sini sendiri, dengan rasa takut yang mungkin juga kurasakan sendiri. Aku takut jika perpisahan pada akhirnya menjadi pilihan kita. Ketakutanku semakin lengkap mengetahui kamu beribadah di tempat yang berbeda denganku. Apakah kita melakukan sebuah kesalahan dan dosa terindah?

Aku takut pada cerita akhir kita yang penuh teka-teki. Aku bahkan tak berani membayangkan jika pada akhirnya semua (terpaksa) berakhir tanpa keinginanku dan keinginanmu. Kita berbeda, apa yang aku dan kamu harapkan dari ketidakmungkinan seperti ini?

Ah, itu, dia! Kamu baru selesai salat Jumat dan segera menghampiriku. Tersenyum dengan wajah senang karena aku masih berada di sini untuk menunggumu. Seperti biasa, kaubercerita tentang khotbah yang kaudengar di dalam masjid. Sambil mengenakan alas kakimu, kautetap menatapku dengan tatapan hangat. Kauajak aku berjalan, menggenggam tanganku erat, dan membelai lembut rambutku. 

Ketakutanku selalu berulang setiap kali kutemani kamu melaksanakan ibadah. Aku memasang senyum sebahagia mungkin, agar kautak tahu; aku begitu mengkhawatirkan kita.
 
***
JADI HARUS PUTUS ATAU TERUS? Kalau bimbang, mending jangan KLIK TULISAN INI, NANTI MAKIN BIMBANG! :(