10 August 2016

Bolehkah aku berhenti memperjuangkanmu?

Baca sebelumnya: Karena pelukmu selalu berhasil menenangkanku.

Tidak ada yang menyenangkan berjalan dalam bayang-bayang, namun bayang-bayangmu memberiku banyak arti, dan selalu berhasil membuatku memutuskan untuk berjalan lagi. Aku begitu tahu, mencintaimu adalah sebuah kesalahan, tetapi berkali-kali kamu meyakinkan, bahwa bukan aku penyebab dari segala kehancuran. Lalu, kamu memintaku kembali dalam hidupmu, dengan label sahabat. Haruskah aku bilang, bahwa semua sikapmu membuat aku sedikit muak? Kita pernah di tahap lebih dari sahabat, lalu kaumemintaku meneruskan hubungan denganmu sebagai sahabat biasa.

Aku menggelengkan kepala dan sibuk menahan air mata. Karena semua yang kulihat selalu membuatku ingat. Kamu membekas dalam otakku dan aku juga makin tak mengerti cara untuk mengusirmu dari hatiku. Kulewati jalan-jalan panjang yang kita lewati berdua. Dan, yang muncul di kepalaku, hanyalah wajahmu yang tersenyum, yang aku lihat di spion sepeda motormu. Betapa kebahagiaam bagiku begitu sederhana, memelukmu erat di atas sepeda motormu, dan mendengarmu bercerita tentang apapun. 

Kamu ingat? Kamu bercerita mengenai apartemen yang akan dibangun di sekitar rumahmu, masterplan yang kautolak karena daerah itu tidak bagus untuk dijadikan apartemen. Aku melihatmu dari kaca spion, memelukmu erat seakan tak ada lagi hari esok, dan kamu terus merancau dengan nada sebal. Aku jatuh cinta pada caramu mengungkapkan pendapatmu, aku jatuh cinta pada caramu menatapku dengan tatapan tidak biasa, dan aku jatuh cinta setiap kali kamu tersenyum ke arahku-- sementara aku tidak mampu menyembunyikan betapa rasa cinta di dadaku kian hari kian membesar.

Perasaan ini semakin sulit untuk dipertanggungjawabkan, terutama ketika kamu sering menghilang karena berbagai alasan. Dan, aku hanya mampu menunggu dengan sabar, menatap ponsel dengan penuh harap, berharap kamu menghubungiku untuk mengajakku bertemu. Tapi, kamu tidak pernah ada, kamu tidak pernah hadir dalam hari-hari saat aku membutuhkanmu. Aku mengerti, tidak bisa aku menuntutmu segalanya, karena perempuan yang kausembunyikan ini tidak berhak untuk mengatur dan meminta apapun darimu. Namun, salahkah jika aku ingin, suatu hari nanti, aku punya hak, punya otoritas, untuk terus bersamamu? Mungkin ini gila, tapi tidak bertemu denganmu, kemudian hanya bisa memendam rindu yang membesar bisa juga membuatku merasa gila.

Sungguh, aku tidak memintamu lebih dari waktu yang bisa kamu berikan untukku. Karena aku juga paham, waktumu sudah cukup tersita dengan pekerjaan juga dengan gadis pilihanmu. Sebagai yang bukan pilihan, aku hanya mampu menatapmu dengan sabar, hingga waktu yang tepat datang, agar aku bisa memelukmu walau sesaat. Semua waktu kita, walaupun singkat, adalah waktu yang sangat berharga bagiku. Kamu tidak tahu luka yang ada saat aku memelukmu dengan erat, pelukan yang mungkin terasa begitu berlebihan. Kamu tidak tahu, rasa sakit hati yang ada, saat kita berpelukan namun kamu sibuk bercerita tentang kekasihmu. Kamu tidak tahu, saat pertama kali kamu bilang sudah punya kekasih, dan saat itu juga aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukmu, bisakah kamu tebak apa yang ada dalam benakku? Aku merasa kamu adalah the one, sementara kamu hanya menganggapku selingkuhan.

Saat aku menangis, kamu berusaha menenangkanku, dan ada kebingungan yang nampak jelas di wajahmu. Kamu memintaku untuk berhenti menangis, namun air mataku sulit diajak kompromi. Air mataku jauh lebih memahami apa yang terjadi di dalam hatiku, sementara kamu tidak pernah paham apa yang sebenarkan aku rasakan. Pelukmu, kala itu, lebih menyakitkan daripada perpisahan apapun. Yang paling menyakitkan bagiku adalah saat kamu mengaku sangat mencintaiku, tetapi kamu tidak mungkin meninggalkan kekasihmu. Jika memang kamu sudah berdua, mengapa kamu memelukku, mengecupku, menahanku pergi seakan hanya akulah satu-satunya yang kamu miliki?

Luka itu semakin meluas, saat aku berusaha melupakanmu, namun kamu pada akhirnya selalu punya tempat di hatiku. Kamu selalu ada di tempat yang secara sukarela aku sediakan, dan aku berikan hatiku yang utuh untuk kamu patahkan berkali-kali. Semakin aku jatuh cinta padamu, semakin aku menyadari bahwa kamu tidak akan mungkin aku miliki. Bahkan, aku tidak tahu, status kita ini bisa dinamakan apa. Kamu punya kekasih, tetapi kamu sangat mencintaiku dan tidak ingin meninggalkanku, lebih anehnya lagi-- kamu tidak ingin aku pergi dari hidupmu.

Bisakah kaumembayangkan rasanya jadi aku? Yang harus terus mengalah, yang harus terus menyembunyikan air mata, yang harus bersedia disakiti berkali-kali, yang harus menutup mulutnya agar tidak mengeluh, yang kelak akan dibenci temanmu, dan segala rasa sakit yang aku rasakan-- hanya demi memperjuangkan dan mempertahankanmu? Terlalu banyak ketidakadilan yang kurasakan. Terlalu banyak kesesakan dan rasa bersalah yang menghantuiku. Aku sangat mencintaimu, sungguh, dan mengetahui tubuhmu tidak hanya dipeluk olehku adalah patah hati terbesar yang sulit dijelaskan kata-kata.

Kaumemintaku untuk menyembunyikan segalanya. Kamu ingin aku tidak terlihat seperti jatuh cinta padamu. Kamu mengaturku sesuai yang kamu mau. Hanya karena kamu tahu aku sangat mencintaimu, lalu kamu menginjak-injak perasaanku seakan mengerti bahwa aku tidak mampu melawan. Ingin rasanya aku menatapmu, dengan sisa-sisa air mata yang masih aku miliki, memberitahu seberapa dalam luka yang aku rasakan, agar kamu mulai berhenti menyakitiku.

Sayang, kamu tentu tidak akan mengerti seberapa dalam luka hati yang aku rasakan. Setiap pelukanmu, setiap kecupmu, setiap kata dari bibirmu, setiap ucapan cinta darimu, selalu berhasil membuatku memaafkanmu. Kamulah iblis yang terlihat malaikat di mataku. Kamulah penjahat yang aku bela mati-matian. Kamulah tersangka yang rela aku sembunyikan. Hingga pada akhirnya mungkin kekasihmu akan tahu dan menuduhku pecundang. Padahal, kamu tahu betul, siapa yang paling hiperaktif dalam perkenalan kita. Bukan aku. Bukan kamu. Tapi, takdir yang menggariskan kita untuk bertemu dan saling memandang. Apakah cinta tetap benar, jika dia datang di waktu yang tidak tepat?

Koko, kamu tahu seberapa besar perasaan yang aku miliki, kamu juga tahu siapa yang paling mencintaimu di sini. Lalu, jika kautahu cintaku lebih besar daripada cinta kekasihmu padamu, mengapa tetap harus aku yang mengalah? Jika kaumengerti perjuanganku untuk mempertahankanmu jauh lebih besar daripada perjuangan kekasihmu mempertahanmu, mengapa harus aku lagi yang kausembunyikan dari sorotan mata dunia? 

Yang membuat aku sedih bukan karena aku tidak memelukmu berhari-hari, namun yang membuatku sedih adalah mengapa aku tidak pernah diberi kesempatan untuk memperjuangkanmu lebih jauh lagi? Yang membuatku terluka bukan karena kamu lebih dulu punya kekasih, namun yang membuatku semakin terluka adalah kamu tidak pernah mengaku pada siapapun bahwa aku hadir dalam hidupmu. Aku tidak pernah bersedih terlalu banyak jika kita tak bertemu. Aku juga tidak marah jika harus kehilangan kamu terus. Namun, sadarkah kamu, ada perempuan yang selalu mengalah di sini, hanya untuk si tolol yang begitu dia cintai?

Beri aku kesempatan untuk berpindah, jika kamu tidak megharapkan aku dalam hidupmu. Jangan meminta aku tetap tinggal, jika pada akhirnya justru kamu yang meninggalkanku.


Untuk kamu yang menawarkan,
segala macam bualan,
yang kupikir cinta.

******

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)

03 August 2016

Karena pelukmu selalu berhasil menenangkanku

Baca sebelumnya: Aku berharap Tuhan mengembalikanmu ke dalam pelukanku.

Pada jam hampir menyentuh empat pagi ini, tidak banyak yang bisa aku lakukan di sisa-sisa kekuatan aku mengerjakan novelku, selain membaca ulang percakapan kita di Whatsapp. Percakapan terakhir kita terjalin sepuluh hari yang lalu. Ini yang kubenci darimu, kamu selalu memintaku untuk menghubungiku lebih dulu, sedangkan sebagai perempuan-- aku lebih ingin dihubungi lebih dulu. Aku mencoba menguatkan diri, untuk pada akhirnya menghubungimu lebih dulu, betapa sulitnya untuk meredam gengsi agar bisa menghubungi, namun setelah aku lakukan itu, kamu tidak membalas apapun, dan hilang lagi selama sepuluh hari. Aku menyimpan tanya, lalu apa maumu kali ini setelah segala gengsi telah kubunuh hanya demi tetap memelukmu lewat tulisan?

Aku pernah bilang padamu, mengapa aku tidak boleh mengunduh aplikasi Telegram, yang pernah kauceritakan padaku itu. Karena begitu mudah memelukmu lewat tulisan di Telegram jika kutahu kamu membalas Whatsapp bisa begitu lama. Aku sering bertanya padamu, mengapa aku tidak boleh ikut permainan WereWolf di Telegram. Padahal, aku tahu betul konsep permainan itu, Koko Sayang, menebak siapa yang menjadi seringala yang telah membunuh seluruh penduduk desa. Aku pernah memainkan permainan itu di dunia nyata bersama teman-temanku, namun kamu hanya menggeleng pertanda tidak setuju jika aku ikut bermain WereWolf di Telegram. Saat aku menanyakan alasan, kamu selalu berkata, kamu ingin aku terlindungi dalam persembunyian kita. Aku hanya mengangguk setuju, bukankah sebagai yang disembunyikan, aku tidak boleh menuntut banyak?

Percakapan itu berakhir dengan pelukmu yang semakin erat. Kamu menceritakan apapun yang terjadi hari itu dan aku menceritakan bagaimana hari itu begitu menyenangkan karena aku berhasil menyelesaikan salah satu bab novelku. Kita berpelukan lekat sambil menunggu hujan reda, tidak ada yang bicara, hanya suara rintik hujan yang menyentuh atap. Aku tertidur di bahumu seakan tidak ada tempat yang lebih hangat selain bersandar di sana. Kamu punya daya dan upaya untuk membuat aku tenang. Kamu selalu tahu caranya mendiamkan iblis dalam diriku, itulah mengapa aku begitu jatuh cinta pada malaikat sepertimu, si malaikat berwajah iblis yang memegangi rokok dengan senyuman yang membunuh. Ah, aku rindu kamu.

Koko, sepuluh hari ini kamu pergi entah ke mana. Dan, sebagai yang kausembunyikan, aku hanya mampu menunggu tanpa meminta. Sebagai yang tak berhak, aku hanya bisa menyebut namamu dalam doa panjangku. Sebagai perempuan yang tahu diri, aku cukup paham bahwa sikapmu ini tentu karena tidak ingin diganggu. Bolehkah aku jujur, jika aku sangat rindu pelukmu dan hanya ingin mendengar suaramu yang hanya satu sentimeter dari telingaku? Kamu tahu betul, begitu mudah cara membahagiakan aku. Karena kamu paham, aku tidak akan bersungut memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk bertemu dan makan enak. Kamu tentu mengerti, aku tidak akan menuntut segalanya hanya agar kamu bisa membuatku bahagia, dengan memelukmu dan melihat asap rokokmu-- itu jauh dari kata cukup. Tidak sulit untuk membuat aku bahagia, Koko Sayang, tapi kamu menolak untuk melakukannya, seakan membuatku bahagia sesulit membuat seribu candi dalam satu malam.

Aku merindukanmu pelukmu dan merindukan suaramu, hanya itu yang aku tahu. Waktuku memang termakan untuk segala kewajiban, tapi kamu selalu hadir di sisa-sisa waktu yang aku miliki. Bukan, bukan berarti kamu nomor sekian, aku hanya menempatkanmu di tempat yang pantas untuk pria yang spesial, karena kamu pantas berada di sana. Tapi, mungkin, aku tidak pernah ada di mana-mana, pun di hatimu juga otakmu, itupun juga aku maklumi, tidak pernah ada tempat untuk yang disembunyikan. Aku begitu percaya bahwa tidak pernah ada tempat untukku, itupun aku percaya saat aku memutuskan berpisah denganmu, tapi setiap aku menyerah-- kamu selalu memberiku kekuatan yang salah, kekuatan yang selalu merasa yang kita lakukan ini benar, kekuatan yang membuat aku tidak menyalahkan siapapun juga tidak menyalahkan keadaan. Kamu selalu mampu memberiku rasa percaya, bahwa ada bahagia di ujung jalan sana, meskipun yang aku rasakan; kita hanya berjalan di tempat, tidak ke mana-mana.

Sayang, kamu tahu kita tidak berpindah ke mana-mana, yang kamu tahu aku hanya perempuan yang jelas tidak akan menuntut apa-apa selain pelukmu yang mampu menghangatkannya. Koko, kamu begitu paham, bahwa tidak akan ada kebahagiaan di antara kita, hanya kesenangan sesaat lalu kamu akan pergi tanpa jejak. Mungkin, bagimu, aku begitu lumrah untuk disakiti, lalu aku akan segera terobati dengan novel yang segera aku tulis setelah patah hati. Maaf, Sayang, kamu salah besar. Perempuan tidak bisa kamu samakan dengan logika yang kamu gunakan, logika laki-laki. Aku tidak pernah menyesal telah menjadi perempuan yang menggunakan perasaan dalam banyak hal, aku tidak pernah menyesal telah memelukmu, aku tidak menyesal pernah tertidur di pundakmu, aku tidak menyesal mendengar detak jantungmu yang memburu, aku tidak menyesal mengecupmu, aku tidak menyesal adanya cinta di antara kita. Tapi, ada satu hal yang aku sesali, mengapa ketika aku sudah memberikan segalanya, namun kamu hanya memberiku seperlunya.

Aku mencintaimu. Kamupun tahu itu. Namun, aku tidak akan jadi siapa-siapa bagimu. Kamupun tahu itu. Sebelum semua berakhir lagi dalam kata pisah, bisakah kita habiskan sisa waktu yang kita punya hanya untuk membuatku bahagia dengan pelukmu? Aku tidak tahu daya magis apa yang terkandung dalam pelukmu, di sana aku bisa menangis sejadi-jadinya, ataupun tertawa segila-gilanya. Hanya itu yang kurindukan, karena seperti yang aku bilang, aku tidak hendak memintamu menempuh jarak puluhan kilometer hanya untuk sebuah pertemuan nyata. 

Aku mencintaimu bagaimanapun dirimu. Aku tetap mencintaimu, meskipun tubuhmu berlumuran tepung seusai kamu meracik mie. Aku tetap mencintaimu, meskipun kamu menunjukan sebuah kitab suci yang kaubakar sambil tertawa. Aku tetap mencintaimu, walaupun kencan termewah yang pernah kita lakukan hanyalah makan Rice Bowl di Cibinong City Mall. Aku masih mencintaimu, meskipun berhari-hari kamu tidak menghubungiku lebih dulu. Aku sungguh mencintaimu, meskipun kamu selalu membuatku menunggu. 

Kamupun mencintaiku pasti karena penuh dasar. Kamu masih mencintaiku, mencintai kekuatan yang aku miliki untuk bersabar, bahkan saat puluhan temanmu mencaci aku dan melumuri aku dengan segala fitnah yang menyedihkan. Kamu mencintaiku karena aku tidak menuntut banyak hal darimu. Kamu mencintaiku karena suaraku selalu berhasil membuatmu tidur, terutama jika aku memperdayai kamu dengan lagu Somewhere Over The Rainbow atau lagu Raisa yang berjudul Kali Kedua. Kamu mencintaiku karena kita berbeda dalam segala, namun perbedaanku sepenuhnya mampu melengkapimu. Kamu mencintaiku, tentu karena aku hanya mampu menangis dalam pelukmu, ketika kamu berkata sudah punya kekasih. Kamu mungkin semakin mencintaiku di hari itu, saat berjam-jam aku hanya mampu menangis hingga mataku bengkak. Hari itu, mungkin duniamu menggelap, karena pada akhirnya kamu menyadari, ada orang yang sungguh mencintaimu, namun gadis itu datang di waktu yang salah.

Aku adalah kesalahan yang ingin terus kamu ulang. Sementara kamu adalah kesalahan yang tidak ragu aku buat berkali-kali. Kita punya banyak kesamaan juga perbedaan, tapi perasaan yang memenuhi kita berdua mampu mengubah segala ledakan menjadi paduan suara termerdu yang pernah kita dengar. Suaramu adalah nada sumbang kesukaanku, tetaplah begitu sampai Tuhan mengizinkan kita kembali bertemu.

Dan, di pukul empat pagi ini, sambil menunggu jam lima untuk lari pagi, aku masih menyimpan harap-- bahwa kamu akan tiba-tiba muncul di dekat rumahku, hanya untuk mengajakku makan bubur ayam; seperti sepuluh hari yang lalu. Kamu selalu tahu cara membuatku bahagia dan tersenyum, jadi plis jangan pakai anting putih di telinga kirimu, yang membuat aku marah sepanjang jalan saat kita mencari bubur ayam.

Terakhir. Aku mencintaimu. Hanya itu yang kutahu. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tetap ikut aturan mainmu. Tetap bahagia dalam rahasia kita.


Untuk pria bermata sipit,
yang menyediakan "tempat persembunyian",
paling menyenangkan.

*****

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)

26 July 2016

#NovelSpyInLove TERBIT! :)


Judul Buku: Spy In Love
Penulis: Dwitasari
Berdasarkan Skrip Film: Danial Rifki
Harga: Rp44.000
Penerbit: Bentang Pustaka
Bisa dibeli di Toko Buku: Gramedia, Togamas, TM Bookstore, dan Gunung Agung

"Maukah kamu jatuh cinta lagi, jika pernah merasakan yang namanya dikhianati?"

SINOPSIS BUKU "SPY IN LOVE" - Kau dan aku seharusnya satu. :) 

Hotel di tepi pantai Pulau Penang! Aku tak sabar memulai hidup baru bekerja di hotel impian. Ternyata Tuhan masih sayang kepadaku, setelah beberapa waktu lalu memberikan ujian yang kukira tak akan bisa terlewati. Eh, atau memang belum terlewati? Coba, siapa yang tidak putus asa jika ditinggal menikah kekasih dengan teman sendiri?

Dan, di sinilah aku sekarang. Berharap angin laut Penang bisa menerbangkan sisa patah hatiku. Tapi, belum apa-apa, aku sudah terlibat lagi dengan urusan laki-laki! Putra, lelaki itu sebenarnya menarik, tapi ia terus berada di dekatku seperti seorang penguntit. Ia juga sering memergokiku dalam keadaan yang memalukan. Apa yang diinginkannya dariku?

Ish, aku harus berhati-hati agar tidak selalu berurusan dengannya, apalagi sampai jatuh cinta. Eh, kenapa aku sampai berpikir begitu? Tidak, tidak! Ah, pokoknya aku tak mau jatuh untuk kali kedua!

CARA PEMESANAN ONLINE #NovelSpyInLove

1. ADD LINE: @mizanstore (pakai @) atau klik ini
2. Isi format pemesanan yang diberikan admin @mizanstore
3. Lakukan pembayaran bisa via transfer
4. Duduk manis dan tunggu bukunya sampai di rumah kamu.

Kamu juga bisa pesan bukunya di toko buku online di bawah ini:

1. Buku Kita
WA/SMS: 081285000570
Pemesanan via website, klik di sini

2. Buka Buku
SMS/WA: 08988899950
PIN BB: 53303675
LINE: bukabuku
Pemesanan via website, klik di sini

3. Teman Buku
WA/LINE: 085722096918
BBM: 7D1AD62E
Pemesanan via website, klik di sini

4. Kupu-kupu Buku
SMS/WA: 082126981310
BBM: 547A4DF4
Pemesanan via website, klik di sini


Terima kasih dan selamat berburu #NovelSpyInLove :) Buku terbatas dan jangan sampai kehabisan yap~ :*

23 July 2016

Aku berharap Tuhan mengembalikanmu ke dalam pelukanku

Baca sebelumnya: Aku sudah cukup bahagia menatapmu dari sini.

Aku duduk di kafe tempat pertama kali kita bertemu. Sambil memandangi hujan di langit Cibinong malam ini, aku turut menyelesaikan deadline untuk novel keduabelas yang berjudul Promise. Pemilik kafe tadi, yang temanmu itu, selalu bertanya mengapa aku tidak datang ke sini tanpamu. Dan, seperti biasa, aku hanya menjawab dengan senyum, berkata kalau kamu sedang sibuk. Namun, sampai kapan aku harus berbohong pada siapapun yang bertanya tentangmu? Haruskah aku berkata jujur bahwa kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar, setelah kita bertemu beberapa hari yang lalu, di hari ketika Portugal memenangkan EURO 2016. Haruskah aku berkata pada mereka, yang menanyakan kamu, bahwa aku tidak lagi mengetahui kabarmu, dan kita kembali jadi orang asing yang tidak saling kenal?

Aku sudah tahu ini akan terjadi. Saat aku menyapamu kembali, menanyakan apa oleh-oleh yang kauinginkan sepulang aku dari Jogjakarta. Kamu terlonjak bahagia, itu yang aku baca dari deretan chat kita. Aku bisa membaca kebahagiaan itu dari caramu menulis semua kalimat. Pada akhirnya, kita kembali bertukar sapa, setelah berbulan-bulan kita berpisah dan tidak lagi saling tahu kabar masing-masing. Kamu mau tahu apa yang terjadi saat itu? Pagi itu, setelah aku lari pagi di dekat Alun-alun Selatan, Keraton Jogjakarta, aku langsung bersiap menuju Dagadu. Aku memilih apapun yang pas untukmu, dengan harapan bahwa saat kita bertemu nanti, aku bisa melihat senyummu selebar mungkin.

Sepulang dari Jogjakarta, aku menikmati perjalanan selama dua puluh jam, sementara kamu menikmati EURO sampai tidak tidur. Sepanjang perjalanan, kita hanya menceritakan bagaimana pertandingan akan dimulai dengan seru, lalu kamu bercerita soal kekagumanmu pada Prancis, lalu kamu berbicara soal kemungkinan Portugal untuk menang, lalu kita berdua tenggelam dalam pembicaraan menyenangkan yang sama-sama kita rindukan. Aku menyimpan perasaan itu dalam-dalam, berbulan-bulan, andai kamu tahu, andai kamu mengerti.

Pada akhirnya, kita bertemu, dalam keadaan kita tidak tidur semalaman. Aku bisa membaca betapa kelelahannya matamu. Kamupun tentu mampu membaca betapa sayunya mataku, mata yang selalu sulit menyembunyikan perasaan rindu padamu. Kamu memelukku dengan pelukan takut kehilangan, pelukan yang aku rindukan selama berbulan-bulan. Aku memelukmu dengan pelukan menyadari bahwa kamu tidak akan mungkin aku miliki.

Wahai kamu, pria bermata sipit yang senyumnya selalu kukagumi, aku senang bisa kembali menghabiskan hari bersamamu. Aku senang melihatmu lahap memakan Domino's Pizaa yang aku belikan untukmu, yang aku belikan dengan cara memutar di Pemda Cibinong, begitu riuh dan macetnya, hanya untuk membawakanmu delapan potong pizza. Biarlah. Aku terlampau jatuh cinta. Dan, semua kelelahan itu bukan berarti apa-apa selama aku bisa bersamamu.

Kita melewati hari dengan candaan dan makian khas aku dan kamu. Kamu merangkulku dengan berani dan dengan senang hati membuatkanku es cappucino. Aku meminum minuman buatanmu sambil menatap matamu yang terus mengawasiku. Aku menawari es itu agar kauminum juga, tapi kamu menolak. Aku ulurkan tanganku untuk menyentuh pipimu, menyentuh dahimu, menyentuh bibirmu, dan menyentuh rambutmu. Betapa aku rindu menatapmu sedekat ini, selama berbulan-bulan kita tidak bertemu, dan bisa menyentuhmu sehangat ini adalah kebahagiaan yang sangat aku syukuri.

Siang berganti menjadi malam, mengapa setiap aku bersamamu, waktu terasa bergerak begitu cepat? Hujan turun lagi di langit Cibinong. Lalu, kita menunggu hujan reda. Tidak ada yang banyak kita lakukan selain aku menertawai candaan Sule di televisi dan kita hanya menikmati berita malam yang membicarakan kemenangan Portugal. Kamu berkali-kali menyentuh rambutku, lalu percakapan kita bergerak menuju bisnismu, teman-temanmu, duniamu, dan hari-harimua yang begitu menyenangkan. Kamu turut menceritakan hari-harimu yang menggelap tanpa kehadiranku. Apa yang bisa aku lakukan? Aku bersandar di bahumu dan memegang setiap jemarimu. Aku tahu karena aku akan selalu kehilangan kamu, maka aku harus mensyukuri setiap detik yang kita miliki, sebelum aku kembali mengikhlaskan kamu pergi.

Malam itu, hujan kelihatan sudah berhenti. Kamu mengenggam jemariku untuk menaiki sepeda motormu. Baru beberapa menit aku memelukmu di atas sepeda motor, hujan kembali turun lagi. Bukan hujan yang aku takutkan sebenarnya, namun aku merasa dejavu. Aku pernah merasakan hujan bersamamu ketika kamu mengantarkanku pulang. Saat itu, aku seakan bisa menebak apa yang akan terjadi lagi di setelah ini.

Aku turun dari sepeda motormu. Dan, kamu menatapku dengan tatapan hangat. Bajumu sangat basah, sama basahnya dengan bajuku. Kamu memelukku sesaat dan kemudian kamu berlalu dengan cepat. Kutatap punggungmu dari belakang, hingga sepeda motormu menjauh. Ada kekosongan dan kehampaan yang aku rasakan. Belum berapa detik berlalu, namun aku sudah merindukan pelukmu.

Ini terjadi beberapa bulan yang lalu, saat hujan itu, kamu mengantarku pulang ke rumah. Aku tidak tahan dengan puluhan cercaan yang mengatakan bahwa aku murahan, lalu aku tidak kuat, kemudian melepaskanmu pergi. Padahal, mati-matian kamu meminta agar tidak aku lepaskan. Aku memintamu pergi, namun aku menyesal karena hari-hari tanpamu adalah kesedihan yang menyebalkan. Dan, apa yang aku katakan dejavu itu kembali terulang. Aku pernah kehilangan kamu dalam keadaan seperti itu dan kemarin aku harus kembali kehilangan kamu lagi, kali ini-- tanpa sebab dan alasan.

Malam itu, aku menatap punggungmu yang menghilang dari pandangan. Seakan kamu ingin memberitahu, bahwa aku harus siap kehilangan kamu kapanpun itu. Kita saling tahu, bahwa di antara kita tidak akan ada yang bisa saling memiliki. Kamu tidak akan mampu memilikiku dan aku tidak akan bisa memilikimu. Kita sudah sepakat untuk ini bahwa aku dan kamu harus saling menyembunyikan. Tapi, bisakah kaumenahan diri dari kutukan cinta? Kamu tidak bisa memilih harus jatuh cinta dengan siapa. Cinta tidak pernah salah, tapi dia bisa datang terlambat.

Kamu selalu bilang bahwa aku datang ke hidupmu sangat terlambat, meskipun kamu sangat mencintaiku, namun bukan berarti kita bisa punya akhir menyatu. Malam itu, aku menatap punggungmu menjauh. Hujan turun semakin deras. Dan, aku lepaskan kamu dari pelukanku. Aku ikhlaskan kamu menuju peluknya. Sambil berharap kamu tahu, aku tetap akan menunggumu, meskipun aku tahu kekasihmu tidak akan melepaskanmu.

Aku tetap akan menunggu kamu kembali ke dalam pelukanku. Karena aku yakin, kamu selalu tahu, ke mana kauharus pulang.

Koko, aku rindu kamu,
Bisakah kamu buatkan aku semangkuk mie ayam,
untuk perempuan yang hanya menjatuhkan air matanya--
untukmu?

Baca lanjutannya di:

******

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)

12 June 2016

Aku sudah cukup bahagia menatapmu dari sini

Baca Sebelumnya: Perasaan yang masih sama.

Aku benci mengingat bagaimana caramu tersenyum. Aku benci menyadari bahwa senyum itulah yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta dan terpana. Aku benci mengingat setiap lekuk wajahmu, bagaimana mata sipitmu, rahang bulatmu, dan bibirmu yang semakin menghitam karena rokok itu entah mengapa telah menjadi pemandangan favoritku. Aku benci menerima kenyataan bahwa hari ini, aku tidak lagi punya kesempatan untuk memandangimu.

Setelah aku memintamu pergi, tentu ada yang berbeda di sini. Kamu tidak tahu hari-hari penuh ketakutan yang aku lewati tanpa membaca pesan darimu. Kamu tidak mengerti hari-hari yang kurasa semakin sepi karena tidak lagi mendengar suaramu di ujung telepon. Kamu tidak paham betapa aku merindukan caramu memelukku, caramu merangkulku, caramu menenangkan bahwa dunia tidak akan meledak, dan aku percaya begitu saja pada kata-katamu seakan kamu telah membaca semua pertanda dalam hidupku.

Aku percaya begitu saja, saat kamu bilang cinta, dan mengajakku untuk menjadi yang kedua. Aku percaya begitu saja, ketika kamu membisikan cinta di telingaku, di hujan yang menderas sore itu, sambil memelukku dan meyakinkan diriku bahwa aku tidak akan pernah kehilangan kamu. Aku menerima begitu saja, ketika kamu mengutamakan kekasihmu, kemudian menomorduakan aku. Aku menurut begitu saja, ketika kamu menyembunyikan aku dari sorotan mata dunia, ketika kamu menyembunyikan aku dari sahabat-sahabatmu, pun saat pertemuan kita harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Aku percaya begitu saja, padamu, aku terlalu percaya padamu, terlalu jatuh cinta padamu-- dan di situlah masalahnya.

Aku percaya kamu akan membahagiakanku, dengan segala macam ketulusan, yang di mataku, pada awalnya adalah cinta. Aku percaya sepenuh hati, bahwa sebenarnya kamu hanya mencintaiku, namun kamu tidak mungkin meninggalkan kekasihmu karena hubungamu dengannya sudah lebih dulu adalah sebelum hubunganku denganmu. Aku percaya, semua rasa mengalah yang aku berikan, semua air mata yang terjatuh saat aku memelukmu dengan perasaan rindu itu, akan segera berganti menjadi kedamaian seutuhnya. Aku tidak tahu, mengapa aku percaya begitu saja, dalam dirimu, kulihat sosok yang sama dengan diriku, hanya saja kamu laki-laki dan aku perempuan. Aku jatuh cinta padamu karena aku merasa sedang mencintai diriku sendiri. Aku percaya padamu dan telah menjadikanmu separuh dari diriku, setelah memutuskan untuk meninggalkanmu, aku benar; memang pada akhirnya aku kehilangan setengah dari diriku. Aku kini menjalani hari, sebagai aku yang tidak utuh.

Sehari setelah memintamu pergi, masih kurasa ketidakyakinanku untuk meninggalkanmu. Hal itu pun masih terjadi, ketika seminggu kamu tidak lagi menghubungiku, ketika semua tentangmu telah kuhapus dari memori ponselku. Seringkali, terbesit dari pikiranku untuk memintamu kembali, tetapi aku pada akhirnya sadar diri, aku tidak bisa selalu berada di antara dua hati. Aku akan jadi pendosa paling bodoh jika menginginkan kamu mengakhiri hubunganmu dengan kekasihmu, demi memulai hidup baru bersamaku. Aku tidak sekuat itu dan aku tidak ingin sejahat itu.

Kamu ingat? Malam hari, pukul dua belas malam, ketika kita bertengkar hebat kala itu, kamu mengutarakan rasa kecewamu karena kamu merasa aku telah melanggar peraturan. Kamu merasa aku mulai berbahaya untukmu dan untuk hubunganmu dengan kekasihmu. Kamu bilang bahwa kamu tidak suka ketika kisah kita kutuangkan dalam semua tulisan di-blog-ku. Kamu marah ketika aku sepolos itu menceritakan rasa sakit hatiku dalam seluruh tulisan di sosial mediaku. Kamu memintaku menghentikan semua dan kita berjalan dengan alur serta peraturan yang kamu buat sendiri.

Kamu tahu, malam itu, aku membaca pesanmu dengan perasaan hancur. Hari itu, aku menyadari bahwa sebenarnya kamu tidak membutuhkanku lebih dari sekadar teman yang mengisi kekosonganmu. Malam itu, ketika kamu memintaku tidak lagi menulis tentangmu, aku menyadari bahwa cerita kita tidak akan tamat dengan akhir bahagia. Dan, kubalas pesanmu, dengan kejujuran yang aku simpan sendiri. Kujawab mengapa aku hanya berani menuangkan kesedihanku dalam semua tulisanku, karena aku tidak mungkin menceritakan sosokmu pada siapapun, karena aku tidak mungkin menceritakan betapa bahagianya mencintaimu pada sahabat-sahabatku. Mereka yang tahu, pasti menyuruhku untuk segera melepasmu pergi, sedangkan di titik itu, aku sedang dalam keadaan sangat mencintaimu.

Menulis tentangmu adalah caraku untuk menyembunyikanmu, sebenarnya. Hal itulah yang tidak kamu mengerti. Kamu terlalu takut kehilangan kekasihmu, hingga melarangku untuk melakukan segalanya yang kaurasa bisa membahayakan hubunganmu dengan kekasihmu. Kamu terlalu takut ditinggalkan kekasihmu, karena menurut pengamatanmu, kekasihmu telah mengendus apa saja yang telah terjadi dalam hubungan kita. Kamu terlalu percaya diri, bahwa anggapan aku mulai berbahaya buatmu adalah anggapan yang benar. Kamu terlalu takut kehilangan kekasihmu, tapi kamu tidak pernah terlalu takut untuk kehilangan aku.

Karena bagimu, untuk mendapatkan perempuan sepertiku, bisa kamu lakukan dengan jentikan jari. Karena bagimu, untuk mendapatkan teman senang-senang, yang bisa kaupeluk dan kaurangkul, bukanlah hal yang sulit dilakukan. Sayangnya, aku terlalu bodoh menyadari di awal. Aku tidak bisa sejahat untuk menganggapmu hanya sekadar teman senang-senang. Aku tidak bisa untuk tidak melibatkan perasaan dalam hubungan kita. Apalagi di dukung oleh caramu yang serius menatapku, caramu berkata cinta padaku, caramu memelukku dengan pelukan tidak ingin kehilangan.

Aku tidak bisa menjadi jahat ketika aku jatuh cinta padamu, meskipun dari awal kamu telah begitu jahat untuk menjadikanku, bahkan memintaku jadi yang kedua. Namun, sebenarnya, saat aku mengiyakan ingin dijadikan yang kedua, hari itu juga sebenarnya aku sudah menjadi setan jahat, yang cepat atau lambat akan menyakiti kekasihmu. Hari itu, aku berpikir, sah-sah saja menjadi yang kedua, karena kekasihmu tidak bisa menyediakan waktunya bahkan hanya untuk mengingatkanmu agar tidak telat makan.

Rasa takut untuk terus menjadi jahat telah membayang-bayangiku. Aku bahkan ingin sepenuhnya memilikimu, aku bahkan tidak ingin pelukmu kauberikan untuk wanita lain, aku bahkan ingin meraup habis seluruh waktumu agar aku bisa menjadi duniamu. Aku menyerah menjadi orang jahat, karena berjalan dalam ketakutan akan kehilanganmu setiap saat bukanlah hari-hari yang menyenangkan untuk dijalani.

Aku memilih mengakhiri, melepaskanmu pergi, dan hidup dengan rasa sakit hatiku sendiri. Malam hari, ketika aku memintamu pergi, kamu berkata bahwa tidak hanya aku yang terluka, tetapi kamupun merasakan luka yang sama. Aku yakin, itu hanyalah kalimat penghiburan semata, karena kamupun juga kaget ketika tahu ternyata aku punya kekuatan sebesar itu untuk meninggalkanmu. Kamu tentu begitu percaya diri bahwa aku tidak akan memintamu pergi dan bertahan menjadi yang kedua. Tapi, wahai Sayangku-yang-aku-cintai-karena-kelemahanmu-itu, aku ingin memberitahu padamu, rasa memiliki dirimu kian hari kian besar, rasa ingin menghancurkan hubunganmu dan kekasihmu semakin tergambar jelas di otakku, iblis dalam diriku kian menguat dan bertumbuh. Kita mengawali semua dengan buruk, dan inilah saatnya aku mengakhiri semua dengan baik.

Melepaskanmu pergi adalah keputusan yang kupilih. Kamu berkata tidak hanya aku yang terluka, tapi kamupun juga terluka. Namun, nyatanya, perkataanmu tidak terbukti sama sekali. Kamu tetap bahagia dengan kekasihmu dan bisa menganggap aku tidak pernah ada dalam hidupmu. Tapi, aku berjalan sendirian, meninggalkan kamu yang di belakang, dan kembali menata hatiku yang telah kauhancurkan. Jadi, aku tidak perlu berpanjang lebar, siapa yang sebenarnya paling sakit di sini.

Aku tidak ingin menjadi jahat lagi. Karena aku cukup bahagia menjadi aku yang sekarang. Aku sudah cukup bahagia, melihatmu tetap bahagia bersama kekasihmu, dan tidak lagi membutuhkan pelukku. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan menatapmu dari jauh. Aku sudah cukup bahagia merawat luka dengan tanganku sendiri.

Aku percaya, Tuhan akan menyembuhkanku. Aku percaya, waktu akan memperbaiki semua. Kamu tentu penasaran mengapa dulu aku bersedia dijadikan yang kedua. Alasan terkuat yang membuatku ingin menjadi kekasihmu adalah karena aku ingin mengenalkan betapa Tuhan menyediakan keajaiban lebih dari apa yang bisa kamu miliki hari ini. Aku terheran-heran saat kamu telah menjalani hubungan bertahun-tahun dengan kekasihmu dan dia tidak mengenalkan agama padamu. Aku terheran saat aku mengajakmu berdoa, saat itu kamu malah menyemburkan seluruh asap rokokmu ke wajahku, dan mengejekku ketika aku selesai berdoa.

Alasan terkuat untuk bersamamu adalah aku ingin mengajakmu pulang, tapi aku tidak bisa memaksa orang yang sudah terlalu jauh pergi untuk kembali ke ke rumah yang harusnya dia tempati. Jika bagimu kekasihmu adalah jalan pulang yang tepat, silakan lakukan dan jalani sebisamu, sebelum pada akhirnya kamu menyadari-- aku adalah jalan pulang yang harusnya sejak dulu kamu ikuti.

Nikmati rumahmu hari ini, sebelum pada akhirnya kamu menyesal dan menyadari, bahwa hanya aku rumahmu untuk kembali.

Dari perempuan,
yang mencintaimu,
dan selalu takut kehilangan kamu.

Baca lanjutannya:

******

Sudah punya buku Dwitasari yang judulnya apa saja? Yuk, baca informasi buku Dwitasari di sini :)