23 May 2014

Berjanjilah, Kamu tidak akan Pergi

Saat mengetahui sosokmu harus meninggalkan Jakarta, aku hanya bisa gigit jari. Di otakku sudah terbayang betapa kerasnya rindu yang menyesakkan dada jika aku tak lagi melihatmu di layar kaca. Aku sudah membayangkan, hari-hari berikutnya aku tentu hanya memperhatikan channel Youtube dan mencari-cari sosokmu di sana, mengobati rindu dengan cara konyol. Aku tentu bisa menikmati senyummu, medokmu, suara beratmu, behelmu, kulit hitam manismu, terutama alunan biolamu; tapi semua maya, tidak nyata.

Aku telah lama mengagumimu, diam-diam memperhatikan televisi hingga larut malam hanya untuk melihatmu membuat seluruh orang di Indonesia tertawa. Sayangnya, kepolosan ini tak mungkin tersentuh oleh sosokmu yang telah punya banyak penggemar, bergelimang pujian, penuh dengan bujuk rayu hangat para fansmu. Aku ini siapa? Aku hanya gadis pemimpi yang mengagumi sosok sempurna sepertimu. Aku hanya perempuan biasa yang senang menulis tentangmu dan begadang sampai pagi demi melihat semua videomu. Aku ini hanya satu dari jutaan orang yang mencintai kamu dan cinta yang sederhana serta nampak kecil ini tentu akan tertutupi oleh jutaan cinta yang menderas mengalir untukmu.

Dari dulu, aku tak pernah berharap kita bisa dekat, namun Tuhan memutarbalikkan semua. 20 Mei 2014, mention-ku ternyata dibalas olehmu. Aku yang telah lama menyadari bahwa sosokmu telah lama diam di hati; langsung tertawa geli. Apakah ini bukan mimpi? Lalu, semua berlanjut dengan percakapan manis diselipkan beberapa emoticon yang rasanya tak bisa lagi kupercaya. Serius ini kamu? Kamu yang selama ini kugilai setengah mati? Kamu yang sosoknya selalu kupantau hanya dari layar kaca? Kamu yang kupikir tak akan tersentuh dan terjamah? Iya, kamu. Dan, aku mengikuti gayamu mengucapkan kalimat magis itu, dua kata yang selalu berhasil menghipnotis para penonton ketika mendengar suara beratmu mengantarkan pada ledakan-ledakan lucu, ledakan-ledakan rindu.

Setelah percakapan itu, kita lanjutkan pembicaraan lewat obrolan hangat di telepon. Kamu mungkin tak tahu, aku sangat berlebihan kala itu, air mataku mengalir tipis-tipis, aku sesenggukan tak karuan. Sesenggukan yang kaupikir drama, tangis yang membuat kamu tertawa. Suara medokmu menggelitik telingaku, kamu bercerita tentang profesimu selama menjadi guru, kita bercerita tentang Taylor Swift, tentang musik di masa Renaissance, kita membicarakan partitur musik Bach hingga Mozart, kita membicarakan cinta, berucap rindu, juga sesekali merendahkan nada saat saling mengungkapkan rasa ingin bertemu.

Aku merasa sudah mengenalmu, tapi di sisi lain kamu abu-abu, samar-samar, dan sulit kusentuh. Ksatria berbehelku adalah sosok misterius yang tak ingin bercerita tentang banyak hal, diam yang dia tunjukkan membuat aku semakin takut pada kehilangan. Rahasia yang tak ingin dia bagikan membuat aku semakin takut bahwa semua tak akan berakhir bahagia. Semua ketakutan itu harusnya tak perlu aku pikirkan. Dalam setiap percakapan, aku selalu merasa bahagia denganmu.

Kehadiranmu menghapus mendung kelabu hari-hariku, setiap kali kamu menyapaku, aku merasa ada matahari baru yang menyinari sudut hatiku. Wahai Mas Medokku, ketahuilah bahwa perasaan ini sudah mulai membunuh dan nampaknya aku mulai mencintai kamu. Tapi, sosokmu mengingatkan aku pada trauma yang telah sembuh, peristiwa yang terjadi saat aku masih jadi mahasiswi baru. Peristiwa ketika aku berkenalan dengan seorang pria seperti dirimu, yang kerjaannya mengundang tawa setiap orang, namun pada akhirnya dia meninggalkanku ketika aku dalam keadaan sangat mencintai dia. Aku bukan wanita yang pandai memaki dan menghakimi, aku hanya bisa mengabadikan dia dalam tulisanku yang berjudul "Dalam Tawa" di buku Jatuh Cinta Diam-diam. Aku harap kaubukan bagian dari pria yang berlomba-lomba menyakitiku. Aku harap kamu adalah sosok baru, malaikat pembawa kabar baik, yang membawa perubahan baru dalam setiap langkah dan hari-hariku. Ksatria pemain biolaku, maukah kauberjanji tetap di sini dan tidak akan meninggalkanku ketika aku dalam keadaan sangat mencintaimu?

Aku menunggu pertemuan nyata. Aku menunggu kamu dan aku menjadi kita.

untukmu yang tak percaya
cinta bisa hadir
tanpa tatapan mata.

6 comments:

  1. "aku hanya gadis pemimpi yang mengagumi sosok sempurna sepertimu" :'''

    ReplyDelete
  2. Dodit mulyanto comic SUCI 4 Kompas Tv,ya kan ka dwit ?

    ReplyDelete
  3. Ini buat dodit suci4 pasti kan kak ? :)

    ReplyDelete
  4. wah, pengen deh ceritaku di buat cerpen sama ka dwit :)

    ReplyDelete