09 May 2012

Seminggu Setelah Kepergianmu

Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telingaku. Tak ada lagi genggaman tanganmu yang menguatkan setiap langkahku. Tak ada lagi pelukanmu yang meredam segala kecemasan. Tanpamu... semua berbeda dan tak lagi sama.

Aku membuka mata dan berharap hari-hariku berjalan seperti biasanya, walau tanpamu, walau tak ada kamu yang memenuhi hari-hariku. Seringkali aku terbiasa melirik ke layar handphone, namun tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu dengan beberapa emote kiss yang memasok energiku. Pagi yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang.

Lalu, aku menjalani semua aktivitasku, seperti biasa, kamu tentu tahu itu. Dulu, kamu memang selalu mengerti kegiatan dan rutinitasku. Namun, sekarang tak ada lagi kamu yang berperan aktif dalam siang dan malamku. Tak ada lagi pesan singkat yang mengingatkan untuk menjaga pola makan ataupun menjaga kesehatan. Bukan masalah besar memang, aku mandiri dan sangat tahu hal-hal yang harusnya aku lakukan. Tapi... kamu tentu tahu, tak mudah mengikhlaskan perpisahan.

Rasa ini begitu absurd dan sulit untuk dideskripsikan. Kamu membawa jiwaku melayang ke negeri antah-berantah, dan mengasingkan aku ke dunia yang bahkan tak kuketahui. Aku bercermin, memerhatikan setiap lekuk wajahku dan tubuhku. Aku tak mengenal sosok di dalam cermin itu. Tak ada aku dalam cermin yang kuperhatikan sejak tadi. Aku berbeda dan tidak lagi mengenal siapa diriku. Seseorang yang kukenal di dalam tubuhku kini menghilang secara magis setelah kepergian kamu. Kamu merampas habis cinta yang kupunya, melarikannya ke suatu tempat yang sulit kujangkau. Entah di mana aku bisa menemukan diriku yang telah hilang itu. Entah bagaimana caranya mengembalikan sosok yang kukenal itu ke dalam tubuhku. Aku kebingungan dan kehilangan arah.

Ingin rasanya aku melempari segala macam benda agar bisa memecahkan cermin itu. Agar aku tak bisa lagi melihat diriku yang tak lagi kukenal. Agar aku tak perlu menyadari perubahan yang begitu besar terjadi setelah kehilangan kamu. Aku bisa berhenti memercayai cinta jika terlalu sering tenggelam dalam rasa frustasi seperti ini. Aku mungkin akan berhenti memercayai lawan jenis dan segala janji-janji tololnya. Siksaanmu terlalu besar untukku, aku terlalu lemah untuk merasakan semua rasa sakit yang telah kausebabkan.

Bagaimana mungkin aku bisa menemukan seseorang yang lebih sempurna jika aku pernah memiliki yang paling sempurna?

Aku benci pada perpisahan. Entah mengapa dalam peristiwa itu harus ada yang terluka, sementara yang lainnya bisa saja bahagia ataupun tertawa. Kamu tertawa dan aku terluka. Kita seperti saling menyakiti, tanpa tahu apa yang patut dibenci. Kita seperti saling memendam dendam, tanpa tahu apa yang harus dipermasalahkan.

Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan jam telah menemukan yang baru. Bagaimana mungkin aku harus menyebut semua adalah wujud kesetiaan? Begitu sulitnya aku melupakanmu, dan begitu mudahnya kamu melupakanku. Inikah caramu menyakiti seseorang yang tak pantas kaulukai?

Jam berganti hari, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Aku tak menyangka, begitu mudahnya kamu menemukan pengganti. Begitu gampangnya kamu melupakan semua yang telah terjadi. Aku hanya ingin tahu isi otakmu saja, apa kamu tak pernah memikirkan mendung yang semakin menghitam di hatiku? Atau... mungkin saja tak punya hati?

Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Aku mulai suka air mata yang seringkali jatuh untukmu. Aku mulai menikmati saat-saat napasku sesak ketika mengingatmu. Aku mulai jatuh cinta pada rasa sakit yang kauciptakan selama ini.

Terima kasih.

Dengan luka seperti ini. Dengan rasa sakit sedalam ini. Aku jadi tambah sering menulis. Lebih banyak dari biasanya.

Aku semakin percaya, bahwa Kahlil Gibran butuh rasa sakit agar ia bisa menulis banyak hal.

Sama seperti aku, butuh rasa sakit agar bisa lancar menulis... terutama yang bercerita tentangmu.

113 comments:

  1. Bagaimana mungkin kita tau yang terbaik,
    padahal bahkan belum tuntas perjalanan ini.
    mungkin hanya keyakinan yang bisa menemani langkah kaki, bahwa inilah yang terbaik.


    Yup,selama kita yakin apa yg kita hadapi ini yg terbaik, merasakan jg ketika sakit, justru itu yg mmbwt dapat bnyk plajaran. Yang tak didapat saat berbaju kmudahan dan klapangan.

    ReplyDelete
  2. dia memang begitu menyejukkan. memberi semangat. memberi energi.
    namun dia pergi dengan alasan. dia ingin kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih tegar.
    tetap mencintai dan jangan pernah membenci, itu indah;-)

    aku selalu suka tulisanmu. akupun seperti kamu.
    merasakan sakit lalu menulis, itu mengasikkan:-D

    ReplyDelete
  3. Hy dd Dwitasari sayang..
    Kamu penulis yang aku akuin 4jempol..
    setiap ketikan jarimu selalu membuat air mataku terjatuh..
    salut buat kamu sayang, semoga Tuhan selalu menyertaimu..
    good luck dear..
    Teruskan bakatmu..
    Semoga apa yang engkau cita"kan terkabulkan, amien :)

    ReplyDelete
  4. wuihhh,,, mirip kisahkuuu nechhh,,,, nyentuh buanget :'(

    ReplyDelete
  5. aku ijin repost k.facebook ya.. tapi aku cantumin ntr link blog ini ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ak juga ya kaka izin repost :)

      Delete
  6. Seperti yg ku alami. :'(

    Boleh izin share?

    ReplyDelete
  7. sumpah , kereeeen bangeeet ka :)

    ReplyDelete
  8. menyentuh......pas...ngena denagn yang z alami sekarang.

    tulisan dwi bagus sekali, semngat dan lanjutkan...

    http://cerminburam.blogspot.com/

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Kereeen kakaak :D aku suka. Kata-katanya dalem banget :)

    ReplyDelete
  11. seperti rasa ini yang begitu dalam, pada rasa pesimis duka yang begitu dalam .....

    :(

    ReplyDelete
  12. I'm following you, check out my blog and if possible also follow me http://blogoficialdovinicius.blogspot.com.br

    ReplyDelete
  13. kereeeeeeeennnn...pas bangetttttt :'))

    ReplyDelete
  14. Keren banget.
    Izin share ya kak.

    ReplyDelete
  15. Dan harus seberapa lama untuk melupakan semua rasa sakit it

    ReplyDelete
  16. pas bgtbgt kak, jadi inget someone :'D
    ijin share yaaa :")

    ReplyDelete
  17. aku pernah merasakan ini.
    rasanya sama persis seperti yang pernah aku rasakan.

    terus menulis.
    aku suka tulisanmu

    ReplyDelete
  18. woow.. keren dan sangat mengharukan :")

    ReplyDelete
  19. Asli keren banget tulisannya. katakatanya ngena banget (y) :')

    ReplyDelete
  20. suka sama semua tulisannya :D inspiratif sekali

    ReplyDelete
  21. ini keren kak :) aku suka, kita sama. bisa menulis saat merasakan sakit :)

    ReplyDelete
  22. baru pertama kali ini baca..
    bagus banget tulisan^nya,,
    seperti yg ku alami..
    tanggal yg sama.. :')

    ReplyDelete
  23. pas bgt sm apa yg gw rasain :'')

    ReplyDelete
  24. Mantap
    Ijin share Ɣåå S̤̈̊Ɣ

    ReplyDelete
  25. keren kali say, izin ngepost ya, aku cantum link kok

    ReplyDelete
  26. ngebaca tulisan di blog ini, berasa bener" ngena di hati. nice :)

    ReplyDelete
  27. keren banget beneran! pas! rasa sakit bikin orang suka nulis..

    ReplyDelete
  28. dia pergi dariku dengan alasan aku terlalu baik untuknya...alasan macam apa itu? dia tidak tahu bagaimana rasanya selalu mengalah di setiap pertengkaran kami... *curcol
    tulisan kamu bagus bagus! dan yang ini sama persis seperti kisahku :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. terkadang menjadi "terlalu baik" itu adalah sebuah kesalahan yang terindah :)

      Delete
  29. kereen :D
    ijin repost ya kaak :"

    ReplyDelete
  30. cerita cinta memang tak selalu indah.
    belajar dari apa yang telah terjadi.

    ReplyDelete
  31. dan sampai sekarang pertanyaan besar atas kepergianmu yang serba mendadak menghiasi setiap hariku. yaa, aku butuh jawaban itu. jawaban yang bisa membuatku tenang menjalani sisa hidupku tanpamu.

    ReplyDelete
  32. Apa masih pantas sebuah airmata menetes untuk seseorang yang takpernah berfikir balik tentang perasaan kita?
    Apa masih pantas mendengarkan alunan musik yang bermaksutkan dia ? Seharusnya jika ia baik ia tak akan membuat kita merasa terluka seperti ini dan menangis sejadijadinya..

    ReplyDelete
  33. :') luka adalah awal bahagia,yakini itu
    nyesss banget

    ReplyDelete
  34. SUKSES BIKIN NANGIS SEJADI-JADINYA
    IJIN COPY YA

    ReplyDelete
  35. jatuh cinta sama semua tulisannya kak Dwita :))

    ReplyDelete
  36. jatuh cinta sama semua tulisannya kak Dwita :))

    ReplyDelete
  37. bagus kak setiap tulisan kaka menginspirasi aku memang setiap kita merasakan luka pasti semakin banyak tulisan yang kita torehkan.
    aku hobby nulis ka semoga bisa jadi penulis kaya kaka :)

    ReplyDelete
  38. hilang, pasti sakit
    setelah kita menyadari kepergiannya, rasa sakit itu semakin menjadi,

    dan tak ada lagi rasa percaya untuk cinta yang baru,
    hanya waktu, dan diri sendiri yang membuat kita kuat

    ReplyDelete
  39. Sebelumnya, Kak dwitasari, makasih banget buat tulisan-tulisanmu yang hampir tidak berbeda dengan kisahku.

    (Untuknya : Bersama adalah yang terbaik, bahagia akan ada sejalan dengan kebersamaan yang diiringi dengan pengertian.Jika memang dasarnya cinta, keputusan seharusnya mempertimbangkan berbagai kemungkinan, bukan siapa yg berkorban/dikorbankan. Dan Seharusnya saat dalam masalah hati dan pikiran berjalan sejalan demi sebuah keputusan yang tidak menyakitkan. :')
    Kamu ga ngelihat ketulusan dari perasaan aku ini? Kamu ga merasakan cinta dari semua ini? Hati kamu ga bergetar saat baca kembali tulisan2 kamu?

    Aku gakuat, air mata itu jatuh. Bagaimana bisa aku melepas perjuangan aku. Bagaimana bisa aku melepas rasa yang kurasa itu tulus dan ikhlas :(

    Terimakasih :'). )

    ReplyDelete
  40. Terkadang, kita harus sedih agar tahu rasanya senang, dan agar kita selalu ingat untuk bersyukur atas apa yang kita punya, apapun itu bentuknya..

    Semangat kak Dwita!! :))

    ReplyDelete
  41. kerenn kak :) bikiin nangisss
    ijin share ya kak :)

    ReplyDelete
  42. Bagus banget kak , bikin nangis :')

    ReplyDelete
  43. Sederhana tapi ngena banget :")

    ReplyDelete
  44. kena bgt di hati.. crita'a pas bgt :'(

    ReplyDelete
  45. aku izin copy yaa, ttp masukin nama kakak dwitasarinya kok:)

    ReplyDelete
  46. bagus bnget, izin share yaa :)

    ReplyDelete
  47. Setuju. Disaat hati ini sakit, maka tangan yang bekerja. Karna bibir udah gak sanggup untuk menjelaskan betapa sakitnya hati ini.

    ReplyDelete
  48. aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal, aku juga tidak akan memintamu untuk menyayangiku melebihi kemampuanmu. oleh sebab itu, aku membiarkamu pergi,
    namun, haruskah air mata yang tak seharusnya kau ciptakan ini kuperlukan untuk melepasmu?

    ReplyDelete
  49. Inspirasi buangeeeet ini aokaokkkk;;)(y)
    yang lain blogwalking ke http://windanggraini.blogspot.com/ ya makasih:-)

    ReplyDelete
  50. pas banget baru sekitar seminggu aku putus, terus kakak nulis ini
    nyesek banget :'(
    ijin share kakak

    ReplyDelete
  51. Semua itu akan hanyalah akan menjadi sebuah kerinduan :') dan berusaha tegar menerima kenyataan bahwa kau tak lagi ada di sampingku :')

    ReplyDelete
  52. ijin share juga ya kak dwita :)
    keren banget tulisannya. bikin sedih, jadi keinget 'dia' yang dulu juga pernah nyakitin aku :')

    ReplyDelete
  53. keindahan ragamu, ketulusan hatimu, kesetiaan cintamu. ketakutanku kini tak kutemukan lagi pengganti seperti dirimu

    ReplyDelete
  54. Sumpah!! Bikin flashback banget nih cerita :')

    ReplyDelete
  55. keren banget kak : ) izin share ya kak

    ReplyDelete
  56. eren banget kak beneran :') nyentuh banget

    ReplyDelete
  57. ka dwitasari ceritanya nge-feel semua :) pengen deh besok kayak kakak :) tetap berkarya ya kak --"

    ReplyDelete
  58. feel banget ka dwitasari :) tetap berkarya ya kak --" bangga jadi fans kakak {}

    ReplyDelete
  59. sama seperti yang aku alamin kak :') sakitnya luar biasa huhu

    ReplyDelete
  60. lagi baca tibatiba aja netes :')

    ReplyDelete
  61. Jleb bgt ini ka:') aku share fb yah:D

    ReplyDelete
  62. Semua itu sakit :')
    Begitu cepat dia melupakanku, sedangkan aku hanya bisa mengharapkannya kebali padaku :') semua memang takdir yg tak bisa ku ubah :')
    Cinta ini tak akan pernah mudah hilang oleh semua rasa sakitku.
    Kau yg paling sempurna dan akan selamanya sempurna di hatiku :')

    ReplyDelete
  63. Love bgt sm artikel yg ini!<3

    ReplyDelete
  64. Kamu tertawa sedangkan aku terluka

    Kamu begitu mudah mendapatkan seorang wanita..dan tertawa bebas bersamanya
    Sedangkan aku dsni msh memendam luka , apakah sbnarnya kau tak punya hati ?

    Apa kau lupa bagaimana kita bersama tertawa bahgia ?
    Tuhan.. ini begitu amat sakiit :')
    Apakah pengorbanan ku hanya sampah ??!!

    Kk aku suka banget artikel ny..ini sma sperti yg aku alami, seseorg yg selingkuh .

    ReplyDelete
  65. kisah ini begitu mirip dengan kehidupanku dengannya :') bahkan memang mirip

    ReplyDelete
  66. Merelakan bukan brrti mnyerah , lebih menuju kepada mnyadari bahwa ada hal-hal yg tak bisa didapatkan ..

    ReplyDelete
  67. hai, radit bisa baca ini bentaaaaaaaaaaar aja gak? :"D

    ReplyDelete
  68. hai, radit bisa baca ini bentaaaaaaaaaaar aja gak? :"D

    ReplyDelete
  69. ini aku banget....... syediiiih:'( thanks a lot kak.. postingannya serasa milik aku.. soalnya aku bgt bangeeeeeeeet♥♥♥♥♥♥♥·♥♥

    ReplyDelete
  70. Aku banget kaaa :') ijin repost yaa, aku cantumin linknya kok :)

    ReplyDelete
  71. gila ini persis apa yg gue alamin, makjleb bgt sumpah :')

    ReplyDelete