13 May 2015

Delapan belas hari setelah perpisahan kita

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Tujuh belas hari tanpamu

Malam ini tidak ada bintang, pertanda langit Depok akan segera menurunkan hujan, tak lupa menyertakan udara dingin yang menusuk tulang. Semestinya aku tak perlu lagi memikirkanmu dan seharusnya kamu sudah tidak perlu lagi mampir dalam ingatanku, tapi entah mengapa; kamu berdiam di kepalaku. Kamu justru semakin mendominasi ketika aku sedang berusaha keras melupakanmu. 

Gerimis mulai turun satu-satu, disusul dengan deras hujan yang membasahi jalanan. Aku duduk di balkon lantai dua, menatap kosong, dan lurus ke depan. Jalanan di depan kosku sangat lengang dan sepi, aku sendirian di sini. Teman-temanku sebenarnya mengajakku untuk menghabiskan waktu bersama, tapi dengan perasaan tidak karuan seperti ini rasanya aku tak ingin mengotori kesenangan mereka. Cukup aku yang merasakan ini sendiri.

Aroma hujan bercampur dengan tanah dan aspal jalanan. Aku ingat aroma ini, kemudian ingatanku terbang menuju kencan pertama kita. Masih kuhapal bulat matamu yang menatapku dengan bingung, kamu tidak ingin menaiki sepeda motorku yang tingginya hampir satu meter di atas permukaan aspal. Namun, kamu tidak mampu menolak, hanya ini yang aku miliki untuk mengantarmu pulang ke rumah. Agar tidak membuatmu kesal, kita makan sate terlebih dahulu, dan apakah kamu sudah tahu bahwa rumah makan kecil tempat favorit kita itu terbakar beberapa minggu yang lalu? Mungkin, tidak penting bagimu untuk tahu, karena tentu sekarang telah ada laki-laki yang tidak akan mengajakmu makan di pinggir jalan.

Saat makan sate, kamu mengajakku Doa Bapa Kami. Aku terdiam beberapa saat, tak percaya dengan yang aku lihat. Ternyata kita berbeda. Aku berpikir sejenak, apakah kamu harus tahu bahwa ibadahku adalah lima waktu, bukan Doa Bapa Kami yang kausebut itu? Dan, ya, aku tidak perlu mengaku. Dengan modal mata sipit, alis tebal, serta kulit yang putih tentu aku bisa terus berdrama menjadi pria yang beribadah di gereja. Kamu percaya dan aku berdalih untuk menyuruhmu berdoa sendiri, aku mengikuti. Setelah kamu ucapkan amin, ada rasa bersalah yang menjalar di dadaku. Saat itu kencan pertama kita dan aku telah membohongimu. Aku takut harus selalu membohongimu di hari-hari berikutnya. Senyummu yang tidak menunjukan kecurigaan apapun selalu membuatku merasa bersalah. Memang, pria berdosa sepertiku harusnya tidak layak bersanding dengan gadis lugu sepertimu.

Saat ini, hujan makin deras. Tiga bulan yang lalu, aku sangat ingat pelukmu yang ketakutan karena pertama kali menaiki sepeda motorku yang tinggi dan berisik. Aku bisa merasakan cengkraman penuh cinta ketika kita melewati jalanan Depok yang licin. Sekarang, aku sangat rindu peluk itu, peluk yang membuatku merasa bahwa aku dibutuhkan sebagai lelaki. Aku rindu teriakan kecilmu ketika aku ngebut di jalanan, aku rindu semuanya tentangmu. Kamu, gadisku, mantan kekasihku, yang mungkin tak akan pernah lagi memelukku sehangat kemarin.

Aku benci harus terus mengingat semua, ketika aku seharusnya berfokus pada kuliahku, keluargaku, juga kekasih baruku. Memikirkanmu adalah siksa bagiku, telah banyak cara aku lakukan, seperti menghabiskan waktu bersama kekasih baruku terus-terusan. Tapi, bukan ini yang aku inginkan, kamu selalu ada, selalu hadir, membekas, dan aku tak tahu bagimana cara terampuh untuk mengusirmu pergi. Kekasihku terus menghubungiku, mengemis untuk bertemu, namun aku beralasan sedang banyak tugas. Kali ini, aku seakan tak berselera untuk mencintai siapa-siapa. Terasa tak adil untuk dirinya, lebih menyakitkan lagi untukku. Semua makin keos dan berantakan, kini aku tahu rasanya berjalan tanpa menggandeng tanganmu.

Sebenarnya, aku sangat ingin tahu bagimana hidupmu yang sekarang. Aku tak tahu harus bertanya ke siapa, harus pergi ke mana agar aku tahu apakah kini kamu telah bahagia atau sama tersiksa seperti yang aku alami. Mulailah aku membuka blog-mu dan aku kembali tersesat dalam duniamu. Kamu begitu pandai menceritakan semua, begitu lihai mengungkapkan perasaamu dalam tulisan, dan tentu saja itu bisa mengobatimu-- menyembuhkanmu dari patah hati.

Dari tulisanmu yang kubaca, sepertinya kamu tidak bahagia. Kamu menulis bahwa hampir setiap hari kamu menangis, berbeda denganku yang hanya menangis dalam hati. Kamu repot-repot ke Bali hanya untuk melupakan lukamu, memang tolol, namun ternyata kamu masih gadis lucu yang menggemaskan buatku. Kamu tersiksa dengan berakhirnya hubungan kita dan kalau kamu ingin tahu, aku pun sama tersiksanya, aku juga sama gilanya, dan rokokku tak mampu mengobati semua.

Sekarang, lagu Taylor Swift masih menggema. Dan aku tak tahu apakah di sana kamu merindukanku sedalam aku merindukanmu.

Dari pria yang pernah merasakan pelukmu;
di bawah hujan.

8 comments:

  1. Kak, ceritanya keren bngt, ak tunggu endingnya kak, supaya ak juga tau harus melangkah bagaimana,karena cinta kami memang berbeda seperti kisah yg kau tulis kak. Terus nulis ya kak: ))

    ReplyDelete
  2. Makasih ka udah bikin aku jadi perempuan cengeng gara-gara baca ini

    ReplyDelete
  3. kak dwita! kakak emang inspirasi bgt buat aku

    ReplyDelete
  4. Kak, udah abis stengah bungkus tisu hanya membaca buku itu kak :'( Gak bosen bacanya, padahal udah 3x baca :( Pokoknya Keren banget kak! Kutunggu kelanjutan ceritanya yaa kak !!

    ReplyDelete
  5. huaaa like him? i wish.. keren >.<

    ReplyDelete
  6. huaaaa like him? i wish... keren >.<

    ReplyDelete
  7. huaaa like him? i wish.. keren>.<

    ReplyDelete