Laman

1 Oktober 2011

Ibu, Kapan Pulang?

Reaksi: 
"Kesepian itu datangnya dari hati dan perasaan, bukan dari suasana yang sebenarnya"



            Aku berjalan acuh tak acuh melewati koridor kelas. Langkahku terus maju, tak peduli adanya segerombolan anak-anak berstatus "gaul" sedang duduk santai di lantai. Mereka adalah sekelompok anak-anak (sok) populer yang meng-eksklusif-kan diri, seakan-akan merekalah yang paling terkenal dan paling penting di sekolah ini. Terdengar bisik-bisik nakal yang sampai hingga gendang telingaku,"Si autis tuh!" Bisik si anak dari ekstrakulikuler basket, lalu pendengarnya, si anak dance ikut menggumam,"Stress kali, biasa deh nasib anak broken home." Aku tak mempedulikan bisikkan itu, toh aku tak mengenal mereka, mereka juga tak benar-benar mengenalku. Yang tahu baik buruknya aku adalah diriku, bukan mereka yang asal menilaiku.
            Aku berjalan sambil memeluk erat buku-buku yang sejak tadi menempel dan menghangatkan dadaku. Langkahku terhenti di sebuah ruang dengan pintu coklat dengan genggaman pintu yang berwarna pucat pasi. Aku membuka pintu itu lalu memasukinya dengan langkah santai.
            "Bianca, lho kok enggak masuk kelas?" Sapa seorang wanita yang duduk di belakang meja tamu perpustakaan.
            Aku sibuk menulis di buku tamu perpustakaan. Seusai itu, aku menjawab pertanyaan beliau,"Iya, Bu. Saya enggak masuk kelas. Suntuk! Pelajaran Fisika."
            "Kalau dicari gurunya gimana?" Ucap Ibu penjaga perpustakaan sembari sibuk dengan laptop mungilnya.
            "Ya enggak apa-apa, setidaknya saya menghindari pelajaran tersebut bukan karena alasan ingin melarikan diri ke kantin, saya di perpustakaan dan saya ingin membaca." Jelasku panjang lebar.
            "Itu buku yang kemarin ya? Mau kamu balikin atau mau lanjut dibaca?"
            "Mau dibalikin, Bu. Saya sudah selesai membacanya. Bukunya bagus, teori filsafatnya cerdas, dogma dan ajarannya yang rumit dijelaskan secara sederhana."
            "Buku kayak gini cuma selesai sehari? Gimana bacanya?"
            "Ya dibaca terus-menerus, Bu."
            "Terus kamu enggak ngerjain PR ya?"
            "Enggak, Bu. Saya hanya ingin mengerjakan PR untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, Sejarah, dan seni. Pelajaran lainnya tidak saya kerjakan."
            "Kamu IPA kan?"
            "Yup, 12 IPA 5."
            "Udah kelas 12 kok enggak semangat?"
            "Sejak awal memang tidak, saya dipaksa masuk jurusan IPA oleh ayah saya. Kadang, sesuatu yang bersifat paksaan mampu menyenangkan hati seseorang, salah satunya orangtua.”
            Aku lalu menghilang diantara rak-rak buku, menyelami ratusan buku yang menggoda pandanganku, selang beberapa menit aku mendapatkan buku yang kelihatannya menarik, aku menarik buku itu setelah berdesak-desakan dengan buku-buku lain yang menjepitnya,"Sesak nafas ya dijerat terus-terusan oleh buku-buku lain? Sama seperti aku yang sesak dijerat orang-orang lain." Ucapku dalam hati sambil berjalan menuju meja baca.
            Inilah yang kusuka, sendirian di tempat yang sepi, bersama meja dan buku. Aku selalu pusing dikeramaian. Aliran darahku selalu tak mengalir dengan biasanya kala aku berada di keramaian. Setelah ibu meninggalkan rumah, aku lebih suka menyendiri, menghabiskan waktu dengan diriku sendiri, dan menghibur kesedihanku dengan usahaku sendiri. Beberapa hal juga mampu membuatku tersenyum dalam hati, seperti saat cerpenku dimuat di media cetak dan media online. Aku menumpahkan kekecewaanku pada tulisan, aku menumpahkan kesedihanku pada tulisan. Saat menulis, aku menemukan bagian diriku yang hilang.
            "Sendirian?" Ujar Ibu penjaga perpustakaaan, mengagetkanku.
            "Iya, Bu. Memangnya kapan saya tidak sendirian? Saya selalu sendirian, setiap saat, setiap waktu. Cuma buku-buku ini yang mengajak saya bicara dengan bahasanya yang berbeda tapi berusaha saya pahami."
            Ibu penjaga perpustakaan menatapku gamang, sinar matanya meredup perlahan, mungkin dalam hatinya ia berucap,"Aku tidak tahu derita apa yang dihadapi anak ini. Tapi, dia berusaha tetap bertahan meskipun lukanya semakin dalam."
***
            Supirku membawakan tasku, beliau bercakap macam-macam denganku tapi aku tak mempedulikannya, ucapannya berlalu dengan desahan angin, tatapanku menatap ke depan, kosong. Langkahku masih saja lurus, langkah bisu menderu melawan debu.
            "Setelah ditinggal ibunya, kerjaannya cuma bengong doang. Kasihan ya? Punya segalanya tapi gila sama imajinasinya." Tungkas seorang perempuan yang berdandan berlebihan untuk ukuran anak sekolahan. Aku bisa menebak kalau dia anak cheerleaders yang merasa (sok) populer dan selalu ingin meng-eksklusif-kan dirinya dari anak-anak kurang populer di sekolah.
            Aku mengehentikan langkahku, menatap tajam perempuan busuk itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, aku turut menatap empat temannya yang selalu mengekor kemanapun perempuan busuk itu pergi. Aku mendekati perempuan busuk itu,"Perek! Mau sekolah atau mau jual diri?" Bentakku dengan penuh amarah. Perempuan busuk itu berusaha menampar wajahku, tapi supirku menarik tangannya lalu memutar-mutar tubuhnya hingga perempuan busuk itu kelimpungan pusing. Aku memberi isyarat pada supirku agar segera menuju tempat ia memarkir mobil.
            "Non, lain kali kalau ada yang ngejek-ngejek kayak gitu diemin aja." Kata supirku dengan suara khasnya. Suara berat yang disebabkan oleh keseringan menghisap nikotin.
            "Untuk menyadarkan seseorang, kita juga butuh tindakan, bukan cuma perkataan." Pembelaanku singkat menutup pembicaraan tak direncanakan itu.
***
            Senja berganti menjadi awan-awan hitam yang berarak menuju malam. Suara azan magrib nyaring dan berbisik-bisik resah ditelingaku. Jalan komplek perumahan yang ramai oleh sepeda motor, kerincingan lonceng sepeda, dan derap langkah anak kecil yang berlari-larian sejak tadi mulai tak terdengar. Hanya ada kesunyian kala itu, hanya ada semilir angin yang berhempus ganas menusuk tulangku, hanya ada suara nyamuk-nyamuk yang berusaha memangsa hemoglobin dalam darahku.
            Suasana seperti ini terus berulang setiap saatnya, setiap jamnya, setiap harinya. Seperti dejavu yang terus-menerus menyiksaku. Aku duduk di teras rumah dari sore, senja, hingga menjelang malam. Aku menunggu ibu pulang. Aku berharap wajah beliau yang lelah mampu mengembalikan senyumku yang hilang. Sumarni namanya, beliau bekerja di salah satu Lembaga Sosial Masyarakat yang mengurusi persoalan anak jalanan dan anak-anak bayi yang ditelantarakan karena kelahirannya yang tak diharapkan. Ibuku mulia sekali, hanya seorang idiotlah yang berusaha menyakiti dan mematahkan hatinya, ayahku.
            Malam mulai menghampiri awan di atas rumahku, angin yang berhembus ganas semakin menggangguku, aku menatap pagar depan, kekecewaan yang selalu datang berulang, ibu tidak pulang.
***
            Aku benci kalau setiap pagi harus berpamitan dengan pria brengsek itu, ayahku. Pria yang memberiku fasilitas, harta benda, dan segalanya, tapi dua hal yang tak pernah dia berikan padaku, perhatian dan kasih sayang. Kuketuk pintu kamar ayahku, seorang wanita yang tak kukenal menjawab ketukan pintu itu,"Papamu masih tidur." Ucapnya dengan nada pelan.
            "Anda siapa?" Tanyaku penasaran.
            "Kania. Kekasihnya" Jawaban singkat disertai dengan bantingan halus pintu itu. Aku mematung, memberi isyarat supirku untuk beranjak dan segera mengantarku ke sekolah.
Wanita lain lagi ternyata, aku ingat setiap aku mengetuk pintu kamar ayah, selalu ada wajah dan nama wanita-wanita baru yang tak kukenal. Seminggu yang lalu bernama Nanda, lima hari yang lalu Abigael, tiga hari yang lalu Hana, dua hari yang lalu.... Ah! Aku hanya membebani otakku dengan hal-hal yang seharusnya tak kuingat.
***
            Hari ini semua pelajaran penyiksa seperti Biologi, Matematika, Kimia, dan Fisika bersekongkol untuk membunuhku perlahan-lahan. Aku sengaja tak masuk sekolah, toh tidak ada seorang pun yang peduli, paling hanya guru-guru yang rajin memeras dana dari ayahku saja yang membicarakanku.
            Aku meminta pada supirku untuk mengantarkanku ke LSM manapun, tapi jangan ke LSM yang pernah kukunjungi, aku ingin ke LSM yang baru, bertemu dengan wajah-wajah baru. Aku rindu mengunjungi anak jalanan dan bayi-bayi mungil yang ditinggal ibunya. Supirku kewalahan menuruti permintaanku, hampir setiap LSM sekitaran rumahku dan sekolahku telah ku kunjungi. Atas dasar kewalahan itu, maka supirku membanting stirnya ke arah yang cukup jauh dari rumahku.
            "Kemana ya, Non?" Ucap supirku sambil memasang pandangan kedepan.
            "Ke tempat yang ada anak jalanannya, ada anak bayinya juga." Jawabku seadanya.
            "Di tempat pembuangan akhir sampah aja gimana, Non? Coba liat aja, agak bau emang tapi pasti Non suka."
            "Yaudah kesana aja." Ucapku pasrah mengikuti saran supirku.
***
            Disana kulihat tumpukan sampah menggunung dimana-mana, banyak pemulung membungkuk-bungkuk mencari sampah yang bisa didaur ulang. Aku berjalan menuju LSM sekitar tempat sampah yang menggunung itu, sambil menggenggam plastik berisi beberapa coklat dan mainan kecil.
            Sesampainya disana, kulihat ada banyak anak kecil yang mendatangiku, respon mereka sangat baik walaupun mereka tak mengenalku. Beramai-ramai mereka mengerumuniku, salah satu diantaranya bertanya,"Darimana, Kak? Pemerintah atau swadaya?" Ucap anak menggemaskan yang segera mencium tanganku.
            Aku mulai sibuk tertawa dan tersenyum dengan mereka, aku mulai melempar pandangan mataku kebanyak arah. Saat kulihat seorang wanita di ujung sana, aku fokuskan mataku menatap wanita tersebut. Kulitnya putih, pipinya tirus, rambutnya diikat simple, penampilannya sederhana, aku menghampiri wanita itu. Dia sedang menggendong seorang anak bayi, bayi yang ditelantarkan orangtuanya sendiri. Wanita itu menatapku dengan senyum penuh kelegaan. Orang yang kutunggu ternyata pulang kesini, orang yang kurindukan ternyata melabuhkan hatinya disini, dan orang yang kucari-cari ternyata bersembunyi disini. Aku mendekati wanita itu.
            "Ibu, kapan pulang?" Ucapku lugu, menahan gerimis yang jatuh dari pelupuk mataku.

16 komentar:

  1. Suka! :)

    Benar. Keterpaksaan hanya membawa kehancuran yang membunuh kita secara perlahan-lahan. :)

    BalasHapus
  2. Mantap.....
    I LIKE IT

    BalasHapus
  3. bravo,.. klw g2,, ingat ibu donG.

    BalasHapus
  4. kereeennn !! suka bgd sm ceritanya..
    knp ga dicoba dbkin buku aja??

    BalasHapus
  5. berusaha yang terbaik sajalah,,,

    BalasHapus
  6. Bagus sekali. Rasanya saya bisa merasakan perasaan sang anak yang merindukan kasih sayang orangtua. Harta dan fasilitas tidaklah cukup untuk kebahagiaan anak. Nice! Like this ^^d

    BalasHapus
  7. yupzz , mama kapan pulang .. aku jugaa kangen mama ,..sangaaatt

    BalasHapus
  8. apakah ini kisah nyata???sangat mengharukan. semangat terus yaaa!

    BalasHapus
  9. hancur,,itu yg saya rasakan ketika membaca kisah ini,,ga kebayang apa yang dirasakan oleh gadis ini dengan segala sesuatu yg menyakitkan tsb...Perih dan sakit mungkin cm itu yg ada...

    BalasHapus