Awalnya, ini hanya perasaan kagum yang tak begitu kupedulikan, tapi ternyata aku salah; perasaan ini berkembang menjadi rasa takut kehilangan yang sulit kuhindari. Aku mulai menyayangimu tanpa sepengetahuanmu. Semua berjalan seperti biasa dan aku semakin menikmati kedekatan kita yang entah harus diberi nama dengan status apa.
Aku tak pernah takut saat mencintaimu. Layaknya air laut yang mengikuti lekuk gelombang, seperti itulah aku membiarkan rasa cintaku terus mengalir tanpa kendali. Percakapan setiap malam yang kauselipkan lewat pesan singkat mampu menyeretku ke perasaan yang dulu sangat ingin kuhindari; cinta. Kamu membuka mataku dengan tindakanmu yang ajaib, sampai-sampai aku tak lagi paham alasan yang harus kujelaskan; mengapa aku bisa begitu menggilaimu.
Cinta ini sangat tulus. Sungguh. Tak ada penuntutan yang kulakukan, aku juga tak mengganggumu, dan aku juga tak meminta status serta kejelasan. Aku tidak seberani itu kan? Kamu mengetahuiku juga mengenalku, tak mungkin jika kautak menyadari ada perasaan berbeda dalam hatiku. Aku bisa menebak matamu, ketika kamu bercerita tentang dunia yang ingin kausinggahi, saat kaumembawaku ke dalam dunia ceritamu yang sudah mulai kupahami. Aku berusaha memahami kemisteriusanmu.
Aku merasa sudah mulai memahami. Aku merasa punya kesempatan untuk sedikit mencicipi hidup menyenangkan bersamamu. Aku sanggup mengisi hari-harimu dengan kebahagiaan baru. Tapi, ternyata kita tak sejalan. Perhatian yang kusediakan khusus untukmu seakan menguap tak berbekas. Rasa cinta yang kuperjuangan dengan sangat demimu seolah-olah tak pernah mampir sedikit dalam benakmu. Kaubiarkan aku mengejar bayangan, sementara kenyataan yang sesungguhnya entah kausembunyikan di mana. Batas kebahagiaan yang dulu kaujelaskan secara utuh padaku; kini buram dan hitam.
Tidak mungkin kautidak tahu bahwa aku mencintaimu. Tidak mungkin kautak memahami perhatian dan tindakanku. Tidak mungkin hatimu begitu buta untuk mengartikan segalanya yang kurasakan terhadapmu adalah cinta! Apa hatimu sengaja kaukunci rapat untukku? Apa matamu sengaja kaubutakan agar tak membiarkan bayanganmu menyentuh retinamu?
Langkahku terus mencoba menggapaimu, jemariku merasa menggenggam tanganmu; namun, ternyata semua kosong. Kukira, percakapan kita adalah hal yang spesial bagimu. Kusangka, semua perlakuanmu terhadapku adalah bukti bahwa kaumenganggapku istimewa. Nyatanya, aku salah menafsirkan. Bagimu, aku bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa.
Aku tak bisa menahanmu pergi. Bahkan, ketika kaumemilih habiskan kebahagiaanmu bersama yang lain, kemudian membiarkan aku sendirian. Tanpa mengucapkan pisah dan tanpa kautahu sudah ada yang tumbuh diam-diam di hatiku; cinta.
Ternyata, aku belum benar-benar memahamimu. Ternyata, aku belum benar-benar mengenalmu. Ternyata, kamu yang kuperjuangkan dengan sangat mendalam; tak sehebat yang kubayangkan.
09 March 2013
05 March 2013
Makan di sampingmu
Aku berjalan
dengan langkah bingung. Asap rokok dan dengung suara pengunjung kantin seperti
bergantian mengganggu indra penciuman dan indra pendengaranku. Mataku sibuk
mencari dia, pria yang selalu ingin kutemui setiap usai kelas.
"Shena!" seseorang yang
kuhapal garis wajahnya mengangkat tangan; memanggil namaku dengan suara
nyaring.
Aku berjalan menghampirinya
dengan senyum yang kuhias dengan lengkungan paling manis, barisan gigiku yang
rapi kuperlihatkan seutuhnya. Senyum itu hanya untuknya.
"Udah makan?" Ia
menepuk pundakku, bertanya dengan tatapannya yang teduh dan hangat.
Aku tak langsung menjawab,
terpaku beberapa saat menemukan bola matanya benar-benar menyorot tajam mataku.
"Gue belum makan, kenapa?"
"Beli ayam kremes deh, nanti
gue bagi sama elo aja."
"Oke," tanpa menolak,
aku segera meraih dompet di tasku, "Elo suka yang pakai sambal kan?"
Ia mengangguk setuju. Aku segera
tahu kemauannya. Sambal adalah kecintaannya, tapi kebencian bagiku. Saat makan
ayam kremes, sesampainya di rumah perutku langsung sakit luar biasa, seperti
ada jutaan tangan yang mengoyak-ngoyak perutku. Sungguh, aku tak suka sambal,
tapi demi bisa makan bersamanya; aku akan melakukan apapun, meskipun segalanya
siksa bagiku. Bodohkah aku? Mungkin.
Aku mengantre cukup lama, karena
ayam kremes adalah makanan paling laris di kantin. Setelah sepiring nasi
bersama ayam dan sambal sudah ada dalam tanganku, aku segera berjalan ke arah
mejanya. Ia sibuk berbincang-bincang dengan teman-teman yang lain. Mereka
menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian mengembuskan asap rokok ke udara. Aku
benci asap rokok, tapi demi bisa menatap wajahnya lebih lama; aku harus sering
menghirup asap rokok. Salahkah aku? Mungkin.
Aku duduk di sampingnya, ia
memasang senyum paling manis untukku, yang kurasa hanya untukku.
"Nasinya gue minta banyak,
karena gue tahu elo pasti ikutan makan."
Pria itu tertawa geli. Pria yang
selalu ingin kujaga tawanya, yang selalu ingin kuabadikan senyumnya. Kami makan
bersama, dia mencolek nasi beserta ayam kremes ke sambal yang telah kusediakan
khusus untuknya. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Aku perhatikan cara
ia mengunyah makanan, cara ia mencibirkan bibirnya ketika sambal menyentuh
lidahnya; aku tersenyum dalam hati.
Aku selalu suka saat bisa makan
ayam kremes bersamanya. Saat lengan kita bertemu karena aku duduk tepat di
sampingnya. Itulah waktu yang paling tak ingin kusia-siakan. Hanya saat makan
ayam kremes, aku bisa merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku, semakin
menguat ketika kudengar dia bercerita dengan mulutnya yang masih penuh dengan
nasi.
Saat makanan kita habis, ingin
rasanya aku membeli ayam kremes, dan mengulang lagi waktu yang berlalu tadi.
Aku ingin terus makan ayam kremes bersamanya. Saat bersamanya, hal bodoh
lainnya segera kulupakan. Aku jadi suka menantang lidahku dengan sambal dan aku
jadi senang makan ayam; kesukaanku sebenarnya ikan. Iya, aku melakukan banyak
hal, mengubah kesukaanku, mengubah tata sikapku saat di depannya. Aku tak ingin
terlihat cacat di mata pria yang sangat kucintai.
Dia mengubah rasa ayam kremes di
lidahku menjadi nikmat dan tak terlupakan. Sebenarnya, bukan persoalan ayam
kremesnya. Aku hanya tak ingin melewatkan saat-saat bisa berdekatan dengannya,
saat kami makan ayam kremes.
"Thanks, ya, udah nemenin
makan." ucap pria itu sambil meraih air putih yang juga kebelikan
untuknya.
Aku mengangguk lemah. Karena tak
begitu tahan pada asap rokok, aku meninggalkan dia bersama teman-temanku yang
lain. Aku pamit, dengan senyum yang kubikin seakan tak terjadi apa-apa. Hanya
satu hal yang begitu kukejar saat berada di kantin, makan ayam kremes
bersamanya.
Aku meninggalkan meja dan bangku
yang kududuki di kantin, berjalan dengan langkah yang kuat; menunggu pertemuan
esok hari. Aku akan makan ayam kremes bersama dengannya lagi. Seperti biasa.
Dia akan selalu kupandangi
seperti itu, dari sampingku ketika aku diam-diam mencuri pandang ke wajahnya.
Dia akan selalu seperti itu, diam-diam kucintai.
***
Entah sudah berapa ayam kremes
yang kuhabiskan bersama dengannya. Entah sudah berapa es teh yang kami minum
bersama. Tak ada ikatan apa-apa, juga hubungan apa-apa. Tak ada pesan singkat
yang kubaca setiap malam darinya atau sekadar sapaan ringan pada pagi hari. Aku
mengharapkan itu semua, sungguh. Sudah berbulan-bulan aku memendam perasaan,
tak mungkin dia tak tahu bagaimana perasaanku. Sudah banyak ayam kremes dan es
teh yang kami habiskan bersama, tak mungkin dia tak menyadari segalanya.
Aku berlaku seperti biasanya,
seusai kelas langsung berjalan menuju kantin. Harapku begitu besar terhadapnya,
ada sesuatu yang harus kukatakan. Apa gunanya merasakan jika tertahan dan tidak
diungkapkan? Apa untungnya mencintai tanpa perjuangan sama sekali?
Iya, aku berjalan ke arahnya.
Mata kami sempat bertemu, tapi tak kulihat lambaiannya tangannya mengarah
kepadaku. Dia hanya tersenyum tipis, seakan tak mengundang aku ke mejanya.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
Mendengar jawabannya yang
singkat, aku terdiam. Dia tidak menungguku.
“Tadi makan apa?”
“Ayam kremes.”
“Beli sendiri?”
“Iya. Sendiri.”
Sesingkat itulah jawabannya. Ada
sesuatu yang berbeda. Aku mencoba membuka percakapan, mencoba mencari
kesalahanku sehingga sikapnya tak seramah kemarin.
Ketika kehabisan bahan
percakapan, aku kelaparan; sangat lapar. Aku sengaja tak sarapan sejak pagi agar
bisa makan bersamanya. Aku tak bisa terlalu kenyang. Itulah yang kulakukan
hampir setiap hari, tidak sarapan agar saat makan siang aku bisa menyantap ayam
kremes bersamanya. Aku selalu ingin duduk di sampingnya. Sembari menghilangkan
rasa lapar, aku pamit membeli ayam kremes di tempat biasa. Ia mengangguk lemah.
Sepiring ayam kremes dan segelas
es teh sudah ada di tanganku. Aku berjalan pelan-pelan mendekati meja. Ia
seakan tak ingin menatapku. Aku segera duduk di sampingnya, memakan ayam kremes
sendirian. Baru kali itu, aku makan tanpa menyentuh lengannya. Dulu, setiap
makan ayam kremes, lengan kami bisa bersentuhan.
Ada celah yang memisahkan tempat
duduk kami.
Kami berjarak.
Aku sedang sibuk-sibuknya
mengarahkan sendok dan garpu di piringku, sampai pada akhirnya seseorang dengan
wangi parfum menyengat duduk di sampingku, juga di dekat pria yang kucintai
sejak dulu.
Mataku tajam tertuju pada wanita
itu. Aku mengamatinya dari ujung kaki sampai tempurung kepalanya. Wanita itu
menyentuh lembut rambut pria yang kucintai. Sungguh hebat! Bahkan aku tak
pernah bisa menyentuh rambutnya. Aku hanya bisa melakukan hal yang menurutku
manis; makan ayam kremes bersamanya.
“Sayang, udah lama ya nunggunya?”
wanita itu mulai membuka suara, belaiannya kini menyentuh bahu pria yang
kucintai.
Menatap pemandangan itu, aku tak
bisa berbuat banyak. Aku sudah mulai menebak-nebak.
“Eh, Shena, ini pacar gue.”
dengan senyum bangga, ia mengenalnya pacarnya padaku.
Aku mengulurkan tangan, mencoba
memasang senyum paling manis meskipun kala itu hatiku sebenarnya teriris.
Wanita itu menatapku dengan tatapan yang menyebalkan, rasanya aku ingin menepis
fakta yang sesungguhnya sudah ada di depan mata.
Selama ini, aku hanya sekadar
teman makannya, bukan teman hidupnya. Aku yang tolol, terlalu banyak berharap.
Mereka sibuk berbicara berdua.
Aku sendirian memakan ayam kremesku. Ayam kremes yang dulu terasa menyenangkan
di lidahku sekarang terasa sangat hambar. Pria itu mengubah rasa ayam kremes di
lidahku seperti makanan tanpa garam yang sungguh tidak mengundang selera.
Dan, akhirnya perasaanku memang
ditakdirkan untuk tertahan, tanpa diungkapkan.
Aku bersumpah tidak akan lagi
makan ayam kremes setelah ini.
Tidak.
03 March 2013
Jangan bilang rindu!
Aku menulis ini bersama rasa
sakit yang tidak benar-benar kamu pahami. Aku menatap laptopku dengan wajah
masam, berujung pada perasaan yang tidak berhasil kautebak. Mengertikah kamu,
perjuanganku juga butuh kepedulianmu?
Entah karena kauterlalu bodoh
untuk menilai atau terlalu egois untuk memaklumi. Aku mencoba sabar, mencoba
sabar menghadapimu. Aku berusaha bertahan, berusaha mempertahankan yang
harusnya aku lepaskan. Aku sudah menunggu sangat lama, mengharap pengertianmu
menderas ke arahku. Tapi, hal itu tak kunjung kutemui. Kamu masih begitu,
dengan omonganmu, dengan tingkahmu yang tak berubah.
Apakah kesabaran dan
perjuangan yang kulakukan benar-benar tak terlihat di matamu? Kaumengetahui
segalanya kan? Mengapa hanya diam dan bisumu yang selalu kudapati di hari-hari
kebersamaan kita?
Aku ketakutan dan kedinginan
sendirian. Kamu tak pernah ada di sini saat aku butuhkan. Aku juga tak paham
lagi, pantaskah kebersamaan kita terus aku perjuangkan? Pantaskah sosokmu
selalu kupertahankan? Jika yang kudapatkan hanya pengabaian, ketidakpedulian
dan kebohongan; bagian manakah yang bisa memberi kebahagiaan?
Kamu jauh di sana, tak banyak
yang kaulakukan selain mengirim pesan singkat atau menyapaku dari ujung
telepon. Tak banyak yang bisa kita lakukan selain saling merindukan. Rasa perih
itu semakin membesar, membentuk luka yang mungkin sulit sembuh. Semakin sering
aku tak melihatmu, ketakutanku di sini semakin menebal.
Perlukah aku membandingkan
kamu dengan pria-pria lain yang lebih pandai meluangkan waktunya untukku,
daripada sedikit waktu yang kauluangkan untukku? Kamu tak pernah peduli pada
sakitku, perihku, dan sedihku. Kaubiarkan aku menyelesaikan segalanya
sendirian. Inikah wujud kepedulian yang selalu kauributkan denganku? Mana
kepedulianmu? Mana kehadiranmu? Kosong!
Jangan bilang rindu, jika
kautak bisa ke sini untuk buktikan perasaanmu.
22 February 2013
Setiap Hujan
Hujan
rintik-rintik kala itu. Tangis gerimis dari awan yang menaungi kota Depok jatuh
satu-satu. Nino buru-buru berlari menuju tempat berteduh. Sambil memeluk
tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan, ia menengadahkan kepala agar bisa
menatap hujan dan awan mendung. Tempat berteduh tak begitu ramai, hanya ada
seorang pria berambut ikal yang membiarkan rambutnya agak basah karena terkena
hujan. Nino dan pria itu berdiri sejajar. Mereka sama-sama sibuk menatap hujan
dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Jalanan
di dekat jembatan Margocity-Detos mengalirkan air yang deras karena hujan. Nino
masih berteduh di sana, sesekali ia mencuri pandang ke arah pria itu, pria yang
sejak tadi juga berteduh dan juga memeluk kedinginan tubuhnya sendiri. Ia
terlalu serius sampai-sampai ia lupa telah membawa payung kecil yang diletakkan
di tasnya. Nino menertawakan dirinya sendiri, dengan senyum tipis yang hanya
dimengerti olehnya sendiri. Ia
membuka payung, memegang payung dengan erat dan siap-siap berjalan.
Wajah
pria itu disaring oleh ingatannya. Wajah itu bukan wajah yang asing.
Terlalu asik memikirkan masa lalu. Menyadari pria itu bukanlah pria yang asing,
Nino seakan tak perlu terlalu gugup. Ia juga tak ingin mengingatkan pria itu
pada masa-masa yang dulu pernah mereka lewati.
“Kamu
mau masuk ke Margocity juga?” ucap Nino dengan suara tipis.
Pria itu tak segera menjawab.
Mungkin suara Nino teredam oleh derasnya suara hujan.
Merasa
diabaikan, Nino kembali mengulang ucapannya, “Mau bareng? Aku ke Margocity
juga.”
Mata
pria berambut ikal itu membulat. Ia menoleh dan mulai membuka suara, “Boleh.”
Dan,
mereka berjalan lambat-lambat. Rapat-rapat.
“Tadi
bukannya kita berteduh bareng? Kenapa payungnya nggak segera kamu buka?”
“Aku
juga lupa kalau ternyata aku bawa payung.”
Mereka
tersenyum bersama, tak ada tawa yang begitu meledak. Alas kaki mereka sama-sama
basah. Baju mereka juga agak basah. Pria itu masih memeluk tubuhnya sendiri,
menghangatkan dadanya dengan melipat tangan di depan dada. Itulah gerakan yang
paling Nino ingat. Gerakan yang selalu pria itu lakukan beberapa tahun yang
lalu. Nino tidak akan pernah lupa. Tidak akan.
Selama
berbicara, sungguh Nino tak pernah berani menatap mata itu. Mata yang bertahun-tahun
membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Ia tak ingin tahu warna mata itu, mata
yang sinaran dan tatapannya berusaha Nino hindari sebisa mungkin.
Langkah
mereka santai memasuki lobby Marocity, sambil melipat payung, pria itu pamit
meninggalkan Nino. Tak lupa, ia juga mengucapkan terima kasih.
Percakapan
terhenti, tak ada yang ingin memulai pembicaraan lagi. Hening mengitari mereka.
Rasanya hujan kali ini tak sedingin hujan seperti kemarin. Menderasnya hujan
tak membekukan hati Nino, kali ini ia malah merasakan ada yang bergerak
pelan-pelan di hatinya, perasaan hangat yang dulu sekian lama ia diamkan dan ia
abaikan.
Nino
menatap bahu itu. Mulai menjauh. Ia membiarkan sosok itu pergi, tanpa berbicara
lebih jauh dan lebih dalam.
Sekarang, penyesalan membuncah
dengan liar. Penyesalan yang juga dulu ia rasakan. Ingin mengejar, tapi seperti
ada rantai yang menahan langkahnya.
Sungguh, ia tak ingin penyesalan
itu terulang lagi.
Ia tidak ingin kesedihan yang
sama terjadi lagi. Tidak!
***
Nino
tak heran jika pemandangan yang ia lihat beberapa hari ini selalu sama. Setiap
pulang kuliah, ia selalu pergi ke tempat itu. Tempat ia bertemu dengan pria
berambut ikal yang mulai sering masuk ke dalam pikirannya. Nino selalu membawa
payung. Untuk berjaga-jaga, kalau-kalau pria itu muncul dan melahirkan kejutan
baru saat hujan datang. Tapi... pria itu tak pernah datang, Nino juga tak lagi
melihat sosok itu.
Seminggu
terlewati, pria itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya. Dalam
kesabarannya, ia masih terus berharap. Ia ingin suasana seperti kemarin
terulang lagi, saat hujan datang dan Nino bisa merasakan lengan pria itu
menempel di lengannya.
“Kembalilah,
jangan buat aku menunggu untuk yang kedua kalinya.” bisik Nino perlahan.
Apakah Tuhan
mendengar bisikannya? Apakah pria itu mengetahui isi hatinya?
Hujan turun tiba-tiba, deras
sekali. Kali ini, baru kali ini, Nino lupa membawa payung. Ia menatap hujan
sambil memeluk dirinya sendiri. Ia hanya berteduh sendirian. Dalam lirihnya,
cipratan air secara sontak mengenai bajunya. Semakin kesal Nino kali ini.
Ia
jadi menyesal, mengapa ia harus menunggu seseorang yang belum tentu datang?
Nino memaki dirinya sendiri.
“Sendirian?”
Suara
yang tak asing itu terdengar mengagetkan bagi Nino. Nino menoleh cepat.
“Ngagetin ya? Kamu nggak bawa
payung?”
“Ketinggalan.”
“Aku
bawa payung, kamu mau masuk ke Margocity juga?”
Nino
mengangguk malu-malu. Pria itu, pria yang ia temui seminggu yang lalu kini
berada di depannya. Menawarkan diri untuk memayunginya.
Mereka
berjalan rapat-rapat, walaupun hujan semakin deras, dan angin semakin kencang;
rasanya segala halangan itu tak memupus harapan Nino untuk membangun
percakapan.
Kali ini ia yang harus memulai,
tak ingin lagi ia menunggu. Tak ingin lagi ia kehilangan seseorang untuk yang
kedua kalinya. Tidak!
“Bagaimana di sana?
Menyenangkan?”
“Di
sana mana?”
“Di
Boston. Sudah dapat gelar? Kok sudah pulang?”
Pria
manis bergidik, seakan ia buronan yang tertangkap basah, “Aku pulang karena
ingin menemui seseorang.”
Tatapan
Nino menyelidik, “Siapa?”
“Kamu.”
Nino
terdiam, ia tak melanjutkan langkahnya. Pandangannya lurus, mulai berani
menatap mata pria itu. Hitam kecoklatan, itulah warna bola mata yang akhirnya
Nino ketahui setelah bertahun-tahun ia tak pernah berani menatap mata itu.
Hidungnya, bibirnya, matanya, dan lekuk pipinya tak begitu berubah. Dia tetap
jadi seseorang yang cukup Nino kenal, dan paling sering ia rindukan, walaupun
Nino tak berani melakukan banyak hal selain menatap dari kejauhan dan mencoba
menyusun percakapan basa-basi. Itu dulu, ketika mereka masih bersama, ketika
perpisahan belum jadi pemeran antagonis yang memisahkan mereka.
Sontak,
Nino memeluk rapat tubuh pria itu. Pria yang menghilang selama bertahun-tahun
tanpa ucap pisah. Pria yang dari sikapnya seakan tak menganggap Nino wanita
yang spesial. Tidak akan ia lepaskan lagi. Tidak akan ia sia-siakan lagi.
“Sudah
jangan pergi lagi.”
“Ini
baru pulang, masa mau pergi lagi?”
Hujan
semakin deras, dan rengkuh peluk mereka seakan tak terlepas.
17 February 2013
Yang aku perjuangkan, Yang kauabaikan.
Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang, berdiam dan menunggu pun juga adalah bagian dari perjuangan. Menunggu. Itulah yang selama ini kulakukan, sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa masih ingin memperjuangkanmu.
Aku tahu, setiap malamku selalu kuisi dengan kenangan dan ingatan. Kenyataan yang harus kuterima, kautak ada di sampingku, entah untuk menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku. Dengan sikapmu yang tidak peka seperti itu, mengapa aku masih ingin memperjuangmu? Aku tak tahu, jadi jangan tanyakan padaku mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang tak benar-benar kupahami.
Ketika suaramu mengalir di ujung telepon, ada perasaan rindu yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata. Apakah kautahu hal itu? Tentu tidak, kautidak memedulikanku sedalam aku memedulikanmu. Tak ada cinta di matamu, sedalam cinta yang kupunya. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang kupunya, aku masih ingin mempertahankan "kita" yang sebenarnya membuahkan sakit bagiku.
Kekhawatiranku, yang tak pernah kuceritakan padamu, tentu tak pernah kaupikirkan. Doaku yang kusebutkan tentu tak seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Perbedaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti apa-apa. Ketakutanku membungkam segalanya. Apakah kamu pantas diperjuangkan sejauh ini? Akankah kebersamaan kita punya akhir bahagia?
Aku takut.... aku takut dengan banyak hal yang diam-diam menyerang kita dari belakang. Kebersamaan kita, yang memang tak berjalan dengan mudah ini cukup membuatku lelah. Aku ingin berhenti memperjuangkanmu. Aku lelah dihantui kabut hitam yang menodai pencarianku selama ini. Aku inginkan matahari, bukan mendung seperti ini.
Di mana kamu ketika aku inginkan kamu di sini? Ke mana larinya kamu ketika aku berjuang untuk satu-satunya mahluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis.
Ini semua perjuangaku untuk mempertahanmu, apakah sudah cukup menghilangkan ketidakpekaanmu? Inilah perjuanganku, yang selama ini selalu kauabaikan. Apakah hatimu sedikit tersentuh, hingga kauingin datang dan membawaku pulang?
Subscribe to:
Posts (Atom)