Laman

7 Oktober 2012

Cinta Bangku Belakang

Reaksi: 

            Kami berdiri seperti orang bodoh di situ. Hujan yang tak mampu diprediksi datang semaunya sendiri. Derasnya tak tanggung-tanggung, pemandangan di depan mataku hanya genangan air, selebihnya sampah-sampah plastik mengalir di atas permukaannya. Bau tanah basah sudah menyentuh hidung sejak tadi, betapa aku jatuh cinta pada aroma yang mengesankan ini.   
            Udara dingin telah menusuk tulang, sampai aku muak dan kesal sendiri. Langkahku terkunci dengan seseorang yang berada di sampingku. Aku mengenalnya, teman sekelas, tapi aku tak tahu namanya. Bagiku, dia belum menjadi seseorang yang spesial, maka aku tak perlu mengingat detail kehidupannya. Dalam suasana menyebalkan seperti ini, apa yang harus kulakukan? Kami berdua dan tak saling membuka suara, hanya lirih... aku bosan.
            Aku sibuk mendengar bisikan hujan, seseorang di sampingku sibuk berdialog dengan perasaannya sendiri. Kami diam, masih bertahan untuk tak saling bicara.
            “Udah sore ya, kalau kayak gini bisa sampai malam.” ucapnya tenang, mulai berani mengajakku bicara.
            Kalau boleh kubocorkan satu rahasia, ini kali pertama kami berbicara. Permulaan yang aneh memang, tapi siapa yang tahu? Segalanya di mulai dari sini, kami yang tak pernah saling peduli tiba-tiba menciptakan percakapan basa-basi. Aku tak langsung menjawabnya, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara beberapa lama.
            “Kedinginan?”
            Aku mengangguk pelan. Masih tak ingin membuka suara. Memang dingin sekali. Kedua tanganku melingkar di depan dada, aku berusaha keras menghangatkan tubuhku sendiri.
            Dengan gerakan tergesa-gesa, ia membuka jaket yang sejak tadi melekat di tubuhnya, kemudian meletakkan jaket itu di kedua bahuku. “Pakailah... kamu lebih butuh.”
            Bibirku kelu. Aku tak dapat bergerak. Salah tingkah. Berani-beraninya dia membuat aku berada dalam keadaan serba salah seperti ini. Aku juga tak paham dengan perubahan emosiku. Aku senang, tapi malu, dan ada gejolak lain yang membentuk gugusan warna-warni dalam hatiku. Jaket yang berada di bahu kurapatkan dengan tubuhku. Hangat.
            “Kenapa kamu banyak diam? Di kelas, kamu ribut, sering bertanya dengan dosen.” sambutnya lugu, diikuti dengan suaranya yang terdengar manis di telingaku.
            “Ribut? Itu aktif, bukan ribut. Mohon bedakan.” sergahku panas, aku menyalak.
            “Iya, kamu aktif.” jawabnya pasrah, aku merasa menjadi pemegang situasi. “Tapi, kalau bersama seseorang, kamu banyak diam. Ada sesuatu yang aneh.”
            “Sungguh?” aku menatap matanya, tepat di sampingku. “Aneh dibagian mananya?”
            “Perlu kujelaskan?” ia langsung bertanya dengan cepat, kemudian mendekatkan wajahnya, memandangku dengan tatapan hangat.
            Dipandang seperti itu, aku merasa seperti disirami vermouth dan gin. Pria di sampingku benar-benar memabukan, tatapannya sungguh berbeda dengan pria-pria lainnya. Dan, dia benar-benar mengunci perhatianku.
            “Tuh ‘kan, kamu diam lagi.”
            “Aku sedang berpikir.”
            “Apa yang kaupikirkan dalam suasana sedingin ini?”
            “Tidak tahu, matahari makin hilang, langit makin menggelap.”
            “Kamu tak menjawab.”
            “Memang tadi kamu bertanya apa?”
            “Mengapa kaubanyak diam?”
            “Karena aku tak mengenalmu.”
            “Tapi, kita sekelas.”
            “Dalam tempat dan waktu yang samapun, dua orang memang saling bertemu, tapi mereka tak dipaksa untuk saling berkenalan.”
            “Jelas saja kautak mengenalku, aku duduk di bangku belakang.”
            “Cerdas, sekarang kamu tahu dan mulai paham.”
            “Kita terpisah....”
            “Hanya beberapa meter, kamu duduk di belakang, beberapa meter dari bangku depan... tempat aku duduk.”
            Jawaban terakhirku mendiamkan percakapan kita beberapa detik. Aku dan dia sibuk berdialog dengan perasaan kami masing-masing. Jujur, pria ini memang manis. Aku tertarik untuk memerhatikannya sejak beberapa hari yang lalu. Awalnya, aku menganggap dia aneh. Penampilannya memang acak-acakan, padahal kalau ia mau berdandan sedikit, ia pasti sudah dikejar-kejar wanita yang terkagum-kagum pada sosoknya yang misterius namun kadang banyak omong. Berhubung ia duduk di bangku paling belakang, perhatianku terhalang oleh jarak kita beberapa meter. Di kelas, kami berjauhan, sungguh jauh, sampai tak saling mengenal. Makanya, tadi kubilang juga apa, kalimat pertama adalah percakapan perdana kami. Harusnya disertai dengan kembang api dan petasan lebaran, tapi, ah... tak perlu, pria ini tidak spesial.
            “Pernah berpikir tidak, datangnya hujan dari mana?” ia mulai berani mengawali percakapan.
            “Dari air mata yang enggan diturunkan, karena terlalu banyak jumlahnya, makanya deras.” jawabku sekenanya.
            “Ngasal saja!”
            “Loh, emangnya salah?”
            “Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, tergantung persepsi.”
            “Lihatlah, kamu sibuk berfilosofi!”
            “Itu pendapatku, Sera.”
            Aku terdiam untuk beberapa detik. “Kamu tahu namaku?”
            “Siapa yang tidak kenal orang seaktif kamu?”
            “Tapi, aku tak mengenalmu.”
            “Jelas saja, kauhanya mengenal yang ada dalam duniamu, dan aku adalah dunia yang berbeda.”
            Mendengar jawabannya yang agak sinis, aku memukul lembut bahunya. “Aku tak tahu kalau pembicaraan kita bisa semenyenangkan ini.”
            “Aku juga tak tahu, bisa melewati sore dengan hujan sederas ini, sedingin ini, bersama seseorang yang menyenangkan seperti kamu.”
            “Lihatlah, kaumelucu!”
            “Kalau begitu, tertawalah, Sera.”
            Bibirku terkunci, aku tidak tertawa. Ah, memang tak terlalu lucu, untuk apa aku tertawa. “Banyak tugas, bagaimana aku bisa pulang?”
            “Apa di otakmu hanya berisi tugas, tugas, dan tugas?”
            “Otak punya kemampuan untuk menyaring hal yang penting, tugas termasuk hal penting.”
            “Banyak hal penting di dunia ini, tapi luput dari pandanganmu.”
            Aku mengela napas berat. “Namamu sepertinya juga penting, bolehkah aku tahu?”
            “Apalah arti sebuah nama, jika yang diingat banyak orang hanyalah tindakan yang dilakukan, bukan nama yang melakukan?”
            “Nama itu penting, kalau berkesan juga akan diingat. Makanya, aku tak ingat namamu, karena kamu belum berkesan.”
            “Aku belum berkesan?” tatapannya mendelik ke arahku.
            Aku tak menjawab, saat pertanyaan itu selesai dia ucapkan. Aku juga tak bergerak, ketika wajahnya tiba-tiba mendekati wajahku. Aku tidak mendorongnya juga tak menghempaskan tubuhnya, ketika ia memegang lembut daguku kemudian menciumku.
            Tubuhku dan tubuhnya rapat sekali, sampai aku tak bisa membedakan sedang berada di mana aku sekarang.
            Deg.
            Dunia nyata dan dunia mimpi seperti berebut tempat di otakku. 

(bersambung Cinta Bangku Belakang end)            

22 komentar:

  1. akhirnya kak dwita nge-post lagi.. lanjutannya kapan kak? jangan lama-lama kak.

    BalasHapus
  2. bagus :) kapan kelanjutannya ??

    BalasHapus
  3. diantara dua juta pembaca aktifmu, aku yakin ada ratusan ribu pria yg juga jadi pembaca meski jarang yg komen, diantara mereka pasti ada yg meleleh membaca tulisan2mu...

    BalasHapus
  4. GOSH!!!! ahhh dalem banget ini cerita :'( pas banget sama ceritaku dulu, tapi ada bedanya ding, kissing scene nya ga ada *peace

    BalasHapus
  5. beuhhh ngeri -,- indah mbak sumpehhh

    BalasHapus
  6. begitu mengejutkan pertemuan itu, dr awal yg bkan siapa", mnjdi ada apa".. serasa ngefly

    BalasHapus
  7. Apakah dunia galau lu semenyenangkan itu mbak???

    BalasHapus
  8. Semua kembali dan berpulang kepada NYA.. Pulang Nyok ah..

    BalasHapus