Laman

27 Agustus 2012

Lagi... Tentang Kita

Reaksi: 
Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosongan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri.

Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang kurasakan, juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling menganggu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti? Seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak miliki rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.

Kali ini, aku tak akan menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja sulit kaupahami. Karena aku sudah tahu, kamu sangat sulit diajak basa-basi, apalagi jika berbicara soal cinta mati. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu-lagu yang bernyanyi bahkan tanpa lirik yang tak bisa kauterjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurd yang selalu kaubenci. Seperti dulu, saat aku bicara cinta, kaumalah tertawa. Seperti saat kita masih bersama, aku berkata rindu, namun kautulikan telinga.

Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kaudengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika kuceritakan tentang air mata bukan? Bagaimana kalau kualihkan air mata menjadi senyum pura-pura? Tentu saja, kautak akan melihatnya, sejauh yang kutahu; kamu tidak peka. Dan, mungkin saja sifat burukmu masih sama, walaupun kita sudah lama berpisah dan sudah lama tak saling bertatap mata.

Entah mengapa, akhir-akhir ini sepi sekali. Aku seperti berbisik dan mendengar suaraku sendiri. Namun, aku masih saja heran, dalam gelapnya malam ternyata ada banyak cerita yang sempat terlewatkan. Ini tentang kita. Ah... sekarang kamu pasti sedang membuang muka, tak ingin membuka luka lama. Aku pun juga begitu, tak ingin menyentuh bayang-bayangmu yang samar, tak ingin mereka-reka senyummu yang tak seindah dulu.

Kalau boleh aku jujur, kata "dulu" begitu akrab di otak, pikiran, dan telingaku. Seperti ada sesuatu yang terjadi, sangat dekat, sangat mendalam, sampai-sampai tak mampu terhapus begitu saja oleh angkuhnya waktu dan jarak. Sudah kesekian kali, aku diam-diam menyebut namamu dalam sepi, dan membiarkan kenangan terbang mengikuti gelitik manja angin; tertiup jauh namun mungkin akan kembali.

Wajah baruku bisa kaulihat sendiri, terlihat lebih baik dan lebih hangat daripada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah? Benarkah kita sudah saling melupakan? Jika memang ada kata "saling", tapi mengapa hatiku masih ingin terus mengikatmu? Dan, mengapa hingga saat ini kamu tak benar-benar menjauh? Kadang, jarak tak menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam serba ketidakjelasan, aku dan kamu masih saja menjalani... menjalani sesuatu yang tak tahu harus disebut apa. Tapi, katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali berdekatan. Terlalu tololkah jika kusebut belahan jiwa? Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam status, tapi jiwa kita, napas kita, kerinduan kita; miliki denyut dan detak yang sama.

Tidak usah dibawa serius, hanya beberapa rangkaian paragraf bodoh untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang menghantui. Sejak kamu tak lagi di sini, sejak aku dan kamu memilih jalan sendiri-sendiri, aku malah sering main dengan sepi, sulit untuk dipungkiri. 

Sebentar lagi tanggal 1 September. Ingat apa yang kita lakukan setahun yang lalu? 

Kamu mengajakku melihat kolam ikan lele putih yang ada di belakang rumah. Suara ayam jantan dan ayam betina ikut meraung ramah, turut menghangatkan suasana. Ibumu mengantar pisang goreng yang masih hangat, kamu mengulurkan tangan dan mengucap terima kasih— lalu ibu pergi. Saat itu, kamu bercerita banyak, bercerita tentang ayahmu yang sudah berbahagia bersama Bapa di Surga, tentang keluargamu, dan bertanya tentang kejelasan status kita. Ini membuatku terkejut, kamu yang pendiam tenyata bisa berlaku serius? Aku tertawa geli; kamu masih memasang wajah serius. 

Tatapanmu terlihat semakin serius, semakin dalam, dan kamu berucap pelan-pelan. Iya, saat itu aku dan kamu menjadi kita. Indah. Tapi, masa lalu, dulu. Sudah kubilang dari awal kan, "dulu" itu memang menyenangkan.

Dan, di antara tugas ospek yang membuat jemariku pegal
di antara kertas-kertas yang berserakan
Aku masih merindukanmu.

52 komentar:

  1. Keren :') aku bangetttttttt :"

    BalasHapus
  2. keren pake pake bgt deh mbak dwita,nyata dan bnyak yg ngalamaninnya aku sukaaa:")

    BalasHapus
  3. Keren banget kak:) Aku suka tulisannya. Apalagi soundcloud-nya. Suara kak dwita keren banget. Lebih keren kalo avanya mukanya diliatin dong. Hihi:D Visit back maybe? www.aaimratnaningrum.blogspot.com. Tengkyu.

    BalasHapus
  4. Semoga cita-cita kakak jadi sastrawan besar di Indonesia terwujud ya kak. Amin(:O

    BalasHapus
  5. yg kayak gini patut di bilang KEREN....
    _saluut_

    BalasHapus
  6. Postingan2 kak dwi emang keren2, aku suka bgt, kak klo ada pin nya share dong, aku kpngen knal nih.

    BalasHapus
  7. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    Bersabarlah dalam bertindak agar membuahkan hasil yang manis.,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    BalasHapus
  8. mas bro gw banget dehhh....#colek Yann Gusm**

    BalasHapus
  9. astagaaaa kena bangettt baru baca setengah :')

    BalasHapus
  10. dia yang dingin kalau membicarakan cinta, dia yang tidak peka dengan apa yg aku rasa saat bersamanya dan dia yang berkata "pacaran?sudah gak usah dibawa serius"
    cocok dengan apa yg pernah aku alami dengannya yg sudah pernah terjalin selama 8 bulan meski kini sudah berakhir :')

    BalasHapus
  11. Mungkin hanya kenangan yang mampu membuat dia tersenyum dalam tangis yang hanya bisa mengingat kenangan dulu

    BalasHapus
  12. Mungkin hanya kenangan yang mampu membuat dia tersenyum dalam tangis yang hanya bisa mengingat kenangan dulu

    BalasHapus
  13. Mungkin hanya kenangan yang mampu membuat dia tersenyum dalam tangis yang hanya bisa mengingat kenangan dulu

    BalasHapus
  14. Ada scene2 yang bikin aku nangis.
    Karna itu emang kenyataan bgt.

    BalasHapus
  15. Ada scene2 yang bikin aku nangis.
    Karna itu emang kenyataan.

    BalasHapus
  16. Bahkan dalam kesendirianku, detak jarum detik dalam jam berubah menjadi tawa kecilmu ketika kita bercerita, tentang hal-hal yang menurut orang mungkin tidak penting.

    Keren banget tulisannya. Aku perlu belajar banyak nih. :)

    BalasHapus
  17. cukup aku dan kamu...tanpa kita

    itu ngeJleb bangetttt

    BalasHapus
  18. kereen bangett kaak :") tglnya juga pas banget 1 september </3 bikin galau :""
    sukaa bangett~ selamat berkarya lagi ;)

    BalasHapus
  19. Ya begitulah keadaanya, sama seperti yg sedang ku alami dengan dia. Hai kau berinisial FSI, aku masih yg dulu. Tapi bagimu itu dulu kan :-)

    BalasHapus
  20. dalem banget si ka, kata-katanya pas bangeeeettt...
    mau doong ka dibuatin cerita kaya gitu :P

    BalasHapus
  21. Daleeemmm bangeet siii ka, aku bangeett, pas kata-katanya..
    mauu doong ka di buatin cerita kaya gitu :P

    BalasHapus
  22. Mengharu biru..
    Awesome banget Mba' Dwi

    Like this story scene2 very much...

    BalasHapus
  23. Sesuai bgt sm keadaan remaja sekarang kak. Good job=)

    BalasHapus
  24. keren kak :') bikin mewek plus gagal mupon :'(

    BalasHapus
  25. Yaampun kaka.. Ini aku bgt.. Persis, 1 septembernya kaka sprt 1 agustusnya aku, ceritanya jg ttg ayahnya yg sudah berpulang :')
    Keren bgt ka :)

    BalasHapus
  26. Kerenn.. Mnyentuh... Krn hampir sama kjdiannya. :')

    BalasHapus
  27. It's me kak :')
    Makasih banget postingannya, kereeeennn (y)

    BalasHapus
  28. aih kak dwita:' hampir mirip nih kisahnya

    BalasHapus
  29. kak dwita, sumpah pas aku baca ini air mata aku netes. ini sama banget sama yang lagi aku alami sekarang. kak dwita emang selalu ngerti perasaan seseorang ya:'){} aku jadi ingat lirik puisi yang aku buat...

    Pelangi diatas sana
    Hanya menjadi saksi bisu
    Saksi tentang perjalananku denganmu
    Saat sebuah perbedaan menjadi suatu keindahan

    Langit pun berbahasa
    Lantunkan lagu rindu antara kita
    Ketika kebersamaan menjadi langka
    Ketika canda tawa begitu berharga

    Saat senyummu menjadi satu-satunya nafas untukku
    Sedikitpun tak akan kulupa
    Bahwa kita pernah bersama
    Pernah punya cerita...

    pokoknya love banget deh sama kak dwita{{}}

    BalasHapus
  30. Ini pas banget buat aku
    "Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita." :')


    Ceritaa nyaa keren-keren ka :')

    BalasHapus
  31. Asli, ini mirip banget sama cerita gue sama dia "dulu" (⌣́_⌣̀)

    BalasHapus
  32. keren banget kak, ceritanya aku banget. sumpah netes ni kak :')

    BalasHapus