27 April 2015

Dua Hari Tanpamu

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Satu hari tanpamu

Semua masih seneraka hari pertama. Aku masih sesak ketika mengingat tentangmu, tentang cerita kita yang telah menjadi abu, yang kaubakar dengan begitu saja di depan mataku. Dan, aku yang terlanjur rapuh ini hanya bisa diam, menatapmu pergi, seakan tak punya kesempatan untuk meminta semua agar kembali padaku. Kamu pergi begitu saja, tanpa pesan ataupun berita, semua itu makin membuatku tersiksa serta mati rasa.

Di mataku, kamu sempurna, sesempurna pertemuan kita yang ternyata membawa perasaan yang berbeda. Aku tak bisa menebak bahwa semua ini cinta, tapi apakah namanya jika aku berkali-kali  menangisimu; saat kamu bilang ingin mengakhiri semua? Aku tak yakin, apakah kebersamaan kita selama tiga bulan itu telah menimbulkan perasaan kasih sayang dan takut kehilangan, namun apakah namanya jika aku merasa sendiri ketika kamu tak melengkapiku? Hari-hariku betapa sepi tanpamu dan anehnya aku begitu mudah menangis setiap melihat fotomu. Mengapa kamu malah makin tampan justru ketika kita tak lagi bersama dan tak lagi menjalani cinta? Aku rindu hidungmu, rindu rambutmu, rindu lekuk senyuman dari bibirmu, rindu tawamu, dan rindu banyak hal yang dulu masih bisa kita lewati berdua.

Hari ini, aku banyak terdiam. Berkali-kali aku menatap ponselku, berharap kamu berubah pikiran, berharap semua ini hanya candaan. Nyatanya, ini sungguh terjadi dan bukan candaan. Biasanya kamu menyapaku entah melalui pesan singkat, melalui percakapan kita di ponsel, dan meneleponku dengan suaramu yang khas itu. Rasanya semua ini makin aneh ketika aku mencoba untuk menganggap tak ada bedanya hari-hari tanpamu dan hari-hari ketika bersamamu. Semakin aku memaksakan diri terlihat baik-baik saja, semakin aku mendapati diriku yang tak lagi "bernyawa". Aku kehilangan kamu, separuh diriku yang pergi tanpa bilang-bilang. Ditinggalkan tanpa penjelasan membuatku makin tersiksa. 

Di depan laptopku yang hanya bisa menimbulkan suara jentikan, aku menatap diriku sendiri dalam tulisan. Sebenarnya, harapanku sederhana saja, kamu memberiku sebuah pelukan hangat dan berjanji tidak akan meninggalkanku. Dan, kenyataan yang harus kuterima dengan akal sehatku bahwa semua yang aku harapkan hanya mimpi belaka, aku harus berjalan sendirian lagi, meskipun sebenarnya aku merasa semua akan lebih baik jika aku menjalani hari-hariku denganmu. Kadang, harapan memang hanya akan berakhir dengan harapan, dan kehilangan kamu adalah sebuah kesedihan yang selanjutnya akan menghasilkan tangisan.

Dua hari ini, yang aku pikirkan hanya satu hal. Mengapa semua ini bisa terjadi justru ketika aku yakin ingin mempertahankanmu? Mengapa kamu pergi justru ketika aku masih ingin menyelami dirimu? Mimpi-mimpi yang telah aku buat seketika ambruk hanya karena dua kata darimu. "Kita putus." 

Terlalu mudah bagimu untuk mencampakan gadis bodoh sepertiku, gadis yang setia mencintaimu tanpa menghitung apa saja yang telah dia berikan padamu, gadis yang tak menghitung seberapa banyak darahnya mengalir hanya untuk mempertahankan kamu, gadis yang tak meminta balasan apapun darimu selain peluk hangat dan kecup di jidat. Ah, ya, memang aku yang tolol, karena tak bisa membedakan apakah di matamu sungguh ada cinta atau hanya dramamu belaka. Namun, tiga bulan bersamamu sungguh membuatku terlena, mabuk kepayang, dan bahkan sakit hati sendirian.

Dua hari ini, tak banyak yang aku lakukan. Aku masih kesesakan dengan tangisku sendiri, aku masih tidak bisa berdiri dengan tegak karena merasa seluruh tulangku tak lagi punya daya dan upaya untuk bangkit. Aku seperti manusia yang badannya sakit di segala sisi, yang tidak ingin melakukan hal lain-- selain menangisimu.

Dari perempuan,
yang terus menangisimu.



13 comments: