23 Oktober 2011

Langit-Langit Kamar

Reaksi: 
"Apakah setiap pertemuan selalu butuh perpisahan? Meskipun pertemuan itu diisi dengan kebahagiaan?"

            Mataku sayup menatapmu, pipimu yang basah oleh air mata masih menahan langkahku untuk pergi. Suaramu yang lirih seakan-akan memaksaku untuk tetap terjangkau dalam tatapan matamu. Dengan kesesakan seperti ini, tidak mungkin aku mengucap kata pisah secepat ini.
            "Kenapa kamu pergi lagi?" Ucapnya lugu dari bibir tipisnya.
            "Karena memang tempatku bukan disini." Jawabku pendek. Lalu, beberapa detik setelahnya, kesunyian datang menyeruak percakapan kecil itu.
            "Tapi, belahan hatimu kan ada disini? Aku." Katanya serius sambil menyorot mataku.
            Hanya mata kami yang saling menatap, tatapannya lekat memelukku. Hanya bola matanya dan bola mataku yang masih sibuk menari-nari dalam lintasannya. Tiba-tiba saja dia bersandar dibahuku. Kepalaku menempel lembut dengan kepalanya.
            "Jadi, kapan pulang?" Dia bertanya dengan tatapan harap, berharap aku segera melontarkan jawaban pertanyaan hatinya. Dia menggenggam lembut tanganku.
            "Belum pergi kok udah nanya pulang?" Ujarku melemah, pertanyaannya menyudutkanku.
            "Aku lebih suka menunggu kepulanganmu daripada menunggu kepergianmu."
            Lalu, kami saling memandang. Angin yang menyelinap dari jendela menciptakan bunyi-bunyi resah yang menghentakkan jendela. Suara nyamuk beradu merdu dengan helaan nafasku dan nafasnya yang memburu satu-persatu. Aku menatap langit-langit, namun sayangnya hanya langit-langit, bukan langit. Semua putih, bukan biru. Semua datar, bukan membentuk awan.
            Suara cicak mendecak kagum melihat 2 orang yang saling bersandar di tembok. Aku dan dia masih terdiam, hanya perkataan hati saja yang merancau dan berteriak di dalam.
            "Apakah setiap pertemuan selalu butuh perpisahan? Meskipun pertemuan itu diisi dengan kebahagiaan?" Tanyanya lagi. Ah! Aku kembali tersudut untuk keduakalinya.
            Aku menjawab pertanyaan sulit itu dengan semakin erat menggenggam tangannya. Mataku masih menatap langit-langit, ia juga ikut menatap langit-langit.
            Hanya langit-langit polos yang kami lihat dan di langit-langit tak ada rembulan dan matahari yang menyinari bumi bergantian, di langit-langit hanya ada cicak yang berlari-lari kecil. Bagiku, menatap langit-langit bersamanya jauh lebih baik daripada menatap langit biru tapi tidak bersamanya.
            Dia masih bersandar diam dibahuku. Matanya masih sembab. Nafasnya masih saja sesak. Kala itu, aku hanya bisa diam lalu membuka  lengan tanganku. Sepasang lengan yang saling berpeluk adalah bukti bahwa tak ada yang menginginkan perpisahan. Mungkin, aku memang harus menunda kepergianku.

10 Oktober 2011

Malaikat Hujan

Reaksi: 
                Kami selalu bertemu saat hujan, hanya saat hujan. Ketika gerimis menari perlahan, ketika rintik kecil itu berubah menjadi deras, maka kami saling bertemu, dengan tatapan gerah, dengan senyum merekah. Tentu kami kedinginan saat sibuk berpeluk. Kami juga tidak menentukan waktu untuk bertemu, yang jelas saat hujan deras, dia sudah ada disitu, dengan lengannya yang terbuka lebar untuk memelukku. Dan, tanpa kurencanakan pun, saat hujan, aku pasti sudah disitu, menunggu dia menghampiriku dengan pelukan hangatnya, dengan desah lirihnya.
                Aku benci akhir-akhir ini hujan selalu datang tak menentu, kadang siang, kadang malam, kadang pagi, kadang senja. Aku meradang, aku dan dia tak punya banyak kesempatan untuk saling memandang. Lagipula, kenapa aku harus begitu frustasi karena kita tak bisa terlalu sering bertemu lagi? Bukankah aku juga tak pernah tahu namanya? Bukankah aku juga tak tahu bagaimana wajah jelasnya? Bukankah sebenarnya aku tak mengetahui siapa dia? Kenapa aku begitu merindukan pertemuan, walau mungkin dia tidak merindukan sebuah pertemuan? Aku merenung sesaat, kenapa aku begitu terpaku pada fatamorgana?
                Akhirnya, hujanpun menjatuhkan rambut mayangnya ke bumi dengan bongkahan rintik-rintik kecil yang menjamu mata telanjang yang menyaksikannya. Aku tersenyum lebar, aku akan segera menemukan dia, malaikat hujan. Dia akan kembali memelukku, dengan kedua lengannya yang hangat. Aku menunggu hujan semakin deras, kulihat dia ada di ujung jalan, kali ini dia tidak menghampiriku segera, sepertinya dia juga tidak mencariku, dengan langkah gontai, aku menghampirinya, aku kedinginan.
                “Hey! Kenapa tidak langsung menghampiriku?” Tanpa jawaban dan pengungkapan, dia langsung memelukku. Kami saling bisu, malu-malu karena lama tak bertemu. Dia memang tidak pernah berkata sepatah katapun, dia hanya berbicara lewat peluknya, lewat kedua lengannya.
                “Aku merindukanmu! Mengapa kau tidak segera menjawab pertanyaanku? Kemana saja kamu?” Suara parauku beradu dengan irama deras hujan, menambah sinyal kekesalan, dalam peluknya, dia masih membisu.
                “Aku tidak menemukan orang sepertimu dalam dunia nyata.” Ucapku lesu, merintikan hujan baru dari pelupuk mataku, air mata.
                “Aku juga tak menemukan orang sepertimu dalam dunia fatamorganaku.” Tungkasnya lirih dengan gemeretak giginya. Dia kedinginan.
                Cukup dengan pelukan, hanya dengan pelukan, kami saling berbicara lewat pelukan. Sesekali dia mencium keningku, melumat bibirku, lalu kembali memelukku. Kami hanya terdiam, kami hanya membisu, kami memang tak saling tahu, kami bahkan tak pernah tahu mengapa Tuhan merencanakan kami untuk bertemu. Yang kutahu, aku selalu menunggu hujan, hanya untuk menemuinya, entah apa yang dia tahu, karena aku pun masih belum bisa membaca pikirannya. Yang kumengerti, kami memang tak selalu bertemu apalagi saling bertatap mata, hanya saat hujan, kami bisa menyatu, aku dan dia menjadi kita dalam satu pelukan yang diciptakan hujan. Saat itu, hanya awan kelabu yang kami lihat. Selalu kelabu pun tak apa-apa, asal dia ada dipelukku, itu saja.
                Bagiku, tak penting bagaimana seseorang saling bertemu dan memandang. Tak penting juga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk saling berbicara lalu terdiam. Semua aspek dan teori tentang cinta menjadi sangat tidak penting, ketika dia yang ingin kutemui sudah berada di depan mataku. Bahkan, dalam kebisuaan sekalipun, kami bisa saling berbicara dan berkata rindu. Bahkan, hanya dalam pelukan semaya-mayanya sekalipun, kami bisa saling mencintai dan melindungi. Karena kebisuan tak selalu berarti benar-benar bisu, karena satu pelukan tak berarti dia akan melepas lengannya dari bahuku.
                Aku suka berbicara dengan hujan. Aku suka merindukan seseorang yang bahkan tak kuketahui wajahnya. Aku mencintai dia yang sulit untuk kucintai. Nyatanya, aku suka, ada yang salah?

8 Oktober 2011

Dari Balik Kaca Jendela Kelasku

Reaksi: 
Aku masih sibuk mencari-cari sosokmu dari balik jendela
Menatap jauh ke arah yang sulit kujangkau dengan pembatas kaca jendela itu
Kamu yang biasanya berjalan santai di koridor-doridor kelas
kali ini tak terlihat batang hidungnya sama sekali
Ah.. kubiarkan sosokmu tak terlihat mataku pagi ini
Padahal selalu saja aku benci kenyataan ini
Mataku tak benar-benar melihat kalau tidak melihatmu
Otakku tak benar-benar berpikir kalau tidak memikirkanmu
Aku masih menunggumu
Dari balik kaca jendela kelasku

Seorang guru sudah sibuk dengan pekerjaannya sendiri
Mengajar
menerangkan
menjelaskan
Ouch!
Sekali lagi aku menatap kaca jendela
Menatap koridor kelas yang mulai terlihat sepi
hanya ada tiupan angin yang bermesraan dengan daun-daun layu
Namun, angin tak membawamu kesini
ke depan mataku
Dari balik kaca jendela kelasku

Mataku masih tertuju pada pemandangan yang disajikan kaca jendela kelasku
Sambil memainkan pensil mekanik yang menempel malas di jemariku
aku masih saja tak mau tahu apa yang terjadi di dalam kelasku
Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi di luar sana
Apa yang terjadi di luar kelasku
yang selama ini selalu kucari tahu
Dari balik kaca jendela kelasku

Bel istirahat maraung lelah
Segera saja kutatap jendela itu
Siapa tahu ada kamu yang berdiri di dekat situ
dengan senyummu
dengan kerlingan matamu

Ah, ya!
Ternyata ada kamu!
20 meter dari jarakku mematung karena menemukan sosokmu
Dengan senyum tanpa tanda tanya
Kusentuh wajahmu
Kusentuh bibirmu yang sering melengkungkan senyum itu
Lalu, kumainkan rambutmu yang hitam itu
Aku bisa menyentuhmu
walau hanya dengan menyentuh kaca jendela dengan jari telunjukku
Dengan menyentuh kaca jendela
aku bisa terus merengkuhmu
Dengan menyentuh kaca jendela
aku bisa terus mencintaimu
dengan caraku sendiri
dengan kerahasiaanku sendiri
dengan sisi gelapku sendiri
Aku bisa mencintamu
walau hanya dari balik kaca jendela kelasku

Aku masih memerhatikanmu dari sini
Tempat yang mungkin tak kau tahu dan kau duga
Masih saja senyumku melebar
Masih saja helaan nafas bahagia terdengar lirih dari sistem respirasiku
Masih saja detak jantung tak beraturan mengacaukan perasaanku

Tiba-tiba saja...
Ah, dia lagi!
Dia menghampirimu lagi!
Seseorang yang tak lagi kau anggap teman
Seseorang yang kini bebas memelukmu dan menikmati senyummu
kapanpun dia mau
Dia menghampirimu
Lalu merangkul tubuhmu
Dia bergelayut manja dibahumu
Lalu kamu hanya tersenyum mesra menatapnya

Aku ragu
Tidak ada lagi detak jantung yang saling memburu kala itu
Kuhempaskan tubuhku hingga ke tempat duduk kaku
yang siap menopang kemarahanku
kemarahan yang tak berdasar pada hak yang kumiliki sebagai seseorang yang memang bukan siapa-siapanya
Seringkali aku bertanya-tanya
Seberapa sulitkah seseorang bisa mencintai dengan perasaan yang bebas?
Tanpa dikekang oleh rasa takut
Tanpa dikekang oleh rasa gengsi yang menjadikannya mati


Dari balik kaca jendela kelasku...

6 Oktober 2011

Aku Tidak Ingin Makan Telur Dadar kalau Bukan Buatan Ibuku

Reaksi: 
"Apa gunanya menginginkan kembali masa lalu ketika sebenarnya masa itu tak akan pernah terulang?"



Aku hanya memainkan nasi dan telur dadar dengan sendok dan garpuku. Menatap kosong ke arah sarapan yang memang tidak membuat dirinya agar berselera sehingga aku ingin melahapnya. Kulempar pandanganku ke jendela ruang makan, sinar matahari mulai mengintip malu-malu dari balik kaca kaku bertralis besi tersebut. Aku sangat benci suasana seperti ini, suasana sepi seakan-akan rumah ini tak berpenghuni. Aku duduk sendirian di meja makan sambil berpangku tangan. Dengan mata setengah mengantuk, kembali kutatap sarapanku lagi, nasi dan telur dadar, sederhana. Aku masih tak berselera untuk melahapnya, karena telur dadar ini bukan buatan ibuku. Aku tidak ingin makan telur dadar kalau bukan buatan ibuku. Aku semakin benci suasana ini, karena pagi ini adalah pagi yang sama, lagi dan lagi tidak ada ibuku yang menemaniku sarapan. Pemandangan pagi ini juga sama, di ruang tamu terlihat ayahku sedang bergelayut manja dipundak ibu baruku. Sebenarnya, aku sangat tidak sudi memanggil dia dengan sebutan “Ibu”, karena seseorang yang pantas kupanggil ibu adalah ibuku sendiri, tidak ada seorang pun yang berhak menyandang panggilan itu dari bibirku kecuali untuk ibuku.
***
Ibuku memang seorang wanita yang terlihat lemah, tapi di balik kelemahan seorang wanita yang terlihat oleh mata, ada kekuatan sangat besar yang tak terlihat mata. Didukung oleh wajah jawanya yang halus, dihiasi dengan mata redupnya yang bening, beliau selalu menjadi aktris utama yang kujadikan idola dalam drama kehidupanku. Ibuku memang jarang berbicara, dia lebih suka bertindak lalu melakukan, dalam pada membuang-membuang waktu untuk sekedar berdebat. Ibuku lebih suka memeluk daripada mengungkapkan, karena lewat sepasang lengannya ada desir kehangatan tersendiri yang menjawab banyak pertanyaan. Ibuku adalah wanita paling baik yang pernah kukenal, hanya seorang bodohlah yang mampu menyakiti ibu dengan perlakuan dan perkataannya, ayahku.
***
Tiga bulan yang lalu, ibu masih sibuk bangun pagi-pagi hanya untuk memasak telur dadar kesukaanku, telur dadar untuk aku, ayahku, dan ibuku. Kami bertiga duduk dalam satu meja, tanpa ungkapan dan ucapan, karena bahkan hanya lewat tatapan ada “pembicaraan” bisu yang “terdengar” oleh hati. Sesaat sebelum kamu berangkat, aku pamit lalu ibu mencium pipiku serta memelukku, begitu juga perlakuan yang sama diberikan untuk ayahku, tapi ayahku hanya meresponnya dengan tatapan dingin. Memang, kala itu ada hal yang sangat kutakutkan, ketika aku mencoba membuat persepsi bahwa cinta ayahku pada ibuku memudar. Padahal ibuku itu nyaris sempurna, memangnya ayahku butuh seseorang yang seperti apalagi? Ah... tapi kembali kuingat nasehat ibuku saat aku mulai nakal dan membuat persepsiku sendiri. “Pindahkan otakmu dan matamu ke hatimu, mereka tidak bisa bekerja sendiri-sendiri.” Ucap beliau sambil memelukku lebih erat dan hangat.
***
Ah ya! Belakangan kutahu bahwa ibu baruku (yang tetap tak sudi kupanggil ibu) adalah “selingan tak berguna” yang sempat mengganggu hubungan ayahku dan ibuku saat mereka masih berpacaran dulu. Lalu, untuk apa si jalang itu kembali? Satu hal yang kutahu, wanita jalang memang selalu datang tidak dalam waktu yang tepat. Aku benci ibu baruku, tepatnya aku benci dengan wanita jalang yang tiba-tiba datanng ke dalam hidupku. Aku hanya menginginkan ibu. Itu saja. Tapi, sekali lagi aku berpikir, apa gunanya menginginkan kembali masa lalu ketika sebenarnya masa itu tak akan pernah terulang?
***
Kali ini, pandanganku kosong menatap ibu. Berkali-kali aku mengusap-usapnya dengan sentuhan lembut sambil berusaha untuk tersenyum. Aku bercerita banyak hal, soal prestasiku, soal tulisanku, soal perkembanganku, dan soal ketertarikanku pada seseorang yang kini mengisi kekosongan hatiku. Aku sama sekali tak bercerita tentang ibu baruku (baca: wanita jalang), aku tak ingin ibu bersedih karena ayahku memilih seseorang yang salah. Tapi, tak bisa kututupi perasaan khawatirku tentang ayah dan ibu baruku itu, karena ibuku selalu tahu walapun aku berusaha menyembunyikan perasaanku. Aku membersihkan rumput-rumput yang tumbuh liar di atas tanah basah itu, kutaburi bunga-bunga beraroma lembut yang sesekali menyengat hidungku ketika angin menyebarkan aromanya. Untuk kesekian kalinya, aku mencium nisan ibuku. Aku tahu kalau beliau sangat suka dengan kecupan hangatku. Beberapa detik terbesit di dalam pikiranku tentang ayah yang tak berjumpa dengan ibu beberapa bulan ini. Entah beliau telah merencanakan untuk berjumpa tapi lupa atau beliau terlalu sibuk dengan pekerjaannya? Ah... memang beberapa laki-laki selalu mudah melupakan kenangannya.

Untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini

Reaksi: 
Aku bosan ketika bangun pagi hari hingga tidur malamku selalu diisi pertengkaran kecil dan bahkan pertengkaran yang cukup besar. Di mana dia selalu ingin menjadi pemenang, di mana dia selalu ingin menjadi aktor utama. Sementara aku, hanya pemain figuran yang tidak berhak melawan, posisiku hanya seseorang yang pasif yang mencoba mengerti semua perlakuannya walaupun ada banyak gejolak untuk melawan.

Ada saja hal-hal kecil yang dia jadikan sebagai acuan untuk berdebat panjang. Masalah komunikasi, masalah perhatian, masalah waktu, dan masalah-masalah lainnya yang selalu terlihat besar saat ia melebih-lebihkannya. Memangnya aku ini tempat sampah, "tempat" dimana ia menumpahkan segala kekesalan dan amarahnya saat ia merasa lelah dengan dunianya? Apa dia tak pernah berpikir bahwa aku sama seperti dia, yang juga punya perasaan? Apa dia tahu, bahwa menjadi aku bukanlah hal yang mudah?

Seringkali aku merasa risih dengan semua hal yang ia lakukan padaku. Rasanya sehari seperti sebulan lamanya. Seringkali aku terdiam melihat semua mengalir tanpa persetujuan dan keinginanku. Seringkali aku ingin lepas, tapi aku merasa jeratan itu masih terlalu kuat. Aku lelah menjalani hubungan yang hanya berjalan di tempat, di mana hanya ada satu orang yang berkorban demi satu orang lainnya. Di mana hanya ada aku yang berlelah sendirian hanya untuk menjaga yang seharusnya kulepaskan.

Dan, untuk kamu, ya kamu! Pria yang dulu pernah kucintai dan kukagumi sebelum aku bertemu dengannya. Jujur, aku merindukanmu. Merindukan sosok dewasa yang dulu pernah menopang dan menegakkan langkahku. Aku merindukan suaramu yang dulu menelusup lembut ke dalam telingaku. Aku merindukan sosok sederhanamu dengan tinggimu yang 196 sentimeter itu. Sekarang, aku tahu bagaimana rasanya bila tidak ada kamu yang mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tahu rasanya jika saat bangun pagi tak ada sapamu di inbox handphoneku. Aku benar-benar kehilangan sosokmu. Aku benar-benar takut kehilangan sebagian dari diriku saat aku juga kehilangan kamu.

Ingin rasanya kembali ke masa lalu, ketika masih ada kamu, ketika aku masih bisa tersenyum saat bangun pagi hingga tidur malamku. Saat kamu masih menganggapku lebih dari teman, saat ungkapan rindumu masih sering kudengar dari bibir tipismu, saat kehadiranmu bagai aktor utama drama yang kutunggu-tunggu kemunculannya. Aku masih saja sering memerhatikan nomor handphonemu, menimbang-nimbang apakah aku harus mengirim pesan terlebih dahulu atau aku saja yang menunggumu? Ah... tapi kamu terlalu sibuk, bahkan hanya untuk sekadar sms apalagi menanyakan kabarku.

Setelah kuputar ulang lagi rekaman otakku yang berisi tentangmu, aku mencoba untuk kembali mengingat perlakuan lembutmu dan perlakuan kasarnya. Aku mencoba  mengingat kesabaranmu saat menghadapiku, aku mencoba mereka-reka kembali ucapanmu saat menenangkan amarahku, aku mencoba mengintip kembali usaha-usaha yang kaulakukan agar hubungan kita tidak berjalan di tempat. Bayanganmu berputar-putar di otakku, suaramu terdengar menusuk-nusuk telingaku. Aku benar-benar kecanduan kamu, aku benar-benar kecanduan masa lalu. Aku semakin sadar bahwa tidak ada seorangpun yang bisa membuatku merasa berarti dan luar biasa selain kamu. Aku semakin yakin bahwa kamu adalah seseorang yang berusaha memperbaiki kesalahanku agar aku menjadi seseorang yang baru. Kamu menerimaku lalu menjaga perasaanku, dia menerimaku tapi berusaha merusak perasaanku.

Kali ini, aku tak merasakan kantuk sama sekali, rasa kantuk itu tak benar-benar berarti sampai aku bisa menuliskan ini, sampai aku bisa menikmati hadirmu lewat tulisanku. Aku menyesal kenapa semua hal-hal yang indah seringkali tak bisa terulang? Aku frustasi. Aku kebingungan. Aku butuh hadirmu. Aku butuh kata rindumu. Di mana kamu? Kautahu? Sejak kemarin aku mencarimu! Hubunganku dengannya diujung tanduk saat ini! Selamatkan aku, bukan selamatkan hubunganku!

Untuk seseorang yang mungkin tidak akan pernah membaca tulisan ini
06102011 01:37
aku merindukan suara beratmu.

5 Oktober 2011

Gelang Bali

Reaksi: 
"Kenangan mampu mengalahkan perasaan seseorang."



                 Aku berlari-lari kecil ke arahnya, dengan wajah berseri-seri aku berusaha meraih posisi dimana ia berdiri. Saat dia tersenyum ke arahku, aku segera meraih tangannya dengan lembut. Sekali lagi, dia hanya memperdengarkan gelak tawanya yang menggemaskan.
                "Ada apa? Kamu kok narik-narik tanganku sih?" Ucapnya lugu sambil memainkan rambut sebahunya.
                "Kemarin pas liburan aku ke Bali, aku beliin kamu ini." Jawabku seadanya, kuletakkan benda itu di atas telapak tangannya.
                "Wah, gelang ya? Makasih ya, Dicto." Sambil melengkungkan senyumnya yang manis, dia menyibukkan dirinya dengan memasangkan gelang itu pada pergelangan tangannya.
                "Susah ya masangnya?" Tanyaku sambil memperhatikan ketidak-mampuannya untuk memasangkan gelang itu.
                "Iya, To. Gimana masangnya ya?"
                "Sini aku yang pasangin. Cuma aku yang bisa memasangkan gelang ini dipergelangan tanganmu." Ucapku tersipu malu sambil memasangkan gelang itu. Dia tersenyum ke arahku, aku menunduk dengan perasaan berkecamuk.
                Taman kanak-kanak kala itu sudah terlihat sepi. Aku menunggu ibuku yang selalu terlambat menjemputku, dia menunggu ayahnya yang punya rasa ketidak-peduliaan tinggi. Kembali aku menatap senyumnya, merasakan sejuk tatapannya, lalu melirik iseng ke gelang sederhana itu. Sejak saat itu, gelang pemberianku selalu nyaman terpasang di pergelangan tangannya. Entah sampai kapan, ia akan memasangnya.
***
                Aku terbangun dari mimpiku, sialan! Mimpi itu lagi! Teman masa kecil lagi! Sesuatu yang tak bisa kulupakan sampai saat ini! Kulihat jam dinding yang berdetak angkuh, pukul 02:22 dinihari. Di sampingku, istriku masih sibuk dengan alur mimpinya, aku berusaha untuk kembali memejamkan mata, memeluk dan mendekap istriku dengan begitu dekat, tapi selalu tak pernah aku merasa hangat.
***
                Pernikahan kami sudah berjalan 6 tahun, dikaruniai 2 anak sehat dengan kepribadian yang memikat. 6 tahun? Kalian pasti berpikir bahwa pernikahanku terlihat begitu bahagia, ya memang, aku bahagia, hanya terlihat bahagia, bukan benar-benar bahagia.
                Aku tidak benar-benar mencintai istriku, dia kunikahi karena ibuku mau aku menikahi dia. Itu permintaan terakhir almarhumah ibuku sebelum dia mendiami pusaranya. Apakah membahagiakan orangtua berarti mengikuti pilihannya? Meskipun anaknya tersiksa dengan pilihan itu?
                Pertemuan pertama kami tak dihiasi dengan senyum tersipu malu, dengan tatapan lugu, dan dengan percakapan merayu. Pertemuan pertama kami diisi dengan penentuan tanggal pernikahan! Tanpa basa-basi, tanpa memikirkan perasaan kami masing-masing.
                Setahun pernikahan kami, aku masih sangat bisa mentolerir semua keegoisannya, aku mengira bahwa setahun adalah masa perkenalan dan adaptasi. Dua hingga enam tahun, semua masih tetap sama. Aku selalu berusaha mencintai istriku, dengan segala kekurangannya, tapi kenyataan yang tidak kusuka adalah ternyata cinta tak bisa datang karena paksaan.
                Intinya, yang kujalani selama 6 tahun bukanlah karena aku mencintai, tapi karena kewajibanku untuk berusaha mencintai seseorang yang sulit untuk kucintai. Cinta tidak selalu datang karena terbiasa, cinta itu soal perasaan, bukan teori.
***
                Sebenarnya aku sudah tidak ingin menghabiskan waktuku dengan wanita yang sulit untuk kucintai, tapi bagaimanapun juga, ia adalah ibu dari anak-anakku. Ditambah lagi kota ini, kota Bali. Kota yang terlalu menyesakkan bagiku, entah bagi keluargaku. Aku sangat ingin pulang ke Jakarta. Dimana kenangan-kenanganku menempel lembut disana.
***
                Semenjak aku menikah dan semenjak hidupku terlihat bahagia, aku tak lagi bertemu dengan teman masa kecilku itu. Bisa juga dibilang, cinta pertamaku, Theodora Immaculata.
                Mungkin sekarang dia telah hidup bahagia dengan suami dan anak-anaknya. Menetap dalam suatu kota yang menyimpan kebahagiannya. Aku merindukan kotaku, aku memutuskan untuk pulang. Aku kangen ibu, aku ingin mengunjungi beliau dan mencium lembut nisannya.
***
                Inilah kota tempatku seharusnya pulang, aku tidak akan menyebut kota ini sebagai kota persinggahan, karena kota ini sesungguhnya adalah Rumahku. Rumah adalah tempat seseorang untuk pulang, bukan untuk sekedar singgah.
                Di rumah orangtuaku, aku menemukan kebahagiaan yang tidak kutemukan di Bali. Bali memang indah, tapi tak selalu yang terlihat indah akan membawa kebahagiaan. Kutatap haru kamarku dulu, penuh dengan coretan dinding semasa aku ada di taman kanak-kanak sampai masa kuliah. Mataku terpaku pada tulisan yang berantakan dan hampir pudar, ada nama Theodora Immaculata yang terususun dalam huruf-huruf bisunya. Aku hanya mengembangkan senyum. Aku ingin ke tempat yang menyimpan banyak kenangan itu, taman kanak-kanak.
***
                Aku melenggangkan mobilku hingga ke depan bangunan tua yang masih terlihat sama seperti dulu, seperti 30 tahun lalu. Di samping taman kanak-kanak itu, masih berdiri bangunan untuk Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. Melihat bangunan-bangunan tua itu, aku hanya menggigit bibir. Bahkan, benda mati pun mampu mengingatkan seseorang pada masa lalunya.
                Kakiku melangkah seiring kemauanku. Memasuki taman kanak-kanak yang memaksaku untuk mengunjunginya sesaat saja. Ternyata masih sama, beberapa permainan berwarna-warni masih mematung di halaman yang besar itu. Hanya warna catnya saja yang diganti.
                Angin yang baru saja memainkan rambutku dan menggelitik kulitku mengingatkanku pada ayunan yang biasa kutunggangi bersama dengan dia, wanita itu, yang kuceritakan sejak tadi itu.
Saat langkahku masih berjalan, pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang duduk diayunan itu. Aku duduk di ayunan samping, sambil iseng menghampiri wanita tersebut.
                Aku menatapnya, memperhatikan wajahnya dan sesuatu yang dikenakannya, gelang dari Bali itu, gelang yang pernah kupasang dipergelangan tangan seorang wanita.
                "Ima?" Sapaku dengan nada bertanya.
                Dia memalingkan wajahnya ke arahku, wanita itu mulai mengembangkan senyumnya,"Dicto!" Ujarnya dengan nada tinggi.
                Buru-buru dia bangkit dari dudukan ayunan itu, berdiri di depanku, lalu membungkuk, memelukku. Nafasku memburu kala itu, aku mendengar helaan nafasnya dan suara kecil isak tangisnya. Lalu, dia melepaskan pelukan itu, kembali duduk dalam ayunan. Tangannya sibuk menghapus air matanya. Hingga tiba pada momen gelangnya terlepas.
                "Tanganmu ternyata kecil sekali ya?"
                "Aku kurus ya?"
                "Sedang saja, tanganmu kecil sekali, aku kaget."
                "Ah! Iya, mungkin." Jawabnya pendek sambil sibuk memasangkan gelang itu pada pergelangan tangannya. Kulihat ada cincin yang terpasang pada jari manisnya. Aku menghela nafas, "Sudah punya orang lain ternyata." Ucapku lirih dalam hati.
                Aku tersenyum menatap peristiwa itu, segera saja kugenggam tangannya. "Kalau ini terlepas, cuma aku yang bisa memasangkan kembali gelang ini dipergelangan tanganmu." Ucapku sambil memasang gelang itu pada pergelangan tangannya. Ah, sama seperti 30 tahun yang lalu. Dia hanya tertawa, tawa yang menghilangkan mata sembabnya. Selalu saja, kenangan mampu mengalahkan perasaan seseorang.

4 Oktober 2011

Sepotong Sore dan Hujan

Reaksi: 
"Bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu?"



Hujan selalu menyimpan tanda tanya. Kadang, hujan bisa juga menjadi jawaban. Dia membisu, datang malu-malu, tanpa isyarat dan kata, tiba-tiba dia mengguyur saja sesukanya, seenak hatinya. Seringkali hujan disalahartikan sebagai pembawa duka, sebagai sebab seseorang mengingat kenangannya, sebagai terdakwa yang menyebabkan seseorang takut akan takdirnya. Hujan buatku adalah penenang dalam kerinduan, pembawa air mata, dan pengingat rasa kehilangan. Selalu saja, sesuatu yang harus seseorang lupakan adalah sesuatu yang justru jauh tersimpan begitu dalam, kenangan.

***
Seorang pria, sederhana saja. Senyumnya menyimpan banyak tanda tanya, tatapannya mengganggu laju kerja otak, dan gerak-geriknya memaksaku agar tidak melewati setiap inci perpindahannya.

Lalu, semua terjadi begitu saja. Saat sapa lembutnya menjaring nyata menyentuh gendang telinga, saat percakapan kecil yang tercipta berubah menjadi deretan narasi nyata, aku dan dia, mengalir, begitu saja, seperti curah lembut hujan yang jatuh ke permukaan. Sederhana sekali, cinta memang selalu menuntut kesederhanaan.

Dia mengajariku banyak hal. Cara menari dalam hujan, cara tertawa dalam kesedihan, cara menghargai perbedaan, dan cara bermimpi walau dalam kemustahilan.

Seringkali aku menatapnya dalam-dalam, menyelami sejuk matanya, tercebur dalam hatinya, lalu terpeleset dalam aliran darahnya. Aku sangat ingin menjadi bagian dalam setiap detak jantungnya, aku ingin ikut berhembus saat helaan nafasnya. Tapi, apa semua ingin dan harapku akan menyentuh kenyataan? Inilah yang disebut mimpi, selalu terlalu tinggi.

Tahu-tahu, sosok dia menjadi sangat penting dalam setiap bangun pagi hingga tidur malamku. Sedetik, semenit, sejam, seharian, hanya dia saja yang begitu rajin menghampiri otakku. Aku ragu kalau dia tak punya kerjaan lain selain mengganggu pikiran dan imajinasiku.

Ah, kala itu, cinta tak lagi menjelma menjadi sesuatu yang sederhana, berangsur-angsur tingkatannya berbeda, hingga ia menjelma menjadi dua kata, luar biasa. Perasaan itu tak lagi sekadar teman biasa, tapi dia berevolusi menjadi lebih dari teman biasa.
***

Aha! Hujan ternyata masih jadi peran antagonis, dia kembali mengingatkanku padamu! Kamu yang dua tahun ini meninggalkanku tanpa pamit, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa isyarat dan pengungkapan.

Ah... berdosakah aku kalau masih saja memikirkanku? Dua tahun lalu, hanya kau saja yang mengajariku menghargai rintik hujan, menghargai deras rindunya, menghargai butir-butir kenangan halusnya.

Hujan kali ini, di sepotong sore yang dingin, benar-benar mengingatkanku pada rasa kehilangan, tentu saja rasa yang begitu dalam. Hilang? Saat aku berniat untuk mencari, pasti aku akan menemukan. Tapi, bagaimana aku bisa mencari orang sepertimu? Di mana aku bisa menemukan seseorang yang mau berjanji untuk tidak meninggalkanku?

Sayang. Ah! Sayang? Panggilan yang tak pernah terucap sekalipun dari bibirmu. Hujan kali ini memang deras sekali, aku tak membayangkan kamu yang terbaring lemah disana, apa kau kedinginan? Oh ya, sudah sebulan aku tidak mengunjungimu ya? Apa kamu merindukanku sedalam aku merindukanmu? Tidak usah dijawab! Aku tidak ingin mendengar jawaban dingin itu! Begini saja, besok aku akan mengunjungimu, membersihkan rumput-rumput liar yang mencoba menjamah nisanmu. Jangan menolak! Aku punya alasan sederhana untuk menjelaskan pemaksaanku. Aku hanya rindu. Itu saja. Sederhana. Rindu memang selalu sederhana kan?

1 Oktober 2011

Ibu, Kapan Pulang?

Reaksi: 
"Kesepian itu datangnya dari hati dan perasaan, bukan dari suasana yang sebenarnya"



            Aku berjalan acuh tak acuh melewati koridor kelas. Langkahku terus maju, tak peduli adanya segerombolan anak-anak berstatus "gaul" sedang duduk santai di lantai. Mereka adalah sekelompok anak-anak (sok) populer yang meng-eksklusif-kan diri, seakan-akan merekalah yang paling terkenal dan paling penting di sekolah ini. Terdengar bisik-bisik nakal yang sampai hingga gendang telingaku,"Si autis tuh!" Bisik si anak dari ekstrakulikuler basket, lalu pendengarnya, si anak dance ikut menggumam,"Stress kali, biasa deh nasib anak broken home." Aku tak mempedulikan bisikkan itu, toh aku tak mengenal mereka, mereka juga tak benar-benar mengenalku. Yang tahu baik buruknya aku adalah diriku, bukan mereka yang asal menilaiku.
            Aku berjalan sambil memeluk erat buku-buku yang sejak tadi menempel dan menghangatkan dadaku. Langkahku terhenti di sebuah ruang dengan pintu coklat dengan genggaman pintu yang berwarna pucat pasi. Aku membuka pintu itu lalu memasukinya dengan langkah santai.
            "Bianca, lho kok enggak masuk kelas?" Sapa seorang wanita yang duduk di belakang meja tamu perpustakaan.
            Aku sibuk menulis di buku tamu perpustakaan. Seusai itu, aku menjawab pertanyaan beliau,"Iya, Bu. Saya enggak masuk kelas. Suntuk! Pelajaran Fisika."
            "Kalau dicari gurunya gimana?" Ucap Ibu penjaga perpustakaan sembari sibuk dengan laptop mungilnya.
            "Ya enggak apa-apa, setidaknya saya menghindari pelajaran tersebut bukan karena alasan ingin melarikan diri ke kantin, saya di perpustakaan dan saya ingin membaca." Jelasku panjang lebar.
            "Itu buku yang kemarin ya? Mau kamu balikin atau mau lanjut dibaca?"
            "Mau dibalikin, Bu. Saya sudah selesai membacanya. Bukunya bagus, teori filsafatnya cerdas, dogma dan ajarannya yang rumit dijelaskan secara sederhana."
            "Buku kayak gini cuma selesai sehari? Gimana bacanya?"
            "Ya dibaca terus-menerus, Bu."
            "Terus kamu enggak ngerjain PR ya?"
            "Enggak, Bu. Saya hanya ingin mengerjakan PR untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Mandarin, bahasa Inggris, Sejarah, dan seni. Pelajaran lainnya tidak saya kerjakan."
            "Kamu IPA kan?"
            "Yup, 12 IPA 5."
            "Udah kelas 12 kok enggak semangat?"
            "Sejak awal memang tidak, saya dipaksa masuk jurusan IPA oleh ayah saya. Kadang, sesuatu yang bersifat paksaan mampu menyenangkan hati seseorang, salah satunya orangtua.”
            Aku lalu menghilang diantara rak-rak buku, menyelami ratusan buku yang menggoda pandanganku, selang beberapa menit aku mendapatkan buku yang kelihatannya menarik, aku menarik buku itu setelah berdesak-desakan dengan buku-buku lain yang menjepitnya,"Sesak nafas ya dijerat terus-terusan oleh buku-buku lain? Sama seperti aku yang sesak dijerat orang-orang lain." Ucapku dalam hati sambil berjalan menuju meja baca.
            Inilah yang kusuka, sendirian di tempat yang sepi, bersama meja dan buku. Aku selalu pusing dikeramaian. Aliran darahku selalu tak mengalir dengan biasanya kala aku berada di keramaian. Setelah ibu meninggalkan rumah, aku lebih suka menyendiri, menghabiskan waktu dengan diriku sendiri, dan menghibur kesedihanku dengan usahaku sendiri. Beberapa hal juga mampu membuatku tersenyum dalam hati, seperti saat cerpenku dimuat di media cetak dan media online. Aku menumpahkan kekecewaanku pada tulisan, aku menumpahkan kesedihanku pada tulisan. Saat menulis, aku menemukan bagian diriku yang hilang.
            "Sendirian?" Ujar Ibu penjaga perpustakaaan, mengagetkanku.
            "Iya, Bu. Memangnya kapan saya tidak sendirian? Saya selalu sendirian, setiap saat, setiap waktu. Cuma buku-buku ini yang mengajak saya bicara dengan bahasanya yang berbeda tapi berusaha saya pahami."
            Ibu penjaga perpustakaan menatapku gamang, sinar matanya meredup perlahan, mungkin dalam hatinya ia berucap,"Aku tidak tahu derita apa yang dihadapi anak ini. Tapi, dia berusaha tetap bertahan meskipun lukanya semakin dalam."
***
            Supirku membawakan tasku, beliau bercakap macam-macam denganku tapi aku tak mempedulikannya, ucapannya berlalu dengan desahan angin, tatapanku menatap ke depan, kosong. Langkahku masih saja lurus, langkah bisu menderu melawan debu.
            "Setelah ditinggal ibunya, kerjaannya cuma bengong doang. Kasihan ya? Punya segalanya tapi gila sama imajinasinya." Tungkas seorang perempuan yang berdandan berlebihan untuk ukuran anak sekolahan. Aku bisa menebak kalau dia anak cheerleaders yang merasa (sok) populer dan selalu ingin meng-eksklusif-kan dirinya dari anak-anak kurang populer di sekolah.
            Aku mengehentikan langkahku, menatap tajam perempuan busuk itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, aku turut menatap empat temannya yang selalu mengekor kemanapun perempuan busuk itu pergi. Aku mendekati perempuan busuk itu,"Perek! Mau sekolah atau mau jual diri?" Bentakku dengan penuh amarah. Perempuan busuk itu berusaha menampar wajahku, tapi supirku menarik tangannya lalu memutar-mutar tubuhnya hingga perempuan busuk itu kelimpungan pusing. Aku memberi isyarat pada supirku agar segera menuju tempat ia memarkir mobil.
            "Non, lain kali kalau ada yang ngejek-ngejek kayak gitu diemin aja." Kata supirku dengan suara khasnya. Suara berat yang disebabkan oleh keseringan menghisap nikotin.
            "Untuk menyadarkan seseorang, kita juga butuh tindakan, bukan cuma perkataan." Pembelaanku singkat menutup pembicaraan tak direncanakan itu.
***
            Senja berganti menjadi awan-awan hitam yang berarak menuju malam. Suara azan magrib nyaring dan berbisik-bisik resah ditelingaku. Jalan komplek perumahan yang ramai oleh sepeda motor, kerincingan lonceng sepeda, dan derap langkah anak kecil yang berlari-larian sejak tadi mulai tak terdengar. Hanya ada kesunyian kala itu, hanya ada semilir angin yang berhempus ganas menusuk tulangku, hanya ada suara nyamuk-nyamuk yang berusaha memangsa hemoglobin dalam darahku.
            Suasana seperti ini terus berulang setiap saatnya, setiap jamnya, setiap harinya. Seperti dejavu yang terus-menerus menyiksaku. Aku duduk di teras rumah dari sore, senja, hingga menjelang malam. Aku menunggu ibu pulang. Aku berharap wajah beliau yang lelah mampu mengembalikan senyumku yang hilang. Sumarni namanya, beliau bekerja di salah satu Lembaga Sosial Masyarakat yang mengurusi persoalan anak jalanan dan anak-anak bayi yang ditelantarakan karena kelahirannya yang tak diharapkan. Ibuku mulia sekali, hanya seorang idiotlah yang berusaha menyakiti dan mematahkan hatinya, ayahku.
            Malam mulai menghampiri awan di atas rumahku, angin yang berhembus ganas semakin menggangguku, aku menatap pagar depan, kekecewaan yang selalu datang berulang, ibu tidak pulang.
***
            Aku benci kalau setiap pagi harus berpamitan dengan pria brengsek itu, ayahku. Pria yang memberiku fasilitas, harta benda, dan segalanya, tapi dua hal yang tak pernah dia berikan padaku, perhatian dan kasih sayang. Kuketuk pintu kamar ayahku, seorang wanita yang tak kukenal menjawab ketukan pintu itu,"Papamu masih tidur." Ucapnya dengan nada pelan.
            "Anda siapa?" Tanyaku penasaran.
            "Kania. Kekasihnya" Jawaban singkat disertai dengan bantingan halus pintu itu. Aku mematung, memberi isyarat supirku untuk beranjak dan segera mengantarku ke sekolah.
Wanita lain lagi ternyata, aku ingat setiap aku mengetuk pintu kamar ayah, selalu ada wajah dan nama wanita-wanita baru yang tak kukenal. Seminggu yang lalu bernama Nanda, lima hari yang lalu Abigael, tiga hari yang lalu Hana, dua hari yang lalu.... Ah! Aku hanya membebani otakku dengan hal-hal yang seharusnya tak kuingat.
***
            Hari ini semua pelajaran penyiksa seperti Biologi, Matematika, Kimia, dan Fisika bersekongkol untuk membunuhku perlahan-lahan. Aku sengaja tak masuk sekolah, toh tidak ada seorang pun yang peduli, paling hanya guru-guru yang rajin memeras dana dari ayahku saja yang membicarakanku.
            Aku meminta pada supirku untuk mengantarkanku ke LSM manapun, tapi jangan ke LSM yang pernah kukunjungi, aku ingin ke LSM yang baru, bertemu dengan wajah-wajah baru. Aku rindu mengunjungi anak jalanan dan bayi-bayi mungil yang ditinggal ibunya. Supirku kewalahan menuruti permintaanku, hampir setiap LSM sekitaran rumahku dan sekolahku telah ku kunjungi. Atas dasar kewalahan itu, maka supirku membanting stirnya ke arah yang cukup jauh dari rumahku.
            "Kemana ya, Non?" Ucap supirku sambil memasang pandangan kedepan.
            "Ke tempat yang ada anak jalanannya, ada anak bayinya juga." Jawabku seadanya.
            "Di tempat pembuangan akhir sampah aja gimana, Non? Coba liat aja, agak bau emang tapi pasti Non suka."
            "Yaudah kesana aja." Ucapku pasrah mengikuti saran supirku.
***
            Disana kulihat tumpukan sampah menggunung dimana-mana, banyak pemulung membungkuk-bungkuk mencari sampah yang bisa didaur ulang. Aku berjalan menuju LSM sekitar tempat sampah yang menggunung itu, sambil menggenggam plastik berisi beberapa coklat dan mainan kecil.
            Sesampainya disana, kulihat ada banyak anak kecil yang mendatangiku, respon mereka sangat baik walaupun mereka tak mengenalku. Beramai-ramai mereka mengerumuniku, salah satu diantaranya bertanya,"Darimana, Kak? Pemerintah atau swadaya?" Ucap anak menggemaskan yang segera mencium tanganku.
            Aku mulai sibuk tertawa dan tersenyum dengan mereka, aku mulai melempar pandangan mataku kebanyak arah. Saat kulihat seorang wanita di ujung sana, aku fokuskan mataku menatap wanita tersebut. Kulitnya putih, pipinya tirus, rambutnya diikat simple, penampilannya sederhana, aku menghampiri wanita itu. Dia sedang menggendong seorang anak bayi, bayi yang ditelantarkan orangtuanya sendiri. Wanita itu menatapku dengan senyum penuh kelegaan. Orang yang kutunggu ternyata pulang kesini, orang yang kurindukan ternyata melabuhkan hatinya disini, dan orang yang kucari-cari ternyata bersembunyi disini. Aku mendekati wanita itu.
            "Ibu, kapan pulang?" Ucapku lugu, menahan gerimis yang jatuh dari pelupuk mataku.