29 January 2015

Apakah kita akan bertemu lagi? (3)

Lanjutkan petualanganmu, menjawab pertanyaan apakah selama ini yang kamu rasakan #SamaDenganCinta ? Sebelumnya baca: Apakah kita akan bertemu lagi? (2)


Kamu adalah kesalahan yang aku banggakan. Pertemuan tiba-tiba denganmu selalu aku anggap anugerah bagiku. Kamu adalah mozaik hilangku yang sebentar lagi akan aku temukan. Aku tersenyum sesaat, mobil melaju menuju Bandara Adisutjipto, hujan pagi itu cukup membuat hari ini merepotkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda motor. Beberapa bangunan kecil menjadi tempat berteduh bagi para pengendara sepeda motor. Sebentar lagi aku akan meninggalkan Jogja, kota paling indah di mataku hingga saat ini. Megah, sederhana, dan meneduhkan. Tempat aku ingin selalu kembali pulang.
Aku izin mendengarkan musik sebentar pada panitia yang sejak tadi mengajakku bicara. Aku masih sedikit butuh istirahat. Aku berusaha memejamkan mata dan merasapi lagu yang terdengar dari headset-ku. Taylor Swift, dengan suaranya yang melengking dalam lagu Enchanted cukup mendebarkan hatiku saat itu. Lagu itu membuat aku mengingat ketika aku pertama kali melihat bola mata Radit. Mata sipit yang cukup teduh untuk dipandang, di balik kacamata minus tiga. Hidung yang memang mancung dilengkapi dengan rahang yang tegas dan tak terlalu lonjong. Dia sangat tampan di mata gadis berumur enam belas tahun, tiga tahun yang lalu, saat aku baru selesai menerbitkan novel pertamaku. Ya, dia gambaran sempurna untuk gadis seusiaku waktu itu. Radit sangat laki-laki sekali.
Suara beratnya jangan ditanya, apalagi bisik napasnya ketika menyentuh telingaku. Jujur, dia berhasil membuat tubuhku lemas karena sentuhan yang tidak bisa diartikan oleh gadis seumuranku tiga tahun yang lalu. Saat itu aku berusia 16 tahun, dia 23 tahun. Dia dewasa, aku kekanak-kanakan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang remaja baru belajar dewasa ketika bertemu dengan pria dewasa yang selalu ada dalam gambaran mimpinya?
Aku menghela napasku, berusaha membangunkan diriku sendiri dari mimpi tentang Radit, tentang peluk hangatnya, tentang gaya bicaranya, tentang apapun yang aku anggap sempurna dari sosok Radit. Mataku kembali memandang jalan dan sesekali mengajak panita yang mengantarku untuk berbicara mengenai kuliah, mengenai kampus mereka, dan tentunya mengenai hal-hal yang sedang hangat dibicarakan di Jogja.
Sesampainya di Bandara Adisujipto, aku memberi pelukan hangat dan ucapan terima kasih karena panitia seminar tersebut telah menemaniku selama di Jogja. Tak lupa, kami beberapa kali melakukan selfie sebagai kenang-kenangan, sebagai penenang rindu. Aku melambaikan tangan sebelum memasuki ruang check in. Sambil mengantre di tempat check in, aku kembali membuka ponselku. Radit menyapaku dengan ramah dalam kotak chat.
“Jogja hujan terus. Hancur waktu nostalgia.” tulis Radit padaku.
Aku tersenyum beberapa saat sebelum membalas pesannya, ingin rasanya aku menumpahkan segala rasa rinduku sekarang, tidak lagi berpura-pura menjadi Sari, tidak lagi berpura-pura menjadi gadis yang tidak pernah mengenal Radit sebelumnya. Tapi, aku masih menahan diri, aku masih percaya bahwa jika aku mengaku kalau aku adalah Dwitasari, gadis 16 tahun yang dia kecup keningnya tiga tahun yang lalu, tentu saja dia akan marah. Aku tak yakin Radit mengecupku karena dia menyukaiku. Suasana saat itu sangat dingin, pelukan dan kehangatan tentu sangat dibutuhkan, kami terntu hanya terbawa suasana kala itu. Tak ada cinta bukan?
“Sampe di Bogor kayaknya juga bakalan sama, ya?” tanyaku pada Radit, dengan senyum sempurna di bibirku. Menunggu dengan penasaran apa yang selanjutnya akan dibalas Radit.
“Bogor kan emang kota hujan. Gimana, sih, lo?! Hahaha.” jawaban Radit terasa hangat bagiku.
Memang hanya tulisan, beberapa hari ini aku dan Radit hanya berhubungan via tulisan, via dunia maya, tetapi entah mengapa aku merasa ada kehangatan yang meledak di hatiku. Ada kebahagiaan kecil yang aku rasakan ketika bisa bercakap dengan Radit meskipun hanya melalui deretan huruf dan angka. Ingin rasanya saat ini juga aku berbicara mengenai perasaan rinduku pada Radit, tapi entah mengapa semua benar-benar tertahan atau mungkin aku yang tak berani mengatakan?
“Lo lagi apa?” aku mengetik pertanyaan sambil menarik koper kecilku, antreanku semakin dekat.
“Lagi ngantre check in, nih, gila rame banget, padahal sebentar lagi check in ditutup buat pesawat gue.”
“Gila masih sempet-sempetnya lo pegang hp.”
Aku tertawa geli ketika membaca tulisan bodoh Radit, bahkan dalam keadaan terburu-buru, dia masih saja memegang ponselnya, dan sempat-sempatnya membalas pesanku. Tak berbeda denganku, aku pun juga sama bodohnya, check in untuk pesawatku sebenarnya sebentar lagi juga ditutup, dan aku masih mengantre di….
“Iya, saya nggak bawa bagasi, Mbak.” ucap pria berkaus putih di depanku, pria itu masih sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia tersenyum ketika membaca sesuatu di layar ponselnya. Pria itu mendengarkan ucapan crew Air Asia dengan santai, “Oke, makasih, Mbak.”
Aku mematung memandang sosok yang berlalu itu. Otak lemotku kembali berpikir, bahkan aku masih belum tersambung dengan dunia nyataku ketika pria itu hilang dari pandangan. Aku memandang sebentar ke layar ponselku, melihat foto orang yang sejak tadi menjalin percakapan denganku di ponsel. Wajahnya, bentuk hidungnya, rahangnya, sangat mirip dengan sosok berkaus putih itu.  Aku memandang sekali lagi, ya, aku tidak salah lagi.
“Mbak…” perempuan di depanku memanggilku halus, “Yang di belakang masih ngantre, tolong dipercepat, masa dipanggil tiga kali nggak ada respon? Mbak tujuan ke mana?”
Aku nyengir, “Maaf, Mbak, ketampar masa lalu. Saya Jakarta, Mbak.”
Si mbak yang manis dan penyabar itu langsung menunjukan gate tempat aku harus menunggu pesawat. Aku mengangguk sekaligus mengucapkan terima kasih. Dengan langkah seribu, aku meninggalkan tempat check in dan segera memasuki ruang tunggu.
Sorry baru bales, gue baru santai, nih, tadi hectic lagi ngantre.”
Kutatap pesan di ponselku, aku tidak segera membalas pesan itu. Aku mempercepat langkah, mencari pria yang sejak tadi mencuri perhatianku, pria yang tiga tahun ini kutunggu dan kudoakan selalu.
Aku melihat pungungnya dari kejauhan, langkahku berjalan mendekat, pelan-pelan, diiringi debar jantungku yang memburu. Bangku tunggu di Adisutjipto cukup besar dan panjang. Bangku-bangku panjang tersebut terletak rapi. Saat duduk, setiap orang bisa saling memunggungi satu sama lain. Aku duduk di belakang Radit, memunggungi Radit
“Sorry juga baru bales, Dit. Habis melakukan sesuatu, nih.”
“Ngapain emang? Boker?”
“Bukan, Dit, lebih penting dari itu.”
“Emang ada yang lebih penting dari boker?
“Kalau lo ketemu orang yang lo tunggu selama bertahun-tahun dan lo kebelet boker, emang apa yang lo lakuin?”
“Gila, pertanyaan apaan, tuh, susah amat. Hidup dan mati, sih, itu.”
“Apa lo bakalan membiarkan semua lewat gitu aja dan lo kehilangan dia untuk yang kedua kalinya?”
“Kalau pun gue harus melewatkan dia, berarti itu rencana Tuhan, sih. Bisa aja pas jalan ke kamar mandi waktu gue kebelet boker, gue ketemu cewek yang lebih cantik.”
“Cowok mah gampang, ya, ngomong gitu, Dit. Seandainya cewek juga gampang ngomong kayak gitu, pasti nggak ada yang namanya sakit hati karena nunggu seseorang bertahun-tahun.” aku mengetik dengan perasaan berantakan, mencoba membalik badan dan baru saja ingin memanggil nama Radit.
“Halo, Sayang.” Radit menyapa seseorang di telepon, “Sebentar lagi boarding, kok.”
Aku menghela napas dan merapikan posisi dudukku. Rasanya tak ada lagi harapan, panggilan telepon itu sudah cukup jadi jawaban. Kututup aplikasi chat dan memandangi langit-langit ruang tunggu; menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk mataku. Jika kau menunggu seseorang, diiringi dengan air mata, apakah ini bisa juga disebut #SamaDenganCinta ?

24 comments:

  1. bagus banget kak ceritanya , bikin sedih,, dan kata2nya ada yang ngepas banget buat aku juga yang mencari sesorang slama 2 tahun ;")

    ReplyDelete
  2. Sedih kak bacanya :' Kita harus selalu percaya kalo rencana tuhan itu pasti yang terbaik :) Ditunggu kelanjutannya ya :D

    ReplyDelete
  3. Jika kau menunggu seseorang, diiringi air mata, apakah ini bisa juga disebut #SamaDenganCinta? :') hmmmm

    ReplyDelete
  4. seandainya kita bisa menata takdir, mungkin radit bakal aku tempatin di urutan pertama dalam jodoh kakak...sediih banget kak :'(

    ReplyDelete
  5. Ditunggu bgt kak lanjutannyaa :) sedih bgt kl hrs gaada respon apa22, nangis pagi2 bacanyaa whehehe

    ReplyDelete
  6. Dibikin novel dong.. Pengen baca sampe selesai. Penasaran :(

    ReplyDelete
  7. omegat kak dwit, bagus loh. endingnya kok nyesek gitu :( aku selalu menunggu kelanjutannya kaka, love it :*

    ReplyDelete
  8. Huft menunggu memang menyedihkan

    ReplyDelete
  9. Hufft...menunggu orang yang tak menunggu

    ReplyDelete
  10. bagus banget kak, di tunggu lanjutannya :)

    ReplyDelete
  11. bagus kak, di tunggu lanjutannya :)

    ReplyDelete
  12. Sedih bgt kak ditunggu cerita lanjutannya

    ReplyDelete
  13. Kit nget kak bacanya, inget orang yang lg ditunggu jadinya😢😢😢😢

    ReplyDelete
  14. menunggu pekerjaan yang mengesalkan, namun jika yang ditunggunya sepadan... kenapa tidak..?? :)) #KeepWaiting

    ReplyDelete
  15. Menunngu akan jadi suatu hal yang menyenangkan. Jika, yang aku tunggu itu kamu. Masa laluku yang mungkin tak akan pernah mau kembali. Tapi aku masih tetap menunggumu, sampai kapanpun

    ReplyDelete
  16. Kadang semua hal yang kita bayangkan ga selamanya bisa jadi kenyataan, kadang jga harapan hanya sebuah imajinasi kita aja:) semangat eaakkkkkk

    ReplyDelete
  17. kak lanjutannya dong
    bikin penasaran :')

    ReplyDelete
  18. gila bikin greget banget nunggu orang kayak gituu

    ReplyDelete